Anda di halaman 1dari 2

Perjanjian Internasional

Terdapat berbagai kesepakatan internasional yang bertujuan untuk melindungi komunitas hayati
unik serta karakteristik penting dari ekosistem. Kesepakatan internasional mengenai pengelolaan
habitat merupakan pelengkap yang memperkuat upaya pemerintah berbagai negara. Diantaranya
adalah (Primack, 1988)

a. Konvensi Lahan Basah Ramsar


Yaitu mengenai lahan basah yang ditetapkan tahun 1971, bertujuan untuk menahan laju
kerusakan lahan basah terutama yang berperan sebagai habitat pendukung burung air
bermigrasi. Selain itu juga untuk melindungi nilai-nilai lahan basah, termasuk dalam aspek
ekologi, ilmiah, ekonomi, budaya dan rekreasi (Hails, 1996). Dalam konvensi ini, tercakup
berbagai kesepakatan mengenai perairan tawar, muara dan pesisir. Hingga oktober 2006,
tercatat 153 negara telah menandatangani konvensi Ramsar. Di Indonesia contoh lahan
basah yang ditentukan sebagai lokasi Ramsar adalah Taman Nasional Berbak di Jambi,
Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat dan Taman Nasional Wasur di
Papua.
b. Konvensi mengenai Warisan Dunia
Merupakan kerjasama antara UNESCO, IUCN dan International Council on Monuments
and Sites. Tujuan Konvensi ini adalah melindungi kawasan budaya dan kawasan alam yang
penting secara internasional melalui Program Situs Warisan Dunia (World Heritage Site
Program). Konvensi ini mengakui bahwa masyarakat dunia turut berkewajiban memberi
dukungan serta bantuan finansial untuk melestarikan Warisan Dunia. Berbagai wilayah
yang menjadi wilayah utama konservasi dunia adalah: Taman Nasional Serengeti di
Tanzania, Hutan Tropika Humida di Queensland, Air Terjun Iguacu di Brasil, dan banyak
lokasi lainnya. Di Indonesia, Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Komodo
telah ditunjuk sebagai lokasi Situs Warisan dunia pada tahun 1991, disusul TN Lorentz
(1999), TN Gunung Leuser dan TN Kerinci Seblat (2004) dan TN Bukit Barisan Selatan
menyusul.
c. Program Perlindungan Biosfer (Man and Biosphere)
Cagar biosfer dirancang untuk menjadi model atau contoh bahwa upaya konservasi dan
pembangunan berkelanjutan dapat tersinkronisasi serta dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat setempat. Pada tahun 2003, cagar biosfer ditetapkan di 97 Negara. Di
Indonesia, sejauh ini cagar biosfer yang telah ditetapkan berada di : Leuser, Siberut,
Cibodas, Tanjung Putting, Lore Lindu dan Komodo

Menurut Primack (1988), ketiga konvensi diatas (Bersama berbagai ketetapan Konvensi
Keanekaragaman Hayati), membentuk konsesus yang komprehensif mengenai konservasi yang
tepat bagi kawasan konservasi serta tipe-tipe habitat tertentu. Selain itu juga terdapat persetujuan
internasional terbatas yang melindungi ekosistem dan habitat unik pada kawasanertentu.
Perjanjian internasional lain telah diratifikasi untuk mencegah maupun membatasi polusi yang
merupakan ancaman lingkungan tingkat nasional maupun internasional. Konvensi Internasional
Polusi Udara Lintas batas Berjarak Jauh di Eropa menyatakan bahwa polusi udara mapu
menembus jarak jauh hingga membawa dampak luas (hujan asam, proses pengasaman danau dan
kematian hutan). Polusi yang terjadi di lautan juga memerlukan perhatia khusus, karena sebagia
besar lautan dunia meupakan perairan internasional yang tidak berada dalam pengawasan suatu
negara. Polutan dapat jauh menyebar ke wilayah lainnya. Perjanjian yang menyoroti tentang polusi
lautan adalah Perjanjian Pencegahan Polusi Laut yang diakibatkan Pembuangan Limbah dan
Bahan Lain, serta Regional Seas Convention dari United Nations Environmental Programme
(UNEP).

Daftar Pustaka

Primack, R.B. 1988. Biologi Konservasi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.