Anda di halaman 1dari 5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Terjadinya Manajemen Konflik


Sejarah terjadinya suatu konflik pada suatu organisasi dimulai seratus tahun yang lalu,
dimana konflik adalah suatu kejadian yang alamiah dan peristiwa yang pasti terjadi di
organisasi. Pada awal abad ke-20, konflik diindikasikan sebagai suatu kelemahan manajemen
pada suatu organisasi yang harus dihindari. Konflik sebenarnya dapat dihindari dengan
mengarahkan staf kepada tujuan yang jelas dalam melaksanakan tugas dan memfasilitasi agar
staf dapat mengekspresikan ketidakpuasannya secara langsung, sehingga masalah tidak
menumpuk dan bertambah banyak.
Konflik dapat berupa sesuatu yang kualitatif atau kuantitatif. Meskipun konflik berakibat
terhadap stress, tetapi dapat meningkatakan produksi dan kreativitas. Manajemen konflik
yang konstruktif akan menghasilkan lingkungan yang kondusif untuk didiskusikan sebagai
suatu fenomena utama, komunikasi yang terbuka melalui pengutaraan perasaan, dan tukar
pikiran serta tanggung jawa yang menguntungkan dalam menyelesaikan suatu perbedaan
(Erwin, 1992).

2.2 Sumber Konflik


Beberapa sumber konflik dalam organisasi dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut :
a. Keterbatasan sumber daya.
b. Perbedaan tujuan.
c. Ketidakjelasan peran.
d. Hubungan dalam pekerjaan.
e. Perbedaan antar individu.
f. Masalah organisasi.
g. Masalah dalam komunikasi.

2.3 Kategori Konflik


Didalam organisasi, konflik dipandang secara vertical dan horizontal (Marquis dan
Huston, 1998). Konflik vertical terjadi antara atasan dan bawahan. Konflik horizontal terjadi
antara staf dengan posisi dan kedudukan yang sama, misalnya konflik yang meliputi
wewenang, keahlian, da praktik. Konflik dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :
a. Konflik Intrapersonal
Konflik yang terjadi pada individu sendiri. Keadaan ini merupakan masalah
internal untuk mengklarifikasi nilai dan keinginan dari konflik yang terjadi.
b. Konflik Interpersonal
Konflik interpersonal terjadi antara dua orang atau lebih dimana nilai, tujuan, dan
keyakinan berbeda.
c. Konflik Antarkelompok (Intergroup)
Konflik terjadi antara dua atau lebih, kelompok, departemen, atau organisasi.
Sumber konflik jenis ini adalah hambatan dalam mencapai kekuasaan dan otoritas
(kulitas jasa layanan), serta keterbatasan prasarana.

2.4 Proses Konflik


Proses konflik dibagi menjadi beberapa tahapan, sebagai berikut:
a. Konflik Laten
Tahapan konflik yang yang terjadi terus-menerus (laten) dalam suatu organisasi.
Misalnya, kondisi tentang keterbatasan staf dan perubahan yang cepat.
b. Konflik yang dirasakan (felt konflik)
Konflik yang terjadi karena adanya sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman,
ketakutan, tidak percaya, dan marah.

c. Konflik yang tampak / sengaja dimunculkan


Konflik yang sengaja dimunculkan untuk dicari solusinya. Tindakan yang
dilaksanakan mungkin menhindar, kompetisi, debat, atau mencari penyelesaian konflik.
d. Resolusi Konflik
Resolusi konflik adalah suatu penyelesaian masalah dengan cara memuaskan
semua orang yang terlibat didalamnya dengan prinsip win-win solution.
e. Konflik Aftermathi
Konflik aftermath merupakan konflik yang terjadi akibat dari tidak
terselesaikannya konflik yang pertama.

2.5 Penyelesaian Konflik

Konflik Laten

Konflik yang Konflik yang dialami


dirasakan

Konflik yang tampak


2.6 Kunci Langkah dalam Manajemen Konflik
a. Set the tone : kendalikan diri dan jangan ada ancaman.
b. Get the feeling : beri kesempatan untuk mengekspresikan perasaan.
c. Get the fact : mendengarkan dan mengamati dengan saksama.
d. Ask for help : beri kesempatan karyawan untuk mencari solusi yang terbaik dan gali
konsekuensi dari keputusan yang akan dibuat.
e. Get a commitmen : komitemen dan pengorbanan.
f. Follow up : tindak lanjuti secara konsisten.

2.7 Beberapa Strategi Penyelesaian Konflik


Strategi penyelesaian konflik dapat dibedakan menjadi enam macam :
a. Kompromi atau negosiasi
Suatu strategi penyelesaian konflik dimana semua yang terlibat saling menyadari
dan sepakat pada keinginan bersama.
b. Kompetisi
Strategi ini dapat diartikan sebagai win-lose situation. Penyelesaian ini
menekankan hanya ada satu orang atau kelompok yang menang tanpa
mempertimbangkan yang kalah.
c. Akomodasi
Istilah lain yang sering digunakan adalah cooperative situation. Konflik ini
berlawanan dengan kompetisi.
d. Smoothing
Teknik ini merupakan penyelesaian konflik dengan cara mengurangi komponen
emosional dalam konflik.
e. Menghindar
Semua yang terlibat dalam konflik, pada strategi ini menyadari tentang masalah
yang dihadapi, tetapi memilih untuk menghindar atau tidak menyelesaikan masalah.
f. Kolaborasi
Strategi ini merupakan strategi win-win solution. Dalam kolaborasi, kedua pihak
yang terlibat menentukan tujuan bersama dan bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan
(Bowditch dan Buono, 1994).