Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

TAHAMMUL WA ADA’

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Oleh :

NURFADILAH

PADILA

AHMAD FADLI NASARUDDIN

MUH. REZA

JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM


STAIN MAJJENE
TAHUN AKADEMIK 2019

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, hanya berkat rahmat


dan ridlo-Nya makalah ini dapat diselesaikan. Makalah yang berjudul “Tahammul
wa Ada’ al Hadits” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial
Dasar.
Keberhasilan dalam penulisan makalah ini tentu saja tak lepas dari bantuan
banyak pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua
pihak yang telah menyumbangkan segenap pikiran, tenaga, dan waktunya demi
terselesaikannya karya tulis ini.
Ucapan terimakasih ini secara khusus penulis sampaikan kepada pihak-
pihak berikut ini:
1. Dosen yang tidak pernah bosan membimbing, mengingatkan, dan
memotivasi penulis hingga makalah ini selesai.
2. Anggota kelompok 6. Nurfadila,Padila,Ahmad dan Muh. Reza. Yang
berkenan meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyelesaikan
makalah ini.
3. Beberapa pihak yang tidak disebutkan satu persatu yang telah
membantu suksesnya penyusunan makalah ini.
Meskipun telah dikerjakan secara maksimal, penulis menyadari bahwa
karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran sangat
diharapkan oleh penulis demi hasil yang lebih baik.
Akhirnya, penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat membawa
makna dan manfaat bagi pembaca, untuk mengubah pembelajaran menulis
menjadi lebih baik.

Majene, 28 Oktober 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iii


DAFTAR ISI iv
BAB I : PENDAHULUAN 1
A. LATAR BELAKANG 1
B. RUMUSAN MASALAH 4
C. TUJUAN 4
BAB II : PEMBAHASAN 5
A. BIOGRAFI PHYTAGORAS 5
B. PEMIKIRAN PHYTAGORAS 7
C. KAUM PHYTAGOREAN 8
D. ANALISIS 9
BAB III : PENUTUP 12
KESIMPULAN 12
DAFTAR PUSTAKA 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Allah telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad Saw, para
pendahulu selalu menjaga Al-Quran dan Al-Hadis Nabi. Mereka adalah orang-
orang jujur, amanah, dan memegang janji sebagian diantara mereka mencurahkan
perhatiannya terhadap al-Quran dan ilmunya yaitu para mufassirin. Manusia
dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Seseorang yang
telah mempelajari hadits dengan sungguh-sungguh dengan cara yang benar
memiliki beberapa kode etik yang harus dia jaga dan dia pelihara, baik ketika
masih menjadi pelajar itu sendiri atau ketika dia sudah mengajarkannya kepada
orang lain kelak. Di dalam ilmu hadits hal ini dikenal dengan istilah at tahammul
wal ada‟. Di dalam makalah ini akan dibahas cara perimaaan dan periwayatan
hadis yang disebut dengan At-Tahammul wa Al-'Ada.
Para ulama hadis telah bersusah payah mengusahakan adanya ilmu hadis
ini, lalu mereka membikin beberapa kaidah (batasan-batasan) dan berbagai syarat
dengan berbagai bentuk yang cermat dan banyak sekali. Mereka telah
mengidentifikasin anatara 'tahammul hadis' selanjutnya mereka menjadikannya
beberapa tingkatan, dimana bagian satu dengan yang lain tidaklah sama artinya
ada yang lebih kuat, hal itu merupakan penguat dari mereka untuk memelihara
hadis Rasulullah Saw dan memindahkan dengan baik dari seseorang kepada orang
lain. Disamping itu mereka yakin bahwa cara yang seperi ini adalah cara yang
palingh selamat dan cara yang paling cermat. Untuk lebih jelasnya dibicarakan
dalam makalah ini

B. RUMUSAN MASALAH.
1. Pengertian tahammul al-hadits dan ada‟ al-hadits menurut bahasa dan
istilah.
2. Syarat-syarat perawi dalam tahammul hadits.
3. Syarat-syarat perawi dalam ada‟ al-hadits.
4. Sighat Tahammul wa Ada‟al-hadits.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian tahammul al-hadits dan ada’ al-hadits menurut bahasa dan


istilah

Menurut bahasa tahammul merupakan masdar dari fi‟il madli tahmmala (-‫حَت َت َّم َتم‬
‫حَت َت ُل ال‬-‫ ) َتخَت َت َّم ُلم‬yang berarti menanggung , membawa, atau biasa diterjemahkan
dengan menerima. Berarti tahammul al-hadits menurut bahasa adalah menerima
hadits atau menanggung hadits. Sedangkan tahammul al-hadits menurut istilah
ulama ahli hadits, sebagaimana tertulis dalam kitab taisir mushtholah hadits
adalah:[1]
‫ معناه حهقً ان ذ ث واخذه عن انشيىخ‬:‫انخ م‬
“ Tahammul artinya menerima hadits dan mengambilnya dari para syekh atau
guru.
Sedangkan pengertian ada‟ al-hadits menurut bahasa, ada‟ (‫ )األداء‬adalah
masdar dari
‫ أَتدَتا ًءء‬-‫ َتأْ ِدي‬-‫أَتدَتي‬
‫إ صال انشيئ إنً ان زسم إنيو‬
“menyampaikan sesuatu pada orang yang dikirim
kepadanya”.
‫ أوصهو‬: ‫ حأد ت انشيئ‬-‫أدي‬
“Menyampaika
nnya”.
Bararti ada‟ al-hadits menurut bahasa adalah
menyampaikan hadits.

Sedangkan ada‟ al-hadits menurut istilah adalah:


‫ روا ت ان ذ ث وإعطاؤه انطالب‬: ‫األداء‬
“meriwayatkan hadits dan memberikannya pada para murid”. [2]
Pengertiannya adalah meriwayatkan dan menyampaikan hadits kepada
murid, atau proses mereportasekan hadits setelah ia menerimanya dari seorang

2
guru.
Karena Tidak semua orang bisa menyampaikan hadits kepada orang lain, Dalam
hal ini mayoritas ulama hadits, ushul, dan fikh memiliki kesamaan pandangan
dalam memberikan syarat dan kriteria bagi pewarta hadist, yang antara lain:
o Ketahanan ingatan informator (Dlabitur Rawi)
o integritas keagamaan („Adalah) yang kemudian melahirkan tingkat kredibilitas
(Tsiqatur Rawi).
o Mengetahui maksud-maksud kata yang ada dalam hadits dan mengetahui arti
hadits apabila ia meriwayatkan dari segi artinya saja (bil ma‟na).
Sifat adil ketika dibicarkan dalam hubungannya dengan periwayatan hadits maka
yang dimaksud adalah, suatu karakter yang terdapat dalam diri seseorang yang
selalu mendorongnya pada melakukan hal-hal yang positif, atau orang yang selalu
konsisten dalam kebaikan dan mempunyai komitmen tinggi terhadap agamanya

B. Syarat-syarat Perowi dalam Tahammul al-Hadits


Tidak dapat dipungkiri bisa mendapatkan hadits atau menerimanya
merupakan anugrah yang sangat besar. Disamping perlunya keikhlasan hati dan
lurusnya niat, membersihkan diri dari tujuan-tujuan yang menyeleweng, yang
merupakan adab atau tatakrama seorang tholibul al-hadits, dalam menerima hadits
harus memenuhi beberapa syarat yang telah ditetapkan oleh ulama ahli hadits atau
dikenal dengan istilah ahliyatu at-tahammul sehingga hadits yang diterima
tersebut sah untuk diriwayatkan.
a. Tamyiz
Syarat yang pertama perawi dalam tahammul al-hadits adalah tamyiz.
Menurut al-Hafidz Musa ibn Harun al-Hamal seorang anak bisa disebut tamyiz
jika sudah mampu untuk membedakan antara sapi dan khimar. Kalau menurut
penulis seumpama anak Indonesia itu bisa membedakan antara kambing dan
anjing. Menurut Imam Ahmad, ukuran tamyiz adalah adanya kemampuan
menghafal yang didengar dan mengingat yang dihafal. Ada juga yang mengatakan
bahwa ukuran tamyiz adalah pemahaman anak pada pembicaraan dan kemampuan
menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.

3
Seorang yang belum baligh boleh menerima hadits asalkan ia sudah tamyiz.
Hal ini didasarkan pada keadaan para sahabat, tabi‟in, dan ahli imu
setelahnya yang menerima hadits walaupun mereka belum baligh seperti Hasan,
Husain, Abdullah ibn Zubair, Ibnu Abbas, dan lain-lain.
Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan seseorang boleh
bertahammul hadits dengan batasan usia. Qodli Iyad menetapkan batas usia boleh
bertahammul adalah usia lima tahun, karena pada usia ini seorang anak bisa
menghafal dan mengingat-ingat sesuatu, termasuk hadits nabi. Abu Abdullah az-
Zubairi mengatakan bahwa seorang anak boleh bertahammul jika telah berusia
sepuluh tahun, sebab pada usia ini akal mereka telah dianggap sempurna.
Sedangkan Yahya ibn Ma‟in menetapkan usia lima belas tahun.
Syarat perawi dalam tahammul hadits yang penulis temukan hanyalah
tamyiz, sedangkan beragama islam tidak disyaratkan dalam tahammul hadits.
Adapun syarat berakal sehat sudah jelas disyaratkan dalam bertahammul hadits
karena untuk menerima hadits yang merupakan salah satu sumber hukum islam
sangat diperlukan. Oleh karena itu tidak sah riwayatnya seseorang yang menerima
hadits tersebut ketika dalam keadaan tidak sehat akalnya.[3]

C. Syarat-syarat perawi dalam ada’ al-hadits


Syarat-syarat orang yang diterima dalam meriwayatkan hadits atau dikenal
dengan istilah ahliyatul ada‟ menurut ulama ahlul hadits adalah:
a. Islam
Pada waktu periwayatan suatu hadits seorang perowi harus muslim.
Menurut ijma‟, periwayatan hadits oleh orang kafir dianggap tidak sah. Karena
terhadap riwayat orang muslim yang fasik saja dimauqufkan, apalagi hadits yang
diriwayatkan oleh orang kafir. Walaupun dalam tahammul hadits orang kafir
diperbolehkan, tapi dalam meriwayatkan hadits ia harus sudah masuk Islam.
b. Baligh
Yang dimaksud baligh adalah perowi cukup usia ketika ia meriwayatkan
hadits. Baik baligh karena sudah berusia lima belas tahun atau baligh karena
sudah keluar mani. Batasan baligh ini bisa diketahui dalam ketab-kitah fiqih.

4
c. „Adalah (adil)
„Adl merupakan suatu sifat yang melekat, yang berupa ketaqwaan dan
muru‟ah (harga diri). Sifat „adalahnya seorang rowi berarti sifat „adlnya di dalam
riwayat. Dalam ilmu hadits sifat „adalah ini berarti orang islam yang sudah
mukallaf yang terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kefasikan
dan jatuhnya harga diri.Jadi syarat yang ketiga ini sebenarnya sudah mencakup
dua syarat sebelumnya yaitu Islam dan baligh. Oleh karena itu sifat „adalah ini
mengecualikan orang kafir, fasiq, orang gila, dan orang yang tak dikenal (‫)مجهىل‬
d. Dlobit
Dlobit ialah ingatan. seseorang yang meriwayatkan hadits harus ingat akan
hadits yang ia sampaikan tersebut. Ketika ia mendengar hadits dan memahami apa
yang didengarnya, serta hafal sejak ia menerima hadits hingga ia
meriwayatkannya.

Dlobit oleh ulama ahli hadits dibagi menjadi dua yaitu:


2) Dlobtu ash-shodri, yaitu dengan menetapkan atau menghafal apa yang ia
dengar didalam dadanya, sekiranya ia mampu untuk menyampaikan hafalan
tersebut kapanpun ia kehendaki.
3) Dlobtul kitab, yaitu memelihara, mempunyai sebuah kitab catatan yang
catatan hadits yang ia dengar, kitab tersebut dijaga dan ditashheh sampai ia
meriwayatkan hadits sesuai dengan tulisan yang terdapat dalam kitab
tersebut.[4]

D. Sighat Tahammul wa Ada’al-hadits.[5]


1. Al-Sima'
Yakni medengar sendiri dari perkataan gurunya, baik dengan cara
didektekan mauipun bukan, dan baik dari hafalannya maupun dari tulisannya.
Sehingga yang menghadirinya mendengar apa yang disampaikan tersebut.
Menurut jumhur ulama hadis bahwa cara ini merupakan penerimaan hadis yang
paling tinggi tingkatannya. Termasuk kategori sama' juga seorang yang
mendengar hadis dari Syeikh dari balik satar. Jumhur ulama membolehkannya

5
dengan berdasar pada para sahabat yang juga pernah melakukan hal demikian
ketika meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah melalui para istri Nabi.
Lafadh-lafadh yang digunakan oleh rawi dalam meriwayatkan hadis atas dasar
sama', ialah:
‫ أخبزنا‬،ً‫( أخبزن‬seseorang mengabarkan kepadaku/kami)

‫ حذثنا‬،ً‫( حذثن‬seseorang telah bercerita kepadaku/kami)

‫ س عنا‬،‫( س عج‬saya telah mendengar, kami telah mendengar)

2. Al-Qira'ah 'ala Al-Syaikh atau 'Aradh Al-Qira'ah


Yakni suatu cara penerimaan hadis dengan cara seseorang membacakan
hadis dihadapan gurunya, baik dia sendiri yang membacakan maupun orang lain,
sedangkan sang guru mendengarkan atau menyimak, baik guru itu hafal maupun
tidak tetapi dia memegang kitabnya atau mengetahui tulisannya.
Lafadh-lafadh yang digunakan untuk menyampaikan hadis-hadis yang
berdasarkan qiraah:
‫( قزآث عهيو‬aku telah membacakan dihadapannya)

‫( قزئ عهً فالن و أنا أس ع‬dibacakan seseorang dihadapannya sedang aku


mendengarkannya)
‫( حذثنا أو أخبزنا قزاءة عهيو‬telah mengabarkan/menceritkan padaku secara
pembacaandihadapannya)

3. Ijazah
yakni Seorang guru mengijinkan muridnya meriwayatkan hadis atau
riwayat, baik dengan ucapan atau tulisan. Gambarannya : Seorang syaikh
mengatakan kepada salah seorang muridnya : Aku ijinkan kepadamu untuk
meriwayatkan dariku demikian. Di antara macam-macam ijazah adalah
a. Syaikh mengijazahkan sesuatu yang tertentu kepada seorang yang tertentu.
Misalnya dia berkata,”Aku ijazahkan kepadamu Shahih Bukhari”. Di antara
jenis-jenis ijazah, inilah yang paling tinggi derajatnya

6
b. Syaikh mengijazahkan orang yang tertentu dengan tanpa menentukan apa
yang diijazahkannya. Seperti mengatakan,”Aku ijazahkan kepadamu untuk
meriwayatkan semua riwayatku”.
c. Syaikh mengijazahkan kepada siapa saja (tanpa menentukan) dengan juga
tidak menentukan apa yang diijazahkan, seperti mengatakan,”Aku ijazahkan
semua riwayatku kepada semua orang pada zamanku”.
d. Syaikh mengijazahkan kepada orang yang tidak diketahui atau majhul. Seperti
dia mengatakan,”Aku ijazahkan kepada Muhammad bin Khalid Ad-
Dimasyqi”; sedangkan di situ terdapat sejumlah orang yang mempunyai nama
seperti itu.
e. Syaikh memberikan ijazah kepada orang yang tidak hadir demi
mengikutkan mereka yang hadir dalam majelis. Umpamanya dia
berkata,”Aku ijazahkan riwayat ini kepada si fulan dan keturunannya”.

Lafadh-lafdh yang dipakai dalam menyampaikan riwayat yang diterima


dengan jalur ijazah adalah ajaza li fulan – ‫( أجاس نفالن‬beliau telah memberikan
ijazah kepada si fulan), haddatsana ijaazatan – ‫حذثنا إجاسة‬, akhbarana ijaazatan –
‫أخبزنا إجاسة‬, dan anba-ana ijaazatan – ‫(أنبأنا إجاسة‬beliau telah memberitahukan
kepada kami secara ijazah).

4. Al-Munaawalah
Yakni seorang guru memberikan hadis atau beberapa hadis atau sebuah
kitab hadis kepada muridnya untu diriwayatkan.
Al-Munawalah ada dua macam :
a. Al-Munawalah yang disertai dengan ijazah. Ini tingkatannya paling tinggi di
antara macam-macam ijazah secara muthlaq. Seperti jika seorang syaikh
memberikan kitabnya kepada sang murid, lalu mengatakan kepadannya,”Ini
riwayatku dari si fulan, maka riwayatkanlah dariku”. Kemudian buku tersebut
dibiarkan bersamanya untuk dimiliki atau dipinjamkan untuk disalin. Maka
diperbolehkan meriwayatkan dengan seperti ini, dan tingkatannya lebih rendah
daripada as-sama‟ dan al-qira‟ah.

7
b. Al-Munawalah yang tidak diiringi ijazah. Seperti jika seorang syaikh
memberikan kitabnya kepada sang murid dengan hanya mengatakan : ”Ini
adalah riwayatku”. Yang seperti ini tidak boleh diriwayatkan berdasarkan
pendapat yang shahih.[6]

5. Al-Kitabah
Yaitu : Seorang syaikh menulis sendiri atau dia menyuruh orang lain
menulis riwayatnya kepada orang yang hadir di tempatnya atau yang tidak hadir
di situ. Kitabah ada 2 macam :
a. Kitabah yang disertai dengan ijazah, seperti perkataan syaikh,”Aku ijazahkan
kepadamu apa yang aku tulis untukmu”, atau yang semisal dengannya. Dan
riwayat dengan cara ini adalah shahih karena kedudukannya sama kuat dengan
munaawalah yang disertai ijazah.
b. Kitabah yang tidak disertai dengan ijazah, seperti syaikh menulis sebagian
hadits untuk muridnya dan dikirimkan tulisan itu kepadanya, tapi tidak
diperbolehkan untuk meriwayatkannya. Di sini terdapat perselisihan hukum
meriwayatkannya. Sebagian tidak memperbolehkan, dan sebagian yang lain
memperbolehkannya jika diketahui bahwa tulisan tersebut adalah karya syaikh
itu sendiri.

6. Al-I‟lam (memberitahu)
Yaitu : Seorang syaikh memberitahu seorang muridnya bahwa hadits ini
atau kitab ini adalah riwayatnya dari si fulan, dengan tidak disertakan ijin untuk
meriwayatkandaripadanya. Ketika menyampaikan riwayat dengan cara ini, si
perawi berkata : A‟lamanii syaikhi – ‫(أعه ني شيخي‬guruku telah memberitahu
kepadaku).

7. Al-Washiyyah (mewasiati)
Yaitu : Seorang syaikh mewasiatkan di saat mendekati ajalnya atau dalam
perjalanan, sebuah kitab yang ia wasiatkan kepada sang perawi.
Ketika menyampaikan riwayat dengan wasiat ini perawi mengatakan : Aushaa
ilaya fulaanun bi kitaabin – ‫( أوصً إني فالن بكخاب‬si fulan telah mewasiatkan

8
kepadaku sebuah kitab), atau haddatsanii fulaanun washiyyatan – ‫حذثني فالن‬
‫( وصيت‬si fulan telah bercerita kepadaku dengan sebuah wasiat). [7]

8. Al-Wijaadah (mendapat)
Yaitu : Seorang perawi mendapat hadis atau kitab dengan tulisan seorang
syaikh dan ia mengenal syaikh itu, sedang hadi-hadisnya tidak pernah
didengarkan ataupun ditulis oleh si perawi.
Dalam menyampaikan hadits atau kitab yang didapati dengan jalan wijadah
ini, si perawi berkata,”Wajadtu bi kaththi fulaanin” (aku mendapat buku ini
dengan tulisan si fulan), atau ”qara‟tu bi khththi fulaanin” (aku telah membaca
buku ini dengan tulisan si fulan); kemudian menyebutkan sanad dan
matannya. Sighat Tahammul Wa Dari beberapa proses penerimaan dan
penyampaian hadits di atas kita bisa mengambil kesimpulan sebagai berikut.
Bahwa ketika perowi mau menceritakan sebuah hadits, maka ia harus
menceritakan sesuai dengan redaksi pada waktu ia menerima hadits tersebut
dengan beberapa istilah yang telah banyak dipakai para ulama‟ hadits.
Sebagaimana berikut:

hadits y1)Jika proses tahamul dengan cara mendengarkan, maka bentuk


periwayatannyaadalah:
‫حدثني‬,‫حدثنا‬,‫سمعنا‬,‫سمعج‬
Menurut al-Qodhi Iyyat boleh saja perowi menggunakan kata:
‫حدثني‬,‫حدثنا‬,‫سمعنا‬,‫ سمعج‬,‫ ذكر لنا‬,‫قال لنا‬,‫أخبرنا‬

2) Jika proses tahamul itu dengan menggunakan Qiroah, maka rowi


yang meriwayatkan harus menggunakan kata

‫ حدثنا فالن قرأة عليه‬,‫ أخبرني‬,‫ قرئ على فالن و أ نا سمعج‬,‫قرأث على فالن‬

3) Ketika proses tahamul menggunakan ijazah maka bentuk redaksi


penyampaiannya adalah

9
‫ أنبأنى‬,‫أجازنى فالن‬

4) Ketika prosesnya munawalah, maka redaksi yang digunakan adalah

‫ أنبأنى فالن يإالجسة و المناولت‬,‫ حدثنى فالن ياامناولت وإالجازة‬,‫ناولنى فالن مع إالجازة‬

5) Ketika proses tahamul dengan kitabah (penulisan), maka redaksi yang


digunakan adalah:

‫ أخبرني حدثني بالمكاحبت وإالجازة‬,‫ حدثني بالمكاحبت وإالجازة‬,‫ كاحبني‬,‫كخب إلي‬

6) Ketika prosesnya menggunkan pemberitahuan, maka redaksi yang digunakan


adalah:

‫ أخبرنى فالن بإالعالم‬,‫ حدثنى فالن يإالعالم‬,‫أعلمنى فالن‬

7) Ketika proses tahamul menggunakan metode wasiat, maka


redaksi penyampaian menggunakan kata:

‫ حدثني فالن بالوصيت‬,‫ أخبرنى فالن بالوصيت‬,‫أوصى إلي فالن‬

8) Ketika proses tahamul melalui metode wijadah ( penemuan sebuah manuskrip


atau buku), maka redaksi penyampaiannya menggunakan kata:[8]
‫ قال فالن‬,‫وجدث بخط فالن‬a
ng dia hafal atau yang terdapat dalam sebuah kitab ya

10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam menerim hadits tidak disyaratkan seorang harus muslim dan
baligh. Namun ketika menyampaikannya, disyaratkan harus Islam dan baligh.
Maka diterima riwayat seorang muslim yang baligh dari hadits yang diterimanya
sebelum masuk Islam atau sebelum baligh, dengan syarat tamyiz atau dapat
membedakan (yang haq dan yang bathil) sebelum baligh. Sebagian ulama
memberikan batasan minimal berumur lima tahun. Namun yang benar adalah
cukup batasan tamyiz atau dapat membedakan. Jika ia dapat memahami
pembicaraan dan memberikan jawaban dan pendengaran yang benar, itulah
tamyiz dan mumayyiz. Jika tidak, maka haditsnya ditolak.
Metode mempelajari/menerima Hadis yang dipakai oleh para ulama adalah:
1. As-Sima‟, yaitu guru membaca hadis didepan para muridnya. Bentuknya
bisa membaca hafalan, membaca dari kitab, tanyajawab dan dikte.
2. Al-„ardlu, yaitu seorang murid membaca hadis di depan guru. Dalam metode ini
seorang guru dapat mengoreksi hadis yang dbaca oleh muridnya. Istilah yang
dipakai adalah akhbarana.
3. Al-Ijazah, yaitu pemberian ijin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan
buku hadis tanpa membaca hadis tersebut satu demi satu. Istilah yang dipakai
adalah an-ba-ana.
4. Al-Munawalah, yaitu seorang guru memberi sebuah atau beberapa hadis tanpa
menyuruh untuk meriwayatkannya. Istilah yang dipakai adalah an-ba-ana.
5. Al-MKitabah, yaitu seorang guru menulis hadis untuk seseorang, hal ini mirip
dengan metode ijazah.
6. I‟lam as-Syaikh, yaitu pemberian informasi guru kepada murid bahwa hadis
dalam kitab tertentu adalah hasil periwayatan yang diproleh dari seseorang tanpa
menyebut namanya.
7. Al-Washiyah, yaitu guru mewasiatkan buku-buku hadis kepada muridnya
sebelum meninggal.
8. Al-Wijadah, yaitu seseorang yang menemukan catatan hadis seseorang
tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkannya

11
DAFTAR PUSTAKA

· -Mahmud Thohan, 1985,terjemah Tafsir Mushtholah Hadits, Songgopuro,


haramain,
· Ibnu sholah, TT, Ulumul Hadits al-Ma’ruf bi Muqoddimah ibn ash-
Sholah,Tsaqofiyah,
· -. H. Mudasir, Ilmu Hadis, Bandung, CV. Pustaka Setia, 1999. Cet. I
· -http//ulumul hadits//com

RINGKASAN
Ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan At-tahamul adalah
“mengambil atau menerima hadits dari seorang guru dengan salah satu cara
tertentu.
Al-ada‟ al-Hadist
Al-Ada„ secara etimologis berarti sampai/melaksanakan.secara
terminologis Al-Ada„ berarti sebuah proses mengajarkan (meriwayatkan) hadits
dari seorang guru kepada muridnya.
Adapun syarat-syarat bagi seseorang diperbolehkan untuk mengutip hadits dari
orang lain adalah:
a. Dhobit.
b. Berakal sempurna.
c. Tamyiz.
Sementara itu, untuk mencapai tingkat „adalah seseorang harus memenuhi
empat syarat yaitu:a.Islam.
b. Baliq.
c. Adil.
d. dhobit
Metode mempelajari/menerima Hadis yang dipakai oleh para ulama adalah:2
1. As-Sima‟, yaitu guru membaca hadis didepan para muridnya.
Bentuknya bisa membaca hafalan, membaca dari kitab, tanyajawab dan
dikte.

12
2. Al-„ardlu, yaitu seorang murid membaca hadis di depan guru.
Dalam metode ini seorang guru dapat mengoreksi hadis yang dbaca oleh
muridnya. Istilah yang dipakai adalah akhbarana.
3. Al-Ijazah, yaitu pemberian ijin seorang guru kepada murid untuk
meriwayatkan buku hadis tanpa membaca hadis tersebut satu demi satu.
Istilah yang dipakai adalah an-ba-ana.
4. Al-Munawalah, yaitu seorang guru memberi sebuah atau beberapa
hadis tanpa menyuruh untuk meriwayatkannya. Istilah yang dipakai adalah
an-ba-ana.
5. Al-Kitabah, yaitu seorang guru menulis hadis untuk seseorang, hal
ini mirip dengan metode ijazah.
6. I‟lam as-Syaikh, yaitu pemberian informasi guru kepada murid
bahwa hadis dalam kitab tertentu adalah hasil periwayatan yang diproleh
dari seseorang tanpa menyebut namanya.
7. Al-Washiyah, yaitu guru mewasiatkan buku-buku hadis kepada
muridnya sebelum meninggal.
8. Al-Wijadah, yaitu seseorang yang menemukan catatan hadis
seseorang tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkannya

[1] . Mahmud Thohan, 1985, terjemah Mushtholah Hadits, Songgopuro,


haramain, hlm. 156
[2] .ibid:hlm 156
[3]. Ibnu sholah, Ulumul Hadits al-Ma’ruf bi Muqoddimah ibn ash-Sholah,
Tsaqofiyah, hlm. 137.
[4] .Ibid:137
[5] . H. Mudasir, Ilmu Hadis, Bandung, CV. Pustaka Setia, 1999. Cet. I.hlm.85
[6] Ibid:156
[7] Ibid:156
[8] .htttp//ulumulhadits//com

13