Anda di halaman 1dari 25

Sistem saraf – Sistem koordinasi pada manusia

Saraf (neural) pada dasarnya adalah jaringan komunikasi yang menghubungkan seluruh
sistem pada tubuh manusia dalam sistem koordinasi pada manusia yang dikendalikan atau
diatur oleh suatu saraf pusat respirasi yang terdapat di otak atau sumsum tulang belakang.
Hormon berasal dari sistem endokrin dan beredar di dalam darah untuk mengatur organ-
organ khusus. Misalnya sekresi cairan pencernaan dari pankreas dirangsang oleh suatu
hormon (secretin), yang dilepaskan oleh dinding usus halus bagian atas. Jadi, saraf
maupun hormon mengatur proses-proses tubuh.
1. Sel Saraf
Sistem saraf manusia dalam sistem koordinasi pada manusia terdiri atas otak, sumsum
tulang belakang, dan saraf yang menghubungkan bagian pusat dengan bagian dalam
tubuh. Saraf tersusun atas berjuta-juta sel saraf. Sel saraf terbagi menjadi dua jenis, yaitu
neuron dan neuroglia. Pembagian ini berdasarkan perbedaan fungsi. Neuron berfungsi
sebagai pembawa informasi baik dari organ penerima rangsang menuju pusat susunan
saraf maupun sebaliknya. Sedangkan, neuroglia berperan dalam hal mendukung sel
neuron sehingga sel neuron mampu melakukan tugasnya.

Sel Saraf
Sel neuron pada umumnya terdiri atas tiga bagian, yaitu akson, badan sel, dan dendrit.
 Dendrit : struktur yang terbentuk dari tonjolan plasma yang berfungsi meneruskan
impuls menuju badan sel.
 Badan sel : struktur berwarna kelabu yang menghasilkan energi bagi kegiatan sel
neuron.
 Akson : struktur berbentuk panjang dan licin. Akson berfungsi untuk menghantarkan
rangsangan dari badan sel ke sel neuron lain.
Pada umumnya, neuron diselaputi oleh selubung mielin yang disusun oleh sel-sel pipih
yang disebut sel schwann. Sedangkan, bagian akson yang tidak ada selubung mielin
disebut nodus renvier.
Berdasarkan fungsinya dalam sistem koordinasi pada manusia, sel saraf (neuron) dapat
dibagi menjadi:
1. Neuron aferen (sensori), fungsinya adalah mentransmisi impuls saraf ke arah
susunan saraf pusat, yaitu otak dan sumsum belakang.
2. Neuron eferen (motoris), berfungsi mentransmisi impuls saraf menjauhi atau
meninggalkan sistem pusat menuju ke otot atau kelenjar, hasilnya berupa
tanggapan tubuh terhadap rangsangan.
3. Neuron internunsial atau intercalated berfungsi menginduksi impuls-impuls dari
neuron aferen ke neuron eferen dan seluruhnya terletak di dalam sistem saraf pusat.
Berdasarkan strukturnya, neuron dapat dibagi menjadi:
 Neuron multipolar, yaitu neuron yang mempunyai beberapa dendrit tetapi hanya
satu akson. Sebagian besar neuron-neuron otak dan sumsum belakang adalah
neuron multipolar.
 Neuron bipolar, yaitu neuron yang hanya mempunyai satu dendrit dan satu akson,
dapat ditemukan di dalam retina dan ganglion spiralis dari telinga dalam.
 Neuron unipolar, yaitu neuron yang hanya mempunyai satu penjuluran, yaitu satu
akson, neuron jenis ini sangat langka, hanya ditemukan pada embrio.
Secara umum, yang dimaksud dengan saraf atau berkas saraf, yaitu saraf yang terdiri atas
kumpulan beratus-ratus atau beribu-ribu akson yang masing-masing berasal dari neuron
yang berlainan. Pada berkas saraf tidak dapat ditemukan badan-badan sel di dalamnya.
Oleh karena itu, badan-badan sel tersebut terletak di dalam otak dan sumsum belakang
atau di bagian lain tubuh, membentuk suatu kelompok yang disebut ganglion (Yunani:
pembengkakan).
2. Impuls Saraf
Penelitian mengenai sistem koordinasi pada manusia khusus sifat impuls saraf
(rangsangan) berkembang setelah teknik mikro kimia berkembang. Telah diketahui bahwa
serabut saraf yang sedang dialiri impuls menghabiskan lebih banyak energi (panas),
menggunakan lebih banyak oksigen dan melepaskan lebih banyak karbon dioksida
dibandingkan dengan serabut saraf tersebut dalam keadaan istirahat.

Proses Penghantaran Impuls Saraf


Konduksi impuls tidak tergantung pada sifat atau kekuatan rangsangan yang
menyebabkannya tetapi dari sifat neuron itu sendiri. Asalkan rangsangan tersebut cukup
kuat untuk menimbulkan suatu impuls, maka akan dihantarkan ke susunan saraf pusat.
3. Terjadinya gerak biasa dan gerak refleks – sistem koordinasi pada manusia
Gerak merupakan pola koordinasi yang sederhana untuk menjelaskan hentakan impuls
oleh saraf. Pada umumnya gerak terjadi secara sadar, namun ada pula gerak yang terjadi
tanpa disadari, yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu
dari reseptor ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk diolah, hasil olahan oleh otak berupa
tanggapan yang dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh
efektor.

Proses Terjadinya Gerak Refleks


Gerak refleks adalah gerak yang terjadi secara cepat dan tidak disadari. Pada dasarnya
gerakan ini merupakan mekanisme untuk menghindar dari suatu keadaan yang
membahayakan.
4. Sistem Saraf Pusat dan Saraf Tepi
Sistem saraf pusat berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan sistem koordinasi. Sistem
saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis).
Sedangkan, saraf tepi menyampaikan informasi baik ke pusat susunan saraf maupun
sebaliknya.
a. Sistem Saraf Pusat

Sistem Saraf Pusat (Otak dan Sumsum Tulang Belakang)


Otak maupun sumsum tulang merupakan organ sistem koordinasi pada manusia yang
sangat vital dan lunak sehingga harus dilindungi oleh tulang rangka berupa tengkorak dan
ruas-ruas tulang belakang. Selain itu, otak juga dilindungi tiga lapisan selaput meninges.
Radang yang terjadi pada lapisan membran ini disebut meningitis. Dari luar ke dalam ketiga
lapisan membran meninges adalah sebagai berikut:
 Durameter, merupakan selaput yang kuat dan bersatu dengan tengkorak.
 Arachnoid, merupakan selaput yang di dalamnya terdapat cairan serebrospinalis
(semacam cairan limfa). Arachnoid berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi
otak dari bahaya kerusakan mekanik.
 Piameter, lapisan ini berfungsi untuk memberi oksigen dan nutrisi serta mengangkut
bahan sisa metabolisme. Lapisan ini penuh dengan pembuluh darah dan sangat
dekat dengan permukaan otak.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai tiga materi esensial, yaitu:
1) badan sel, membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea)
2) serabut saraf yang membentuk bagian materi kelabu (substansi alba) dan
3) sel-sel neuroglia, merupakan jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam
sistem saraf pusat.
b. Saraf Tepi (perifer)
Sistem saraf tepi terdiri atas sistem saraf sadar (somatik) dan sistem saraf tak sadar
(otonom). Sistem saraf tepi berdasarkan arah impulsnya terbagi menjadi dua, yaitu sistem
aferen dan sistem eferen. Sistem aferen mengandung sel saraf yang menghantarkan
informasi dan reseptor ke sistem saraf pusat (sistem koordinasi pada manusia).
Sistem saraf eferen mengandung sel saraf yang menghantarkan informasi dari sistem saraf
pusat ke otot dan kelenjar. Sistem saraf somatik mengandung saraf eferen yang
menghantarkan impuls dari sistem saraf pusat ke jaringan otot rangka. Sistem saraf
somatik menghasilkan gerakan di jaringan otot rangka.
Hormon
Hormon merupakan zat kimia dalam sistem koordinasi pada manusia yang dihasilkan oleh
kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar endokrin disebut kelenjar buntu karena tidak
mempunyai saluran, hormon yang dihasilkan langsung dibawa oleh darah untuk diedarkan
ke seluruh tubuh.
Hormon Sistem Koordinasi pada Manusia
Hormon berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, metabolisme tubuh, reproduksi dan
tingkah laku. Sebagai subsistem dalam sistem koordinasi maka hormon mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan sistem saraf. Tetapi pada umumnya pengaruh hormon
berbeda dengan saraf. Perubahan oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang
memerlukan waktu yang lama. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.
Berdasarkan aktivitasnya, kelenjar endokrin dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
 Kelenjar yang bekerja sepanjang hayat.
 Kelenjar yang bekerjanya mulai saat tertentu.
 Kelenjar yang bekerja hanya sampai saat tertentu saja.
Panca indera sistem koordinasi pada manusia

Panca Indera Penglihatan


Panca indera merupakan organ yang mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk peka
terhadap perubahan lingkungan. Panca indera yang kamu ketahui, yaitu indera penglihatan
(mata), indera pendengaran (telinga), indera penciuman (hidung), indera peraba (kulit), dan
indera perasa (lidah). Karena kelima indera memiliki reseptor terhadap keadaan lingkungan
luar, maka disebut ektoreseptor. Untuk lebih memahami mari cermati uraiannya.
Sistem Koordinasi Pada Manusia
Semua sistem organ dalam tubuh manusia bekerja secara teratur dan selaras, kecuali jika ada
gangguan atau kelainan. Hal ini disebabkan karena ada sistem yang mengatur kerja berbagai
sistem organ. Sistem organ ini disebut sistem koordinasi. Sistem koordinasi pada manusia terdiri
dari sistem saraf, sistem indera, dan sistem hormon (endokrin). Sistem saraf bersama-sama
dengan sistem hormon berfungsi untuk mengatur dan memelihara fungsi tubuh, misalnya
mengatur kontraksi otot, perubahan alat-alat tubuh bagian dalam, dan sekresi berbagai kelenjar
dalam tubuh.

A. Sistem Saraf
Sistem saraf merupakan sistem koordinasi (pengaturan tubuh) berupa penghantaran impul
saraf ke susunan saraf pusat, pemrosesan impul saraf dan perintah untuk memberi tanggapan
rangsangan. Sistem saraf disusun oleh satuan terkecil yang disebut sel saraf. Sistem saraf terdiri
atas otak, sumsum tulang belakang, dan saraf (neuron). Fungsi sistem saraf adalah sebagai
pengatur koordinasi alat-alat tubuh dan sebagai pusat kesadaran, kemauan, dan pikiran.

Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu :
 Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak sebagai
reseptor adalah organ indera.
 Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut
penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang memanjang dan
meluas. Sel saraf disebut neuron.
 Efektor, adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh penghantar
impuls. Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan kelenjar.

1. Sel Saraf

a. Badan Sel
Badan sel saraf mengandung inti sel dan sitoplasma. Di dalam sitoplasma terdapat mitokondria
yang berfungsi sebagai penyedia energi untuk membawa rangsangan.
b. Dendrit
Dendrit adalah serabut - serabut yang merupakan penjuluran sitoplasma. Pada umumnya sebuah
neuron mempunyai banyak dendrit dan ukuran dendrit pendek. Dendrit berfungsi membawa
rangsangan ke badan sel.
c. Neurit (akson)
Neurit atau akson adalah serabut - serabut yang merupakan penjuluran sitoplasma yang panjang.
Sebuah neuron memiliki satu akson. Neurit berfungsi untuk membawa rangsangan dari badan sel
ke sel saraf lain. Neurit di bungkus oleh selubung lemak yang disebut myelin yang terdiri atas
perluasan membran sel Schwann. Selubung ini berfungsi untuk isolator dan pemberi makan sel
saraf. Antara neuron satu dengan neuron satu dengan neuron berikutnya tidak bersambungan
secara langsung tetapi membentuk celah yang sangat sempit. Celah antara ujung neurit suatu
neuron dengan dendrit neuron lain tersebut dinamakan sinapsis. Pada bagian sinaps inilah suatu
zat kimia yang disebut neurotransmiter (misalnya asetilkolin) menyeberang untuk membawa
impuls dari ujung neurit suatu neuron ke dendrit neuron berikutnya.
Berdasarkan bentuk dan fungsinya neuron dibedakan menjadi tiga macam yaitu :

 Neuron Sensorik
Neuron sensorik adalah neuron yang membawa impuls dari reseptor (indra) ke pusat susunan
saraf (otak dan sumsum tulang belakang).
 Neuron Motorik
Neuron motorik adalah neuron yang membawa impuls dari pusat susunan saraf ke efektor (otot
dan kelenjar).
 Neuron Konektor
Neuron konektor adalah neuron yang membawa impuls dari neuron sensorik ke neuron motorik.
2. Macam - macam Gerak
Gerakan merupakan salah satu cara tubuh dalam mengagapi rangsangan. Berdasarkan
jalannya rangsangan (impuls) gerakan dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Gerak sadar
Gerak sadar atau gerak biasa adalah gerak yang terjadi karena disengaja atau disadari. Pada
gerak sadar ini, gerakan tubuh dikoordinasi oleh otak. Rangsangan yang diterima oleh reseptor
(indra) disampaikan ke otak melalui neuron sensorik. Di otak rangsangan tadi diartikan dan
diputuskan apa yang akan dilakukan. Kemudian otak mengirimkan perintah ke efektor melalui
neuron motorik. Otot (efektor) bergerak melaksanakan perintah otak. Contoh gerak sadar
misalnya : menulis, membuka payung, mengambil makanan atau berjalan.
Skema gerak sadar :
Rangsangan (Impuls) --> Reseptor (Indra) --> Saraf sensorik --> Otak --> Saraf motorik --
>
Efektor (Otot)

b. Gerak Refleks (Tak Sadar)


Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Impuls yang
menyebabkan gerakan ini tidak melewati otak namun hanya sampai sumsum tulang belakang.
Gerak refleks misalnya terjadi saat kita mengangkat kaki karena menginjak benda runcing,
gerakan tangan saat tidak sengaja menjatuhkan buku, gerakan saat menghindari tabrakan dan lain
sebagainya.
Skema gerak refleks :
Rangsangan(Impuls) --> Reseptor(Indra) --> Saraf sensorik --> Sumsum Tulang Belakang
-->
Saraf motorik --> Efektor (Otot)

3. Susunan Sistem Saraf Manusia


Di dalam tubuh kita terdapat miliaran sel saraf yang membentuk sistem saraf. Sistem saraf
manusia tersusun dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri atas otak
dan sumsum tulang belakang. Sedangkan sistem saraf tepi terdiri atas sistem saraf somatis dan
sistem saraf otonom.
a. Sistem Saraf Pusat
1) Otak
Otak merupakan pusat pengatur dari segala kegiatan manusia. Otak terletak di rongga tengkorak
dan
dibungkus oleh tiga lapis selaput kuat yang disebut meninges. Selaput paling luar disebut
duramater, paling dalam adalah piamater dan yang tengah disebut arachnoid. Di antara ketiga
selaput tersebut terdapat cairan serebrospinal yang berfungsi untuk mengurangi benturan atau
goncangan. Peradangan
yang terjadi pada selaput ini dinamakan meningitis. Penyebabnya bisa karena infeksi virus. Otak
manusia terbagi menjadi tiga bagian yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum) dan
sumsum lanjutan.
 Otak besar (cerebrum)
Otak besar memiliki permukaan yang berlipat-lipat dan terbagi atas dua belahan. Belahan otak
kiri melayani tubuh sebelah kanan dan belahan otak kanan melayani tubuh sebelah kiri. Otak
besar terdiri atas dua lapisan. Lapisan luar berwarna kelabu disebut korteks, berisi badan-badan
sel saraf. Lapisan dalam berwarna putih berisi serabut-serabut saraf (neurit/akson). Otak besar
berfungsi sebagai pusat kegiatan-kegiatan yang disadari seperti berpikir, mengingat, berbicara,
melihat, mendengar, dan bergerak.
 Otak Kecil (Cerebellum)
Otak kecil terletak di bawah otak besar bagian belakang. Susunan otak kecil seperti otak besar.
Terdiri atas belahan kanan dan kiri. Belahan kanan dan kiri otak kecil dihubungkan
oleh jembatan Varol. Terbagi menjadi dua lapis sama seperti otak besar yaitu lapisan luar
berwarna kelabu dan lapisan dalam berwarna putih. Otak kecil berfungsi untuk mengatur
keseimbangan tubuh dan mengkoordinasi kerja otot-otot ketika kita bergerak.
 Sumsum lanjutan
Sumsum lanjutan (medula Oblongata) terbagi menjadi dua lapis, yaitu lapisan dalam yang
berwarna kelabu karena banyak mengandung badan sel-sel saraf dan lapisan luar berwarna putih
karena berisi neurit (akson). Sumsum lanjutan berfungsi sebagai pusat pengendali pernapasan,
menyempitkan pembuluh darah, mengatur denyut jantung, mengatur suhu tubuh dan kegiatan-
kegiatan lain yang tidak disadari.

2) Sumsum Tulang Belakang


Sumsum tulang belakang terdapat memanjang di dalam rongga tulang belakang, mulai dari ruas-
ruas tulang leher sampai ruas tulang pinggang ke dua. Sumsum tulang belakang juga dibungkus
oleh selaput
meninges. Bila diamati secara melintang, sumsum tulang belakang bagian luar tampak berwarna
putih (substansi alba) karena banyak mengandung akson (neurit) dan bagian dalam yang
berbentuk seperti kupu-kupu, berwarna kelabu (substansi grissea) karena banyak mengandung
badan sel-sel saraf.

Sumsum tulang belakang berfungsi untuk:


a) menghantarkan impuls dari dan ke otak,
b) memberi kemungkinan jalan terpendek gerak refleks.

b. Sistem Saraf Tepi


1) Sistem Saraf Somatis (Sadar)
Sistem saraf somatis disebut juga dengan sistem saraf sadar Proses yang dipengaruhi saraf sadar,
berarti kamu dapat memutuskan untuk menggerakkan atau tidak menggerakkan bagian-bagian
tubuh di bawah pengaruh sistem ini. Misalnya ketika kita mendengar bel rumah berbunyi, isyarat
dari telinga akan sampai ke otak. Otak menterjemahkan pesan tersebut dan mengirimkan isyarat
ke kaki untuk berjalan mendekati pintu dan mengisyaratkan ke tangan untuk membukakan pintu.
Sistem saraf somatis terdiri atas :
 Saraf otak (saraf cranial), saraf otak terdapat pada bagian kepala yang keluar dari otak dan
melewati lubang yang terdapat pada tulang tengkorak. Urat saraf ini berjumlah 12 pasang.
 Saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal), saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31
pasang Saraf sumsum tulang belakang berfungsi untuk meneruskan impuls dari reseptor ke
sistem saraf pusat juga meneruskan impuls dari sistem saraf pusat ke semua otot rangka tubuh.

2) Sistem Saraf Autonom (Tidak Sadar)


Sistem saraf autonom merupakan bagian dari susunan saraf tepi yang bekerjanya tidak dapat
disadari dan bekerja secara otomatis. Sistem saraf autonom mengendalikan kegiatan organ-organ
dalam seperti otot perut, pembuluh darah, jantung dan alat-alat reproduksi.
Menurut fungsinya, saraf autonom terdiri atas dua macam yaitu:
 Sistem saraf simpatik
 Sistem saraf parasimpatik

Sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik bekerja secara antagonis (berlawanan)
dalam mengendalikan kerja suatu organ. Organ atau kelenjar yang dikendalikan oleh sistem saraf
simpatik dan sistem saraf parasimpatik disebut sistem pengendalian ganda.

Fungsi dari sistem saraf simpatik adalah sebagai berikut :


• Mempercepat denyut jantung.
• Memperlebar pembuluh darah.
• Memperlebar bronkus.
• Mempertinggi tekanan darah
• Memperlambat gerak peristaltis.
• Memperlebar pupil.
• Menghambat sekresi empedu.
• Menurunkan sekresi ludah.
• Meningkatkan sekresi adrenalin.
Sistem saraf parasimpatik memiliki fungsi yang berkebalikan dengan fungsi sistem saraf
simpatik. Misalnya pada sistem saraf simpatik berfungsi mempercepat denyut jantung,
sedangkan pada sistem
saraf parasimpatik akan memperlambat denyut jantung.

B. Sistem Indera
Di bagian awal pokok bahasan ini sudah di singgung bahwa indra berperan sebagai reseptor,
yaitu bagian tubuh yang berfungsi sebagai penerima rangsangan. Ada lima macam indra yang
berfungsi sebagai penerima rangsangan yaitu:
1. Mata, sebagai penerima rangsang cahaya (fotoreseptor).
2. Telinga, sebagai penerima rangsang getaran bunyi (fonoreseptor) dan tempat beradanya indra
keseimbangan (statoreseptor).
3. Hidung, sebagai penerima rangsang bau berupa gas (kemoreseptor).
4. Lidah, sebagai penerima rangsang zat yang terlarut (kemoreseptor).
5. Kulit, sebagai penerima rangsang sentuhan (tangoreseptor) dan suhu (temperatur).
Tiap indra akan berfungsi dengan sempurna apabila:
 Indra tersebut secara anatomi tidak ada kelainan.
 Bagian untuk penerima rangsang bekerja dengan baik.
 Saraf - saraf yang membawa rangsang dari dan ke otak bekerja baik.
 Pusat pengolahan rangsang di otak bekerja baik.
Bila salah satu dari bagian tersebut rusak atau terganggu, maka hubungan dengan dunia luar akan
terganggu juga.

1. Mata

Mata berfungsi untuk menerima rangsang berupa cahaya, karena di dalamnya terdapat reseptor
penerima
cahaya yang disebut fotoreseptor. Mata terletak di dalam rongga mata yang dilindungi oleh
tulang - tulang tengkorak. Selain itu mata juga dilindungi oleh:
1. Kelopak mata, berupa kulit tipis yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu atau sentuhan
benda.
2. Bulu mata, untuk melindungi mata dari cahaya yang terlalu menyilaukan.
3. Alis, untuk melindungi mata dari aliran keringat dan air hujan.
4. Air mata yang dihasilkan oleh kelenjar air mata, untuk menjaga kelembapan mata dan
membersihkan mata dari debu dan bakteri.
Mata manusia berbentuk agak bulat dengan garis tengah kurang lebih 2,5 sentimeter. Mata
tersebut terdiri atas tiga lapisan jaringan yaitu:
a. Lapisan Sklera atau Selaput Putih
Merupakan lapisan paling luar, sangat kuat. Lapisan ini berwarna putih sehingga sering disebut
lapisan putih mata. Di bagian depan lapisan ini membentuk kornea yang bening, untuk menerima
cahaya masuk ke dalam mata. Kornea ini selalu basah oleh air mata yang dihasilkan oleh
kelenjar air mata.
b. Lapisan Koroid atau Selaput Hitam
Merupakan lapisan di bawah sklera dan lapisan tengah bola mata. Bagian ini banyak
mengandung melanin dan pembuluh darah. Berfungsi untuk menghentikan refleksi cahaya yang
menyimpang di dalam mata. Di bagian depan mata, koroid membentuk iris. Iris ini mengandung
pigmen hitam, biru, hijau atau coklat, sehingga dapat sebagai penentu warna mata. Di bagian
tengah iris terdapat pupil yang merupakan celah (bukaan), untuk mengatur intensitas cahaya
yang masuk mata. Di belakang iris terdapat lensa mata berbentuk cembung di kedua sisi yang
diikat oleh ligamen suspensori. Mencembung atau memipihnya lensa menyebabkan mata
berakomodasi.
c. Retina atau Selaput Pelangi
Retina adalah lapisan mata paling dalam. Pada lapisan ini terdapat bagian yang paling peka
terhadap cahaya yaitu bintik kuning (fovea). Selain itu pada retina juga terdapat bintik buta, yaitu
tempat keluarnya saraf mata. Pada retina tersusun kurang lebih 125 juta sel - sel batang (sel
basilus) yang mampu menerima rangsang cahaya tidak berwarna dan untuk melihat pada
keadaan cahaya redup. Selain sel batang, pada retina juga terdapat kurang lebih 7 juta sel kerucut
(sel konus) yang berfungsi menerima rangsang cahaya kuat dan berwarna. Sel kerucut lebih
banyak terdapat pada bagian bintik kuning (fovea centralis). Jadi bila ingin melihat suatu benda
dengan jelas, maka bayangan harus jatuh di bagian ini.
Di retina juga dijumpai daerah yang sama sekali tidak mengandung sel batang ataupun sel
kerucut. Bagian ini disebut bintik buta. Bila cahaya jatuh di daerah ini, kita tidak bisa melihat
apa - apa.
Suatu benda dapat di lihat oleh mata, bila benda tersebut memantulkan cahaya. Cahaya yang
dipantulkan oleh benda masuk ke mata melalui kornea dan diteruskan ke lensa melalui pupil.
Oleh lensa, cahaya tersebut dibiaskan dan difokuskan di retina sehingga membentuk bayangan
kecil dan terbalik pada retina. Tetapi oleh otak bayangan tersebut diartikan seperti gambar yang
kita lihat.

2. Telinga
Telinga merupakan tempat beradanya indra pendengaran dan keseimbangan. Telinga
manusia terdiri atas tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.
a. Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas:
1) Daun telinga, berfungsi untuk menampung atau mengumpulkan gelombang bunyi.
2) Liang telinga (saluran auditori), berfungsi untuk menyalurkan gelombang bunyi ke selaput
gendang telinga. Liang telinga panjangnya kurang lebih 2,5 sentimeter. Di sepanjang dinding
liang telinga terdapat rambut halus, kelenjar minyak dan kelenjar keringat, yang berfungsi
menghalangi debu dan air yang masuk.
3) Selaput gendang telinga (membran tymphani), yang membatasi telinga luar dan telinga tengah.
Berfungsi untuk menangkap getaran.
b. Telinga Tengah
Telinga bagian tengah terdiri atas:
1) Tulang - tulang pendengaran (osikel), yaitu berupa tiga tulang kecil yang bersambung dari
selaput gendang telinga menuju telinga dalam. Ketiga tulang tersebut adalah tulang martil
(malleus), yang letaknya paling luar berhubungan dengan selaput gendang telinga. Berikutnya
adalah tulang landasan (inkus) yang menghubungkan martil dan sanggurdi. Tulang paling dalam
adalah tulang sanggurdi (stapes), yang melekat dengan saluran rumah siput pada tingkap jorong.
2) Saluran Eustachius, yaitu saluran sempit yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian
belakang tenggorokan. Saluran ini terbuka saat kita mengunyah, menguap, bersin atau membuka
mulut. Fungsi saluran ini adalah untuk memasukkan udara ke rongga telinga tengah sehingga
tekanan udara di kedua gendang telinga sama dengan udara di luar tubuh.
c. Telinga Dalam
Telinga bagian dalam terdiri atas:
1) Tingkap jorong dan tingkap bulat, merupakan membran yang terdapat pada pangkal saluran
rumah siput (kokhlea). Tingkap jorong merupakan membran berbentuk oval yang berhubungan
dengan tulang sanggurdi. Sedangkan tingkap bundar merupakan membran berbentuk bundar/
bulat. Tingkap berfungsi untuk menyalurkan getaran ke telinga dalam dan tingkap bulat sebagai
penyeimbang getaran.
2) Saluran rumah siput (kokhlea), yaitu saluran berbentuk spiral menyerupai rumah siput. Di dalam
kokhlea ( di bagian tengah) terdapat organ corti, yang berisi ribuan "sel rambut" yang peka
terhadap getaran. Impuls yang timbul di dalam sel rambut tersebut diteruskan oleh saraf auditori
ke otak.
3) Tiga saluran setengah lingkaran (kanalis semi sirkularis), yaitu tiga buah saluran setengah
lingkaran yang satu dengan yang lain membentuk sudut 90°. Pada ujung setiap saluran terdapat
penebalan (menggelembung) yang disebut ampulla dan bergabung dengan utrikulus dan sakulus.

3. Hidung

Hidung manusia merupakan organ tempat beradanya reseptor pembau (khemoreseptor).


Maka dengan organ ini kita dapat mengetahui berbagai macam bau. Bahkan hanya dengan
mambau saja kita dapat mengetahui nama benda tanpa harus melihatnya. Sel - sel reseptor yang
berfungsi untuk menerima rangsangan zat kimia berupa uap terletak di rongga hidung bagian
atas. Daerah ini memiliki ukuran sekitar 250 mm2. Sel - sel reseptor ini mempunyai rambut -
rambut halus (silia) di ujungnya dan diliputi selaput lendir yang berfungsi sebagai pelembap.
Dari sel - sel reseptor ini rangsang dibawa oleh serabut saraf menuju pusat pembau di otak.
Kita dapat membau suatu zat karena zat yang berupa uap tersebut masuk ke rongga hidung
sewaktu kita menarik napas. Zat tersebut akan dilarutkan pada selaput lendir dan merangsang sel
- sel reseptor, kemudian dibawa oleh saraf pembau ke otak sehingga kita dapat mengetahui bau
tersebut.

4. Lidah
Lidah merupakan tempat beradanya indra pengecap (khemoreseptor). Zat yang dapat dikecap
adalah zat - zat kimia berupa larutan. Pada saat kita mengecap makanan, rasa yang timbul
sebenarnya adalah perpaduan antara rasa dan bau. Oleh karena itu indra pengecap erat kaitannya
dengan indra pembau. Lidah terbentuk oleh jaringan otot yang ditutupi oleh selaput lendir yang
selalu basah dan berwarna merah jambu. Di dalam mulut, permukaan lidah terasa halus dan licin.
Coba kalian perhatikan lidah kalian di cermin, maka akan tampak tonjolan - tonjolan kecil di
permukaan lidah. Tonjolan kecil itu disebut papila. Ada tiga jenis papila yang ada di permukaan
lidah yaitu:
1. Papila sirkumvalata, yang berbentuk cincin. Papila ini terdapat di pangkal lidah, berjajar
membentuk huruf V.
2. Papila fungiformis, yang berbentuk seperti jamur. Papila ini menyebar di permukaan ujung dan
sisi lidah.
3. Papila filiformis, yang berbentuk seperti rambut. Papila ini merupakan papila terbanyak. Papila
inilebih banyak berfungsi sebagai perasa sentuhan daripada pengecap.
Pada papila - papila inilah terdapat kuncup pengecap yang merupakan kumpulan ujung-ujung
saraf pengecap dan oleh serabut - serabut saraf dihubungkan dengan otak. Suatu zat dapat
dirasakan oleh lidah bila zat tersebut berupa larutan. Larutan tersebut kemudian memenuhi parit -
parit di sekitar papila - papila. Karena pada papila tersebut terdapat kuncup - kuncup pengecap,
maka zat yang mengisi parit tersebut merangsang kuncup pengecap. Rangsangan ini diteruskan
oleh serabut saraf menuju ke otak untuk diartikan. Kuncup - kuncup pengecap dapat
membedakan empat rasa pokok yaitu asam, pahit, manis dan asin. Namun terkadang kita juga
dapat merasakan lebih dari empat rasa tersebut. Hal ini terjadi karena melibatkan faktor - faktor
lain yaitu:
1. Kombinasi keempat rasa utama tersebut menghasilkan rasa baru.
2. Peranan reseptor - reseptor pencium, suhu dan sentuhan.
Keempat rasa tersebut di atas, dirasakan oleh kuncup - kuncup pengecap yang berbeda dan
kuncupkuncup tersebut berkumpul pada bagian tertentu di permukaan lidah. Namun tiap orang
mempunyai variasi keluasan daerah penyebaran rasa tersebut.

5. Kulit

Selain sebagai alat ekskresi, kulit juga berfungsi sebagai indra perasa dan peraba. Reseptor -
reseptor yang terdapat pada kulit adalah:
1. Korpus meissner, yang terletak di dekat permukaan kulit. Berfungsi untuk menerima rangsang
sentuhan/ rabaan. Reseptor ini tersebar tidak merata di permukaan kulit. Ujung jari memiliki
paling banyak reseptor peraba.
2. Korpus pacini, yang berfungsi menerima rangsang tekanan. Letaknya di bawah lapisan dermis.
3. Korpus ruffini, berfungsi untuk menerima rangsang panas. Letaknya di lapisan dermis.
4. Korpus krause, befungsi untuk menerima rangsang dingin. Letaknya di lapisan dermis.
5. Ujung saraf tanpa selaput, yang peka terhadap rasa sakit/ nyeri. Letaknya di lapisan epidermis.
Saraf ini sangat penting untuk keselamatan tubuh. Jika terjadi sesuatu yang tidak
menguntungkan, saraf ini cepat bereaksi, antara lain dengan adanya gerak refleks.

C. Kelainan dan Penyakit Pada Sistem Koordinasi dan Indera


Terdapat beberapa kelainan yang dapat terjadi pada sistem koordinasi dan panca indera,
antara lain sebagai berikut :
1. Meningitis
Meningitis adalah radang membran pelindung system syaraf pusat. Penyakit ini dapat
disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis
merupakan penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang sehingga dapat
menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian. Kebanyakan kasus meningitis
disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam
darah ke cairan otak.

2. Alzheimer
Alzheimer adalah jenis kepikunan yang mengerikan karena dapat melumpuhkan pikiran dan
kecerdasan seseorang. Keadaan ini ditunjukkan dengan kemunduran kecerdasan dan ingatan
secara perlahan sehingga mengganggu kegiatan sosial sehari-hari. Alzheimer timbul karena
adanya proses degenerasi sel-sel neuron otak. Menurut dr. Samino, SpS (K), Ketua Umum
Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzI), Alzheimer merupakan penyakit pembunuh otak karena
mematikan fungsi sel-sel otak.
Orang yang rentan terserang alzheimer ini adalah para lansia di atas 60 tahun, tetapi orang
dewasa muda juga tak tertutup kemungkinan bila memiliki faktor resiko keturunan. Bahkan,
menurut Samino, penderita demensia Alzheimer berusia 40 tahun pernah ditemukan di
Indonesia. Alzhemier dapat dicegah sejak dini dengan mengenali gejala-gejalanya. Berikut ini
adalah beberapa tanda atau gejala yang patut diwaspadai tentang kemungkinan hadirnya penyakit
alzhemier :
a) Kemunduran memori/daya ingat.
b) Sulit melaksanakan kegiatan/pekerjaan sederhana.
c) Kesulitan bicara dan berbahasa.
d) Sulit dalam berhitung.
e) Salah meletakkan benda.
f) Penampilan buruk karena lupa cara berpakaian atau berhias.
g) Perubahan emosi dan perilaku.
h) Gangguan berpikir abstrak atau kemampuan imajinasi penderita terganggu.
i) Hilang minat dan inisiatif, misalnya cenderung menjadi pendiam, tak mau bergaul, dan
menyendiri.
j) Tidak dapat membedakan berbagai jenis bau-bauan (kecuali sedang menderita flu).

3. Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik atau eksema adalah peradangan kronik kulit yang kering dan gatal. Pada
umumnya dimulai di awal masa kanak-kanak. Eksema dapat menyebabkan gatal yang tidak
tertahankan, peradangan, dan gangguan tidur. Eksema merupakan penyakit tidak menular.
Sebagian besar anak akan sembuh dari eksema sebelum usia 5 tahun. Sebagian kecil anak akan
terus mengalami eksema hingga dewasa. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, namun
penanganan yang tepat akan mencegah dampak negatif penyakit ini terhadap anak yang
mengalami eksema dan keluarganya.

4. Anosmia
Anosmia adalah hilangnya atau berkurangnya kemampuan untuk membaui, merupakan
kelainan yang paling sering ditemui. Penciuman dapat dipengaruhi oleh beberapa perubahan di
dalam hidung, di dalam saraf yang berasal dari hidung menuju ke otak atau di dalam otak.
Misalnya, jika rongga hidung tersumbat karena pilek, penciuman bisa berkurang karena bau
tidak sampai ke penerima bau. Kemampuan membaui akan mempengaruhi rasa sehingga pada
penderita pilek, rasa dari makanan terasa kurang enak.
Sel-sel penciuman kadang mengalami kerusakan sementara oleh virus flu. Beberapa penderita
tidak dapat membaui atau merasa dengan baik setelah mengalami flu. Kadang, hilangnya
penciuman atau pengecapan berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan bersifat menetap.

5. Otitis
Radang telinga atau otitis adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,
tuba eustachius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dan rongga mulut), antrum
mastoid, dan sel-sel mastoid. Sebagian besar anak-anak pernah mengalami radang telinga dan
tidak sedikit yang mengalami gangguan pendengaran akibat penanganan yang terlambat. Bila
terjadi proses radang pada telinga tengah, tentu akan terjadi gangguan dalam penghantaran
bunyi/suara ke telinga dalam. Akibatnya, kamu seperti menjadi tuli. Penyebab terjadinya radang
pada telinga tengah, antara lain:
a) Perubahan tekanan udara yang tiba-tiba.
b) Alergi.
c) Infeksi.
d) Sumbatan pada telinga.

6. Tuli
Tuli merupakan gangguan pendengaran karena kerusakan saraf pendengaran, infeksi bakteri,
atau jamur. Tuli merupakan gejala utama radang telinga (otitis). Gendang telinga terlihat utuh,
namun tertarik/retraksi, suram, kuning kemerahan, atau keabu-abuan. Penderita tuli tidak dapat
mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh orang lain. Akibatnya, ketika berkomunikasi
dengan temannya yang lain, terkadang tidak
nyambung. Dalam kondisi yang sudah parah, penderita tuli tidak dapat mendengar sama sekali
apa yang diucapkan oleh orang lain.
Penderita tuli akan sulit bersosialisasi dengan orang lain. Oleh karena itu, penderita tuli dapat
dibantu dengan alat bantu pendengaran. Alat ini biasanya dipasang di telinga bagian luar.
Dengan alat ini, penderita tuli dapat mendengar dengan jelas.

7. Buta Warna
Istilah buta warna dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan
ketidakmampuan sel-sel kerucut pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna
tertentu sehingga warna objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya. Penyebab buta
warna adalah faktor keturunan, gangguan terjadi biasanya pada kedua mata, namun tidak
memburuk. Penyebab lainnya adalah kelainan yang didapat selama kehidupannya, misalnya
kecelakaan/trauma pada mata, umumnya kelainan hanya terjadi pada salah satu mata saja dan
bisa mengalami penurunan fungsi seiring berjalannya waktu.

8. Katarak
Katarak adalah perubahan lensa mata yang tadinya bening dan tembus cahaya menjadi keruh
sehingga menyebabkan gangguan pada penglihatan. Pada umumnya, katarak merupakan proses
penuaan pada mata. Paparan sinar ultraviolet jangka panjang, penggunaan obat-obatan dan
penyakit tertentu, misalnya diabetes, juga dapat mempercepat timbulnya katarak. Katarak juga
dapat merupakan bawaan lahir, artinya semenjak dilahirkan sudah menderita katarak.
Beberapa gejala umum katarak, antara lain:
a) Pandangan menjadi kabur atau ukuran kacamata yang sering berubah.
b) Warna-warna tampak kusam.
c) Susah melihat di tempat yang terang akibat silau.
d) Kesulitan saat membaca atau mengemudi di malam hari.
Penderita katarak dapat dibantu dengan menggunakan kacamata yang sesuai. Akan tetapi, jika
penglihatan penderita katarak tidak dapat diperbaiki dengan kacamata,
harus dilakukan operasi katarak. Operasi katarak dapat dilakukan oleh dokter mata.

9. Hipermetropi
Hipermetropi (rabun dekat) adalah suatu keadaan dimana lensa mata tidak dapat menyembung
atau bola mata terlalu pendek sehingga bayangan benda jatuh di belakang retina. Penderita
hipermetropi akan merasa tidak jelas pada saat melihat benda dari jarak dekat, meskipun untuk
jarak jauh masih lumayan jelas. Keadaan ini akan diperparah lagi jika sudah menginjak usia tua.
Kesulitan yang hebat akan dialami saat melihat dari jarak dekat atau membaca.
Penderita hipermetropi dapat ditolong dengan lensa cembung atau positif. Dengan
menggunakan kacamata yang berlensa cembung, penglihatan penderita hipermetropi menjadi
normal kembali.

10. Miopi
Miopi (rabun jauh) adalah suatu keadaan dimana lensa mata terlalu cembung atau bola mata
terlalu panjang sehingga bayangan mata jatuh di depan retina. Miopi biasanya terjadi pada anak-
anak remaja usia 8 sampai 14 tahun. Faktor yang menyebabkannya adalah keturunan, membaca
sambil tiduran, menonton televisi dari jarak yang terlalu dekat, atau menggunakan komputer
terlalu lama.
Penderita rabun jauh dapat ditolong dengan lensa cekung atau negatif. Dengan menggunakan
kacamata yang berlensa cekung, penderita miopi dapat melihat dengan jelas dan normal.

11. Presbiopi
Presbiopi adalah hilangnya kemampuan mata untuk melakukan akomodasi karena umur.
Karenanya, presbiopi disebut juga sebagai mata tua. Pada umumnya, penderita presbiopi
berumur di atas 60 tahun. Gejala yang Nampak biasanya dimulai dengan hilangnya kemampuan
membaca pada jarak normal, namun tidak mempengaruhi penglihatan jarak jauhnya. Hilangnya
daya akomodasi mata akibat menurunnya kemampuan mata untuk mengubah bentuk lensa mata.
Salah satu cara untuk mengatasi presbiopi adalah dengan menggunakan kacamata fokus ganda
(bifokal). Bagian bawah lensa mata memiliki kuat lensa yang lebih besar dibandingkan bagian
atas karena pada saat melihat benda dekat diperlukan kuat lensa yang lebih besar.

12. Astigmatisme
Astigmatisme adalah suatu keadaan dimana permukaan lensa mata tidak sama sehingga fokus
dan bayangan yang terbentuk tidak sama. Kelainan ini dapat ditolong dengan lensa silindris.
Sistem Saraf (Koordinasi) pada Manusia
Tubuh manusia terdiri atas organ-organ tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi
tertentu. Agar organ-organ tubuh dapat bekerja sama dengan baik, diperlukan
adanya koordinasi (pengaturan). Pada manusia dan sebagian besar hewan, koordinasi
dilakukan oleh sistem saraf, sistem indra, dan sistem hormon. Dalam bab ini hanya akan
dibahas tentang sistem saraf .

Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas adalah kemampuan
menanggapi rangsangan. Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus
dimiliki oleh sistem saraf, yaitu:

a. Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang
bertindak sebagai reseptor adalah organ indera.
b. Konduktor (Penghantar impuls), dilakukan oleh sistem saraf itu sendiri. Sistem saraf
terdiri dari sel-sel saraf yang disebutneuron.
c. Efektor, adalah bagian tubuh yang menanggapi rangsangan. Efektor yang paling
penting pada manusia adalah otot dan kelenjar (hormon). Otot menanggapi rangsang
yang berupa gerakan tubuh, sedangkan hormon menaggapi rangsang dengan
meningkatkan/menurunkan aktivitas organ tubuh tertentu. Misalnya :
mempercepat/memperlambat denyut jantung, melebarkan/menyempitkan pembuluh darah
dan lain sebagainya.

1. Sel Saraf (Neuron)


Sistem saraf tersusun oleh sel-sel saraf atau neuron. Neuron inilah yang berperan dalam
menghantarkan impuls (rangsangan). Sebuah sel saraf terdiri tiga bagian utama
yaitu badan sel, dendrit dan neurit (akson).

a. Badan sel
Badan sel saraf merupakan bagian yang paling besar dari sel saraf. Badan sel berfungsi
untuk menerima rangsangan dari dendrit dan meneruskannya ke akson. Badan sel saraf
mengandung inti sel dan sitoplasma. Inti sel berfungsi sebagai pengatur kegiatan sel saraf
(neuron). Di dalam sitoplasma terdapat
mitokondria yang berfungsi sebagai penyedia energi untuk membawa rangsangan.

b. Dendrit
Dendrit adalah serabut sel saraf pendek dan bercabang-cabang. Dendrit merupakan
perluasan dari badan sel. Dendrit berfungsi untuk menerima dan mengantarkan
rangsangan ke badan sel.

c. Neurit (akson)
Neurit berfungsi untuk membawa rangsangan dari badan sel ke sel saraf lain. Neurit
dibungkus oleh selubung lemak yang disebut selubung myelin yang terdiri atas perluasan
membran sel Schwann. Selubung ini berfungsi untuk isolator dan pemberi makan sel
saraf. Bagian neurit ada yang tidak dibungkus oleh selubung mielin. Bagian ini disebut
dengan nodus ranvier dan berfungsi mempercepat jalannya rangsangan.

Antara neuron satu dengan neuron satu dengan neuron berikutnya tidak bersambungan
secara langsung tetapi membentuk celah yang sangat sempit. Celah antara ujung neurit
suatu neuron dengan dendrit neuron lain tersebut dinamakan sinapsis. Pada bagian
sinapsis inilah suatu zat kimia yang disebut neurotransmiter (misalnya asetilkolin)
menyeberang untuk membawa impuls dari ujung neurit suatu neuron ke dendrit neuron
berikutnya.

2. Macam-macam Neuron (Sel Saraf)


a. Saraf sensorik
saraf sensorik adalah saraf yang membawa rangsangan (impuls) dari reseptor (indra) ke
saraf pusat(otak dan sumsum tulang belakang).
b. Saraf motorik
saraf motorik adalah saraf yang membawa rangsangan (impuls) dari saraf pusat susunan
saraf ke efektor (otot dan kelenjar).
c. Saraf konektor
saraf konektor adalah saraf yang menghubungkan rangsangan (impuls) dari saraf sensorik
ke saraf motorik.

3. Macam-macam Gerak
Gerakan merupakan salah satu cara tubuh dalam mengagapi rangsangan. Berdasarkan
jalannya rangsangan (impuls) gerakan dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Gerak sadar
Gerak sadar atau gerak biasa adalah gerak yang terjadi karena disengaja atau disadari.
Pada gerak sadar ini, gerakan tubuh dikoordinasi oleh otak. Rangsangan yang diterima
oleh reseptor (indra) disampaikan ke otak melalui neuron sensorik. Di otak rangsangan
tadi diartikan dan diputuskan apa yang akan dilakukan. Kemudian otak mengirimkan
perintah ke efektor melalui neuron motorik. Otot (efektor) bergerak melaksanakan
perintah otak. Contoh gerak sadar misalnya : menulis, membuka payung, mengambil
makanan atau berjalan.
Skema gerak sadar :

Rangsangan(Impuls) --> Reseptor(Indra) --> Saraf sensorik

--> Otak --> Saraf motorik --> Efektor (Otot)

b. Gerak Refleks (Tak Sadar)


Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Impuls yang
menyebabkan gerakan ini tidak melewati otak namun hanya sampai sumsum tulang
belakang. Gerak refleks misalnya terjadi saat kita mengangkat kaki karena menginjak
benda runcing, gerakan tangan saat tidak sengaja menjatuhkan buku, gerakan saat
menghindari tabrakan dan lain sebagainya.
Skema gerak refleks :

Rangsangan(Impuls) --> Reseptor(Indra) --> Saraf sensorik

--> Sumsum Tulang Belakang --> Saraf motorik --> Efektor (Otot)

4. Susunan Sistem Saraf Manusia


Di dalam tubuh kita terdapat miliaran sel saraf yang membentuk sistem saraf. Sistem
saraf manusia tersusun dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat
terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang. Sedangkan sistem saraf tepi terdiri atas
sistem saraf somatis dan sistem saraf otonom.
A. Sistem saraf pusat
1) Otak
Otak merupakan pusat pengatur dari segala kegiatan manusia. Otak terletak di rongga
tengkorak dan
dibungkus oleh tiga lapis selaput kuat yang disebut meninges. Selaput paling luar disebut
duramater, paling dalam adalah piamater dan yang tengah disebut arachnoid. Di antara
ketiga selaput tersebut terdapat cairan serebrospinal yang berfungsi untuk mengurangi
benturan atau goncangan. Peradangan
yang terjadi pada selaput ini dinamakan meningitis. Penyebabnya bisa karena infeksi
virus. Otak manusia terbagi menjadi tiga bagian yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil
(cerebellum) dan sumsum lanjutan.

a) Otak besar (cerebrum)


Otak besar memiliki permukaan yang berlipat-lipat dan terbagi atas dua belahan. Belahan
otak kiri melayani tubuh sebelah kanan dan belahan otak kanan melayani tubuh sebelah
kiri. Otak besar terdiri atas dua lapisan. Lapisan luar berwarna kelabu disebut korteks,
berisi badan-badan sel saraf. Lapisan dalam berwarna putih berisi serabut-serabut saraf
(neurit/akson). Otak besar berfungsi sebagai pusat kegiatan-kegiatan yang
disadari seperti berpikir, mengingat, berbicara, melihat, mendengar, dan bergerak.

b) Otak Kecil (Cerebellum)


Otak kecil terletak di bawah otak besar bagian belakang. Susunan otak kecil seperti otak
besar. Terdiri atas belahan kanan dan kiri. Belahan kanan dan kiri otak kecil dihubungkan
oleh jembatan Varol. Terbagi menjadi dua lapis sama seperti otak besar yaitu lapisan luar
berwarna kelabu dan lapisan dalam berwarna putih. Otak kecil berfungsi untuk mengatur
keseimbangan tubuh dan mengkoordinasi kerja otot-otot ketika kita bergerak.

c) Sumsum lanjutan
Sumsum lanjutan (medula Oblongata) terbagi menjadi dua lapis, yaitu lapisan dalam
yang berwarna kelabu karena banyak mengandung badan sel-sel saraf dan lapisan luar
berwarna putih karena berisi neurit (akson). Sumsum lanjutan berfungsi sebagai pusat
pengendali pernapasan, menyempitkan pembuluh darah, mengatur denyut jantung,
mengatur suhu tubuh dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak disadari.

2). Sumsum tulang belakang (medulla spinalis)


Sumsum tulang belakang terdapat memanjang di dalam rongga tulang belakang, mulai
dari ruas-ruas tulang leher sampai ruas tulang pinggang ke dua. Sumsum tulang belakang
juga dibungkus oleh selaput
meninges. Bila diamati secara melintang, sumsum tulang belakang bagian luar tampak
berwarna putih (substansi alba) karena banyak mengandung akson (neurit) dan bagian
dalam yang berbentuk seperti kupu-kupu, berwarna kelabu (substansi grissea) karena
banyak mengandung badan sel-sel saraf.

Sumsum tulang belakang berfungsi untuk:


a) menghantarkan impuls dari dan ke otak,
b) memberi kemungkinan jalan terpendek gerak refleks.

B. Sistem saraf tepi


1) Sistem saraf somatis
Sistem saraf somatis disebut juga dengan sistem saraf sadar Proses yang dipengaruhi
saraf sadar, berarti kamu dapat memutuskan untuk menggerakkan atau tidak
menggerakkan bagian-bagian tubuh di bawah pengaruh sistem ini. Misalnya ketika kita
mendengar bel rumah berbunyi, isyarat dari telinga akan sampai ke otak. Otak
menterjemahkan pesan tersebut dan mengirimkan isyarat ke kaki untuk berjalan
mendekati pintu dan mengisyaratkan ke tangan untuk membukakan pintu.
Sistem saraf somatis terdiri atas :
a. Saraf otak (saraf cranial), saraf otak terdapat pada bagian kepala yang keluar dari
otak dan melewati lubang yang terdapat pada tulang tengkorak. Urat saraf ini berjumlah
12 pasang.
b. Saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal), saraf sumsum tulang belakang
berjumlah 31 pasang . Saraf sumsum tulang belakang berfungsi untuk meneruskan impuls
dari reseptor ke sistem saraf pusat juga meneruskan impuls dari sistem saraf pusat ke
semua otot rangka tubuh.

2) Sistem saraf autonom (tak sadar)


Sistem saraf autonom merupakan bagian dari susunan saraf tepi yang bekerjanya tidak
dapat disadari dan bekerja secara otomatis. Sistem saraf autonom mengendalikan
kegiatan organ-organ dalam seperti otot perut, pembuluh darah, jantung dan alat-alat
reproduksi.
Menurut fungsinya, saraf autonom terdiri atas dua macam yaitu:
a. Sistem saraf simpatik
b. Sistem saraf parasimpatik

Sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik bekerja secara antagonis
(berlawanan) dalam mengendalikan kerja suatu organ. Organ atau kelenjar yang
dikendalikan oleh sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik disebut sistem
pengendalian ganda.

Fungsi dari sistem saraf simpatik adalah sebagai berikut :


• Mempercepat denyut jantung.
• Memperlebar pembuluh darah.
• Memperlebar bronkus.
• Mempertinggi tekanan darah
• Memperlambat gerak peristaltis.
• Memperlebar pupil.
• Menghambat sekresi empedu.
• Menurunkan sekresi ludah.
• Meningkatkan sekresi adrenalin.

Sistem saraf parasimpatik memiliki fungsi yang berkebalikan dengan fungsi sistem saraf
simpatik. Misalnya pada sistem saraf simpatik berfungsi mempercepat denyut jantung,
sedangkan pada sistem
saraf parasimpatik akan memperlambat denyut jantung.