Anda di halaman 1dari 7

DISKUSI KASUS

1. R. Gilang Nala Suwastra, S.Ked


a. Berapa lama pemberian obat topikal (krim ketokonazole 2 %) pada pasien ini?
Anti jamur topikal digunakan selama 4 minggu dan diteruskan minimal 1 minggu
setelah lesi menghilang.
Sumber:
Fungal Infections of the Skin and Hair. In Wolff, Klaus. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, Six Edition. 2009. McGraw-Hill. p.696.

b. Apakah penggunaan ketokonazole topikal dapat menyebabkan hepatotoksik?


Penggunaan anti jamur topikal golongan imidazol jarang menimbulkan efek sistemik
seperti hepatotoksik. Dikarenakan absorpsi sistemik lebih sedikit dan interaksi obat
jarang terjadi. Adapun efek samping anti jamur topikal yang dapat terjadi yaitu,
dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergi, dan urtikaria.
Sumber:
High, Whithey A., Topical Antifungal Agents. In: Wolff, Klaus. Fitzpatrick’s Dermatology In General
Medicine, Seventh Edition, Volume 2. 2008. McGraw-Hill. p.2118-2119.

2. Febrie Kesuma Wardhana, S.Ked


Bagaimana menyingkirkan diagnosis banding pada kasus ini!
Tinea Cruris + Kandidosis Eritrasma Psoriasis Inversa
Tinea Manus Intertriginosa
Anamnesis Faktor Faktor Faktor Faktor predisposisi:
predisposisi: predisposisi: predisposisi: Genetik,Imunologik,
Iklim tropis, Iklim tropis, kelembaban tinggi, Faktor pencetus
kelembaban tinggi, kelembaban tinggi, higiene yang buruk (stress, infeksi,
higiene yang buruk higiene yang buruk trauma)
Klinis Sangat gatal Sangat Gatal Gatal ringan Gatal ringan
(asimptomatik)
Efloresensi Patch eritem, batas Patch eritem, batas Lesi eritematosa, Eritem, batas tegas,
tegas, polisiklis, tegas, hen and batas tegas, dilapisi dilapisi skuama
tepi aktif, central chicken, lesi satelit, skuama halus, berlapis seperti
healing, tidak ada dan madidans biasanya ada erosi mika, perabaan
lesi satelit, dan (perabaan basah) kering
perabaan kering
Penunjang Kerokan kulit + Kerokan kulit + Sinar Wood: Auspitz sign (+)
KOH 10 %: KOH 10 %: Flouroresensi Goresan lilin (+)
Hifa panjang Blastospora, sel merah bata Kobner (+)
ragi dan (collar red)
pseudohifa

8
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan dermatologicus, dan pemeriksaan penunjang yang
dilakukan pada kasus ini, maka dapat ditegakkan diagnosis kerja tinea cruris et manus
sekaligus menyingkirkan diagnosis banding kandidosis intertriginosa, eritrasma dan
psoriasis inversa.
Sumber:
Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Kelima. 2007. Jakarta: FK UI.
Siregar, R.S. Saripati Ilmu Penyakit Kulit. 2004. Jakarta: EGC.
Wolff, Klaus. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology, Six Edition. 2009.
James, William D. Andrews’s Disease of The Skin: Clinical Dermatology, Tenth Edition. 2006.

3. Fedly Aristian, S.Ked


a. Bagaimana penggunaan krim ketokonazole 2 %?
Krim ketokonazole 2 % dioleskan pada daerah lesi dan minimal 3 cm di sekitar
lesinya.
Sumber:
Fungal Infections of the Skin and Hair. In Wolff, Klaus. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, Six Edition. 2009. McGraw-Hill. p.696.

b. Kapan pemberian anti jamur sistemik pada mikosis superfisial?


Indikasi pemberian anti jamur sistemik, apabila lesi luas, kronik, resisten atau gagal
anti jamur topikal, profilaksis pada pasien dengan penyakit immunosupresif (AIDS
dan DM) dan pada pasien tinea capitis, onikomikosis dan tinea unguium.
Sumber:
Fungal Infections of the Skin and Hair. In Wolff, Klaus. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, Six Edition. 2009. McGraw-Hill. p.696.

c. Apakah perlu diberikan terapi simptomatik pada pasien ini?


Ya, perlu diberi antihistamin untuk mengurangi gatalnya. Indikasinya adalah untuk
mencegah infeksi sekunder yang dapat terjadi akibat garukan.

d. Apakah perlu diberikan antibiotik pada pasien ini?


Tidak, karena indikasi pemberian antibiotik adalah jika dicurigai adanya infeksi
sekuder dan profilaksis apabila ditemukan erosi atau eskoriasi yang luas.

e. Pada kasus kronik, apakah mungkin telah resisten antijamur topikal? Anti
jamur sistemik apa yang diberikan?
Pada kasus ini perlu diberikan juga anti jamur sistemik. Griseofulvin adalah obat
pilihan pada infeksi jamur yang resisten terhadap anti jamur topikal. Angka
kesembuhannya mencapai 80 – 95 %. Terbinafine, itraconazole, dan flukonazole

9
juga terbukti sukses dalam pengobatan infeksi jamur superfisial di kulit, rambut, dan
kuku pada anak dan dewasa.
Sumber:
Diepgen, Thomas L. Anti Fungal Agents. In Bolognia, Jean L (editor). Dermatology 2nd Ed Volume
1. 2008. Mosby Elsevier.

f. Apa diagnosis pada kasus tinea yang tidak khas lagi?


Diagnosis pada kasus tersebut adalah tinea incognito, biasanya pada pasien yang
menggunakan kortikosteroid topikal jangka panjang.
Gambar 4. Tinea cruris: tinea incognito
A 60-year-old renal transplant recipient has been
treating thigh rash with topical corticosteroid for
several months. Blotchy erythema with areas of
atrophy and scale on the right medial upper
thigh bordering the inguinal area. Tinea pedis
and onychomycosis were also present. KOH
preparation showed septated hyphae. Topical
steroid facilitates dermatophyte growth,
suppressing the immune response, creating an
undiagnosed infection, tinea incognito.

Sumber:
Fungal Infections of the Skin and Hair. In Wolff, Klaus. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, Six Edition. 2009. McGraw-Hill. p.704.

g. Apa terapi pada kasus tersebut?


Terapi pada kasus tersebut adalah diberikan kombinasi anti jamur topikal dan
sistemik.
Sumber:
Fungal Infections of the Skin and Hair. In Wolff, Klaus. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, Six Edition. 2009. McGraw-Hill. p.696.

4. Aidyl Fitrisyah, S.Ked


a. Pada riwayat perjalanan penyakit, apa makna dari bintil merah gatal terutama
saat berkeringat dan pasien sering menggunakan pakaian ketat?
Infeksi jamur biasanya disertai gatal yang bertambah berat saat berkeringat. Faktor
predisposisi infeksi jamur adalah panas, kelembaban tinggi dan higiene yang buruk.
Pakaian ketat menyebabkan peningkatan produksi keringat yang selanjutnya
meningkatkan kelembaban. Hal ini merupakan iklim yang menunjang pertumbuhan
jamur pada pasien ini.
Sumber:
Siregar, R.S. Penyakit Jamur. Dalam: Saripati Ilmu Penyakit Kulit. 2004. hal.29-30.

10
b. Apa makna penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya tidak ada?
Untuk mengetahui penyakit yang sekarang diderita merupakan penyakit kronik
berulang atau pertama kali diderita. Hal ini sangat membantu dalam penatalaksanaan,
hanya diberi anti jamur topikal atau dikombinasikan dengan anti jamur sistemik.
c. Pada riwayat higiene, apa hubungannya pasien menggunakan handuk yang
sama dengan kakaknya (penderita yang lain)?
Hal ini mendukung diagnosis kerja bahwa penyakit ini merupakan penyakit menular.
Infeksi jamur dapat juga ditularkan melalui kontak tidak langsung seperti handuk,
pakaian, dan tempat tidur yang digunakan bersama penderita yang lain.
d. Pada riwayat keluarga, kakak pasien juga mengeluh timbul bintil merah di
kedua lipat paha, mengapa tinea sering menyerang daerah lipat paha?
Tinea sering menyerang daerah lipat paha dikarenakan daerah lipat paha merupakan
daerah intertriginosa yang mudah terjadi friksi, produksi keringat lebih banyak,
kelembaban tinggi dan jarang dibersihkan dibanding bagian tubuh yang lain. Hal ini
merupakan faktor-faktor yang mendukung terjadinya kelainan kulit termasuk infeksi
jamur.
e. Apa dasar prognosis quo ad sanationam pada pasien ini dubia?
Prognosis quo ad sanationam pada pasien ini dubia. Pertama, apabila pasien menuruti
penatalaksanaan umum atau saran dokter maka prognosisnya bonam. Kedua,
berdasarkan etiologinya, dari anamnesis diketahui bahwa pasien pernah kontak tidak
langsung dengan penderita lain (handuk kakaknya). Jadi, kemungkinan merupakan
jamur golongan antropofilik seperti T. rubrum, T. mentagrophytes, dll. Infeksi jamur
anropofilik sering menjadi kronik berulang. Jadi, prognosisnya dubia ad malam.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prognosis quo ad sanationamnya
dubia.
f. Jelaskan mengenai central healing!
Central healing merupakan daerah lesi bagian sentral yang sudah mengalami
penyembuhan atau tidak aktif lagi.

Central
Healing

11
5. Roykhan Pramudityo, S.Ked
a. Bagaimana metode anamnesis pada pasien usia 10 tahun?
Anamnesis pada pasien dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis.
Autoanamnesis dilakukan untuk mengetahui riwayat perjalanan penyakit sekarang,
riwayat penyakit dahulu, dan riwayat higiene. Sedangkan alloanamnesis dilakukan
untuk mengetahui riwayat penyakit dalam keluarga dan riwayat sosial ekonomi.

b. Apa hubungan pasien tinggal di lingkungan yang padat atau tidak padat?
Pada lingkungan yang padat seperti penjara, pesantren, dan bedeng memiliki insiden
penyakit kulit menular (scabies dan tinea) lebih tinggi dibanding lingkungan yang
tidak padat. Hal ini berkaitan erat dengan cara penularan infeksi jamur tersebut yaitu
kontak langsung dan tidak langsung.

c. Apakah perbedaan penggunaan sabun batang dan sabun cair?


Perbedaan penggunaan sabun cair dan sabun batang terletak pada cara
penggunaannya, dimana sabun cair digunakan sendiri-sendiri, sedangkan sabun
batang dapat digunakan secara bersama-sama. Jadi, ada kemungkinan elemen-
elemen jamur menempel pada sabun batang sehingga dapat menjadi media
penularan.

6. Dicky Permana Putra, S.Ked


a. Apakah etiologi pada kasus ini dapat ditentukan dari penggunaan handuk yang
sama dengan penderita yang lain?
Berdasarkan etiologi, infeksi jamur dapat digolongkan menjadi antropofilik (manusia
ke manusia), zoofilik (hewan ke manusia), dan geofilik (alam ke manusia). Dari
anamnesis didapatkan riwayat pasien menggunakan handuk yang sama dengan
penderita yang lain, sehingga kemungkinan infeksi jamur pada kasus ini berasal dari
manusia (antropofilik) seperti, T. rubrum dan T. Mentagrophytes. Namun, anamnesis
pada kasus ini kurang tajam karena tidak menanyakan riwayat kontak baik dengan
hewan maupun tanah. Jadi, belum dapat menyingkirkan penularan melalui hewan
(zoofilik) dan penularan melalui alam (geofilik).
Sumber:
Fungal Infections of the Skin and Hair. In Wolff, Klaus. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, Six Edition. 2009. McGraw-Hill. p.694.

12
b. Bagaimana cara mengetahui kakak pasien menderita penyakit yang sama?
Diagnosis penyakit keluarga pada kasus ini didasarkan dari rekam medik dan
alloanamnesis. Pada rekam medik didapatkan diagnosis tinea corporis et cruris.
Selain itu, pada alloanamnesis didapatkan penyakit kakak pasien mengalami
perbaikan setelah diberikan kombinasi antijamur sistemik dan antijamur topikal
selama 2 pekan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kakak pasien menderita penyakit
yang sama.

c. Bagaimana solusi menjaga kebersihan pada pasien dengan sosial ekonomi


menengah ke bawah?
Alat-alat yang telah digunakan pasien dan penderita yang lain, segera direndam
dalam air panas, dicuci dengan detergen dan dijemur di bawah sinar matahari untuk
mengurangi elemen-elemen jamur yang menempel pada alat-alat tersebut. Hal ini
bermanfaat untuk memutus rantai penularan dan mengurangi kemungkinan
berulangnya penyakit ini.

d. Apakah perlu penggunaan anti histamin untuk mencegah infeksi sekunder?


Ya, perlu diberi antihistamin untuk mengurangi keluhan gatalnya, untuk mencegah
terjadinya infeksi sekunder yang dapat terjadi akibat garukan.

7. Medina Athiah, S.Ked


Bagaimana pemeriksaan sinar Wood dan apa interpretasinya?
Pasien diperiksa di dalam kamar gelap, kemudian disinari dengan sinar Wood.
Interpretasinya dilihat dari ada tidaknya flouroresensi seperti merah bata/collar red pada
eritrasma dan emas/orange pada tinea versikolor. Sedangkan pada tinea cruris tidak ada
flouroresensi.
Sumber:
Siregar, R.S. Infeksi Jamur Kulit. 2002. Jakarta: EGC.
Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Kelima. 2007. Jakarta: FK UI.

13
8. Prof. Dr. Soenarto K, Sp.KK(K)
Mengapa ketokonazole oral tidak boleh dikombinasikan dengan terfenadine dan
eritromisin?
Ketokonazole merupakan derivat imidazole berkerja menghambat sitokrom P450 14-α-
demethylase, enzim penting untuk sintesis ergosterol. Kombinasi ketokonazole dan
terfenadine, akan meningkatkan kadar terfenadine dalam plasma. Peningkatan kadar
terfenadine akan menyebabkan efek samping diantaranya aritmia jantung bahkan
sampai menyebabkan lethal ventrikular arythmia. Di amerika serikat terfenadine sudah
ditarik dari pasaran karena banyak menimbulkan efek samping yang berbahaya,
diantaranya aritmia jantung dan depresi sistem saraf pusat. Sedangkan, kombinasi
ketokonazole dan eritromisin juga harus dihindari karena dapat memperberat kerja hati
yang selanjutnya menyebabkan hepatotoksik.
Sumber:
Katzung, Betran G. Basic & Clinical Pharmacology 9th Edition.

14