Anda di halaman 1dari 7

Parameter Grafik Barber Johnson

Keempat parameter yang dipadukan tersebut BOR (Bed Occupancy Rate), AvLOS (Average
Length Of Stay), TOI (Turn Over Interval), dan BTO (Bed Turn Over). Perpaduan keempat parameter
tersebut diwujudkan dalam bentuk Grafik Barber Johnson (BJ). (Sudra, Rano I.2008)

Berikut keempat parameter dan penjelasannya :

1. BOR (Bed Occupancy Rate / percentage bed occupanpcy)


Bed Occupancy Rate (BOR) merupakan angka yang menunjukkan presentase tingkat
penggunaan Tempat Tidur pada satuan waktu tertentu di Unit Rawat Inap (bangsal). Standard nilai
ideal menurut Barber Johnson untuk BOR 70 – 85 %. (Sudra, Rano I.2008)

Apabila nilai BOR lebih dari 85 % maka pelayanan yang dijalankan oleh dokter, perawat dan tenaga
kesehatan lain kurang efektif, hal tersebut dapat dikarenakan :

 Beban kerja tinggi


 Ruang kerja terbatas namun penggunaan Tempat Tidur yang berlangsung secara terus –
menerus.
 Meningkatnya kualitas pasien memperoleh perawatan yang layak dibutuhkannya.
 Memperpanjangkan masa penyembuhan pasien.

Adapun rumus Bed Occupancy Rate ( BOR ) :

Manfaat penghitungan BOR yaitu untuk mengetahui tingkat penggunaan Tempat Tidur suatu
rumah sakit. Angka BOR yang rendah kurangnya penggunaan fasilitas perawatan rumah sakit oleh
masyarakat.

2. AvLOS (Average Length Of Stay)

Average Length Of Stay disebut juga lama dirawat merupakan jumlah hari kalender dimana
pasien mendapatkan perawatan rawat inap di rumah sakit, sejak tercatat sebagai pasien rawat inap
(admisi) hingga keluar dari rumah sakit (discharge). Kondisi pasien keluar bisa dalam keadaan hidup
maupun mati. Jadi pasien yang belum keluar dari rumah sakit belum bisa dihitung hari Lama
dirawatnya. NilaI ideal untuk AvLOS adalah ± 3 – 12 hari. (Sudra, Rano I.2008)

Total dari lama hari rawat dapat diartikan sebagai jumlah hari rawat yang didapat pada pasien,
sampai pasien keluar hidup atau meninggal.

Rumus Average Length Of Stay :


3. TOI (Turn Over Interval)

Turn Over Interval menunjukkan rata-rata jumlah hari sebuah Tempat Tidur tidak ditempati
pasien. Hari “Kosong” ini terjadi antara saat Tempat Tidur yang ditinggalkan oleh seorang pasien
sehingga digunakan lagi oleh pasien berikutnya. Nilai ideal Turn Over Interval (TOI): 1-3 hari (Sudra,
Rano I. 2008)

Rumus Turn Over Interval :

4. BTO (Bed Turn Over)

Bed Turn Over atau Troughput merupakan rerata jumlah pasien yang menggunakan setiap
Tempat Tidur dalam periode tertentu. Nilai BTO sangat membantu dalam menilai tingkat
penggunaan Tempat Tidur karena dalam dua periode bisa diperoleh angka BOR yang sama tetapi
angka BTO berbeda. Nilai ideal Bed Turn Over (BTO) minimal 30 pasien dalam periode 1 tahun.
Artinya, 1 Tempat Tidur diharapkan digunakan 30 pasien dalam 1 tahun, berarti 1 pasien rata – rata
dirawat selama 12 hari. Hal ini sejalan dengan nilai standar ideal AvLOS yakni 3 – 12 hari. (Sudra,
Rano I. 2008)

Rumus Bed Turn Over :

Cara membuat Grafik Barber Johnson


Ketentuan-ketentuan yang harus diingat waktu membuat Grafik Barber Johnson yaitu :

a. Skala pada sumbu horisontal tidak harus sama dengan skala sumbu vertikal.
b. Skala pada suatu sumbu harus konsisten.
c. Skala pada sumbu horizontal dan vertical dimulai dari angka 0 dan berhimpit membentuk
koordinat 0,0.
d. Judul grafik harus secara jelas menyebutkan nama Rumah Sakit, nama bangsal (bila perlu), dan
periode waktu.

d. Garis bantu BOR dibuat dengan cara :


1) Tentukan nilai BOR yang akan dibuat garis bantunya, misalnya BOR 75 %.

2) Tentukan koordinat titik bantu BORnya sesuai nilai BOR tersebut, misalnya untuk BOR 75 %
maka koordinat titik bantunya adalah :

a) AvLOS = nilai BOR di bagi 10 = 75/10 = 7,5

b) TOI = 10 – nilai AvLOS = 10 – 7,5 = 2,5.

3) Tarik garis mulai dari koordinat 0,0 melewati titik bantu BOR tersebut.

4) Beri keterangan garis tersebut, misalnya bahwa garis tersebut adalah BOR 75 %

f. Garis bantu BTO dibuat dengan cara :

1) Tentukan nilai BTO yang akan dibuat garis bantunya, misalnya BTO = 10

2) Tentukan titik bantu disumbu AvLOS dan TOI (nilainya sama), dengan cara :

a) Titik bantu = (jumlah hari dalam periode tertentu) dibagi (nilai BTO) = 30/10 = 3

b) Jadi lokasi titik Bantu BTO di AvLOS = 3 dan TOI = 1.

3) Tarik garis yang menghubungkan kedua titik bantu tersebut.

4) Beri keterangan garis tersebut.

g. Daerah efisien dibuat dan merupakan daerah yang dibatasi oleh perpotongan garis :

1) TOI = 1

2) TOI = 3

3) BOR = 75%

4) AvLOS = 12

4. Cara Membuat Grafik Barber Johnson

Ketentuan-ketentuan yang harus diingat waktu membuat grafik Barber Johnson yaitu:

1. Skala pada sumbu horisontal tidak harus sama dengan skala sumbu vertikal.
2. Skala pada suatu sumbu harus konsisten.
3. Skala pada sumbu vertikal dan horizontal dimulai dari angka 0 dan berhimpit membentuk
koordinat 0,0.
4. Judul grafik harus secara jelas menyebutkan nama Rumah Sakit, nama bangsal (bila perlu),
dan periode tertentu.
5. Garis bantu BOR dibuat dengan cara :
6. Tentukan nilai BOR yang akan dibuat garis bantunya, misalnya BOR = 75 %
7. Tentukan koordinat titik bantu BORnya sesuai nilai BOR tersebut, misalnya untuk BOR 75 %
maka koordinat titik bantunya adalah :
8. LOS = nilai BOR dibagi 10 = 75/10 – 7,5
9. TOI = 10 – nilai LOS = 10 – 7,5 = 2,5
(contoh lain, untuk membuat garis bantu BOR = 60% maka koordinat titik bantunya adalah
LOS = 6 dan TOI = 4 ).

1. Tarik garis mulai dari koordinat 0,0 melewati titik bantu BOR tersebut.
2. Beri keterangan, misalnya bahwa garis tersebut adalah BOR = 75 %.
3. Garis bantu BTO dibuat dengan cara :
4. Tentukan nilai BTO yang akan dibuat garis bantunya, misalnya BTO = 10.
5. Tentukan titik bantu disumbu LOS dan TOI (nilainya sama) dengan cara :

Titik bantu = (jumlah hari pada periode laporan) dibagi (nilai BTO) = 30/10 = 3, Jadi lokasi
titik bantunya adalah LOS = 3 dan TOI = 3.

(Contoh lain, untuk membuat garis bantu BTO = 20 untuk periode tribulan I maka titik
bantunya adalah LOS = 4,5 dan TOI = 4,5. Angka 4,5 ini didapat dari 90/20, dimana 90
adalah jumlah hari dalam periode tribulan I dan 20 adalah nilai BTO yang akan dibuat garis
bantunya).

1. Tarik garis yang menghubungkan kedua titik bantu tersebut.


2. Beri keterangan, misalnya bahwa garis tersebut adalah BTO = 10.
3. Daerah efisiensi dibuat dan merupakan daerah yang dibatasi oleh perpotongan garis :
4. TOI = 1
5. TOI = 3
6. BOR = 75% – 85%
7. LOS = 3-12
8. Tentukan titik BOR,LOS,TOI dan BTO kemudian tentukan titik Barber Johnson

5. Cara membaca grafik Barber Johnson

Untuk membaca grafik Barber Johnson, lihatlah posisi titik Barber Johnson terhadap daerah
efisien. Apabila titik Barber Johnson terletak di dalam daerah efisien berarti penggunaan TT
pada periode yang bersangkutan sudah efisien. Sebaliknya, apabila titik Barber Johnson
masih berada diluar daerah efisien berarti penggunaan TT pada periode tersebut masih belum
efisien.

1. Perbandingan Indikator efisiensi tempat tidur menurut Depkes dan Barber Johnson
6. Contoh Cara Membuat dan Menggunakan Grafik Barber Johnson

1. Skala sumbu horisontal (sumbu x) tak harus sama dengan skala sumbu dengan vertikal (y).
Disini kita gunakan kertas strimin kotak kecil dengan x 2 kotak, y 1 kotak.
2. Buatlah judul grafik dengan menyebutkan nama RS, nama bangsal dan periode waktu.
3. Buat garis bantu BOR.

Tentukan koordinat titik bantu membuat BOR dihitung dengan cara berikut:

a. Untuk BOR 90 %

LOS : 90/10 = 9

TOI : 10-9 = 1

b. Koordinat 80%

LOS: 80/10 = 8

TOI: 10-8 = 2

c. Koordinat 70%

LOS: 70/10 = 7

TOI: 10-7 = 3

d. Koordinat 50%

LOS: 50/10 = 5

TOI: 10-5 = 5
4. Buat garis bantu BTO (LOS, dan TOI nilainya sama)

Titik bantu = jumlah hari periode laporan : nilai BTO

a. Untuk BTO 30 pasien : 365/30 = 12,16 (LOS, TOI)

b. Untuk BTO 20 pasien : 365/20 = 18,25 (LOS, TOI)

c. Untuk BTO 15 pasien : 365/15 = 24,3 (LOS, TOI)

d.Untuk BTO 12,5 pasien : 365/12,5 = 29,2 (LOS, TOI)

e. Buatlah daerah EFISIEN, dengan perpotongan garis berikut :

TOI = 1

TOI = 3

BOR = 75% (Sudra, 2010).


.

Anda mungkin juga menyukai