Anda di halaman 1dari 39

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN
SISTEM REPRODUKSI PADA GANGGUAN MENSTRUASI
ABNORMAL UTERINE BLEEDIN / PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

Oleh :

1. Fitroh Nasrowi (1811010)

2. Luluk Arif (1811018)

3. Suhartiningsih (1811027)

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHTAN HANG TUAH

SURABAYA

2018 / 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat-Nya


sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah asuhan keperawatan, yang
berjudul “Abnormal Uterine Bleeding / Perdarahan Uterus Abnormal”. Penyusunan
makalah asuhan keperawatan ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas di Stikes Hang Tuah
Surabaya.

Dalam Penyusunan makalah asuhan keperawatan ini penulis merasa masih


banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran
dari semua pihak penulis harapkan, demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam
menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :

1. R. Khairiyah, S.Kep, Ns., M.Kep. selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Keperawatan
Maternitas.
2. Rekan-rekan S1 Keperawatan .
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan
bantuan dalam penulisan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
para pembaca pada umumnya dalam memajukan pendidikan. Semoga Allah SWT selalu
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, amin.

Surabaya, 30 April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................... ii

Daftar Isi ........................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1

Latar Belakang ................................................................................................... 1

Tujuan ................................................................................................................ 2

BAB II TINJAUAN TEORI .......................................................................................... 3

Pengertian .......................................................................................................... 3

Etiologi ............................................................................................................. 3

Klasifikasi .......................................................................................................... 4

Klasisikasi .......................................................................................................... 6

Patofisiologi ....................................................................................................... 14

Faktor Resiko ..................................................................................................... 15

Gambaran Klinis ............................................................................................... 16

Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................... 21

pentalaksanaan ................................................................................................... 23

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN .......................................................................... 28

Pengkajian ........................................................................................................... 28

Analisa data ....................................................................................................... 29

Diagnosa Keperawatan ...................................................................................... 29

Intervensi .......................................................................................................... 30

BAB IV PENUTUP ........................................................................................................ 33

Kesimpulan ........................................................................................................ 33

Saran ................................................................................................................... 33

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 34

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini perempuan menghadapi berbagai permasalahan. Salah satu permasalahan yang
dihadapi seorang perempuan adalah gangguan haid. Gangguan haid ini mempunyai manifestasi
klinis yang bermacam-macam tergantung kondisi serta penyakit yang dialami seorang perempuan.
Gangguan perdarahan uterus abnormal (AUB - Abnormal Uterine Bleeding )
merupakan suatu penyakit, di mana terjadi perdarahan abnormal di dalam atau di luar siklus haid
oleh karena gangguan mekanisme kerja poros hipotalamus – hipofisis – ovarium - endometrium.
Perdarahan ini dapat terjadi pada setiap umur antara menarche dan menopause. Tetapi, kelainan
ini lebih sering dijumpai sewaktu masa permulaan dan masa akhir fungsi ovarium. Dua pertiga
dari wanita-wanita yang dirawat di rumah sakit untuk perdarahan abnormal berumur di atas 40
tahun, dan 3 % di bawah 20 tahun. Sebetulnya dalam praktek banyak dijumpai pula perdarahan
abnormal dalam masa pubertas, akan tetapi karena keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri,
jarang diperlukan perawatan di rumah sakit. Klasifikasi jenis endometrium yaitu jenis sekresi atau
non sekresi sangat penting dalam hal menentukan apakah perdarahan yang terjadi jenis ovulatoar
atau anovulatoar.
Adapun gambaran terjadinya perdarahan uterus abnormal antara lain perdarahan sering
terjadi setiap waktu dalam siklus haid. Perdarahan dapat bersifat sedikit-sedikit,
terus-menerus atau banyak dan berulang-ulang dan biasanya tidak teratur. Penyebab
perdarahan uterus abnormal sulit diketahui dengan pasti tapi biasanya dijumpai pada sindroma
polikistik ovarii, obesitas, imaturitas dari poros hipotalamik – hipofisis - ovarium,
misalnya pada masa menarche, serta ganguan stres bisa mengakibatkan manifestasi penyakit ini.
Diagnosis perdarahan uterus abnormal memerlukan suatu anamnesis yang cermat. Karena
dari anamnesis yang teliti tentang bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklus
yang pendek atau oleh oligomenorea / amenorea, sifat perdarahan, lama perdarahan, dan
sebagainya. Selain itu perlu juga latar belakang keluarga serta latar belakang emosionalnya. Pada
pemeriksaan umum perlu diperhatikan tanda-tanda yang menunjukkan ke arah kemungkinan
penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit menahun dan lain-lain. Pada pemeriksaan
ginekologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainan - kelainan organik yang menyebabkan
perdarahan abnormal (polip, ulkus, tumor,kehamilan terganggu). Pada seorang perempuan yang

1
belum menikah biasanya tidak dilakukan kuretase tapi wanita yang sudah menikah sebaiknya
dilakukan kuretase untuk menegakkan diagnosis.
Penanganan atau penatalaksanaan perdarahan uterus disfungsional sangat komplek, jadi
sebelum memulai terapi harus disingkirkan kemungkinan kelainan organik.
Adapuntujuan penatalaksaan perdarahan uterus abnormal adalah menghentikan perdarahan serta
memperbaiki keadaan umum penderita. Terapi yang dapat diberikan antara lain kuretase pada
panderita yang sudah menikah, tetapi pada penderita yang belum menikah biasanya diberikan
terapi secara hormonal yaitu dengan pemberian estrogen, progesteron, maupun pil kombinasi.
Adapun tujuan pemberian hormonal progesteron adalah untuk memberikan keseimbangan
pengaruh pemberian estrogen. Dan pemberian pil kombinasi bertujuan merubah endometrium
menjadi reaksi pseudodesidual.

B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Melalui penulisan laporan ini kami berharap mampu mengkaji, mengidentifikasi,
menganalisis dan melaksanakan asuhan kebidanan khususnya dalam hal penanganan
perdarahan uterus abnormal terutama bagi mahasiswa.
b. Tujuan Khusus
1. Dengan disusunnya laporan ini mahasiswa diharapkan :
2. Mahasiswa dapat mengumpulkan sampai dengan menganalisa data
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah
4. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kebutuhan segera
5. Mahasiswa dapat merencanakan asuhan kebidanan yang telah dilakukan
6. Mahasiswa dapat melaksanakan asuhan kebidanan
7. Mahasiswa dapat mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI
ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB)

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. PENGERTIAN
Abnormal Uterine Bleeding/ Perdarahan Uterus Abnormal merupakan
perdarahan yang terjadi diluar siklus menstruasi yang dianggap normal.
Perdarahan Uterus Abnormal dapat disebabkan oleh faktor hormonal, berbagai
komplikasi kehamilan, penyakit sistemik, kelainan endometrium (polip), masalah-
masalah serviks / uterus (leiomioma) / kanker. Namun pola perdarahan abnormal
seringkali sangat membantu dalam menegakkan diagnosa secara individual.
(Ralph. C Benson, 2009).
Perdarahan uterus abnormal (PUA) meliputi semua kelainan haid baik
dalam hal jumlah maupun lamanya. Manifestasi klinis dapat berupa perdarahan
banyak, sedikit, siklus haid yang memanjang atau tidak beraturan
Terminologi menoragia saat ini diganti dengan perdarahan haid banyak
atau heavy menstrual bleeding (HMB) sedangkan perdarahan uterus abnormal
yang disebabkan faktor koagulopati, gangguan hemostatis lokal endometrium dan
gangguan ovulasi merupakan kelainan yang sebelumnya termasuk dalam
perdarahan uterus disfungsional (PUD).

B.ETIOLOGI

Sebab-sebab organik

Perdarahan dari uterus, tuba, dan ovarium disebabkan oleh kelainan pada:

1) Serviks uteri, seperti polipus servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada
porsio uteri, karsinoma servisis uteri;
2) Korpus uteri, seperti polip endometrium, abortus iminens, abortus sedang
berlangsung, abortus inkompletus, mola hidatidosa, koriokarsinoma,
subinvolusio uteri, karsinoma korporis uteri, sarkoma uteri, mioma uteri;
3) Tuba Falopii, seperti kehamilan ektoplik terganggu, radang tuba, tumor tuba;
4) Ovarium, seperti radang ovarium, tumor ovarium.
3
Sebab-sebab fungsional
Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik,
dinamakan perdarahan disfungsional. Perdarahan disfungsional dapat terjadi pada
setiap umur antara menarche dan menopause. Tetapi , kelainan ini lebih sering
dijumpai sewaktu masa permulaan dan masa akhir fungsi ovarium. Dua pertiga dari
wanita-wanita yang dirawat di rumah sakit untuk perdarahan disfungsional berumur
diatas 40 tahun, dan 3% dibawah 20 tahun. Sebetulnya dalam praktek banyak
dijumpai pula perdarahan disfungsional dalam masa pubertas, akan tetapi karena
keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri, jarang diperlukan perawatan di rumah
sakit.

C. KLASIFIKASI

Tabel Pembagian PUA

1. Perdarahan uterus abnormal akut


Perdarahan haid yang banyak sehingga perlu dilakukan penanganan yang
cepat untuk mencegah kehilangan darah. Perdarahan uterus abnormal akut
dapat terjadi pada kondisi PUA kronik atau tanpa riwayat sebelumnya.

2. Perdarahan uterus abnormal kronik


Merupakan terminologi untuk perdarahan uterus abnormal yang telah terjadi
lebih dari 3 bulan. Kondisi ini biasanya tidak memerlukan penanganan yang
cepat dibandingkan PUA akut.

4
3. Perdarahan tengah (intermenstrual bleeding)
Perdarahan haid yang terjadi di antara 2 siklus haid yang teratur. Perdarahan
dapat terjadi kapan saja atau dapat juga terjadi di waktu yang sama setiap
siklus. Istilah ini ditujukan untuk menggantikan terminologi metroragia.

Berdasarkan International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO),


terdapat sembilan kategori utama yang disusun sesuai dengan akronim “PALM-
COEIN” yakni; polip, adenomiosis, leiomioma, malignancy and hyperplasia,
coagulopathy, ovulatory dysfunction, endometrial, iatrogenik dan not yet classified.

Kelompok “PALM” merupakan kelainan struktur yang dapat dinilai dengan


berbagai teknik pencitraan dan atau pemeriksaan histopatologi. Kelompok COEIN
merupakan kelainan non struktur yang tidak dapat dinilai dengan teknik pencitraan

atau histopatologi.

Klasifikasi PUA berdasarkan FIGO.

1) Polip (PUA-P)
 Definisi: Pertumbuhan lesi lunak pada lapisan endometrium uterus, baik
bertangkai maupun tidak, berupa pertumbuhan berlebih dari stroma dan
kelenjar endometrium dan dilapisi oleh epitel endometrium. Biasanya
terjadi pada fundus dan dapat melekat dengan adanya tangkai yang ramping
(bertangkai) atau dasar yang lebar (tidak bertangkai). Kadang-kadang polip
prolaps melalui serviks.

5
 Gejala:
o Polip biasanya bersifat asimptomatik, tetapi dapat pula meyebabkan
PUA, paling umum berupa perdarahan banyak dan di luar siklus atau
perdarahan bercak ringan pasca menopause.
o Lesi umumnya jinak, namun sebagian atipik atau ganas.
 Diagnostik:
o Diagnosis polip ditegakkan berdasarkan pemeriksaan USG dan atau
histeroskopi, dengan atau tanpa hasil histopatologi.

( Gambaran USG polip endometrium )

(gambaran histeroskopi polip endometrium)

o Histopatologi pertumbuhan eksesif lokal dari kelenjar dan stroma


endometrium yang memiliki vaskularisasi dan dilapisi oleh epitel
endometrium.

6
Gambar Histopatologi polip endometrium
 Terapi:
o Eksisi, namun cenderung berulang.
o Untuk terapi definitif dapat dilakukan histerektomi, namun jarang
dilakukan untuk polip endometrium yang jinak.

2) Adenomiosis (PUA-A)
 Definisi: Dijumpainya jaringan stroma dan kelenjar endometrium ektopik
pada lapisan miometrium.
 Gejala:
o Nyeri haid, nyeri saat senggama, nyeri menjelang atau sesudah haid,
nyeri saat buang air besar, atau atau nyeri pelvik kronik.
o Gejala nyeri tersebut di atas dapat disertai dengan perdarahan uterus
abnormal berupa perdarahan banyak yang terjadi dalam siklus.
 Diagnostik:
o Pemeriksaan Fisik:
 Fundus uteri membesar secara difus.
 Adanya daerah adenomiosis yang melunak, dapat diamati tepat
sebelum atau selama permulaan menstruasi.
o Kriteria adenomiosis ditentukan berdasarkan kedalam jaringan
endometrium pada hasil histopatologi. Hasil histopatologi menunjukkan
dijumpainya kelenjar dan stroma endometrium etopik pada jaringan
miometrium.
o Adenomiosis dimasukkan dalam sistem klasifikasi berdasarkan
penelitian MRI dan USG. Mengingat terbatasnya fasilitas MRI,
pemeriksaan USG cukup untuk mendiagnosis adenomiosis. Hasil USG

7
menunjukkan jaringan endometrium heteropik pada miometrium dan
sebagian berhubungan dengan adanya hipertrofi miometrium.

Gambar Penebalan dinding uterus dan jaringan kelenjar


endometrium pada adenomiosis.

 Diagnosis banding
o Kehamilan.
o Leiomioma submukosa.
o Hipertrofi uteri idiopatik.
o Karsinoma endometrium.
 Terapi:
o Simptomatik: diberikan jika masih ingin mempertahankan
kemampuan untuk memiliki anak.
o Reseksi.
o Terapi kuratif: histerektomi.

3) Leiomioma (PUA-L)
 Definisi: pertumbuhan jinak otot polos uterus pada lapisan miometrium.
 Jenis berdasarkan lapisan uterus tempat tumbuhnya:
o Submukosa
o Intramural
o Subserosa.

8
Gambar Subklasifikasi Leiomioma

Mioma submukosa dan subserosa ada yang bertangkai (pedunculated).


Mioma submukosa bertangkai seringkali sampai keluar melewati ostium
uteri eksternum yang disebut sebagai mioma lahir (myoom geburt).5

Gambar Jenis-jenis mioma berdasarkan lapisan tempat tumbuhnya di uterus


 Gejala:
o Perdarahan uterus abnormal berupa pemanjangan periode, ditandai
oleh perdarahan menstruasi yang banyak dan/atau menggumpal,
dalam dan di luar siklus.
o Pembesaran rahim (bisa simetris ataupun berbenjol-benjol).
9
o Seringkali membesar saat kehamilan.
o Penekanan terhadap organ sekitar uterus, atau benjolan pada dinding
abdomen.
o Nyeri dan/atau tekanan di dalam atau sekitar daerah panggul.
o Peningkatan frekuensi berkemih atau inkontinensia.
 Diagnosis Banding:
o Kehamilan.
o Adenomiosis.
o Karsinoma uteri.
 Pemeriksaan Penunjang:
o Darah lengkap dan urine lengkap.
o Tes kehamilan.
o Dilatasi dan kuretase pada penderita yang disertai perdarahan untuk
menyingkirkan kemungkinan patologi lain pada rahim (hyperplasia
atau adenokarsinoma endometrium).
o USG.

Gambar Mioma subserosa: tampak gambaran massa hipoekhoik


yang menonjol ke luar dinding uterus.

10
Gambar Mioma intramural: tampak gambaran massa
hipoekhoik yang berada di dalam dinding uterus.

Gambar Mioma submukosa: tampak gambaran massa


hipoekhoik yang menekan endometrial line.

 Terapi:
1. Observasi: jika uterus diameternya kurang dari ukuran uterus pada masa
kehamilan 12 minggu tanpa disertai penyulit.
2. Ekstirpasi: biasanya untuk mioma submukosa bertangkai atau mioma
lahir/geburt, umumnya dilanjutkan dengan tindakan dilatasi dan
kuretase.
3. Laparotomi miomektomi: bila fungsi reproduksi masih diperlukan dan
secara teknis memungkinan untuk dilakukan tidakan tersebut. Biasanya
untuk mioma intramural, subserosa, dan subserosa bertangkai, tindakan
tersebut telah cukup memadai.
4. Laparotomi histerektomi:
 Bila fungsi reproduksi tak diperlukan lagi,
 Pertumbuhan tumor sangat cepat.
11
 Sebagai tindakan hemostatis, yakni dimana terjadi perdarahan terus
menerus dan banyak serta tidak membaik dengan pengobatan.

4) Malignancy and hyperplasia (PUA-M)


 Definisi: pertumbuhan hiperplastik atau pertumbuhan ganas dari lapisan
endometrium.
 Gejala: perdarahan uterus abnormal.
 Diagnostik:
o Meskipun jarang ditemukan, namun hyperplasia atipik dan
keganasan merupakan penyebab penting PUA.
o Klasifikasi keganasan dari hiperplasia menggunakan system
klasifikasi FIGO dan WHO.
o Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi.

5) Coagulopathy (PUA-C)
 Definisi: gangguan hemostatis sistemik yang berdampak terhadap
perdarahan uterus.
 Gejala: perdarahan uterus abnormal
 Diagnostik:
o Terminologi koagulopati digunakan untuk kelainan hemostatik
sistemik yang terkait dengan PUA.
o 13% perempuan dengan perdarahan haid banyak memiliki kelainan
hemostatis sistemik, dan yang paling sering ditemukan adalah
penyakit von Willebrand.

6) Ovulatory Disfunction (PUA-O)


 Definisi: kegagalan ovulasi yang menyebabkan terjadinya perdarahan
uterus.
 Gejala: perdarahan uterus abnormal.
 Diagnostik:

12
o Gangguan ovulasi merupakan salah satu penyebab PUA dengan
manifestasi perdarahan yang sulit diramalkan dan jumlah darah yang
bervariasi.
o Dahulu termasuk dalam criteria perdarahan uterus disfungsional
(PUD).
o Gejala bervariasi mulai dari amenorea, perdarahan ringan dan
jarang, hingga perdarahan haid banyak.
o Gangguan ovulasi dapat disebabkan oleh sindrom ovarium polikistik
(SOPK), hiperprolaktinemia, hipotiroid, obesitas, penurunan berat
badan, anoreksia, atau olahraga berat yang berlebihan.

7) Endometrial (PUA-E)
 Definisi: Gangguan hemostatis local endometrium yang memiliki kaitan
erat dengan terjadinya perdarahan uterus.
 Gejala: perdarahan uterus abnormal.
 Diagnostik:
o Perdarahan uterus abnormal yang terjadi pada perempuan dengan
siklus haid teratur.
o Penyebab perdarahan pada kelompok ini adalah gangguan
hemostatis local endometrium.
o Adanya penurunan produksi faktor yang terkait vasokonstriksi
seperti endothelin-1 dan prostaglandin F2α serta peningkatan
aktivitas fibrinolisis.
o Gejala lain kelompok ini adalah perdarahan tengaha atau perdarahan
yang berlanjut akibat gangguan hemostatis local endometrium.
o Diagnosis PUA-E ditegakkan setelah menyingkirkan gangguan lain
pada siklus haid yang berovulasi.

8) Iatrogenik (PUA-I)
 Perdarahan uterus abnormal yang berhubungan dengan intervensi medis
seperti penggunaan estrogen, progesterin, atau AKDR.

13
 Perdarahan haid di luar jadwal yang terjadi akibat penggunaan estrogen atau
progestin dimasukkan dalam istilah perdarahan sela atau breakthrough
bleeding (BTB).
 Perdarahan sela terjadi karena rendahnya konsentrasi estrogen dalam
sirkulasi yang dapat disebabkan oleh sebagai berikut:
o Pasien lupa atau terlambat minum pil kontrasepsi’
o Pemakaian obat tertentu seperti rifampisin
o Perdarahan haid banyak yang terjadi pada perempuan pengguna anti
koagulan (warfarin, heparin, dan low molecular weight heparin)
dimasukkan ke dalam klasifikasi PUA-C.
9) Not yet classified (PUA-N)
 Kategori ini dibuat untuk penyebab lain yang jarang atau sulit dimasukkan
dalam klasifikasi.
 Kelainan yang termasuk dalam kelompok ini adalah endometritis kronik
atau malformasi arteri-vena.
 Kelainan tersebut masih belum jelas kaitannya dengan PUA.

D. PATOLOGI
Schröder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada uterus
dan ovarium pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan
perdarahan yang dinamakan metropatia hemoragika terjadi karena persistensi
folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan korpus
luteum. Akibatnya, terjadilah hiperplasia endometrium karena stimulasi estrogen
yang berlebihan dan terus–menerus. Penjelasan ini masih dapat diterima untuk
sebagian besar kasus-kasus perdarahan disfungsional.
Akan tetapi, penelitian menunjukkan pula bahwa perdarahan disfungsional
dapat ditemukan bersamaan dengan berbagai jenis endometrium, yakni
endometrium atrofik, hiperplastik, proliferatif, dan sekretoris, dengan endometrium
jenis nonsekresi merupakan bagian terbesar. Pembagian endometrium dalam
endometrium jenis nonsekresi dan endometrium jenis sekresi penting artinya,
kakarena dengan dengan demikian dapat dibedakan perdarahan yang anovulatoar
dan yang ovulatoar. Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik karena kedua jenis
perdarahan disfungsional ini mempunyai dasar etiologi yang berlainan dan
14
memerlukan penanganan yang berbeda. Pada perdarahan disfungsional yang
ovulatoar gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor neuromuskular,
vasomotorik, atau hematologik, yang mekanismenya belum seberapa dimengerti,
sedangkan perdarahan anovulatoar biasanya dianggap bersumber pada gangguan
endokrin.

Siklus Menstruasi

E. FAKTOR RESIKO

Menurut Manuaba edisi 2010 :


1. Gagalnya efek umpan balik positif dari estrogen, pengubahan perifer yang
abnormal dari androgen menjadi estrogen / cacat endometrium yang dapat
berada dalam tingkat reseptor atau dalam sekresi atau pelepasan
prostaglandin.
2. Bila tidak ada sekresi progesteron (anovulasi) & dalam perangsangan yang
terus berlanjut, endometrium akan berproliferasi ,sehingga mencapai tinggi
yang abnormal. Terdapat vaskularitas yang hebat & pertumbuhan kelenjar
yang tanpa dukungan stroma. Endometrium tumbuh melebihi rangsangan
yang ditimbulkan estrogen & perdarahan dengan peluruhan endometrium
secara tidak teratur.

15
3. Kelainan fungsi poros hipotalamus-hipofise-ovarium.
Usia terjadinya :
Perimenars (8-16th) Masa reproduksi Perimenopouse
(16-35 th) (45-65 th)

F. Gambaran Klinis
Perdarahan Ovulatoar
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan
siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk menegakkan
diagnosis perdarahan ovulatoar, perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati
haid. Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali
lagi, maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat menolong. Jika
sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa
adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya:
1. Korpus luteum persistens; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang
bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus dibedakan dari
kehamilan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan panggul
sering menunjukkan banyak persamaan antara keduanya. Korpus luteum
persistens dapat pula menyebabkan pelepasan endometrium tidak teratur
(irregular shedding). Diagnosis irregular shedding dibuat dengan kerokan
yang tepat pada waktunya, yakni menurut Mc Lennon pada hari ke-4 mulainya
perdarahan. Pada waktu ini dijumpai endometrium dalam tipe sekresi
disamping tipe nonsekresi.
2. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting,
menoragia, atau polimenore. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron
disebabkan oleh gangguan LH releasing factor. Diagnosis dibuat, apabila hasil
biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran
endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.
3. Apopleksia uteri : pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya
pembuluh darah dalam uterus.

16
4. Kelainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik, dan gangguan dalam
mekanisme pembekuan darah.
Menurut Isselbacher.Harrison, perdarahan Uterus Disfungsional dapat
dibedakan menjadi penyebab dengan siklus Ovulasi dan penyebab yang
berhubungan dengan siklus anovulasi. Namun ada beberapa kondisi yang
dikaitkan dengan perdarahan rahim disfungsional, antara lain :
a. Alat kontrasepsi IUD / hormonal
Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)
untuk pengendalian kelahiran, juga mungkin mengalami periode yang
berlebihan atau berkepanjangan. Jika Anda mengalami perdarahan berat
saat menggunakan IUD, IUD harus dihapus dan diganti dengan metode
pengendalian kelahiran alternatif. Biasanya terdeteksi segera setelah
menstruasi dimulai.
b. Gangguan trombosit
Merupakan kelainan darah yang paling umum yang menyebabkan
perdarahan >>berlebihan, gangguan trombosit yang paling umum adalah
penyakit von Willebrand. Wanita dengan penyakit von Willebrand
umumnya akan mengalami tidak hanya perdarahan menstruasi yang
berat, tapi mimisan, memar mudah, dan darah dalam tinja.
c. Hormon
Ketidakseimbangan hormon yang mengganggu ovulasi dapat
menyebabkan perdarahan uterus abnormal. Beberapa hal yang dapat
mengganggu keseimbangan hormon yang rumit yang mempengaruhi
ovulasi dan pendarahan, yaitu :
1) Kehamilan  Pada wanita usia subur, kehamilan merupakan
penyebab utama dari periode dilewati.
2) Perimenopause  Perubahan hormonal yang terjadi selama
menjelang menopause (berhentinya menstruasi) menyebabkan
kelainan perdarahan.
3) Stres  Stres hormon seperti kortisol yang diketahui mengganggu
ovulasi.
4) Polycystic ovary syndrome (PCOS)  suatu kondisi di mana
ovarium menjadi penuh dengan kista kecil dan memperbesar.
17
Masalah terjadi ketika kelenjar pituitary memproduksi terlalu banyak
hormon yang disebut luteinizing hormone (LH). Ketidakseimbangan
hormon yang menciptakan hasil meluap-luap lapisan rahim yang
membuat perdarahan tidak teratur.
5) Penyebab Lainnya  Masalah yang berasal dari kelenjar tiroid,
kelenjar pituitary, atau kelenjar adrenal dapat mengganggu ovulasi.
Masalah fisik di dalam rahim dapat menyebabkan perdarahan
abnormal, yaitu :
a) Fibroid  pertumbuhan non-kanker yang menyerang dinding
rahim di minimal 20% dari wanita berusia di atas 35. Fibroid
dapat muncul secara tunggal atau dalam kelompok, dan sekecil
anggur atau sebesar jeruk. Mereka terdiri dari otot dan jaringan
fibrosa, dan dapat menyebabkan aliran berlebihan saat
menstruasi atau pendarahan antara periode.
b) Polip  pertumbuhan non-kanker yang dapat menyerang leher
rahim atau uterus. Polip mungkin begitu kecil sehingga mereka
tidak diketahui, atau mungkin cukup besar untuk menyodok ke
dalam rongga rahim atau panggul dan menyebabkan perdarahan
abnormal.
c) Penyakit radang panggul (PID)  suatu kondisi di mana
saluran tuba menjadi meradang, biasanya karena infeksi seksual
diperoleh. Perdarahan yang tidak teratur adalah salah satu dari
banyak gejala PID.
d) Kanker rahim  pertumbuhan ganas pada rahim. Hal ini dapat
terjadi pada dinding rahim (endometrium) / dalam dinding otot
nya (sarkoma uterus).
e) Kanker endometrium  kanker yang paling umum dari sistem
reproduksi wanita, & hampir selalu menyerang wanita
menopause antara usia 50 - 70. Setiap perdarahan setelah
menopause harus diperiksa segera.
f) Gangguan nutrisi  Wanita dengan lemak tubuh sangat rendah
karena gangguan makan, diet ketat, atau olahraga berlebihan
sering dapat berhenti ovulasi dan menstruasi.
18
Perdarahan anovulatoar

Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan


menurunnya kadar estrogen dibawah tingkta tertentu, timbul perdarahan yang
kadang-kadang bersifat siklis, kadang-kadang tidak teratur sama sekali.

Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut-pautnya dangan jumlah folikel yang pada
suatu waktu fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum
mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel-folikel baru. Endometrium
dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus, dan dari endometrium yang mula-mula
proliferatif dapat terjadi endometrium bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran itu
dijumpai pada sediaan yang diperoleh dengan kerokan, dapat diambil kesimpulan
bahwa perdarahan bersifat anovulatoar.

Walaupun perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap waktu dalam


kehidupan menstrual seorang wanita, namun hal ini paling sering terdapat pada
masa pubertas dan pada masa pramenopause. Pada masa pubertas sesudah
menarche, perdarahan tidak normal disebabkan oleh gangguan atau terlambatnya
proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bahwa pembuatan Releasing
Factor dan hormon gonadotropin tidak sempurna. Pada wanita dalam masa
pramenopause proses terhentinya fungsi ovarium tidak selalu berjalan lancar.

Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada harapan
bahwa lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovulatoar,
pada seorang wanita dewasa dan terutama dalam masa pramenopause dengan
perdarahab tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk menentukan ada tidaknya
tumor ganas.

Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit


metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun,
tumor-tumor ovarium, dan sebagainya.1,5 Akan tetapi, disamping itu, terdapat
banyak wanita dengan perdarahan disfungsional tanpa adanya penyakit-penyakit
tersebut diatas. Dalam hal ini stress yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, baik
didalam maupun di luar pekerjaan, kejadian-kejadian yang mengganggu
keseimbangan emosional seperti kecelakaan, kematian dalam keluarga, pemberian
obat penenang terlalu lama, dan lain-lain, dapat menyebabkan perdarahan
19
anovulatoar. Biasanya kelinan dalam perdarahan ini hanya untuk sementara waktu
saja.

Berdasarakan jenis perdarahan yang muncul, yaitu :

Batasan Pola Abnormalitas Perdarahan

Oligomenorea Perdarahan uterus yang terjadi dengan interval > 35 hari dan
disebabkan oleh fase folikuler yang memanjang.
Polimenorea Perdarahan uterus yg trjadi dgn interval <21 hari & disebabkan
defek fase luteal.
Menoragia Perdarahan uterus yang terjadi dengan interval normal ( 21 – 35
hari) namun jumlah darah haid > 80 ml atau > 7 hari.
Menometroragia Perdarahan uterus yang tidak teratur, interval non-siklik dan dengan
darah yang berlebihan (>80 ml) dan atau dengan durasi yang
panjang ( > 7 hari).
Metroragia/ Perdarahan uterus yang tidak teratur diantara siklus ovulatoir
perdarahan dengan penyebab a.l penyakit servik, AKDR, endometritis, polip,
antara haid mioma submukosa, hiperplasia endometrium, dan keganasan.
Bercak Bercak perdarahan yang terjadi sesaat sebelum ovulasi yang
intermenstrual umumnya disebabkan oleh penurunan kadar estrogen.
Perdarahan Perdarahan uterus yang terjadi pada wanita menopause yang
pasca sekurang-kurangnya sudah tidak mendapatkan haid selama 12
menopause bulan.
Perd.uterus Perdarahan uterus yang ditandai dengan hilangnya darah yang
abnormal akut sangat banyak dan menyebabkan gangguan hemostasisis (hipotensi
, takikardia atau renjatan).
Perdarahan Perdarahan uterus yang bersifat ovulatoir atau anovulatoir yang
uterus disfungsi tidak berkaitan dengan kehamilan, pengobatan, penyebab
iatrogenik, patologi traktus genitalis yang nyata dan atau gangguan
kondisi sistemik.

20
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Wiknjoksastro (2007) & Morgan,Geri dkk (2009), yaitu :
1. Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap
Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya penyakit
sistemik, maka penyelidikan lebih jauh mungkin diperlukan. Abnormalitas
pada pemeriksaan pelvis harus diperiksa dengan USG dan laparoskopi jika
diperlukan.
Perdarahan Pervaginam Durasi
Kuantitas Menorrhagia (Hipermenorrhoe)
Penyemburan Spotting (antar menstruasi, postmenstruasi, post
Spotting (diluar menopause)
menstruasi)
Warna Gejala Penyerta
Merah segar Demam dan nyeri
Noda cokelat Kram uterus dan kehamilan
Petekiae dan Epitaksis
Riwayat penyakit Interval
dahulu Siklik
Kontrasepsi oral Non siklik
AKDR Setelah amenorrhoe
Perdarahan antar menstruasi (misalnya setelah koitus
atau pembilasan)

Perdarahan siklik (reguler) didahului oleh tanda premenstruasi


(mastalgia, kenaikan berat badan karena meningkatnya cairan tubuh,
perubahan mood / kram abdomen ) lebih cenderung bersifat ovulatori.
Sedangkan, perdarahan lama yang terjadi dengan interval tidak teratur
setelah mengalami amenore berbulan–bulan, kemungkinan bersifat
anovulatori.
Peningkatan suhu basal tubuh ( 0,3 – 0,6 C ), peningkatan kadar
progesteron serum ( > 3 ng/ ml ) & perubahan sekretorik pada endometrium
yang terlihat pada biopsi yang dilakukan saat onset perdarahan, semuannya
merupakan bukti ovulasi.
21
Pada pemeriksaan fisik juga ditemukan : Suhu meningkat menandakan
infeksi pelvis, Takikardi dan hipotensi nenandakan hipovolemia (perdarahan
ekstra peritoneal atau intra peritoneal), sepsis, Petekiae atau ekimosis
menandakan kelainan koagulasi.
2. Pemeriksaan abdomen
Inspeksi & palpasi misalnya menunjukkan kehamilan / iritasi
peritoneum. Uterus yang membesar menandakan adanya kehamilan ektopik
maupun missed abortion, uterus yang lebih besar (dari ukuran kehamilan
bila dilihat dari HPHT) kemungkinan menandakan kehamilan mola,
kehamilan ganda / kehamilan dalam suatu uterus fibroid.
3. Pemeriksaan pelvis
Spekulum digunakan untuk memeriksa kuantitas darah & sumber
perdarahan, laserasi vagina, lesi servik, perdarahan ostium uteri, benda
asing. Bimanual digunakan untuk pemeriksaan patologis.
4. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid , dan kadar
HCG, FSH, LH, Prolaktin & androgen serum jika ada indikasi atau skrining
gangguan perdarahan jika ada tampilan yang mengarah kesana.
Deteksi patologi endometrium melalui (a) dilatasi dan kuretase dan
(b) histeroskopi. Wanita tua dengan gangguan menstruasi, wanita muda
dengan perdarahan tidak teratur atau wanita muda ( < 40 tahun ) yang gagal
berespon terhadap pengobatan harus menjalani sejumlah pemeriksaan
endometrium. Penyakit organik traktus genitalia mungkin terlewatkan
bahkan saat kuretase. Maka penting untuk melakukan kuretase ulang dan
investigasi lain yang sesuai pada seluruh kasus perdarahan uterus abnormal
berulang atau berat. Pada wanita yang memerlukan investigasi, histeroskopi
lebih sensitif dibandingkan dilatasi dan kuretase dalam mendeteksi
abnormalitas endometrium
Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang tidak berhasil
dalam uji coba terapeutik.
5. Data Diagnostik Tambahan
a. Biopsi endometrium atau kuretase yang dapat memberikan suatu
diagnosis histologi spesifik.
22
b. Biopsi vulva, vagina atau serviks, lesi harus dibiopsi kecuali jika lesi
khas untuk penyakit trofoblastik metastatik dan dapat berdarah hebat
bila dibiopsi.
c. Cairan serviks untuk perwarnaan gram terutama jika dicurigai adanya
infeksi.
d. Tes kehamilan terhadap hCG. Tes positif kuat mengesankan adanya
jaringan trofoblastik baik intra maupun ekstrauterin.
e. Determinasi serangkaian hematokrit.
f. Tes koagulasi dapat dilakukan bila dicurigai adanya kelainan koagulasi.
g. Tes fungsi tiroid dapat diindikasikan sewaktu evaluasi lanjutan.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut (Wiknjoksastro, 2007) & (Estephan A. 2005), prinsip secara umum yaitu :
1. Menghentikan perdarahan  Langkah-langkah upaya menghentikan
perdarahan adalah sebagai berikut:
a. Kuret (curettage)  Hanya untuk wanita yang sudah menikah.
b. Obat (medikamentosa)
1) Golongan estrogen
Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya: estradiol
valerat (nama generik) yang relatif menguntungkan karena tidak
membebani kinerja liver dan tidak menimbulkan gangguan
pembekuan darah. Jenis lain, misalnya: etinil estradiol, tapi obat ini
dapat menimbulkan gangguan fungsi liver. Dosis dan cara pemberian
:
a) Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 2,5 mg diminum
selama 7-10 hari.
b) Benzoas estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler. (melalui
bokong)
c) Jika perdarahannya banyak, dianjurkan nginap di RS
(opname), dan diberikan Estrogen konyugasi (estradiol
valerat): 25 mg secara intravenus (suntikan lewat selang infus)
perlahan-lahan (10-15 menit), dapat diulang tiap 3-4 jam.
Tidak boleh lebih 4 kali sehari.
23
Estrogen intravena dosis tinggi ( estrogen konjugasi 25 mg
setiap 4 jam sampai perdarahan berhenti ) akan mengontrol secara
akut melalui perbaikan proliferatif endometrium dan melalui efek
langsung terhadap koagulasi, termasuk peningkatan fibrinogen dan
agregasi trombosit. Terapi estrogen bermanfaat menghentikan
perdarahan khususnya pada kasus endometerium atrofik atau
inadekuat. Estrogen juga diindikasikan pada kasus DUB sekunder
akibat depot progestogen ( Depo Provera ). Keberatan terapi ini ialah
bahwa setelah suntikan dihentikan, perdarahan timbul lagi.
2) Obat Kombinasi
Terapi siklik merupakan terapi yang paling banyak
digunakan dan paling efektif. Pengobatan medis ditujukan pada
pasien dengan perdarahan yang banyak atau perdarahan yang terjadi
setelah beberapa bulan amenore. Cara terbaik adalah memberikan
kontrasepsi oral ; obat ini dapat dihentikan setelah 3 – 6 bulan dan
dilakukan observasi untuk melihat apakah telah timbul pola
menstruasi yang normal. Banyak pasien yang mengalami anovulasi
kronik dan pengobatan berkelanjutan diperlukan.
3) Golongan progesterone
Pertimbangan di sini ialah bahwa sebagian besar perdarahan
fungsional bersifat anovulatoar, sehingga pemberian obat
progesterone mengimbangi pengaruh estrogen terhadap
endometrium. Obat untuk jenis ini, antara lain:
a) Medroksi progesteron asetat (MPA): 10-20 mg per hari,
diminum 7-10 hari.
b) Norethisteron: 3×1 tablet, diminum selama 7-10 hari.
c) Kaproas hidroksi-progesteron 125 mg secara intramuskular.
4) OAINS
Menorragia dapat dikurangi dengan Obat Anti Inflamasi
Non Steroid. Fraser dan Shearman membuktikan bahwa OAINS
paling efektif jika diberikan selama 7 hingga 10 hari sebelum onset
menstruasi yang diharapkan pada pasien DUB ovulatori, tetapi
umumnya dimulai pada onset menstruasi dan dilanjutkan selama
24
espisode perdarahan dan berhasil baik. Obat ini mengurangi
kehilangan darah selama menstruasi ( mensturual blood loss / MBL )
dan manfaatnya paling besar pada DUB ovulatori dimana jumlah
pelepasan prostanoid paling tinggi.
2. Mengatur menstruasi agar kembali normal  Setelah perdarahan berhenti,
langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk mengatur siklus menstruasi,
misalnya dengan pemberian: Golongan progesteron: 2×1 tablet diminum
selama 10 hari. Minum obat dimulai pada hari ke 14-15 menstruasi.
3. Transfusi jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%  Terapi yang ini
diharuskan pasiennya untuk menginap di Rumah Sakit atau klinik. Sekantong
darah (250 cc) diperkirakan dapat menaikkan kadar hemoglobin (Hb) 0,75
gr%. Ini berarti, jika kadar Hb ingin dinaikkan menjadi 10 gr% maka kira-
kira perlu sekitar 4 kantong darah.

Penatalaksanaan berdasarkan tipe AUB


1. Perdarahan uterus disfungsi yang anovulatoir
Pil kontrasepsi oral digunakan untuk mengatur siklus haid dan
kontrasepsi. Pada penderita dengan siklus haid tidak teratur akibat anovulasi
kronik (oligo ovulasi), pemberian pil kontrasepsi mencegah resiko yang
berkaitan dengan stimulasi estrogen berkepanjangan terhadap endometrium
yang tidak diimbangi dengan progesteron (“unopposed estrogen stimulation
of the endometrium”). Pil kontrasepsi secara efektif dapat mengendalikan
perdarahan anovulatoir pada penderita pre dan perimenopause. Bila terdapat
kontraindikasi pemberian pil kontrasepsi ( perokok berat atau resiko
tromboflebitis) maka dapat diberikan terapi dengan progestin secara siklis
selama 5 – 12 hari setiap bulan sebagai alternatif.
DOSIS MAKSUD
 Etinil estradiol 20 – 35 mcg +  Mengatur siklus haid
progestin monofasik tiap hari  Kontrasepsi
 Pil 35 mcg 2 – 4 kali sehari  Mencegah hiperplasia
selama 5 – 7 hari sampai endometrium
perdarahan berhenti dan diikuti  Penatalaksanaan perdarahan yang

25
dengan penurunan secara banyak namum tidak bersifat
bertahap sampai 1 pil 1 kali gawat darurat
perhari dan dilanjutkan dengan
pemberian pil kontrasepsi
selama 3 siklus
 5 – 10 mg / hari selama 5 – 10  Mengatur siklus haid
hari @ bulan  Mencegah hiperplasia
endometrium

2. Perdarahan uterus disfungsi ovulatoir


Terapi medikamentosa untuk kasus menoragia terutama adalah NSAID
(asam mefenamat) dan AKDR-levonorgesterel (Mirena). Efektivitas asam
mefenamat, pil kontrasepsi, naproxen, danazol terhadap menoragia adalah
setara.
Efek samping dan harga dari androgen (Danazol atau GnRH agonis)
membatasi penggunaannya bagi kasus menoragia, namun obat-obat ini dapat
digunakan dalam jangka pendek untuk menipiskan endometrium sebelum
dikerjakan tindakan ablasi endometrium.
Obat antifibrinolitik secara bermakna mengurangi jumlah perdarahan,
namun obat ini jarang digunakan dengan alasan yang menyangkut keamanan
( potensi menyebabkan tromboemboli).
3. Pembedahan
Bila terapi medis gagal atau terdapat kontraindikasi maka dilakukan
intervensi pembedahan. Terapi pilhan pada kasus adenokarsionoma adalah
histerektomi, tindakan ini juga dipertimbangkan bila hasil biopsi menunjukan
atipia.
TINDAKAN ALASAN
Histeroskopi operatif Abnormalitas struktur intra uteri.
Mimektomi (abdominal, Mioma uteri.
laparoskopik, histeroskopik)
Reseksi endometrial Terapi menoragia atau menometroragia resisten.
transervikal

26
Ablasi endometrium (thermal Terapi menoragia atau menometroragia resisten
balloon/roller ball) dalam rangka penatalaksanaan perdarahan uterus
akut yang resisten
Embolisasi arteri uterina Mioma uteri.
Histerektomi Hiperplasia atipikal, karsinoma endometrium.

27
BAB III

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien  Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
agama dan alamat, serta data penanggung jawab
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakit  Biasanya klien merasa nyeri pada
daerah perut & terasa ada massa di daerah abdomen, menstruasi yg tidak
berhenti-henti.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang  Keluhan yang dirasakan klien adalah
nyeri pada daerah abdomen bawah, ada pembengkakan pada daerah
perut, menstruasi yang tidak berhenti, rasa mual dan muntah.
b. Riwayat kesehatan keluarga  kaji riwayat keluarga dlm kelainan
ginekologi
4. Riwayat kehamilan dan persalinan  Dengan kehamilan dan persalinan/tidak
5. Riwayat menstruasi  kadang-kadang terjadi digumenorhea dan bahkan
sampai amenorhea. menarche, lama, siklus, jumlah, warna dan bau
6. Pemeriksaan Fisik  Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah
secara sistematis.
a. Abdomen  Nyeri tekan pada abdomen, Teraba massa pada abdomen.
b. Ekstremitas  Nyeri panggul saat beraktivitas, Tidak ada kelemahan.
c. Eliminasi, urinasi  Adanya konstipasi, Susah BAK
7. Data Sosial Ekonomi  kaji golongan masyarakat dan tingkat umur, baik
sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
8. Data Psikologis  Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita,
dimana ovarium sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi dari ovarium
tersebut sementara pada klien dengan perdarahan abnormal pervaginam hal
ini akan mempengaruhi mental klien yang ingin hamil
9. Pola kebiasaan Sehari-hari  Biasanya klien mengalami gangguan dalam
aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri
10. Pemeriksaan Penunjang
28
a. Data laboratorium  pemeriksaan darah lengkap (NB, HT, SDP)
b. Pemeriksaan fisiki  ada tidaknya benjolan dan ukuran benjolan

B.ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI DIAGNOSA


DO : Klien tampak Factor resiko Nyeri b/d kerusakan jaringan
gelisah, perilaku ↓ otot, system saraf & gangguan
berhati-hati, ekspresi G3 keseimbangan hormone uterus sirkulasi darah
tegang, TTV. ↓
DS : - Perdarahan abnormal

Perpindahan cairan ke intrasel

Penekanan ujung syaraf
DO : adanya Factor resiko Resiko tinggi kekurangan
perdarahan ↓ cairan tubuh b/d perdarahan
pervaginam G3 keseimbangan hormone uterus pervaginam berlebihan.
DS : - ↓
Perdarahan abnormal

Kehilangan banyak cairan &
elektrolit
DO : klien tampak Factor resiko Ansietas b/d Kurangnya
cemas, TTV ↑ ↓ pengetahuan tentang penyakit,
DS : - G3 keseimbangan hormone uterus prognosis & kebutuhan
↓ pengobatan.
Perdarahan abnormal

Kurangnya pajanan informasi
DO : Sekresi eritropoitis turun Intoleransi Aktivitas
 Pasien tampak ↓

29
lemah Produksi Hb turun
 Konjungtiva ↓
pucat Oksihemoglobin turun
 Eritrosit ↓ ↓
 Hemoglobin ↓ Suplai O2 turun

 DS : ↓

Klien mengatakan Intoleransi aktivitas

ketika beraktivitas
cepat merasa lemas
dan letih

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
DIAGNOSA TUJUAN & KH INTERVENSI
Nyeri Tujuan : Nyeri berkurang  Kaji riwayat nyeri, mis : lokasi
setelah dilakukan tindakan nyeri, frekuensi, durasi dan
keperawatan selama 1 x 24 intensitas (kala 0-10) dan tindakan
jam. pengurangan yang dilakukan.
Kriteria Hasil :  Bantu pasien mengatur posisi
 Klien menyatakan nyeri senyaman mungkin (posisi fowler
berkurang (skala 3-5) atau posisi datar atau miring kesalah
 Klien tampak tenang, satu sisi)
eksprei wajah rileks.  Kaji tanda vital :
 TTV normal : Suhu : tachicardi,hipertensi, pernafasan
36-37 0C, N : 80-100 cepat.
x/m, RR : 16-24x/m,  Ajarkan pasien penggunaan
TD : Sistole : 100- keterampilan manajemen nyeri mis :
130 mmHg, Diastole : dengan teknik relaksasi, tertawa,
70-80 mmHg mendengarkan musik dan sentuhan
terapeutik.
 Evaluasi/ kontrol pengurangan nyeri
 Ciptakan suasana lingkungan
tenang dan nyaman.

30
 Kolaborasi untuk pemberian
analgetik sesuai indikasi.
 Laksanakan pengobatan sesuai
indikasi seperti analgesik intravena.
 Observasi efek analgetik (narkotik )
 Kolaborasi : anjurkan dilakukannya
pembedahan
 Motivasi klien untuk mobilisasi dini
setelah pembedahan bila sudah
diperbolehkan.
Resiko tinggi Tujuan : Setelah dilakukan  Kaji tanda-tanda kekurangan cairan.
kekurangan cairan tindakan keperawatan  Pantau masukan dan haluaran/
tubuh selama 2 x 24 jam tidak monitor balance cairan tiap 24 jam.
terjadi kekurangan volume  Monitor tanda-tanda vital. Evaluasi
cairan tubuh. nadi perifer.
Kriteria Hasil :  Observasi pendarahan
 Tidak ditemukan tanda-  Anjurkan klien untuk minum +
tanda kekuranga cairan. 1500-2000 ,l/hari
Seperti turgor kulit  Kolaborasi untuk pemberian cairan
kurang, membran parenteral dan kalau perlu transfusi
mukosa kering, demam. sesuai indikasi, pemeriksaan
 Pendarahan berhenti, laboratorium. Hb, leko, trombo,
keluaran urine 1 cc/kg ureum, kreatinin.
BB/jam.
 TTV normal : Suhu : 36-
37 0C, N : 80-100 x/m,
RR : 16-24x/m, TD :
Sistole : 100-130
mmHg, Diastole : 70-80
mmHg
Ansietas Tujuan : Kecemasan dapat  Dorong klien untuk
berhubungan berkurang setelah diberikan mengekspresikan perasaannya..

31
dengan perubahan askep selama 3 X 24 jam  Dorong dan dukung klien untuk
gambaran tubuh Kriteria Hasil : menyadari dan berusaha menerima
 Klien tampak tenang diagnosa
 Mau berpartisipasi dalam  Diskusikan tanda dan gejala
program terapi depresi.
 Diskusikan kemungkinan untuk
bedah rekonstruksi atau pemakaian
prostetik.
 Beri informasi tentang hasil-hasil
lab dan perkembangan penyakit
klien, serta treatment yang
mungkin, seperti kemoterapi,
radioterapi, pembedahan
 Informasikan tentang dukungan
sosial/ kelompok bagi klien,
misalnya perkumpulan penyandang
kanker mammae
Intoleransi Tujuan : Pasien dapat  Observasi faktor yang
aktivitas melakukan aktivitas mandiri menimbulkan keletihan.
berhubungan tanpa keluhan setelah  Pantau kondisi umum dan ukur
dengan diberikan askep 3x24 jam. TTV pasien secara berkala
ketidakseimbangan Kriteria Hasil :  Tingkatkan kemandirian dalam
antara kebutuhan  Pasien tidak cepat merasa perawatan diri.
dan suplai oksigen lemas dan letih saat  Latih pasien melakukan ROM aktif.
melakukan aktivitas  Anjurkan aktivitas alternatif sambil
 Eritrosit dan hemoglobin istirahat
dalam batas normal :  Anjurkan untuk beristirahat setelah
eritrosit : 4,5 – 5,5 dialisis
10e6/ul
 Hemoglobin : 13,0 – 16,0
gr/dl
 Konjungtiva merah muda

32
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Abnormali uterus bleeding adalah suatu keadaan yang ditandai perdarahan


banyak, berulang dan berlangsung lama yang berasal dari uterus namun bukan
disebabkan oleh penyakit organ dalam panggul,penyakit sistemik ataupun kehamilan.

Abnormali uterus bleeding dapat dikatakan memiliki manifestasi khusus yaitu


kejadiannya tidak dapat diramalkan dan biasaanya tidak menimbulkan rasa
nyeri,perdarahan dapat sangat banyak berlangsung lama. Tatalaksana awal dari
perdarahan akut adalah pemulihan kondisi hemodinamik dari ibu. Pemberian
estrogen dosis tinggi adalah tatalaksana yang sering dilakukan pasien disarankan
untuk menjaga kondisi kesehatan mereka, mengurangi merokok, kokain, amfetamin,
sehingga dapat meminimalisasi risiko untuk perdarahan abnormal dan kanker.

B. Saran

Dengan mengetahui dan memahami penyakit abnormali uterus bleeding,


penulis sarankan kepada para wanita yang sudah menikah, untuk segera memiliki
anak untuk menghindari tejadinya penyakit tersebut. Dan bagi tenaga kesehatan
khusunya bidang keperawatan, hendaknya berbagi ilmu dan informasi kepada
kerabat dan saudara mengenai endometriosis, sehingga banyak wanita usia produktif
yang terhindar dari penyakit tersebut.

33
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta : EGC


Carpenito, Lynda Juall. 2010. Diagnosa keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik.
Jakarta : EGC
Ida Bagus Gde Manuaba. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif,dkk. 2001.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta: FKUI
Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000),
Rencana AsuhanKeperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta
NANDA Internasional. 2013. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klarifikasi
2012 – 2014. Jakarta : EGC
NANDA. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA NIC – NOC. Jakarta : ECG

34
WOC AUB

Kelainan Kelainan anatomi Kontak berdarah


hormonal genitalis

Anovulasi/ Tumor jinak Pemakaian IUD Endometrium, vartio uteri, vagina, labia
ovulasi,
perimenopause,
PSCOH
Berkembang Dalam jangka panjang Perlukaan atau keganasan pada
didalam rahim atau pemasangan yang genitalia bagian dalam
Ketidakseimbangan tidak benar
hormon
Kontraksi otot rahim Ketidakseimbangan
mengeai lapisan Perforasi pada hormon
Hormon estrogen endometrium dinding uterus
dan progesteron
tidak seimbang
Kerusakan pada jaringan
dalam genitalia

Hiperplasia lapisan endometrium


(pertumbuhan endometrium)

Pelepasan atau peluruhan lapisan


endometrium secara terus-menerus
Abnormal uterus bleeding

Ansietas Perdarahan abnormal

Gelisah, cemas Kurangnya informasi

B1 B2 B3 B4 B5 B6

Perdarahan Kehilangan darah > 30% Adanya kontaksi otot Kompresi saluran Peningkatan Suplai o2 menurun
endometrium kemih hormon gastrin
Penurunan Hipoksia miokard
volume HB menurun Anemia Penekanan pada ujung Obstruksi sebagian HCL meningkat
intravaskuler saraf atau total
Metabolisme
Hipotensi anaerob
Iritasi lambung
Suplai darah Pelepasan bradikinin Penyempitan
menurun uretra
Suplai darah perfusi pH sel menurun
Refluk lambung
tidak adekuat Aktivasi nosiseptor
Suplai o2 menurun volume urin
menurun Mual & muntah Peningkatan
Sianosis Syok Hipovolemik Hipotalamus asam laktat
Kompensasi paru
oliguria Penurunan nafsu
Jaringan perfusi Korteks serebri makan fatique
Penggunaan otot perifer tidak
bantu nafas efektif Gangguan pola
Interpretasi nyeri eliminasi urin
Intoleransi
Defisit nutrisi
Dispnea aktivitas
Nyeri Akut
Pola nafas tidak
RR meningkat efektif

Anda mungkin juga menyukai