Anda di halaman 1dari 4

Bagaimana hubungan antara sanitasi lingkungan dan mayoritas penduduk yang bekerja

sebagai petani sawit?

Apa kriteria dan syarat-syarat puskesmas bisa di akreditasi?

9 Bab standar akreditasi puskesmas:

Bab I. Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP) dengan 59 EP

Bab II. Kepemimpinan dan Manajemen Puskesmas (KMP) dengan 121 EP

Bab III. Peningkatan Mutu dan Manajemen Risiko (PMMR) dengan 32 EP

Bab IV. Program Puskesmas yang Berorientasi Sasaran (PPBS) dengan 53 EP

Bab V. Kepemimpinan dan Manajemen Program Puskesmas (KMPP) dengan 101 EP

Bab VI. Sasaran Kinerja dan MDG’s (SKM) dengan 55 EP

Bab VII. Layanan Klinis yang Berorientasi Pasien (LKBP) dengan 151 EP

Bab VIII. Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK) dengan 172 EP

Bab IX. Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP) dengan 58 EP

Mekanisme Penilaian Akreditasi Fasyankes Primer


Bagaimana cara penyelidikan epidemiologi terhadap kejadian DBD?

Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan penyelidikan epidemiologi DBD di Puskesmas, sebagai


berikut:
1. Setelah menemukan/menerima laporan adanya penderita DBD, petugas
Puskesmas/Koordinator DBD segera mencatat dalam Buku Catatan Harian.
2. Menyiapkan peralatan survei seperti tensimeter, senter, formulir PE, dan surat tugas.
3. Memberitahukan kepada Lurah/Kades dan Ketua RW/RT setempat bahwa di
wilayahnya ada tersangka/penderita DBD dan akan dilaksanakan PE.
4. Pelaksanaan PE sebagai berikut :
a) Petugas Puskesmas memperkenalkan diri dan selanjutnya melakukan wawancara
dengan keluarga, untuk mengetahui ada tidaknya penderita infeksi dengue lainnya
(sudah ada konfirmasi dari RS atau unit yankes lainnya), dan penderita demam saat
itu dalam kurun waktu 1 minggu sebelumnya.
b) Bila ditemukan penderita demam tanpa sebab yang jelas, dilakukan pemeriksaan kulit
(petekie), dan uji torniquet untuk mencari kemungkinan adanya suspek infeksi
dengue.
c) Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA) dan tempat-
tempat lain yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk aedes baik di
dalam maupun di luar rumah/bangunan.
d) Kegiatan PE dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi tempat tinggal penderita.
e) Bila penderita adalah siswa sekolah dan pekerja, maka selain dilakukan di rumah
penderita tersebut, PE juga dilakukan di sekolah/tempat kerja penderita.
f) Hasil pemeriksaan adanya penderita infeksi dengue lainnya dan hasil pemeriksaan
terhadap penderita suspek infeksi dengue dan pemeriksaan jentik dicatat dalam
formulir PE (Lampiran 1).
g) Hasil PE segera dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang
(Lampiran 2), untuk tindak lanjut lapangan dikoordinasikan dengan Kades/Lurah
setempat (Lampiran 3).
h) Bila hasil PE positif (Ditemukan 1 atau lebih penderita infeksi dengue lainnya
dan/atau >3 penderita suspek infeksi dengue, dan ditemukan jentik (>5%), dilakukan
penanggulangan fokus (fogging fokus, penyuluhan PSN 3M Plus dan larvasida
selektif, sedangkan bila negatif dilakukan PSN 3M Plus, larvasida selektif dan
penyuluhan.

Sumber : Buku Pedoman Penanggulangan DBD di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI, 2013.

Bagaimana prosedur surveilance pada puskesmas?

Prinsip umum survelian epidemiologi adalah sebagai berikut (Eko Budiarto, 2003) :
a. Pengumpulan data Pencatatan insidensi terhadap population at risk.
Pencatatan insidensi berdasarkan laporan rumah sakit, puskesmas, dan sarana
pelayanan kesehatan lain, laporan petugas surveilans di lapangan, laporan
masyarakat, dan petugas kesehatan lain; Survei khusus; dan pencatatan jumlah
populasi berisiko terhadap penyakit yang sedang diamati. Tehnik pengumpulan
data dapat dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan. Tujuan
pengumpulan data adalah menentukan kelompok high risk; Menentukan jenis
dan karakteristik (penyebabnya); Menentukan reservoir; Transmisi; Pencatatan
kejadian penyakit; dan KLB.
b. Pengelolaan data
Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk data mentah (row data) yang
masih perlu disusun sedemikian rupa sehingga mudah dianalisis. Data yang
terkumpul dapat diolah dalam bentuk tabel, bentuk grafik maupun bentuk peta
atau bentuk lainnya. Kompilasi data tersebut harus dapat memberikan
keterangan yang berarti.
c. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan
Data yang telah disusun dan dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan dilakukan
interpretasi untuk memberikan arti dan memberikan kejelasan tentang situasi
yang ada dalam masyarakat.
d. Penyebarluasan data dan keterangan termasuk umpan balik
Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki keterangan yang
cukup jelas dan sudah disimpulkan dalam suatu kesimpulan, selanjutnya dapat
disebarluaskan kepada semua pihak yang berkepentingan, agar informasi ini
dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya.
e. Evaluasi
Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat digunakan
untuk perencanaan, penanggulangan khusus serta program pelaksanaannya,
untuk kegiatan tindak lanjut (follow up), untuk melakukan koreksi dan
perbaikan-perbaikan program dan pelaksanaan program, serta untuk
kepentingan evaluasi maupun penilaian hasil kegiatan.
Apa saja program program kegiatan prevensi terhadap kejadian DBD? ( 5 level of
prevention)

Periode prepatogenesis Periode patogenesis


(Primer) Sekunder Tersier
Health Spesific Early diagnosis & Disability limitation Rehabilitation
promotion protection prompt treatment
Sosialisasi Pemberian Pemeriksaan Pemberian terapi IVIG
ANC rutin imunisasi ANC (Antenatal pada ibu hamil dengan
care) rutin herpes simpleks
Sosialisasi Pemberian alat Deteksi dini Perawatan penderita Rehabilitasi
lingkungan pelindung diri gangguan saluran dengan gangguan
pada
kerja sehat pada pekerja pernapasan. saluran pernapasan
pabrik. penderita
Pengendalian
penyakit
sanitasi dari
kebun karet akibat kerja
Pemberian Deteksi dini Perawatan anak Rehabilitasi
nutrisi adekuat stunting dengan stunting dengan catch-
kemampuan
dan ASI menggiatkan up.
eksklusif Posyandu motorik dan
kognitif anak
stunting