Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN REFERENSI KEANEKARAGAMAN HEWAN

SUPERKELAS REPTIL

Offering I

Disusun Oleh

Novan Adhi Nugroho (180342618044)

Dosen pengampu :

Bagus Priambodo, M.Si, M.Sc

Asisten:

Fahrul Ghani Muhaimin

Fustatul Qur’ani Anam

Maisuna Kundariati

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

2019
Ordo Rhyncocephalia

1. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Rhyncocephalia
Famili Sphenodontidae
Genus Sphenodon
Spesies: Sphenodon punctatus
Deskripsi:
Tuatara berwarna coklat kehijauan
Sumber: (Herrera-flores dkk, 2017)
dan abu-abu, dan berukuran hingga
80 cm (31 in) dari ujung kepala
hingga ujung ekor dan beratnya
mencapai 1,3 kg (2,9 lb) dengan
lambang berduri di sepanjang
punggung, terutama diucapkan pada
pria. Mereka memiliki dua baris
Sumber: (Regnault dkk, 2017) gigi di rahang atas yang tumpang
tindih satu baris di rahang bawah,
yang unik di antara spesies hidup.
Mereka juga tidak biasa memiliki
mata fotoreseptif yang jelas, mata
ketiga, yang dianggap terlibat
dalam pengaturan siklus sirkadian
dan musiman. Mereka dapat
mendengar, meskipun tidak ada
telinga luar yang hadir, dan
memiliki fitur unik dalam kerangka
mereka, beberapa dari mereka
tampaknya secara evolusioner
ditahan dari ikan (Regnault dkk,
2017)

Ordo Chelonia
2. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Chelonia
Famili Cheloniidae
Genus Chelonia
Spesies: Chelonia mydas
Penampilannya seperti kura-kura
Sumber: (Jones dkk, 2016) laut yang khas. C. mydas memiliki
tubuh yang rata secara rata, kepala
yang paruh di ujung leher pendek,
dan lengan seperti dayung yang
beradaptasi dengan baik untuk
berenang. Penyu hijau dewasa
tumbuh sepanjang 1,5 meter (5
kaki). Berat rata-rata individu
dewasa adalah 68–190 kg (150–419
lb) dan panjang karapas rata-rata
adalah 78–112 cm (31–44 in).
Spesimen luar biasa dapat memiliki
Sumber: (Phillips dkk, 2017) berat 315 kg (694 lb) atau bahkan
lebih, dengan C. mydas terbesar
yang diketahui memiliki berat 395
kg (871 lb) dan diukur 153 cm (60
in) dalam panjang karapas (Jones
dkk, 2016)

3. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Chelonia
Famili Dermochelyidae
Genus Dermochelyidae
Spesies: Dermochelys coriacea
Penyu belimbing (Dermochelys
coriacea) adalah sejenis penyu
raksasa dan satu-satunya jenis dari
suku Dermochelyidae yang masih
hidup. Penyu ini merupakan penyu
terbesar di dunia dan merupakan
reptil keempat terbesar di dunia
setelah tiga jenis buaya. Penyu
Sumber: (Aleksa dkk, 2018) belimbing dikenal oleh beberapa
masyarakat dengan sebutan penyu
raksasa, kantong atau mabo. Nama
umumya dalam bahasa inggris
adalah Leatherback sea turtle.
Makanan utama hewan ini adalah
ubur-ubur. Penyu belimbing selalu
bermigrasi dari pantai satu ke pantai
yang lain untuk mencari sarang.
Masa migrasi hewan ini antara 2 - 3
tahun dengan istirahat antara 9 - 10
hari. Jumlah sarang yang dibuat
setiap musim mencapai 6 sarang.
Telur yang dihasilkan antara 80 -
100 butir (Aleksa dkk, 2018)

Sumber: (Robinson dkk, 2017)

4. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Chelonia
Famili Testudinidae
Genus Chelonoidis
Spesies: Chelonoidis nigra
Kura-kura galápagos atau kura-kura
raksasa galapagos (Chelonoidis
nigra dan spesies terkait) adalah
Sumber: (Branson dkk, 2016) spesies kura-kura terbesar yang
masih hidup. Kura-kura galápagos
modern beratnya bisa mencapai 417
kg (919 lb). Hari ini, kura-kura
raksasa hanya ada di dua kepulauan
terpencil: Kepulauan Galapagos
1000 km ke arah barat dari daratan
Ekuador, dan Aldabra di Samudra
Hindia, sekitar 700 km sebelah
timur Tanzania. Kura-kura
galapagos adalah hewan asli di
tujuh Kepulauan Galapagos, suatu
kepulauan vulkanik sekitar 1000 km
Sumber: (Sancho dkk, 2017) (620 mi) di sebelah barat daratan
Ekuador. Dengan usia harapan
hidup di alam liar lebih dari 100
tahun, ini adalah salah satu
vertebrata yang paling lama masa
hidupnya. Individu yang tertangkap
hidup setidaknya 170 tahun. Para
penjelajah Spanyol, yang
menemukan kepulauan ini pada
abad ke-16, menamai mereka
setelah dengan galápago, bahasa
Spanyol yang berarti kura-kura
(Sancho dkk, 2017)
Subordo Lacertilia
5. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Squamata
Subordo Lacertilia
Famili Iguanidae
Genus Amblyrhynchus
Spesies: Amblyrhynchus cristatus
Iguana yang lebih kecil dan lebih
muda memilih makan di pantai
ketika pasang surut guna
Sumber: (Lewbart dkk, 2019) menghindari arus yang kuat,
sedangkan iguana yang lebih besar
menyelam ke dalam air untuk
mencari makan dan menggunakan
cakar mereka yang panjang dan
tajam untuk berpegangan ke karang
ketika mengikis alga. Iguana laut
tidak bisa bernapas dalam air,
namun dapat menyelam sedalam 30
meter dan menahan napas selama 1
jam ketika mencari makan. Iguana
ini menyelam sekali atau dua kali
dalam sehari, biasanya pada siang
Sumber: (Chiari dkk, 2016) hari ketika air masih hangat bagi
mereka untuk berada lama di dalam
air (Lewbart dkk, 2019)
6. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Squamata
Subordo Lacertilia
Famili Varanidae
Genus Varanus
Spesies: Varanus komodoensis
Komodo merupakan spesies
Sumber: (Maisano dkk, 2019) terbesar dari familia Varanidae,
sekaligus kadal terbesar di dunia,
dengan rata-rata panjang 2-3 meter
dan beratnya bisa mencapai 100 kg.
Komodo merupakan pemangsa
puncak di habitatnya karena sejauh
ini tidak diketahui adanya hewan
karnivora besar lain selain biawak
ini di sebarang geografisnya.
Komodo liar dewasa biasanya
Sumber: (Bishop dkk, 2017) memiliki berat sekitar 70 kg, tetapi
komodo yang dipelihara di
penangkaran sering kali memiliki
bobot yang lebih berat. Spesimen
liar terbesar yang pernah ditemukan
panjangnya mencapai 3.13 meter
dengan berat sekitar 166 kg,
termasuk berat makanan yang
belum dicerna di dalam perutnya.
Komodo memiliki ekor yang sama
panjang dengan tubuhnya.
Meskipun komodo tercatat sebagai
kadal terbesar di dunia, namun
bukan spesies yang terpanjang.
Reputasi panjang tubuh (tidak
termasuk berat badan) dipegang
oleh biawak Papua (Varanus
salvadorii). Komodo jantan lebih
besar daripada komodo betina,
dengan warna kulit dari abu-abu
gelap sampai merah batu bata,
sementara komodo betina biasanya
berwarna hijau kecokelatan dan
memiliki bercak kecil kuning pada
tenggorokannya. Komodo muda
lebih bervariasi warnanya, dengan
warna kuning, hijau dan putih
dengan latar belakang hitam
(Maisano dkk, 2019)

7. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Squamata
Subordo Lacertilia
Famili Agamidae
Genus Hydrosaurus
Spesies: Hydrosaurus weberi
Soa-soa layar dapat tumbuh hingga
mencapai ukuran lebih dari 1 meter.
Sumber: (Ord dkk, 2019)
Tubuh dilengkapi dengan kaki yang
kuat dan ekor yang panjang.
Berbeda dengan tokek dan cicak,
Soa-soa tidak dapat memutuskan
ekornya untuk mengelabui
pemangsa. Sebagai gantinya, Soa-
soa akan mengembangkan gelambir
kulit di lehernya, agar terlihat lebih
besar, untuk menakuti pemangsa
Sumber: (Ord dkk, 2019) atau hewan kompetitor lainnya. Ciri
fisik Soa-soa layar tergolong unik.
Sepanjang punggungnya ditumbuhi
duri-duri kecil. Pada hewan jantan,
bagian pangkal ekor dilengkapi
dengan layar tinggi yang bentuknya
mirip layar perahu tradisional
Hongkong. Layar ini digunakan
untuk memikat betina saat musim
kawin tiba. Reptil yang berkerabat
dekat dengan Iguana ini umumnya
hidup di daerah yang dekat dengan
air, seperti tepian dan muara sungai,
hutan mangrove dan tepi pantai.
Makanan utamanya sangat
bervariasi, terdiri dari daun-daunan,
buah-buahan liar, serangga, telur
dan anak burung hingga mamalia
kecil (Ord dkk, 2019)

Subordo Ophidia
8. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Squamata
Subordo Ophidia
Famili Boidae
Genus Eunectes
Spesies: Eunectes murinus
Panjang tubahnya bisa mencapai 8
meter, dan merupakan ular
Sumber: (Shibata dkk, 2017)
terpanjang di Benua Amerika. Berat
tubuhnya secara keseluruhan bisa
mencapai 250 kg. Diameter lingkar
tubuh bagian tengah ular ini
mencapai hampir satu meter.
Banyak pula penemuan-penemuan
spesimen yang panjangnya
mencapai 15 meter dengan
ketebalan tubuh melebihi batang
pohon kelapa. Walupun ukuran itu
adallah ukuran ular terbesar yang
pernah tercatat, namun masyarakat
di daerah aliran sungai Amazon,
Brazilia mempercayai adanya
Sumber: (Garcia dkk, 2017)
spesimen-spesimen yang lebih
besar. Warna tubuhnya hijau
kecokelatan atau hijau lumut
dengan bercak-bercak bundaran
hitam besar di punggung, dari leher
hingga ekor. Di kedua sisi badannya
terdapat bercak-bercak hitam
berbentuk huruf "O" dari leher
hingga ekor. Di bagian belakang
matanya terdapat garis berwarna
hitam dengan garis warna oranye di
bawahnya. Tubuh bagian bawah
berwarna cokelat pucat atau kuning
pucat agak kehijauan dengan bintik-
bintik kecil berwarna gelapPanjang
tubahnya bisa mencapai 8 meter,
dan merupakan ular terpanjang di
Benua Amerika. Berat tubuhnya
secara keseluruhan bisa mencapai
250 kg. Diameter lingkar tubuh
bagian tengah ular ini mencapai
hampir satu meter. Banyak pula
penemuan-penemuan spesimen
yang panjangnya mencapai 15
meter dengan ketebalan tubuh
melebihi batang pohon kelapa.
Walupun ukuran itu adallah ukuran
ular terbesar yang pernah tercatat,
namun masyarakat di daerah aliran
sungai Amazon, Brazilia
mempercayai adanya spesimen-
spesimen yang lebih besar. Warna
tubuhnya hijau kecokelatan atau
hijau lumut dengan bercak-bercak
bundaran hitam besar di punggung,
dari leher hingga ekor. Di kedua sisi
badannya terdapat bercak-bercak
hitam berbentuk huruf "O" dari
leher hingga ekor. Di bagian
belakang matanya terdapat garis
berwarna hitam dengan garis warna
oranye di bawahnya. Tubuh bagian
bawah berwarna cokelat pucat atau
kuning pucat agak kehijauan
dengan bintik-bintik kecil berwarna
gelap (Shibata dkk, 2017)

9. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Squamata
Subordo Ophidia
Famili Elapidae
Genus Ophiophagus
Spesies: Ophiophagus hannah
Ular yang bertubuh panjang dan
ramping. Sebuah laporan dari
Singapura mencatat seekor ular
anang sepanjang hampir 4,8 m
memiliki berat tubuh hingga 12 kg.
Sumber: (Petras dkk, 2015) Tidak seperti kebanyakan ular
lainnya, ular jantan cenderung lebih
panjang dan besar jika
dibandingkan dengan yang betina.
Coklat kekuningan, coklat zaitun,
sampai keabu-abuan di bagian atas
(dorsal) tubuh, dengan bagian
kepala yang cenderung berwarna
lebih terang. Sisik-sisik bertepi
gelap atau kehitaman, tampak jelas
di bagian kepala. Sisik-sisik bawah
tubuh (ventral) berwarna keabu-
Sumber: (Petras dkk, 2015)
abuan atau kecoklatan, kecuali dada
dan leher berwarna kuning cerah
atau krem dengan pola belang hitam
tak teratur, yang tampak jelas
apabila ular ini mengangkat dan
membentangkan lehernya. Ular
yang masih kecil berwarna lebih
gelap atau kehitaman, dengan
bintik-bintik putih atau kuning yang
membentuk belang (garis)
melintang, belang ini masih tampak
samar-samar pada sebagian
individu dewasa. Anak ular ini
berkepala hitam dengan empat garis
putih melintang di atasnya.
Kepalanya besar dengan moncong
yang relatif pendek dan tumpul. Di
belakang perisai parietal (ubun-
ubun), yang pada ular lain biasanya
berupa sisik-sisik kecil, pada ular
anang ditempati oleh sepasang
perisai oksipital yang besar. Perisai
labial (bibir) atas 7 buah, no-3 dan -
4 menyentuh mata. Pupil mata
bundar dan besar. Sisik-sisik dorsal
(punggung) dalam 15 deret di
tengah badan. Sisik-sisik ventral
(perut) 215–262 buah, sisik anal
tunggal, sisik-sisik subkaudal
(bawah ekor) 80–120 buah; yang
sebelah depan tunggal dan di bagian
belakang berpasangan (Petras dkk,
2015)

10. Kingdom Animalia


Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Squamata
Subordo Ophidia
Famili Viperidae
Genus Crotalus
Spesies: Crotalus cerastes
Sesuai dengan namanya, ular derik
bisa menghasilkan bunyi
Sumber: (Webber dkk, 2016) gemericing dengan derik di ujung
ekornya. Tujuannya ialah untuk
memperingatkan musuh agar tidak
mengganggunya. Derik tersebut
tersusun dari zat tanduk kokoh
berongga yang berupa segmen-
segmen (ruas-ruas) dan dapat
menimbulkan suara yang keras jika
digetarkan. Ruas derik tersebut
semakin ke ujung, semakin kecil
ukurannya. Setiap ular derik
berganti kulit akan tumbuh ruas
derik yang baru. Ular derik selalu
mengangkat ekor deriknya
Sumber: (Webber dkk, 2016) meskipun tidak digunakan,
tujuannya untuk menghindari
rusakatau hilangnya derik tersebut.
Kebanyakan orang percaya bahwa
setiap bertambah satu ruas, berarti
umur ular itu bertambah juga.
Namun itu tidak benar karena
jumlah segmen hanya bertambah
setiap mereka berganti kulit, bukan
karena bertambah umur (Webber
dkk, 2016)

Ordo Crocodilia
11. Kingdom Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Crocodilia
Famili Crocodylidae
Genus Crocodylus
Spesies: Crocodylus porosus
Buaya muara atau buaya bekatak
(Crocodylus porosus) adalah jenis
Sumber: (Klinkhamer dkk, 2017) buaya terbesar di dunia. Dinamai
demikian karena buaya ini hidup di
sungai-sungai dan di dekat laut
(muara). Buaya ini juga dikenal
dengan nama buaya air asin, buaya
laut, dan nama-nama lokal lainnya.
Dalam bahasa Inggris, dikenal
dengan nama Saltwater crocodile,
Indo-Australian crocodile, dan
Sumber: (Klinkhamer dkk, 2017) Man-eater crocodile. Nama
umumnya, Man-eater="pemakan
manusia", karena buaya ini terkenal
pernah (dan sering) memangsa
manusia dan babi yang memasuki
wilayahnya. Buaya ini tersebar di
seluruh perairan dataran rendah dan
perairan pantai di daerah tropis Asia
Selatan, Asia Tenggara, dan
Australia (Indo-Australia). Panjang
tubuh buaya ini (termasuk ekor)
biasanya antara 2,5 sampai 3,3
meter, namun hewan dewasa bisa
mencapai 12 meter seperti yang
pernah ditemukan di Sangatta,
Kalimantan Timur. Bobotnya bisa
mencapai 200 kg. Moncong spesies
ini cukup lebar dan tidak punya
sisik lebar pada tengkuknya. Buaya
muara dikenal sebagai buaya yang
jauh lebih besar dari Buaya Nil
(Crocodylus niloticus) dan Alligator
Amerika (Alligator mississipiensis).
Penyebarannya pun juga "terluas"
di dunia (Nagloo dkk, 2016)

12. Kingdom Animalia


Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Crocodilia
Famili Alligatoridae
Genus Alligator
Spesies: Alligator sinensis
Aligator adalah hewan yang
termasuk dalam genus Alligator,
namun dapat pula merujuk pada
lingkup yang lebih luas, yaitu famili
Alligatoridae, meskipun famili
tersebut juga mencakup kelompok
kaiman dari sub famili Caimaninae.
Aligator masih berkerabat dekat
Sumber: (Han dkk, 2019)
dengan kelompok hewan buaya
(famili Crocodylidae). Nama
aligator diambil dari bahasa
Spanyol, sekelompok koloni
Spanyol yang pertama kali
menjelajah daerah berawa-rawa
yang luas di Semenanjung Florida
menjumpai hewan yang mereka
sebut el laganto yaang berarti "sang
kadal". Koloni Prancis yang saat itu
menduduki daerah hilir Sungai
Mississippi juga menjumpai hewan-
Sumber: (Pan dkk, 2019) hewan yang sama dan mereka juga
menyebutnya Allagetra yang berarti
"kadal-rawa". Kedua kata tersebut
akhirnya diserap ke dalam Bahasa
Inggris oleh koloni Inggris yang
juga berada di sana menjadi
Alligator. Perbedaan aligator
dengan buaya (crocodile) terlihat
jelas dari bagian mulut dan gigi,
mulut aligator terlihat lebih lebar
dan bibir tampak rapi menutupi
gigi. Sedangkan buaya mempunyai
mulut agak memanjang dan
membentuk huruf V, dan banyak
terlihat gigi yang keluar dari bibir,
walaupun dalam keadaan mulut
tertutup. Khususnya gigi keempat
bagian bawah (Han dkk, 2019)

13. Kingdom Animalia


Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Ordo Crocodilia
Famili Gavialidae
Genus Gavialis
Spesies: Gavialis gangeticus
Gavial ditandai dari bentuk
rahangnya yang tipis dan sangat
panjang, yang dianggap sebagai
adaptasi untuk pemakan ikan.
Ukuran jantannya mencapai 6 m
Sumber: (Uphadhyay dkk, 2019) (20 ft) dengan berat rata-rata sekitar
160 kg (350 lb). Gavial memiliki
warna zaitun gelap atau cerah. Di
atasnya dengan lurik gelap dan
mouth
terlihat seperti bintik-bintik di
eyes
kepala, tubuh, dan ekor. Pada usia
sekitar 20 tahun, permukaan dorsal
menjadi berwarna gelap, hampir
legs
hitam keabu-abuan. Permukaan
tail ventral putih kekuning-kuningan.
Lehernya memanjang dan tebal.
Sumber: (Thapa dkk, 2018)
Batas dorsal lebih kurang adalah
bagian median dari punggung. Jari-
jarinya sangat pendek dan
berselaput tebal. Gavial jantan pada
saat mencapai kedewasaan seksual
memiliki protuberans hidung bulat
berongga di ujung moncongnya.
Nama gharial berasal dari
kemiripan hidung yang tumbuh
tersebut dengan pot tembikar yang
oleh masyarakat lokal dikenal
dengan sebutan 'ghara'. Gavial
adalah satu-satunya crocodilia yang
masih hidup yang memperlihatkan
dimorfisme seksual. Meskipun
fungsi dari rongga hidung belum
dimengerti dengan baik,
kelihatannya digunakan sebagai
indikator seks visual. Ukuran rata-
rata gavial dewasa adalah 3,5
hingga 4,5 m (11 hingga 15 ft).
Rekor terpanjang gavial yang
pernah tercatat adalah 6,25 m (20,5
ft) dan terberat adalah 977 kg (2154
lb). Tukiknya berukuran sekitar 37
cm (15 in). Gavial muda dapat
mencapai panjang 1 m (3,3 ft)
dalam 18 bulan. Berat tubuhnya
rata-rata berkisar dari 159 hingga
250 kg (351 hingga 551 lb).
Panjang keseluruhan tubuh gavial
jantan umumnya mencapai 3 hingga
5 m (9,8 hingga 16,4 ft), sedangkan
betina lebih kecil dan mencapai
panjang hingga 2,7 hingga 3,75 m
(8,9 hingga 12,3 ft) (Uphadhyay
dkk, 2019)

Daftar Rujukan

Aleksa, K. T., Sasso, C. R., Nero, R. W., & Evans, D. R. (2018). Movements of leatherback
turtles (Dermochelys coriacea) in the Gulf of Mexico. Marine biology, 165(10), 158.

Bishop, B. M., Juba, M. L., Russo, P. S., Devine, M., Barksdale, S. M., Scott, S., ... &
Schnur, J. M. (2017). Discovery of novel antimicrobial peptides from varanus
komodoensis (Komodo Dragon) by large-scale analyses and de-novo-assisted
sequencing using electron-transfer dissociation mass spectrometry. Journal of
proteome research, 16(4), 1470-1482.

Branson, M. A., Atkinson, S., & Ramos, M. F. (2016). Hormonal profiles of captive
Galapagos tortoises (Chelonoidis nigra). Zoo biology, 35(3), 237-245.

Chiari, Y., Glaberman, S., Tarroso, P., Caccone, A., & Claude, J. (2016). Ecological and
evolutionary influences on body size and shape in the Galápagos marine iguana
(Amblyrhynchus cristatus). Oecologia, 181(3), 885-894.

Garcia, V. C., & Prado, C. V. (2017). Use of moxibustion as an auxiliary treatment in wound
healing of the snake Eunectes murinus (anaconda): case report. Arquivo Brasileiro
de Medicina Veterinária e Zootecnia, 69(6), 1560-1564.

Han, Q. H., Sun, R. N., Yang, H. Q., Wang, Z. W., Wan, Q. H., & Fang, S. G. (2019). MHC
class I diversity predicts non-random mating in Chinese alligators (Alligator
sinensis).Heredity, 122(6), 809-818.

Herrera‐Flores, J. A., Stubbs, T. L., & Benton, M. J. (2017). Macroevolutionary patterns in


Rhynchocephalia: is the tuatara (Sphenodon punctatus) a living
fossil?. Palaeontology, 60(3), 319-328.

Jones, K., Ariel, E., Burgess, G., & Read, M. (2016). A review of fibropapillomatosis in
green turtles (Chelonia mydas). The Veterinary Journal, 212, 48-57.

Klinkhamer, A. J., Wilhite, D. R., White, M. A., & Wroe, S. (2017). Digital dissection and
three-dimensional interactive models of limb musculature in the Australian estuarine
crocodile (Crocodylus porosus). PloS one, 12(4), e0175079.

Lewbart, G. A., Grijalva, C. J., Calle, P. P., Ingerman, K., Muñoz-Pérez, J. P., Quezada, G.,
... & Valle, C. A. (2019). Health assessment of Conolophus subcristatus,
Conolophus pallidus, and C. subcristatus X Amblyrhynchus cristatus hybrid
(Galápagos land iguanas). PloS one, 14(10), e0222884.
Maisano, J. A., Laduc, T. J., Bell, C. J., & Barber, D. (2019). The Cephalic Osteoderms of
Varanus komodoensis as Revealed by High‐Resolution X‐ray Computed
Tomography. The Anatomical Record.

Nagloo, N., Collin, S. P., Hemmi, J. M., & Hart, N. S. (2016). Spatial resolving power and
spectral sensitivity of the saltwater crocodile, Crocodylus porosus, and the
freshwater crocodile, Crocodylus johnstoni. Journal of Experimental
Biology, 219(9), 1394-1404.

Ord, T. J., Garcia-Porta, J., Querejeta, M., & Collar, D. C. (2019). Gliding dragons and flying
squirrels: diversifying versus stabilizing selection on morphology following the
evolution of an innovation.

Pan, T., Wang, H., Duan, S., Ali, I., Yan, P., Cai, R., ... & Wu, X. (2019). Historical
population decline and habitat loss in a critically endangered species, the Chinese
alligator (Alligator sinensis). Global Ecology and Conservation, e00692.

Petras, D., Heiss, P., Süssmuth, R. D., & Calvete, J. J. (2015). Venom proteomics of
Indonesian king cobra, Ophiophagus hannah: integrating top-down and bottom-up
approaches. Journal of proteome research, 14(6), 2539-2556.

Phillips, K. P., Mortimer, J. A., Jolliffe, K. G., Jolliffe, S. M., Hodgkiss, R. D., McClelland,
J. H., & Liljevik, A. (2017). Season-long Sperm Storage and No Multiple Paternity
in Green Turtles (Chelonia mydas) Nesting on Cousine Island, Seychelles. Marine
Turtle Newsletter, 154, 6-11.

Regnault, S., Hutchinson, J. R., & Jones, M. E. (2017). Sesamoid bones in tuatara
(Sphenodon punctatus) investigated with X‐ray microtomography, and implications
for sesamoid evolution in Lepidosauria. Journal of morphology, 278(1), 62-72.

Robinson, N. J., Stewart, K. R., Dutton, P. H., Nel, R., Paladino, F. V., & Tomillo, P. S.
(2017). Standardising curved carapace length measurements for leatherback turtles,
Dermochelys coriacea, to investigate global patterns in body size.Herpetological
Journal, 27(2).

Sancho, A., Gutzke, W. H., Snell, H. L., Rea, S., Wilson, M., & Burke, R. L. (2017).
Temperature sex determination, incubation duration, and hatchling sexual
dimorphism in the Española Giant Tortoise (Chelonoidis hoodensis) of the
Galápagos Islands.Amphibian & Reptile Conservation, 11(2), 44-50.

Shibata, H., Sakata, S., Hirano, Y., Nitasaka, E., & Sakabe, A. (2017). Facultative
parthenogenesis validated by DNA analyses in the green anaconda (Eunectes
murinus). PloS one, 12(12), e0189654.

Thapa, G. J., Thapa, K., Thapa, R., Jnawali, S. R., Wich, S. A., Poudyal, L. P., & Karki, S.
(2018). Counting crocodiles from the sky: monitoring the critically endangered
gharial (Gavialis gangeticus) population with an unmanned aerial vehicle
(UAV).Journal of Unmanned Vehicle Systems, 6(2), 71-82.

Upadhyay, V., Raj, A., Yadav, B. K., & Singh, G. (2019). Study of temperature effect on
Gharial habitat at national Chambal Gharial wildlife sanctuary, Uttar Pradesh,
India. IJCS, 7(3), 3401-3403.

Webber, M. M., Jezkova, T., & Rodríguez-Robles, J. A. (2016). Feeding ecology of


sidewinder rattlesnakes, Crotalus cerastes (Viperidae). Herpetologica, 72(4), 324-
330.