Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Orientasi merupakan suatu proses seseorang untuk menangkap atau mengerti keadaan
sekitarnya dan dapat melokalisir dirinya dalam hubungan dengan sekitarnya
tersebut.Sedangkan orientasi karyawan adalah suatu program yang dibuat dalam suatu
perusahaan yang bertujuan untuk memperkenalkan karyawan baru pada pekerjaan dan
perusaaan tempat ia bekerja, bagaimana kedudukan atau peran karyawan, organisasi dan
karyawan lain, kehidupan sosial, budaya dan lingkungan di sekitar tempat kerja.

Alasan pelaksanaan dari program orientasi kerja adalah karena adanya beberapa
tantangan yang biasanya dihadapi oleh pegawai baru khususnya pegawai yang masih
muda dan belum berpengalaman ketika pertama kali memasuki organisasi seperti
menghadapi harapan yang tidak realistis yang berkaitan dengan jenis pekerjaan yang akan
dilakukan, jumlah feedback atau bantuan yang diterima,keseimbangan antara tujuan
pribadi dan organisasi dan lain sebagainya

Dalam rangka untuk meningkatkan kapasitas kemampuan karyawan di Rumah Sakit


atau Faskes PT Prima Medica Nusantara diperlukan mekanisme untuk melakukan
pembinaan dan pembekalan kepada khususnya kepada dokter umum yang akan bekerja.
Program tersebut dilaksanakan dalam jangka waktu yang telah ditentukan untuk
memberikan kesempatan kepada calon karyawan untuk melakukan pengenalan terhadap
tugas pokok dan fungsi sesuai dengan tujuan rekrutmen. Disamping itu, masa orientasi
akan memberikan pemahaman dan pengenalan bagi para calon karyawan pada tugas dan
fungsi serta visi misi PT Prima Medica Nusantara sehingga para calon karyawan dapat
segera melaksanakan tugas dan fungsinya dan mampu memberikan dukungan yang tepat
kepada pelaksanaan tugas pelayanan kesehatan PT. Prima Medica Nusantara.

1.2 Tujuan Umum

Tujuan dilaksanakannya kegiatan dan laporan oleh calon Karyawan Pimpinan di


lingkungan Prima Medica Nusantara khususnya Dokter yaitu
1. Mendapatkan informasi dan pandangan mengenai visi, misi, dan struktur organisasi
PT. Prima Medica Nusantara
2. Memahami dan menjalankan fungsi Dokter di Rumah Sakit sebagai fungsi struktural
dan fungsional yang diamanatkan oleh perusahaan.
3. Menjalankan tugas Dokter di Faskes sesuai denga Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 71 Tahun 2013 (Pasal 16) tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan
Kesehatan Nasional, yang menyebutkan bahwa Pelayanan Kesehatan Tingkat
Pertama merupakan pelayanan kesehatan non spesialistik
4. Menambah dan memperluas pengetahuan Dokter agar dapat mengaplikasikan teori
yang telah diperoleh selama ini
5. Membuat dan menerapkan rencana langkah dan strategi untuk pengembangan
Rumah Sakit/ Faskes

1.3. Tujuan Khusus

Terciptanya suasana kerja yang kondusif, sehingga dokter dapat bekerja dengan
professional sesuai dengan tugas dan fungsinya dan dapat menerapkan efisiensi dan
efektivitas kerja pada lingkungan kerja
BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1 Sejarah Rumah Sakit PMN (Prima Medica Nusantara)

Rumah sakit Menurut Undang-undang RI no 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit


merupakan Institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan
gawat darurat.

Pelayanan paripurna merupakan pelayanan kesehatan yang meliputi promotif,


preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Menurut Undang – undang rumah sakit bangunan
atau sarana rumah sakit paling sedikit terdiri atas ruang:

a. Rawat jalan
b. Ruang rawat inap
c. Ruang gawat darurat
d. Ruang operasi
e. Ruang tenaga kesehatan
f. Ruang radiologi
g. Ruang laboratorium
h. Ruang sterilisasi
i. Ruang farmasi
j. Ruang pendidikan dan latihan
k. Ruang kantor dan administrasi
l. Ruang ibadah, ruang tunggu
m. Ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit
n. Ruang menyusui
o. Ruang mekanik
p. Ruang dapur
q. Laundry
r. Kamar jenazah
s. Taman
t. Pengolahan sampah
u. Pelataran parkir yang mencukup
Adapun Prasarana yang dijelaskan undang-undang no 44 tahun 2009 tentang rumah
sakit adalah :
a. Instalasi air
b. Instalasi mekanikal dan elektrikal
c. Instalasi gas medik
d. Instalasi uap
e .Instalasi pengelolaan limbah
f. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran
g. Petunjuk, standar dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat
h. Instalasi tata udara
i. Sistem informasi dan komunikasi
j. Ambulan

PT. Prima Medica Nusantara pada tahun 2004-2015 Merupakan Balai Pengobatan PT
Perkebunan Nusantara IV berawal bertempat di Jalan Kartini No.23 yang melayani
karyawan/ti, batih serta pensiunan dan batih PTPN IV yang pengelolaannya dari PT
Perkebunan Nusanatara IV. Tahun 2015 s/d sekarang Balai Pengobatan PTPN IV berganti
nama menjadi Klinik Pratama Rawat Jalan Prima Medica Nusantara dengan alamat di Jalan
Gajah Mada Nomor 47 Medan dan melayani pasien berasal dari Karyawan/ti, batih serta
pensiunan dan batih PTPN IV ditambah dengan pasien BPJS Mandiri, Jaminan Kesehatan
Nasional dan Kartu Indonesia Sehat yang pengelolaannnya oleh PT Prima Medica Nusantara.
Dan selanjutnya diupayakan untuk merekrut peserta BPJS dari luar PTPN IV. Rumah sakit
PT. Prima Medica Nusantara ini merupakan rumah sakit tipe C yang mempunyai pelayanan
seperti pelayanan berdasarkan permenkes. Adapun Rumah sakit tipe C menurut permenkes
56 tahun 2014 tentang klasifikasi Rumah Sakit, Pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit
Umum kelas C paling sedikit meliputi:
a. pelayanan medik;
b. pelayanan kefarmasian;
c. pelayanan keperawatan dan kebidanan;
d. pelayanan penunjang klinik;
e. pelayanan penunjang nonklinik; dan
f. pelayanan rawat inap.
Faskes yang ada di PT PMN mempunyai 16 faskes yaitu masing-masing :
a. Lingkup RS Laras :
- Faskes laras
- Faskes Bahjambi
- Faskes Mayang
- Faskes Sosa
- Faskes Timur
b. Lingkup RS Balimbingan
- Faskes Balimbingan
- Faskes Pasir Mandoge
- Faskes Sidamanik
c. Lingkup RS Pabatu
- Faskes Sawit Langkat
- Faskes PMN Medan
- Faskes Adolina
- Faskes Pabatu
- Faskes Tinjouan
- Faskes Pulau Raja
- Faskes Berangin
- Faskes Ajamu
Direktur PT. PMN

Dewan Pengawas RS Manager Operasional


operasional

Kabid Keuangan Kabid SDM


Kepala Rumah Sakit

kabid Kd Administrasi dan keuangan


Kabid Pelayanan Medis Kabid Penunjang Non Medis Kabid Penunjang Medis

-IPAL -Inst. Laboratorium -Administrasi


- Pelayanan medis - Inst.Farmasi -pembukuan
-Loundry
- Dokter
-Kesling -Inst.Radiologi -SDM

-Gudang -Inst.Gizi -Penggajian


- Karyawan pelaksana
-Gas Medis -Inst.Rekam Medis -Anggaran

-Ambulans -ICU

-IPSRS

Gambar 1. Struktur Organisasi PT. PMN

2.2 Managemen Rumah Sakit


2.2.1 Pengertian Rumah Sakit
Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah
sakit,dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

2.2.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Rumah Sakit mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang


bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya
pelayanan kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan
mengutamakan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan
terpadu dengan peningkatan dan pencegahan serta pelaksanaan upaya rujukan.
2.2.3. Klasifikasi Rumah Sakit

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


No.340/Menkes/Per/III/2010, rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan
kepemilikan, jenis pelayanan, dan kelas, yaitu :

a. Berdasarkan kepemilikan.
Rumah sakit yang termasuk ke dalam jenis ini adalah rumah sakit
pemerintah (pusat, provinsi, dan kabupaten), rumah sakit BUMN
(ABRI), dan rumah sakit yang modalnya dimiliki oleh swasta (BUMS)
ataupun Rumah Sakit milik luar negri (PMA)

b. Berdasarkan Jenis Pelayanan.


Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah rumah sakit umum, rumah
sakit jiwa, dan rumah sakit khusus (misalnya rumah sakit jantung, ibu
dan anak, rumah sakit mata, dan lain-lain.

c. Berdasarkan Kelas.

Rumah sakit berdasarkan kelasnya dibedakan atas rumah sakit kelas A,


B (pendidikan dan non-pendidikan), kelas C, kelas D.

Rumah sakit umum kelas A, adalah rumah sakit umum yang


mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik 2 dokter subspesialis,
1 dokter gigi. 1 apoteker sebagai kepala instalasi farmasi rumah sakit, 5
apoteker dirawat jalan, 5 apoteker dirawat inap, 1 apoteker di instalasi gawat
darurat, 1 apoteker diruang ICU, 1 apoteker sebagai penerima dan distribusi
yang dapat merangkap dirawat inap atau rawat jalan.

Rumah sakit umum kelas B, adalah rumah sakit umum yang


mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan gawat darurat yang harus
diselenggarakan 24 jam sehari secara terus menerus, pelayanan medik
spesialis dasar meliputi pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah,
dan obstetri dan ginekologi. Pelayanan medik spesialis penunjang meliputi
pelayanan anastesiologi, radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, dan
rehabilitasi medik. 3 dokter spesialis dasar, 2 dokter spesialis penunjang, 1
dokter gigi.
Rumah sakit umum kelas C, adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan gawat darurat harus 24 jam
sehari secara terus menerus, pelayanan medik umum meliputi pelayanan
medik dasar yaitu pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, obstetric
dan ginekologi. Pelayanan gigi mulut, kesehatan ibu dan anak, dan keluarga
berencana. Pelayanan medik penunjang meliputi anastesiologi, radiologi dan
patologi klinik. Tenaga dokter paling sedikit 2 dokter gigi, 2 dokter umum, 2
dokter spesialis dasar, 1 dokter spesialis penunjang. Tenaga farmasi paling
sedikit 1 apoteker sebagai kepala instalasi farmasi rumah sakit, 2 apoteker
rawat inap dengan dibantu 4 orang tenaga teknis kefarmasian, 4 orang
apoteker dirawat jalan dibantu dengan 8 orang tenaga teknis kefarmasian, 1
orang apoteker sebagai koordinataor penerimaan dan distributor obat.

Rumah sakit umum kelas D, adalah rumah sakit umum yang


mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik dasar.

2.3 Instalasi Rawat Inap

Instalasi rawat inap merupakan unit pelayanan non struktural yang menyediakan
fasilitas fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan rawat inap. Pelayanan rawat
inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di rumah sakit yang
merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat
inap adalah pasien yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena
penyakitnya.

2.3.1 Kualitas Pelayanan Rawat Inap

Menurut Adji Muslihuddin (2011), Mutu asuhan pelayanan rawat inap


dikatakan baik apabila:

a. Petugas harus mampu melayani dengan cepat.


b. Penanganan pertama dari perawat dan dokter profesional harus mampu membuat
kepercayaan pada pasien.
c. Ruangan yang bersih dan nyaman.
d. Peralatan yang memadai dengan operator yang profesional memberikan nilai
tambah.
2.3.2 Pelayanan Tenaga Medis dan Paramedis

Tenaga medis merupakan unsur yang berpengaruh besar dalam menentukan


kualitas pelayanan yang diberikan. Fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan
medik kepada pasien dengan mutu sebaik-baiknya, menggunakan tata cara dan teknik
berdasarkan ilmu kedokteran dan etik yang berlaku serta dapat dipertanggungjawabkan
kepada pasien dan rumah sakit. Donabedian (2010), mengatakan bahwa perilaku dokter
dalam aspek teknis manajemen, manajemen lingkungan sosial, manajemen psikologi
manajemen kontinuitas, koordinasi kesehatan dan penyakit harus mencakup beberapa
hal:

a. Ketepatan diagnosis.
b. Ketepatan dan kecukupan terapi.
c. Catatan dan dokumen pasien yang lengkap.
d. Koordinasi perawatan secara kontinuitas bagi semua anggota keluarga

2.3.3 Penyediaan Sarana Medik, Non Medik, dan Obat obatan

Standar peralatan yang harus dimiliki oleh rumah sakit sebagai penunjang untuk
melakukan diagnosis, pengobatan, perawatan dan sebagainya tergantung dari tipe rumah
sakit. Dalam rumah sakit, obat merupakan sarana yang mutlak diperlukan, bagian
farmasi bertanggung jawab. atas pengawasan dan kualitas obat. Persediaan obat harus
cukup, penyimpanan efektif, diperhatikan tanggal kadaluarsanya, dan sebagainya.

2.3.4 Standar Pelayanan Instalasi Rawat Inap

Standar pelayanan minimal (Kepmenkes 129 Tahun 2008) adalah ketentuan


tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang
berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Selain itu juga merupakan spesifikasi
teknis tentang tolak ukur pelayanan minimum yang diberikan oleh Badan Layanan
Umum.

Dengan pelayanan rekam medis dan pemeliharaan sarana yang baik, pasien di
rawat inap akan merasa puas dan nyaman dalam proses penyembuhannya. Selain
menentukan SPM, Depkes juga menentukan indikator pelayanan rumah sakit yang
dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan
rumah sakit. Indikator tersebut terbagi untuk masing-masing unit yakni :

1. BOR (Bed Occupancy Ratio) adalah persentase pemakaian tempat tidur pada satuan
waktu tertentu. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI.
2005).

Rumus BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur x
Jumlah hari dalam satu periode)) X 100%

2. ALOS (Average Length of Stay) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Secara
umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes RI. 2005).

3. TOI (Turn Over Interval) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati
dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat
efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada
kisaran 1-3 hari.

Rumus TOI = (Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah


pasien keluar (hidup + mati)

4. BTO (Bed Turn Over) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode,
berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.

Rumus BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur

5. NDR (Net Death Rate) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap
1000 penderita keluar.

Rumus NDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup +
mati)) X 1000 permil
Tabel 1. Indikator Rawat Inap Menurut Departemen Kesehatan

Indikator Standar Ideal Menurut


Depkes
BOR (Bed Occupancy Ratio) 60-85%

BTO (Bed Turn Over) 40-50 kali


LOS (Length of Stay) 6-9 hari
TOI (Turn Over Interval) 1-3 hari
NDR (Net Death Rate) ≤ 25%
GDR (Gross Death Rate) ≤ 45%

2.4. Manajemen Resiko

Salah satu caranya adalah dengan program manajemen risiko formal yang
komponen-komponen pentingnya meliputi :

1. Identifikasi risiko;
2. Prioritas risiko;
3. Pelaporan risiko;
4. Manajemen risiko;
5. Invesigasi Kejadian yang Tidak Diharapkan (KTD);
6. Manajemen terkait tuntutan (klaim).

Dalam menerapkan manajemen risiko rumah sakit perlu memperhatikan proses-


proses berisiko yang dapat terjadi pada pasien, yaitu :

a. manajemen pengobatan;
b. risiko jatuh;
c. pengendalian infeksi;
d. gizi;
e. risiko peralatan;dan
f. risiko sebagai akibat kondisi yang sudah lama berlangsung.
Dalam menyusun daftar risiko diharapkan rumah sakit agar memperhatikan ruang
lingkup manajemen risiko rumah sakit yang meliputi beberapa hal, namun tidak terbatas
pada :

1. pasien;
2. staf medis;
3. tenaga kesehatan dan tenaga lainnya yang bekerja di rumah sakit;
4. fasilitas rumah sakit;
5. lingkungan rumah sakit;dan
6. bisnis rumah sakit.

Panduan Manajemen Resiko K3 rumah sakit adalah panduan yang digunakan sebagai
acuan dalam melaksanakan manajemen resiko K3 di rumah sakit. Rumah sakit
merupakan salah satu area yang memiliki banyak bahaya dan resiko. Hal ini disebabkan
karena banyaknya alat medis yang digunakan, bahan B3 yang digunakan, struktur
bangunan, bahan mudah terbakar, alat-alat nonmedis, pekerjaan beresiko, lingkungan
tidak aman, dan material atau bahan yang berbahaya.

Panduan Manajemen Resiko K3 rumah sakit akan digunakan tim K3 RS dalam


menghadapi mengendalikan resiko dan bahaya yang ada di seluruh area rumah sakit.
Dalam pembuatan Panduan Manajemen Resiko K3 rumah sakit, petugas K3RS wajib
berkoordinasi dengan semua unit atau bagian untuk mengetahui daftar resiko disetiap
ruangannya masing-masing sehingga sebelum membuat panduan manajemen resiko K3,
petugas K3RS wajib melakukan identifikasi bahaya dan resiko terlebih dahulu. Formulir
yang digunakan adalah Hazard Identification and Risk Assesment (HIRA).

2.5 Manajemem Klaim Rumah Sakit

Sistem INA-CBGs adalah sistem kodifikasi dari diagnosis akhir dan


tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, berbasis pada data costing dan coding
penyakit yang mengacu International Classification of Diseases (ICD) yang disusun
WHO dengan acuan ICD-10 untuk diagnosis dan ICD-9-Clinical Modifications untuk
tindakan/prosedur .
Klaim BPJS adalah pengajuan biaya perawatan pasien peserta BPJS oleh pihak
rumah sakit kepada pihak BPJS Kesehatan dilakukan secara kolektif dan ditagihkan
kepada pihak BPJS Kesehatan setiap bulannya.

Berikut Proses Klaim Rumah sakit


a. Pengecekan Data Rekam Medis
b. Lakukan Audit oleh Tim koding dan Tim audit
c. Proses Klaim

Kelengkapan dokumen klaim BPJS yang diajukan oleh rumah sakit kepada pihak
BPJS meliputi ; rekapitulasi pelayanan dan berkas pendukung pasien yang terdiri dari
surat eligibilitas peserta (SEP), resume medis/laporan status pasien / keterangan diagnosa
dari dokter yang merawat, bukti pelayanan lainnya, misalnya ; protokol terapi dan regimen
(jadwal pemberian obat), perincian tagihan rumah sakit (manual atau automatic billing)
dan berkas pendukung lain yang diperlukan.

Tugas dan tanggung jawab dokter adalah menegakkan dan menuliskan diagnosis
primer dan diagnosis sekunder sesuai dengan ICD-10, menulis seluruh tindakan/prosedur
sesuai ICD-9-CM yang telah dilaksanakan serta membuat resume medis pasien secara
lengkap dan 9 jelas selama pasien dirawat di rumah sakit.

Tugas dan tanggung jawab seorang koder adalah melakukan kodifikasi diagnosis
dan tindakan/prosedur yang ditulis oleh dokter yang merawat pasien sesuai dengan ICD-
10 untuk diagnosis dan ICD9-CM untuk tindakan/prosedur yang bersumber dari rekam
medis pasien. Apabila dalam melakukan pengkodean diagnosis atau tindakan/prosedur
koder menemukan kesulitan ataupun ketidaksesuaian dengan aturan umum pengkodean,
maka koder harus melakukan klarifikasi dengan dokter.

Verifikator BPJS Kesehatan akan melakukan verifikasi berkas lewat klaim BPJS
yang diajukan oleh fasilitas kesehatan yang tujuanya untuk menguji kebenaran pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit kepada pasien BPJS Kesehatan guna untuk
menjaga mutu layanan dan efisiensi biaya pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS
Kesehatan
Diagnosis utama adalah diagnosis yang ditegakkan oleh dokter pada akhir episode
perawatan yang menyebabkan pasien mendapatkan perawatan atau pemeriksaan lebih
lanjut. Jika terdapat lebih dari satu diagnosis, maka dipilih yang menggunakan sumber
daya paling banyak. Jika tidak terdapat diagnosis yang dapat ditegakkan pada akhir
episode perawatan, maka gejala utama, hasil pemeriksaan penunjang yang tidak normal
atau masalah lainnya dipilih menjadi diagnosis utama.

Diagnosis Sekunder adalah diagnosis yang menyertai diagnosis utama pada saat
pasien masuk atau yang terjadi selama episode perawatan. Diagnosissekunder merupakan
komorbiditas dan/atau komplikasi.
Komorbiditas adalah penyakit yang menyertai diagnosis utama atau kondisi yang
sudah ada sebelum pasien masuk rawat dan membutuhkan pelayanan kesehatan setelah
masuk maupun selama rawat.

Komplikasi adalah penyakit yang timbul dalam masa perawatan dan memerlukan
pelayanan tambahan sewaktu episode pelayanan, baik yang disebabkan oleh kondisi yang ada
atau muncul akibat dari pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.

Episode adalah jangka waktu perawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai
pasien keluar rumah sakit, termasuk konsultasi dan pemeriksaan dokter, pemeriksaan
penunjang maupun pemeriksaan lainnya.

Pada sistem INA-CBG, hanya ada 2 episode yaitu episode rawat jalan dan rawat inap,
dengan beberapa kriteria di bawah ini :
a. Episode rawat jalan Satu episode rawat jalan adalah satu rangkaian pertemuan
konsultasi antara pasien dan dokter serta pemeriksaan penunjang sesuai indikasi
medis dan obat yang diberikan pada hari pelayanan yang sama. Apabila
pemeriksaaan penunjang tidak dapat dilakukan pada hari yang sama maka tidak
dihitung sebagai episode baru. Pasien yang membawa hasil pada hari pelayanan
yang berbeda yang dilanjutkan dengan konsultasi dan pemeriksaan penunjang lain
sesuai indikasi medis, dianggap sebagai episode baru.
b. Episode rawat inap adalah satu rangkaian perawatan mulai tanggal masuk sampai
keluar rumah sakit termasuk perawatan di ruang rawat inap, ruang intensif dan
ruang operasi. Ketentuan tambahan terkait dengan episode rawat inap
c. Pelayanan rawat inap yang menjadi kelanjutan dari proses perawatan dirawat jalan
atau gawat darurat, maka pelayanan tersebut masuk dalam satu episode rawat inap
d. Pelayanan IGD lebih dari 6 jam, telah mendapatkan pelayanan rawat inap dan
secara administrasi telah menjadi pasien rawat inap termasuk dalam satu episode
rawat inap
e. Dalam hal pasien telah mendapatkan pelayanan rawat inap yang lama perawatan
kurang dari 6 jam dan pasien meninggal termasuk satu episode rawat inap
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Alur Pelayanan Tingkat lanjut

Pasien

UGD POLI

KTP
Administrasi Administrasi Kartu BPJS
Kartu Keluarga

Kartu SEP(Surat Eligibility Peserta)

Dokter umum Antrian di poli

Rawat Inap Dokter DPJP

OBAT

Penghitungan Jasa

Diserahkan ke KODER

Claim BPJS

Pasien dapat masuk melalui UGD atau dari poli tergantung dari kondisi pasien saat
masuk. Setelah itu melengkapi administrasi berupa KTP, kartu BPJS, Kartu keluarga, surat
rujukan jika masuk ke poli. Setelah itu Fasilitas kesehatan bertanggung jawab untuk
melakukan pengecekan keabsahan kartu dan surat rujukan serta melakukan input data ke
dalam aplikasi Virtual Claim untuk pembuatan dan pencetakan SEP (Surat Eligibility Peserta
lalu pasien bertemu dokter, dokter melakukan anamnesa dimana hasil anamnesa berisi
keluhan utama maupun keluhan penyerta yang sering disampaikan oleh pasien atau keluarga
pasien. Penelusuran riwayat penyakit yang diderita saat ini dan penyakit lain yang merupakan
faktor resiko,riwayat keluarga, riwayat sosial dan riwayat alergi menjadi informasi spesifik
yang harus diperoleh dokter untuk menguatkan diagnosis penyakit. Pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang spesifik dapat mengarah kepada diagnosis serta menyingkirkan
diagnosis banding. Seorang dokter dapat menegakkan diagnosis setelah melakukan
anamnesa, pemeriksaaan fisik dan pemeriksaaan penunjang yang sudah menjadi standar
algoritma penegakan diagnosis. Sistematika rencana penatalaksanaan yang berorientasi
kepada pasien dapat terbagi menjadi dua bagian yaitu penatalaksanaan non farmakologi dan
farmakologi. Penatalaksaan non farmakologi itu meliputi edukasi dan konseling sedangkan
penatalaksanaan farmakologi meliputi obat-obatan sesuai diagnosis dan keluhan pasien.
Untuk pasien poli yang sudah bertemu dengan dokter dan dokter sudah melakukan pelayanan
medis maka pasien diarahkan kebagian apotik untuk mengambil obat dan untuk pasien rawat
inap dokter akan melakukan follow-up dan menuliskan resep obat didalam rekam medis.
Setelah itu seluruh rekam medis diserahkan ke bagian RM untuk di hitung jasa
pengeluarannya, lalu diserahkan ke CODER untuk proses klaim dengan aplikasi E-Klaim
atau biasanya disebut dengan NCC yang terhubung dengan INA-CBG sehingga biaya yang
sudah dikeluarkan rumah sakit dapat di claim ke BPJS .

3.2 Indikator Rumah Sakit

Tabel 2. Indikator Rumah Sakit

Indikator Standar Ideal Menurut


Depkes
BOR (Bed Occupancy Ratio) 60-85%
BTO (Bed Turn Over) 40-50 kali
LOS (Length of Stay) 6-9 hari
TOI (Turn Over Interval) 1-3 hari
Laporan BOR, ALOS, TOI, BTO

BULAN Jlh pasien Jlh hari ALOS BOR TOI BTO


hidup/mati rawat
Januari 326 1.404 4,0 45,29 5,0 3,0
Februari 281 1.133 4,0 40,46 6,0 3,0
Maret 359 1.579 4,2 50,93 4,0 3,0
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah 966 4116 12 85,75 15 8,8

 BOR (Bed Occupancy Ratio) untuk bulan januari-maret 2019 adalah 85,75 % dan
sudah memenuhi standar ideal menurut depkes (60-85%). Jika nilai BOR melebihi
nilai standar berarti semakin tinggi penggunaan tempat tidur yang tersedia untuk
perawatan pasien. Namun perlu diperhatikan pula bahwa semakin banyak pasien yang
dilayani berarti semakin sibuk dan semakin berat pula beban kerja petugas kesehatan
di unit tersebut akibatnya pasien kurang mendapatkan perhatian yang dibutuhkan
dalam proses perawatan sehingga pasien akan merasa tidak puas. Namun jika BOR
semakin rendah berarti semakin sedikit tempat tidur yang digunakan untuk merawat
pasien dibandingkan tempat tidur yang tersedia. Dengan kata lain, jumlah pasien yang
sedikit bisa menimbulkan kesulitan pendapatan ekonomi bagi pihak rumah sakit
 ALOS (Average Length of Stay) untuk bulan januari-maret 2019 adalah 12. Angka
AvLOS yang sedikit tinggi bisa menunjukkan kinerja kualitas medis yang kurang baik
karena pasien harus dirawat lebih lama. Mengingat semakin tinggi AvLOS maka
semakin tinggi biaya yang nantinya harus dibayar oleh pasien kepada pihak RS.
 TOI (turn over internal) untuk bulan januari-maret 2019 15,0 semakin besar angka
TOI, berarti lama waktu menganggurnya sebuah tempat tidur tidak digunakan oleh
pasien. Hal ini berarti tempat tidur semakin tidak produktif. Kondisi ini tentu tidak
menguntungkan dari segi ekonomi bagi pihak manajemen rumah sakit. Semakin kecil
angka TOI maka semakin singkat saat tempat tidur menunggu pasien berikutnya. Hal
ini berarti tempat tidur bisa sangat produktif , apabila jika TOI = 0 berarti tempat
tidur tidak sempat kosong satu haripun dan segera digunakan lagi oleh pasien
berikutnya. Hal ini bisa sangat menguntungkan secara ekonomi bagi pihak
manajemen Rumah sakit, tapi bisa merugikan pasien karena tempat tidur tidak sempat
disiapkan secara baik. Akibatnya, kejadian infeksi nosokomial mungkin saja
meningkat, beban kerja tim medis meningkat sehingga kepuasan dan keselamatan
pasien terancam.
 BTO ( bed turn over) adalah yang menunjukan jumlah rata-rata jumlah pasien yang
menggunakan setiap tempat tidur dalam periode tertentu. BTO bulan januari-maret
adalah 8,8. Maka berarti dalam bulan januari-maret tersebut setiap tempat tidur
digunakan oleh 8-9 pasien secara bergantian.
Beberapa formula menggunakan rate dan tidak ada persetujuan umum yang
mengatakan bahwa indikator ini tepat untuk mengukur utilitas rumah sakit, tetapi
bagaimanapun administrator rumah sakit masih menggunakan karena mereka ingin
juga melihat keselarasan dari indikator lainnya yang terkait seperti length of stay dan
bed occupancy rate. Ketika occupancy rate bertambah dan length of stay memendek
maka akan tampak efek dari perubahan atau bed turn over rate.

3.3. Pola 10 Penyakit Terbesar Rumah Sakit Pabatu Rawat Jalan Tahun 2019

No Nama Kasus Jan Feb MAR Apr Mar Mei JUN JUL Jumlah
Penyakit penyaki
t
berdas
arkan
ICD-x
1 Pseudofakia R10- 53 52 105
R19

2 Spondylosis R50 53 49 102

3 Congestive O21- 20 47 67
Heart O83
Failure
4 Fever S00- 18 12 30
T14
5 Hypertensi A00- 16 32 48
A09
6 Epilepsy I20-I50 16 14 30
7 Stroke E10- 14 20 34
E14

8 I 10- I 13 21 34
15
9 D 51- 12 5 17
D64

10 Gagal ginjal N17 – 11 16 27


lainnya N19

11 PPOK J 40- J 10 4 14
44