Anda di halaman 1dari 50

Ê 


    

A.‘ PENGERTIAN
›‘ ÊAD adalah : suatu penyakit yg terjadi akibat dari penumpukan plak
didalam mbagian dari arteri koroner yaitu pembuluh darah yang menyuplai
darah kaya oksigen ke otot jamtung.
(www.ivillage.com/coroner arteri-diaseses)
›‘ ATERIOSKLEROSIS adalah : suatu penyakit yang terjadi penebalan samapai
terjadi pengerasan arteri besar sehingga menyumbat aliran darah ke jaringan
dan organ2 utama ( A. mutachin )
›‘ ÊAD adalah : Suatu gejala penyakit yang terjadi pada pembuluh darah arteri
( www.wikipedia.com )
›‘ ÊAD adalah : Suatu penyakit kroniss yang terhambat aliran darah melalui
koroner arteri yang bersih dan yang banyak akan oksigen
( www.mantri-suster.co.cc )

Jadi ÊAD adalah suatu penyakit yang terjadi pada arteri yang tersumbat yang akan
kaya oksigen dan bersifat kronis sehingga akan terjadi penurunan curah jantung dan jantung
pn akan bekerja dengan tidak baik.

B.‘ Etiologi
›‘ Adanay hiperkolesterolemia, > 275 mg/dl
›‘ ÿerokok
›‘ Obesitas
›‘ ipertensi
›‘ Life style

Ê.‘ ANATOÿI DAN FISIOLOGI


Jantung terletak didalam rongga mediastinum dari rongga dada diantara paru
selaput yang melapisi jantung adalah pericardium yang terdiri dari 2 lapisan yaitu :
1.‘ Pericardium perietalis : lapisan luar jantung
2.‘ Perikarsium viseralis : lapisan permukaan jantung itu sendiri

c
Diantara kedua lapisan itu sendiri terdapat cairan pericardium sebagai pelumas yang
berfungsi mengurangi gesekan akibat gerak jantung saat memompa.

Struktur jantung.

a.‘ Epikardium adalah lapisan luar dari jantung.


b.‘ ÿiokardium adalah lapisan tengah pada jantung.
c.‘ Endokardium adalah lapisan dalam dari jantung.
Ruang jantung.
Terdiri dari 4 rung, yaitu :
a.‘ 2 atrium kanan dan kiri.
b.‘ 2 ventrikel kanan dan kiri

Katup jantung.

a.‘ Katup atrioventrikuler yaitu diantara atrim dan ventrikel ( katup bikuspdalis
dan katup trikuspidalis )
b.‘ Katup semilunar yaitu katup yang terletak diantara arteri pulmonalis (arteri
pulmonalis, vena pulmonalis dan katup aorta )

Tanda dan gejala

1.‘ Aritmia ( irama jantung tidak teratur )


2.‘ Nyeri yang hilang dan timbul.

D.‘ Patofisiologi.

Factor2 penyakit jantung koroner ( kolesterol ) meningkat pada tunika


intima yang tampak sebagai garis lemak kemudian akan terjadi penimbunan lemak (
beta lipoprotein ) pada tunika intima dan tunika mediadalam lesi dengan jaringan plak
fibrosa. Kumudian akan timbul kompleks plak fibrosa terjadi perubahan
generatifdinding arteria kemudian akan menjadi sumbatan / penyempitan lumen
karena pembesaran plak, terjadi arterosklerosis, kemudian kontriksi arteri koronaria
menurun, maka aliran darah kejantung pun menurun, oksigen dan nutrisi juga
menurun, akan terjadi jari gan miokard infark kemudian akan terjadi nekrosis > 30
G
menit kemudian suplly oksigen dan kebutuhan oksigen kejnatung menurun dan tidak
seimbang sehingga kontatilitas jantung ( SA node dan AV node ) menurun
mengakibatkan aliran darah kekoroner juga menurun mengakibatkan kegagalan
pompa jantung dan plus.

ñ   

 

     

    

  


    [ 

           

    

      

 Timbunan asam laktat         


   meningkat

   Kontraktilitas 


turun 

   
  
Impuls SA nodedan AV node

  Kegagalan pompa


jantung
Prdrn drh keslrh tbh
  Gagal jantung

[
    
 
Shgga drh tdk dpt dipompa dng baik

Drh akn statis di dalam jantung dan paru ± paru

Tjdi pe drh, cairan di dalam paru     

Lama klmaan akan trjdi infeksi  

  

E.‘ Test diagnostic


›‘ EKG
›‘ ÊT ± Scan
›‘ o ± Ray thorak
›‘ Test darah
›‘ Ekokardiagram
›‘ Angiografi koroner
›‘ Test stroke

F.‘ Penatalaksanaan medis


 ‘ Penatalaksanaan pada serangan akut
Penatalaksanaan rasa nyeri harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah
aktivasi saraf simpatis, penatalaksanaan nya sbb :
1. Penanganan nyeri
a). morphin sulfat
b). nitrat
c). beta bloker

D
2. ÿembatasi ukuran infark miokard

Penatalaksanaan nya yang diberikan bertujuan untuk membatasi


ukuran infark secara selektif yang dilakukan dengan cara meningkatkan suplai
darah dan oksigen kejaringan dengan pemberian :

›‘ Antikoagulan
›‘ Trombolitik
›‘ Antilipamik
›‘ Vasodilator perifer
3.‘ Pemberian oksigen
4.‘ Pembatasan aktivitas fisik
a‘ Penatalaksanaan pada jangka panjang
›‘ Pemberian diuretic
›‘ Pemberian beta bloker
›‘ Antilipamik
›‘ ÿemperpanjang istirahat
›‘ Tindakan pembedahan
G.‘ PENGKAJIAN
1.‘ Keluhan utama
2.‘ Riwayat penyakit sekarang
3.‘ Riwayat penyakit dahulu
4.‘ Riwayat keluarga
5.‘ Riwayat pekerjaan dan life style
6.‘ Kaji riwayat psikososial
7.‘ Pemeriksaan Fisik
a)‘ Keadaan umum klien
b)‘ Breathing : adanya sesak atau tidak
c)‘ Blood :
›‘ Inspeksi : adanya jaringan parut pada perut klien atau tidak
›‘ Palpasi : denyut nadi perifer turun atau naik.
›‘ Auskultasi : adanya bunyi jantung tambahan atau tidak

è
›‘ Perkusi : adanya pergeseran atau tidak pada batas ± batas
jantung
d)‘ Brain : kesadaran klien atas ÊAD
e)‘ Bladder : pengukuran vol. output urine
f)‘ Bowel : adanya mual dan muntah atau tidak
g)‘ Bone : adanya / ada perubahan aktivitas tidak, turunnya tonus otot, merasa
kelemahan dan kelelahan atau tidak.
.‘ DIAGNOSA
1)‘ Nyeri b.d ketidakseimbangan supply oksigen dan darahke miokard
2)‘ Resti penurunan curah jantung b.d perubahan irama jantung atau perubahan
kondisi elektrikal kondusi.
3)‘ Ketidakefektifan jalan napas b.d peningkatan cairan dalam paru.
4)‘ Resti gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan curah jantung,
5)‘ Intoleransi aktivitas b.d penurunan perfusi jaringan perifer akibat supply oksigen
yang tidak seimbanng.
6)‘ Êemas b.d perubahan kesehatan dan perubahan penyakitnya.
7)‘ Ketidakefektifan koping individu b.d prognosis penyakit dan perubahan peran.
8)‘ Resiko ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik b.d tidak mau
menerima perbahan pola hidup yang sesuai.

´
BRONKOPNEUÿONIA


A.‘ Definisi
Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari
suatu infeksi. (Price, 1995)

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi
jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. (Zul, 2001)

Bronkopneumonia digunakan unutk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola


penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam bronki dan
meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi
konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001).

B.‘ Klasifikasi Pneumonia


Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001) :

Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :


U‘Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas lobus
atau lobularis.
U‘ Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan
gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.
Berdasarkan faktor lingkungan
U‘ Pneumonia komunitas
U‘ Pneumonia nosokomial
U‘ Pneumonia rekurens
U‘ Pneumonia aspirasi
U‘ Pneumonia pada gangguan imun
U‘ Pneumonia hipostatik

Ñ
Berdasarkan sindrom klinis
U‘ Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama
mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta
pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan
jarang disertai konsolidasi paru.
U‘ Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan ÿycoplasma,
Êhlamydia pneumoniae atau Legionella.

Ê.‘ Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :

a.‘ Êommunity Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan bisa
berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal merupakan organisme penyebab
umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.
b.‘ ospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. Organisme seperti ini
aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus stapilococcus, merupakan bakteri umum
penyebab hospital acquired pneumonia.
c.‘ Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Sekarang ini
pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya menurut lokasi anatominya
saja.
d.‘ Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen penyebabnya,
kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak.

D.‘ Etiologi
›‘Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti :
Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif
seperti aemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.

›‘Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Êytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.

›‘Jamur

Ë
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan
udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta
kompos.

›‘Protozoa
ÿenimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (ÊPÊ). Biasanya menjangkiti
pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)

ù
E.‘ Pathways

c
F.‘ ÿanifestasi Klinis
a.‘ Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
U‘Nyeri pleuritik
U‘Nafas dangkal dan mendengkur
U‘Takipnea
b.‘ Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
U‘ÿengecil, kemudian menjadi hilang
U‘Krekels, ronki, egofoni
c.‘ Gerakan dada tidak simetris
d.‘ ÿenggigil dan demam 38,8 V Ê sampai 41,1VÊ, delirium
e.‘ Diafoesis
f.‘ Anoreksia
g.‘ ÿalaise
h.‘ Batuk kental, produktif
U‘Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
i.‘ Gelisah
j.‘ Sianosis
U‘Area sirkumoral
U‘Dasar kuku kebiruan
k.‘ ÿasalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati

G.‘ Pemeriksaan Penunjang


›‘Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi
(bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia
mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
›‘GDA : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada.
›‘Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum,
aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk
mengatasi organisme penyebab.
›‘JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
›‘Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
›‘LED : meningkat
cc
›‘Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps
alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun,
hipoksemia.
›‘Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
›‘Bilirubin : mungkin meningkat
›‘Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan
keterlibatan sitoplasmik(ÊÿV) (Doenges, 1999)

5.‘ Penatalaksanaan
a.‘ Kemoterapi
Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil
kultur spatum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan
antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila
terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan
penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (arasawa, 1989).

b.‘ Pengobatan Umum


1.‘ Terapi Oksigen
2.‘ idrasi
Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat dehidrasi dilakukan secara parenteral

3.‘ Fisioterapi
Pendrita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari
pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus.

.‘ Pengkajian
a.‘ Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia

Tanda : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas

b.‘ Sirkulasi
Gejala : riwayat gagal jantung kronis

Tanda : takikardi, penampilan keperanan atau pucat


cG
c.‘ Integritas Ego
Gejala : banyak stressor, masalah finansial

d.‘ ÿakanan / Êairan


Gejala : kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat Dÿ

Tanda : distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor

buruk, penampilan malnutrusi

e.‘ Neurosensori
Gejala : sakit kepala dengan frontal

Tanda : perubahan mental

f.‘ Nyeri / Kenyamanan


Gejala : sakit kepala nyeri dada meningkat dan batuk myalgia, atralgia

g.‘ Pernafasan
Gejala : riwayat PPOÿ, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan dangkal,
penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal

Tanda : sputum ; merah muda, berkarat atau purulen

Perkusi ; pekak diatas area yang konsolidasi, gesekan friksi pleural

Bunyi nafas : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas Bronkial

Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi

Warna : pucat atau sianosis bibir / kuku

h.‘ Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun, demam

Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin pada


kasus rubeda / varisela

i.‘ Penyuluhan
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis

c[
I.‘ DIAGNOSA KEPERAWATAN.
1.‘ Kebersihan jalan nafas tidak efektif b.d Inflamasi trakeobronkial, pembentukan oedema,
peningkatan produksi sputum
2.‘ Kerusakan pertukaran gas b.d Perubahan membran alveolar ± kapiler (efek inflamasi)
3.‘ Pola nafas tidak efektif b.d Proses inflamasi,Penurunan complience paru, dan Nyeri
4.‘ Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi
5.‘ Resiko tinggi penyebaran infeksi b.d Ketidakadekuatan pertahanan utama
6.‘ Intoleran aktivitas b.d Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
7.‘ Nyeri b.d Inflamasi parenkim paru
8.‘ Resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Peningkatan kebutuhan metabolik sekunder
terhadap demam dan proses infeksi, dan Anoreksia distensi abdomen
9.‘ Resti kekurangan volume cairan b.d Kehilangan cairan berlebihan (demam, berkeringan
banyak, hiperventilasi, muntah)
10.‘ Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan b.d Kurang terpajan
informasi

cD
ASUAN KEPERAWATAN PADA Tn. U

DENGAN GANGGUAN SISTEÿ KARDIOVASKULAR : ÊAD dengan AF Rapid Respon,


BRONKOPNEUÿONIA KANAN dan INFEKSI PARU

DI RUANGAN SU ± IÊ KAÿAR 04

RUÿA SAKIT SANTO SANTO BORROÿEUS BANDUNG

I.‘ PENGKAJIAN

A.‘ Pengumpulan Data

a.‘ Data Umum


a.‘ Identitas Klien

Nama : Tn. U

Umur : 69 thn

Jenis Kelamin : Laki - Laki

Agama : Islam

Pendidikan : S3

Status Perkawian : Kawin

Tanggal,Jam masuk : 27 september 2010,Jam 09.00 WIB

Tanggal,Jam pengkajian : 29 september 2010, Jam 15.00 WIB

No.regristrasi : B - 019395

Diagnosa ÿedis : ÊAD AF Rapid Respon BP kanan

Alamat : Sukasari, geger kalong hilir 14


b.‘ Identitas Keluarga/Penanggung Jawab

Nama : Ny. T

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Pekerjaan : Pensiunan PNS

ubungan dengan Klien : Istri

Alamat : Sukasari, geger kalong hilir 14

b.‘ Riwayat Kesehatan


a.‘ Riwayat kesehatan klien
1)‘ Riwayat kesehatan sekarang
a)‘ Alasan masuk rumah sakit
Klien mengatakan batuk selama 2 minggu dari tgl 27 september
2010, dan hari jumat tgl 24 september 2010 klien mulai demam, pusing
dan nyeri dada sebelah kiri, kemudian dibawa ke UGD, di UGD
setelah diperiksa dokter diberikan obat cordarone drip 1 mg/mnt
kemudian dibawa ke SU ± IÊ kamar 04

b)‘ Keluhan utama


Klien mengatakan sesak terus dari tgl 27 september 2010 (hari
senin)
c)‘ Riwayat penyakit sekarang(PQRST)
Klien mengatakan sampai saat ini dari 2 minggu yang lalu
tepatnya 2 minggu sebelum tgl 27 september adalah sesak sepertinya
ada yang menumpuk dalam paru ± parunya, dan akan meningkat saat
berbicara lama dan akan hilang atau berkurang bila klien istirahat
bicara dan setelah di uap, dan sesaknya terasa membuat tercekik
sampai tidak bias bicara, sesaknya juga sering terjadi setiap saat atau
tiap hari dan akan terasa menyebar dibagian dada dan akan terasa
nyeri. Sesaknya terasa sampai skala 2 dengan criteria skala :

0‘ : Tidak ada sesak
1‘ : Sesak ringan tanpa aktivitas.
2‘ ; Sesak sedang dengan aktivitas ringan.
3‘ : Sesak berat dengan aktivitas ringan.
4‘ : Sesak berat dengan aktivitas berat.

Dan klien akan terasa sesak pada saat bicara lama.

d)‘ Keluhan yang menyertai

Klien mengatakan batuk ± batuk, nyeri dada, dan pusing

e)‘ Riwayat tindakan konservatif dan pengobatan yang telah didapat

Klien masuk ke SU ± IÊ dari UGD dengan menggunakan tempat tidur,


dan mendapatkan pengobatan dengan cordarone 600 mg : 1 mg/mnt

2)‘ Riwayat kesehatan masa lalu


a)‘ Riwayat alergi

Klien mengatakan tidak ada alergi obat ± obatan tapi ada alergi
terhadap makanan udang dan kepiting

b)‘ Riwayat penyakit sebelumnya


Klien mengatakan pernah sakit jantung dan dilakukan operasi ÊABG
pda tahun 2004 disingapore dirmah sakit ÿona Elisabet, dan di RSS
pada tahun 2007, dan mempunyai penyakit katarak dan dioperasi diR.S
cicendo pada tahun 2009.

c)‘ Riwayat rawat inap sebelumnya

Klien mengatakan pernah dirawat disingapore tahun 2004 dan diRSS


tahun 2007 karena penyakit jantungnya untuk operasi ÊABG.

d)‘ Riwayat operasi


Klien mengatakan pernah operasi mata di RS Êicendo tahun 2009, dan
ÊABG dsingapore tahun 2004 dan diRSS tahun 2007
e)‘ Riwayat tranfusi darah
Klien mengatakan pernah mendapat transfusi darah sewaktu dilakukan
operasi ÊABG, tapi klien lupa jumlah trnfusi darahnya.
f)‘ Riwayat pengobatan
Klien mengatakan rutin sring mengkonsumsi obat ± obat untuk jantung
dan hipertensinya yaitu : captopril, simvastatin, dan cardismo.

Riwayat Kesehatan Keluarga

1)‘ Riwayat penyakit anggota keluarga yang menurun dan menular


Klien mengatakan ada riwayat penyakit dari kedua orang
tuanya, ayahnya mempunyai penyakit jantung, hipertensi, ibunya
mempunyai penyakit paru ± paru dan gula.

2)‘ Keadaan kesehatan lingkungan


Klien mengaku perumahan tidak padat penduduk, jauh dari
pembuangan tempat sampah, jauh dari pabrik dan pasar dan dekat
dengan jalan raya. Klien mengatakan rumahnya nyaman dengan
pencahayaan yang baik.

3)‘ Genogram 3 Generasi :

Keterangan :
: Kakek

: Nenek

: Ayah

: Ibu

: Anak laki - laki

: Anak perempuan

: Klien (Tn. U)

: Istri Klien (Ny. T)

: Anak perempuan Tn. U dan Ny. T

: Garis yang serumah

: Garis keturunan

c.‘ Data Biologis


a.‘ Penampilan umum :
Klien tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, berbaring lemas
ditempat tidur, terpasang infuse pam ditangan kiri, dan terpasng bedsaid
monitor dan terpasang oksigen 8 L/ÿnt via Sÿ, pasien membutuhkan bantuan
utnuk ADLnya.
b.‘ Tanda-tanda vital :

Jam 15.00 WIB

›‘ TD :167/92 mmg ditangan kanan


›‘ RR : 22 x/mnt, ireguler


›‘ Suhu :37,5 0Ê/aksila
›‘ R : 93 x/mnt,iregular di arteri radialis kanan
›‘ SpO2 : 95%

Jam 16.00 WIB

›‘ TD : 140/75 mmg
›‘ RR : 28 x/mnt,ireguler
›‘ Suhu : 38,5 0 Ê per axilla, tangan kanan
›‘ R : 98 x/mnt, ireguler ditangan kanan
›‘ SpO2 : 98 %

Jam 17.00 WIB

›‘ TD : 159/92 mmg ,ireguler ditangan kanan


›‘ RR : 33 x/mnit, ireguler
›‘ Suhu : 38,7 0Ê per axilla ditangan kiri
›‘ R : 85 x/mnit, ireguler
›‘ SpO2 : 96 %

Jam 18.00 WIB

›‘ TD : 118/62 mmg, ireguler ditangan kanan


›‘ RR : 34 x /mnt, ireguler
›‘ Suhu : 37,8 0 Ê
›‘ R : 94 x/mnt, ireguler
›‘ SpO2 : 97%

c.‘ Tinggi badan : 160 cm


Berat badan : 68 kg
IÿT : 26,5 dibulatkan ( 27 )
Klien kategori obesitas

G
d.‘ Anamnesa dan pemeriksaan fisik per sistem
1)‘ Sistem Pernafasan
Anamnesa :
klien mengatakan sesak, sulit bernapas karena ada batuk, tapi
dahaknya tidak mau keluar.
Inspeksi :
Pasien tidak menggunakan pernapasan cuping hidung, septum nasi
simetris, hidung tampak bersih, kondisi mukosa hidung lembab, tidak
ada polip, klien tidak terpasang oksigen 8 L/mnt via Sÿ. Bentuk dada
simetris kanan dan kiri ukurannya sama dengan pergerakan dada
simetris. Klien tidak menggunakan otot-otot tambahan pernapasan.
Pola irama pernapasan tidak teratur > 20 x/mnt (tacypnea)
Palpasi :
Tidak ada nyeri pada daerah sinus paranasalis, getaran saat taktil
fremitus teraba lebih besar pada bagian kanan paru, tidak ada krepitasi.
Perkusi :
Saat diperkusi terdengar bunyi sonor pada intercostalis 1-6 kanan
dan kiri.
Auskultasi :
Terdengan suara napas Vesikuler diseluruh lapang paru,terdengar
napas tambahan (wheezing dan Ronchi) dan saat diauskultasi vocal
resonan, getaran terdengar lebih besar disebelah kanan lapang paru.

2)‘ Sistem Kardiovaskuler


Anamnesa :
Klien mangatakan kebiasaannya setiap hari tidak pernah
mengkonsumsi alkohol dan merokok. Klien mengatakan pusing, sesak
sampai nyeri dada, badan terasa panas yaitu 38,5 0 Ê.
Inspeksi :
Ictus cordis tidak terlihat, clubbing of the finger belum dikaji, saat
dikaji klien tidak ada mimisan dan tidak ada cyanosis sekitar mulut,
bibir, dan dasar kuku capillary refill 2 ± 3 detik.
Gc
Palpasi :
Ictus cordis teraba pada IÊS 5 midclavikularis, tidak teraba thrill,
capillary refill time adalah 2 ± 3 detik. Saat dilakukan pitting pada
dorsalis pedis, tibia dan maleolus tidak terdapat edema.
Perkusi :
Batas ± batas jantung dengan suara ketukan pekak
1.‘ Atas : terletak di IÊS 2
2.‘ Bawah : terletak di IÊS 5
3.‘ Kanan : terletak pada linea sternum kanan
4.‘ Kiri : terletek pada linea midclavicularis kiri

Auskultasi :

Tidak terkaji

3)‘ Sistem Pencernaan

Anamnesa:

Klien mengatakan saat sehat makan 3 ± 4 kali sehari, suka semua


jenis makanan, kecuali kepiting dan udang, namun sejak sakit klien
mengatakan mual, klien hanya bisa menghabiskan setengah porsi, diat
yang dilakukan oleh klien adalah diet jantung ( DJ ).
Klien mengaku saat sehat BAB klien lancer (2 ± 3 hari ) sekali
dan, namun saat klien sakit, klien mangatakan sulit BAB, dan merasa
tidak nafsu makan.
Inspeksi :

Keadaan mulut klien, bibir klien tampak kering, lidah tampak


kotor sedikit, tidak terdapat stomatitis, terdapat gigi yang tanggal pada
bagian geraham kanan atas, keadaan tonsil T1

Bentuk abdomen bunsit, tidak terdapat gambaran bendungan


pembuluh vena di kulit abdomen, tidak terdapat spider naevi dan tidak
ada distensi abdomen.

GG
Auskultasi :

Bunyi peristaltik usus kuat, bising usus 10 x/menit

Palpasi :

Pada kuadran kanan bawah klien mengatakan tidak terasa nyeri


tekan. Tidak ada massa diseluruh kuadran. Saat ditekan tidak ada
nyeri pada titik ÿc Burney. Saat dipalpasi didaerah hepar tidak teraba,
dan lien tidak teraba.

Perkusi :

Terdengar bunyi Timpani.

4)‘ Sistem Perkemihan


Anamnesa :
Klien mengatakan sebelum dan saat sakit klien BAK 7o dalam
sehari. Klien mengatakan tidak ada kesulitan saat BAK, dan tidak ada
keluhan nyeri atau panas saat BAK. ÿenurut klien warna air
kencingnya kuning jernih, tidak pernah kencing berdarah. Jumlah
urine + > 100 cc/ jam / output
Klien mengaku minum sampai 100 ± 120 cc/ minum
Inspeksi :
Tidak ada distensi pada region suprapubic, tidak menggunakan
kateter urine.

Palpasi :
Tidak teraba massa di daerah suprapubic dan tidak ada keluhan
nyeri.

Perkusi :
Terdengar tympani pada region suprapubic dan tidak ada nyeri
ketuk pada daerah sudut costo vertebral kanan dan kiri.

G[
5)‘ Sistem Persyarafan
Anamnesa :
Klien mengeluh sulit tidur, sering terbangun, nyeri kepala seperti
ditusuk-tusuk.
Inspeksi :
Bentuk muka bulat dengan mulut simetris, tidak ada tremor
ԑ Kesadaran kualitatif klien : Êompos ÿentis
ԑ Nilai GÊS : Verbal 6
ÿotorik 5
Eye 4

15
Uji saraf cranial :

I.‘ Olfaktorius : Klien mampu mencium bau minyak kayu putih


II.‘Optikus : Klien mengatakan bahwa penglihatannya kurang saat
membaca Koran dengan jarak 30 cm sehingga menggunakan kacamata
min 3.
III.‘Okulomotorius: Klien mampu menggerakan bola mata ke kiri dan
kekanan
IV.‘Trokleari : Klien mampu menggerakkan bola mata ke atas dan
kebawah
VI. Abdusen : Klien mampu memutarkan bola mata

V. Trigeminal : Klien bisa merasakan rangsangan yang di berikan


oleh perawat pada pipi kiri dan kanan.
? ‘ Reflex kornea : klien bisa berkedip pada saat
diberikan reflex pada kornea.
? ‘ Klien bisa mengunyah, dan kontraksi menelan
sisi rahang sama walau klien mengeluh nyeri

GD
menelan.
VII. fasialis : - Klien bisa tersenyum, bisa mengangkat alis, dan
mengerutkan dahi.
ԑ Klien bisa membedakan rasa manis dari gula dan
rasa asin dari garam
VIII. Vestibulakoklearis : Klien bisa mendengarkan gesekan tangan dari
perawat pada telingga kanan dan kiri
Io. Glosofaringeus : Pada saat makan klien bisa menggerakkan
lidah.
o. Vagus : ada refleks menelan.
oI. Asesorius : klien bisa mengangkat bahu
oII. ipoglosus : klien bisa menjulurkan lidah keluar.

Perkusi :
Reflek fisiologis +/+
Reflex patologis -/-
6)‘ Sistem ÿuskuloskletal
Anamnesa:
Klien mengatakan klien agak lemastapi tidak lelah, tidak
ada nyeri pada tulangnya
Inspeksi:
- ekstremitas kiri dan kanan sama, tidak ada atrofi
ataupun hipertrofi
- Rentang gerak
4 4
5 5
- Kekuatan otot
5 5
5 5
- Vertebra lurus
Palpasi :
tidak ada nyeri pada area vertebra


7)‘ Sistem Pancaindera
Anamnesa :
Penglihatan = klien mengatakan menggunakan kacamata (-),
yaitu ± 3
Pendengaran = klien mengatakan tidak menggunakn alat bantu
mendengar
Inspeksi :
Penglihatan = konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik,
palpebra tidak ada kelainan yang
ditemukan.Pendengaran= Kondisi pina
simetris, ada reflek cahaya, isokor diameter 2/2
mm.
Palpasi :
TIO secara manual sama antara kanan dan kiri

8)‘ Sistem Endokrin

Anamnesa :

Klien mengatakan tidak sering kencing dan tidak keluar


keringat banyak. Klien juga mengatakan tidak ada lesi yang lama
sembuh

Inspeksi :

›‘Bentuk tubuh simetris, tidak ada gigantisme, kretinisme


›‘Tidak ada pembesaran pada ujung ekstremitas bawah/ atas

Palpasi :

›‘Tidak teraba pembesaran kelenjar tipoid


9)‘ Sistem reproduksi

Anamnese

Ց Klien mengatakan tidak ada masalah kecuali karena usianya sudah


lanjut
Ց Klien mengatakan mempunyai seorang istri dan 1 orang anak
perempuan
Ց Klien mengatakan tidak ada masalah dalam berhubungan dengan
pasangan hidupnya, hanya saja factor usia yang sudah lanjut.

Inspeksi

›‘ Kebersihan dari genetalia, cairan tidak ada yang keluar dan tidak
berbau, tidak ada hipospedia dan itdak ada edema di bagian genetalia

10)‘ Sistem integumen


Anamnesa :
klien mengatakan mencuci rambut 2 hari sekali dan mandi setiap
hari selama sehat. Namun selama sakit klien mengaku hanya dilap dan
tidak keramas. Klien mangatakan rambutnya tidak rontok, hanya saja
ada uban/ rambut putih.
Inspeksi :
›‘ Distribusi rambut merata, warna pangkal rambut putih sampai batang
rambutnya, bentuk kuku normal.
›‘ Kulit tidak berwarna kuning, integritas kulit utuh(tidak ada luka, tidak
ada bintik merah).
Palpasi :
›‘ Tekstur kulit kering, turgor kulit kembali cepat setelah dicubit


4.‘ Data psikologis

a. Status emosi : stabil dan terkendali.

b. Konsep diri

›‘ Gambaran diri : klien mengatakan dirinya seorang suami dan seorang


ayah dari 1 orang anak perempuan.
›‘ arga diri : klien mengatakan bahwa dirinya sudah menjadi orang
tua yang baik untuk anaknya dan istrinya
›‘ Ideal diri : klien tampak cukup menikmati dan puas dengan perannya
sebagai kepala keluarga
›‘ Identitas diri : klien mengaku adalah orang yang ramah dan periang
›‘ Peran : klien mengatakan adalah seorang ibu rumah tangga yang
mengurusi rumah keseluruhan tapi saat dia sakit perannya digantikan
oleh cucunya.

c. Gaya komunikasi : klien memakai bahasa campuran sunda Indonesia dan


informasi diberikan jelas

d. Pola interaksi : ubungan orang lain dan keluarga tidak bermasalah

e. Pola mengatasi masalah: klien mengatakan cara mengatasi masalah dengan


membicarakan dengan istrinya

5.‘ Data sosio-spiritual


a. Pendidikan pekerjaan: terganggu karena tidak bias mengajar.
b. ubungan social : ingin selalu berbincang ± bincang serta mendapat
dukungan didapat dari keluarga.
c. Social dan kultur : bersosial dan selalu akrab dengan tetangga
d. Gaya hidup : klien mengatakan sering mengkonsumsi obat captopril.
e. Arti kehidupan : sebuah anugrah dar Tuhan.
f. Arti kematian : akhir dan untuk menemukan hidup yang baru.
i. ubungan dengan Tuhan : klien mengatakan dirinya sering menjalankan
sholat 5 waktu

j. arapan tentang sehat dan sakit: klien mengatakan ingin segera sembuh agar
mampu mengajar kembali dan bertemu keluarganya dirumah.
k. Kegiatan agama yang diikuti : pengajian

6.‘ Persepsi klien terhadap penyakitnya : cobaan dari Tuhan dan untuk direnungkan.

7.‘ Data penunjang :


a.‘ Lab :
ematologi
27‘ September 2010 hsl nilai normal
b 12,7 pria : 15,9 ± 18 gr/dl
Wanita : 12 ± 16 gr/dl
Baru lahir : 14 ± 24 gr/dl
Bayi : 10 ± 15 gr/dl
Anak2 : 11 ± 16 gr/dl
Lekosit 7400 5000 ± 10000 / uL
Neonates:9000±30000/uL
< 2 thn : 6200-17000/uL
t 37 pria : 40-54 %
Wanita : 38-47 %
Naru lahir : 44-64 %
Bayi : 30-40 %
Anak2 : 31-43 %
Trombosit 231.000 150.000-450.000 / uL
Kimia
Ureum 45 10 ± 50 mg/dl
Kreatinin ( darah ) 1,5 pria : < 1,5 mg/dl
Wanita : <1,1 mg/dl
Kalium ( darah ) 3,9 3,5 ± 5,3 mmol/L
Natrium ( darah ) 137 135 ± 145 mmol /L


Glukosa sewaktu 206 bukan Dÿ : < 100
Blm pasti Dÿ : 110 ± 199
Dÿ : > 200
ematologi
Nilai rujukan
LED ± 1 jam pria : < 10 mm / ih
Wanita : < 15 mm / ih
itung jenis ( deff count )
Basofil :% 0 ± 1%
Eosisiofil :1% 1±6%
ÿiolonosit :% -
ÿefamiolosit : % -
Net batang :% 2±6%
Net segmen : 80 % 50 ± 70 %
Limfosit : 13 % 20 ± 40 %
ÿonosit :6% 2±8%

Kimia
asil nilai rujukan
Êholesterol total 203 < 200 mg/dlm(dws)
Konsesus lipid : < 200 mg/dl
Batas Tinggi : 200 ± 239 mg/dl
Tinggi : > 240 mg/dl
Êholesterol alfa ( DL ) 45 > 45 mg/dl ( dws )
Konsesus lipid : < 40 ( rendah )
Tinggi : > 60 mg /dl
Êholesterol beta 122 < 100 ( dws )
Konsesus lipid : < 100 mg/dl
Optimal : 100 ± 125 mg/dl
tinggi : 130 ± 159 mg/dl
Sangat tinggi : 160 ± 189 mg/dl

[
Triglyserida 149 < 150 mg/dl ( dws )
Konsesus lipid :
Batas tinggi : <150±190 mg/dl
Tinggi : 200 ± 499 mg/dl
Sangat tinggi : > 500 mg/dl
b.‘ Radiologi :
EKG, hasil :
›‘ Normal sinus rythem
›‘ Possible left atrial enlangemant
›‘ Prolonged QT
›‘ Abnormal EÊG
c.‘ Terapi

a). oral : 1. Plavix

I : pengurangan kejadian arterosklerosis pada AÿI, stroke

ÊI : perdarahan yang aktif, penurunan berat hati

2.‘ Aktivan
I:
ÊI :
3.‘ Narfoz
I : untuk mual dan muntah
ÊI : hipersensitif terhadap ondansentron
4.‘ Sumagesic
I : untuk nyeri kepala, nyeri gigi, nyeri otot, dan penurun panas
ÊI :
5.‘ Êardismo
I : untuk penyakit jantung koroner jangka panjang
ÊI : hipotensi, hipovolemik
6.‘ Simvastatin
I:
ÊI :

[c
7.‘ Aspilet
I : untuk penyakit AÿI
ÊI : asma, peptic ulcer yang masih aktif
8.‘ Êaptopril
I : untuk menurunkan tekanan darah
ÊI : kehamilan , kerusakan ginjal
9.‘ Ventolin
I : untuk pengencer dahak
ÊI :
b). parenteral
1)‘ cordarone

I : untuk penyakit jantung yang irama jantungnya tidak


teratur/terganggu

ÊI : sinus brakikadi

2)‘ cedocard
I : untuk mengantisipasi serangan AÿI
ÊI : anemia, hipotensi
c). Diit : Diet janttung ( DJ )
d). acara infuse : Ring As ( 27 september ), Asering ( 28 september ) 21
tetes/mnt
f). ÿobilisasi : Bedrest

[G
B.‘ Pengelompokkan Data :
Data Subjektif Data objektif
›‘ Pasien mangatakan batuk2 + 2 minggu ›‘O2 : 8 liter/mnt
›‘ Pasien mangatakan pusing dan nyeri ›‘TD : 167/92 mmg
dada kiri ›‘RR : 22 x/mnt
›‘ Pasien mangatakan sesak napas ›‘R : 134 x/mnt
›‘ Pasien mangatakan ada alergi ›‘S : 38,7 0Ê
makanan ›‘RR : 32 x/mnt
›‘ Pasien mangatakan ada penyakit yg ›‘S : 38,5 0Ê
sama dari ayahnya ›‘RR : 34 x/mnt
›‘ Pasien mangatakan tidak minum ›‘Kreatinin : 1,5 mg/dl ( < 1,5 mg/dl )
alcohol dan merokok ›‘GDS : 203 mg/dl ( 100 ± 150 mg/dl )
›‘ Pasien mangatakan pernah dirawat ›‘Net segmen : 80 ( 50 ± 70 )
sebelumnya ›‘Êholesterol total : 203 ( < 200 )
›‘ Pasien mangatakan pola makannya ›‘Êholesterol beta/LDL : 122 (< 100)
teratur di R.S, tapi tidak ada nafsu ›‘Gambaran EKG
makan. ›‘Foto thorak
›‘ Pasien mangatakan pada saat makan
terasa mual.
›‘ Pasien mangatakan tidak ada kesulitan
saat b.a.k dan tidak ada nyeri saat b.a.k
›‘ Pasien mangatakan sulit tidur, sampai
sakit kepala.
›‘ Pasien mangatakan sedikit lemas.
›‘ Pasien mangatakan sering b.a.k saat di
R.S

[[
Ê.‘ Analisis Data
Data Etiologi ÿasalah
1. DS : a. pasien mengeluh Kontaktilitas
sesak Impuls SA dan AV node 1.Ketidakefektifan jalan napas
DO : a. O2 8 L/mnt Peredaran darah keseluruh 2. Sesak
b. RR 22-34 x/mnt tubuh
c.‘TD 167/92 mmg Darah tdk dpompa dgn baik
0
d. S : 38,7 Ê Drh akn statis di dalam jantung
dan paru ± paru
e.‘N : 134 x/mnt
f.‘spO2 : 98 % Tjdi pe drh, cairan di dalam paru

Ketidakefektifan jalan napas


sesak

2, DS : a. pasien mengatakan 1.‘ Nyeri


Suplly O2 ke jantung
nyeri dada kiri
DO : a. TD : 167/92 mmg
ÿetabolisme an aerob
b.‘ N : 134 x/mnt
c.‘ S : 38,7 0Ê
Timbunan asam laktat
d.‘ RR : 22-34 x/mnt
e.‘ spO2 : 96 %
Nyeri

3, DS : a. pasien mengatakan
Suplly O2 kejantung
sesak 1.‘ Penurunan curah jantung
DO : a. N : 94-134 x/mnt
Seluler hipoksia
b.‘ TD :167/92 mmg
c.‘ S : 38,7 0Ê
Integritas membrane berubah
d.‘ RR : 22-34 x/mnt
e.‘ EKG : abnormal,
Kontaksi jantung
AF (possible left
atril)
Penurunan curah jantung

[D
4.‘ DS : pasien mangatatakan Kontaktilitas 1.‘ ipertermi
Panas badannya Impuls SA dan AV node
DO : TD 167/92 mmg Peredaran darah keseluruh
N : 94-134 x/mnt tubuh
RR : 22-34 x/mnt Darah tdk dpompa dgn baik
0
S : 38,7 Ê Drh akn statis di dalam jantung
dan paru ± paru
spO2 : 98 %
Tjdi pe drh, cairan di dalam paru

Lama kelamaan terjadi infeksi


ipertermi

5.‘ DS : pasien mangatatakan 1.‘ Resti infeksi


Kontaktilitas
Panas badannya
Impuls SA dan AV node
DO : TD 167/92 mmg
Peredaran darah keseluruh
N : 94-134 x/mnt
tubuh
RR : 22-34 x/mnt
Darah tdk dpompa dgn baik
S : 38,7 0Ê
Drh akn statis di dalam jantung
spO2 : 98 % dan paru ± paru

Tjdi pe drh, cairan di dalam paru

Lama kelamaan terjadi infeksi


Resti infeksi

6.‘ DS : pasien mengatakan Suplly O2 ke jantung 1.‘ Intoleransi aktivitas


lemas, serta sesak
jika bergerak ÿetabolisme an aerob
DO : a). TD 167/92 mmg
b)‘N : 94-134 x/mnt Timbunan asam laktat
c)‘RR : 22-34 x/mnt
d)‘S : 38,7 0Ê Intoleransi aktivitas


e)‘spO2 : 98 %
f)‘ pasien tampak
berbaring ditempat
tidur

7.‘ DS : a. pasien Suplly O2 ke jantung 1.‘Êemas


mengatakan nyeri
dada kiri ÿetabolisme an aerob
DO : a. TD : 167/92 mmg
f.‘ N : 134 x/mnt Timbunan asam laktat
g.‘ S : 38,7 0Ê
h.‘ RR : 22-34 x/mnt Nyeri
i.‘ spO2 : 96 %
Êemas

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1.‘ Ketidakefektifan jalan napas b.d peningkatan cairan dalam paru
2.‘ Resti penurunan curah jantung b.d perubahan irama jantung atau perubahan kondisi
elektrikal kondusi.
3.‘ Intoleransi aktivitas b.d penurunan perfusi jaringan perifer akibat supply oksigen yang
tidak seimbanng.


DAFTAR PUSTAKA

1.‘ Pasiyan Rahmatullah (1999), 6 


  
. Editor : R. Boedhi
Darmoso dan adi ÿartono, Jakarta, Balai Penerbit FKUI

2.‘ Doenges, ÿarilynn (2000). M 


  , Edisi 3, Jakata : EGÊ.

3.‘ Smeltzer SÊ, Bare B.G (2000). Œ



   Π , Volume I,
Jakarta : EGÊ

4.‘ Suyono, (2000). 


  . Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

5.‘ Reevers, Êharlene J, et all (2000).   Œ  , Jakarta : Salemba


ÿedica.

6.‘ Lackman¶s (1996). Ê    



 , Philadelpia
: WB Saunders Êompany.


III. RENÊANA ASUAN KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


1 1.‘Ketidakefektifan jalan Jalan napas dapat kembali ›‘ Kaji skala sesak pasien ›‘ Skala sesak dapat menunjukkan
napas b.d peningkatan noemal dalam 3 x 24 jam, intervensi yang akan dilakukan
cairan dalam paru dengan criteria: ›‘ Observasi TTV ›‘ Sesak dapat meningkatkan TTV
DS : a. pasien mengeluh ›‘ pasien tidak mengeluh ›‘ Kaji oksigen pasien ›‘ Untuk mengetahui sesaknya
sesak sesak/ sesak berkurang ›‘ Kaji intake output pasien ›‘ Untuk mengetahui jumlah cairan
DO : a. O2 8 L/mnt ›‘ tidak memakai O2 dalam tubuh pasien
b.‘RR 22-34 x/mnt ›‘ TTV dalam batas ›‘ Berikan uap/nebulizer ›‘ Untuk mengencerkan dahak dalam
c.‘TD 167/92 normal paru.
mmg a.‘TD 120/80 mmg ›‘ Kolaborasi dengan perawat untuk ›‘ Untuk mengurangi kesalahan
0
d.‘ S : 38,7 Ê b.Nadi 70-100 x/mnt pemberian obat dalam pemberian obat
e.‘N : 134 x/mnt c.‘Suhu 36,5 Ê 0
›‘ Kolaborasi dengan ahli gizi dalam ›‘ Untuk mengurangi penumpukan
f.‘spO2 : 98 % d.RR 18-20 x/mnt diit lunak dahak dalam saluran pernapasan
e.‘spO2 90-99 % ›‘ Kolaborasi dengan dokter dalam ›‘ Untuk mempercepat kesembuhan
pemberian terapi obat pasien
›‘ ÿengajarkan cara pemakaian bel ›‘ ÿempermudah klien dalam
pemanggil memanggil perawat saat
dibutuhkan


2 Resti penurunan curah Jantung dapat kembali ›‘ Kaji TTV ›‘ Untuk memonitor TTV
jantung b.d perubahan berkontraksi dengan normal ›‘ Berikan makan sedikit demi ›‘ Agar tidak sesak saat makan
irama jantung atau sehingga tidak lagi sedikit
perubahan kondisi menglami penurunan curah ›‘ Observasi EKG setiap hari ›‘ Untuk mengetahui
elektrikal kondusi. jantung dalam 3 x 24 jam perkembangan iraman jantung
ditandai dengan : Dengan kriteria : pasien
DS : pasien mengatakan ›‘ Pasien tidak ›‘ Kolaborasi dengan perawat ›‘ Untuk mengurangi sesalahan
sesak mengatakan sesak untuk pemberian obat dalam pemberian obat
DO : ›‘ TTV dalam batas ›‘ Kolaborasi dengan dokter ›‘ Untuk memberikan rasa
a. N : 94-134 x/mnt normal pemberian obat ± obatan yaitu : nyaman pada pasien khususnya
b.‘ TD :167/92 a.‘TD 120/80 mmg cordarone dan cedocard cordarone untuk iraman yang
mmg b.Nadi 70-100 x/mnt takikardi
0 0
c.‘S : 38,7 Ê c.‘Suhu 36,5 Ê ›‘ Kolaborasi dengan ahli gizi ›‘ Untuk memberikan kesehatan
d.RR : 22-34 x/mnt d.RR 18-20 x/mnt dalam pemberian diit jantung pada jantung pasien.
e.‘spO2 : 97 % e.‘spO2 90-99 % ›‘ ÿengajarkan cara pemakaian ›‘ ÿempermudah klien dalam
f.‘EKG : abnormal, f.‘gambaran EKG bel pemanggil memanggil perawat saat
AF (possible left menjadi sinus dibutuhkan
atril) rythem


3 Intoleransi aktivitas b.d Aktivitas pasien dapat ›‘ Kaji TTV ›‘ Untuk memonitor TTV
penurunan perfusi terpenuhi dalam 3 x 24 jam ›‘ Berikan makanan sedikit demi ›‘ ÿakan sedikit demi sedikit
jaringan perifer akibat dengan kriteria : sedikit diberikan untuk menberikan
supply oksigen yang ›‘ pasien tidak lemas kalori yang dibutuhkan secara
tidak seimbanng. dan tidak sesak lagi maksimal
ditandai dengan: ›‘ TTV dalam batas ›‘ Kolaborasi dengan perawat untuk ›‘ Untuk mengurangi kesalahan
DS : pasien mengatakan normal pemberian obat dalam pemberian obat
lemas, serta sesak a)‘TD 120/80 mmg ›‘ Kolaborasi dengan dokter untuk ›‘ Untuk mempercepat
jika bergerak b)‘Nadi 70-100 x/mnt pemberian obat ± obatan kesembuhan pasien
DO : c)‘Suhu 36,5 0Ê ›‘ Kolaborasi dengan ahli gizi untuk ›‘ Untuk memberikan makana
a)‘ a). TD 167/92 d)‘RR 18-20 x/mnt makanan kesukaan klien tanpa yang sesuai dan kalori yang
mmg e)‘spO2 90-99 % bertentangan dengan diit dibutuhkan cukup
b)‘ N : 94-134 x/mnt ›‘ pasien tidak ›‘ ÿengajarkan cara pemakaian bel ›‘ ÿempermudah klien dalam
c)‘ RR : 22-34 berbaring lagi pemanggil memanggil perawat saat
x/mnt ditempat tidur dibutuhkan
0
d)‘ S : 38,7 Ê
e)‘ spO2 : 98 %
f)‘ pasien tmpk
brbrng dt4 tidur

D
IV. IÿPLEÿENTASI

No Tanggal Jam Implementasi Nama perawat


1 27-9-2010 10:30 ›‘ ÿengkaji ulang keadaan umum klien Aspa
R: klien sedang terasa nyeri pada dada
kirinya
: klien tampak sakit sedang kesadaran
compos mentis, klien tampak
meringis kesakitan. Klien Nampak
lemas.
10:00 ›‘ ÿembantu memberikan oksigen Aspa
R : klien menerima bantuan dari perawat
 : klien tampak lemas, meringis dan sesak
sambil memegang dada kirinya
10:35 ›‘ ÿengobservasi tanda vital klien Aspa
R : klien menyetujui untuk di observasi
 : TD : 167/92 mmg
N : 134 x/mnt
S : 38,7 0Ê
RR : 22-34 x/mnt

Dc
spO2 : 96 %

2 28-9-2010 07: 45 ›‘ ÿengkaji ulang keadaan umum klien Aspa


R : klien sedang berbaring
 : klien tampak sakit sedang, klien
tampak lemas. Terpasang infus
asering 20 tts/jam di tangan sebelah
kiri dengan infuse pam.
08:00 ›‘ ÿemberi terapi obat oral dan observasi Aspa
TTV
R : klien terbangun dari tidurnya, dan
meminum obatnya dengan posisi tidur
 : klien berisitirahat kembali
TD : 167/92 mmg
N : 134 x/mnt
S : 38,7 0Ê
RR : 22-34 x/mnt
spO2 : 96 %

DG
08.30 ›‘ ÿembantu klien untuk morning care Aspa
dan membereskan lingkungan
R : klien kooperatif dengan mengikuti
instruksi perawat.
 : klien mengatakan masih sesak,
batuk juga dan dahak tidak mau keluar
10 : 00 ›‘ ÿenagukur TTV Aspa
R : pasien tampak tenang
 : TD : 167/92 mmg
N : 134 x/mnt
S : 38,7 0Ê
RR : 22-34 x/mnt
spO2 : 96 %
11 : 25 ›‘ ÿemberi uap dengan obat ventolin Aspa
R : pasien menghirup uap yang
diberikan
 : pasien masih mengeluh sesak dan
dahaknya tidak mau keluar keluar

D[
12.00 ›‘ ÿembantu untuk makan bubur Aspa
R : pasien dapat makan buburnya, tidak
memuntahkan makanan
 : pasien habis ¼ porsi

13 : 30 ›‘ ÿemberikan obat oral Aspa


terapi obat :
-‘ Oabat aktivan
R : klien meminum obat yang di
berikan perawat
 : pasien bisa tidur tapi tidak terlelap

3. 29-09-2010 13 : 30 ›‘ ÿembantu pemenuhan kebutuhan Aspa


eliminasi klien
R : klien meminta di bantu alat pispot
di dekatkan.
 : klien BAK dengan posisi tidur di
atas tempat tidur, Dengan hasil
urine kuning jernih, dan jumlahnya

DD
100 cc
14.00 ›‘ ÿelakukan pemeriksaan fisik Aspa
R : pasien dapat bekerja sama dan baik
sekali untuk berbicara sedikit
 : pasien mengatakan sesak terus saat
berbicara lama,dan lemas serta
jantungnya berdebar ± debar kuat.
Bunyi napas tambahan ada
wheezing dan ronchi
15 : 00 ›‘ ÿembantu seka pasien dengan posisi Aspa
tidur ditempat tidur
R : klien tampak lemas, dan klien
dapat menuruti perawat
 : klien mengatakan terima kasih

16.00 ›‘ ÿengkaji ulang keadaan umum klien Aspa


dan mengobservasi TTV
R : klien sedang mengobrol dengan
istrinya
 : klien tampak sakit sedang,


kesadaran compos mentis, infuse
masih terpasang, tetesan lancar,
ekspresi wajah terlihat masih sesak
TD : 147/82 mmg
N : 98 x/mnt
S : 37,7 0Ê
RR : 22-34 x/mnt
spO2 : 97 %

17.00 ›‘ ÿelengkapi data dengan anamnesa Aspa


R : istri klien kooperatif menjawab
pertanyaan.
 : data terkumpul, dan pasien terlihat
tampak tenang.


V. EVALUASI

Tanggal No diagnose Evaluasi Nama perawat


27-09-2010 1.‘ Ketidakefektifan jalan S : klien mengeluh sesak saat bicara lama Aspa
napas b.d peningkatan O: oksigen terpasang 8 L/mnt
cairan dalam paru A: masalah belum teratasi
P: intervensi di lanjutkan

2.‘ Resti penurunan curah S : klien mengatakan masih sesak juga Aspa
jantung b.d perubahan dan dahan pun tidak mau keluar
irama jantung atau O: klien tampak gelisah, rekaman EKG
perubahan kondisi abnormal ( AF )
elektrikal kondusi. A: masalah belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan


3.‘ Intoleransi aktivitas b.d S : klien mengeluh lemas dan sesak Aspa
penurunan perfusi O: klien tampak berbaring di tempat tidur
jaringan perifer akibat dengan oksigen 8 L/mnt
supply oksigen yang A: masalah belum teratasi
tidak seimbanng. P: intervensi dilanjutkan

28-09-2010 1.‘ Ketidakefektifan jalan S : klien mengeluh sesak saat bicara lama Aspa
napas b.d peningkatan O: oksigen terpasang 8 L/mnt
cairan dalam paru A: masalah belum teratasi
P: intervensi di lanjutkan

2.‘ Resti penurunan curah S : klien mengatakan masih sesak juga Aspa
jantung b.d perubahan dan dahan pun tidak mau keluar
irama jantung atau O: klien tampak gelisah, rekaman EKG
perubahan kondisi abnormal ( AF )
elektrikal kondusi. A: masalah belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan


S : klien mengeluh lemas dan sesak
3.‘ Intoleransi aktivitas b.d
O: klien tampak berbaring di tempat tidur Aspa
penurunan perfusi
dengan oksigen 8 L/mnt
jaringan perifer akibat
A: masalah belum teratasi
supply oksigen yang
P: intervensi dilanjutkan
tidak seimbanng.

29-09-2010 1.‘ Ketidakefektifan jalan S : klien mengeluh sesak saat bicara lama Aspa
napas b.d peningkatan O: oksigen terpasang 8 L/mnt
cairan dalam paru A: masalah belum teratasi
P: intervensi di lanjutkan

2.‘ Resti penurunan curah S : klien mengatakan masih sesak juga Aspa
jantung b.d perubahan dan dahan pun tidak mau keluar
irama jantung atau O: klien tampak gelisah, rekaman EKG
perubahan kondisi abnormal ( AF )
elektrikal kondusi. A: masalah belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan


3.‘ Intoleransi aktivitas b.d S : klien mengeluh lemas dan sesak Aspa
penurunan perfusi O: klien tampak berbaring di tempat tidur
jaringan perifer akibat dengan oksigen 8 L/mnt
supply oksigen yang A: masalah belum teratasi
tidak seimbanng. P: intervensi dilanjutkan

è