Anda di halaman 1dari 13

Hak dan Kewajiban Insinyur

Oleh :
Diana Novita 1631410003
Habibah Jahro Tsamarah 1631410035
Indah Tri Wahyuni 1631410097
Muhammad Afif Nugroho 1631410067

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2019
Hak dan Kewajiban Insinyur

Insinyur adalah seseorang yang dalam melaksanakan profesinya


menggunakan pengetahuan matematika dan pengetahuan alam, yang diperoleh dari
pendidikan, pengalaman dan pelatihan, untuk secara ekonomis mengubah dan
mengembangkan suatu bahan, energi dan berbagai sumber daya yang berasal dari
alam, menjadi produk lain demi kepentingan kesejahteraan, kenyamanan, kesehatan
dan keselamatan umat manusia. Sedangkan, menurut Wikipedia (2019) insinyur
adalah orang yang berprofesi dalam bidang keteknikan, dengan kata lain insinyur
adalah orang-orang yang menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menyelesaikan
masalah praktis menggunakan teknologi.

Ada banyak hak dan tanggung jawab yang harus dilatih para insinyur
dalam karir profesionalnya. Namun, seringkali hak dan tanggung jawab ini
bertumpang tindih. Kode etik organisasi professional, terkdang menguraikan
tanggung jawab kita sebagai insinyur dengan sangat mendetail. Insinyur juga
mempunyai hak yang berjalan seiring dengan tanggungjawabnya. Tidak semua hak
timbul akibat status profesional dalam bidang engineering. Ada hak-hak individual
yang tidak memperhatikan status profesional, seperti hak privasi, hak untuk
berpartisipasi dalam kegiatan di luar pekerjaan, hak untuk secara rasional
mengajukan keberatan atas kebijakan perusahaan tanpa merasa takut akan
hukuman, dan hak untuk melakukan protes. Insinyur mempunyai tugas untuk
melindungi kepentingan umum, dengan mengungkapkan rahasia perusahaan
tempat ia bekerja jika perlu ketika ia menyadari sesuatu yang salah sedang terjadi
dalam perusahaannya. Insinyur mempunyai hak untuk melakukan hal ini jika pihak
yang memperkerjakannya merasa hal itu buruk bagi perusahaannya.

Tanggung Jawab Profesional

1. Informasi Pribadi dan Rahasia

Karakteristik sebuah profesi adalah persyaratan bahwa profesional harus


menjaga informasi tertentu tentang rahasia atau kepentingan klien. Beberapa
informasi enjiniring harus dijaga kerahasiaannya sebab kebanyakan informasi
tentang bagaimana suatu bisnis dijalankan, produk dan pemasoknya, langsung
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk bersaing di pasar.

Tipe informasi yang harus dijaga kerahasiaannya sangat jelas, termasuk


hasil dan data pengujian, informasi tentang produk masa depan yang belum
diluncurkan, dan rancangan (formula produk), atau rahasia klien. Informasi lain
yang perlu dirahasiakan tidak sejelas itu, termasuk informasi bisnis seperti jumlah
karyawan yang mengerjakan suatu proyek, identitas pemasok, strategi pemasaran,
biaya produksi,dan pencapaian produksi. Seringkali, komunikasi internal
perusahaan dianggap “rahasia”. Sedangkan insinyur yang bekerja untuk pemerintah
memiliki kewajiban yang jauh lebih berat dalam menjaga kerahasiaan dan
memerlukan ijin keamanan yang dikeluarkan pemerintah melalui investigasi oleh
agen keamanan pemerintah sebelum diperbolehkan bekerja.

Seharusnya, seorang insinyur diwajibkan untuk tetap merahasiakan


informasi, bahkan setelah pindah ke perusahaan baru di bidang sama. Walaupun di
dalam prakteknya, hal ini sulit dilakukan karena seorang insinyur membawa semua
pengetahuan yang mungkin dianggap rahasia oleh perusahaan
terdahulu. Pengadilan sudah mempertimbangkan isu ini dan telah berusaha
mencari keseimbangan antara kepentingan dan hak dari individu dan perusahaan
saling bersaing. Perusahaan berhak merahasiakan informasinya dari pesaing-
pesaingnya. Beban untuk menjamin kedua kepentingan yang bersaing ini diakui
dan dipertahankan terletak di pundak para insinyur.

2. Konflik Kepentingan

Konflik kepentingan timbul ketika sebuah keinginan, jika diikuti, dapat


membuat seorang profesional tidak memenuhi salah satu kewajibannya (Martin dan
Schinzinger). Ada 3 jenis konflik kepentinga yaitu sebagai berikut.

a. Konflik kepentigan aktual yang mengkompromikan penilaian


engineering dan objektif..
b. Konflik kepentingan potensial yang mudah berubah menjadi konflik
kepentingan aktual.
c. Konflik kepentingan yang muncul karena suatu situasi, di mana bila
insinyur dibayar berdasarkan persentase biaya desain.

Cara yang baik untuk menghindari konflik kepentingan yaitu dengan


mengikuti petunjuk kebijakan perusahaan. Jika tidak ada, kebijakan seperti ini,
maka, dapat dilakukan dengan meminta pendapat dari asisten atau manajer. Jika
kedua pilihan ini tidak ada, maka tindakan terbaiknya yaitu dengan mempelajari
motif dan menggunakan teknik penyelesaian etika. Akhirnya, kita dapat melihat
pernyataan-pernyataan dalam kode etik profesional yang semuanya malarang
konflik kepentingan.

3. Etika Lingkungan

Insinyur bertanggung jawab atas terciptanya teknologi yang menyebabkan


kerusakan lingkungan dan insinyur juga harus berusaha menemukan solusi terhadap
masalah yang ditimbulkan oleh teknologi modern. Pergerakan perlindungan
lingkungan membangkitkan kesadaran di antara para insinyur bahwa mereka
mempunyai tugas untuk menggunakan pengetahuan dan keahlian mereka untuk
membantu melindungi lingkungan.

Hal yang mendasar dalam membicarakan isu-isu etika dalam teori


lingkungan adalah suatu kesimpulan tentang status moral lingkungan. Salah satu
cara untu mengeksplorasi status moral lingkungan adalah mencoba menjawab
beberapa pernyataan tentang tempat manusia dalam lingkungan kita. Salah satu
bentuknya status moral lingkungan yaitu pandangan yang menyatakan bahwa
manusia hanyalah salah satu komponen lingkungan dan semua komponen memliki
status moral yang sama. Oleh karena itu, tugas terpenting yang harus dilakukan
semua orang adalah melakukan apapun yang diperlukan untuk mempertahankan
biosfer yang sehat demi kepentingannya sendiri.

Tanpa memperhatikan tujuan, terdapat berbagai pendekatan yang dapat


diambil untuk menyelesaikan masalah lingkungan. Pendekatan-pendekatan ini
meniru pendekatan yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah lingkungan.
Pendekatan pertama kadang-kadang disebut sebagai pendekatan tak sadar
biaya (Martin dan Schinzinger) di mana biaya tidak diperhitungkan, tetapi
lingkungan harus dibuat sebersih mungkin dan degradasi lingkungan dalam tingkat
apapun tidak diterima. Pendekatan ini sulit dilakukan,terutama dalam masyarakat
urban modern.

Pendekatan kedua didasarkan pada analisis biaya-manfaat, yang


diturunkan dari utilitarianisme, di mana masalah dianalisis menyangkut masalah
yag didapat dari pengurangan polusi-peningkatan kesehatan manusia. Biaya dan
manfaat ditimbang untuk menentukan kombinasi optimum. Tujuan pendekatan ini
adalah untuk mencapai keseimbangan manfaat polusi secara ekonomi dengan
kesehatan atau pertimbangan lingkungan.

Terdapat beberapa masalah yang berhubungan dengan pendekatan biaya-


manfaat yakni asumsi implisit dalam analisis biaya-manfaat, sulit untuk menilai
biaya dan manfaat secara akurat, dan tidak benar-benar memperhitungkan siapa
yang mengeluarkan biaya dan siapa yang menerima manfaat.

Kode etik profesional memberi tahu kita untuk mengutamakan


keselamatan masyarakat dan lingkungan. Jadi, jelas bahwa insinyur mempunyai
tanggung jawab untuk menjamin bahwa pekerjaan mereka sebisa mungkin
dilakukan dengan cara yang paling aman bagi lingkungan. Sebagai profesional,
insinyur mempunyai hak untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang isu-isu
moral seperti isu lingkungan. Seorang insinyur tidak boleh dipakasa perusahaannya
untuk mengerjakan proyek yang menurutnya mempunyai masalah etika, termasuk
yang berdampak buruk pada lingkungan.

Prinsip dasar kode etik enjiniring profesional menyatakan bahwa seorang


insinyur tidak boleh membuat keputusan dalam bidang yang bukan merupakan
keahliannya. Insinyur seharusnya meminta nasehat dari orang lain yang memiliki
pengetahuan untuk mambantu menganalisis dan memahami konsekuensi
lingkungan dari suatu proyek yang mungkin terjadi.
Hak-Hak Profesional

Insinyur juga mempunyai hak berjalan seiring dengan tanggung


jawabnya. Ada hak-hak individual yang tidak memperhatikan status profesional,
termasuk hak privasi, hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan di luar pekerjaan,
hak untuk secara rasional mengajukan keberatan atas kebijakan perusahaan tanpa
merasa takut akan hukuman, dan hak untuk melakukan protes.

Hak insinyur yang paling mendasar adalah hak kesadaran moral


profesional (Martin dan Schinzinger). Hak ini mencakup hak untuk melakukan
penilaian ini dengan cara beretika. Hak kesadaran moral profesional bisa memiliki
banyak aspek. Aspek ini mungkin disebut sebagai “Hak Penolakan Berdasarkan
Moral” (Martin dan Schinzinger). Hak ini merupakan hak untuk menolak untuk
terlibat dalam perilaku tidak etis.

 Insinyur dan Industri Pertahanan Keamanan (Hankam)

Salah satu perysahaan yang paling banyak memperkerjakan insinyur di


seluruh dunia adalah industri hankam. Karena pada dasarnya, senjata dirancang
untuk satu tujuan- untuk membunuh manusia-penting untuk melihat pekerjaan ini
dalam konteks enjiniring dan hak insinyur.

Seorang insinyur dapat memilih untuk bekerja atau tidak bekerja dalam
industri yang berhubungan dengan pertahanan keamanan secara etis membuktikan
dirinya dalam kedua posisi tersebut. Di satu pihak, banyak profesional enjiniring
yang rasional merasa bahwa secara etika, mereka tidak dapat merancang sesuatu
yang pada akhirnya akan digunakan untuk membunuh manusia walaupun mereka
tidak terlibat secara langsung dalam penggunaan senjata tersebut. Sedangkan di lain
pihak, insinyur memiliki tanggung jawab moral yang sama merasa jenis pekerjaan
ini dapat diterma secara etika karena mereka beralasan bahwa mempertahankan
negara adalah salah satu fungsi resmi pemerintah merupakan kehormatan bagi
insinyur yang berkontribusi di dalamnya.

Mengingat isu-isu di sekitar pekerjaan ini, maka kita dapat menyelesaikan


masalah ini dengan mempertanyakan apakah pekerjaan kita dapat menigkatkan
karir atau hanya pekerjaan sementara saja. Namun, pada akhirnya bergantung dari
penilaian dan perasaan pribadi masing-masing karena mngingat implikasinya bagi
nyawa manusia.

Tindakan Mengungkapkan Rahasia Perusahaan (Whistleblowing)

Ada peningkatan perhatian yang diberikan pada pengungkap rahasia


perusahaan selama 30 tahun terakhir baik di dalam pemerintahan maupun industri
swasta di mana terjadi tindakan yang dilakukan karyawan untuk menginformasikan
kepada publik atau manajemen yang lebih tinggi tentang perilaku tidak etis atau
ilegal yang dilakukan perusahaan atau atasannya.

Menurut kode etik engineering bidang engineering profesioanal,


insinyur mempunyai kewajiban untuk melindungi kesehatan dan keselamatan
umum. Jadi, seorang insinyur didorong unuk mengungkap tindakan atau proyek
yang membahayakan nilai-nilai itu. Insinyur juga mempunyai hak profesional
untuk mengungkap kesalahan dalam organisasi mereka dan mengharapkan dapat
mengambil tindakan yang tepat.

Terdapat dua jenis tindakan pengungkapan rahasia yakni pengungkapan


rahasia eksternal dan internal. Tindakan pengungkapan rahasia perusahaan internal
terjadi ketika seseorang karyawan pergi menemui kepala atasan langsungnya untuk
melaporkan masalah ke tingkat manajemen yang lebih tinggi. Sedangkan tindakan
pengungkapan rahasia eksternal terjadi ketika karyawan pergi ke luar perusahaan
dan melaporkan kesalahan perusahaannya pada surat kabar atau otoritas penegak
hukum.

Ada pula perbedaan antara tindakan pengungkapan rahasia perusahaan


yang diketahui siapa pelakunya dan yang anonim. Pengungkpan anonim terjadi
ketika sang pengungkap menolak menyebutkan namanya ketika membuat tuduhan.
Tuduhan ini mungkin berbentuk memo tanpa nama yang diberikan kepada tingkat
manajemen yang lebih tinggi atau telepon oleh seseorang yang tidak menyebutkan
namanya kepada polisi. Pengungkapan rahasia perusahaan bisa dianggap sangat
buruk dari sudut pandang perusahaan karena tindakan ini dapat menyebabkan
ketidakpercayaan, ketidaharmonisan, dan ketidakstabilan bagi karyawan yang
seharusnya bekerja sama.

Ada 4 kondisi di mana tindakan pengungkapan rahasia perusahaan harus


dilakukan, yaitu sebagai berikut.

1) Kebutuhan, harus ada bahaya jelas dan penting yang dapat dihindari
dengan tindakan ini.
2) Kejelasan, sang pengungkap harus berada dalam posisi yang sangat jelas
untuk melaporkan masalah ini.
3) Kemampuan, sang pengungkap harus memiliki kesempatan sukses yang
cukup besar dalam menghentikan suatu kegiatan berbahaya.
4) Sumber terakhir, tindakan pengungkapan kesalahan hanya harus
dilakukan bila tidak ada orang lain yang lebih mampu atau jelas untuk
melakukan tindakan ini dan jika merasa semua tindakan lain telah
ditempuh atau ditutup.

Kita hanya wajib mengungkap rahasia perusahaan jika ada bahaya besar yang dapat
membahayakan seseorang jika suatu kegiatan terus berlangsung dan keempat
kondisi di atas terpenuhi.

Tindakan pengungkapan rahasia dapat berdampak buruk bila dipandang


dari sudut perusahaan karena citra organisasi barada dalam bahaya dan berdampak
negatif pada prospek perusahaan di masa yang akan datang. Pendekatan
perusahaan yang umum dilakukan untuk menghadang tindakan pengungkapan
rahasia perusahaan dan publisitas buruk yang dihasilkannya adalah memecat sang
pengungkap dan mengintimidasi karyawan yang lain yang tampaknya akan berbuat
sama.

Ada empat cara untuk menyelesaikan masalah tindakan pengungkapan


kesalahan di dalam perusahaan.

1. Harus ada budaya etika yang kuat di dalam perusahaan. Budaya


ini harus meliputi komitmen yang jelas terhadap perilaku etis, yang
dimulai pada tingkat manajemen tertinggi,training etika bagi seluruh
karyawan pun dijadikan kewajiban. Semua manajer harus menetapkan
irama untuk prilaku etika para karyawannya.
2. Harus ada garis komunikasi yang jelas di dalam perusahaan.
Keterbukaan ini memberikan jalur yang jelas bagi karyawan yang
merasa harus ada sesuatu yang harus diperbaiki untuk mengungkapkan
kekhawatirannya.
3. Semua karyawan harus mempunyai akses yang berarti terhadap manajer
tingkat atas, kepada siapa mereka harus mengungkapkan
kekhawatirannya. Sebaliknya karyawan yang berani mengungkapkan
kekhawatirannya harus dihargai karena komitmen mereka untuk
mendorong perilaku etis perusahaan.
4. Harus ada kemauan dari pihak untuk mengakui kesalahan,
mengumumkannya jika perlu. Perilaku ini akan menjadi contoh bagi
perilaku etis karyawan lainnya.

Studi Kasus

Terdapat beberapa contoh kasus dalam permasalahan ini, berikut


merupakan contoh kasus tentang tindakan pengungkapan rahasia perusahaan.

1. Kasus Chernobyl

Bencana nuklir ini terjadi pada tanggal 26 April 1986, pukul 01.23 karena 4
pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) meledak. Peristiwa ini merupakan bencana
nuklir terbesar di dunia terjadi ketika Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
Chernobyl meledak. Meledaknya PLTN yang berada di kota Pripyat, Ukraina, yang
saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet, melepaskan partikel radioaktif dalam
jumlah besar ke atmosfer bumi yang kemudian menyebar ke wilayah lain Uni
Soviet dan Eropa. Bencana Chernobyl adalah insiden nuklir terburuk di dunia
dalam hal kerugian finansial dan korban jiwa. Bencana ini menewaskan 31 orang
dan membutuhkan 500.000 orang pekerja untuk upaya pemulihan. Selain itu,
bencana ini mengakibatkan kerugian material sebesar 18 miliar rubel atau setara
dengan Rp 3,5 triliun dan efek jangka panjang radiasi terhadap manusia masih terus
diselidiki hingga kini.

Bencana ini diawali saat sebuah uji coba sistem dilakukan pada 26 April
1986 di reaktor nomor 4 Chernobyl yang terletak di kota Pripyat, tak jauh dari
perbatasan dengan Belarus dan Sungai Dnieper. Tiba-tiba, terjadi lonjakan daya dan
saat prosedur darurat untuk mematikan reaktor dilakukan, terjadi gelombang daya
yang lebih besar yang memicu pecahnya reaktor dan serangkaian ledakan. Api yang
dihasilkan ledakan reaktor itu mengirim debu radioaktif ke udara dan mengirimnya
ke sebagian besar wilayah Uni Soviet dan Eropa. Akibatnya, dari 1986-2000 atau
selama 14 tahun, sebanyak 350.400 orang dievakuasi dan dipindahkan dari daerah-
daerah yang paling terkontaminasi di Belarus, Rusia, dan Ukraina.

Sebanyak 31 orang dinyatakan tewas, di antaranya adalah pegawai PLTN


dan para petugas penyelamat. Namun, Komite Sains untuk Efek Radiasi Atom PBB
(UNSCEAR) pada 2008 menyebut korban tewas bencana Chernobyl adalah 64
orang. Sementara itu, Chernobyl Forum memperkirakan, korban tewas akibat
radiasi nuklir bisa mencapai 4.000 orang, terutama dari ratusan ribu anggota tim
penyelamat serta warga kota-kota yang paling terkontaminasi. Angka ini belum
termasuk sekitar 50.000 orang yang tinggal di kawasan yang lebih luas, yang
kemudian menderita kanker akibat radiasi. Dari 50.000 penderita kanker itu,
separuhnya meninggal dunia.

Pasca-tragedi Chernobyl, pertanyaan yang muncul kemudian adalah masa


depan PLTN tersebut. Semua pembangunan reaktor 5 dan 6 dihentikan tiga tahun
setelah bencana terjadi. Namun, masalah Chernobyl tak berhenti setelah
meledaknya reaktor nomor 4. Reaktor yang hancur itu "disegel" dengan
menggunakan 200 meter kubik beton yang ditempatkan di antara lokasi bencana
dan bangunan operasional. Meski demikian, Pemerintah Ukraina tetap
mengoperasikan tiga reaktor tersisa karena terbatasnya sumber listrik di negeri
tersebut. Pada 1991, turbin reaktor nomor 2 terbakar dan Pemerintah Ukraina
mengumumkan reaktor itu tak bisa diperbaiki lagi dan dimatikan. Reaktor nomor 1
dimatikan pada November 1996 sebagai bagian kesepakatan antara Ukraina dan
beberapa organisasi internasional, termasuk IAEA, untuk mengakhiri operasional
Chernobyl. Pada 15 Desember 2000, Presiden Ukraina Leonid Kuchma mematikan
sendiri reaktor nomor 3 dalam sebuah seremoni yang sekaligus mengakhiri riwayat
PLTN Chernobyl.

2. Avanti Corp Vs Cadance Design Systems

Salah satu asset terpenting yang dimiliki sebuah perusahaan teknologi


tinggi adalah kepemilikan intelektualitas. Kepemilikan intelektualitas meliputi
penemuan-penemuan baru, cara-cara inovatif dalam membuat produk, dan
peraturan komputer. Kepemilikan intelektualitas dapat dilindungi melalui system
hak paten dan merk dagang pemerintah federal, atau hanya dengan
mempertahankan “rahasia dagang”. Perangkat lunak komputer secara perlahan
dikembangkan agar dapat memenuhi skema perlindungan kepemilikan
intelektualitas ini. Mula-mula, perangkat lunak tidak dapat dipatenkan, dan tidak
jelas pula apakah perangkat lunak bisa mendapatkan hak cipta. Baru-baru ini,
hokum hak paten federal Amerika telah berubah dan mengijinkan perangkat lunak
mendapat hak paten, hak paten memberikan perlndungan atas kepemilikan
intelektual untuk jangka waktu tertentu, tetapi untuk memperoleh perlindungan ini,
penngembang perangkat lunak harus mengumumkan kodenya. Hal ini
mempermudah para pesaingnya untuk mengguakan ide-ide dari hak paten itu
dengan menirunya. Cara terbaik untuk melindungi kepemilikan intelektualitas
adalah tetap menjaganya sebagai rahasia dagang.

Cadence Design System adalah pemasok produk EDA(Electronic Design


Aoutomation) terbesar. Dibandingkan produk lain Avanti Corp adalah perusahaan
pesaingnya, produk EDA digunakan oleh berbagai perusahaan pembuat chip
komputer. Avanti Corp adalah perusahaan pesaing Cadence dalam bidang ini. pada
bulan desember 1995, kantor pusat Avanti digerebek oleh polisi dan agen FBI yang
mencari bukti bahwa Avanti telah mencari rahasia degang milik Cadence dan
masukkannya dalam produk Avanti. Secara khusus, Cadance engeklaim bahwa
hampir 60.000 ini kode yang dikembangkan insinyur perangkat lunak
perusahaannya dipakai oleh Avanti. Cadence juga mengajukan tuntutan sipil yang
merusak reputasi Avanti. (Ervan, 2019).
3. Kasus Whistleblower

Jeffrey Wigand adalah seorang Whistle Blower yang sangat terkenal di


Amerika Serikat sebagai pengungkap sekandal perusahaan The Big Tobbacoh.
Perusahaan ini tahu bahwa rokok adalah produk yang addictive dan perusahaan ini
menambahkan bahan karsinogenik di dalam ramuan rokok tersebut. Kita tahu
bahwa karsinogenik adalah bahan berbahaya yang dapat menimbulkan kanker.
Yang perlu diingat bahwa Whistle Blower tidak hanya pekerja atau karyawan dalam
bisnis melainkan juga anggota di dalam suatu institusi pemerintahan. (Wikipedia,
2019)
Daftar Pustaka

Fleddermann, Charles B. 2004. Etika Enjiniring Edisi Kedua. Terjemahan Bob


Sabran, S.T., M.M., dkk. 2006. Jakarta: Erlangga.

Hardoko, Ervan. 26 April 1986 Reaktor Nuklir Chernobyl Meledak. (online)


https://international.kompas.com. Diakses tanggal 13 Mei 2019.

Martin, Mike W, Schinzinger, Roland. 1994. Etika Rekayasa Edisi Kedua.


Terjemahan Y.B. Mangunwijaya. 2000. Jakarta: Gramedia.

Wikipedia, 2019. Insinyur. (online) https://id.m.wikipedia.org/wiki/Insinyur.


Diakses tanggal 19 April 2019.

Wikipedia, 2019. Pelapor Pelanggaran. (online)


https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pelapor_pelanggaran. Diakses tanggal 19
April 2019.