Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi ini banyak perusahaan yang mengembangkan

perusahaannya sendiri didefinisikan sebagai organisasi yang didirikan perorangan,

sekelompok orang atau badan lainnya. Perusahaan melakukan kegiatan berupa

produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomis manusia (Soemarsono,

S.R, 2004). Pendirian sebuah perusahaan harus memiliki sebuah tujuan yang jelas.

Tujuan perusahaan secara umum dibagi menjadi dua bagian yaitu tujuan

jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek perusahaan yaitu

menghasilkan laba untuk satu periode waktu sedangkan tujuan jangka panjang dari

perusahaan yaitu memaksimalkan nilai perusahaan (Retno dan Priantinah, 2012).

Salah satu jenis perusahaan adalah perusahaan manufaktur. Perusahaan manufaktur

mengalami proses yang panjang dari mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi

yang bertujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan.

Nilai perusahaan merupakan persepsi seorang investor terhadap perusahaan

yang dapat tercermin melalui harga saham suatu perusahaan. Harga saham memiliki

korelasi yang positif terhadap nilai perusahaan karena semakin tinggi harga saham

suatu perusahaan maka nilai perusahaan juga akan semakin tinggi. Harga saham

yang tinggi membuat ketertarikan investor akan semakin besar, karena nilai

perusahaan yang tinggi mengindikasikan bahwa tingkat kemakmuran yang tinggi


dari pemegang saham dalam sutu perusahaan (Wijaya dan Sedana, 2015). Harga

pasar saham bertindak sebagai barometer kinerja manajemen perusahaan.

Ketidakstabilan harga saham menyulitkan investor dalam melakukan investasi.

Informasi tentang penurunan harga saham perusahaan dapat disebabkan

karena kasus-kasus dalam perusahaan. Contoh kasus pencemaran lingkungan oleh

perusahaan manufaktur pernah terjadi di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Kondisi

alam kabupaten Banyuwangi yang subur dan kondisi sungai yang hampir tidak

pernah kering serta dekat dengan laut memungkinkan daerah ini berkembang

beberapa industry yang mengandalkan sumber daya alam, salah satu diantaranya

adalah kertas. PT. Kertas Basuki Rachmat sebagai industry kertas di kabupaten

Banyuwangi telah mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan membawa

keuntungan finansial bagi masyarakat, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi

maupun pusat. Akan tetapi pendirian industri ternyata tidak saja membawa

keuntungan finansial namun juga membawa dampak negative berupa limbah

industri yang semakin banyak. Limbah tersebut dapat berwujud gas, cair, dan padat.

Hal ini disebabkan oleh peralatan pengolahan limbah yang kurang optimal sehingga

lingkungan menjadi tercemar akibat limbah yang dihasilkan oleh perusahaan.

Pencemaran terhadap lingkungan ini mengakibatkan gangguan kesehatan

masyarakat (cahyono, 2007). Permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh

perusahaan akhirnya akan berdampak terhadap citra perusahaan di mata investor

dan masyarakat sekitar.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan, salah

satunya adalah kinerja lingkungan. Menurut Suratno, dkk. (2006), kinerja


lingkungan perusahaan (environmental performance) adalah kinerja perusahaan

dalam menciptakan lingkungan yang baik (green). Perusahaan perlu menyediakan

informasi bagi pemegang saham serta stakeholder lain atas aktivitas bisnis

perusahaan yang mempengaruhi lingkungan sekitar, maka diperlukan informasi

lengkap dan menyeluruh mengenai corporate sustainability untuk mewujudkan

kinerja perusahaan yang baik. Informasi tersebut disediakan oleh akuntansi

lingkungan, dimana merupakan proses identifikasi semua sumber daya yang

digunakan serta manfaat dari penggunaan sumber daya atas aktivitas perusahaan

melestarikan lingkungan dalam beroperasi secara rutin (Hernadi, 2012).

Terkait dengan teori legitimasi, kinerja lingkungan yang baik harus dimiliki

perusahaan sebagai upaya mewujudkan organisasi yang peduli terhadap lingkungan

sekitar. Kepedulian suatu perusahaan terhadap lingkungan dapa dipengaruhi oleh

keluhan konsumen dan tuntutan stakeholder. Mereka belum menyadari bahwa

masalah lingkungan tidak hanya memerlukan tuntutan dari luar, tetapi seharusnya

menjadi tindakan proaktif. Di beberapa Negara industri, perusahaan-perusahaan

sudah menyadari pentingnya kesadaran terhadap lingkungan dengan mengurangi

tingkat polui dan meningkatkan profit secara simultan. Akar permasalahan dalam

kerusakan lingkungan adalah pertumbuhan penduduk yang sangat pesat,

pertumbuhan ekonomi yang cepat dan pada saat yang sama pertumbuhan inustri

cukup pesat yang diikuti dengan penyalahgunaan sumber daya alam, penggunaan

teknologi pda hmpir setiap perusahaan seta keinginan untuk mengikuti glogalosasi.

Masyarakat sekarang lebih pintar dan memilih produk yang akan mereka

konsumsi. Sekarang, masyarakat cenderung untuk memilih produk yang diproduksi


peduli terhadap lingkungan. Survey yang dilakukan Booth-Harris Trust Monitor

pada tahun 2001 dalam Sutopoyudo (2009), menunjukkan bahwa mayoritas

konsumen akan meninggalkan suatu produk yang mempunyai citra buruk atau

diberitakan negative. Pfeiger et al., (2005), menjelaskan bahwa kegiatan

perusahaan dalam bidang pelestarian lingkungan akan mendatangkan keuntungan,

diantaranya ketertarikan pemegang saham dan stakeholder terhadap keuntungan

perusahaan akibat pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Perusahaan

yang mempunyai kinerja lingkungan yang baik akan semakin disukai oleh

konsumen dan diminati oleh investor, sehingga nilai perusahaan semakin

meningkat. Berkembangnya konsep ekoefisiensi mendorong perusahaan untuk

mencapai kinerja keuangan dan kinerja lingkungan secara simultan.

Penelitian dengan hasil yang beragam menyatakan terkait hubungan pengaruh

kinerja lingkungan pada nilai perusahaan, menurut Hariati dan Rihatiningtyas

(2015), Dewi dan Wirasedana (2017), dan Arieftara (2017) menyatakan kinerja

lingkungan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Namun, menurut Ardila

(2017) dan Sawitri (2017) menyatakan bahwa kinerja lingkungan tidak berpengaruh

signifikan terhadap nilai perusahaan karena tidak semua investor melihat kinerja

sebagai kriteria berinvestasi.

Nilai perusahaan juga dapat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan. Ukuran

perusahaan dianggap mampu mempengaruhi nilai perusahaan, karena semakin

besar ukuran atau skala perusahaan maka akan semakin mudah pula perusahaan

memperoleh sumber pendanaan baik yang bersifat internal maupun eksternal (Chi,

2005). Menurut Riyanto (2003:343) ukuran perusahaan adalah besar kecilnya


perusahaan yang dilihat dari besar nilai ekuitas, nilai penjualan atau nilai total

aktiva. Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan kepada total asset perusahaan

(Machfoedz, 1994). Semakin besarnya ukuran perusahaan akan mempengaruhi

keputusan manajemen dalam memutuskan sebuah pendanaan apa yang akan

digunakan oleh perusahaan agar keputusan pendanaan tersebut dapat

mengoptimalkan nilai perusahaan (Hall, 1986). Pada umumnya perusahaan yang

memiliki size yang cukup besar, maka perusahaan tersebut cenderung lebih mudah

untuk mendapat kepercayaan oleh kreditur dalam mendapatkan sumber dana baik

dari internal maupun eksternal perusahaan yang mampu digunakan untuk

meningkatkan keuntungan perusahaan (Pramana dan Mustanda, 2016).

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Hidayah (2014), Martini dkk.

(2014), Rasyid et al (2015), serta Pratama dan Wiksuana (2016) memeroleh hasil

bahwa ukura perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai

perusahaan. Namun hasil yang dilakukan oleh Suroto (2016), Prastuti dan Sudhiarta

(2016) serta Hardian dan Asyik (2016) menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Gill dan Mathur (2011)

membuktikan bahwa ukuran perusahaan yang lebih besar (sejumlah banyaknya

direksi) memiliki dampak negatif pada nilai perusahaan manufaktur di Kanada.

Adanya beberapa hasil penelitian terdahulu yang tidak konsisten membuat penulis

ingin meneliti kembali pengaruh antara variabel-variabel tersebut dengan

memasukkan penerapan Good Corporate Governance sebagai variabel moderasi

yng diperkirakan akan memperlemah atau memperkuat pengaruh tersebut.


Good Corporate Governance (GCG) merupakan konsep yang terkait dengan

struktur perseorangan, yang terdiri atas unsur-unsur Rapat Umum Pemegang

Saham (RUPS) dan direksi komisaris, dapat terjalin hubungan dan mekanisme

kerja, pembagian kerja, pembagian tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang

harmonis, baik secara intern maupun ekstern. Pada prinsipnya GCG terkait dengan

kepentingan para pemegang saham, perlakuan yang sama terhadap para pemegang

saham, peran semua pihak yang berkepentingan (stakeholder), transparansi dan

kejelasan. Daily dan Dalton (1994) menyatakan bahwa tata kelola perusahaan yang

didasarkan pada teori keagenan adalah Good Corporate Governance. GCG akan

meningkatkan kualitas tata kelola perusahaan dan meningkatkan akuntabilitas

perusahaan kepada pemegang saham sekaligus memaksimalkan nilai pemegang

saham atau pemangku kepentingan lainnya (Krenn, 2015).

Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia terdiri dari 3 jenia usaha

yaitu perusahaan jasa, dagang, dan manufaktur. Dalam penelitian ini perusahaan

yang akan diteliti adalah perusahaan manufaktur. Perusahaan manufaktur adalah

perusahaan yang di dalamnya terjadi proses pengolahan bahan mentah menjadi

barang jadi yang layak untuk di pasarkan. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia merupakan kelompok sektor yang memiliki jumlah

perusahaan terbesar dibandingkan dengan sektor lainnya. Umumnya perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan perusahaan-

perusahaan besar. Perusahaan besar tentu menjanjikan laba yang lebih tinggi, oleh

sebab itu banyak calon investor yang tertarik pada perusahaan manufaktur.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penelitian ini berjudul

“Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Ukuran Perusahaan pada Nilai Perusahaan

dengan Good Corporate Governance sebagai Variabel Pemoderasi”.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, maka pemasalahan yang dapat

dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1) Apakah kinerja lingkungan berpengaruh pada nilai perusahaan?

2) Apakah ukuran perusahaan berpengaruh pada nilai perusahaan?

3) Apakah Good Corporate Governance dapat memoderasi pengaruh kinerja

lingkungan pada nilai perusahaan?

4) Apakah Good Corporate Governance dapat memoderasi pengaruh ukuran

perusahaan pada nilai perusahaan?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan dari

penelitian ini untuk menganalisis:

1) Untuk menguji dan memperoleh bukti empiris pengaruh kinerja lingkungan

terhadap nilai perusahaan.

2) Untuk menguji dan memperoleh bukti empiris pengaruh ukuran persahaan

terhadap nilai perusahaan.

3) Untuk menguji dan memperoleh bukti empiris pengaru Good Corporate

Governance dalam memperkuat pengaruh kinerja lingkungan pada nilai

perusahaan.
4) Untuk menguji dan memperoleh bukti empiris pengaru Good Corporate

Governance dalam memperkuat pengaruh ukuran perusahaan pada nilai

perusahaan.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh melalui pelaksanaan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1) Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu membuktikan secara empiris teori-teori

yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teori legitimasi, teori sinyal, dan

teori keagenan. Selain untuk menguji teori yang digunakan, penelitian ini

diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai

pengaruh kinerja lingkungan dan ukuran perusahaan pada nilia perusahaan

dengan Good Corporate Governance sebagai variabel pemoderasi.

2) Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat

untuk pertimbangan dalam rangka meningkatkan nilai perusahaan. Selain itu,

penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi

kemajuan akademis dan dapat dijadikan acuan atau referensi untuk penelitian

berikutnya.