Anda di halaman 1dari 11

Mengurai Makna Fundamentalisme

Oleh: Sayugo Harun

Menurut Kamus Besar Bahasa lndonesia, fundamentalisme adalah paham yang cenderung
untuk memperjuangkan sesuatu secara radikal.1 Radikal berarti "secara mendasar" sampai kepada
hal yang prinsip.2 Jadi, dalam HAM fundamentalisme dapat diartikan sebagai paham yang
memperjuangkan hak yang paling fundamental pada manusia yang menjadi prinsip mendasar
bukan hanya karena dilindungi secara internasional tetapi yang utama karena hak itu diletakan dan
dilekatkan oleh Sang Pencipta.3 Namun pada dasarnya kata fundamentalisme memiliki makna
yang luas. Fundamentalisme juga dapat dikatakan sebagai Keyakinan bahwa hanya ada satu
pandangan duniawi atau interpretasi yang benar, baik religius, politis, atau filosofis, dan bahwa
saya adalah satu-satunya yang benar. Semua lainnya salah dan patut dihina, atau lebih buruk lagi.4
Sementara itu, Kamus Saku Grand Larousse Encyclopedique memuatnya dalam edisi 1979
dengan hanya mengaitkannya dengan agama Katolik saja, yakni ”kondisi-kondisi pemikiran di
kalangan sebagian penganut Katolik yang menolak penyesuaian dengan kondisi kehidupan
modern”. Pada tahun 1984 terbit Kamus Grand Larousse Encyclopedique dalam 12 jilid yang
memberikan definisi lebih komprehensif, yaitu ”Inti gerakan keagamaan (fundamentalisme)
adalah sikap statis yang menentang segala bentuk perkembangan dan perubahan”. Kemudian,
Kamus Grand Larousse Encyclopedique terbitan tahun 1987, yang merupakan kamus untuk
perguruan tinggi, memberikan informasi tidak lebih dari; “(Fundamentalisme) adalah sikap
sementara penganut Katolik yang menentang semua bentuk pembaharuan saat mereka menyatakan
keterkaitan mereka dengan warisan lama.5 Menurut Kamus Webster, fundamentalisme adalah
'gerakan atau sikap yang menekankan kepatuhan ketat dan literal terhadap seperangkat prinsip
dasar atau dasar kepercayaan'6
Encyclopedia Britannica menggambarkan fundamentalis sebagai "kelompok penganut
komunitas konservatif teologis yang menekankan inspirasi total dan bahkan harfiah dari Kitab Suci
dan otoritas absolut mereka dalam hal iman dan perbuatan.7 Istilah ini akhirnya mulai digunakan
untuk semua gerakan keagamaan yang berusaha kembali ke "fundamental" dan pada setiap
gerakan yang mencari kekuatan politik untuk tujuan pemerintahan sesuai dengan nilai-nilai
agama.8 Saat ini konsep Fundamentalisme digunakan untuk menggambarkan suatu bentuk
keyakinan religius tertentu yang ditandai oleh ekstremisme dan kecenderungan kekerasan.9

1
http://kbbi.web.id/fundamentalisme
2
http://kbbi.web.id/radikal
3
Mesakh jasnin, Fundamentalisme Hak Asasi Manusia hal. 44
4
Victor Conde, A Handbook of International Human Rights Terminology, ( Lincoln : University of Nebraska, 2004)
Hal. 94
5
R. Garaudy, Islam Fundamentalis dan Fundamentalis lainnya. (Bandung: Penerbit Pustaka, 1993), hal. 3
6
Merriam Webster, 2007. Merriam Webster online dictionary. Website. Available at: http://www. merriam-
webster.com/.
7
Encyclopedia Britannica, 1973, VII, 777.
8
Jochen Hippler and Andrea Lueg, The Next Threat: Western Perceptions of Islam (Boulder, Colo.: Pluto Press with
Transnational Institute, 1995), hal. 84
9
Jakobus, M. Vorster, “Analytical perspectives on religious fundamentalism”, Journal for the
Study of Religions and Ideologies, 17(2007), 17
Dalam bukunya, Pembela Tuhan, Bruce Lawrence mendefinisikan "fundamentalisme"
sebagai: "Penegasan otoritas keagamaan bersifat holistik dan absolut, mengakui tidak adanya kritik
maupun pengurangan; Hal itu diungkapkan melalui tuntutan kolektif bahwa kaidah kredensial dan
etika spesifik yang diturunkan dari tulisan suci diakui secara publik dan diberlakukan secara
hukum."10 Sedangkan Thomas Schirrmacher berpendapat bahwa kata Fundamentaliseme
seharusnya hanya berbicara tentang keterlibatan kekerasan atau bahaya nyata untuk keamanan
internal suatu negara. Sejak serangan 11 September 2001, fundamentalisme dipahami oleh
sebagain masyarakat umum sebagai tindakan radikal yang rawan akan kekerasan, atau bahkan
suatu tindakan terorisme. Apa yang dimaksud dengan istilah umum dengan kata 'fundamentalisme'
adalah klaim kebenaran militan, dan justru itulah yang saya anggap sebagai definisi terpendek dari
fundamentalisme.11
Fundamentalisme adalah kategori yang kontroversial, namun makna yang obyektif dapat
diberikan sesuai dengan yang berikut: iman yang diperangi; Tradisi yang terkepung; Penarikan
dari arus utama; Penciptaan budaya counter; Transformasi mitologi ke dalam ideologi; Budidaya
teologi kemarahan, dendam dan balas dendam; Penolakan dialog yang diperlukan untuk
perdamaian dan kontinuitas; Membela tradisi yang terkepung dengan menggunakan kebenaran
ritual di dunia global yang meminta alasan.12
Karl Popper dan muridnya Hans Albers menjelaskannya bahwa istilah fundamentalisme
adalah lawan kata dari fallibilisme rasionalisme kritis. Fallibilisme mengatakan bahwa tidak ada
pernyataan yang benar. Sebaliknya, hanya ada pernyataan yang pada prinsipnya dapat dipalsukan
(dapat ditunjukkan sebagai salah). Setiap posisi filosofis yang mengasumsikan bahwa ada
pernyataan benar adalah 'fundamentalis' itu sendiri. Artinya fundamentalisme adalah, setiap
asumsi mendasar yang dimulai dari posisi pengetahuan tertentu. Dengan demikian, secara filosofis
dan sangat mendasar, Fundamentaslisme terdapat dalam semua aliran pemikiran apapun, termasuk
yang bersifat non-religius atau bahkan ateistik.
Ahli etis sosial Stephan H. Pfürtner, dalam bukunya Fundamentalismus (Fundamentalism),
membahas Fundis di partai hijau (Die Grünen), sekte People's Temple, Jonesist tradisionalis, yang
menentang kebebasan beragama, sayap kanan dan kiri. Dengan fundamentalisme, dan bahkan
penggemar sepak bola dan hooligan yang rawan kekerasan, antara lain. Dia menawarkan sebuah
definisi: "Fundamentalisme adalah penerbangan menuju radikalisme, dan seringkali
dikombinasikan dengan kekerasan, sementara menolak untuk menerima persepsi realitas,
rasionalitas, dan kebebasan kebebasan individu dan masyarakat yang memadai." Hans-Gerd
Jaschke menghitung terorisme kiri dan kanan, IRA, ETA (Euskadi Ta Askatasuna, atau Homeland
and Freedom), dan RAF (Fraksi Tentara Merah), antara lain, sebagai fundamentalisme kekerasan
di Eropa.
Bagi banyak orang, "fundamentalisme memunculkan gambar massa yang meneriakkan
'kematian ke Amerika', kedutaan besar dalam api, pembunuh dan pembajak mengancam kehidupan

10
Bruce Lawrence, Defenders of God: The Fundamentalist Revolt Against the Modern Age (New York: Harper and
Row, 1989), hal. 78
11
Thomas Schirrmacher, Fundamentalism: When Religion becomes Dangerous (Jerman : Verlag für Kultur und
Wissenschaf , 2013) hal. 13
12
Abul Barkat, Political Political Economy of Fundamentalism of Fundamentalism in Bangladesh, (Bangladesh:
University of Dhaka, 2013) hal. 3
yang tidak bersalah, tangan dipotong, dan wanita tertindas.13 Sementara itu, menurut M. Said al-
Asymawi, fundamentalisme itu sebenarnya tidak selalu berkonotasi negatif, sejauh gerakan itu
bersifat rasional dan spiritual. Artinya, memahami ajaran agama berdasarkan semangat dan
konteksnya sebagaimana ditunjukkan oleh fundamentalisme spiritualis rasionalis (rationalist
spiritualist fundamentalism) yang dibedakan dengan fundamentalisme aktivis politis (activist
political fundamentalism) karena memperjuangkan Islam sebagai entitas politik dan tidak
menekankan pembaharuan pemikiran keagamaan yang autentik.14
Adapun menurut Mahmud Amin al-Alim, istilah fundamentalisme secara etimologi berasal
dari kata “fundamen”, yang berarti dasar. Secara terminologi, berarti aliran pemikiran keagamaan
yang cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara rigid (kaku) dan literalis (tekstual).
Menurutnya, pemikiran fundamentalisme telah kehilangan relevansinya karena zaman selalu
berubah dan problematika semakin kompleks. Perlu dilakukannya penafsiran ulang terhadap teks-
teks keagamaan dengan mengedepankan ijtihad, membongkar teks-teks yang kaku, dan
mengutamakan maslahah serta maqashid al-Syari’ah.15
Sejarah Diskurs
Kata "fundamentalisme" dalam bahasa Inggris pertama kali diciptakan pada tahun 1920
oleh C. L. Laws in the Baptist Watchman-Examiner untuk menggambarkan sebuah gerakan yang
dibentuk untuk menentang teologi liberal di Amerika Serikat. Gerakan tersebut telah dikenal
melalui serangkaian buku dengan judul The Fundamentals. Fundamentalisme religious sendiri
telah muncul pada pergantian abad sebagai kecenderungan yang menonjol, sebuah kebiasaan
pikiran ditemukan di dalam komunitas religius dan secara paradigmatik terdapat dalam individu
dan gerakan perwakilan tertentu.16
Antara tahun 1910 dan 1915 A. C. Dixon dan R. A. Torrey menerbitkan serangkaian buklet
dengan judul The Fundamentals: A Testimony of Truth. buku ini di Distribusikan massal secara
gratis sejumlah 3 juta eksemplar dan dibiayai oleh dua bersaudara yang merupakan jutawan
minyak Texas. Dalam tulisan-tulisan ini para teolog terkenal di dunia dan juga para pengkhotbah
kebangkitan dari seluruh dunia dan dari berbagai gereja memprotes teologi liberal. Mereka melihat
ketidakmampuan dan otoritas Alkitab, keilahian Yesus Kristus, kelahiran perawannya,
kematiannya untuk dosa manusia, dan kebangkitan tubuh dan kepulangan pribadi sebagai inti iman
Kristen. Tentu saja, ini semua adalah ajaran yang juga penting bagi Gereja Katolik dan Gereja
Orthodok pada saat itu. Tuntutan politik sama sekali tidak ada.
Dalam Fundamentalisme klasik dan Budaya Amerika, George Marsden menetapkan awal
zaman fundamentalisme pada tahun 1875-1925. Oleh karena itu istilah 'fundamental' sedikit
terlambat dibandingkan gerakannya. Gerakan fundamentalisme awal ini menentang keputusan
pada tahun 1925 tentang percobaan terhadap monyet, serta melawan pemahaman teori evolusi di
sekolah – sekolah. Tindakan tersebut diprakarsai oleh Asosiasi Fundamental Kristen Dunia yang
didirikan pada tahun 1919 di Philadelphia yang dianggap sebagai gangguan oleh negara. Asosiasi
tersebut kemudian digantikan oleh Dewan Internasional Gereja-gereja Kristen, yang didirikan
13
. John L. Esposito, The Islamic Threat: Myth or Reality? (New York: Oxford Univ. Press, 1992), hal. 47.
14
M. Said al-Asymawi, Menentang Islam Politik (Bandung: Alifya, 2004), hal. 120.
15
Abdurrahman Kasdi, “Fundamentalisme Islam Timur Tengah: Akar Teologi, Kritik Wacana dan Politisasi Agama”
dalam Jurnal Tashwirul Afkar (Jakarta: LAKPESDAM dan The Asia Foundation, 2004), Edisi No. 13, hal. 20.
16
Martin E. Marty dan R. Scott Appleby, et. al, Fundamentalisms Observed (Chicago: Univ. of Chicago Press, 1991),
hal. 3.
pada tahun 1948. Dewan ini dipandang sebagai penerus yang terlambat karena didirikan pasca
Perang Dunia ke 2, mayoritas dari dewan ini berisikan orang-orang Amerika Serikat.
Dari tahun 1930-1970, pemahaman fundamentalisme semacam ini justru menarik diri dari
masyarakat karena pemahamannya hanya berfokus pada tindakan-tindakan ritual. Hal tersebut
membuat hadirnya oposisi yang menginginkan gereja turut berpartisipasi dalam aktivitas politik.
Hingga akhirnya secara bertahap, perbedaan pandangan tersebut semakin mengerucut anatara
fundamentalis yang menyebut diri mereka telah memisahkan diri dari semua gerejadengan
sebagian besar penganut (neo-) Evangelis, yang mendukung kerjasama antara gereja-gereja dan
menganjurkan partisipasi dalam Proses demokrasi, serta isu-isu yang berkaitan dengan kebebasan
beragama dan hak asasi manusia.
Pada tahun 1920 istilah ini awalnya digunakan hanya sebagai cara untuk mengidentifikasi
diri dan kemudian sebagai penunjukan semua orang Protestan di Amerika Serikat yang menentang
teologi liberal dan memegang dasar-dasar iman Kristen dan ilham ilahi dari Alkitab. Namun,
pergerakan dan penggunaan istilah fundamentalisme surut di tahun-tahun menjelang Perang Dunia
II. Perlu dicatat bahwa pada titik ini fundamentalisme digunakan dalam kekristenan sebagai istilah
penetapan diri, harus dilakukan dengan sebuah gerakan di Amerika Serikat dengan cabang kecil
di beberapa negara barat. Istilah ini digunakan oleh kalangan anti fundamentalisme sebagai istilah
teologis untuk merendahkan pihak lainnya. Selama beberapa dekade barulah pertentangan antara
kalangan fundamentalisme serta kelompok-kelompok yang ditunjuknya mereda. Selanjutnya
adalah masa dimana terjadi perdebatan filosofis dan epistemologis yang terjadi pada tahun 1960an.
Sejak Revolusi Iran terjadi di bawah Ayatollah Khomeini pada tahun 1979,
fundamentalisme telah menjadi istilah politik untuk semua gerakan Islam yang rawan akan
kekerasan, dan teroristik. Asumsi ini diarahkan pada dasar teori politik Barat, seperti Demokrasi,
hak asasi manusia, dan karena adanya pemisahan agama dan negara. Betapa istilah
fundamentalisme menjadi kata kunci guna menjustifikasi kengerian terorisme di dunia Islam
sampai saat ini. Dalam konteks ini, fundamentalisme juga merupakan istilah politik yang mengacu
pada penerapan politik Islam.
Karena Islam juga berpendapat bahwa Alquran adalah firman Tuhan, beberapa merasakan
kesamaan antara Islam dan kalangan fundamentalisme Kristen di Amerika Serikat. Pernyataan ini
sebenarnya tidak tepat, karena dalam Islam semua Muslim menganggap Alquran sebagai kalam
ilahi yang benar, sedangkan hanya sayap tertentu seperti halnya kaum fundamentalis Kristenlah
yang menganggap bibble tidak memiliki kesalahan. Gagasan fundamentalisme memiliki makna
yang sama sekali berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya
makna dan kekuatan emosionalnya yang luar biasa. Baru pada akhir tahun 1980an, para ilmuwan
pertama mencoba mengkristalkan persamaan struktural aktual dalam gerakan ini, di mana pikiran
setiap orang memiliki katalognya tersendiri. Namun, baru pada tanggal 11 September 2001 istilah
tersebut menjadi kata favorit di media dan ditemukan dalam berbagai judul buku nonfiksi.
Simulasi Penerapan Istilah
Fundamentalisme memiliki banyak karakteristik yang mirip, fakta ini menunjukkan
kemungkinan bahwa gerakan fundamentalis muncul di bawah dampak proses transformasi sosial
yang agak mirip.17 Kalangan Fundamentalis memiliki berbagai cara dan bentuk dalam menerapkan

17
Martin Riesebrot, “Fundamentalism and the resurgence of religion”, Numen 47 (2000): 270
tindakan mereka di dunia nyata. Namun Beberapa bentuk penerapan dan karakter dari kalangan
fundamentalis ini juga dapat berbeda antara satu gerakan dengan gerakn lainnya. Namun secara
gair besar mereka semua memiliki kesamaan pola karena adanya kemiripan atas reaksi dari
transformasi social yang ada.
Secara umum, fundamentalisme religius bertumpu pada klaim "bahwa beberapa sumber
gagasan, biasanya teks bersifat benar dan lengkap".18 Antoun mendefinisikan kecenderungan
mengenai keabsolutan teks tersebut sebagai scripturalisme dalam fundamentalisme.19 Selain
scripturalisme, Martin Riesebrodt menjelaskan terdapat karakter lain yang di terapkan oleh para
fundamentalis yaitu memiliki cara pandang tradisionalis. Paham Tradisionalis tersebut
ditransformasikan menjadi sebuah ideologi mendasar yang berarti sistem penjelasan dan agitasi
yang komprehensif. Dalam proses ini, tradisi diperluas maknanya menjadi kritik terhadap berbagai
teori sosial dan sejarah yang dianggap mapan dalam dunia modern.20
Selain itu kalangan fundamentalis sering melakukan Casuistry yang bisa diartikan sebagai
keritik rasional terhadap berbagai etika standar moral yang ada saat ini. Istilah casuistry ini
menunjukkan adanya proses metodis untuk mengarahkan kasus individu atau masyarak yang
berada di bawah norma-norma yang mapan dari sebuah disiplin atau pandangan dunia atau etika.21
Etika kalangan fundamentalis merupakan etika hukum, yang cenderung agak kaku karena adanya
absolutism terhadap teks.22
Gerakan fundamentalis juga biasanya bersifat reaksioner, hal tersebut di karenakan
kalangan fundamentalis mendefinisikan diri mereka dengan cara memposikan adanya lawan dari
pemahaman mereka. Mereka selalu memiliki musuh di dunia nyata yang kemudian mereka
definisikan hingga kelompok mereka dapat dengan mudah mengenali lawan tersebut.23 Hal ini
memperkuat pendapat Marty mengenai perbedaan antara fundamentalisme agama dan pandangan
konservatif atau ortodoks dalam agama. Perbedaan pandangan tersebut terletak pada fakta bahwa
fundamentalisme religius sangatlah bersifat reaktif dan reaksioner.24 Dalam artikel lain, Marty
menggambarkan karakteristik fundamentalisme religius ini sebagai "oposisiisme".25
Selain itu, Kalangan fundamentalis juga biasanya hadir dalam keadaan berkelompok dan
bersarikat, mereka hadir dengan istilah "kelompok dalam" dan mendefinisikan musuh tadi sebagai
"kelompok luar". Menurut Marger, kecenderungan ini menghasilkan pandangan kelompok
tersendiri ("kelompok di dalam kelompok") dan menganggap diri mereka lebih unggul dari
"kelompok luar".26 Maka tak ayal dalam dunia nyata hadir berbagai kelompok fundamentalis yang

18
Steve Bruce, Fundamentalism. (Cambridge: Polity Press 2000), 13.
19
Richard T. Antoun, Understanding Fundamentalism. Christian, Islamic, and Jewish Movements. (Oxford: Altamira
Press, 2001), 37.
20
Riesebrodt, Martin. “Fundamentalism and the Resurgence of Religion,” Numen. 47(2000) hal. 276
21
Werner Schwartz, 1999. “Casuistry” in The Encyclopedia of Christianity. ed. Erwin Fahlbusch, et al. (Leiden: Brill.
Volume 1, 1999), 358.
22
Riesebrodt, Martin. “Fundamentalism and the Resurgence of Religion,” Numen. 47(2000) hal. 272
23
Richard T. Antoun, Understanding Fundamentalism. Christian, Islamic, and Jewish Movements. (Oxford:
Altamira Press, 2001), 56.
24
Martin E. Marty. 2003. “Fundamentalism” in Encyclopedia of Science and Religion ed. Wentzel J.W.V. van
Huysteen (New York: Thompson, 2003), 364.
25
Martin E. Marty, “What is Fundamentalism? Theological Perspectives.” Concilium. 3
(1992):3.
26
M.N. Marger, Race and Ethnic relations. American and Global Perspectives (Belmont:
Wordsworth, 1994), 15
bahkan seringkali berbeda pandangan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Dengan
demikian Barr benar ketika mengatakan bahwa fundamentalisme agama menekankan adanya guru,
dan pemimpin sebagai acuan guna menunjukkan garis perbedaan dengan kelompok fundamentalis
lainnya.27 Dalam fundamentalisme Kristen kepemimpinan ini bisa ditunjukkan dengan adanya
perbedaan garis kepemimpinan antara satu gereja dengan gereja yang lain.28 Biasanya kalangan
fundamentalis juga hadir dengan Pemimpin yang memeiliki karakter karismatik dan kuat. Hal
tersebut juga dapat dilihat dalam pembentukan kelompok fundamentalisme Yahudi yang memiliki
berbagai pemimpin dan guru-guru atau pemuka agama yang berbeda antara satu dengan yang
lainnya.29
Selain itu karakter dari kalangan fundamentalis juga sering kali melakukan protes dalam
bentuk tindakan kekerasan atau pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah. Tindakan
kekerasan tersebut bertujuan untuk mempromosikan "kesucian" dalam ketaatan kepada Tuhan.
Fundamentalisme Yahudi juga mengungkapkan kecenderungan untuk melakukan tindakan
kekerasan yang dibuktikan dengan melakukan okupasi dangan cara membabi buta di wilayah
palestina.30 Milton-Edwards pernah menggambarkan bahwa terdapat berbgaia pembenaran
terhadap ideologis kekerasan di negara-negara seperti Afghanistan, Iran, Irak, Sudan dan Lebanon
yang menyebabkan lahirnya terorisme global.31
Scott R. Appleby, Emmanuel Sivan, dan Gabriel Almond mencantumkan seidaknya lima
karakteristik ideologis yang terkait dengan pemahaman fundamentalisme:
 Kaum fundamentalis pertama-tama memperhatikan kemunduran terhadap ajaran-ajaran
agama, kemudian mereka menentukkan peran yang tepat dalam masyarakat;
 Kaum fundamentalis sangatlah selektif terhadap tradisi mereka, kalangan ini memilah serta
memilih modernitas yang dapat mereka terima dan mereka lakukan;
 Mereka merangkul beberapa bentuk Manicheanisme (dualisme);
 Kaum fundamentalis menekankan absolutisme dan ineransi dalam sumber wahyu mereka;
dan
 Mereka juga memilih beberapa bentuk Millennialism atau Messianism.32
Dalam perbendaharaan kata, beberapa gerakan keagamaan dengan implikasi politik
digambarkan sebagai juga gerakan fundamentalis. Perlu ditekankan bahwa ada garis yang sangat
tipis antara fundamentalisme dan ortodoksi religius. Keduanya menghalangi perubahan dan
berkontribusi pada stagnasi sosial. Kaum fundamentalis melangkah lebih jauh dengan menjadi

27
James Barr, “Fundamentalism” (London: SCM Press, 1981), hal. xix
28
Edward Farley, 2005. “Fundamentalism. A Theory” Crosscurrents (2005):392
29
Heilman, Samuel C. & Friedman, Menachem. “Religious Fundamentalism and Religious Jews: The Case of the
Haredim” in Fundamentalisms Observed, A Study Conducted by The American Academy of Arts and Sciences ed.
Martin E. Marty, and R. Scott Appleby. (Chicago: The University of Chicago Press 1999), 197 and Aran, 265.
30
Gideon Aran, “Jewish Zionist Fundamentalism: The Bloc of the Faithful in Israel (Gush Enumin),” in
Fundamentalisms Observed, A Study Conducted by The American Academy of Arts and Sciences. ed Martin E. Marty
& R. Scott Appleby (Chicago: The University of Chicago Press 1991), hal. 265
31
Beverley Milton-Edwards. Islamic Fundamentalism Since 1945. (London: Routledge, 2005), hal. 74
32
Martin E. Marty and R. Scott Appleby, eds., Fundamentalisms Comprehended (Chicago: Univ. of Chicago Press,
1995). Hal. 235
radikal dan dalam beberapa kasus menyebarkan terorisme dan kekerasan sebagai bagian dari
semangat mereka untuk menyebarkan agama mereka.33
Dalam sejarah keagamaan kontemporer di Asia Selatan, dengan beragam perpecahan
agama dan etnis, gerakan fundamentalis yang telah mempengaruhi kejadian di benua tersebut
terutama adalah fundamentalis Jamaati-Islami, Nasionalisme Hindu, dan Fundamentalisme Sikh.
Meskipun Gerakan Fundamentalis Sikh menyebabkan kejadian tragis di tahun 1980an dan 1990an,
dampaknya sebagian besar terkandung, karena kontur pengaruhnya terbatas pada keadaan Punjab
saja.34
Contoh Kasus
 Negara yang diumumkan pada bulan Oktober 2006 oleh Muharib al-Juburi dikenal dengan
dua nama. Secara lebih resmi, itu adalah "Negara Islam Irak" (Dawlat al-'Iraq al-
Islamiyya), namun juga diikuti oleh "Negara Islam di Irak" (al-Dawla al-Islamiyyah fi 'l-
'Iraq), Atau hanya "Negara Islam" (al-Dawla al-Islamiyyah) secara singkat.7435 Perbedaan
tersebut menggarisbawahi dua cara di mana pemerintahan baru ditagih kepada masyarakat
Irak dan dunia Islam yang lebih besar. Pada tanggal 9 April 2013, Abu Bakr al-Baghdadi
merilis sebuah pernyataan audio yang mengumumkan perluasan Islamic State ke Sham,
kata Arab untuk Suriah yang lebih besar.36
 Perang Salib adalah serangkaian perang agama oleh orang-orang Kristen melawan kaum
Muslim yang disebut secara kolektif sebagai orang Saracen dengan tujuan untuk merebut
kembali Tanah Suci. Ini juga digunakan untuk menggambarkan kampanye bermotif agama
yang dilakukan antara tahun 1100 dan 1600 di wilayah-wilayah di luar daerah Levant
biasanya melawan kaum bidah, orang-orang kafir, dan orang-orang yang dikucilkan oleh
gereja karena alasan agama, ekonomi, dan politik.37
 Di Sri Lanka, sebuah gerakan 'fundamentalis Buddhis' yang chauvinistik muncul di negara
tersebut di bawah Gerakan Revivalis Buddha di tahun 1900an.38 Di Sri Lanka, isu apakah
Buddhisme adalah agama fundamentalis atau belum diperdebatkan dengan hangat.
Dikatakan bahwa umat Buddha yang menggunakan kekerasan, karena berbagai alasan,
tidak dapat diberi label oleh kaum fundamentalis karena perbedaan krusial antara ajaran
Buddhis dan ajaran monoteistik. Karena seorang siswa awam juga mengikuti lima sila,
orang tersebut menahan diri dari kegiatan yang merugikan orang lain. Oleh karena itu
kelompok ini percaya bahwa umat Budha tidak dapat diberi label fundamentalis39
 Zionisme Kristen telah menelusuri gerakan tersebut sejauh kontroversi Montanist pada
abad ke-2, menuju Reformasi Protestan, gerakan gerakan Demokratik mistis Yahudi dan,

33
Abdel Salam Sidahmed and Anoushiravan Ehteshmi, Islamic Fundamentalism (Boulder, Colo.: Westview Press,
1996).
34
Martin E. Marty and R. Scott Appleby, eds., Fundamentalisms Comprehended (Chicago: Univ. of Chicago Press,
1995). Hal. 256
35
Muh. ārib al-Jubūrī, “al-Tashkīliyya al-wizāriyya al-ūlā li-Dawlat al-‘Irāq al-Islāmiyya,” Mu’assasat al-Furqān,
19 April 2007. Transcript in Majmū‘, 230–231.
36
Abū Bakr al-Baghdādī, “Wa-bashshir al-mu’minīn,” Mu’assasat al-Furqān, 9 April2013. Transcript:
http://ia600606.us.archive. org/15/items/w_bsher_1/tcJN8J.pdf
37
Cook, M. L. Crusades in The New Catholic Encyclopedia,. (New York: McGraw-Hill Book Company, 1966),
Vol.IV, 508.
38
William Howard Wriggins, Ceylon: Dilemmas of a New Nation, (New Jersey: Princeton University Press, 1960)
Hal. 169
39
Buddhist Association of Tibet 2006: 14
khususnya, tulisan-tulisan Revivalist, Millennialist dan Apocalyptic yang populer antara
abad ke-17 dan ke-19. Di Eropa dan Amerika. Armstrong melacak bukti Zionisme Kristen
Barat tentang warisan Perang Salib.40 Kaum fundamentalis memiliki, dia mengklaim,
'kembali ke perang salib agama klasik dan ekstrem Israel dan wilayah yang didudukinya
di 'Six Day War' 1967 merupakan sebuah negara yang sangat, dan keras, terbagi-bagi41
Instrumen HAM Internasional
 Universal Declaration of Human Rights (UDHR) 1948
 European Convention on Human Rights (ECHR) 1950
 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) 1966
 American Convention on Human Rights (ACHR) 1969

Hukum Nasional
 Pasal 29 ayat 2 Undang-Undang Dasar Tahun 1945
 Pasal 28 E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945

40
Karen Armstrong, Holy War, The Crusades and Their Impact on Today's World (London, Macmillan, 1988) hal.
377
41
Glen Bowman, 'The politics of tour guiding, Israeli and Palestinian guides in Israel and the Occupied
Territories'. In Tourism & the Less Developed Countries. (London: Belhaven, 1992), hal. 121.
BiBLIOGRAPHY
Buku
Victor Conde, A Handbook of International Human Rights Terminology, ( Lincoln :
University of Nebraska, 2004)
R. Garaudy, Islam Fundamentalis dan Fundamentalis lainnya. (Bandung: Penerbit Pustaka,
1993),
Encyclopedia Britannica, 1973, VII
Jochen Hippler and Andrea Lueg, The Next Threat: Western Perceptions of Islam (Boulder,
Colo.: Pluto Press with Transnational Institute, 1995)
Jakobus, M. Vorster, “Analytical perspectives on religious fundamentalism”, Journal for the
Study of Religions and Ideologies, (2007)
Bruce Lawrence, Defenders of God: The Fundamentalist Revolt Against the Modern Age
(New York: Harper and Row, 1989)
Thomas Schirrmacher, Fundamentalism: When Religion becomes Dangerous (Jerman :
Verlag für Kultur und Wissenschaf , 2013)
Abul Barkat, Political Political Economy of Fundamentalism of Fundamentalism in
Bangladesh, (Bangladesh: University of Dhaka, 2013)
John L. Esposito, The Islamic Threat: Myth or Reality? (New York: Oxford Univ. Press,
1992)
M. Said al-Asymawi, Menentang Islam Politik (Bandung: Alifya, 2004)
Martin E. Marty dan R. Scott Appleby, et. al, Fundamentalisms Observed (Chicago: Univ.
of Chicago Press, 1991)
Martin Riesebrot, “Fundamentalism and the resurgence of religion”, Numen 47 (2000)
Steve Bruce, Fundamentalism. (Cambridge: Polity Press 2000)
Richard T. Antoun, Understanding Fundamentalism. Christian, Islamic, and Jewish
Movements. (Oxford: Altamira Press, 2001)
Riesebrodt, Martin. “Fundamentalism and the Resurgence of Religion,” Numen. 47(2000)
Richard T. Antoun, Understanding Fundamentalism. Christian, Islamic, and Jewish
Movements. (Oxford: Altamira Press, 2001), 56.
Martin E. Marty. 2003. “Fundamentalism” in Encyclopedia of Science and Religion ed.
Wentzel J.W.V. van Huysteen (New York: Thompson, 2003)
Martin E. Marty and R. Scott Appleby, eds., Fundamentalisms Comprehended (Chicago:
Univ. of Chicago Press, 1995).
Martin E. Marty, “What is Fundamentalism? Theological Perspectives.” Concilium. 3
(1992):
M.N. Marger, Race and Ethnic relations. American and Global Perspectives (Belmont:
Wordsworth, 1994)
James Barr, “Fundamentalism” (London: SCM Press, 1981)
Edward Farley, 2005. “Fundamentalism. A Theory” Crosscurrents (2005)
Beverley Milton-Edwards. Islamic Fundamentalism Since 1945. (London: Routledge, 2005
Heilman, Samuel C. & Friedman, Menachem. “Religious Fundamentalism and Religious
Jews: The Case of the Haredim” in Fundamentalisms Observed, A Study Conducted by The
American Academy of Arts and Sciences ed. Martin E. Marty, and R. Scott Appleby. (Chicago:
The University of Chicago Press 1999)
Abdel Salam Sidahmed and Anoushiravan Ehteshmi, Islamic Fundamentalism (Boulder,
Colo : Westview Press, 1996)
William Howard Wriggins, Ceylon: Dilemmas of a New Nation, (New Jersey: Princeton
University Press, 1960)
Karen Armstrong, Holy War, The Crusades and Their Impact on Today's World (London,
Macmillan, 1988)
Glen Bowman, 'The politics of tour guiding, Israeli and Palestinian guides in Israel and the
Occupied Territories'. In Tourism & the Less Developed Countries. (London: Belhaven, 1992)
Jurnal/Artikel
Mesakh jasnin, Fundamentalisme Hak Asasi Manusia, dalam Jurnal Jaffray (Makassar:
Lembaga Penelitian dan Penerbitan STT Jaffray, 2007) Volume 5, No. 1
Abdurrahman Kasdi, “Fundamentalisme Islam Timur Tengah: Akar Teologi, Kritik Wacana
dan Politisasi Agama” dalam Jurnal Tashwirul Afkar (Jakarta: LAKPESDAM dan The Asia
Foundation, 2004), Edisi No. 13
Werner Schwartz, 1999. “Casuistry” in The Encyclopedia of Christianity. ed. Erwin
Fahlbusch, et al. (Leiden: Brill. Volume 1, 1999)
Muh. ārib al-Jubūrī, “al-Tashkīliyya al-wizāriyya al-ūlā li-Dawlat al-‘Irāq al-Islāmiyya,”
Mu’assasat al-Furqān, 19 April 2007. Transcript in Majmū‘
Cook, M. L. Crusades in The New Catholic Encyclopedia,. (New York: McGraw-Hill Book
Company, 1966), Vol.IV
Buddhist Association of Tibet 2006
Website
http://kbbi.web.id/fundamentalisme
http://kbbi.web.id/radikal
Merriam Webster, 2007. Merriam Webster online dictionary. Website. Available at:
http://www.merriam-webster.com/
Abū Bakr al-Baghdādī, “Wa-bashshir al-mu’minīn,” Mu’assasat al-Furqān, 9 April2013.
Transcript: http://ia600406.us.archive.org/15/items/w_bsher_1/tcJN8J.pdf