Anda di halaman 1dari 13

Patofisologi2,6

Ketika akar saraf keluar dari tulang belakang dan servikal, akar saraf menjalar ke
lengan. Selama perjalanan, setiap saraf mensuplai sensasi terhadap bagian kulit dari bahu dan
lengan. Saraf ini juga mensuplai signal listrik terhadap beberapa otot untuk menggerakan
lengan atau tangan. Ketika sebuah saraf terganggu atau terjepit baik karena penonjolan tulang
abnormal atau tertekan oleh bagian dari diskus intervertebralis, hal ini menimbulkan masalah
(penekanan dan iritasi) pada saraf sehingga saraf tidak dapat bekerja dengan baik. Hal ini
kemudian menyebabkan kelemahan pada otot yang dipersarafi, rasa tebal pada kulit dan nyeri
pada daerah tersebut. Pada leher, kondisi ini disebut sebagai radikulopati servikal. Kombinasi
faktor seperti mediator inflamasi (substansi P), perubahan respon vaskular, dan edema intra-
neural sebagai respon dari penekanan saraf berkontribusi terhadap timbulnya nyeri radikuler.

Gambar 2. Radikulopati cervical


Sumber : Rachael Lowe, 2012

Herniasi diskus terjadi ketika nukleus pulposus yang memiliki konsistensi seperti jelly
mendorong cincin terluarnya (annulus fibrosus). Diskus berespon terhadap tekanan sebagai
absorber. Meningkatnya tekanan pada diskus dapat menyebabkan diskus menonjol ke kanal
spinalis dan akar-akar saraf.2 Jika diskus mengalami cedera, nukleus dapat keluar. Cedera
terhadap diskus dapat terjadi ketika pergerakan leher memberikan tekanan berlebih terhadap
diskus. Pada cedera ini, robekkan yang parah dari annulus menyebabkan keluarnya nukleus
pulposus keluar dari bagian tengah diskus. Annulus dapat robek atau ruptur dimanapun di
sekitar diskus. Jika annulus robek pada sisi dekat dengan kanal spinalis. Ketika herniasi diskus
menonjol keluar ke kanal spinalis, penonjolan ini memberikan penekanan terhadap akar saraf
yang sensitif, menyebabkan nyeri, rasa tebal, dan kelemahan pada area yang dipersarafi.
Beberapa studi juga menemukan terdapat beberapa zat kimia yang keluar ketika rupturnya
diskus yang kemudian mengiritasi akar saraf, hal ini yang juga menimbulkan beberapa gejala
dari herniasi diskus, terutama nyeri.4,7

Perubahan degeneratif dari diskus lebih sering disebut sebagai artritis atau spondilosis.
Perubahan ini merupakan hal normal dan terjadi pada semua orang. Pada usia pertengahan dan
orang tua, penyakit degeneratif terhadap diskus dapat menyebabkan penonjolan tulang di
sekitar akar saraf (bone spur).4,7 Seiring dengan usia diskus, ketinggian diskus semakin
menurun dan mulai untuk menonjol. Selain itu komponen air pada diskus juga semakin
berkurang, diskus mulai mengering dan menjadi kaku. Hal ini menyebabkan kolapsnya celah
diskus dan ketinggian diskus juga berkurang. Dengan diskus yang ketinggiannya semakin
berkurang, tulang belakang semakin berdekatan satu sama lain. Tubuh berespon terhadap
kolapsnya diskus denngan membentuk tulang baru yang disebut sebagai bone spur (penonjolan
tulang baru yang abnormal) di sekitar diskus untuk memperkuat diskus.4 Penonjolan tulang ini
biasanya terjadi di sisi dalam dari foramen (lubang pada servikal dimana akar saraf keluar dari
tulang belakang dan menjalar ke lengan).4,7 Terbentuknya tulang ini kemudian menyebabkan
kekakuan dari tulang belakang. Selain itu, hal ini juga dapat menyebabkan semakin sempitnya
foramen, semakin kecilnya lubang keluarnya akar saraf pada kolom tulang belakang dan
akhirnya menyebababkan iritasi serta menjepit saraf yang keluar tersebut. Hal ini menyebabkan
gejala yang sama seperti pada herniasi diskus. Iritasi yang terjadi menyebabkan nyeri menjalar
ke arah bawah dari lengan, rasa tebal yang terjadi di area dimana akar saraf yang teriritasi
menyediakan sensai, serta kelemahan dari otot yang disuplai oleh saraf tersebut.4,7

Gejala Klinis

Table 15

Patterns of nerve root compression syndromes

Nerve Pain pattern Weakness Reflexes


root

C2 Occipital, eyes
Nerve Pain pattern Weakness Reflexes
root

C3 Neck, trapezius

C4 Neck, trapezius

C5 Shoulder, lateral UE Deltoid

C6 Lateral forearm, first two digits Biceps Biceps absent

C7 Posterior forearm, third digit Triceps Triceps absent

C8 Medical forearm, fourth and fifth Finger abduction,


digit grip

Dalam kebanyakan kasus, rasa sakit dari radikulopati servikalis dimulai pada leher dan
bergerak ke bawah lengan di daerah yang dilayani oleh saraf yang rusak. Nyeri ini biasanya
digambarkan sebagai rasa terbakar atau tajam. Gerakan tertentu seperti memutar kepala atau
mengejan leher dapat meningatkan rasa sakit. Gejala lain termasuk :3

1) Kesemutan di jari atau tangan


2) Kelemahan pada otot-otot lengan, bahu, atau tangan
3) Hilangnya sensasi
4) Beberapa pasien mengatakan bahwa rasa sakit berkurang ketika tangan mereka
ditempatkan diatas kepala mereka. Gerakan ini untuk sementara dapat mengurangi
tekanan pada akar saraf.
5) Leher terasa kaku, rasa tidak nyaman pada bagian medial skapula.
6) Gejala diperburuk dengan gerakan kepala dan leher, juga dengan regangan pada lengan
yang bersangkutan. Untuk mengurangi gejala tersebut, penderita seringkali
mengangkat dan memfleksikan lengannya di belakang kepala.
7) Lesi pada C5 ditandai dengan nyeri pada bahu dan daerah trapezius, berkurangnya
sensorik sesuai dengan pola dermatomal, kelemahan dan atrofi otot deltoid. Lesi ini
dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan abduksi dan eksorotasi lengan.
8) Lesi pada C6 ditandai dengan nyeri pada trapezius, ujung bahu, dan menjalar hingga
lengan atas anterior, lengan bawah bagian radial, jari ke-1 dan bagian lateral jari ke-2.
Lesi ini mengakibatkan paresthesia ibu jari, menurunnya refleks biseps, disertai
kelemahan dan atrofi otot biseps.
9) Lesi pada C7 ditandai dengan nyeri bahu, area pektoralis dan medial aksila,
posterolateral lengan atas, siku, dorsal lengan bawah, jari ke-2 dan ke-3, atau seluruh
jari. Lesi ini dapat mengakibatkan paresthesia jari ke-2, ke-3, dan juga jari pertama,
atrofi dan kelemahan otot triseps, ekstensor tangan, dan otot pektoralis.
10) Lesi pada C8 ditandai dengan nyeri sepanjang bagian medial lengan bawah. Lesi ini
akan mengganggu fungsi otot-otot intrinsik tangan dan sensasi jari ke-4 dan 5 (seperti
pada gangguan nervus ulnaris).

Diagnostik

Anamnesis8,9

Mendapatkan riwayat penyakit yang rinci merupakan hal yang penting untuk menegakkan
diagnosis dari radikulopati servikal. Pemeriksa harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut :

1. Pertama, apa keluhan utama pasien (misalnya : nyeri, mati rasa (baal) kelemahan otot),
dan lokasi dari gejala?
a) Skala analog visual dari 0-10 dapat digunakan untuk menentukan tingkat nyeri yang
dirasakan oleh pasien.
b) Gambar anatomi nyeri juga dapat membantu dokter dalam memberikan suatu
tinjauan singkat pola nyeri pada pasien.
2. Apakah aktivitas dan posisi kepala dapat memperparah atau meringankan gejalanya?
Informasi ini dapat membantu baik untuk mendiagnosis maupun dalam
penatalaksanaannya.
3. Apakah pasien pernah mengalami cedera diarea leher? Jika iya, kapan terjadinya,
seperti apa mekanisme terjadi cederanya, dan apa yang dilakukan pada saat itu?
4. Apakah pasien pernah mengalami episode gejala serupa sebelumnya atau nyeri leher
yang terlokalisir?
5. Apakah pasien memiliki gejala sugestif dari myelopathy servikal, seperti perubahan
gaya berjalan, disfungsi usus atau kandung kemih, atau perubahan sensoris atau
kelemahan pada ekstremitas bawah?
6. Apa pengobatan sebelumnya yang telah dicoba oleh pasien (baik berupa resep dokter
atau mengobati sendiri) :
 Penggunaan dari es dan/atau penghangat
 Obat-obatan (seperti : acetaminophen, aspirin, nonsteroidal anti-inflammatory
drugs [NSAIDs])
 Terapi fisik, traksi, atau manipulasi
 Suntikan
 Operasi
7. Tanyakan riwayat sosial pasien, meliputi olahraga dan posisi pasien, pekerjaan, dan
penggunaan dari nikotin dan / atau alkohol.
8. Kekhasan pasien dengan radikulopati servikal ialah datang dengan mengeluh adanya
ketidaknyamanan pada leher dan lengan. Ketidaknyamanan tersebut dapat berupa sakit
tumpul sampai nyeri hebat seperti rasa terbakar. Biasanya, nyerinya ini menjalar
menuju batas medial skapula, dan keluhan utama pasien ialah nyeri bahu. Ketika
radikulopatinya sedang berlangsung, nyeri tersebut menjalar menuju lengan atas atau
bawah dan menuju tangan, sepanjang distribusi sensori dari radiks saraf yang terlibat.
9. Pasien yang lebih tua kemungkinan memiliki episode sakit leher sebelumnya atau
membeitahukan riwayat memiliki radang sendi tulang servikal atau leher.
10. Herniasi diskus akut dan penyempitan tiba-tiba foramen saraf juga dapat terjadi pada
cedera yang melibatkan ekstensi servikal, lateral bending, atau rotasi dan pembebanan
aksial. Pasien-pasien mengeluh peningkatan rasa sakit dengan posisi leher yang
menyebabkan penyempitan foraminal (misalnya, ekstensi, lateral bending, atau rotasi
menuju sisi yang bergejala).
11. Banyak pasien yang menceritakan bahwa mereka dapat mengurangi gejala
radikularnya dengan mengabduksikan bahunya dan menempatkan tangannya
dibelakang kepala. Manuver ini diduga untuk meringankan gejala dengan mengurangi
ketegangan pada radiks saraf.
12. Pasien mungkin mengeluhkan perubahan sensorik di sepanjang dermatom radiks saraf
yang terlibat, dapat berupa kesemutan, mati rasa (baal), atau hilangnya sensasi.
13. Beberapa pasien mungkin mengeluh kelemahan motorik. Sebagian kecil pasien akan
datang dengan kelemahan otot saja, tanpa rasa sakit yang signifikan atau keluhan
sensorik.

Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi

Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengamatan pasien. Hal yang termasuk di dalam
pemeriksaan ini adalah kepala, postur leher dan gerakan selama percakapan normal. Biasanya,
pasien memiringkan kepala mereka jauh dari sisi cedera dan menahan leher merka yang kaku.
ROM yang aktif biasanya berkurang, terutama di ekstensi, rotasi dan lateral bending, baik
menuju atau jauh dari akar saraf yang terkena. Peningkatan sakit dengan lateral bending yang
jauh dari sisi yang terkena didapatkan dari hasil peningkatan perpindahan herniasi diskus ke
akar saraf, sedangkan nyeri ipsilateral menunjukkan pelampiasan dari akar saraf di lokasi
foramen saraf.

2. Palpasi

Pada palpasi, nyeri biasanya dicatat dari otot paraspinal serviks, dan biasanya lebih terlihat di
sepanjang sisi ipsilateral dari akar saraf yang terkena. Nyeri otot dapat muncul di sepanjang
otot dimana gejala tersebut disebutkan (misalnya tulang belikat medial, lengan proksimal,
epikondilus lateral). Hipertonis atau kejang pada palpasi pada otot-otot yang sakit mungkin
saja terjadi1.

Pada pemeriksaan radikulopati servikal, antara lain akan didapatkan :

 Terbatasnya “range of motion” leher.


 Nyeri akan bertambah berat dengan pergerakan (terutama hiperekstensi).
Tes Lhermitte (Foramina Compression Test). Tes ini dilakukan dengan menekan
kepala pada posisi leher tegak lurus atau miring. Peningkatan dan radiasi nyeri ke
lengan setelah melakukan tes ini mengindikasikan adanya penyempitan foramen
intervertebralis servikal, sehingga berkas serabut sensorik di foramen intervertebra
yang diduga terjepit, secara faktual dapat dibuktikan.
Tes Distraksi. Tes ini dilakukan ketika pasien sedang merasakan nyeri radikuler.
Pembuktian terhadap adanya penjepitan dapat diberikan dengan tindakan yang
mengurangi penjepitan itu, yakni dengan mengangkat kepala pasien sejenak.

Pemeriksaam Penunjang

1. Radiografi atau Foto Polos Roentgen. Tujuan utama foto polos Roentgen adalah untuk
mendeteksi adanya kelainan struktural.
2. MRI dan CT-Scan6
a. MRI merupakan pemeriksaan penunjang yang utama untuk mendeteksi
kelainan diskus intervertebra. MRI selain dapat mengidentifikasi kompresi
medulla spinalis dan radiks saraf, juga dapat digunakan untuk mengetahui
beratnya perubahan degenerative pada diskus intervertebra. MRI memiliki
keunggulan dibandingkan dengan CT-Scan, yaitu adanya potongan sagital dan
dapat memberikan gambaran hubungan diskus intervertebra dan radiks saraf
yang jelas,sehingga MRI merupakan prosedur skrining yang ideal untuk
menyingkirkan diagnose banding gangguan structural pada medulla spinalis dan
radiks saraf.
b. CT-Scan dapat memberikan gambaran struktur anatomi tulang vertebra dengan
baik, dan memberikan gambaran yang bagus untuk herniasi diskus
intervertebra. Namun demikian, sensitivitas CT-Scan tanpa myelography dalam
mendeteksi herniasi masih kurang bila dibandingkan dengan MRI.
3. Nerve Conduction Study (NCS) dan Electromyography (EMG) NCS dan EMG sangat
membantu untuk membedakan asal nyeri atau untuk menentukan keterlibatan saraf,
apakah dari radiks, pleksus saraf, atau saraf tunggal. Selain itu, pemeriksaan ini juga
membantu menentukan lokasi kompresi radiks saraf. Namun bila diagnosis radikulopati
sudah pasti secara pemeriksaan klinis, maka pemeriksaan elektrofisiologis tidak
dianjurkan.
4. Laboratorium
Pemeriksaan darah perifer lengkap, laju endap darah, faktor rematoid, fosfatase
alkali/asam, dan kalsium, urin analisis, berguna untuk penyakit nonspesifik seperti
infeksi.
Diagnosis Banding8,9

Diagnosis banding untuk nyeri pada leher dan bahu sangat luas, termasuk diagnosis yang
berkaitan dengan neurologis, jantung, infeksi, dan penyebab muskuloskeletal. Keganasan
(seperti osteochondroma, tumor esofagus, limfoma, meningitis karsinoma, tumor tiroid) yang
dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan radikulopati servikalis juga dapat menjadi
diagnosis banding untuk nyeri pada leher dan bahu.

Tabel 28. Diagnosis banding radikulopati servikalis

Kondisi Karakteristik
Nyeri kardiak Nyeri radikuler pada ekstremitas atas, kas :
pada bahu dan lengan kiri.
Mielopati spondilotik servikalis Kesulitan pada ketangkasan,perubahan gaya
jalan , disfungsi usus dan kandung kencing,
temuan pada UMN (Upper Motor Neuron)
Sindrom nyeri regional kompleks/distrofi Rasa nyeri atau terbakar pada ekstremitas,
reflex simpatetik perubahan kulit, fluktuasi, vasomotor,
distimia
Entrapment syndrome Kelemahan dan deficit sensoris yang
konsisten dengan distribusi saraf medianus
dan ulnaris, stimulasi langsung pada saraf
akan memunculkan gejala
Herpes zooster Nyeri radikuler sesuai dermatom yang
berkaitan dengan reakivasi infeksi virus
Keganasan Gejala red flag, tumor intra- dan
ekstraspinal, gejala tergantung dari tumor
primer
Sindrome Personage-Turner Nyeri dengan onset akut pada ekstremitas
atas, biasanya disertai dengan kelemahan
dan gangguan sensoris
Rotator cuff impingement Nyeri dan kelemahan pada bahu dan lengan
sisi lateral
Thoracic Outlet syndrome Disfungsi pleksus nervus brakialis bawah
akibat kompresi dari vascular atau penyebab
neurologis

Penatalaksanaan

Non-Bedah

Pengobatan awal untuk radikulopati servikalis adalah non operasi. Pilihan pengobatan non
operasi meliputi:

1) Soft Cervical Collar


Imobilisasi singkat dapat mengurangi gejala pada fase inflamasi. Alat ini berbentuk
seperti sebuah cincin empuk yang membungkus di sekitar leher.8 Penggunaan alat ini
bertujuan agar otot-otot di leher beristirahat dan membatasi gerakan leher. Hal ini dapat
membantu mengurangi penekanan akar saraf yang menyertai pergerakan leher. Soft
cervical collar dipakai untuk jangka waktu yang singkat (1 minggu), penggunaan
jangka panjang dapat menurunkan kekuatan otot-otot di leher.8
2) Terapi Fisik
Terapi fisik membantu mengembalikan ROM (jangkauan gerak) dan kekuatan otot
leher. Terapi ini dapat membantu mengurangi nyeri dan mencegah kekambuhan.
Terapi fisik yang dilakukan dapat berupa ROM ringan dan latihan peregangan yang
dikombinasikan dengan modalitas tambahan seperi panas, es, dan stimulasi
elektrikal.7,8 Dalam beberapa kasus, traksi dapat digunakan untuk lembut meregangkan
sendi dan otot leher. Terapi manipulatif (traksi) dipergunakan untuk terapi jangka
pendek. Komplikasi yang dapat muncul adalah memperparah radikulopati, mielopati,
dan cedera medula spinalis. Namun komplikasi-komplikasi ini jarang terjadi.8
3) Farmakologi2,8
Farmakoterapi berguna untuk penatalaksanaan dan mengobati gejala. Farmakoterapi
dapat berguna untuk mengurangi nyeri akut yang berkaitan dengan radikulopati
servikalis.
a. Obat Anti Inflamasi (NSAID).
NSAID dapat membantu mengurangi gejala akut yang muncul. Pemberian
NSAID selama 2 minggu pada dosis terapi dapat efektif dalam mengurangi
gejala dan mengurangi nyeri. NSAID merupakan piihan yang baik sebagai
terapi line pertama, karena ketersediaanya dan keterjangakuannya. Beberapa
hal yang harus diperahatikan dalam pemberian NSAID adalah usia pasien,
interaksi terhadap pengobatan lain, dan faktor komorbid lain. NSAID, yaitu
aspirin, ibuprofen, dan naproxen, dapat menjadi pilihan
b. Kortikosteroid oral
Kortikosteroid oral biasanya digunakan untuk mengatasi episode akut dari
radikulopati servikalis. Reaksi singkat kortikosteroid oral dapat membantu
mengurangi rasa sakit dengan mengurangi pembengkakan dan peradangan di
sekitar saraf. Penggunaan steroid oral secara berulang dapat menyebabkan
nekrosis avaskuar, hiperglikemi, penambahan berat badan, dan mood swings.
Tingkatan dimana steroid oral dapat memperbaiki gejala dapat menjadi
indikator untuk pengobatan lebih lanjut dengan menggunakan injeksi
kortikosteroid.
c. Injeksi Steroid
Injeksi steroid pada servikal dapat juga digunakan dalam pengobatan
radikulopati servikalis. Prosedur ini dilakukan dengan arahan dari temuan
radiografi. Pasien yang dapat mendapat pengobatan dengan metode ini adalah
pasien yang terkonfirmasi patologi dengan menggunakan MRI atau CT servikal
yang mengalami perbaikan dengan pengobatan steroid oral. Dalam prosedur
ini, steroid yang disuntikkan di dekat saraf yang terkena untuk mengurangi
peradangan lokal, Injeksi dapat disuntikkan diantara lamina (epidural
injection), di foramen (injeki saraf selektif), atau injeksi ke sendi facet di tulang
belakang leher. Meskipun suntikan steroid tidak mengurangi tekanan pada
saraf yang disebabkan oleh foramen sempit atau menonjol atau herniasi diskus,
injeksi ini dapat mengurangi pembengkakan dan mengurangi rasa sakit. Studi
retrospektif dan prospektif menunjukkan bahwa 60% pasien yang sembuh dari
gejala radikuler dan nyeri leher dapat kembali melakukan aktivitasnya.8
d. Narkotika
Obat-obat ini diberikan untuk pasien dengan sakit yang parah yang tidak
berkurang dengan obat-obat pilihan lain. Narkotika biasanya diresepkan untuk
waktu yang terbatas saja. Penggunaan narkotik jangka pendek pada malam hari
seringkali diperlukan. Kortikoseroid epidural dan oral digunakan untuk pasien
dengan gejala yang menetap (tidak membaik).
e. Muscle Relaxant
Muscle relaxants seperti, cyclobenzaprine (Flexeril) dan tizanidine (Zanaflex)
dapat mengurangi nyeri leher akibat peningkatan ketegangan otot. Obat ini
paling efektif untuk keadaan akut. Penggunaan jangka panjang dalam
pengobatan radikulopati servikalis masih belum diketahui secara jelas.
Tricyclic antidepressants dan venlafaxine (Effexor) dapat mengatasi nyeri
radikuler sedang pada pasien yang menolak untuk melakukan tindakan
pembedahan atau tetap merasa nyeri setelah intervensi pembedahan.

Bedah

Jika setelah masa pengobatan nonbedah tidak meredakan gejala, maka tindakan pembedahan
dapat direkomendasikan. Ada beberapa prosedur bedah untuk mengobati radikulopati
srevikalis. Prosedur yang direkomendasikan tergantung dari banyak faktor, termasuk gejala
yang dialami dan lokasi akar saraf yang terlibat.8

Tindakan pembedahan direkomendasikan bila muncul tanda-tanda seperti :2

1) Nyeri yang tidak tertahankan


2) Peningkatan kelemahan
3) Peningkatan rasa tebal
4) Menyebabkan masalah pada kaki

Prognosis

Pada beberapa pasien dengan radikulopati servikalis yang diakibatkan oleh kompresi dari akar
saraf ini, dapat membaik tanpa pengobatan yang spesifik. Pada sebuah penelitian yang
dilakukan di Minnesota, 90% pasien dengan radikulopati servikalis sembuh tanpa gejala klinis
apapun atau hanya mengalami sedikit kelumpuhan. Radikulopati servikalis juga dapat
mengalami kekambuhan.

BAB III

SIMPULAN
Radikulopati servikalis merupakan sindrom nyeri dan atau defisit sensorimotor yang
disebabkan oleh kompresi dari satu atau lebih akar saraf servikal yang kemudian
mengakibatkan disfungsi akar saraf pada servikal. Penyebab dari radikulopati bervariasi.
Semua penyebab dari radikulopati servikalis ini menyebabkan kompresi dan gangguan dari
keluarnya akar saraf servikal. Penyebab tersering dari radikulopati servikalis adalah perubahan
degeneratif yang terjadi pada tulang belakang seirin bertambah usia dan cedera yang
menyebabkan herniasi atau penonjolan diskus intervertebral. Pada pasien muda radikulopati
servikal yang terjadi merupakan akibat dari herniasi diskus intervertebralis (cedera akut).
Sedangkan pada pasien usia tua, radikulopati servikal lebih sering terjadi karena penyempitan
foramen. Untuk penegakkan diagnosis dari radikulopati servikalis, perlu untuk dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisik (ROM, Tes Lhermitte, Tes distraksi). Adapun pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan adalah foto polos roentgen, MRI, CT-Scan, Myelografi, EMG,
dan pemeriksaan laboratorium. Pasien dengan radikulopati servikalis dapat menjadi lebih baik
dari waktu ke waktu dan tidak memerlukan pengobatan. Pengobatan yang dapat dilakukan
dapat bersifat non bedah dan bedah.

Daftar Pustaka
1. Malanga G. Cervical Radiculopathy: Background, Epidemiology, Functional Anatomy.
Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 28 Des 2018]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/94118-overview.
2. Eubanks J. Cervical Radiculopathy : Nonoperative Management of Neck Pain and
Radicular Syndrome. Am Fam Physician. 2010 [cited 28 Des 2018]; 81(1):33-40.
Available from: http://www.aafp.org/afp/2010/0101/p33.html.
3. Iyer S, Kim HJ. Cervical radiculopathy. Curr Rev Musculoskelet Med. 2016 [cited 28
Des 2018]; 9(3): 272–280.
4. Rodway I. Cervical Radiculopathy (Pinched Nerve)-OrthoInfo – AAOS
Orthoinfo.aaos.org. 2015 [cited 28 Des 2018]. Available from:
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00332
5. Caridi JM, Pumberger M, Hughes AP. Cervical radiculopathy : a review. HSS J. 2011
Oct; 7(3): 265–272.
6. Corey D, Comaue D. Cervical Radiculopathy. Med Clin N Am . 2014 [cited 28 Des
2018];98(4):791-799. Available from: http://acmfr.org/descargas/radiculopatia-
cervical1.pdf.
7. Anonim. Cervical Radiculopathy. University of Maryland Medical Center. 2003 [cited
27 Des 2018.
8. Corey D, Comaue D. Cervical Radiculopathy. Med Clin N Am. 2014 [cited 28 Des
2018];98(4):791-799. Available from: http://acmfr.org/descargas/radiculopatia-
cervical1.pdf
9. Malanga G. Cervical Radiculopathy: Background, Epidemiology, Functional Anatomy
[Internet]. Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 17 jan 2019]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/94118-overview