Anda di halaman 1dari 20

ASESMEN PSIKOLOGI KLINIS

OLEH KELOMPOK 2 :
1. AMELIA FUJI LESTARI
NIM 1830901126
2. FITRI JOHAN
NIM 1830901135
3. KARINA PERMATA PUTRI
NIM 1830901137
4. MEIDEA HERYANI
NIM 1830901142
5.MUHAMMAD FARID KEMAL PASHA
NIM 1830901146
6. PRISCA ANDREA PUSPA
NIM 1830901151
7. RIZQI FATIKAH PUTERI
NIM 1830901153

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM


FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN RADEN FATAH PALEMBANG
2019
KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Dengan segala kerendahan hati memanjatkan puji syukur kehadirat allah


swt atas berkat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan
tugas makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi klinis yang berjudul
“Asesmen Psikologi Klinis”.

Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita nabi


Muhammad saw yang telah menuntun kita menuju jalan kebenaran. Dengan
pembuatan makalah ini semoga kita mendapatkan manfaat dan kami meminta maaf
jika dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam segi
penulisan, isi, penyajian dan lain-lain. Dari itu kami sebagai penulis sangat
mengharapakan kritik dan saran guna perbaikan untuk makalah ini.

Demikianlah sabagai kata pengatar, kami sebagai penulis mengucapkan


banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya
makalah ini. Besar harapan semoga tulisan sederhana ini diterima dan dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Penulis

Kelompok 2

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ........................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ....................................................................................... 1
C. TUJUAN ................................................................................................................ 1
BAB II ................................................................................................................................ 2
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 2
A. DEFINISI SERTA TUJUAN ASESMEN PSIKOLOGI KLINIS .................... 2
B. SASARAN DAN PROSES ASESMEN PSIKOLOGI KLINIS ........................ 4
C. METODE-METODE ASESMEN KLINIS ........................................................ 7
BAB III............................................................................................................................. 16
PENUTUP........................................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Psikologi Klinis Merupakan Salah Satu Cabang Dari Ilmu Psikologi Yang
Mana Membahas Serta Mendalami Penilaian, Perawatan, Penyakit Jiwa, Perilaku
Abnormal, Serta Hal-Hal Psikiatris. Bidang Ilmu Ini Memiliki Metode Serta Cara
Yang Berbeda Dari Cabang Psikologi Lainnya.

Psikologi Klinis Menggunakan Konsep Dan Teori Psikologi Abnormal,


Psikologi Perkembangan, Serta Teori Psikologi Kepribadian, Selain Itu Asesmen
Dan Intervensi Digunakan Sebagai Prinsip-Prinsip Di Psikologi Klinis. Asesmen
Dalam Psikologi Klinis Memiliki Tujuan Serta Manfaat Yang Berbeda Dari
Asesmen Yang Kerap Kali Kita Temui Di Kehidupan Sehari-Hari

Asesmen Dalam Psikologi Klinis Harus Dilakuakn Secara Intensif Guna


Mendapatkan Data Yang Valid Sehingga Diagnose Terhadap Sebuah Kasus Tidak
Salah, Dan Metode Dalam Penyembuhan Sebuah Gejala Bias Berjalan Dengan
Baik. Asesmen Sangat Dibutuhkan Agar Pengambilan Keputusan Bias Sesuai,
Asesmendalam Psikologi Klinis Memiliki Tujuan, Serta Proses Yang Mana Akan
Kita Bahas Dalam Tulisan Ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Itu Asesmen Psikologi Klinis?
2. Apa Tujuan Asesmen Psikologi Klinis?
3. Bagaimana Proses, Serta Metode Dasarnya?
4. Apa Jenis-Jenis Asesmen Psikologi Klinis?

C. TUJUAN
1. Mengetahui Definisi Asesmen Psikologi Klinis
2. Mengetahui Tujuan Psikologi Klinis
3. Mengetahui Proses Asesmen Psikologi Klinis
4. Mengetahui Jenis-Jenis Asesmen Psikologi Klinis

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI SERTA TUJUAN ASESMEN PSIKOLOGI KLINIS


Asesmen psikologi klinis pada mulanya sering disebut Juga psikodiagnosis.
Istilah asesmen untuk pertama kalinya dikenal sebagai istilah psikologis dalam
buku Assesment Of Man yang melaporkan mengenai aktivitas salah satu cabang
dari O.S.S (Ofice Of Strategic Services) Amerika Serikat (OSS, 1948). Isinya
adalah laporan kegiatan menyelidiki calon untuk melaksanakan misi khusus dalam
perang dunia II. Para pionir pendekatan ini sering mengacu Pada “The Assessment
Method”, yang juga disebut sebagian orang dengan nama “Programmatic
Assessment” atau Multiple Assessment (Taft, 1959) Dalam (Sutardjo A.
Wiramhardja, 2012, hlm. 91).

Asesmen klinis merupakan suatu proses kehiatan dimana untuk


memperoleh data serra informasi menegnai suatu subjek atau klien. Sehingga
diperoleh sesuatu yang lebih dari klien. Setelah mendapat informasi melalui
asesmen, klinisi melakukan sebuah penilaian, serta pengujian yang mana akan
menghasilkan kesimpulan yang kemudian hasil nya dikomunikasikan kepada klien.
Selain itu asesmen juga bertujuan memberikan informasi terhadap keadaan diri
seseorang sehingga akan membantu klien menjadi lebih baik.

Perlu diperhatikan bahwasanya sesmen diselenggarakan dengan sasaran


tertentu sehingga dalam penggunaan alat dibatasi sesuai dengan kebutuhan.
Mengapa hal tersebut dilakukan?, karena jika tidak dibatasi amaka sebuah asesmen
akan disalahartikan yang mana menyebabkan keluar dari tujuan awal dilakukannya
asesmen.

Menurut Kandell asesmen klinis merupakan pengumpulan informasi


mengenai klien aatau subjek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik
mengenai seseorang. informasi yang diperoleh dari asesmen digunakan untuk

2
menunjang keputusan-keputusan dan berbagai area tindakan, seperti penyaringn,
diagnosis, evaluasi, intervensi, dan riset (Tristiadi, Dkk., 2006, Hlm. 85).

1. Penyaringan Dan Diagnosis

Adapun fungsi penyaringan dalam asesmen meliputi kegiatan


mengelompokkan orang- orang menggunakan kemampuan klinika untuk
pengembangan metode, menggumpulkan data, dan membuat keputusan yang tepat.
Misalnya asesmen dilakuakn untuk mencari klien yang cocok untuk menerima
pengobatan, di sebuah klinik. Contoh lainnya adalah untuk mencari klien yang
menderita gangguan jiwa dan tidak yang mana bagi yang mengalami gangguan jiwa
akan dikelompokkan agar bias dilakukan pengobatan.

Informasi yang didapat dari asesmen klinis bisa digunakan untuk diagnose
yang lebih akurat. Diagnosa dilakukan agar identifikasi masalah klien lebih spesifik
yang mana dapat dikomunikasikan secara efisien kepada klien, sehingga dalam
melakukan pelayanan terhadap klien klinisi mampu mengambil keputusan dengan
baik dikarenakan informasi yang akurat. Sehingga dapat diambil kesimpulan
bahwasanya diagnosis adalah ditemukannya proses gangguan, jenis gangguan, dan
apa gangguannya.

2. Evaluasi Atas Intervensi Klinis

Tanpa adanya asesmen seorang klinikus tidak mampu mengevaluasi efek


intervensi klinis. Data dapat dihimpun melalui asesmen untuk menentukan
kelemahan, kekuatan, serta tingkat keparahan masalah psikologis yang di derita
klien. Misalnya klien yang mengalami depresi karena perceraian dapat diases
mengenai tingkat kecemasan serta tingkat depresinya akibat peristiwa itu. namun
seteleh diberikan penanggulangan (treatmen), dilakukan kembali asesmen ulang
guna mengetahui apakah terjadi penurunan tingkat gangguan yang dialami klien,
sehingga klien bias melakukan rawat jalan. Dalam melaksankan perannya sebagai
mental tester seorang psikolog klinis bias menerima permintaan psikiater untuk
melakukan asesmen terhadap pasiennya untuk menentukan apakah dia sudah
sembuh, dan dapat keluar dari rawat inap.

3
3. Riset

Dalam riset asesmen dimaksudkan untuk menguji sesuatu yang lebih


spesifik dalam menangani baik perilaku normal maupun perilaku abnormal atau
mengalami disfungsi psikologis, dan dirancang untuk mendapatkan informasi baru.
Informasi tersebut dapat bermanfaat bagi kita untuk menmabah pengetahuan
mengenai fungsi psikis manusia. Misalnya jika kita mencari dampak negatif dari
pelecehan seksual bagi kesehatan jiwa manusia hal tersebut dpat ditentukan dengan
melakukan asesmen kepada pihak yang terlibat sehingga di dapatkan informasi
terkait apa yang ingin diketahui.

B. SASARAN DAN PROSES ASESMEN PSIKOLOGI KLINIS

Pada waktu membuat asesmen terdapat banyak kemungkinan asesmen atau


target yang akan diusahakan, antara lain memusatkan perhatian terhadapa disfungsi
psikologis individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam aspek
pikiran, emosi, dan tindakan klien, memusatkan perhatian untuk menentukan
kekuatan klien yang meliputi kemampuan berpikir, keterampilan, dan sensitivitas
yang menjadi target evaluasi. Selain itu psikolog klinis juga diminta melakukan
evaluasi dan menggambarkan kepribadian subjek. Dalam Hal ini psikolog klinis
bias melakukan tes observasi, wawancara, untuk membantu meneumkan
kebutuhan, serta pola perilaku subjek.

Psikolog klinis juga melakukan asesmen terhadap kekuatan dan kelemahan


lingkungan social individual dan efek lingkungan social terhadap pikiran, perasaan
dan tingkah laku klien, asesmen demikian dikenal dengan nama sebutan analisis
fungsional dimana psikolog klinis menaruh perhatian untuk mengevaluasi
perubahan-perubahan dalam perilaku yang dihasilkan oleh pilihan spesifik dalam
situasi hidupnya, misalnya aktifitas klien berpengaruh pada tingkat emosionallnya.
Pada kebanyakan asesmen, psikolog klinis memfokuskan diri pada target lingkup
yang luas, bergerak dalam kekuatan atau asset sampai kelemahan dan dari
determinan perilaku stabil sampai perubahan perilaku. (Wiramihardjo, 2014) dalam
(Tristiadi, Dkk., 2006, hlm. 89).

4
Menurut Bernstein Dan Nietzel (1980 Ada 4 Komponen Dalam Proses Asesmen
Sikologi Klinis Yaitu :

1. Perencanaan Dalam Prosedur Pengambilan Data


2. Pengumpulan Data Untuk Asesmen
3. Pengolahan Data Dan Pembetukan Hipotesis
4. Mengkominikasikan Data Asesmen Baik Dalam Bentuk Laporan Maupunn
Dalam Bentuk Lisan
1. Perencanaan dalam Prosedur Pengumpulan Data

Sebelum dilakukan prosedur asesmen, terlebih dahulu pemeriksa harus


bertanya pada diri sendiri apa yang ia ingin ketahui dan bagaimana caranya . Untuk
itu diperlukan suatu perencanaan. Perencanaan ini meliputi apa yang perlu kita
ketahui dan bagaimana cara memperoleh jawabannya.

Prosedur pemeriksaan dalam psikologi klien umumnya terdiri darai


observasi,wawancara,dan tes yang dipilih sesuai dengan pertanyaan yang harus
dijawab . Untuk efisiensi dalam proses pemeriksaan biasanya digunakan cara-cara
yang dapat memberi informasi dengan keluasan dan kedalaman yang cukup.
Validitas dan reliabilitas tes, orientasi teoritik pemeriksa , variabel-variabel yang
penting berkaitan dengan pertanyaan yang harus dijawab menjadi bahan
pertimbangan apakah tujuan asesmen itu untuk dilakukan klasifikasi (diagnosis
medis), deskripsi variabel atau untuk predikat.

Pertanyaan tentang kemapuan seorang menjadi pemimpin bertujuan


terutama membuat prediksi. Asesmen terhadap orang yang baru mengalami
kecelakaan bertujuan untuk diagnosis atau klasifikasi tentang ada tidaknya
kerusakan. Masalah seperti “Apakah seorang mahasiswa dari daerah dapat
menyesuaikan diri bila belajar di luar negri”, memerlukan deskripsi dari variabel-
variabel yang berperan untuk memprediksi apakah mahasiswa tersebut dapat
menyesuaikan diri diluar negeri. Ketiga tujuan ini (klasifikasi ,deskripsi, prediksi)
mungkin tumpang tindih namun diharapkan bahwa salah satu tujuan dari asesmen

5
lebih menonjol. Data apa saja yang diperlukan untuk tujuan ini agak berbeda bila
orientasi teoritik pemeriksa berbeda.

2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dapat melalui wawancara , observasi dan tes. Sesuai


dengan pertanyaan pada tahap perencanaan maka ditentukan bagaimana wawancara
dilakukan dan informasi apa yang diutamakan. Demikian juga untuk observasi
perlu ditentukan metode dan fokus observasi.

3. Pengolahan Data dan Pembentukan Hipotesis

Bila data telah terkumpul, pemeriksa dapat memberi makna atau


menginterpretasi sesuai dengan tujuan dan orientasi teoritiknya. Data mentah dari
observasi , wawancara dan tes diubah menjadi kesimpulan yang dapat dibedakan
dalam tingkatan abstraksinya dalam orientasi teoritiknya dan dalam kaitannya
dengan tujuan asesmen.

Temuan dari observasi dan wawancara dapat digunakan sebagai sampel


tingkah laku atau sebagai korelat atau penyerta tingkah laku atau sebagai tanda dari
adanya hal yang melandasi tingkah laku itu. Tingkat abstaksi yang paling tinggi
adalah pada yang terakhir.

4. Penyampaian Hasil Asesmen Klinis dan Laporan Pemeriksaan Psikolo


Klinis

Penulisan hasil asemen dapat dilakukan untuk keperluan akademik dan


keperluan praktik (Markam,2003). Untuk keperluan akademik dinamakan laporan
akademik dan hanya digunakan untuk keperluan akademik ,seperti diskusi kasus ,
penelitian dan lain-lain. Yang kedua dinamakan hasil pemeriksaan psikologisyang
dikirim kepada yang meminta hasil itu baik melalui surat maupun secara lisan.

6
C. METODE-METODE ASESMEN KLINIS

Guna mendapatkan sebuah data yang valid, dalam asesmen menggunakan


bebrapa metode yang mana bebrapa metode ini mungkin sudah sering kita temui
dalam kehidupan sehari-hari. Psikologi klinis akan menggunakan satu ataupun
mengkombinasikan beberapa metode asesmen seperti wawancara, tes tertulis, dan
asesmen perilaku.

1. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu metode yang banyak digunakan dalam
psikologi klinis. Banyak kalangan professional menggunakan wawancara dalam
proses asesmen. Meskipun wawancara kadang-kadang merupakan satu-satunya
metode yang sering digunakan oleh seorang klinikus, akan tetapi pada umunya
untuk asesmen klinis wwancara tergantung pada konteks penggunaanya. Misalnya
ada klien yang diwawancarai dengan menggunakan teknik wawancara sebagai
asesmen praterapi, evaluasi atas pemfungsian vokasional untuk menentukan
keputusan hukum, atau untuk keperluan usaha mengembangkan kesehatan
mentalnya

Wawancara klinis adalah suatu prosedur penting dalam penilaian,


mengamati diri individu. Wawancara klinis merupakan bagian dari penelitian sosial
yang menggunakan wawancara secara mendalam sebagai teknik penelitian
Berbeda dengan wawancara lainnya jenis wawancara klinis bukan suatu
pemeriksaan silang, melainkan suatu proses dimana pewawancara harus waspada
mengenai intonasi suara klien, kecepatan bicara klien, serta sensitivitas untuk
ditanya secara langsung dari matanya.

Dalam wawancara klinis pertamayang harus diperhatikan adalah vokal,


namun seustu yang bersifat nonverbal seperti gestur tubuh, postur tubuh, dan
ekspresi wajah harus diwaspadai oleh pewawancara guna terlaksanya wawancara
dengan baik. Dalam suatu wwancara yang nyaman kedua orang akan secara bebas
dan mendalam saling bertukar komunikasi. Menurut Sulivan pewawancara tidak
boleh terlalu jauh terlibat dengan keinginan atau ketidakkeinginan dasar klien untuk

7
membongkar informasi melainkan menyesuaikan diri terhadap sikap dan kerja awal
untuk membangun hubungan yang lebih nyaman.

Biasanya wawancara klinis dilakukan sebelum individu diberi tes psikologi


dalam praktek klinis untuk perorangan dan dilakukan oleh psikolog klinis sendiri.
Bila wawancara dirasa sudah memdai untuk memhami individu, tes psikologi
kemungkinan besar tidak perlu diberikan lagi. Akan tetapi jika ada rujukan
sebaiknya tes psikologi dilakukan. Wawancara dapat dilanjutkan dengan konseling
dan psikoterapi tergantung apa yang dbutuhkan saat itu.

Goldenberg (1983) mengemukakan ada 4 tujuan umum wawancara klinis yaitu

1. Memperoleh informasi tentang diri klien dan dengan yang bersangkutan


dengan hal itu
2. Memberikan informasi sepanjang dianggap perlu dan sesuai dengan tujuan
wwancara
3. Memeriksa kondisi psikologis klien, serta atau memberikan diagnose klien
4. Mempengaruhi, mengubah, dan memodifikasi perilaku klien

Terdapat bebrapa jenis wawancara (Wiramihardja, 2014) dalam (Tristiadi, Dkk.,


2006, hlm. 94).

a. Wawancara Mengenal Status Mental

Wawancara jenis ini sering digunakan oleh psikolog dan psikiater sebagai
alat umtuk mengumpulkan bahan mengenai taraf pemfungsiannya saat ini.
Termasuk saat ini tampilannya, perilaku umum, aktifitas motor,
kewaspadaan, suasana hati, dan arus serta isi pikiran, orientasi dalam ruang
waktu orang, ingatan, konsentrasi, pemikiran abstrak, penilaian impian,
kesadaran/pemahaman, dan nilai.

b. Wawancara Sosial Klinis

Paterson (1968) mengemukakan bahwa wawancara sosial klinis merupakan


wawancara dengan menggunakan pendekatan yang lebih luas yang
bermaksud mengidentifikasikan, baik masalah khas maupun penentu-

8
penentunya. Dalam wawancara sosial klinis klinikus mencoba untuk
menentukan asal dan keparahan masalah seperti yang dikemukakan klien.

c. Wawancara yang Difraksikan

Wawancara ini adalah wawancara yang substansinya bervariasi tergantung


pada gaya teori dan pribadi pewawancara. Misalnya seperti yang
dikemukakan Sorrow (1967) yang membagi waktu wawancara ke bebrapa
bagian, misalnya opering gambit, survei, pendahuluan, penindak
lanjutannya, melengkapi kekuranga-kekurangan, dan keterangan serta
rekomendasi. Opening gambit meliputi komentar pembuka. Yang penting
adalah dikemukakanya alasan penting kenapa ia ingin berkonsultasi.

d. Wawancara Terstruktur

Wawancara ini bermaksud mencapai tujuan yang lebih baik dimana


pewawancara menanyakan serangkaiaan pertanyaan yang bersifat
predetermine, menggunakan kata yang baku, dan mengajukan pertanyaan
dengan urutan yang tetap.

Berikut langkah-langkah wawancara klinis yang dikemukana oleh Ivey (1988).

a. Menjalin raport antara pewwancara dan orang yang akan diwawancarai


b. Mengumpulkan data, mendefinisikan masalah, dan mengidentifikasi
kekuranga dan kelebihan orang yang diwawancarai
c. Mendefinisikan tujuan
d. Mengeksplorasi alternatif pemecahan masalah klien
e. Melakukan apa yang telah diterapkan di pon 4

2. Pengamatan (Observasi)
Metode lain yang sering digunakan dalam psikologi klinis adalah
pengamatan/ observasi. Hasil observasi merupakan sumber informasi penting untuk
asesmen. Keuntungan observasi adalah dapat melihat langsung apa yang dilakukan
subjek yang merupakan sasaran asesmen. Hal ini lebih baik dibandingkan hasil
wawancara yang dapat direkayasa oleh subjek yang diwawancarai.

9
Pengamatan merupakan sebuah metode yang sering digunakan bukan hanya
dalam ilmu psikologi, melainkan ilmu pengetahuan lain juga menggunakan metode
pengamatan dalam mencari suatu informasi, yang mana pengamatan bisa dilakukan
dengan pancaindera maupun menggunakan alat-alat tertentu. Dalam psikologi
klinis dengan melakukan pengamatan kita mampu menyimpulkan terganggu atau
tidak seseorang, jenis gangguan yang diperkirakan terjsdi, serta tingkat keparahan
gangguan. Adapun sesuatu yang diamatai adalah perilaku dalam arti luas, yang
meliputi apa yang dilakukan dan bagaimana melakukannya.

Pada dasarnya dikenal tiga jenis tingkah laku dalam hubungannya dengan
hal ini ialah tingkah laku yang terbuka, (overt). Tingkah laku yang tertutup (covert),
dan tingkah laku simbolis (symbolic). Tingkah laku yang terbuka adalah suatu
tingkah laku yang terlihat jelas dengan kasat mata. Tingkah laku terbuka ini
ditampilkan dalam otot dan kerangka dalam ruang seperti berjalan, memukul,
membelai, dan lain-lain. Tingkah laku tertutup ialah tingkah laku yang gerakannya
tidak langsung menunjukkan maksud tertentu, misalnya pada saat merah
diwakilkan hanya dengan wajah memerah, dan rasa takut yang diwakili oleh muka
pucat. Sedangkan tingkah laku simbolik adalah suatu gerakan yang memerlukan
penafsiran untuk mengetahui maksud dan tujuan gerakan tersebut, misalnya
menganggukkan wajah untuk berkata iya, ataupun mengizinkan sesuatu.

Perlu sedikit diingat bahwasanya observasi juga memiliki beberapa metode


yang lebih objektif dan dilakukan dengan pendekatan cross sectional untuk saat ini
dan juga longitudinal untuk jangka panjang. Dalam cross-sectional kita dtuntut teliti
dan memahami makna psikologisnya dari apa yang diamati. Sedangkan
longitudinal kita dituntut konsisten memandang suatu fenomena dalam waktu
tertentu.

3. Tes Terstruktur

Metode ini juga sering dipakai sebagai tambahan dalam wawancara. Tes ini
meminta subjek untuk menjawab pertanyaan secara tegas tidak samar-samar, ya
atau tidak dan maknanya uniform, serta merespon pertanyaan dengan cara yang

10
terbatas, Tes terstruktur memiliki standarisasi yang hati-hati dan norma yang
representasi. Yang termasuk standarasisai dalam hal ini adalah prosedur
pengetesan, serta keadaan klien dan suasana tempat berlangsunngya tes tersebut.

Perlu pula dikemukakan bahwa subjek psikomental yang dapat dijangkau


oleh tes terstruktur tidak hanya menyangkut domain kognitif seperti intelegnsi,
melainkan juga mencakup aspek afektif seperti emosionalitas dan motivassi.
Standarisasi atau pembakuan diperlukan agar mencegah efek dari faktor-faktor luar
yang tidak dikehendak.

Yang dimaksud dengan norma adala suatu set skor yang didapat dari
sekelompok orang yang telah mengikuti suatu tes yang melalui metode pengabilan.
Tafsiran atas prestasi tes disebut norma reference, adalah interprestasi atau skor
subjek secara khusus dibuat dalam perbandingan dengan skor kelompok normatif.
Dalam hal intelegensi, misalnya kelompok norma itu memenuhi syarat sama tingkat
pendidikannya, jumlah laki-laki dan perempuan kira-kira sama, tinggal di daerah
yang sama dan lainnya.

4. Tes Tidak Terstruktur

Sebagai ganti pertanyaan yang memberikan pilihan kepada subjek dalam


alur respon yang spesifik seperti pada tes terstruktur, psikolog klinis dapat juga
menggunakan pertanyaan kepada klien dengan cara klien diberikan keleluasaan
dalam menjawab pertanyaan tersebut. Disebut tak terstruktur karena stimulus
tesnya tidak membutuhkan jawaban yang ditentukan secara tegas dan jelas. Faktor
pribadi teste sangat menentukan.

Dalam TAT (Thematic Appercaption Test), misalnya kepada subjek


diberikan sebuah gambar dan teste diminta menceritakan apa saja kesan yang dia
dapat dari apa yang dia lihat di kartu tersebu. Dalam tes yang tidak terstruktur tidak
terdapat ikatan yang kuat akan adanya item tes dan lebih menekankan pada
bagimana subjek berespons terhadap alat tes yang ambiguous. Akibatnya dalam
skoring akan diperlukan usaha yang lebih besar dalam hal ini klinikus harus
menfasirkan makna respon-respon klien daripada membandingkannya dengan

11
norma. Sebenarnya tes ini bukan tak berstruktur namun fleksibelitas subjek dalam
menjawab lebih diperkenankan.

Yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah bahwa setiap rangsang
misalnya kartu memiliki daya tarik atau ajakan secara psikologis yang berbeda atau
disebut juga Auferderungscharakter. Untuk tafsiran atau intepretasinya yang paling
pokok adalah kemampuan untuk menghubungkan nilai ini dengan jawaban.

5. Asesmen-asesmen Keprilakuan (Behavioral Asesments)

Observasi ini merupakan observasi sistematik yang dilakukan didalam


laboratorium, kelas, klinik, maupun dalam perilaku sehari-hari. Dalam situasi klinis
observasi ini kadang-kadang di maksudkan untuk :

a. Mendapatkan informasi yang tidak diperoleh melalui wawancara


b. Mengevaluasi ketepatan komunikasi verbal klien dan konsistensinya
dengan komunikasi nonverbal
c. Membuat kesimpulan mengenai keadaan dalam perasaan, dan
motivasi yang memerlukan perlakuan khusu yang melahirkan
perilaku klien

Pendekatan behavioral dalam asesmen ini mengarahkan pada contoh-


contoh perilaku yang langsung dijaring dalam proses investigasi. Daripada
menggunakan tes untuk mendapatkan pemahaman mengenai ciri-ciri kepribadian
atau psikodinamika, pendekatan behavioral dirancang untuk menggambarkan pola
kehidupan nyata subjek dan akibat keadaan lingkungan terhadap pola-pola dalam
perilaku ini. Misalnya ada seorang yang mengallami phobia terhadap tempat tinggi.
Pemeriksa dapat memeriksa secara langsung pada ketinggian berapa rasa takut atau
cemas itu terjadi sehingga pengukuran ini sangat objektif dan bias dipahami
siapapun

12
6. Kunjungan Rumah

Psikolog klinis pada umumnya tidak boleh mengunjungi rumah karena


merupakan wewenang pekerja sosial, perwat kesehatan masyarakat. Namun makin
lama dirasa penting bagi klinikus untuk melakukan kunjungan rumah dengan
maksud memahami kehidupan alamiah klien dirumah dan keadaan serta pola
kehidupan keluarga klien. Termasuk disini adalah setiap pola relasi antar anggota
keluarga dan peranya masing-masing.

Terdapat enam keuntungan dari kunjungan rumah yaitu :

1) Fungai keseluruhan keluarga terlihat apa adanya


2) Setiap anggota keluarga lebih berpeluang untuk melaksanakan peran sehari-
harinya
3) Terdapat lebih sedikit kemungkinan untuk tidak hadirnya anggota keluarga
dalam sesi terapi
4) Terdapat peluang untuk melihat seluruh anggota keluarga dalam
permasalahan bukan hanya pada seorang anggota saja
5) Terdapat kemungkinan untuk tidak cemas dalam lingkungan keluarga,
sehingga lebih terbuka dan minimnya perilaku yang dibuat-buat
6) Terapi yang berlaku bebas dari hubungan formal

7. Catatan Kehidupan
Psikolog sering tertarik untuk mempelajari riwayat hidup klien, karena
riwayat hidup klien dapat mendasari permasalah yang dihadapinya pada hari ini.
Namun catatan kehidupan ini biasa juga dalam bentuk buku catatan yang berisi
peristiwa dan kesan-kesan pribadi yang diasumsikan membangun gambaran pribadi
yang bersangkutan Selain itu juga dari catatn peristiwa dan kesan-kesan pribadi
yang akan membetikan pengaruh pada kehidupannya saat ini. Bisa jadi
permasalahan yang dialami saat ini lebih banyak terungkap kehidupan di masa lalu.

Bahkan banyak ahli yang menyatakan bahwa tanpa masa lalu ada
keperibadian, sementara sehingga kepribadian menentukan sekali atau setidaknya
berkaitan dengan gangguan yang akan terjadi. Jadi jika klien mengizinkan maka

13
buku harian bias digunakan sebagai bahan untuk asesmen dengan menafsirkan
peristiwa yang dialaminya, serta apa yang dilakukan dan dipikirkannya, kita bisa
menentukan kepribadian seseorang. Dari hal tersebut kita bias menduga dinamika
atau proses kejiwaan macam apa yang pernah dialaminya, bahkan gangguan apa
saja yang mungkin akan dialami oleh orang tersebut. Dengan kata lain kita dapat
menduga mengenai apa saja yang menjadi penyebab dan jenis gangguan apa yang
dialami pasien tersebut.

Sebenarnya terdapat teori yang hamper klasik mengenai masalah itu yang
disebut juga dengan analisis kehidupan atau ‘Biografische Analyse’ yang bukunya
dibuat oleh Clauser. Namun untuk mempelajari hal ini tidak bias sedemikian rupa,
karena teknik ini kental dan khusus dengan teori psikodinamik dan psikoanalisis.

8. Dokumen Pribadi

Hampir sama dengan catatan kehidupan, dan analisis Biografi yang


dikemukakan oleh Clauser, Alport adalah penganjur pertama bagi para psikolog
untuk meminta catatan peristiwa baik peristiwa, maupun perasaan, pemikiran dan
pengesanan pribadinya. Dalam pandangan Alport catatan atau dokumen pribadi
penting untuk mengetahui motif utama klien, maupun hal-hal yang disembunyikan,
penyangkalan, hambatan, dan kesulitan klien dalam membicarakan
permasalahannya.

Sering dipermasalahkan, apakah yang dicatat klien dalam buku hariannya


itu jujur atau tidak. Bagi masalah itu tidak signifikan karena apapun yang dicatatnya
adalah proyeksi yang dapat ditafsirkan, jadi seperti dalam interview yang
diperlukan adalah keterampilan psikolog untuk menganalsis dan menafsirkannya.
Pendekatan psikolog klinis tentu saja berbeda dengan pendektan polisi yang harus
faktual dan diyakini kebenrannya. Jadi pemeriksaan polisi itu haruslah faktual,
berbeda halnya dengan psikolog cara berpikirnya adalah menerjemahkan apa yang
dipikirkan, sikap atau reaksi-rekasi klien apapun bentuk terhadap suatu kejadian
atau permasalahan yang belum tentu terjadi atau bahkan mungkin saja tidak akan
terjadi.

14
Dokumen pribadi tidak harus berisikan peristiwa maupun sikap serta angan-angan
klien, bias jadi foto-foto yang dikumpulkannya ialah peristiwa-peristiwa apa yang
dianggapnya penting. Demikian juga jenis barang-barang koleksi seperti barang-
barang antik yang ditafsirkan, misalnya oleh McCleland sebagai tanda keperibadian
yang dilandasi oleh kebutuhan akan harga diri, kekuatan, atau menguasai orang
lain.

9. Pemfungsian Psikofisiologis

Hubungan antara psikomental dan faal atau organ tubuh sangatlah erat.
Misalnya tekanan darah sering dikaitkan erat dengan kecemasan dan merupakan
reaksi atas tekanan-tekanan psikologis. Seorang yang marah biasanya menampilkan
muka yang merah karena darah banyak dipompa jantung sehingga mengisi saluran-
saluran kapiler di permukaan kulit. Bisa jadi juga menjadi gemetar karena
ketegangan di otot harus dia tahan untuk sementara, padahal justru ingin
dilampiaskan.

Makin lama makin banyak ditemukan adanya kaitan antara fungsi organ
tubuh dan kondisi psikologis. Dalam gangguan psikofisiologis yang pernah
berganti nama menjadi gangguan psikosomatis, tercatat hampir semua organ tubuh
dapat terganggu fungsinya oleh gejala psikologis tertentu.

Selain dapat menghubungkan gejala-gejala (sintom dan sindrom) faal


dengan fungsi saraf atau endokrin, juga dapat menghubungkkannya simbol-simbol.
Misalnya gangguan kulit sering berhubungan dengan gangguan kontak sosial.
Selain itu tekanan darah tinggi atau yang biasa disebut hipertensi esesnsial, banyak
berhubungan dengan tingginya kebutuhan untuk berprestasi dalam kepribadian
seseorang.

15
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Asesmen mrupakan kegiatan pengumpulan data yang dilakukan guna
mendapat sebuah informasi-informasi yang dapat digunakan sebagai bahan untuk
fungsi tertentu. Asesmen klinis merupakan pengumpulan data serta informasi yang
mana merujuk pada kondisi psikologis seseorang.

Hasil dari asesmen klinis dapat digunakan untuk mendiagnosa apakah


seseorang mengalami gangguan jiwa, evaluasi antas keadaan diri seseorang, serta
hasil dari asesmen klinis bias digunakan sebagai bahan penelitian atau riset untuk
mengetahui suatu informasi yang spesifik

B. SARAN
Dalam penulisan makalah ini kami mengharapkan bagi para pembaca bisa
memahami mengenai asesmen klinis. Kami menganjurkan agar menggali lebih
dalam mengenai materi yang telah kami paparkan. Kami menyadari dalam
penulisan ini masih banyak kekurangan maka dari itu bagi para pembaca
diharapkan jika ingin membuaat makalah dengan judul yang sama bias lebih baik
dari makalah ini.

16
DAFTAR PUSTAKA

Wiramihardja, A., Sutardjo. (2012). Pengantar Psikologi Klinis


(Edisi Revisi 2012). Bandung. PT Radika Aditama.
Ardani, Ardi, Tristiadi. (2006). Psikologi Klinis.
Malang : Graha Ilmu.
Prawitasari, E., Johana. (2011). Psikologi Klinis : Pengantar Terapan
Mikro dan Makro. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Hary, Prapancha, TA. (2011). Efektivitas Thematic Apperception Test
Dalam Penanganan Kasus Kliens. Jurnal SPIRITS, 1 (2), 1-11.

17