Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

KISTA OVARIUM DI RUANG CEMPAKA

DI RSUD dr. Soehadi Prijonegoro SRAGEN

A. DEFINISI
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada
ovarium yang membentuk seperti kantong (Agusfarly, 2016).
Kista ovarium merupakan tumor jinak berupa kantong abnormal berisi cairan
atau setengah cair yang tumbuh dalam (indung telur) ovarium. (Kusuma, 2018).
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada
ovarium yang membentuk seperti kantong.Kista ovarium secara fungsional adalah
kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus mentsruasi.
(Lowdermilk, dkk. 2015: 273)
Kista adalah tumor jinak di yang paling sering ditemui. Bentuknya kistik, berisi
cairan kental, dan ada pula yang berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara,
cairan, nanah, ataupun bahan-bahan lainnya.
Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus selaput semacam jaringan.
Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat
menyebar ke bagian tubuh lain. Itulah sebabnya tumor jinak relatif mudah diangkat
dengan jalan pembedahan, dan tidak membahayakan kesehatan penderitanya.
Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi dua, yaitu non-neoplastik dan
neoplastik. Kista non-neoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan mengempis sendiri
setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik umumnya harus dioperasi, namun
hal itu pun tergantung pada ukuran dan sifatnya.
Selain pada ovarium kista juga dapat tumbuh di vagina dan di daerah vulva
(bagian luar alat kelamin perempuan). Kista yang tumbuh di daerah vagina, antara lain
inklusi, duktus gartner, endometriosis, dan adenosis. Sedangkan kista yang tumbuh di
daerah vulva, antara lain pada kelenjar bartholini, kelenjar sebasea serta inklusi
epidermal.

B. ETIOLOGI

Menurut Nugroho (2010), kista ovarium disebabkan oleh gangguan (pembentukan)


hormone pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium (ketidakseimbangan hormone). Kista
ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang nantinya akan
menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium, tipe folikuler merupakan
tipe kista yang paling banyak ditemukan. Kista jenis ini terbentuk oleh karena pertumbuhan folikel
ovarium yang tidak terkontrol. Folikel adalah suatu rongga cairan yang normal terdapat
dalam ovarium. Pada keadaan normal, folikel yang berisi sel telur ini akan terbuka saat
siklus menstruasi untuk melepaskan sel telur. Namun pada beberapa kasus, folikel ini tidak
terbuka sehingga menimbulkan bendungan carian yang nantinya akan menjadi kista. Cairan yang
mengisi kista sebagian besar berupa darah yang keluar akibat dari perlukaan yang terjadi
pada pembuluh darah kecil ovarium. Pada beberapa kasus, kista dapat pula diisi oleh jaringan
abnormal tubuh seperti rambut dan gigi. Kista jenis ini disebut dengan Kista Dermoid.
Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti tapi ada beberapa factor pemicu yaitu :
1. Gaya hidup tidak sehat.
Diantaranya
a. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
b. Zat tambahan pada makanan
c. Kurang olah raga
d. Merokok dan konsumsi alkohol
e. Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
f. Sering stress
g. Zat polutan
h. Faktor genetik
Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang
disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat
karsinogen , polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini
dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

C. PATOFISIOLOGY

Kista terdiri atas folikel – folikel praovulasi yang telah mengalami atresia
(degenerasi). Pada wanita yang menderita ovarium polokistik, ovarium utuh dan FSH dan
SH tetapi tidak terjadi ovulasi ovum. Kadar FSH dibawah normal sepanjang stadium
folikular daur haid, sementara kadar LH lebih tinggi dari normal, tetapi tidak
memperlihatkan lonjakan. Peningkatan LH yang terus menerus menimbulkan
pembentukan androgen dan estrogen oleh folikel dan kelenjar adrenal. Folikel anovulasi
berdegenerasi dan membentuk kista, yang menyebabkan terjadinya ovarium polikistik.
(Corwin, 2012)
Kista bermetastasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan dengan
abdomen dan pelvis dan sel – sel yang menempatkan diri pada rongga abdomen dan
pelvis. Penyebaran awal kanker ovarium dengan jalur intra peritonial dan limfatik muncul
tanpa gejala atau tanda spesifik.
Gejala tidak pasti yang akan muncul seiring dengan waktu adalah perasaan berat
pada pelvis. Sering berkemih dan disuria dan perubahan fungsi gastro intestinal, seperti
rasa penuh, mual, tidak enak pada perut, cepat kenyang dan konstipasi. Pada beberapa
perempuan dapat terjadi perdarahan abnormal vagina skunder akibat hiperplasia
endometrium, bila tumor menghasilkan estrogen beberapa tumor menghasilkan
testosteron dan menyebabkan virilisasi. (Price, Wilson, 2016)

D. KOMPLIKASI

Menurut manuaba ( 2015) komplikasi dari kista ovarium yaitu :


1. Perdarahan intra tumor
Perdarahan menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan
tindakan yang cepat.
2. Perputaran tangkai
Tumor bertangkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen.
3. Infeksi pada tumor
Menimbulkan gejala: badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu aktifitas sehari-
hari.
4. Robekan dinding kista
Pada torsi tangkai ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah
kedalam rungan abdomen.
5. Keganasan kista ovarium
Terjadi pada kista pada usia sebelum menarche dan pada usia diatas 45 tahun.
E. PATHWAY
F. PENATALAKSANAAN
a. Keperawatan
1. Mengurangi Nyeri
2. Kolaborasi dalam pemberian analgetik, mencegah syok dan sinkope akibat nyeri
yang luar biasa. Tindakan mandiri perawat yang bisa mengurangi nyeri yaitu
tehnik distraksi dan relaksasi.
3. Penyuluhan pasien tentang pentingnya tehnik aseptik dalam merawat luka di
rumah
4. Mencegah kekurangan volume Cairan
5. Mempertahankan integritas kulit
6. Memberikan nutrisi yang adekuat
7. Mengurangi ansietas

b. Penatalaksanaan medis
1. Pengangkatan kista ovarium
Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan
bedah, misal laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi.
2. Kontrasepsi oral
Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan
menghilangkan kista.
3. Perawatan pasca operasi
Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista
ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan
satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh
pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang
berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita abdomen sebagai
penyangga.
4. Tindakan keperawatan
Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang
pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan
kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas
dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda – tanda
infeksi, perawatan insisi luka operasi. ( Lowdermilk.dkk. 2005:273 ).
5. Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah
pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung tumor. Akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, bisanya disertai dengan pengangkatan tuba.
6. Asuhan post operatif
Asuhan post operatif merupakan hal yang berat karena keadaan yang
mencakup keputusan untuk melakukan operasi, seperti hemorargi atau infeksi.
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda vital, asupan dan keluaran,
rasa sakit dan insisi. Terapi intravena, antibiotik dan analgesik biasanya
diresepkan. Intervensi mencakup tindakan pemberiaan rasa aman, perhatian
terhadap eliminasi, penurunan rasa sakit dan pemenuhan kebutuhan emosional
Ibu.
Efek anestesi umum. Mempengaruhi keadaan umum penderita, karena
kesadaran menurun. Selain itu juga diperlukan monitor terhadap keseimbangan
cairan dan elektrolit, suara nafas dan usaha pernafasan, tanda-tanda infeksi
saluran kemih, drainese urin dan perdarahan. Perawat juga harus mengajarkan
bagaimana aktifitas pasien di rumah setelah pemulangan, berkendaraan mobil
dianjurkan setelah satu minggu di rumah, tetapi tidak boleh mengendarai atau
menyetir untuk 3-4 minggu, hindarkan mengangkat benda-benda yang berat
karena aktifitas ini dapat menyebabkan kongesti darah di daerah pelvis, aktifitas
seksual sebaiknya dalam 4-6 minggu setelah operasi, kontrol untuk evaluasi
medis pasca bedah sesuai anjuran.
G. KOMPLIKASI
Kista ovarium yang besar bisa mengakibatkan ketidaknyamanan pada ovarium.
Jika kista yang besar menekan kandung kemih akan mangakibatkan seseorang menjadi
sering berkemih karena kapasitas kandung kemih menjadi berkurang. Beberapa wanita
dengan kista ovarium tidak menimbulkan keluhan, tapi dokterlah yang menemukan pada
pemeriksaan pelvis. Masa kista ovarium yang berkembang setelah menopause mungkin
akan menjadi suatu keganasan (kanker).
Beberapa komplikasi dari kista ovarium antara lain:
1. Torsio Kista Ovarium. Komplikasi kista ovarium bisa berat. Komplikasi paling sering
dan paling berbahaya adalah torsio dari kista ovarium yang merupakan
kegawatdaruratan medis yang menyebabkan tuba falopi berotasi, situasi ini bisa
menyebabkan nekrosis. Kondisi ini sering menyebabkan infertilitas. Manifestasi dari
torsio kista ovarium adalah nyeri perut unilateral yang biasanya menyebar turun ke
kaki. Pada kondisi ini pasien harus segera di bawa ke rumah sakit. Jika pembedahan
selesai pada 6 jam pertama setelah onset krisis, intervensi pada kista torsio bisa
dilakukan. Jika torsio lebih dari 6 jam dan tuba falopi sudah nekrosis, pasien akan
kehilangan tuba falopinya.

2. Perdarahan dan ruptur kista. Komplikasi lain adalah perdarahan atau rupturnya kista
yang ditandai dengan ascites dan sering sulit untuk dibedakan dari kehamilan ektopik.
Situasi ini juga perlu pembedahan darurat. Gejala dominan dari komplikasi ini adalah
nyeri kuat yang berlokasi di salah satu sisi dari abdomen (pada ovarium yang
mengandung kista). Ruptur kista ovarium juga mengakibatkan anemia. Ruptur kista
ovarium sulit dikenali karena pada beberapa kasus tidak ditemukan gejala. Tanda
pertama yang bisa terjadi adalah terasa nyeri di abdomen bagian bawah, mual, muntah
dan demam.

3. Infeksi. Infeksi bisa mengikuti komplikasi dari kista ovarium. Kista ovarium yang
tidak terdeteksi dan susah untuk didiagnosis bisa mengakibatkan kematian akibat
septikemia. Gejala infeksi pertama adalah demam, malaise, menggigil dan nyeri
pelvis.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma abdomen
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
3. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan penekanan oleh masa jaringan
neoplasma pada daerah sekitarnya, gangguan sensori motorik

No NOC
NIC(Intervensi)
dx (Tujuan dan Kriteria Hasil )
1. Setelah dilakukan tindakan a. Kaji karakteristik nyeri klien
keperawatan selama 1x… jam dengan PQRST ( P : faktor
masalah gangguan rasa nyaman penambah dan pengurang nyeri, Q
nyeri klien dapat teratasi dengan : kualitas atau jenis nyeri, R :
KH: regio atau daerah yang
- Mampu mengontrol nyeri
mengalami nyeri, S : skala
- Melaporkan bahwa nyeri
nyeri, T : waktu dan frekuensi )
berkurang denga
b. Kaji faktor-faktor yang
menggunakan mangement
mempengaruhi reaksi klien
nyeri
terhadap nyeri
- Mampu mengenali nyeri
c. Berikan posisi yang nyaman,
- Menyatakan rasa nyaman
tidak bising, ruangan terang
setelah nyeri berkurang
dan tenang
d. Biarkan klien melakukan
aktivitas yang disukai dan
alihkan perhatian klien pada hal
lain
e. Kolaborasi pemberian analgetik

2. Setelah dilakukan asuhan Infection Control (Kontrol infeksi)


keperawatan selama 3x 24 jam - Bersihkan lingkungan setelah
diharapakan infeksi terkontrol dipakai pasien lain
- batasi pengunjung bila perlu
NOC :
- Instruksikan pada pengunjung
Immune Status
untuk mencuci tangan saat
Knowledge : Infection control
berkunjung dan setelah berkunjung
Risk control
meninggalkan pasien
Kriteria Hasil : - Cuci tangan setiap sebelum dan
- Klien bebas dari tanda dan gejala sesudah tindakan kperawtan
- Pertahankan lingkungan aseptik
infeksi
- Mendeskripsikan proses
selama pemasangan alat
- Tingktkan intake nutrisi
penularan penyakit, factor yang
- Berikan terapi antibiotik bila perlu
mempengaruhi penularan serta Infection Protection (proteksi
penatalaksanaannya, terhadap infeksi)
- Menunjukkan kemampuan untuk - Monitor tanda dan gejala infeksi
mencegah timbulnya infeksi sistemik dan lokal
- Jumlah leukosit dalam batas - Monitor hitung granulosit, WBC
- Monitor kerentanan terhadap
normal
- Menunjukkan perilaku hidup infeksi
- Batasi pengunjung
sehat
- Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
- Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
- Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
- Ajarkan cara menghindari infeksi
- Laporkan kecurigaan infeksi
- Laporkan kultur positif

3. Setelah dilakukan tindakan Urinary Retention Care


keperawatan selama 1x… jam pada - Lakukan penilaian kemih yang
klien Konstipasi tidak berlanjut dan komprehensif berfokus pada
tidak terjadi konstipasi inkontinensia
- Menyediakan penghapus privasi
dengan KH:
- Masukkan kateter kemih, sesuai
- Kandung kemih kosong - Memantau asupan dan keluaran
- Memantau tingkat distensi
secarapenuh
- Tidak ada residu urin lebih dari kandung kemih dengan palpasi dan
100-200 cc perkusi
- Intake cairan dalam rentang -
normal
- Bebas dari ISK tidak ada spasme
bladder
- Balance cairan seimbang

Daftar Pustaka

A.Price, Sylvia.20016.Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC

Wiknojosastro, Hanifa. Editor. Abdul Bari Saifuddin, Trijatmo Rachimhadhi. 2015. Ilmu
Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Nugroho, Taufan. 2011. Buku Ajar Obstetri untuk Mahasiswa Kebidanan. Yogyakarta :Nuha
Medika.

Yatim, F. 2015. Penyakit Kandungan. Jakarta: Penerbit Pustaka Populer Obor

Nurarif H A, Kusuma Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan diagnosa


medis NANDA NIC-NOC Jilid 2 Jogjakarta: Media Action
LAPORAN PENDAHULUAN
KISTOMA OVARIUM PADA PASIEN Ny. T DI RUANG CEMPAKA
RSUD dr. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN

ITA KISWARSIKI
J230195032

PROGRAM PROFESI NERS XXI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2019