Anda di halaman 1dari 2

BAB I

Pendahuluan

1.Latar belakang

Berbicara mengenai agama, maka kita akan berbicara mengenai iman atau keyakinan. Iman hadir dalam
bentuk spiritualitas yang menyalakan iman yang kita pegang. Dalam perjalanan umat manusia yang
sudah berjalan cukup lama. Kebudayaan merupakan suatu proses yang berjalan secara dinamis seturut
perubahan waktu yang ada, entah perubahan itu berrsifat lambat atau malah berjalan secara revolusif.
Kebudayaan sebagai salah satu hasil karya manusia mulai dari jaman dahulu hadir sebagai identitas yang
menjadikan seseorang dari latar belakang budaya tertentu menjadi lebih khusus disbanding dengan
orang lain yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, agama senantiasa mengalami kontroversi dengan kebudayaan.
Memang tidak semuanya bersifat demikian. Kita contohkan dalam ajaran Agama tertentu, bahwa
menggunakan atau memakai peralatan athasil karya dari budaya merupakan suatau kedosaan di
hadapan Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah apa dan bagaimana sebenarnya peranan agama itu
dalam suatu kebudayaan. Agama merupakan suatu identitas. Budaya juga merupakan demikian. Dalam
prakteknya, banyak orang yang mengalami gonta ganti agama/keyakinan. Apa latar belakang sehingga
mererka melakukannya? Apakah karena ada tawaran ini dan itu, termasuk tawaran jabatan? Apakah
karena adanya ketidakcocokan dalam hidupnya terhadap agama yang dianut sehingga berusaha pindah
Agama? Apakah karena adanya perkawinan beda Agama sehingga salah satu dari pasangan mengikuti
keyakinan pasangannya? Semua jawaban itu tergantung kepada individu yang menjalani proses pindah
agama/keyakinan.

Memang ada saja dalam suatu budaya bahwa terjadinya ketidakjelasan identitas budaya disebabkan oleh
bermacam alasan. Contohnya di jaman dahulu, ada klanya seseorang yang ingin mendapatkan pekerjaan
atau jabatan harus meniadakan marganya karena instansi yang bersangkutan tidak memperbolehkan
seseorang yang mempunyai marga duduk di instansi terkait dengan suatu jabatan tertentu. Ada saja
kasus di dunia pendidikan bahwa seorang anak dari suku yang mempunyai marga tidak dicantumkan
nama marganya di dalam ijazah, karena sejak berada di bangku Sekolah Dasar si anak itu tidak
dicantumkan marganya. Sehingga dalam perjalanan studinya, marga itu harus ditiadakan supaya adanya
kesamaan identitas mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Namun si anak itu mau tak mau,
suka atau tidak suka, dia itu tetap bermarga dan berasal dari salah satu suku yang ada dan merupakan
identitas khusus dalam hidupnya.

Bagaimana dengan agama? Ketika seseorang pindah keyakinan, maka keyakinannya yang dahulu berlalu
begitu saja. Jika dahulu dia beragama X dan sekarang beragama Y, maka identitas X itu sudah ditiadakan
dan itu sah. Sekarang dia mempunyai identitas Y dan diterima oleh masyarakat dan sah menurut hukum.
Apakah segampang itu untuk pindah keyakinan? Dimanakah fungsi dari agama tersebut? Apakah agama
hanya sebagai identitas suka atau tidak suka? Atau Agama hanya sebagai jalan untuk mendapatkan
obsesi kita, entah karena kita ingin mempunyai istri yang banyak maka kita beralih keyakinan karena di
dalam agama terdahulu tidak diperbolehkanmempunyai istri/suami lebih dari satu.

Ketika timbulnya pertentangan antara kearifan lokal dalam hal ini ajaran budaya terhadap ajaran agama,
terkadang agama dianggap sebagai salah satu perusak nilai budaya. Terkadang ada nilai budaya yang
tidak sesuai dengan ajaran agama (dalam hal ini contohnya untuk jumlah mahar dalam suatu
perkawinan, ajaran hidup dari suatu budaya, dll). Apakah suatu agama terkadang bersifat tidak netral
dengan budaya lain, ketika masyarakat dari suku lain masuk dalam suatu agama? Contohnya agama X
tidak pernah dapat berjalan seiringan dengan umatnya dari latar belakang suatu budaya tertentu? Maka
segala adat istiadat dari suatu budaya dipandang sebagai suatu keharaman di dalam agama itu.