Anda di halaman 1dari 26

CRITICAL BOOK REVIEW

“GEOGRAFI KEPENDUDUKAN DAN DEMOGRAFI”

Dosen Pengampu : Dra. Novida Yenny

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 9 :

Doni Pramana Sitepu

Marwerry Hangryani Sonata (3182131011)

Nadia Utami Br Karo (3183331020)

JURUSAN : PENDIDIKAN GEOGRAFI

KELAS : B

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang MahaEsa. Berkat rahmat
dankarunia-Nya, penulis bisa menyelesaikan critical book review ( CBR ) ini. CBR ini berisikan
tentang materi ‘Geografi Kependudukan Dan Demografi’. Dalam penulisan CBR ini, penulis
menyadari masih banyak kekurangan. Penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca. Saran dan kritik tersebut sebagai motivasi bagi penulis untuk menyempurnakan CBR
ini, sehingga CBR berikutnya akan menjadi lebih baik lagi. Meskipun CBR ini masih jauh dari
kesempurnaan, penulis berharap makalah ini akan bermanfaat bagi pembaca.Demikian yang
dapat penulis sampaikan. Terima kasih.

Medan, 20 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR….……………………………………………………………….i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………ii

DAFTAR LAMPIRAN...……………………………………………………………….iii

BAB I PENDAHULUAN

A.Informasi Bibliografi…………………………………………………………..1

BAB II PEMBAHASAN CRITIKAL BOOK

A.Ringkasan Buku Utama………………………………………………………..2

B.Ringkasan Buku Pembanding………………………………………………….12

BAB III PEMBAHASAN CRITIKAL BOOK REPORT

A.Latar Belakang Masalah yang dikaji…………………………………………..19

B.Permasalahan yang akan dikaji………………………………………………..19

C.Metode yang digunakan……………………………………………………….19

D.Analisis critical book report…………………………………………………...19

BAB IV PENUTUP /KESIMPULAN

A.Kesimpulan……………………………………………………………………21

B.Saran…………………………………………………………………………...21

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………..22

ii
DAFTAR LAMPIRAN

BUKU 1

BUKU 2

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A.Informasi Bibliografi

BUKU 1 (UTAMA)

Judul : Demografi Umum

Penulis : Drs. Syamsul Bardi, M. Si

ISBN : 978-979-1016-52-0

Penerbit : PeNa Banda Aceh

Tahun terbit : 2017

Urutan cetakan :I

Tebal buku : xv + 97 halaman

BUKU 2 (PEMBANDING)

Judul : Pengantar Imu Kependudukan

Penulis : Rusli Said

ISBN : 979-8391-42

Penerbit : LP3ES.1995

Tahun terbit : 1995

Urutan cetakan : cetakan 7

Tebal buku : xiv + 173 halaman

1
BAB II

PEMBAHASAN SECARA UMUM BUKU YANG DI REVIEW

A.Ringkasan Buku Utama

BAB 1 KONSEP DAN DEFINISI DEMOGRAFI

1. Defenisi Demografi

Demografi mempelajari struktur dan proses penduduk di suatu wilayah. Struktur


penduduk meliputi: jumlah, perbesaran, dan komposisi penduduk. Stuktur penduduk ini
selalu berubal-ubah, dan perubahan tersebut di sebabkan karena proses demografi yaitu:
kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan migrasi penduduk. Struktur penduduk
merupakan aspek yang statis, merupakan gambaran atau potret penduduk dari hasil sensus
penduduk (cacah jiwa) pada hari sensus tertentu. Data penduduk pada hari sensus ini
dijadikan sebagai basis perhitungan penduduk penduduk. Sesudah hari sensus tersebut
struktur penduduk akan berubah dari basis penduduk tadi. Unsur-unsur kependudukan dapat
merubah struktur kependudukan di atas merupakan unsur-unsur yang dinamis yang terdiri
dari kelahiran, kematian, dan migrasi, dan proses perubahan itu disebut pula proses yang
dinamis.

2. Studi Kependudukan

Studi kependudukan (population studies) lebih luas dari kajian_demografi murni, karena
didalam memahami struktur dan proses kependudukan disuatu daerah faktor-faktor non-
demografi ikut dilibatkan, misalnya didalam memahami trend fertilitas disuatu daerah tidak
cukup diketahui trend pasangan usia subur, tetapi juga faktor sosial budaya yang ada di
daerah tersebut. Pada masyarakat patrilinial dimana tiap keluarga mendambakan anak laki-
laki, maka besarnya jumlah anak tergantung pada sudah ada tidaknya perkembangan
penduduk disuatu daerah diketahui faktor-faktor determinan yang tidak hanya berasal dari
faktor demografi tetapi juga berasal dari faktor non-demografi.

2
BAB 2 SUMBER DATA DEMOGRAFI

Ada tiga sumber data demografi, yaitu: sensus penduduk, registrasi penduduk, dan survai
penduduk. Dalam uraian selanjutnya, masing-masing dari ketiga sistem pengumpulan data
demografi akan di uraikan.

1. Sensus Penduduk

Sensus penduduk atau sering pula disebut dengan cacah jiwa mungkin mempunyai sejarah
setua sejarah perdaban manusia. Ada tanda-tanda bahwa pecahan penduduk telah
dilaksanakan di babilonia.

1. Ruang Lingkup Sensus Penduduk

Agar data hasil sensus penduduk dari beberapa negara dapat diperbandingkan, perserikatan
nformasi kependudukan minimal yang harus ada dalam bangsa-bangsa menetap bahwa tiap-
tiap sensus penduduk adalah Sebagai berikut

1. Geografi dan migrasi penduduk

2. Rumah tangga

3. Karakteristik sosial dan demografi

4. Kelahiran dan kematian

5. Karakteristik pendidikan

6. Karakterisik ekonomi

Informasi geografi meliputi lokasi daerah pencacahan, jumlah penduduk yang bertempat
bertempat tinggal didaerah tersebut . Beberapa penduduk de jure dan beberapa pula jumlah
penduduk de facto. Di samping itu dapat pula dihitung beberapa jumlah penduduk yang
bertempat tinggal didaerah perdesaan. Informasi migrasi penduduk asing-masing didapat
lewat pertanyaan: tempat lahir, lama bertempat tinggal didaerah sekarang tempat tinggal
terakhir sebelum tinggal didaerah sekarang, dan tempat tinggal lima tahun yang lalu

2. Kesalahan Sensus (Census Error)

3
Walaupun pengumpulan data dalam sensus penduduk dilaksanakan secara aktif oleh petugas
itu sendiri, namun masih juga terdapat beberapa kesalahan. Yaukey (1990) mengelompokkan
kesalahan itu tiga kelompok, yaitu: kesalahan cakupan, (error of coverage), kesalahan isi
pelaporan (errors of content), dan kesalahan kepadatan laporan (estimating error)

3. Pelaksanaan Sensus Penduduk Di Indonesia

Indonesia telah melaksanakan sensus penduduk sejak sebelum perang dunia II tepatnya sejak
tahun 1853. Namun demikian karena belum banyak pengalaman, hanya sensus penduduk
tahun 1920 dan 1930 organisasi pelaksanaannya sudah cukup baik dan data dihasilkan dapat
dipercaya sampai sekarang.

Informasi tambahan mengenai pelaksanaan sensus penduduk di Indonesia adal ah Sebagai


berikut

1. Sensus penduduk di Indonesia dilaksanakan pada tiap-tiap tahun yang berakhir dengan
angka kosong (0)

2. Diantara pelaksanaan dua sensus misalnya antara tahun 1980 dan 1990 di adakan sensus
khusus berdasarkan sampel, misalnya: survei penduduk antar sensus (SUPAS), sensus
pertanian, sensus industri, survei sosial ekonomi nasional Survei Angkatan Kerja
(SUSENAS),

3. Penduduk yang dicacah meliputi penduduk de jure (penduduk yang menetap di daerah
pencacahan) dan penduduk de facto.

Dst,

2. Registrasi Penduduk di Indonesia

Sistem registrasi penduduk dilndonesia telah dimulai sejak abad ke-19. Pada tahun 1815
Raffles melaksanakan pendaftaran penduduk dalam rangka penetapan sistem pajak tanah. Dia
melihat bahwa registrasi desa adalah salah salah satu sasaran untuk maksud tersebut. Pada masa
pemerintahannya, kepala-kepala desa diharuskan mencatat semua orang yang diwilayahnya
dengan menyebutkan nama, umur, pekerjaan, dan ciri-ciri demografis lainnya. Mereka juga
diharuskan membuat catatan kelahiran, kematian dan perkawinan.

4
3.Survei Penduduk

Hasil sensus penduduk dan registrasi penduduk mempunyai menyedidkan keterbatasan.


Mereka Hanya data statistic kependudukan, dan kurang memberikan informasi tentang sifat dan
perilaku penduduk setempat. Untuk mengatasi keterbatasan ini, perlu dilaksanakan survei
penududuk yang sifatnya lebih terbatas dan informasi yang dikumpulkan lebih luas dan
mendalam. Biasanya survei kependudukan ini dilaksanakan dengan sistem sampel, atau dalam
bentuk studi kasus. Sebagai misal, Survei Fertilitas

BAB 3 KOMPOSISI PENDUDUK

Data penduduk yang didapat dari hasi registrasi, sensus penduduk maupun survei,
susunannya masih belum teratur sehingga sulit untuk dibaca, apalagi di interpretasi. Untuk
keperluan diatas, maka seluruh data tersebut terlebih dahulu perlu disederhanakan.
Menyederhanakan data kedalam bentuk yang lebih mudah di baca dan diinterpretsi menganalisis
data (Sofian Effendi ct.al, 1983). Dalam Salalı satu proses ini sering kali di gunakan statistik,
karena men fungsi dari statistik adalah menyederhanakan data. Membagi penduduk atas
kelompok-kelompok tertentu, atau dapat pula dikatakan atas komposisi penduduk tertentu,
merupakan salah bentuk dari analisis analisis penduduk. Yang dibuat berdasarkan
pengelompokan penduduk menurut karakteristis karakteristis yang sama (Said Rusli.1983).
Bermacam-macam komposisi penduduk dapat dibuat, misal komposisi penduduk umur dan jenis
kelamin, status perkawinan, tingkat menurut pendidikan, lapangan pekerjaan, bahasa, dan agama.
Daftar pertanyaan (kuesioner) yang digunakan dalam sensus penduduk berisi variable mengenai
pertanyaan-pertanyaan kependudukan yang akan ditanyakan pada responden.

PIRAMIDA PENDUDUK

Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat di gambarkan pada sebuah
grafik yang disebut piramida penduduk. Pengambaran piramida penduduk dimulai dengan suatu
menggambarkan dua garis yang saling tegak urus. Garis yang vertikel menggambarkan umur
penduduk mulai dari umur 0 lalu naik, kenaikan ini dapat tahunan, dapat pula dengan jenjan lima
tahunan. Sumbu horizontal menggambarkan jumlah penduduk tertentu baik secara absolut
maupun relatif (dalam persen). Pemilihan skala perbandingan pada sumbu horizontal ini sangat
tergantung dari jumlah pcnduduk dalam pcrsentase tertentu dari jumlah yang terdapat pada tiap

5
golongan umur di sumbu vertikal. Berdasar komposisi penduduk menurut jenis kelamin,
karakteristis penduduk suatu negara dapat dibedakan menjadi tiga kelompok.

1.Ekspansif, jika sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda. Tipe ini
umumnya terdapat pada negara- negara yang mempunyai angka kelahiran dan angka kematian
tinggi. Tipe ini terdapat pada negara-negara dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat
akibat dari masih tingginya tingkat kelahiran dan sudah mulai menurunnya tingkat Cat kematian.
Negara-negara yang termasuk tipe ini adalah Indonesia, Malaysia, Philiphina, India, dan Costa
Rica.

2. Konstruktif,

3. Stasioner, jika banyaknya pendudukdalam tiap kelompok umur hampir sama, kecuali pada
kelompok umur tertentu. Tipe ini terdapat pada negara-negara yang mempunyai tingkat kelahiran
dan tingkat kematian rendah, misalnya terdapat pada negara- negara Eropa.

BAB 4 PENGUKURAN FERTILITAS

1 Pengertian Fertilitas

Istilah Fertilistas adalah sama dengan kelahiran akan tetapi berbeda dengan fekunditas.
Fertilitas sebagian petunjuk kepada tindakan reproduksi yang menghasilkan kelahiran hidup,
sedangkan fekunditas sebagai petunjuk kepada kemampuan Fisiologis seorang wanita atau pria.
Ukuran fertilitas selalu dihubungkan dengan dengan jumlah kelahiran hidup dengan jumlah
penduduk tertentu sebagai dasar petunjuk waktu tertentu. Suatu kelahiran disebut lahir hidup
bilamana pada saat dilahirkan terdapat tanda - tanda kehidupan seperti Bemafas, jantung
herdenyut, menangis, hergerak dan lain sebagainya

2. Ukuran Fertilitas

1. Tingkat kelahiran kasar (Crude Bit Rate) adalalh peibandigan antara jumla kelahiran hidup
dengan jumlah seluruh penduduk selama setau per 1000 penduduk

6
2. General Ferlity Rate GPR) Adalah jumlah kelahiran hidup (laki laki + perempuan) selama
setahun per 1000 penduduk perempuan dalam usia reproduksi (15 49 tahun)

dimana,

GFR =PF (15-49)= Penduduk usia reproduktif

3.Age Specific Fertilitiy Rate (ASFR) adalah perbandigan antara jumlah kelahiran hidup (laki –
laki perempuan) per 1000 penduduk perempuan pada golongan umur tertentu (i) pada

reproduksi

Bi : Jumlah kelahiran dari kelompok umur (i), misal umur 20 24 tahu n

PF : Jumlah penduduk perempuan menurut umur (i) pada usia reproduksi, misal umur 20-24
tahun

4. Total Fertility Rate (TFR) adalah jumlah anak (laki laki + perempuan) yang dilahirkan hidup
per 1000 penduduk perempuan selama masa reproduksi dengan asumsi bahwa tingkat kelahiran
tidak mengalami perubahan selama periode reproduksi (Bogue, 1969).

BAB 5 PENGUKURAN MORTALITAS

7
Peristiwa mortalitas idealnya direkam melui sistem registrasi vital, karena sistem ini dapat
mencatat kejadian dari saat kesaat.

1. Ukuran Mortalitas

Ada beberapa cara untuk mengukur mortalitas. Ukuran yang didapat merupakan suatu angka
atau indeks yang menggambarkan tingkat mortalitas-mortalitas suatu penduduk. Ada berbagai
macam mortalitas berbagai ukuran Biasanya ukuran macam mortalitas sekaligus untuk
menggambarkan keadaan ukuran mortilitas secara keseluruhan, hampir semua ukuran mortalitas
merupakan suatu tingkat (rate) atau rasio

1. Tingkat kematian Kasar

Tingkat kematian kasar (TKmK) atau Ccude Death Rate (CDR) pada tahun tertentu
didefinisikan sebagai banyaknya kematian pada tahun tertentu, tap 1000 penduduk pada
pertengahan tahun yang sama.

2. Tingkat kematian menurut umur

Adanya kelemahan-kelemahan pada ukuran tingkat kematian kasar, untuk memperoleh


nilai mortalitas yang lebih tepat, tentu saja diperlukan data dasar yang lebih rinci dan
didukung informasi lain yang lebih banyak, sehingga diperoleh ukuran spesifik (specific
death ukuran mortalitas spesifik yang sering rate). Diantaranya ukuran dipergunakan dalam
analisis kependudukan adalah tingkat kematian. Menurut umur (Age Specufic Daeth Rate
=ASDR). Biasanya akan laki dan lebih bermamfaat apabila dibedakan antara laki perempuan,

8
yaitu dengan menghitung tingkat kematian khusus berdasarkan jenis kelamin dan umur.
Penggolongan atau klasifikasi umur yang konvesional adalah lima tahunan. Dalam studi
morbiditas (sebab kematian), tingkat kematian menurut umur dirinci menjadi empat periode
kehidupan, yaitu masa bayi, masa anak anak, maka kerja atau masa produksi dan masa atau
umur tua

3. Tingkat kematian bayi

Tingkat Kematian Bayi (TKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) merupakan salah satu
ukuran tingkat kematian menurut umur yang banyak dipergaunakan dalam kajian mortalitas.
Kadang - kadang analisis disatukan dengan Tingkat kematian anak (TKA) atau Child
Mortality Rate (MR).

9
BAB 6 PENGUKURAN MIGRASI

1. Batasan Migrasi

Batasan mengenai migrasi sampai saat ini masih sering diperdebatkan. Analisis migrasi
yang bedarkan atas data sensus penduduk menggunakan konsep ruang dan waktu sehagai batasan
Rozi Munir (1981) dan juga Mantra (1981) memberikan definisi migrasi sebagai perpindahan
penduduk dari suatu wilayah ke wilayah yang lain dengan maksud untuk menetap. Penduduk
yang melakukan. migrasi discbut migran Ukuran yang pasti tentang waktu sulit untuk ditentukan,
tidak ada batasan yang pasti berapa lama seorang pindah tempat dapat dikatakan migran atau
bukan migran. Biasanya digunakan batasan yang digunakan dalam sensus penduduk. Sebagai

10
contoh untuk sensus penduduk tahun 1971 dan seterusnya batasan yang digunakan adalah 6
bulan batas propinsi

2 Ukuran Migrasi.

Di dalam studi mobilitas/migrasi ukuran-ukuran yang digunakan adalah:

1. Angka mobilitas, yaitu rasio banyaknya penduduk yang pindah dalam jangka waktu
tertentu dengan banyaknya penduduk.

B.Ringkasan Buku Pembanding

11
Bab I Pengantar IImu Kependudukan

Demografi adalah studi ilmiah terhadap penduduk manusia, terutama mengenai jumlah,
struktur, dan perkembangannya.mentara Bogue memberikan batasan sebagai berikut:Demografi
adalah studi matematik dan statistik terhadap jum- baliklah, komposisi, dan distribusi spasial dari
penduduk manusia, dan grafik perubahan-perubahan dari aspek-aspek tersebut yang senantiasa
terjadi sebagai akibat bekerjanya lima proses yaitu; fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi dan
mobilitas sosial.Batasan formal dari demografi telah pula diberikan olehHauser dan Duncan yang
menyatakan:Demografi adalah suatu studi mengenai jumlah, distribusi teritorial, dan komposisi
penduduk, perubahan-perubahan yang bertalian dengannya serta komponen-komponen yang
menyebabkan perubahan yang bersangkutan yang dapat diidentifikasi sebagai natalitas,
mortalitas, gerak penduduk teritorial dan mobilitas sosial (perubahan status).

Menurut Malthus, pengekangan perkembangan penduduk dapat berupa pengekangan


segera dan pengekangan hakiki. Yang dimaksud dengan faktor pengekangan hakiki adala pangan,
sedudul dangkan pengekangan segera dapat berbentuk pengekangan prentif dan pengekangan
positif. Pengekangan prefentif adalah faktor-faktor yang bekerja mengurangi angka kelahiran.
Pemend ngekangan prefentif yang dianjurkan Malthus adalah pengendalian diri dalam hal nafsu
seksuil antar jenis seperti penundaan.Luduk perkawinan. Pengekangan positif merupakan faktor-
faktor yang mempengaruhi angka kematian; dapat berupa epidemi, penyakit penyakit dan
kemiskinan.Kritik-kritik terhadap teori kependudukan Malthus yang juga sering dipandang
sebagai kelemahan-kelemahan dari teori tersebut antaranya berkisar pada:

1. Malthus terlalu menekankan keterbatasan persediaan tanah memeskipun dia adalah salah
seorang penganjur industrialisası dan penggunaan tanah secara lebih efisien. Kenyataan dalam
masa setelah Malthus menunjukkan bahwa perbaikan teknologi pertanian seperti penggunaan
pupuk buatan, pemakaian pestisida, dan agrigasi yang efisien menghasilkan peningkatan
produktivitas

2 Dia kurang memperhitungkan bahwa, penemuan-penemun baru, teknologi unggul dan


industrialisasi dapat memberikan efek yang cukup berarti pada peningkatan tingkat hidup.

3. Dia berpandangan bahwa pengontrolan kelahiran tidak bermoral dan tidak pernah meramalkan
penggunaan alat-alat konrasepsi secara meluas.

12
4 Dengan majunya sistem transportasi dan berlangssungnya perdagangan internasional membuka
pasaran baru bagi barang-barang hasil pabrik/industri, sumber-sumber bahan mentah tempahan,
dan mempermudah emigrasi.

Bab II Sumber-sumber Data Kependudukan /Demografi

Sumber-sumber data kependudukan/demosrafi yang pokok adalah, sensus sistem


registrasi kejadian-kejadian vital registras Pependuduk dan survei-survei terbatas atau survei
sampel.Lain sumber tambahan yang sering berguna adalah catatan-catatan dan dokumen-
dokumen instansi pemerintah. Di antara sumbet-sumber ini, sensus merupakan sumber data vang
paling utama di berbagai negara; terlebih-lebih di nesara-negara berkembang Dewasa ini di
negara-negara maju sistem registrasi kejadian-kejadian vitaldari registrasi penduduk telah
berkembang cukup teratur sehingga memungkinkan reit vital di banyak negara maju diperoleh
dengan menggunakan sumber ini. Sedangkan dikebanyakan negara berkembang tradisi untuk
memelihara secara teratur sistem registrasi kejadian-kejadian vital dan registrasi penduduk belum
ada. Kalaupun ada,sering tak lengkap dan kebenarannya perlu dipertanyakan Karenanya, di
negara-negara berkembang, reit vital seperti reit kelahiran kasar (CBR) dan reit kematian kasar
(CDR) sering perlu diperkirakan secara tidak langsung dengan menggunakan data sensus, atau
dari hasil-hasil survai terbatas.

Studi Kependudukan (Population Studies) merupakan istilah ba Ilmu Kependudukan yang


digunakan di sini. Studi Kependudukan terdiri dari analisa-analisa yang bertujuan dan men-
cakup:

1 Informasi dasar tentang distribusi penduduk, karakteristik dan perubahan- perubahannya;

2 Menerangkan sebab-sebab perubahan dari faktor dasar tersebut

3 Menganalisa segala konsekuensi yang mungkin sekali terjadi di masa depan sebagai hasil
perubahan-perubahan itu.

Introduksi istilah ilmu kependudukan sesungguhnya dima sudkan untuk memberi pengertian
yang lebih luas dari demografi, karena sejumlah ahli telah menggunakan istilah demografi untuk
menunjukkan pada demografi formal, demografi murni,atau kadang-kadang demografi .teoritis.
Kata demografi berasal dari Greek (Yunani) yang untuk pertama kali digunakan oleh Guil- lard

13
lebih dari seabad yang lalu, digunakan sebagai sinonim bagi podulation study. Sedangkan kata
population bersumber dari bahasa Latin.

Bab III Komposisi dan Piramida Penduduk

Penduduk merupakan jumlah orang yang bertempat tinggal di willayah pada waktu
tertentu dan merupakan hasil proses-proses demagrafi yaitu fertilitas mortalitas, dan migrasi.
Komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk yang dibuat bendasarkan
pengelompokan penduduk mernurut karakteristik-karakteristik yang sama. Beragam
pengelompokan dapat dibuat sepert atas dasar etnis, agama, kewarganegaraan, bahasa, pendi-
dikan yang diselesaikan, umur, jenis kelamin dan golongan pendapatan.Adakalanya, istilah
tertentu digunakan untuk komposisi atas dasar karakteristik tertentu umpamanya, struktur
penduduk dan piramida penduduk bagi komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin,
dan distribusi penduduk bagi komposisi penduduk menurat geografis tempat tinggal.Komposisi
Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin.Di antara beragam komposisi penduduk yang dapat
disusun,komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin merupakan yang terpenting
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin bagi slatu masyarakat penting baik dalam
kerangka biologis, ekonomis, maupun sosial. Umpamanya penting dalam per-faliannya dengan
angka-angka kelahiran, kematian, rasio beban tanggungan, dan jumlah penduduk usia sekolah.
Perbedaan yang besar mungkin terdapat antar negeri-negeri tertentu dalam hal komposisi
penduduk menurut umur dan jenis kelamin dan Piramida Penduduk.Sebaliknya, pada saat yang
sama angka rasio jenis kelamin ini di masyarakat permberi/pengirim menjadi rendah.

Angka rasio jenis kelamin penduduk Indonesia, secara keseluruhan agak meningkat. Jika pada
tahun 1961 dan 1971 angka rasio enis kelamin penduduk Indonesia sekitar 97 laki-laki per 100
perempuan, angka ini meningkat menjadi 98,9 laki-laki per 100 pe-pempuan pada tahun 1980,
dan kemudian menjadi 99,5 laki-laki per 100 perempuan pada tahun 1990 tipe-tipe Piramida
Penduduk.Piramida penduduk menyajikan lukisan komposisi penduduk menurut umur dan jenis
kelamin bagi suatu wilayah, Sampai derajat tertentu, riwayat penduduk suatu negeri dapat dibaca
dari piamida penduduk negeri yang bersangkutan Bentuk-bentuk piramida penduduk tidak saja
dapat berbeda antar negeri melairkan antar waktu di suatu negeri.

Pengaruh Kematian, Kelahiran dan Migrasi Terhadap Bentuk Piramida Penduduk.Bentuk


piramida penduduk banyak ditentukan oleh keadaan fertilitas dan mortalitas. Sekitar 100 tahun

14
diperlukan untuk menghasilkan suatu piramida baru, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk
menggantikan semua di suatu daerah atau negara. Tanpa migrasi atau kalaupun ada dalam jumlah
yang relatif sedikit maka penambahan dan pengurangan penduduk hanya terjadi melalui
kelahiran dan kematian.Turunnya mortalitas terlebih-lebih pertama-tama jika hal ini terjadi pada
umur-umur sangat muda yaitu umur-umur permulaan kehidupan, maka dalam keadaan fertilitas
tetap tinggi, secara keseluruhan umur penduduk yang menyusun suatu piramida.Bandingkan
dengan pengaruh mortalitas, pengaruh dari turunnya fertilitas lebih nyata pada hentuk piramnida
penduduk.Meskipun demikian jika mortalitas dapat mempengaruhi semua golongan umur
pengaruh festilitas hanya dapat berjalan melalui golongan umur muda. Turunnya fertilitas akan
segera berpengaruh dan jelas terlihat pada bagian dasar dari piramida penduduk.Dalam hal ini
akan lebih nyata pada penduduk yang mengalami jatuhnya fertilitas dengan tiba-tiba atau secara
cepat umpamanya, sebagai akibat dari sangat berhasilnya pelaksanaan program keluarga be-
rencana Bagian dasar yang menciut seperti "terpotong" sementara hagian tengah menggembung
sebagai sisa dari piramida yang bagian dasarnya lebar. merupakan gambaran dari piramida pen-
duduk yang sedang mengalami jatuhnya reit kelahiran. Turunnya kelahiran mengakibatkan
berkurangnya proporsi penduduk yang berumur muda, dan dengan rendahnya reit kematian pada

akhimya secara keseluruhan struktur umur penduduk akan lebih.

Bab IV Mortalitas

Untuk jangka waktu yang sangat lama di masa lampau fenomena mortalitas seperti
halnya fertilitas pada umumnya dipandang sebagai sesuatu yang sama sekali berada di luar
control manusia. Walaupun dalam bagian ke dua abad ke-17 telah ada suatu studi yang sistematis
mengenai kematian oleh Jahn Graunt yang termasuk itu, sebenanya sampai akhir abad ke-17 dan
tahun-tahun permulaan abad ke-18 masih sedikit sekali orang di berbagai bagian Eropa yang
mempertanyakan angka-angka kematian. Baru kemudian suatu langkah kemajuan yang berarti
dicapai ketika Jenner pada tahun 1789 mengemukakan keefektifan inoku-Lasi copox bagi
imunisasi terhadap smallpox (penyakit Cacar).Telah berabad-abad sebelumnya pada waktu-
waktu tertentu penyakit cacar berjangkit dan banyak merenggut penduduk dunia.

Ukuran Reit Kematian Kasar memberikan berbagai manfaat disamping ada hal-hal yang
kurang menguntungkan. Berbagai manfaat dapat diperinci sebagai berikut

15
1. Mendeskripsikan reit kematian keseluruhan penduduk atau wilayah atau negeri.

2. Makna dari Reit Kematian Kasar dengan mudah dapat dimengerti oleh khalayak

3. Proses perhitungannya mudah dan cepat data yang dibuhkan minimal.

4. Meskipun direncanakan untuk melakukan analisa terperinci cari tingkat-tingkat kematian,

Reit Kematian Kasar memberikan gambaran pendahuluan yang berguna baik mengenai
tingkat maupun kecenderungan-kecenderungan kematian.Jika Reit Kematian Kasar memberikan
gambaran mengenai keadaan mortalitas penduduk secara keseluruhan, maka Reit-reit Kematian
Khusus memberikan keadaan tingkat mortalitas dari kelompok penduduk berdasarkan
karakteristik tertentu seperti umur, jenis kelamin, lapangan pekerjaan, etnis, dan sebagainya.Di
samping pada unsur-unsur tua, reit kematian yang tinggi umumnya terdapat pada umur-umur
yang sangat muda.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola dan Reit Kematian

Dalam pembicaraan sebelumnya telah dikemukakan adanya,Reit Kematian Khusus Menurut


Umur dan Jenis Kelamin. Umur pada komponen-komponen dan jenis kelamin merupakan faktor
penting yang bertalian dengan pola dan reit kematian penduduk. Pada usia permulaan fase
kehidupan manusia dan pada usia lanjut kematian umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan
pada usia remaja dan muda. Telah dikemukakan bahwa Reit Kematian Khusus Menurut Umur
biasanya paling rendah pada kelompok usia 10-14 tahun. Reit kematian bagi laki-laki umumnya
sedikit lebih tinggi dari reit kematian bagi perempuan. Ada dugaan bahwa pada kondisi yang
sama, bayi perempuan lebih tahan daripada bayi laki-laki.

Bab V Fertilitas

Berapakah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita semasa hidupnya
disuatu masyarakat merupakan salah satu pertanyaan utama yang bertalian dengan fertilitas.
Fertilitas merupakan performan reproduksi aktual dari seorang wanita atau sekelompok individu,
yang pada umumnya dikenakan pada seorang wanita atau sekelompok wanita, sedangkan paritas
berarti jumlah anak yang telah dipunyai oleh wanita. Kemampuan fisiologis wanita untuk
memberikan kelahiran atau berpartisipasi dalam reproduksi dikenal dengan istilah fekunditas.
Tidak adanya kemampuan ini disebut infekunditas, sterilitas atau infertilitas fisiologis. Istilah

16
sub-fekunditas digunakan bila kemampuan fisiologis itu berada di bawah normal. Pengetahuan
yang cukup dapat dipercaya mengenai proporsi dari wanita yang tergolong subur dan tidak subur
belum tersedia. Ada petunjuk bahwa di beberapa masyarakat yang dapat dikatakan semua wanita
kawin, dan ada tekanan sosial yang kuat terhadap wanita/pasangan untuk mempunyai anak,hanya
sekitar satu atau dua persen saja dari mereka yang telah menjalani perkawinan beberapa tahun
tetapi tidak mempunya anak. Seorang wanita dikatakan subur bila dia pernah melahirkar paling
sedikit seorang bayi hidup.

Stadi-studi demografi mengemai fertilitas memusatkan perhatitan pada fenomena yang


berhubungan dengan reprodukai manusia. Telah berkembangnya berbagai ukuran untuk
mengetahui tingkat-tingkat dan pola-pola fertilitas mencerminkan perhatian yang cukup banyak
dari para ahli terhadap fenomena tersebut.Lebih lanjut telah pula ada usaha-usaha untuk
menyusun kerangka analisa teoritis untuk menerangkan fertilitas manusia.Ukuran-ukuran
Fertilitas dan Reproduksi,Reit Kelahiran Kasar merupakan ukuran kelahiran yang digunakan
meluas. Seperti halnya dengan ukuran Reit Kematian Kasar, untuk menghitung Reit Kelahiran
Kasar data yang diperlukan minimal, proses perhitungannys sederhana, dan tidak sulit
dimengerti umum.

Faktor-faktor yang Menentukan Fertilitas

1. Umur memulai hubungan kelamin

2 Selibat permanen: proporsi wanita yang tak pernah mengadakan hubungan kelamin.

3. Lamanya periode reproduksi sesudah atau di antara masa hubungan kelamin:

4. Abstinensi sukarela

5. Berpantang karena terpaksa (oleh impotensi, sakit, berpisah sementara yang tak dapat
dihindari)

6. Frekwensi hubungan seks (tidak termasuk masa abstinensi).

7. Kesuburan atau kemandulan yang dipengaruhi

8. Menggunakan atau tak menggunakan metode-metode kontrasepsi:

17
9 Kesuburan atau kemandulan yang dipengaruhi oleh:faktor-faktor yang disengaja (misalnya:
sterilisasi).Faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan dan kelahiran dengan selamat

10. Mortalitas janin yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tak disengaja

11. Mortalitas janin oleh faktor-faktor yang disengaja.

BAB III

18
PEMBAHASAN CRITIKAL BOOK REPORT

A.Latar Belakang Masalah Yang dikaji

Buku sudah pastinya memiliki kelebihan ataupun kekurangan. Sama halnya pada buku
demografi umum karangan Syamsul Bardi dan pengantar ilmu kependudukan karangan Said
Rusli . Manfaat dari perbandingan kedua buku ini adalah memperoleh kajian yang memiliki
kualitas penulisannya dalam bidang demografi dan kependudukan. Selain menonjolkan sisi
kelebihan ataupun kekurangannya, makalah ini juga sebagai pemenuhan atas tugas mata kuliah
demografi dan kependudukan . Hal yang menjadi utama dalam sebuah penulisan perbandingan
ini tidak sebatas pada isi buku saja , tetapi sistematika, penyajian, gaya bahasa, kecermatan
ejaan, diksi, yang tidak berhubungan langsung dengan aspek isi. Bahkan, ilustrasi, tata letak atau
hal- hal yang berkenaan dengan teknik percetakan pun bisa menjadi bahan kritikan, selain
menilai kelebihan dan kekuranganya.

B.Permasalahan yang dikaji

1. Apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan kedua buku yang dibandingkan?
2.Apakah buku demografi umum karangan Syamsul Bardi dan pengantar ilmu kependudukan
karangan Said Rusli sudah layak untuk dijadikan bahan pembelajaran??

C.Metode yang digunakan


Metode yang digunakan dalam penulisan critical book review adalah studi pustaka.

D. Analisis critical book review


1.Bab 1 membahas Konsep Dasar Ilmu Kepnedudukan dan Demografi dalam buku demografi
umum karangan Syamsul Bardi membahas defenisi demografi dan studi kependudukan yaitu
bagaimana demografi dalam kajian- kajian ilmu lain seperti antropologi sosial, geografi sosial,
dan sosiologi. Sedangkan pada buku pembanding karangan said rusli membahas juga defenisi
demografi namun tidak membahas kedudukan demografi pada ilmu- ilmu lain tapi buku ini
mencantumkan Teori- teori kependudukan seperti teori malthus oleh Robert malthus dan teori-
teori alamiah lainnya.
2. Bab 2 membahas Sumber Data Demografi, kedua buku secara umum pembahasannya sama
yaitu sensus penduduk, survei penduduk, dan registrasi penduduk. Hanya saja pada buku utama

19
karangan Syamsul Bardi pembahasannya lebih dalam dibanding pada buku kedua karangan Said
Rusli. Pada buku pertama membahas ruang lingkup, kesalahan, pelaksanaan sensus penduduk di
Indonesia. Pada buku kedua juga membahas sejarahh dan sensus penduduk di Indonesia hanya
saja tidak membahas kesalahan pada sensus.
3. Bab 3 tentang Komposisi penduduk. Adapun Kesamaan pada buku 1 dan 2 adalah pembahasan
pada komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Sedangkan perbedaannya adalah
terletak pada pembahasan piramida penduduk. Pada buku pertama tipe-tipe piramida penduduk
ada 3 sedangkan pada buku kedua tipe- tipe piramida penduduk ada 5. Peda buku pembanding
juga menambah pembahasan cara penggambaran piramida penduduk.
4. Selanjutnya pada bab Mortalitas dan Natalitas( Fertilitas ), buku utama karangan Syamsul
Bardi lebih membahas pada pengukuran dan tidak banyak membahas teori sedangkan dan buku
pembanding karangan Said Rusli membahas teori dan pengukuran dari fertilitas dan mortalitas
ditambah lagi dengan tabel kematian.
5. Buku demografi umum karangan Syamsul Bardi dan buku pengantar ilmu kependudukan
karangan said rusli memiliki kelebihan yaitu Sistematika penulisan buku sudah baik, bahasa
dalam menyampaikan materi cukup jelas,tapi kurangya penjelasaan yang di dalam buku belum
dapat dipahami, Buku ini disertai dengan gambar agar memudahkan pembaca dan Materi buku
ini selalu relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada bidang kependudukan dan
demografi. Adapun kelemahan pada buku ini adalah tidak adanya rangkuman dan latihan soal
untuk menambah pemahaman pembaca

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A Kesimpulan

20
Dengan memperbandingkan kedua buku yaitu buku demografi umum karangan Syamsul
Bardi dan pengantar ilmu kependudukan karangan Said Rusli, pembaca dapat menggunakan
kedua buku ini sebagai bahan referensi untuk pembelajaran. Buku karangan Syamsul Bardi
karangan lebih baik untuk dijadikan bahan pembelajaran bagi penulis sendiri. Hal ini
dikarenakan materi yang dipaparkan lengkap serta sesuai dengan topik perkulihan. Kemudian
semua materi yang ada didalamnya tersusun dengan baik. Sehingga pembaca merasa sangat
mudah memahami kajiannya yang menggunakan bahasa yang ringan untuk pembelajaran.
Pada dasarnya setiap buku memiliki kelebihan maupun kekurangannya masing-masing.
Tergantung pada para pembaca bagaimana cara menyikapi dalam mengkaji setiap materi yang
disampaikan.

B. Saran
Kedua buku tersebut, yaitu demografi umum karangan Syamsul Bardi dan pengantar ilmu
kependudukan karangan Said Rusli. Saran penulis yaitu untuk menggunakan kedua buku ini
sebagai bahan ajar agar memperoleh informasi yang lebih spesifik guna memahami setiap kajian
yang disampaikan dosen.

DAFTAR PUSTAKA

Bardi,Syamsul. 2017. Demografi Umum. PeNa : Banda Aceh

21
Rusli Said.1995.Pengantar Ilmu Kependudukan.LP3ES.Jakarta

22