Anda di halaman 1dari 15

Tugas Kelompok 3

(Minggu 8/ Sesi 12)

Entrepreneurship

Dosen Pengampu: Isanawikrama, S.T. M.M.

Disusun Oleh :
2201862064 - Atika Nadhira Rosanti
2201861396 - Evandre Sitanggang
2201861370 - Fanny Aryanti
2201861622 - Febylia Surya
2201862644 - Michelle Foanto
2201862285 - Shinta Bella

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA


FAKULTAS EKONOMI DAN KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
JAKARTA
2019

ENTR6081 – Entrepreneurship
Tugas Kelompok 3
Minggu 8 / Sesi 12

1. Jelaskan mengenai Business Model Pattern?


Pola Model Bisnis (Business Model Pattern) adalah komponen arsitektur
model bisnis yang dapat digunakan kembali, yang dapat digunakan dalam
menghasilkan model bisnis baru. Dalam proses pembuatan model bisnis baru, inovator
model bisnis dapat menggunakan satu atau lebih dari pola-pola ini untuk menciptakan
model bisnis baru. Masing-masing pola ini memiliki kesamaan dalam karakteristik,
pengaturan blok bangunan model bisnis dan perilaku. Alexander Osterwalder menyebut
kesamaan ini sebagai "pola model bisnis".

Sebelum seseorang membuat sebuah business model bagi bisnisnya maka


sebaiknya ketahuilah terlebih dahulu setiap komponen atau aspek-aspek penting yang
membentuk bisnis model. Salah satunya adalah Business Model Pattern, komponen ini
biasanya digunakan untuk membentuk kembali Business Model yang baru dengan
melihat komponen-komponen lama yang bisa digunakan kembali.

Penulis buku Business Model Generation, Alexander Ostewalder dalam bukunya


mencatatkan terdapat 5 Pattern yakni:

A. Unbundling Business Model


Konsep unbundling business model ini menjelaskan bahwa pola yang
menunjukan perusahaan yang memiliki bisnis yang tidak dapat disatukan dalam
pengelolaanya karena memiliki konsep dan tujuan yang berbeda biasanya berada pada
segmen bisnis customer relationship, product innovation, dan infrastructure.
Tiga jenis bisnis ini memiliki tantangan Ekonomi, Kompetitif dan budaya yang
berbeda.

Ketiga jenis bisnis ini bisa berada pada satu perusahaan, tetapi idealnya
“terurai” dalam entitas terpisah untuk menghindari konflik atau tarik-menarik bisnis
yang tidak diinginkan. Perusahaan dengan model bisnis ini sebaiknya berfokus pada

ENTR6081 – Entrepreneurship
salah satu dari tiga disiplin nilai, yaitu keunggulan operasional, kepemimpinan
produk, dan kedekatan pelanggan.

Penemu konsep unbundling corporation adalah Jhon Hagel dan Marc Singer
yang dituangkan dalam tulisan berjudul Unbundling the corporation yang dimuat oleh
Harvard Business Review edisi Maret-April 1999.

Hagel dan Singer menggambarkan peran bisnis hubungan pelanggan adalah


menemukan dan mendapatkan pelanggan serta membangun hubungan dengan
mereka. Demikian juga, peranan bisnis inovasi produk adalah mengembangkan
produk dan jasa baru yang atraktif. Sementara peranan bisnis infrastruktur adalah
membangun dan mengatur platform untuk tugas-tugas dengan volume tinggi yang
berulang.

Contohnya yaitu industri telekomunikasi telepon seluler, industry perbankan


swasta, dll. Misalnya dalam mobile telecom industry, perusahaan harus terus
melakukan pengembangan produknya, membangun infrastruktur untuk memperkuat
jaringan, dan menarik perhatian konsumer dengan memberikan customer service yang
baik.

ENTR6081 – Entrepreneurship
B. Long Tail Model
Pola long tail business model adalah pola yang menunjukan bahwa bisnis
tersebut cenderung menjual produk yang sedikit atau fokus pada pasar yang
niche. Total penjualan barang-barang ceruk dapat sama menguntungkannya dengan
model konvensional karena sejumlah kecil yang terbaik berperan besar terhadap
mayoritas pendapatan. Model bisnis ini memerlukan biaya inventori rendah dan
platform yang kuat untuk membuat konten ceruk selalu tersedia untuk setiap pembeli
yang tertarik.

Konsep long tail diciptakan oleh Chris Anderson untuk menjelaskan


pergeseran dalam bisnis media dari menjual beberapa item terlaris dalam jumlah besar
menjadi menjual sejumlah besar item produk ceruk, masing-masing dalam jumlah
yang relatif sedikit. Anderson menjelaskan berapa banyak penjualan yang tidak sering
terjadi dapat menghasilkan total pendapatan yang besarnya sama dengan atau bahkan
melampaui pendapatan yang dihasilkan karena berfokus pada produk terlaris.

Contohnya bagaimana perusahaan persewaan video online Netflix


berubah ke arah pemberian linsensi sejumlah besar film ceruk. Walaupun
masing-masing film ceruk relative jarang disewa, pendapatan rata-rata dari catalog
film ceruk Netflix yang sangat besar menyaingi pendapatan dari persewaan film-film
yang sangat popular.

Konsep Long tail adalah lawan dari konsep produk Hits (produk yang
diproduksi secara massal dengan overhead cost-nya besar). Perbedaan paling
mendasar model Long tail dengan produk Hits adalah tidak adanya batasan ruang
pajang untuk produk ceruk serta biaya inventory yang lebih rendah. Kita ambil
contoh penjual musik online Rhapsody versus Wal-Mart.

Rhapsody, sebuah layanan streaming berbasis langganan, saat ini


menawarkan lebih dari 4 juta lagu. Jumlah produk yang dipasarkan oleh Rhapsody
dari sudut pandang sebuah toko seperti Wal-Mart adalah hal yang tidak bisa
dilakukan, karena

ENTR6081 – Entrepreneurship
industri musik berhenti pada kurang dari 60,000 judul lagu. Ketidakmampuan Wal-
Mart karena keterbatasan daya muat rak toko dan besarnya biaya inventory
yang dikeluarkan untuk menambah item. Namun bagi penjual online seperti
Rhapsody pasar seperti tak berujung. Tidak hanya lagu dari 60.000 teratas yang
diputar setidaknya sekali sebulan, tapi juga lagu-lagu di 600.000 teratas, 900.000
teratas, dan bahkan lebih dari itu. Begitu Rhapsody menambahkan lagu-lagu baru
dalam daftarnya, lagu-lagu itu akan menemukan pendengarnya, walaupun hanya
segelintir orang setiap bulannya, disuatu tempat entah dimana.

Selain itu, pada contoh Wal-Mart jika ada judul lagu yang dead stock maka ia
akan melakukan diskon, sementara Rhapsody tidak perlu melakukan itu. Judul lagu
yang kurang laku di Rhapsody akan duduk manis dalam server, terabaikan oleh pasar
yang mengevalusi lagu-lagu berdasarkan mutu mereka. Dan ketika penjual produk
ceruk yang katalognya begitu besar itu digabungkan, sesungguhnya sedang
membangun sebuah pasar yang akan menyaingi pendapatan produk hits atau minimal
menggerogoti market share produk hits.

Anderson meyakini tiga pemicu ekonomi menghasilkan fenomena berikut


dalam industry media:
1. Demokratisasi peralatan produksi, semakin murahnya biaya teknologi
menyebabkan semua individu dapat mengakses beberapa peralatan yang beberapa
tahun sebelumnya sangat mahal;
2. Demokratisasi distribusi, internet telah membuat distribusi konten digital menjadi
komoditi, dan secara dramatis menurunkan biaya inventori, komunikasi, dan
transaksi yang membuka pasar baru bari produk-produk ceruk;
3. Semakin rendahnya biaya pencarian untuk menghubungkan permintaan dan
penawaran.

Model bisnis long tail memerlukan biaya inventori rendah dan platform yang
kuat untuk membuat konten ceruk selalu tersedia bagi pembeli yang tertarik.

ENTR6081 – Entrepreneurship
C. Multi-sided Platform Model
Platform bersisi banyak menjadi sebuah fenomena bisnis yang penting. Pasar
ini sudah cukup lama ada dan berkembang seiring meningkatnya teknologi informasi.
Model bisnis ini menghubungkan dua atau lebih kelompok customer yang
berbeda (distinct) namun saling bergantung. Platform semacam itu akan bernilai
bagi satu kelompok pelanggan hanya jika kelompok pelanggan lain juga ada. Platform
ini menciptakan nilai dengan memfasilitasi interaksi antarkelompok yang berbeda.
Platform bersisi banyak tumbuh dalam nilai sejauh platform tersebut menarik lebih
banyak pengguna, sebuah fenomena yang dikenal dengan sebutan efek jaringan.

Satu cara yang digunakan platform bersisi banyak untuk memecahkan masalah
ini adalah dengan menyubsidi segmen pelanggan. Walaupun menimbulkan biaya
dengan melayani semua kelompok pelanggan, operator platform sering kali
memutuskan untuk memikat satu segmen pada satu platform dengan proposisi nilai
yang tidak mahal atau gratis sehingga dapat menarik pengguna dari platform sisi
lainnya. Kesulitan yang dihadapi operator platform bersisi banyak adalah mengetahui
sisi mana yang harus disubsidi dan bagaimana menetapkan harga dengan tepat
untuk dapat menarik pelanggan.

Karakteristik yang sama dari pola model bisnis bersisi banyak ini meliputi
preposisi nilai, segmen pelanggan, arus pendapatan, sumber daya utama, dan
struktur biaya.
 Preposisi nilai biasanya menciptakan nilai pada area utama:
Pertama, menarik kelompok pengguna (misalnya segmen pelanggan). Kedua,
mencocokkan antar-segmen pelanggan. Ketiga, menurunkan biaya dengan
menyalurkan transaksi melalui platform. Segmen pelanggan biasanya memiliki
dua atau lebih segmen pelanggan yang masing-masing memiliki preposisi nilai
sendiri dan terkait dengan arus pendapatan, selain itu segmen pelanggan tidak
mungkin berdiri sendiri tanpa segmen pelanggan lainnya.
 Arus pendapatan yang dihasilkan disumbang tidak dari semua segmen pelanggan,
dalam artian satu atau lebih segmen pelanggan dapat menikmati penawaran gratis

ENTR6081 – Entrepreneurship
atau harga murah yang merupakan subsidi pendapatan dari segmen pelanggan
lainnya.
 Sumber daya utama dalam model bisnis ini adalah platform dengan aktivitas
kunci berupa manajemen platform, penyedia layanan, dan promosi platform.
 Biaya utama yang timbul dalam pola ini terkait dengan mempertahankan dan
mengembangkan platform.

Sebagai contoh Google, perusahaan ini memiliki program periklanan yang


disebut dengan Google Adsense. Dalam Platform Google Adsense terdapat tiga
pelanggan, yaitu Pemasang Iklan, Peselancar Web, dan Pemilik konten yang
sudah menjadi mitra adsense (biasa disebut publisher adsense).

Cara kerjanya seperti berikut:


Pemasang iklan membayar iklan untuk ditayangkan oleh Google, Google kemudian
mendistribusikan iklan dari pemasang iklan kepada para publisher Adsense. Para
publisher yang ingin menguangkan kontennya ini kemudian menaruh script iklan dari
Google di blog atau situsnya. Berharap para peselancar web, seperti anda yang
membaca tulisan ini memanfaatkan mesin pencari Google sampai nyasar ke sini,
untuk mengklik iklan yang dipasang agar mereka mendapatkan pemasukan komisi
iklan yang biasanya dengan sistem CPC maupun RPM.

Mengapa peselancar web seperti kita mendapat gratisan? Karena disubsidi dari
para pemasang iklan. Sementara para pemilik konten alias publisher adsense
mendapatkan uang dari komisi iklan dengan persentase yang sudah ditentukan oleh
Google. Kalau saja satu segmen pelanggan tidak ada, maka model bisnisnya tidak
akan berjalan.

Contoh lainnya yaitu Visa, Google, eBay, Windows dari Microsoft, Nintendo,
Financial Times, dsb. Misalnya, Nintendo dengan produk game consolenya.
Nintendo mengembangkan suatu game console yang kemudian dijual kepada
customer. Selain itu, Nintendo juga menjual lisensi untuk membuat game pada para
game developer. Kedua kelompok customer ini, pembeli biasa dan game developer,
dihubungkan oleh pembuat game console.

ENTR6081 – Entrepreneurship
D. Free as a Business Model
Pola model bisnis ini menunjukan bahwa perusahaan menyediakan produk
atau jasa secara gratis untuk menarik pelanggan untuk ditawarkan berbagai
pilihan berbayar untuk menyempurnakan produk yang digunakan.

Gratis selalu menjadi preposisi nilai yang menarik. Pemasar atau ahli ekonomi
manapun akan mengonfirmasikan bahwa permintaan yang datang untuk harga nol
jauh lebih tinggi daripada permintaan yang datang untuk harga satu sen atau nominal
harga lainnya.

Dalam model bisnis gratis setidaknya satu segmen pelanggan utama


terus-menerus merasakan manfaat penawaran gratis. Pelanggan yang tidak
membayar didanai oleh sebagai model bisnis lain atau oleh segmen lain. Misalnya
suatu aplikasi smartphone yang dapat digunakan secara gratis, akan tetapi jika ingin
mendapatkan fitur lebih, customer harus membayar biaya berlangganan. Contohnya
seperti Skype.

Setidaknya ada tiga pola yang membuat model bisnis gratis dapat dijalankan,
yaitu:
a. Penawaran gratis didasarkan pada platform bersisi banyak berbasis iklan.
Satu sisi platform dirancang untuk menarik pengguna melalui konten, produk,
dan jasa gratis, sisi lainnya menghasilkan pendapatan dengan menjual ruang
kepada pemasang iklan. Iklan merupakan sumber pendapatan yang sudah mapan
dan memungkinkan adanya penawaran gratis. Salah satu contoh yang
menggambarkan pola ini adalah Metro, surat kabar gratis yang bermula di
Stockholm.

b. Layanan dasar gratis dengan layanan premium opsional (model freemium).


Istilah freemium diciptakan oleh Jurid Lukin dan kemudian dipopulerkan oleh
Fred Wilson. Istilah ini mewakili model bisnis, terutama yang berbasis web, yang
menggabungkan layanan dasar gratis dengan layanan premium berbayar.

ENTR6081 – Entrepreneurship
Ukuran utama yang harus diamati adalah :
• Biaya rata-rata melayani pengguna gratis
• Rata-rata tingkat pengguna gratis berubah menjadi pelanggan premium
Bahasa lainnya dari freemium ini adalah pelanggan menerima gratis untuk
fasilitas dasar, membayar untuk fasilitas lainnya.

Contoh dari model bisnis ini salah satunya adalah WordPress.com. Pengguna
WordPress.com dapat berlangganan secara gratis untuk akun dasar yang
memungkinkan mereka membuat blog. Layanan gratis memiliki batasan tertentu,
seperti ruang penyimpanan yang terbatas, nama domain berembel-embel
wordpress.com, tema yang terbatas yang disediakan, tidak adanya plugin, dan
munculnya tampilan iklan dari wordpress.com di blog anda.

Pengguna berbayar tahunan yang jumlahnya kecil dapat membeli akun ‘pro’ dan
menikmati unggahan tak terbatas ditambah fitur-fitur tambahan lainnya yang
tidak tersedia di akun dasar. Selain dari pengguna berbayar, arus pendapatan
wordpress juga di dapat dari pemasangan iklan yang dipasang di blog,
khususnya blog dari pengguna free.

Pola model bisnis Freemium ini juga banyak diterapkan pada game online,
dimana pengguna gratis bisa bemain dengan fasilitas dasar, sementara untuk
mendapatkan fasilitas lainnya harus membeli gift tertentu.

c. Model Umpan dan Kail


Model umpan dan kail mengacu kepada model bisnis yang bercirikan penawaran
awal yang menarik, tidak mahal, atau bahkan gratis yang mendorong
kelanjutan pembelian berikutnya atas produk atau jasa terkait. Istilah Pola
ini juga terkenal dengan sebuatn loss leader dan razor & blades.

Loss leader mengacu pada penawaran awal bersubsidi, yaitu penawaran yang
dapat dikatakan rugi, yang bertujuan menghasilkan keuntungan dari pembelian
berikutnya.

ENTR6081 – Entrepreneurship
Razor & blades adalah model bisnis yang diperkenalkan oleh King C. Gillette,
penemu mata pisau cukur sekali pakai. Pada tahun 1904 King C. Gillette, yang
pertama kali mengkomersialkan sistem mata pisau sekali pakai, memutuskan
untuk menjual gagang pisau cukur dengan diskon besar atau bahkan
memberikannya secara gratis bersama produk lain untuk menciptakan permintaan
bagi pisau cukur sekali pakainya.

E. Open business model


Pola model bisnis yang ini menunjukan dimana perusahaan cenderung
mengikutsertakan masyarakat dan publik dalam bekerjasama menciptakan produk
dan secara transparan dan terbuka bagi publik untuk menyumbangkan ide atau
memberi masukan. Pada pola model bisnis ini terjadi Open Innovation yang dimana
perusahaan lebih memiliki peluang besar dalam mendapatkan inovasi baru. Karena
perusahaan membuka kesempatan bagi banyak ilmu dan pemikiran untuk ikut serta
berkontribusi menciptakan inovasi.

Model bisnis terbuka dapat digunakan perusahaan untuk menciptakan dan


menangkap nilai melalui kolaborasi dengan mitra luar secara sistematis. Model ini
dapat terjadi dari luar ke dalam dengan memanfaatkan gagasan eksternal dalam
perusahaan atau dari dalam ke luar dengan menyediakan gagasan atau asset yang
tidak digunakan perusahaan untuk pihak luar. Model bisnis ini sangat terkait dengan
R&D. Model bisnis ini mengacu kepada pembukaan proses riset perusahaan kepada
pihak luar.

Contoh dari model bisnis ini adalah P&G, GlaxoSmithKline, Innocentive.


Misalnya P&G, perusahaan tersebut tidak mengembangkan produknya sendiri,
namun mebagikan hasil penelitiannya pada pihak luar. P&G juga memanfaatkan
resource (ilmuwan, penelitian) dari pihak luar untuk mengembangkan produknya.

Model bisnis terbuka adalah istilah yang diluncurkan oleh Henry Chesbrough,
yang mengacu pada pembukaan proes riset perusahaan kepada pihak luar. Model
bisnis terbuka dapat menjadi solusi dari tantang R&D yang sangat mahal atau

ENTR6081 – Entrepreneurship
produktivitas yang merosot. Solusinya adalah dengan meningkatkan sumber daya
R&D dan aktivitas internal melalui pemanfaatan mitra luar. Hasil-hasil R&D internal
diubah menjadi bentuk proposisi nilai dan ditawarkan kepada segmen pelanggan yang
tertarik. Dasar pemikirannya adalah penguasaan R&D dari sumber eksternal dapat
menjadi tidak terlalu mahal dan waktu pemasaran yang lebih cepat.

Pada model bisnis terbuka, ada dua jenis inovasi, yaitu inovasi dari luar ke
dalam terjadi ketika sebuah organisasi membawa gagasan, teknologi, atau properti
inteletual eksternal ke proses pengembangan dan komersialisasinya. Sedangkan pada
inovasi dari dalam ke luar terjadi ketika organisasi mengeluarkan lisensi atau
menjual property intelektual atau teknologinya, terutama asset yang tidak
termanfaatkan.

Inovasi terbuka dan model bisnis terbuka adalah dua istilah yang diluncurkan
Henry Chesbrough dan membedakan antara inovasi “dari luar ke dalam” dan inovasi
“dari dalam ke luar”.

Prinsip-prinsip Inovasi:
Tertutup Terbuka

Orang-orang yang pandai dalam bidang kita Kita perlu bekerja dengan orang-orang
bekerja untuk kita. pandai baik di dalam maupun di luar
perusahaan.

Untuk mendapatkan keuntungan dari riset R&D eksternal dapat menciptakan nilai
dan pengembangan (R&D), kita harus yang signifikan, R&D internal diperlukan
menemukan, mengembangkan, dan untuk mengklaim sebagian dari nilai
mengirimkannya sendiri. tersebut.

Jika kita melakukan sebagian besar riset Kita tidak perlu melakukan riset untuk
terbaik dalam industry, kita akan menang. menarik manfaat dari sana.

ENTR6081 – Entrepreneurship
Jika kita menciptakan sebagian besar Jika kita membuat penggunaan terbaik atas
gagasan terbaik dalam industry, kita akan gagasan internal dan eksternal, kita akan
menang. menang.

Kita harus mengendalikan proses inovasi Kita harus menarik manfaat dari pengguna
yang kita lakukan agar pesaing tidak lain inovasi kita, dan juga harus membeli
menarik keuntungan dari gagasan kita. property intelektual orang lain jika
property itu semakin menarik perhatian
kita.

2. Mengapa harus Enterpreneur harus membuat Business Pattern?


“Memulai usaha itu yang penting nekat. Urusan lain, bisa diselesaikan
belakangan sambil berjalan.” Mungkin kita yang sedang berniat memulai usaha kecil-
kecilan seringkali mendengar kalimat serupa dari banyak orang. Akan tetapi, ingatlah
bahwa dengan perencanaan awal yang baik, kita sudah melewati setengah dari
pertempuran. Karena itu, perencanaan bisnis yang matang dengan membuat model
bisnis adalah satu hal yang penting kita lakukan.

Seperti yang kita ketahui, model bisnis adalah rencana mengenai bagaimana
sebuah usaha dapat menghasilkan pendapatan dan memperoleh laba. Rencana ini
terdiri dari penjelasan mengenai produk/jasa apa yang akan dibuat dan dijual, cara untuk
membuat dan menjualnya, serta biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha
tersebut.

Pentingnya seorang entrepreneur membuat bussiness pattern diantaranya:

1. Model Bisnis membantu kita untuk mendapatkan informasi


Model bisnis dapat membantu kita untuk mendapatkan informasi terkait bagaimana,
dimana, dan kapan produk yang dihasilkan akan berfungsi dengan maksimal.
Informasi ini didapatkan melalui proses simulai terhadap produk tersebut. Misalnya
kebijakan harga produk akan mempengaruhi jumlah produk yang dijual. Melalui

ENTR6081 – Entrepreneurship
informasi tersebut maka kita akan melakukan evaluasi apakah model yang didesain
dapat bersaing di pasaran.

2. Model bisnis yang baik dapat melemahkan kompetitor


Jika kita mampu mengetahui kelemahan model bisnis pesaing, maka kita dapat
segera menentukan model bisnis yang dapat menutup celah kelemahan tersebut. Ini
akan mengakibatkan munculnya produk subsitusi dari perusahaan yang memiliki
nilai lebih dibandingkan kompetitor.

3. Merubah kompetitor menjadi sekutu


Hal ini sebagai akibat karena kita mampu mengidentifikasi kelemahan bisnis
kompetitor, dan sebaliknya. Sebagai solusi, maka dibuatlah produk komplementer
untuk saling melengkapi.

4. Model Bisnis membantu kita agar tidak kehilangan arah


Melihat gaya hidup masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif, tentu kita akan
menemukan banyak peluang usaha yang bisa digarap. Setiap kali melihat keinginan
dan kebutuhan masyarakat, kita pun bisa mendapat puluhan ide usaha yang tampak
cemerlang.

Akan tetapi, penting untuk diingat bahwa sebuah usaha tidak akan bisa berjalan
dengan baik apabila pemiliknya tidak dapat fokus pada satu jenis bisnis dan
menekuninya. Terlebih lagi jika kita mencoba mengubah jenis bisnis kita setelah
usaha baru saja berjalan. Karena itu, lebih baik buat dulu model bisnis usaha
kita secara matang sebelum memulainya sehingga dapat menjadi acuan selama
menjalankan usaha.

5. Membantu untuk Memetakan Usaha


Ide dari memulai sebuah usaha memang tampak seru dan membakar semangat.
Tetapi yang kita butuhkan untuk membuat usaha menjadi sukses bukan hanya tekad,
semangat dan produk yang mumpuni, namun juga pemetaan yang jelas dan
tertulis mengenai usaha kita.

ENTR6081 – Entrepreneurship
Tanpa pemetaan yang baik dan terstruktur, kita akan mengalami kesulitan
saat ingin mengembangkan usaha karena selama ini hanya “asal jalan” dalam
menjual produk dan bergantung pada faktor keberuntungan. Kita juga akan
kewalahan saat penjualan produk kita terus menerus stagnan namun kita tidak bisa
menemukan titik permasalahannya.

Untuk menghindari hal tersebut, kita perlu memetakan usahamu dengan


merancang model bisnis, dengan ilustrasi berikut:
Dengan model bisnis yang benar, kita dapat memetakan konsep usaha kita, masalah
apa yang bisa kita berikan solusi dan siapa konsumen kita, nilai tambahan apa yang
dapat kita berikan kepada mereka, bagaimana cara mereka bisa mendapatkan
produk/jasa yang kita tawarkan, bagaimana usaha kita bisa tetap kompetitif dan juga
bagaimana cara kita mendapat keuntungan serta biaya apa saja yang harus
dikeluarkan.

Setelah berhasil memetakannya dengan baik, kita pun akan lebih mengenal usaha
dan pasar yang menjadi target. Alhasil, kita pun akan menemukan cara terbaik untuk
mengoperasikan usaha sehingga mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.

6. Bertindak sebagai Panduan dalam melakukan Riset Pengembangan Usaha


Saat hendak memulai sebuah usaha, tentu kita perlu melakukan banyak riset. Baik
riset pasar, riset bahan baku, riset logistik yang paling tepat untuk kita, dan
sebagainya. Banyaknya riset tersebut bisa saja membuat kita kelimpungan dan tidak
menutup kemungkinan bahwa kita akan melewatkan berbagai macam hal. Bahkan,
bisa jadi kita malah melakukan riset untuk hal yang sebenarnya tidak perlu.

Dengan merancang model bisnis, kita dapat mengurangi risiko tersebut. Bukannya
ribet, justru kita akan menjadi semakin teliti dan semakin terarah sehingga
persiapan memulai usaha akan lebih terencana. Jika kita merancang model bisnis
dengan benar, maka kita akan mengetahui hal-hal apa saja yang memang dibutuhkan
untuk membuat usaha beroperasi dengan baik. Dengan begitu, kita tidak akan
melewatkan setiap hal yang kamu perlu riset untuk keberlangsungan usaha kita.

ENTR6081 – Entrepreneurship
7. Membantu kita dalam Merancang Strategi Usaha
Saat memetakan usaha dan membuat model bisnis, kita akan menganalisa pasar dan
melihat hal apa saja yang bisa dilakukan untuk mengembangkan usaha. Selain
menjadi acuan agar kita tetap fokus pada usaha ini, model bisnis juga dapat
menjadi acuan dalam membuat strategi.

Misalnya, key activities membuat usaha ayam geprek menjadi sukses adalah dengan
menemukan resep dan membuat ayam geprek yang lezat, melakukan pemasaran, dan
juga menjualnya ke target pasarmu. Berdasarkan key activities tersebut, kita bisa
menyusun strategi pemasarannya, apakah hal tersebut lebih efektif dilakukan
menggunaka brosur atau media sosial.

Kita pun bisa mencari metode produksi ayam geprek yang paling efektif, dari
mendapatkan supplier ayam dan bumbu dengan harga dan kualitas terbaik, hingga
proses mengolah bahan-bahan mentah tersebut menjadi ayam geprek yang siap jual
dengan rasa lezat. Strategi penjualannya pun bisa kita rumuskan dengan lebih detail
juga, seperti ingin memulainya di toko ataupun online, dan tentunya dengan
kemasan/penyajian yang menarik.

Jadi, merancang model bisnis pada fase awal membangun usaha sangatlah penting
untuk dilakukan. Berbisnis tidak hanya semata-mata menjual produk ke pasar dan
menunggu respon konsumen terhadap produk tersebut. Menjalankan sebuah bisnis
hendaknya harus diiringi dengan proses perancangan yang baik dengan berbagai faktor
pendukung.

ENTR6081 – Entrepreneurship