Anda di halaman 1dari 10

Humanitas Vol. 13 No. 2 .

112-121 ISSN 1693-7236

KEMATANGAN KARIER SISWA SMK


DITINJAU DARI JENIS KELAMIN DAN JURUSAN

Ika Zenita Ratnaningsih, Erin Ratna Kustanti, Anggun Resdasari Prasetyo,


Nailul Fauziah
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Jl. Prof Soedharto SH Tembalang Semarang
ikazenita@undip.ac.id

Abstract
Background of the high rate of unemployment from SMK graduates supposed by lack of
job readiness due to lack of career maturity. This study aims to determine differences in
career maturity among Vocational High School (SMK) Students by gender and study major.
Career maturity is the individual’s success in completing tasks typical career development at
each stage of development which is shown by the behavior of individual career conformity
with the career expected behavior. Subjects numbered 339 class XI student of SMK, from
six vocational schools in Semarang consisting of three state SMK and three private SMK.
Subjects consist of 101 male and 238 female with around 15-19 years old. Sampling
technique used is purposive sampling. Intrument that used in this study is the Career
Maturity Scale and demographic questionnaire. Results of this study by two way ANAVA
showed no differences in career maturity in terms of gender and no differences career
maturity based on major. Discussions and recommendations are discussed further.

Keywords : career maturity, gender, vocational high school

Abstrak
Tingginya angka pengangguran pada lulusan SMK salah satunya dilatarbelakangi oleh
belum adanya kesiapan kerja yang disebabkan karena kurangnya kematangan karier.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kematangan karier ditinjau dari jenis
kelamin, jurusan dan status sekolah pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota
Semarang. Kematangan karier adalah keberhasilan individu dalam menyelesaikan tugas
perkembangan karir yang khas di setiap tahap perkembangan yang ditunjukkan dengan
kesesuaian perilaku karir individu dengan perilaku karir yang diharapkan. Subjek penelitian
berjumlah 339 siswa kelas XI SMK dari enam SMK di Kota Semarang yang terdiri dari tiga
SMK Negeri dan tiga SMK Swasta yang terdiri dari 101 laki-laki dan 238 perempuan dengan
usia subjek berkisar antara 15-19 tahun. Terdapat sepuluh jurusan peminatan yang terlibat
dalam penelitian ini Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Alat
ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Kematangan Karier dan kuesioner
data demografi. Hasil pengujian hipotesis menggunakan ANAVA dua jalur menujukkan
tidak ada perbedaan kematangan karier ditinjau dari jenis kelamin dan tidak ada perbedaan
kematangan karier ditinjau dari jurusan. Diskusi dan rekomendasi di bahas selanjutnya.

Kata Kunci : jenis kelamin, kematangan karier, smk


Kematangan Karier Siswa SMK Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Jurusan 113

Pendahuluan pilihan karier, mulai mengeksplorasi


kemampuan diri dan pengetahuan tentang
Sebagai sekolah yang dirancang untuk
pilihan karier, dan sudah menentukan pilihan
menyiapkan lulusan siap kerja, Sekolah
meskipun belum pasti dan mulai membuat
Menengah Kejuruan (SMK) mengemban
perencanaan karier. Dalam peneltian
amanat terkait dengan pendidikan dan
terhadap 380 siswa SMK di Bandung,
pengembangan kemampuan siswa untuk
didapatkan bahwa sebagian besar siswa
melaksanakan jenis pekerjaan tertentu (PP
berada pada kategori belum matang Sudjani
No.29 th 1990). Meskipun demikian, SMK
(2014). Penelitian Tjalla, Heru & Kustandi
juga menyumbang jumlah pengangguran
(2015) juga menemukan bahwa siswa SMK
yang besar di Indonesia (Jefriando, 2016).
belum memiliki kematangan karir ditandai
Angka pengangguran yang terjadi pada
dengan tidak dimilikinya perencanaan karier
lulusan SMK disebabkan oleh beberapa
dan informasi yang minimal, kurangnya
faktor, yaitu sempitnya lapangan pekerjaan,
informasi komprehensif seperti kelompok
kesiapan kerja dari siswa lulusan SMK, dan
pekerjaan dan bagaimana untuk membuat
minimnya kompetensi keahlian yang dimiliki.
keputusan karier.
Masalah belum adanya kesiapan kerja lebih
Karier merupakan masalah yang
disebabkan karena kurangnya kematangan
penting dalam kehidupan manusia yang
karier, yaitu suatu kondisi dimana para siswa
mencakup perkembangan dari proses
SMK mampu menyelesaikan tugas-tugas
pengambilan keputusan yang berlangsung
perkembangan karier sesuai dengan tahapan
seumur hidup (Crites, dalam Suherman,
yang dilaluinya. Hal itu senada dengan
2008). Mempersiapkan karier merupakan
hasil penelitian yang dilakukan Prahesty
salah satu tugas perkembangan yang
& Mulyana (2013) di kota Surabaya yang
harus dicapai manusia pada usia remaja
mendapati adanya perbedaan kematangan
(Havighurst, dalam Hurlock, 2003).
karier antara siswa SMA, MA, dan SMK,
Kegiatan persiapan karier terdiri dari
kematangan karier siswa SMK merupakan
beberapa tahap perkembangan karier
yang paling rendah dibandingkan siswa
yang menentukan pilihan karier remaja
SMA dan MA, dikarenakan sulitnya jurusan
selanjutnya. Menurut Super (dalam Winkel,
yang ditekuni. Di kota Semarang, sampai
2012) terdapat lima fase perkembangan
saat ini penyediaan lapangan kerja masih
karier manusia, yaitu fase pengembangan
belum seimbang karena angkatan kerja baru
(growth), fase eksplorasi (exploration),
baik lulusan SMK dan lulusan perguruan
fase pemantapan (establishment), fase
tinggi jumlahnya meningkat setiap tahun
pembinaan (maintenance), dan fase
(Karningsih, 2013).
kemunduran (decline). Fase pengembangan
Siswa SMK pada umumnya berada
dimulai dari masa anak-anak sampai usia
pada usia 15-18 tahun, menurut tahap
15 tahun, pada tahapan ini ditandai dengan
perkembangan karir pada usia tersebut mulai
pembentukan konsep diri, yang muncul
memasuki fase pertumbuhan dan eksplorasi
karena adanya proses pengembangan
(Bardick, Kerry, Magnusson, & Kim, 2006).
potensi, sikap minat dan kebutuhan-
Berdasarkan tugas perkembangan karier,
kebutuhan. Fase eksplorasi dimulai antara
pada fase ini para siswa dikatakan telah
umur 16 – 24 tahun, pada tahapan ini
mencapai kematangan karier bila mampu
individu mampu mengumpulkan informasi
untuk mulai menunjukkan minat terhadap
karier yang relevan dan mengembangkan
114

keterampilan terkait. Fase pemantapan sekolah, rekan sebaya, tuntutan yang


dimulai antara umur 25- 44 tahun, ditandai melekat pada jabatan atau program studi.
dengan pemantapan diri pada sebuah karier. Di sisi lain, Patton & Lokan (2001)
Fase pembinaan dimulai antara umur 45- menyebutkan faktor yang mempengaruhi
65 tahun, pada fase ini proses penyesuaian kematangan karier remaja diantaranya
terus berlanjut untuk meningkatkan jenjang adalah usia, jenis kelamin, status sosio-
karier. Fase kemunduran terjadi pada usia ekonomi, materi beajar, budaya, peran
65 tahun keatas ditandai dengan persiapan khas, kemampuan mengarahkan diri,
masa pensiun. Keberhasilan individu dalam keraguan karir, dan pengalaman bekerja.
menyelesaikan tugas perkembangan karier Osipow (1996) menyebutkan bahwa usia,
yang khas bagi tahap perkembangan tertentu jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan
disebut juga dengan kematangan karier perbedaan ras dan budaya berhubungan
(Gonzales, 2008). dengan kematangan karier. Powell & Luzzo
Kematangan karier terkait dengan (1998) bahwa kematangan karier atau yang
seberapa baik remaja mengatasi masalah sering disebut juga sebagai kematangan
terkait tugas perkembangan karier, yaitu vokasional berhubungan dengan variabel
kristalisasi, spesifikasi dan implementasi demografis seperti jenis kelamin, umur,
pilihan karier (Hughes, 2011). Brown tingkat kelas, dan etnis.
& Lent (2005) mengemukakan bahwa Pendidikan di sekolah merupakan
kematangan karir merupakan konstruk salah satu faktor eksternal yang dapat
psikologis yang berupa kontinum tahapan memberikan pengaruh pada kematangan
karir dari mulai pertumbuhan hingga karier individu (Winkel & Hastuti, 2004).
pelepasan karir. Hal tersebut erat kaitannya Sirohi (2013) dalam penelitian yang
dengan tugas perkembangan dan harapan dilakukan di India mendapati bahwa jenis
yang didasarkan pada usia kronologis. Super kelamin, jenis sekolah dan bimbingan karir
(dalam Winkel, 2012) menyebutkan bahwa serta persepsi siswa tentang bimbingan
kematangan karir merupakan keberhasilan karir di sekolah mempengaruhi kematangan
individu dalam menyelesaikan tugas karir para siswa. Riset terdahulu tentang
perkembangan karir yang khas di setiap kematangan karier menyebutkan bahwa
tahap perkembangan yang ditunjukkan kematangan karier yang tinggi berhubungan
dengan kesesuaian perilaku karir individu dengan harga diri, pusat kendali internal dan
dengan perilaku karir yang diharapkan. nilai kerja intrinsik (Khan, dalam Dhillon
Terdapat beberapa faktor yang & Kaur, 2005). Semakin tinggi harga diri
mempengaruhi kematangan karir, Winkel & yang dimiliki individu akan mempengaruhi
Hastuti (2004) menyebutkan adanya faktor identitas karier individu. Powell dan Luzzo
internal dan eksternal yang mempengaruhi yang meneliti hubungan kematangan karier
kematangan karir. Faktor internal terdiri dan gaya pengambilan keputusan karier
dari nilai kehidupan, taraf inteligensi, pada siswa sekolah menengah menemukan
bakat khusus, minat, sifat kepribadian, bahwa siswa yang memiliki kontrol
pengetahuan, dan keadaan jasmani. Faktor terhadap keputusan karier yang diambil
eksternal diantaranya adalah masyarakat, menunjukkan sikap positif terhadap proses
kondisi sosial-ekonomi negara atau daerah, pengambilan keputusan karier dan memiliki
status sosial-ekonomi keluarga, pengaruh kesadaran yang lebih tinggi terhadap karier
keluarga besar dan inti, pendidikan di (Prideaux & Creed, 2001). Penelitian Salami
Kematangan Karier Siswa SMK Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Jurusan 115

(2004) menunjukkan bahwa kemampuan Metode Penelitian


pemecahan masalah dapat memprediksi
Penelitian ini melibatkan 339 subjek
kematangan karier pada siswa sekolah
yang merupakan siswa kelas XI yang berasal
lanjutan. Denga (dalam Amadi, Joshua
dari enam SMK di Kota Semarang, yang
& Agaswara, 2007) menyebutkan bahwa
terdiri dari tiga SMK Negeri (55,75%)
ketidakmatangan karier memberi kontribusi
dan tiga SMK Swasta (44,24%) serta
pada referensi vokasional dan pengambilan
10 jurusan peminatan yaitu administrasi
keputusan yang tidak realistik pada siswa.
perkantoran(16,81%), akomodasi perhotelan
Beberapa penelitian tersebut mendasari
(13%), akuntansi (17,1%), kecantikan
bahwa kajian mengenai kematangan karier
rambut (7,7%), multimedia (7,4%),
merupakan hal yang penting untuk diteliti.
pemasaran(10,6%), tata busana(3,5%),
Pada penelitian ini peneliti bermaksud
teknik audio video (8,6%), teknik kendaraan
melakukan penelitian komparatif dengan
ringan (9,1%), teknik komputer dan jaringan
membandingkan kematangan karier ditinjau
(6,2%). Subjek terdiri dari 101 laki-laki
dari variabel demografi seperti jenis kelamin
dan 238 perempuan. Usia subjek berkisar
dan jurusan yang diambil. Penelitian
antara 15-19 tahun. Teknik sampling yang
terdahulu tentang perbedaan kematangan
digunakan adalah non probability sampling
karier ditinjau dari jenis kelamin sudah
yaitu purposive sampling (Sugiyono, 2005).
pernah dilakukan namun terdapat hasil
Kriteria rekrutmen yang digunakan adalah,
yang berbeda. Busacca & Taber (2002)
subjek berada pada kelas XI di SMK.
dalam penelitiannya mengemukakan bahwa
Penelitian ini menggunakan metode
perempuan cenderung untuk lebih dewasa
penelitian kuantitatif dengan pendekatan
dalam karir daripada laki-laki. Salami
survey pada siswa SMK dengan tiga
(2008) menemukan bahwa status identitas
variable. Variabel bebas dalam penelitian
secara signifikan memprediksi kematangan
ini adalah jenis kelamin, jurusan, sementara
karir remaja, namun jenis kelamin bukanlah
variabel terikat dalam penelitian ini adalah
sesuatu yang dapat memprediksi. Sementara
kematangan karier. Jenis kelamin dibedakan
it Ottu & Idowu (2014) melakukan
menjadi laki-laki dan perempuan. Jurusan
penelitian di Ibadan Nigeria mendapati
dibedakan menjadi sepuluh kelompok
bahwa kematangan karier siswa laki-
yaitu administrasi perkantoran, akomodasi
laki lebih tinggi dari siswa perempuan.
perhotelan, akuntansi, kecantikan rambut,
Terdapat pendapat bahwa banyaknya
multimedia, pemasaran, tata busana, teknik
pengangguran di Indonesia dari lulusan
audio video, teknik kendaraan ringan, serta
SMK dikarenakan belum adanya lapangan
teknik komputer dan jaringan.
kerja yang menampung (Jefriando, 2016),
Pengumpulan data dalam penelitian
hal tersebut diduga dipengaruhi oleh salah
ini menggunakan metode skala untuk
satu faktor eksternal yang mempengaruhi
mengungkap respon pribadi subjek. Skala
kematangan karier yaitu tuntutan yang
yang digunakan adalah Skala Kematangan
melekat pada jabatan atau program studi
Karier yang disusun peneliti dengan dasar
(Winkel & Hastuti, 2004). Oleh karena itu
teori dari Super (dalam Winkel, 2012).
dalam penelitian ini peneliti bermaksud
Skala Kematangan Karier (43 aitem, α =
ingin melihat perbedaan kematangan karier
0,917) berbentuk likert dengan lima pilihan
pada beberapa jurusan yang ada di SMK.
jawaban yang bergerak antara 1 (Sangat
116

Tidak Sesuai) hingga 5 (Sangat Sesuai). diujicobakan pada kelompok subjek yang
Daya diskriminasi aitem berkisar antara memiliki karakteristik yang sama dengan
0,323 – 0,601. Skala disusun berdasarkan subjek penelitian.
aspek 1.) Mampu menilai kondisi diri Metode analisis data yang digunakan
dikaitkan dengan pemilihan pekerjaan, adalah Analisis Varian (ANAVA) dua jalur.
2.) Berusaha mengeksplorasi informasi untuk menguji hipotesis komparatif dari
pekerjaan, 3.) Dapat membuat perencanaan kelompok sampel. Asumsi yang dipenuhi
tentang pekerjaan, dan 4.) Dapat mengambil sebelum melakukan uji hipotesis adalah uji
keputusan dalam pemilihan pekerjaan. normalitas dan uji homogenitas. Seluruh
Contoh aitem diantaranya, “Meskipun belum analisis dilakukan dengan bantuan program
merupakan keputusan akhir, Aku sudah komputer SPSS 22.0.
memiliki pilihan bidang pekerjaan”; “Aku
merasa yakin dengan pilihan karierku di Hasil dan Pembahasan
masa mendatang”. Selain itu peneliti juga
menggunakan kuesioner data demografi Berdasarkan hasil penelitian yang
untuk mengetahui jenis kelamin, jurusan, telah dilakukan, statistik deskriptif disajikan
dan asal sekolah. Skala sebelumnya telah pada tabel berikut:

Tabel 1. Statistik Deskriptif


Variabel N Rerata SD Minimum Maksimum
Jenis Kelamin
Laki-laki 101 156.78 18.336 117 205
Perempuan 238 156.78 19.493 101 199
Total 339 156.78 19.128 101 205
Jurusan
Akomodasi Perhotelan 44 156.66 19.522 107 194
Teknik Komputer Jaringan 21 157.24 15.339 117 185
Multimedia 25 148.24 16.011 118 179
Tata Busana 12 162.50 18.510 134 197
Administrasi Perkantoran 57 154.32 15.584 124 198
Kematangan Karier
Akuntansi 58 156.91 21.442 108 199
Kecantikan Rambut 26 165.77 18.824 127 196
Teknik Kendaraan Ringan 31 155.13 17.935 128 197
Teknik Audio Video 29 160.86 22.723 101 205
Pemasaran 36 156.03 20.444 114 189
Total 339 156.78 19.128 101 205
Status Sekolah
Negeri 150 155.44 17.405 108 199
Swasta 189 157.85 20.376 101 205
Total 339 156.78 19.128 101 205

Dari tabel 1 di atas dapat diketahui subjek perempuan (N=238) rerata skor yang
bahwa ditinjau dari jenis kelamin, pada didapatkan adalah 156,782 (kategori tinggi).
kelompok subjek dengan jenis kelamin Hal ini menunjukkan bahwa siswa laki-laki
laki-laki (N=101), rerata skor kematangan dan siswa perempuan berada pada rentang
karier yang didapatkan adalah 156,782 kategori yang sama.
(kategori tinggi), hal tersebut sama dengan
Kematangan Karier Siswa SMK Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Jurusan 117

Ditinjau dari jurusan, pada kelompok indikasi rerata empirik lebih besar dari rerata
subjek dengan jurusan akomodasi perhotelan hipotetik. Kategorisasi lebih lanjut diketahui
(N=44) rerata skor kematangan karier bahwa siswa mayoritas berada pada kategori
adalah 156,66 (kategori tinggi), jurusan kematangan karier yang tinggi ( 247 siswa;
teknik komputer jaringan (N=21) rerata skor 72,9%), sisanya berada pada kategori sangat
kematangan karier adalah 157,24 (kategori tinggi (65 siswa; 19,2%), dan rendah (27
tinggi), jurusan multimedia (N=25) rerata siswa; 8%).
skor kematangan karier adalah 148,24 Sebelum dilakukan uji hipotesis,
(kategori tinggi), jurusan tata busana sebelumnya dilakukan uji asumsi
(N=12) rerata skor kematangan karier dengan melakukan uji normalitas dan uji
adalah 162,50 (kategori tinggi), jurusan homogenitas. Uji normalitas dilakukan
administrasi perkantoran (N=57) rerata skor dengan perhitungan nilai Kolmogorov
kematangan karier adalah 154,32 (kategori smirnov, dan uji homogenitas menggunakan
tinggi), jurusan akuntansi (N=58) rerata levene test. Data diketahui normal ( K-Z =
skor kematangan karier adalah 156,91 0,2) dan homogen (p=0,206; p>0,05). Untuk
(kategori tinggi), jurusan kecantikan rambut membuktikan hipotesis dilakukan analisis
(N=26) rerata skor kematangan karier varian (anava) dua jalur. Hasil menunjukkan
adalah 165,77 (kategori tinggi), jurusan tidak ada perbedaan kematangan karier
teknik kendaraan ringan (N=31) rerata skor ditinjau dari jenis kelamin (F=1,176, p=
kematangan karier adalah 155,13 (kategori 0,279; p>0,05) dan tidak ada perbedaan
tinggi), jurusan teknik audio video (N=29) kematangan karier ditinjau dari jurusan
rerata skor kematangan karier adalah 160, (F=1,754, p=0,076; p>0,05). Hasil terlampir
86 (kategori tinggi), jurusan pemasaran pada tabel 2. Dari hasil uji hipotesis tersebut
(N=36) rerata skor kematangan karier dapat disimpulkan bahwa hipotesis ditolak.
adalah 156,03 (kategori tinggi). Dilihat Lebih lanjut digambarkan pada gambar 1
dari perbedaan rerata maka yang memiliki tentang grafik kematangan karier ditinjau
kematangan karier paling tinggi adalah dari jenis kelamin dan jurusan. Grafik
siswa dari jurusan kecantikan rambut, hal tersebut menunjukkan tidak adanya interaksi.
tersebut dapat dikaitkan dengan gambaran
yang pasti mengenai gambaran yang akan Tabel 2. Rangkuman Hasil Uji Beda
digeluti selanjutnya. Jumlah Db Rerata F p Eta
Kuadrat Kuadrat Squared
Ditinjau dari status sekolah, pada Antar Kelompok
kelompok subjek dari sekolah negeri Jenis 423,099 1 423,099 1,176 0,279 0,004
(N=150) rerata skor kematangan karier Kelamin
Jurusan 5680,285 9 631,143 1,754 0,076 0,046
adalah 155,44 (kategori tinggi), sekolah
Kesalahan 117993,561 328
swasta (N=189) rerata skor kematangan
karier adalah 157,85 (kategori tinggi).
Dilihat dari perbedaan rerata maka yang
memiliki kematangan karier paling tinggi
adalah siswa dari sekolah swasta.
Secara keseluruhan (N= 339),
rerata yang didapatkan adalah 156,78,
dengan deviasi standar 19,128, hal tersebut
menunjukkan skor yang tinggi, dilihat dari
118

lebih lanjut pada data yang menunjukkan


bahwa pada kedua kelompok berada pada
kategori kematangan karier yang sama-
sama tinggi. Pada tiap aspek yaitu penilaian
kondisi diri dikaitkan dengan pemilihan
pekerjaan, eksplorasi informasi terhadap
pekerjaan, pembuatan perencanaan tentang
pekerjaan dan pengambilan keputusan
dalam pemilihan pekerjaan baik pada
kelompok siswa perempuan maupun laki-
laki berada pada rentang skor yang hampir
sama. Skor kematangan karier yang berada
kategori tinggi dimungkinkan karena
siswa pada pendidikan SMK mendapatkan
Gambar 1. Gambaran Kematangan Karier kesempatan yang besar untuk praktek terkait
ditinjau dari Jenis Kelamin dan Jurusan dengan bidang yang akan ditekuni kemudian
di dunia kerja.
Hasil penelitian menunjukkan Ditinjau dari perbedaan jurusan
tidak ada perbedaan kematangan karier diketahui tidak ada perbedaan kematangan
siswa SMK ditinjau dari jenis kelamin karier ditinjau dari jurusan peminatan
(F=1,176, p= 0,279; p>0,05). Hasil tersebut (F=1,754, p=0,076; p>0,05), pada umumnya
menjelaskan bahwa jenis kelamin bukanlah siswa berada pada kategori kematangan
faktor yang membedakan kematangan karier yang tinggi. Namun demikian,
karier siswa SMK. Hasil penelitian ini hal yang menarik adalah siswa dengan
senada dengan penelitian Salami (2008) kematangan karier yang paling tinggi
yang mengemukakan bahwa jenis kelamin skornya adalah siswa dengan peminatan
bukanlah prediktor dari kematangan karier kecantikan rambut, dan diikuti dengan
pada siswa. Birol dan Kiralp (2010) juga peminatan tata busana. Sementara itu
menemukan bahwa tidak ada perbedaan pada urutan yang terendah adalah siswa
kematangan karier jika ditinjau dari jenis dengan peminatan multimedia. Hal ini dapat
kelamin. Namun demikian hasil penelitian dijelaskan bahwa pilihan karier siswa pada
ini bertentangan dengan temuan dalam penjurusan kecantikan rambut maupun tata
penelitian sebelumnya yang mengemukakan busana nampak lebih jelas karena terbuka
bahwa jenis kelamin memiliki hubungan peluang pada kegiatan wirausaha salon
yang signifikan dengan kematangan karier. maupun penjahit. Peluang kerja nampak
Beberapa penelitian menemukan bahwa spesifik pada bidang usaha salon ataupun
perempuan memiliki skor kematangan tailor. Sementara pada jurusan multimedia,
karier yang lebih tinggi daripada laki-laki peluang kerja di kota Semarang cenderung
(Luzzo, 1995; Ariyanti, 2007; Marpaung, belum berkembang dengan pesat.
2016). Tidak adanya perbedaan kematangan
Penjelasan bahwa hasil penelitian karier ditinjau dari jenis kelamin dan jurusan
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan mengindikasikan bahwa ada faktor lain
antara kematangan karier pada siswa yang turut berkontribusi pada tercapainya
laki-laki dan perempuan dapat dilihat kematangan karier pada siswa. Selain jenis
Kematangan Karier Siswa SMK Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Jurusan 119

kelamin sebagai faktor demografis yang yang mempengaruhi kematangan karier.


bersifat internal, dimungkinkan bahwa Tingginya skor kematangan karier pada
ada faktor internal lainnya yang dapat siswa SMK perlu dipertahankan dengan
membedakan kematangan karier antara memberikan bimbingan karier yang
siswa yang satu dengan yang lainnya. komprehensif. Untuk siswa yang memiliki
Penelitian sebelumnya telah menyebutkan skor kematangan karier yang rendah, yaitu
bahwa efikasi diri memiliki pengaruh sebanyak 27 siswa perlu mendapatkan
dalam mencapai kematangan karier siswa. perhatian khusus untuk diberikan program
Selain faktor internal, Winkel (2012) intervensi guna meningkatkan kematangan
menyebutkan bahwa ada faktor eksternal karier. Saran untuk kajian lebih lanjut perlu
yang mempengaruhi kematangan karier, dilakukan terkait budaya sekolah dan praktik
seperti karakteristik sekolah. Pada pelaksanaan bimbingan karir dan dukungan
penelitian ini diketahui bahwa tidak ada sekolah terhadap kematangan karier siswa.
perbedaan yang signifikan kematangan Penelitian selanjutnya juga dapat diperluas
karier ditinjau sepuluh jurusan yang ada. pada subjek di jenis sekolah yang berbeda
Rerata kematangan karier pada seluruh seperti SMA.
jurusan masih berada pada kategori tinggi,
namun demikian jika ditelaah lebih lanjut Daftar Pustaka
antara jurusan multimedia sebagai jurusan
dengan rerata kematangan karier terendah Amadi, C. C., Joshua, M. T.,& Asagwara, C.
dengan jurusan kecantikan rambut dengan G. (2007). Assesment of the vocational
rerata kematangan karier tertinggi memiliki maturity of adolescent students in
rentang yang cukup jauh. owerri education zone of Imo State,
Terdapat beberapa keterbatasan dalam Nigeria. Journal of Human Ecology,
penelitian ini, diantaranya terkait responden. 21, 257-263
Jumlah responden/subjek masih terbatas Ariyanti, N. (2007). Perbedaan kematangan
karena hanya berasal dari enam sekolah karier siswa berdasarkan jenis kelamin,
di kota Semarang menyebabkan belum kemampuan skolastik dan inteligensi
dapat dilakukannya generalisasi hasil di SMA Laboratorium Universitas
pada populasi yang lebih besar. Sehingga Negeri Malang. Skripsi Tidak
masih dimungkinkan untuk melakukan Dipublikasikan. Malang. Program
pengambilan data pada lingkup yang lebih Bimbingan Konseling Universitas
luas. Negeri Malang
Bardick, A., Kerry B. B. , Magnusson, K.
Simpulan
C., & Kim D.W. (2006). Junior high
Hasilnya penelitian menujukkan school student’s career plans for
bahwa tidak ada perbedaan kematangan the future : A Canadian perspective.
karier ditinjau dari jenis kelamin Journal of Career Development, 32,
ataupun jurusan. Selain jenis kelamin 250-271.
sebagai faktor demografis yang bersifat
Birol, C. & Kiralp, Y. (2016). A comparative
internal, dimungkinkan bahwa ada faktor
analysis of the career maturity level
internal seperti efikasi diri dan faktor
and career indecision of the first
eksternal seperti karakteristik sekolah
120

grade high school students. Procedia bisnis/d-3203960/banyak-lulusan-


Social and Behavioral Sciences, 5 smk-jadi-pengangguran-ini-analisa-
(2010) 2359–2365. doi:10.1016/j. bps pada 8 Agustus 2016
sbspro.2010.07.464
Luzzo, D. A. (1995). Gender differences
Brown, S. D., & Lent, R. W. (2005). Career in college students’ career maturity
development and counseling. Putting and perceived barriers in career
theory and research to work. New development. Journal of Counseling
Jersey : John Wiley & Sons, Inc. & Development, 73, 319-322
Busacca, L. A., & Taber, B. J. (2002). Marpaung, D. N. (2016). Kematangan karir
The Career Maturity Inventory siswa SMU di Banda Aceh ditinjau
– R e v i s e d  : A P r e l i m i n a r y dari jenis kelamin dan jenis sekolah.
Psychometric Investigation. Journal Skripsi Tidak Dipublikasikan. Banda
of Career Assesment, 10(4), 441–455. Aceh. Program Studi Psikologi
doi:10.1177/1069072702238406 Fakultas Kedokteran Universitas
Syiah Kuala.
Dhillon, U., & Kaur, R. (2005). Career
maturity of school children. Journal Osipow, S.H. (1996). Theories of career
of the Indian Academy of Applied development. 3rd ed. New Jersey :
Psychology, 31, 71-76 Prentice Hall
Gonzales, M. A. (2008). Career maturity : Ottu, I. F. A., & Idowu, O. O. (2014).
A priority for secondary education. Openness to experience ,
Electronic Journal of Research in conscientiousness and gender as
Educational Psychology, 6, 749-772 personality indicators of career
maturity of in-school adolescents in
Hughes, C. (2011). A Cross-Cultural Study
Ibadan, Nigeria. European Journal of
of Career Maturity in Australia and
Educational Studies, 6(1), 1–12.
Thailand. Unpublished Dissertation.
School of Health Sciences College Patton, W., Creed, P., Spooner-lane, R.,
of Science, Engineering and Health Patton, W., & Spooner-lane, R.
RMIT University. (2005). Validation of the Short Form
of the Career Development Inventory
Hurlock, E. B. (2012). Psikologi
- Australian Version with a Sample
perkembangan: Suatu pendekatan
of University Students. Australian
sepanjang rentang kehidupan. Jakarta:
Journal of Career Development,
Erlangga.
14(3).
Karningsih. (2013). Analisis penciptaan
Patton, W., & Lokan. (2001). Perspectives
lapangan kerja di kota Semarang.
o n D o n a l d S u p e r ’s c o n s t r u c t
Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah,
of career maturity. International
11(50)
Journal for Educational and
Jefriando, M. (2016). Banyak lulusan Vocational Guidance 1: 31-48. Doi:
SMK jadi pengangguran, ini 10.1023/A:1016964629452
analisa BPS. Diunduh dari http://
Powell, D.F., & Luzzo, D.A. (1998).
finance.detik.com/berita-ekonomi-
Kematangan Karier Siswa SMK Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Jurusan 121

Evaluating factors associated with Sudjani. (2014). Faktor-faktor yang


the career maturity in high school mempengaruhi kematangan karir
students. The Career Development siswa sekolah menengah kejuruan
Quarterly, 47,145-158 negeri di kota Bandung. Prosiding
Konvensi Nasional Asosiasi
PP No 29 th 1990 tentang Pendidikan
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Menengah
(APTEKINDO) ke 7. FPTK Universitas
Prahesty, I. D., & Mulyana, O.P. (2013). Pendidikan Indonesia, Bandung, 13
Perbedaan kematangan karir siswa sd.14 November 2014. ISBN : 978-
ditinjau dari jenis sekolah. Character, 602-72004-0-1
2(2), 1-7
Sugiyono. (2005). Statistika untuk penelitian.
Prideaux, L.A., & Creed, P.A. (2001). Bandung. Alfabeta.
Career maturity, career decision
Suherman. (2008). Konsep dan aplikasi
making self-efficacy and career
bimbingan dan konseling. Bandung.
indecision : A review of the accrued
Madani Production
evidence. Australian Journal of
Career Development, 10(3), 7-12 Tjalla, A., Herdi, & Kustandi, C. (2015).
Green education-based model online
Salami, S.O. (2004). Relationship between
career counseling “ ACIS-Q ” to
problem-solving ability and career
enhance career maturity of vocational
maturity among high school students
schools students. International Journal
in Nigeria. IFE PsychologIA: An
of Research Studies in Psychology,
International Journal. 12(2), 162-179
4(January), 36 – 42. doi:10.5861/
Sirohi, V. (2013). Vocational guidance and ijrsp.2015.993
career maturity among secondary
Winkel, W.S. (2012). Bimbingan dan
school students: An Indian experience.
konseling di institusi pendidikan.
Proceedings 1st Annual International
Jakarta : Grasindo
Interdisciplinary Conference, AIIC
2013, 24-26 April 2013, Azores, Winkel, & Hastuti, S. (2004). Bimbingan
Portugal. 381-389 dan konseling di institusi pendidikan.
Yogyakarta: Media Abadi.
Salami, S. O. (2008). Gender , Identity Status
and Career Maturity of Adolescents in
Southwest Nigeria. Journal of Social
Science, 16(1), 35–49.