Anda di halaman 1dari 11

Menurut Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Masdiana (2007) berpendapat,

kekerasan itu sangat dipengaruhi ideologi dan pemahaman budaya masyarakat,

anggapan yang lazim dipercaya menyatakan, perempuan adalah orang nomor dua

dalam rumah tangga sehingga bisa diperlakukan dengan cara apa pun, Ideologi dan

kultur (budaya) itu juga muncul karena transformasi pengetahuan yang diperoleh

dari masa lalu (Adi Prinantyo, 2007

Praktik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak hanya merupakan bentuk

pelanggaran norma sosial dan kemanusiaan, namun juga merupakan wujud

pengingkaran kewajiban untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang

tinggi. Segala bentuk tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh

suami secara fisik maupun psikis dapat berdampak serius bagi kesehatan seorang
wanita.KDRT selama kehamilan ini cenderung meningkat dengan alasan: 1). Stres

biopsikososial selama kehamilan mengganggu hubungan dan kemampuan koping,

frustasi dan akhirnya melakukan kekerasan, 2). Suami cemburu dengan janin yang dikandung
pasangannya dan menjadikan pasangannya sebagai sasaran

kemarahannya, 3). Marah pada janin yang belum lahir atau pada pasangannya, 4).

Kekerasan dilakukan oleh suami karena bingung dan ingin mengakhiri kehamilan

pasangannya (Lowdermilk, et al.,2000). Studi penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh


Hakimi, et al (2001) di wilayah

Jawa Tengah menunjukan proporsi yang lebih tinggi pada perempuan yang

mengalami kekerasan fisik dan seksual selama kehamilan.untuk kejadian keguguran

(5,7%), bayi lahir prematur (16,5%), serta berat badan lahir rendah (4,4%). Studi

penelitian ini membuktikan bahwa pemukulan selama kehamilan meningkatkan


resiko terjadinya abortus spontan, persalinan prematur dan berat badan bayi rendah

dua kali lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak mengalami kekerasan selama

hamil.Untuk menghindar dan memberikan perlindungan dari tindak kekerasan yang berbasis

gender dalam lingkup keluarga (rumah tangga) baik kekerasan fisik, psikis, maupun seksual,
pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang

Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). UU PKDRT menentukan empat
bentuk KDRT yaitu : kekerasan fisik, kekerasan

psikologis, kekerasan seksual, dan kekerasan penelantaran rumah tangga atau ekonomi

(Pasal 5 UU PKDRT).

Menurut Pasal 6 UU PKDRT kekerasan fisik adalah setiap perbuatan yang

menyebabkan rasa sakit, cedera, luka atau cacat pada tubuh seseorang, dan atau

menyebabkan kematian. Sedangkan yang dimaksud dengan kekerasan psikologis, sesuai


dengan pasal 7 UUPKDRT adalah setiap perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan

ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, dan rasa

tidak berdaya pada seseorang. Hasil penelitian Hakimi dkk (2001), menyatakan kekerasan fisik
yang dialami oleh ibu

hamil adalah menekan atau mendorong, menampar atau melempar sesuatu yang dapat

mencederai, memukul dengan tinju atau dengan sesuatu yang dapat mencederai,

menendang, menyeret atau memukul habis-habisan.Selain kekerasan fisik, ibu hamil juga lebih
banyak mengalami kekerasan psikologis,

seperti halnya yang telah diteliti oleh Lestari (2006) yang menyatakan bahwa kekerasan

emosi/psikologis merupakan kekerasan yang paling banyak dialami oleh ibu hamil

(38%). Begitu juga hasil penelitian Syahrir (2000) yang menyatakan bahwa bentuk

kekerasan psikologis merupakan bentuk kekerasan terbanyak. Sama halnya dengan


penelitian yang dilakukan oleh Hakimi dkk (2001), yaitu jenis kekerasan emosional

yang dialami oleh ibu hamil dengan KDRT adalah dihina, atau disakiti perasaan,

disepelekan atau dihina didepan orang lain, ditakut-takuti atau diintimidasi dengan

sengaja (dengan teriakan dan membanting sesuatu), mengancam untuk menyakiti istri

atau orang yang disayangi istri. Secara khusus, Poerwandari (2000) berpendapat bahwa ada
beberapa faktor yang

menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan ditinjau dari aspek biologis,

sosio-kultural, ekonomis, psikologis dan politis, diantaranya secara biologis laki-laki

memiliki agresivitas yang tinggi dan secara fisik lebih kuat dibanding perempuan.Kedua, pada
umumnya korban (isteri) adalah pihak yang secara struktural lemah dan mempunyai
ketergantungan khususnya secara ekonomi dengan

pelaku (suami). Dalam posisi ini korban pada umumnya selalu mengambil sikap diam

atau menutup-nutupi tindak kekerasan tersebut, karena dengan membuka kasus KDRT
ke publik berarti membuka aib keluarga. Ketiga kurangnya pengetahuan hukum

masyarakat terhadap hak-hak hukum yang dimilikinya. Keempat, adanya stigma sosial

bahwa kekerasan yang dilakukan oleh suami dipahami oleh masyarakat sebagai hal

yang dianggap wajar dalam kerangka pendidikan yang dilakukan oleh pihak yang

memang mempunyai otoritas yang melakukanya. Pada posisi ini korban sering enggan

melaporkan kepada aparat penegak hukum karena khawatir justru akan ditelantarkan

(blame the victim). Poerwandari (2000) juga menyatakan ada beberapa faktor yang mendorong
lahirnya

kekerasan dengan bentuk yang beragam yaitu : pertama, dengan karakteristik fisik dan

reprodukinya bahwa perempuan memang lebih mudah menjadi korban, khususnya

kekerasan seksual seperti pemerkosaan atau penghamilan paksa; kedua, dalam relasinya
dengan laki-laki, pemaknaan sosial dari perbedaan biologis tersebut menyebabkan

menguatkan mitos, stereotipe, aturan, praktek yang merendahkan perempuan dan

memudahkan terjadinya kekerasan; ketiga, dari sisi ekonomi, perempuan dapat

dijadikan sarana pengeruk keuntungan sehingga merebaklah pelacuran, perdagangan

perempuan atau pornografi; keempat, kekerasan terhadap perempuan sekaligus dapat

digunakan sebagai sarana teror, penghinaan atau ajakan perang pada kelompok lain,

kesucian perempuan dilihat sebagi kehormatan masyarakat, sehingga penghinaan atau

pengrusakan kesucian perempuan akan dipahami sebagai penghinaan terhadap

masyarakat. Adapun menurut Elbow (1977, dalam Jansen & Bobak, 1985) menyatakan ada
empat

tipe suami yang menjadi pelaku kekerasan antara lain : (1) tipe suami pengontrol yang
akan selalu mengawasi dan mengatur semua kegiatan istrinya, (2) tipe suami protektor

yang selalu menetapkan peraturan tentang apa yang boleh dan tidak dilakukan oleh

isterinya, (3) tipe suami yang memiliki konsep diri kurang baik yang selalu ingin

dihargai dengan cara menunjukan kekuasaan dan kekuatan fisiknya pada isterinya, dan

(4) tipe suami serius sehingga akan sulit untuk rileks, segala sesuatu harus benar dan sempurna
Berbagai Dampak KDRT terhadap Kehamilan

Kekerasan dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius yang mempengaruhi

perempuan ataupun anak-anak seperti cedera, kelainan kandungan, gangguan kesehatan

mental, kesudahan kehamilan (abortus), dan penyakit menular seksual, serta meningkatkan
resiko perempuan terkena penyakit dimasa yang akan datang (Heise et al., 1999).

Peran Perawat Maternitas terhadap perempuan hamil yang mengalami

Kekerasan dalam Rumah Tangga

a. Peran sebagai Pendidik (educator)


Peran perawat sebagai pendidik perempuan hamil yang mengalami kekerasan dalam

rumah tangga, disini perawat perlu meningkatkan pengetahuan ibu dan meningkatkan

kemampuan dan kepercayaan diri ibu bahwa dia layak dihargai dan perlu meminta

pertolongan untuk keluar dari permasalahan (Bobak & Jansen, 1985).

b. Peran sebagai Konselor (conselor)

Perawat perlu mengidentifikasi kekerasan dalam rumah tangga serta mencari alternatifalternatif
penyelesaian masalah yang dapat ditempuh serta tempat-tempat yang

memberikan perlindungan atau selter yang dapat dimanfaatkan sebagai rumah

sementara (Bobak & Jansen, 1985).

c. Peran perawat sebagai care giver /provider

Perawat dalam memeberikan asuhan keperawatan kepada perempuan yang mengalami


kekerasan dalam rumah tangga dengan menggunakan langkah langkah tindakan yang

sistematis meliputi: kemampuan dalam melakukan pengkajian dan pendekatan kepada

ibu sehingga ibu mau bercerita dan mengungkapkan pengalaman kekerasan yang

dialaminya, menjamin rasa aman nyaman, dan membina hubungan saling percaya,

memberikan dukungan emosional seperti : menerima, memahami, merangkul,

membuka diri, membina situasi akrab, mendengarkan, mensupport, mengkaji realitas,

identifikasi dan juga perhatian terhadap fisik (May, 1992 ; Taylor, et al., 1997).

d. Peran perawat sebagai peneliti (Researcher)

Penelitian yang dilakukan oleh perawat dilakukan untuk melihat keefektifan intervensi

keperawatan perawat, juga mengevaluasi penelitian terbaru yang ditemukan untuk

diaplikasikan dilahan praktek (May, 1992 ; Taylor, et al., 1997). Perawat tidak hanya
meneliti pada masalah kesehatan fisik perempuan hamil yang mengalami kekerasan

dalam rumah tangga tetapi dapat juga mengembangkan penelitian kearah psikososial

e. Peran sebagai Pembela (Advocate)

Peran perawat sebagai penghubung antara perempuan hamil yang mengalami kekerasan

dalam rumah tangga dengan pihak-pihak terkait dalam penatalaksanaan kekerasan

dalam rumah tangga meliputi : memfasilitasi perempuan hamil yang mengalami

kekerasan dalam rumah tangga berkomunikasi dengan pemerintah atau Lembaga

Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap kekerasan dalam rumah tangga

selain itu juga perawat mempunyai tugas untuk melindungi ibu dan janin terhadap

kekerasan dan melakukan perawatan terhadap kekerasan fisik (Bobak & Jansen, 1985).