Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PENDAHULUAN

SPRAIN

A. Pengertian
Sprain adalah ligament yang mengalami penarikan total atau robek
sebagian. Bagian luar tampak seperti patah tulang. Penderita akan merasa
sangat kesakitan. Bagian yang terkena tampak bengkak dan kemungkinan
akan memar, berikan analgetik seperti Ettyl Cloride. Sprain terjadi akibat
sendi yang tertekuk tiba-tiba (pergerakan sendi yang tidak normal).
Menurut para ahli, pengertian dari sprain itu sendiri adalah cidera
pada bagian ligamen yang disebabkan oleh peregangan otot yang melebihi
kapasitas normal. Jadi apabila melakukan aktifitas terlalu over maka akan
sangat rentan sekali terkena keseleo, karena otot-otot kita selalu berada
dalam keadaan tegang.Sprain adalah jenis cidera yang paling sering
dialami oleh para pemain sepak bola, untuk menghindari keseleo,
diperlukan pemanasan yang cukup dan strectching yang tepat bisa
mencegah terjadinya cidera tersebut.
B. Etiologi
Sprain ankle dapat terjadi pada atlet maupun non atlet, anak-anak
maupun orang dewasa.sprain ankle dapat terjadi ketika sedang
berolahraga, aktivitas fisik, melangkah di permukaanyang tidak rata,
perputaran kaki ke dalam atau ke luar yang berlebihan yang
menyebabkankerobekan ligament lateral kompleks ankle. Sprain pada
ligamentum lateral complex dihasilkan oleh gaya inversi dan plantar
fleksiankle yang tiba-tiba, dimana seringkali terjadi selama olahraga
atletik atau exercise ketika berat tubuh ketika berat tubuh yang diterima
oleh kaki saat menumpuh tidak sempurna diatas permukaan yang tidak
rata menyebabkan tapak kaki (dorsum kaki) dalam posisi inversi saat gaya
tersebut terjadi. Akibatnya, ligamentum lateral complex mengalami
overstretch.
C. Patofisiologi
Sprain ankle dapat mempengaruhi kualitas gerak dan fungsi ankle dan
sendi tubuh yanglain seperti lutut dan hip. Akibat sprain ankle akan
menimbulkan nyeri yang mengangguaktivitas seseorang sehingga terjadi
kompensasi gerak dari bagian tubuh yang lain untukmenghindari nyeri.
Seseorang yang mengalami sprain ankle sebagian besar pola
berjalannya berubah menjadi antalgic gait, dimana individu tersebut
berjalan berjinjit untuk menghindarinyeri dan penekanan pada lateral dan
anterior ankle ketika fase mid stance pada stand phase
berjalan.Kompensasi gerak dengan pola jalan antalgic gait, akan membuat
m. gastrocnemeus danm. soleus bekerja dengan keras
mempertahankan posisi ankle yang menjinjit dimana lututfleksi sehingga
menimbulkan ketegangan pada otot-otot tersebut dan tendon
achilesmenerima tegangan yang besar dengan posisi yang memendek.
Akibatnya, tendon achilestightness, m. gastrocnemeus dan m. soleus
spasme dan tightness. Selain itu, posisi ankle yang plantar fleksi dengan
jari-jari kaki fleksi akan mempengaruhi m. Tibialis anterior yang terus
bekerja mempertahankan gerak plantar fleksi sehingga otot ini cenderung
lemah dan spasme.Overkontraksi otot akan menimbulkan spasme otot
dimana terjadi iskemik pada otot sehinggamenimbulkan trigger point di
otot.

D. Manifestasi klinis
a. Nyeri lokal (khususnya pada saat pergerakan sendi)
b. Pembengkakan dan rasa hangat akibat inflamasi
c. Gangguan mobilitas akibat rasa nyeri (yang baru terjadi beberapa jam
setelah cedera)
d. Perubahan warna kulit akibat ekstravasasi darah ke dalam jaringan
sekitarnya.
E. KLASIFIKASI
a. Sprain Tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan
hanya beberapa serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri
tekan, pembengkatan dan rasa sakit pada daerah tersebut.
b. Sprain Tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus,
tetapi lebih separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera
menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan, pembengkakan, efusi, (cairan
yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan persendian
tersebut.
c. Sprain Tingkat III
Pada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya
terpisah. Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat
darah dalam persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti
biasa, dan terdapat gerakan–gerakan yang abnormal.
d. Sprain Tingkat IV
Robekan yang parah pada ligamen. Biasanyua ligamennya putus
sehingga tulang-tulang yang dihubungkan olah ligamen akan terpisah.

F. Pemeriksaan penunjang/diagnostik
Pemeriksaan diagnostik dilakukan untuk melengkapi informasi
yang diperoleh dari anamnesis (wawancara dengan penderita) serta
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan dapat berupa
CT scan MRI, artroskopi, elektromyografi dan foto rontgen.
G. Penatalaksanaan
1. Pembedahan.
Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya;
pengurangan-pengurangan perbaikan terbuka terhadap jaringan yang
terkoyak.
2. Kemotherapi.
Dengan analgetik Aspirin (100-300 mg setiap 4 jam) untuk
meredakannyeri dan peradangan. Kadang diperlukan Narkotik
(codeine 30-60 mg peroral setiap 4 jam) untuk nyeri hebat.3.
3. Elektromekanis.
a. Penerapan dinginDengan kantong es 24oC
b. Pembalutan / wrapping ekstemal.
Dengan pembalutan, cast atau pengendongan (sung).
c. Posisi ditinggikan.
Jika yang sakit adalah bagian ekstremitas.
d. Latihan ROM.
Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat dan
perdarahan.Latihan pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari
tergantung jaringan yangsakit.
e. Penyangga beban.
Menghentikan penyangga beban dengan penggunaan kruk selama
7hari atau lebih tergantung jaringan yang sakit.
DAFTAR PUSTAKA

http://staffnew.uny.ac.id/upload/132300162/penelitian/12.+Diagnosis+dan+Manaj
emen+Cedera+Olahraga.pdf

http://www.scribd.com/doc/106915170/Makalah-Dislokasi-Sprain-Strain
Kowalak, Jennifer P. 2011. Buka Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC
Price, Sylvia A dan Wilson, Lorraine M.
2006.Patofisiologi Edisi V, Jilid II .Jakarta : EGCSmeltzer, Suzanne C dan Bare,
Brenda G. 2002. Keperawatan Medical Bedah Edisi VIII, Jilid I. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai