Anda di halaman 1dari 13

PENERAPAN TEORI, KONSEP DAN PRINSIP PERENCANAAN

DI RUANG RAWAT DAN MANAJEMEN PUSKESMAS


(Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keperawatan)

OLEH :
1. FEBRIANI ADELHEID BOEKY (181112008)
2. CHAMELIA D. C. SALDANHA (181112007)
3. MARIA FATIMA Y WEA (181112013)
4. MARIA LUSIA WULA PAE (181112014)
5. SRI HANNA WIJIATI (181112024)
6. WILLEM FERDINAND ALLE (181112027)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


UNIVERSITAS CITRA BANGSA
KUPANG
2019
PENERAPAN TEORI, KONSEP DAN PRINSIP
PERENCANAAN DI RUANG RAWAT DAN
MANAJEMEN PUSKESMAS
Febriani Boeky1, Chamelia Saldanha1, Maria Fatima Wea1, Maria Lusia Pae1, Sri Hanna
Wjiati1, Willem F. Alle1
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Citra Bangsa
Jl. Manafe No. 17, Kayu Putih Nusa tenggara Timur Telp/Fax. (0380) 8553961
email: fatimawea03@gmail.com

ABSTRAK

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit khususnya di ruang rawat memerlukan suatu
manajemen keperawatan yang efektif dan efisien agar menjaga kepercayaan masyarakat terhadap
pelayanan rumah sakit karena memberikan jaminan kepuasan serta perlindungan atas pelayanan
kesehatan yang diberikan. Pemimpin dalam hal ini kepala ruangan yang memegang peran penting
dalam penerapan perencanaan di ruang rawat harus mengetahui tentang teori Standar Nasional
Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) dan Joint Commision International (JCI) yang menempatkan
keselamatan pasien sebagai fokus manajemen rumah sakit. Pemimpin rumah sakit berperan dan
bertanggung jawab dalam hal perencanaan dan pengorganisasian, pencapaian tujuan dan sasaran
rumah sakit, kualitas pelayanan rumah sakit, alokasi sumber daya, menyelesaikan masalah atau krisis,
kepatuhan padaperaturan, dan promosi rumah sakit.
Tujuan dari penelitain ini adalah untuk mengetahui tentang penerapan teori, konsep dan prinsip
perencanaan di ruang rawat sesuai panduan SNARS dan JCI
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masih kurangnya pengetahuan kepala ruangan tentang
teori SNARS dan JCI
Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlu adanya sosialisasi tentang teori SNARS dan JCI mengenai
penerapan pengendalian mutu keperawatan cukup agar meningkatkan pengetahuan kepala ruangan
dan tentang program mutu yang dipersyaratkan akreditasi rumah sakit. Pimpinan rumah sakit perlu
memberi pengakuan, dukungan, dan motivasi bagi kepala ruangan penerapan pengendalian mutu
keperawatan di ruangan rawat.

Kata kunci: Ruang Rawat, Manajemen Keperawatan, SNARS dan JCI, Kepala Ruangan
1.1. PENDAHULUAN 1.1.2 Fungsi Manajemen
1.1.1 Defenisi Manajemen
Ada empat fungsi manajemen yang harus
Menurut Kelly dan Heidental (2004) diperhatikan, yaitu perencanaan, pengorganisasian,
dalam Marquis dan Huston (2010) menyatakan penggerakan, dan pengawasan. Sedangkan dalam
bahwa manajemen keperawatan dapat manajemen keperawatan ada beberapa elemen
didefinisikan sebagai suatu proses dari utama berdasarkan fungsinya yaitu planning
perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan (perencanaan), organizing (pengorganisasian),
dan pengawasan untuk mencapai tujuan. Proses staffing (kepegawaian), directing (pengarahan) dan
manajemen dibagi menjadi 5 tahap yaitu controlling (pengendalian/ evaluasi) Koontz dan
perencanaan, pengorganisasian, kepersonaliaan, O’ Donnel (1972).
pengarahan dan pengendalian.
a. Planning (Perencanaan)
Menurut Huber (2010) manajemen adalah Perencanaan adalah fungsi terpenting dalam
koordinasi dan integrasi sumber-sumber melalui manajemen karena perencanaan merupakan
perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, tuntutan terhadap proses pencapaian tujuan
pengarahan dan pengawasan dalam mencapai secara efektif dan efisien. Di dalam
tujuan. Manajemen mengandung tiga prinsip perencanaan ditentukan seberapa luas yang
pokok yang menjadi ciri utama penerapannya yaitu akan dilakukan, bagaimana melakukannya
efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dan siapa yang melakukannya (Swanburg,
dalam memilih alternatif kegiatan untuk mencapai 2000).Dalam proses keperawatan perencanaan
tujuan organisasi, dan rasional dalam pengambilan membantu untuk menjamin bahwa klienatau
keputusan manajerial (Muninjaya,2004). pasien akan menerima pelayanan kesehatan
Manajemen keperawatan mempunyai lingkup yang mereka butuhkan serta pelayanan ini
manajemen operasional yang merencanakan, diberikan oleh pekerja keperawatan agar
mengatur, dan menggerakkan para staf untuk mendapat hasil yang memuaskan sesuai
memberikan pelayanan keperawatan yang sebaik- tujuan.
baiknya kepada pasien melalui manajemen asuhan Adapun tujuan perencanaan adalah:
keperawatan. Supaya dapat memberikan pelayanan 1. Meningkatkan peluang untuk sukses
keperawatan dengan sebaik-baiknya, maka 2. Menstimulasi berfikir analisis
diperlukan suatu Standar Asuhan Keperawatan 3. Mencegah terjadinya krisis manajemen
(SAK) yang akan digunakan sebagai target 4. Memfasilitasi berfikir kritis dan
maupun alat kontrol pelayanan keperawatan. membuat keputusan secara fleksibel.
Seluruh aktifitas manajemen baik kognitif, efektif 5. Meningkatkan keterlibatan staf dan
dan psikomotor berada dalam satu atau lebih dari komunikasi
fungsi-fungsi utama yang bergerak mengarah pada 6. Menjamin biaya yang efektif
satu tujuan.
b. Organizing (Pengorganisasian) usaha sistematik untuk menetapkan standar
Fungsi pengorganisasian merupakan alatuntuk pelaksanaan dengan tujuan perencanaan,
memadukan (sinkronisasi) dan mengatur merancang sistem informasi timbal balik,
semua kegiatan yang ada kaitannyadengan membandingkan kegiatan nyata dengan
personil, finansial, material, dan tatacara standar yang telah ditetapkan sebelumnya,
untuk mencapai tujuan organisasiyang telah menentukan dan mengukur penyimpangan,
disepakati bersama (Swansburg, 2000). serta mengambil tindakan yang digunakan
Melalui pengorganisasian dapat diketahui: dengan cara paling efektif dalam pencapaian
1. Pembagian tugas untuk perorangan atau tujuan perusahaan. Manfaat fungsi
kelompok pengawasan dan pengendalian dapat
2. Hubungan organisatoris antar manusia dilaksanakan dengan tepat, maka akan dapat
yang menjadi anggota atau staf sebuah diketahui :
organisasi, 1. Apakah suatu kegiatan atau
3. Pendelegasian wewenang proggramtelah dilaksanakan sesuai
4. Pemanfaatan staf dan fasilitas fisik yang dengan standar kerja
dimiliki organisasi. 2. Adanyapenyimpangan pada pengetahuan
c. Actuating (Pengarahan) dan pengertian staf dalam
Swansburg (2000) mendefinisikan melaksanakantugas
pengarahan sebagai pengeluaran penugasan, 3. Apakah waktu dan sumber daya lainnya
pesanan dan instruksi yang memungkinkan telah mencukupi kebutuhan dantelah
pekerja mamahami apa yang diharapkan digunakan secara benar
darinya, dan pedoman serta pandangan 4. Staf yang perlu diberikan penghargaan
pekerja sehingga ia dapat berperan secara atau bentuk promosi dan latihan lanjutan.
efektif dan efisien untuk mencapai obyektif 1.1.3 Perencanaan Dalam Manajemen
organisasi. tujuan dari fungsi pengarahan Keperawatan
antara lain menciptakan kerjasama yang Perencanaan Manajemen Keperawatan
efisien, mengembangkan kemampuan dan diawali dengan perumusan tujuan institusi/
keterampilan staf, menimbulkan rasa organisasi yang dijelaskan dalam visi,
memiliki dan menyukai pekerjaan, misi, filosofi dan tujuan sebagai arah
mengusahakan suasana lingkungan kerja yang kebijakan organisasi. Sebagai perawat, kita
dapat meningkatkan motivasi dan prestasi harus memahami tujuan organisasi
kerja serta membuat organisasi berkembang inisupaya dapat bersinergi untuk mencapai
dan dinamis. cita-cita/harapan organisasi.
d. Controlling (Pengawasan) a. Perumusan Visi
Menurut Mockler dalam Stoner, Freeman dan Visi merupakan dasar untuk membuat suatu
Gilbert (2000) menyatakan bahwa perencanaan sehingga disusun secara singkat,
Pengawasan juga diartikan sebagai suatu jelas, dan mendasar serta ada batasan waktu
untuk pencapaian. Visi merupakan pernyataan dibagi menjadi 3 jenis, yaitu perencanaan
berisi tentang mengapa organisasi dibentuk. jangka pendek, jangka menengah dan
b. Perumusan Misi jangka panjang. Perencanaan jangka
Perumusan Misi Misi adalah uraian yang pendek atau yang disebut sebagai
berisi pernyataan operasional guna mencapai perencanaan operasional adalah
visi yang telah ditetapkan perencanaan yang dibuat untuk kegiatan
c. Perumusan Filosofi dengan kurun waktu satu jam sampai
Filosofi adalah nilai-nilai dan keyakinan yang dengan satu tahun. Perencanaan jangka
menyangkut keyakinan dan menengah adalah perencanaan yang dibuat
praktikkeperawatandalamsuatuorganisasi untuk kegiatan dengan kurun waktu antara
(Swanburg, 2000) satu tahun sampai lima tahun (Marquis &
d. Tujuan Huston, 2010), sedangkan perencanaan
Merupakan sesuatu yang ingin dicapai jangka panjang atau sering disebut
sebagai arah kebijakan bagi organisasi untuk perencanaan strategis adalah perencanaan
menentukan apa yang harus dilakukan dan yang dibuat untuk kegiatan tiga sampai 20
bagaimana cara mencapainya. Tujuan mutlak tahun (Swanburg, 1999). Dalam
harus ada dalam organisasi pelayanan perencanaan di ruang perawatan biasanya
keperawatan. Untuk merumuskan tujuan yang yang digunakan adalah perencanaan
baik harusmemenuhi syarat antara lain jangka pendek yaitu rencana harian,
(Gillies, 1994) : bulanan dan rencana tahunan.
a. Tujuan harus dapat menjelaskan arah a. Perencanaan Harian
b. Tujuan harus memungkinkan untuk Rencana Harian adalah rencana yang
dicapai berisi kegiatan masing-masing perawat yang
c. Terukur artinya tujuan berisi ketentuan dibuat setiap hari sesuai perannya. Rencana
kwantitatif dibuat oleh kepala ruangan,
d. Teradapatbatasanwaktuuntuk ketua tim/perawat primer dan perawat
pencapaian target pelaksana.
e. Pencapaian akhir setiap tujuan dapat b. Rencana Bulanan
diterima semua anggota organisasi Rencana yang berisi kegiatan dalam satu
f. Kriteria dibuat untuk melihat seberapa bulan. Rencana ini harus disinkronkan dengan
besar tujuan tercapai rencana harian. Rencana ini biasanya dibuat
g. Setiap tujuan mendukung sasaran oleh kepala ruang dan ketua tim/perawat
organisasi primer.
1.1.4 Jenis Perencanaan Dalam Manajemen c. Rencana Tahunan
Keperawatan Rencana yang dibuat setiap tahun sekali,
Perencanaan dalam manajemen yang dibuat berdasarkan hasil evaluasi
keperawatan berdasarkan jangka waktunya kegiatan tahun sebelumnya, rencana ini
biasanya dibuat oleh kepala ruang. tujuan organisasi. Rencana strategis
Menurut waktu pembuatan harus diterjemahkan ke dalam
perencanaan dapat diklasifikasikan dalam: rencana operasional yang
1. Perencanaan Reaktif mencantumkan target yang harus
Yaitu perencanaan yang disusun ketika dicapai.
adanya masalah aktual yang dihadapi 4. Dengan menganalisa sarana
saat ini. produksi yang dimiliki dan
2. Perencanaan Proaktif dihubungkan dengan kebutuhan
Yaitu perencanaan yang disusun sebelum yang muncul dari lingkungan.
masalah timbul, antisipasi terhadap
1.1 Penerapan Teori,
perubahan kebutuhan dan meningkatkan
Konsep Perencanaan Dan
kemampuan organisasi, sedangkan
Prinsip Kepemimpinan
menurut proses penyusunan
perencanaan diklasifikasikan menjadi: manajemen Di puskesmas
1. Pendekatan Perkembangan 1.2.1. Penerapan Teori
yang menguntungkan Perencanaan Manajemen adalah suatu jenis
yang dilakukan (Profitabel Growth pekerjaan khusus yang menghendaki
Approach) usaha mental dan fisik. Setiap Pemimpin
2. Mengusahakan terjadinya harus menjalankan fungsi tersebut di
keseimbangan antara sarana yang dalam organiasi tersebur sehingga
dimiliki dengan kebutuhan
hasilnya merupakan keseluruhan yang
lingkungan.
sistematik (Herujito, 2001).
3. Pendekatan SWOT (Strenght,
1.2.2. Perencanaan Puskesmas
Wakness, Opportunity and Threat)
a. Konsep Perencanaan Puskesmas
Rencana disusun dengan proses
perencanaan, dimulai dengan Perencanaan tingkat puskesmas akan
menganalisa faktor internal yang memberikan pandangan menyeluruh
berhubungan dengan kekuatan terhadap semua tugas, fungsi dan peranan
(Strenght) dan kelemahan yang akan dijalanka serta menjadi
(Weaknes), selanjutnya melakukan tuntunan dalam proses pencapaian tujuan
analisa faktor eksternal yang puskesmas secara efisien dan efektif.
berhubungan dengan peluang Perencanaan puskesmas merupakan inti
(opportunity) dan tekanan/ancaman
kegiatan manajemen puskesmas, karena
(Threat). Setelah diketahui
semua kegiatan manajemen diatur dan
kekuatan, kelemahan, peluang dan
diarahkan oleh perencanaan. Dengan
ancaman selanjutnya disusun
perencanaan puskesmas memungkinkan
rencana strategis untuk mencapai
para pengambil keputusan dan pimpinan hanya dilakukan sekali bukanlah
puskesmas untuk menggunakan sumber perencanaan yang dianjurkan.
daya puskesmas secara berdaya guna dan 3. Perencanaan puskesmas berorientasi
berhasil guna. Untuk menjadikan pada masa depan
organisasi dan manajemen puskesmas Suatu perencanaan puskesmas yang
efektif dan berkinerja tinggi diawali dari baik adalah yang berorientasi pada
perencanaan efektif (Endang Sutisna masa depan. Artinya, hasil dari
Sulaeman, 2011). pekerjaan perencanaan tersebut,
b. Ciri-Ciri Perencanaan Tingkat apabila dapat dilaksanakan akan
Puskesmas mendatangkan berbagai kebaikan
Menurut Endang Sutisna Sulaeman tidak hanya pada saat ini, tetapi juga
(2011), perencanaan yang baik pada masa yang akan datang.
mempunyai beberapa ciri yang harus 4. Perencanaan mampu menyelesaikan
diperhatikan. Ciri-ciri yang dimaksud masalah
secara sederhana diuraikan sebagai Suatu perencanaan yang baik adalah
berikut: yang mampu menyelesaikan berbagai
1. Perencanaan puskesmas bagian dari masalah dan ataupun tantangan yang
manajemen puskesmas di hadapi.
Suatu perencanaan puskesmas yang 5. Perencanaan puskesmas mempunyai
baik adalah yang berhasil tujuan
menempatkan pekerjaan perencanaan Suatu perencanaan puskesmas yang
sebagai bagian dari sistem baik adalah yang mempunyai tujuan
manajemen puskesmas secara yang dicantumkan secara jelas.
keseluruhan. Perencanaan puskesmas 6. Perencanaan puskesmas bersifat
pada dasarnya merupakan salah satu mampu kelola
fungsi manajemen puskesmas yang Suatu perencanaan puskesmas yang
amat penting. baik adalah yang bersifat mampu
2. Perencanaan puskesmas di kelolah dalam arti wajar, logis,
laksanakan secara terus menerus dan objektif, jelas, runtun, fleksibel, serta
berkesinambungan di sesuaikan dengan sumber daya.
Suatu perencanaan puskesmas yang
baik adalah yang dilakukan secara
terus menerus dan
berkesinambungan. Perencaaan yang
c. Manfaat, Keuntungan dan kelemahan bagaimana memberikan pelayanan
tingkat Puskesmas. dengan baik.
Menurut Endang Sutisna Sulaeman c) Perencanaan puskesmas akan
(2011), Manfaat, Keuntungan dan memunculakan berbagai macam
kelemahan tingkat Puskesmas adalah kegiatan puskesmas untuk
sebagai berikut: mencapai tujuan puskesmas dan
1. Manfaat perencanaan tingkat dapat dilakukan secara teratur.
puskesmas d) Perencanaan puskesmas akan
Terdapat beberapa manfaat yang mengurangi atau menghilangkan
dapat diperoleh jika puskesmas jenis pekerjaan yang tidak
memiliki perencanaan yaitu: produktif.
a) Mengetahui tujuan yang ingin Perencanaan puskesmas juga
dicapai puskesmas dan cara memiliki beberapa kelemahan
mencapainya diantaranya adalah:
b) Membuat tujuan dan program a) Perencanaan puskesmas
puskesmas lebih spesifik, terinci, mempunyai keterbatasan
dan lebih mudah dipahami. mengukur informasi, data dan
c) Mengetahui struktur organisasi fakta-fakta di masa yang akan
puskesmas dan jenis serta jumlah datang.
pegawai yang dibutuhkan. b) Program dan kegiatan puskesmas
d) Mengetahui sejauh mana yang cukup dalam perencanaan
efektifitas kepemimpinan dan mungkin berlebuhan pada
pengarahan puskesmas yang konstribusi nyata.
diperlukan. c) Perencanaan puskesmas cenderung
2. Keuntungan perencanaan tingkat menunda kegiatan
puskesmas d) Perencanaan puskesmas
Adapun keuntungan perencanaan membatasi manajemen puskesmas
puskesmas adalah sebagai berikut: untuk berinisiatif dan berinovasi,
a) Meningkatkan fokus dan serta menghamabat tindakan yang
fleksibilitas harus di ambil.
b) Suatu organisasi dengan fokus e) Kadang-kadang hasil yang paling
akan mengetahui apa yang terbaik baik didapatkan oleh penyelesaian
dikerjakan, mengetahui kebutuhan situasi individual dan penanganan
pelanggannya, dan mengetahui setiap masalah pada saat masalah
tersebut terjadi. rencana sekali pakai (single use plan)
d. Tipe-tipe perencanaan dan rencana dan rencana tetap (standing plan).
tingkat puskesmas 1.2.3. Perencanaan Dan Prinsip
Menurut Endang Sutisna Sulaeman Kepemimpinan manajemen Di
(2011), ada dua tipe rencana umum puskesmas
rencana Puskesmas, yaitu rencana a. Pengertian
strategis Puskesmas dan rencana Kepemimpinan merupakan fungsi
operasional Puskesmas. manajemen yang penting. Memimpin
1. Rencana Strategis Puskesmas berarti menciptakan budaya dan nilai
Rencana strategis puskesmas adalah bersama, mengkomunikasikan tujuan
dokumen rencana jangka menengah kepada karyawan di seluruh organisasi
atau jangka panjang Puskesmas yang dan memberikan masukan kepada
menggambarkan arah yang harus dituju karyawan agar memiliki kinerja dengan
serta langkah yang harus dilaksanakan. tingkat yang lebih tinggi (Daft, 2007).
Rencana strategis puskesmas Saat ini perawat professional
memusatkan perhatian untuk mengembangan peran penting dalam
melakukan pekerjaan yang benar dan praktik keperawatan mengenai
efektif dan bertujuan agar puskesmas kepemimpinan dan managemen
berfungsi dengan baik serta tanggap keperawatan, terlepas dari apapun
dan antisipatif terhadap lingkungan aktivitas yang mereka lakukan.
puskesmas. Kepemimpinan dan managemen
2. Rencana Operasional Puskesmas adalah dua hal yang berbeda, namun
Yang dimaksud dengan rencana saling terkait. Kepemimpinan
operasional puskesmas adalah suatu didefinisikan sebagai proses
dokumen rincian rencana pelaksanaan mempengaruhi orang lain. Sedangkan
program Puskesmas yang disusun manajemen tidak hanya meliputi
berdasarkan kegiatan-kegiatan dengan kepemimpinan, tetapi juga koordinasi
memperhitungkan hal-hal yang telah dan integrasi sumber daya melalui
ditetapkan dalam rencana strategis perencanaan,
Puskesmas serta semua potensi dan pengorganisasian,pengkoordinasikan,
sumber daya yang tersedia (depertemen pengarahan, dan pengendalian untuk
Kesehatan, 2002). Rencana operasional mencapai tujuan dan objek spesifik
puskesmas mempunyai dua tipe yaitu dari institusi (Huber, 2000). Pemimpin
berfokus pada orang, sedangkan memacu kinerja pegawai, tinggi perhatian
manajer berfokus pada struktur. pada tugas namun rendah perhatian pada
b. Teori perilaku /Gaya kepemimpinan manusia, menuntut prestasi dan hasil,
Adapun teori gaya kepemimpinan menuntut kesetiaan dan kepatuahn staf,
berasumsi bahwa kemampuan untuk kurang menciptakan lingkungan kerja
memimpin dan kemauan untuk mengikuti yang kondusif dan kurang
didasarkan atas perilaku pemimpin dan memperhatiakn kesejahteraan pegawai
kemauan untuk mengikuti didasarkan (Endang Sutisna Sulaeman (2011).
atas perilaku pemimpin atau gaya d. Gaya kepemimpinan suportif
kepemimpinan. Menurut Silalahi (2002), Yaitu gaya kepemimpinan dengan
gaya kepemimpinan adalah pola perilaku banyak memberikan pengarahan dan
spesifik yang ditampilkan oleh pemimpin dukungan, pengambilan keputusan
dalam upaya mempengaruhi orang lain dilakukan dengan mempertimbangkan
guna mencapai tujuan organisasi atau usul dan saran staf, memperlihatkan
kelompoknya. adanya pelimpahan wewenang kepada
c. Gaya kepemimpinan ortokratik staf, tanggungjawab dilakukan bersama-
(Autocratic, Directive, Autoritarian, sama pemimpin dan staf sesuai dengan
Restrictive) wewenang yang dimiliki, meminta
Yaitu gaya kepemimpinan dengann masukan dan saran dari staf tentang
banyak memberikan pengarahan tetapi keputusan yang akan diambil,
sedikit memberikan dukungan, pemimpin menunjukan keramahan dan kemampuan
menentukan semua kebijakan, untuk melakukan pendekatan,
peran/tugas stafnya apa, bagaimana, meningkatakan moral dan semangat
kapan dan dimana melakukan suatu pegawai, menciptakan lingkungan kerja
tugas, inisiatif pengambilan keputusan yang kondusif dan memperhatikan
hanya dilakukan oleh pemimpin dan kesejahteraan pegawai (Endang Sutisna
pelaksanaanya diawasi secara ketat Sulaeman (2011).
dengan melakukan supervisi oleh e. Gaya kepemimpianan delegatif
pemimpin, wewenang dan (Laissez-Faire, Permissive)
tanggungjawab berpusat pada pemimpin, Yaitu gaya kepemimpinan dengan
cenderung memberikan instruksi, sedikit memberikan pengarahan dan
komunikasi berlangsung satu arah (top dukungan, pengambilan keputusan
down ), menggunakan imbalan (reward) dilimpahkan sepenuhnya kepada staf,
dan hukuman (punishment) untuk tanggung jawab pelaksaan tugas berada
pada pegawai, tidak melakukan g. Fungsi Kepemimpinan Puskesmas
pengawasan, tidak ada komunikasi dan Menurut Endang Sutisna Sulaeman
kalau ada bila diperlukan, rendah (2011), secara operasional fungsi
perhatian kepada tugas dan pegawai, kepemimpinan puskesmas meliputi
tidak memperhatiakan lingkungan kerja lima fungsi pokok kepemimpinan
dan kesejahteraan pegawai, efektif yaitu:
digunakan untuk tingkat kematangan staf 1) Fungsi instruksi
tinggi di mana pegawai mampu dan mau Fungsi ini bersifat komunikasi satu
memikul tugas dan tanggung jawab. arah. Pimpinan puskesmas sebagai
f. Gaya kepemimpinan partisipatif komunikator merupakan pihak yang
(Democratic, Egalitarian) menentukan apa, bagaimana dan di
Yaitu gaya kepemimpinan dengan mana perintah itu dikerjakan agar
banyak memberikan dukungan tetapi keputusan tugas dan program
sedikit memberikan pengarahan, Puskesmas dapat dilaksanakan secara
pengambilan keputusan dilakukan efektif
bersam-sama dengan pegawai, aktif 2) Fungsi konsultasi
mencari masukan dan saran dalam Fungsi ini bersifat komunikasi dua
menentukan keputusan /kebijakan, arah. Dalam usaha menetapkan
mendorong keikutsertaan pegawai keputusan, pimpinan Puskesmas
dalam aktivitas untuk mencapai tujuan, memerlukan bahan pertimbangan
kontrol atas pelaksanaan keputusan yang mengharuskannya
dilaksanakan secara bersama-sama berkomunikasi dengan staf
sesuai dengan wewenangnya, supervisi puskesmas yang dinilai mempunyai
dilaksanakan secara longgar, informasi yang diperlukan dalam
komunikasi berlangsung dua arah, menetapkan keputusan. Konsultasi
tinggi perhatian pada tugas dan dari pimpinan puskesmas kepada staf
pegawai, saling menghormati diantara dapat dilakukan pada proses
pegawai tanpa mempedulikan pengambilan keputusan dan staf
kedudukan, menciptakan lingkungan melaksanakan keputusan.
kerja yang kondusif dan 3) Fungsi Partisipasi
memperhatikan kesejahteraan pegawai, Dalam menjalankan fungsi ini
mengutamakan kepentingan kelompok, pimpinan puskesmas berusaha
dapat meningkatakn komitmen, mengaktifkan dan mengikutsertakan
motivasi dan rasa hormat pegawai. staf puskesmas dalam mengambil
keputusan tugas dan program. dapat menurunkan resiko pengambilan
Partisipasi tidak berarti bebas tanpa keputusan, pemecahan masalah yang
kendali, namun berupa kerjasama dan efektif dan terencana.
kemitraan antara pimpinan dan staf b. Manajemen keperawatan dilaksanakan
puskesmas dan dengan tidak melalui penggunaan waktu yang efektif.
mencampuri atau mengambil tugas Manajer keperawatan yang menghargai
pegawai. waktu akan menyusun perencanaan yang
4) Fungsi delegasi terprogram dengan baik dan
Fungsi ini dilaksanakan dengan melaksanakan kegiatan sesuai dengan
melimpahkan wewenang dan waktu yang telah ditentukan
tanggung jawab kepada staf sebelumnya.
puskesmas dalam mengambil dan c. Manajemen keperawatan akan
menetapkan keputusan tugas dan melibatkan pengambilan keputusan.
program puskesmas, baik melalui Berbagai situasi maupun permasalahan
persetujuan maupun tanpa yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan
persetujuan dari pemimpin keperawatan memerlukan pengambilan
puskesmas. keputusan di berbergai tingkat
5) Fungsi pengendalian manajerial.
Fungsi pengendalian agar pemimpin d. Memenuhi kebutuhan asuhan
puskesmas mampu mengatur aktivitas keperawatan pasien merupakan fokus
pegawai puskesmas secara terarah perhatian manajer perawat dengan
dan terkoordinasi, sehingga mempertimbangkan apa yang pasien
memungkinkan pelaksanaan tugas lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan
dan program puskesmas terselenggara pasien merupakan poin utama dari
secara efektif dan efisien. seluruh tujuan keperawatan.
e. Manajemen keperawatan harus
1.2.4. Konsep dan prinsip kepemimpinana terorganisir. Pengorganisasian dilakukan
manajemen diruang rawat dan sesuai dengan kebutuhan organisasi
puskesmas untuk mencapai tujuan.
Menurut Sri Mugianti (2016), f. Pengarahan merupakan elemen kegiatan
prinsipmanajemen adalah sebagai berikut: manajemen keperawatan yang meliputi
a. Manajemen keperawatan seyogyanya proses pendelegasian, supervisi,
berlandaskan perencanaan karena koordinasi dan pengendalian
melalui fungsi perencanaan, pimpinan pelaksanaan rencana yang telah
diorganisasikan. komunikasin yang efektif. Komunikasi
g. Divisi keperawatan yang baik yang efektif akan mengurangi kesalah
memotivasi karyawan untuk pahaman dan memberikan persamaan
memperlihatkan penampilan kerja yang pandangan, arah dan pengertian diantara
baik pegawai.
h. Manajemen keperaswatan menggunakan

KESIMPULAN rumah sakit. Pimpinan rumah sakit perlu


memberi pengakuan, dukungan, dan motivasi
Sosialisasi mengenai penerapan pengendalian
bagi kepala ruangan penerapan pengendalian
mutu keperawatan cukup efektif meningkatkan
mutu keperawatan di ruangan rawat dan
pengetahuan kepala ruangan dan tentang
Puskesmas.
program mutu yang dipersyaratkan akreditasi

DAFTAR PUSTAKA
1. Nursalam.2014.Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional Edisi 4.Salemba Medika : Jakarta
2. Mugianti,Sri.2016.Manajemen dan Kepemimpinan Dalam Praktek Keperawatan.Pengem
bangan Desain Intruksional:Jan Hotman
3. Marquis dan Huston (2010). Kepemimpinan dan manajemen keperawatan.Salemba
Medika.Jakarta.Buku1.Edisi 7
4. Huber, D.2010.Leadership and Nursing Care Management (4rd ed).USA
5. Swansburg, R.C. (2000). Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen
Keperawatan.Jakarta: EGC
6. Endang Sutisna Sulaeman (2011), Manajemen Kesehatan Teori dan Praktik di
Puskesmas. Yogyakarta : Gadjah Mada university press.
7. Sri Mugianti (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia) 2016, Modul Bahan
Ajar Cetak Keperawatan:Manajemen Dan Kepemimpinan Dalam Praktek
Keperawatan.
8. Silalahi, Ulber.2002.Pemahaman praktis azas-azas manajemen.Bandung:Mandar Maju.
9. Daft, Richard.L.(2007).Manajemen Edisi 6.PT.Salemba Empat.Jakarta
10. Herujito,Yayat (2001).Dasar-Dasar Manajemen.Jakarta:Gramedia Widiaasarana
Indonesia