Anda di halaman 1dari 6

Laporan Tugas Mandiri Keperawatan Anak II

Teori Pengkajian dan Diagnosis Keperawatan pada Kasus Pneumonia

Wahyu Anggoro

1806270210

Ekstensi 2018

Pneumonia merupakan inflamasi pada jaringan parenkim paru dengan konsolidasi ruang
alveolar (Marcdante, Kliegman, Jenson, Behrman, 2014). Secara garis besar, Pneumonia
dapat dikategorikan menjadi beberapa antara lain: Pneumonia lobaris, Pneumonia
Atipikal dan Bronkhoneumonia. Pneumonia lobaris menggambarkan pneumonia yang
terlokalisir pada satu atau lebih dari lobus paru. Pneumonia atipikal menggambarkan pola
selain dari pneumonia lobaris sementara Bronkhopneumonia mengacu pada inflamasi
paru yang terfokus pada area bronkiolus dan memicu produksi eksudat mukopurulen yang
dapat mengakibatkan sumbatan saluaran pernapasan kecil dan menyebabkan konsolidasi
merata ke lobules yang berdekatan (Marcdante, Kliegman, Jenson, Behrman, 2014).

Kasus Pemicu

“Anak perempuan berusia 1 tahun dibawa ke Puskesmas dengan keluhan batuk sejak 3
hari yang lalu disertai demam hingga 40°C. Ibu selalu memberikan obat antipiretik tiap
kali suhu tubuh anak diatas 37.5°C dan segera diberikan ketika suhu tubuh anak naik lagi.
Hasil pengkajian didapatkan anak terlihat sesak, frekuensi napas 60x/menit, frekuensi
nadi 142x/menit, terdapat napas cuping hidung, dan retraksi dinding dada, suhu tubuh
38.8°C, saturasi Oksigen 96%, CRT < 2 detik, anak tampak lemas, BB 10 Kg, TB 85 cm.
Ibu mengatakan anak sempat muntah sebanyak 2 kali pagi ini dan mengeluarkan banyak
lendir. Ibu mengatakan anak memang sulit makan, dan semakin sulit makan selama sakit
ini pemeriksaan BTA TB (-).”

Terlepas dari penyebabnya, Pneumonia dapat dibedakan dengan jenis penyakit infeksi
paru lainnya melalui jenis batuknya. Karakteristik batuk dari pneumonia adalah dengan
produksi sputum yang banyak, takipneu, ronki dan sianosis (Bowden & Greenberg,
2010).
Pengkajian dan diagnosis secara konsep yang dapat ditegakkan berdasarkan kasus pemicu
diatas adalah sebagai berikut ini:

A. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
a. Identitas anak.
Berisi data mengenai nama klien, usia, jenis kelamin, tanggal dan tempat
lahir serta nomor rekam medis dan sebagainya.
b. Identitas orang tua.
1) Identitas ayah.
Berisi data mengenai nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama dan
alamat.
2) Identitas ibu.
Berisi data mengenai nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama dan
alamat.
2. Riwayat kesehatan sebelumnya.
Berisikan informasi mengenai riwayat penyakit sebelumnya yang mungkin
berkaitan dengan riwayat kesehatan sekarang.
3. Riwayat kesehatan sekarang.
a. Keluhan utama.
b. Pemeriksaan fisik.
1) Keadaan umum, meliputi kesadaran anak, perilaku anak yang mudah
marah, gelisah dan lemah (Hockenberry & Wilson, 2013).
2) Sistem penapasan, meliputi:
- Karakteristik batuk, apakah batuk berdahak atau tidak, bagaimana
konsistensi dahak atau lendir tersebut.
- Kaji penggunaan otot napas tambahan, cuping hidung dan retraksi
dari otot-otot dada.
- Kaji apakah terdapat takipneu.
- Kaji suara napas, apakah terdapat penurunan bunyi suara napas,
ronki, crackles atau rales.
- Pada perkusi terdapat suara dullness pada thoraks.
- Kaji apakah terdapat nyeri dada, bagaimana kualitas dan
karakteristiknya.
3) Sistem kardiovaskuler, meliputi:
- Kaji frekuensi dan irama jantung.
- Kaji warna kulit anak apakah pucat atau sianosis (tergantung tingkat
keparahan).
- Kaji membran mukosa bibir.
- Kaji nadi perifer, CRT dan saturasi oksigen perifer.
4) Sistem pencernaan, meliputi:
- Kaji apakah terjadi penurunan nafsu makan.
- Kaji riwayat muntah, konsistensi, jumlah dan frekuensi.
- Kaji riwayat diare.
- Kaji apakah terdapat nyeri abdomen.
5) Sistem genitourinaria, meliputi:
- Kaji produksi urin meliputi warna dan jumlah.
6) Sistem neuro-muskuler, meliputi:
- Kaji apakah ada tanda kelemahan, letih dan lesu serta malaise.
- Kaji tingkat respon.
7) Temperatur, meliputi:
- Kaji suhu tubuh anak. Karakteristik demam.
8) Sistem integument, meliputi:
- Kaji warna kulit apakah terdapat pucat hingga sianosis.
- Kaji membran mukosa bibir apakah ada sianosis.
4. Pemeriksaan penunjang.
a. Rontgen thoraks, memberi gambaran lapang paru yang terkena dengan
menunjukan tanda infiltrasi difus dan distribusi peribronkial (Hockenberry
& Wilson, 2013).
b. Analisa gas darah, dapat menunjukan kondisi hipoksia dan hiperkarbi yang
dapat menyebabkan perubahan perilaku dan kesadaran pada anak (Bowden
& Greenberg, 2010).
c. Hitung jenis leukosit. Pada kasus pneumonia viral sering kali normal
ataupun meningkat sedikit dengan limfosit predominan. Sementara pada
pneumonia bakteri hitung jenis leukosit mengalami peningkatan
(>20.000/mm3) dengan predominan neutrofil (Marcdante, Kliegman,
Jenson, Behrman, 2014).
d. Biakan darah dan sputum. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan
patogen penyebab pneumonia. Umumnya patogen penyebab pneumonia
antara lain S. Pneumoniae, H. Influenzae, S. Aureus, Streptococcus Grup B,
Chlamydia pneumoniae dan M. Pneumoniae (Marcdante, Kliegman,
Jenson, Behrman, 2014).

B. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang dapat ditegakan pada anak dengan penyakit pneumonia
menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (2017) antara lain:
1. Bersihan jalan napas tidak efektif.
- Definisi: ketidak mampuan membersihkan secret atau obstruksi jalan napas
untuk mempertahankan jalan napas agar tetap paten.
- Penyebab: hipersekresi jalan napas, sekresi yang tertahan atau proses
infeksi.
- Gejala dan tanda mayor: batuk tidak efektif, tidak mampu batuk, sputum
berlebih, mengi, wheezing dan atau ronki.
2. Gangguan pertukaran gas.
- Definisi: kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan atau eliminasi karbon
dioksida pada membran alveolus-kapiler.
- Penyebab: ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, perubahan membran
alveolus-kapiler.
- Gejala dan tanda mayor: sesak napas, PCO2 meningkat atau menurun, PO2
menurun, takikardi, pH arteri meningkat atau menurun, bunyi napas
tambahan.
3. Nyeri akut.
- Definisi: pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan
kerusakan jaringan aktual atau funsional dengan onset mendadak atau
lambat berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3
bulan.
- Penyebab: agen pencedera fisiologis (inflamasi).
- Gejala dan tanda mayor: mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap
protektif, sulit tidur, gelisah frekuensi nadi meningkat.
4. Termoregulasi tidak efektif.
- Definisi: -
- Penyebab: proses penyakit (infeksi).
- Gejala dan tanda mayor: kulit dingin atau hangat, menggigil, suhu tubuh
fluktuatif.
5. Risiko infeksi.
- Definisi: berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik.
- Faktor risiko: malnutrisi, ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer
(perubahan sekresi pH, penurunan kerja siliaris) atau ketidakadekuatan
pertahanan tubuh sekunder.
6. Risiko nutrisi tidak seimbang: kurang dari kebutuhan.
- Definisi: berisiko untuk mengalami asupan nutrisi tidak cukup untuk
mememnuhi kebutuhan metabolisme.
- Faktor risiko: ketidak mampuan menelan makanan, faktor psikologis (stress,
keengganan untuk makan).
7. Risiko kekurangan volume cairan tubuh.
- Definisi: berisiko mengalami penurunan, peningkatan atau percepatan
perpindahan cairan dari intravaskuler, interstitial atau interseluler.
- Faktor risiko: kehilangan cairan yang berlebih (demam, hiperventilasi,
muntah) atau asupan oral berkurang.
8. Kesiapan peningkatan pengetahuan.
- Definisi: perkembangan informasi kognitif yang berhubungan dengan topik
spesifik cukup untuk memenuhi tujuan kesehatan dan dapat ditingkatkan.
- Gejala dan tanda mayor: perilaku sesuai dengan pengetahuan.
Sumber Pustaka

Bowden, V.R., Greenberg, C.S. (2010). Children and Their Families: The Continuum of
Care 2nd Ed. Philadelphia: Wolters Kluwer Health.

Hockenberry, M., Wilson, D. (2013). Wong’s Essentials of Pediatric Nursing 9th Ed. Saint
Louis: Elsevier Mosby.

Marcdante, K.J., Kliegman, R.M., Jenson, H.B., Behrman, R.E. (2014). Nelson Ilmu
Kesehatan Anak Esensial Edisi 6. (Diterjemahkan oleh Ikatan Dokter Anak
Indonesia). Singapore: Saunders Elsevier.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta:
DPP PPNI.