Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

Sumber dan Proses Kesalahan Berbahasa


Diajukan sebagai tugas mata kuliah :
Analisis Kesalahan Berbahasa
Dosen : Drs. Lay Riwu, M.Hum

Disusun oleh:

Wiwik Fajrianti : 2017-88-201-042


Felisitas Odeta Takerubun : 2017-88-201-052
Januaria Arimkon Moromon : 2017-88-201-038
Vanny Valentina Paipinan : 2017-88-201-057
Elni Wahyuni : 2017-88-201-014
Kalep Giwop : 2017-88-201-020
Susana A. Tawenem : 2015-88-201-033

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS MUSAMUS
MERAUKE
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul Sumber dan Proses Kesalahan Berbahasa tepat pada waktunya. Dan
kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Lay selaku dosen mata kuliah
Analisis Kesalahan Berbahasa yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat
menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami
tekuni. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya dan dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang lain.

Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik serta saran yang membangun demi perbaikan
makalah ini di waktu yang akan datang.

Merauke, Oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1. Latar Belakang ............................................................................................. 1
2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
3. Tujuan masalah ............................................................................................ 2
BAB II ..................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ..................................................................................................... 3
1. Sumber Kesalahan Berbahasa ...................................................................... 3
2. Ragam Sumber Kesalahan Berbahasa .......................................................... 4
3. Proses Kesalahan Berbahasa ........................................................................ 8
4. Jenis Proses Kesalahan Berbahasa ............................................................... 8
BAB III ................................................................................................................. 10
PENUTUP ............................................................................................................. 10
Simpulan ........................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 10

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan berbagai unit
kebahasaan yang meliputi kata, kalimat, paragraf, yang menyimpang dari sistem
kaidah bahasa Indonesia baku, serta pemakaian ejaan dan tanda baca yang
menyimpang dari sistem ejaan dan tanda baca yang telah ditetapkan sebagaimana
dinyatakan dalam buku Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. S. Piet Corder
dalam bukunya Introducing Applied Linguistik menjelaskan bahwa kesalahan
berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode bahasa. Pelanggaran ini disebabkan
kurang sempurnanya penguasaan dan pengetahuan terhadap kode Bahasa.
Pelanggaran ini disebabkan kurang sempurnanya penguasaan dan pengetahuan
terhadap kode.

Sedangkan analisis kesalahan berbahasa adalah suatu cara atau langkah kerja
yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa untuk mengumpulkan data,
mengidentifikasi kesalahan, menjelaskan kesalahan, mengklasifikasikan kesalahan
dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan berbahasa. Kesalahan berbahasa
biasanya ditentukan berdasarkan ukuran keberterimaan. Apakah bahasa (ujaran atau
tulisan) si pembelajar bahasa itu berterima atau
tidak bagi penutur asli atau pengajarnya. Jadi, jika pembelajar Bahasa Indonesia
membuat kesalahan, maka ukuran yang digunakan adalah apakah kata atau kalimat
yang digunakan pembelajar benar atau salah menurut penutur asli Bahasa Indonesia.
Jika kata atau kalimat yang digunakan pembelajar bahasa tadi salah, dikatakan
pembelajar bahasa membuat kesalahan. Ukuran berbahasa yang baik ini adalah
ukuran intrabahasa atau intralingual. Ukuran kesalahan dan ketidaksalahan
intrabahasa adalah ukuran kebahasaan.

Kekeliruan dalam berbahasa disebabkan karena faktor performansi,


sedangkan kesalahan berbahasa disebabkan faktor kompetensi. Faktor performansi
meliputi keterbatasan ingatan atau kelupaan sehingga menyebabkan kekeliruan dalam
melafalkan bunyi bahasa, kata, urutan kata, tekanan kata atau kalimat. Kekeliruan ini
bersifat acak, maksudnya dapat terjadi pada berbagai tataran linguistik. Kekeliruan
biasanya dapat diperbaiki sendiri oleh siswa yang bersangkutan dengan cara lebih
mawas diri dan lebih memusatkan perhatian pada pembelajaran. Sedangkan kesalahan
yang di sebabkan faktor kompetensi adalah kesalahan yang disebabkan siswa belum

1
memahami sistem linguistik bahasa yang digunakannya. Kesalahan berbahasa akan
sering terjadi apabila pemahaman siswa tentang
sistem bahasa kurang. Kesalahan berbahasa dapat berlansung lama apabila tidak
diperbaiki. Guru dapat melakukan perbaikan dengan melalui remedial,
latihan, praktik, dan lain sebagainya.

2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sumber kesalahan berbahasa ?
2. Apa yang dimaksud dengan ragam sumber kesalahan berbahasa ?
3. Apa yang dimaksud dengan proses kesalahan berbahasa ?
4. Apa yang dimaksud dengan jenis proses kesalahan berbahasa ?

3. Tujuan masalah
1. Untuk mengetahui sumber kesalahan berbahasa
2. Untuk mengetahui ragam sumber kesalahan berbahasa
3. Untuk mengetahui proses kesalahan berbahasa
4. Untuk mengetahui jenis proses kesalahan berbahasa

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Sumber Kesalahan Berbahasa


a. Hakikat kesalahan berbahasa

Dalam pandangan analisis kontrastif (anakon), kesalahan berbahasa dianggap


sebagai kegagalan pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Sebelum hal itu
terjadi, para pakar anakon berupaya meramalkan kesulitan dan kesalahan berbahasa
yang akan muncul pada saat siswa belajar B2 atau BA. Karena itu mereka
membandingkan system bahasa yang dipelajari dengan system bahasa yang telah
dikuasai siswa (bahasa pertama).

Pandangan di atas dianggap kuno oleh penganut analisis kesalahan berbahasa


(anakes). Menurut pakar anakes, kesalahan berbahasa dianggap sebagai bagian yang
integral dari sebuah proses pembelajaran Bahasa. Dengan adanya perbedaan pandangan
tentang kesalahan berbahasa, dapat disimpulkan bahwa anakon mendasarkan prosedur
kerjanya pada masalah yang hipotetis atau teoritis, sedangkan anakes mendasarkannya
pada data actual dan nyata, yakni pada kesalahan yang dibuat oleh siswa. Bagi anakes,
kesalahan bukan hanya sesuatu yang tak dapat dielakkan, melainkan juga sebagai
bagian yang penting dari suatu proses pembelajaran. Ditambahkan oleh pakar anakes
bahwa dalam belajar Bahasa pertama pun, siswa bias juga melakukan kesalahan
berbahasa.

b. Perbedaan kesalahan dengan kekeliruan

Dalam bahasa Indonesia, kata kesalahan dan kekeliruan sering dimaknai


sebagai kata yang bersinonim. Hal itu tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1989:411;771) kekeliruan kesalahan; kekhilafan dan kesalahan kekeliruan; kealpaan.
Dalam bahasa lnggris, kedua kata tersebut memiliki bentuk kata dan makna yang
berbeda. Kesalahan berasal dari kata eror sedangkan kekeliruan berasal dari kata
mistake. Keduanya dimaknai sebagai penyimpangan dalam pemakaian bahasa
(Tarigan dan Tarigan, 1989:75).

Nah, sekarang apa perbedaan antara kesalahan dan kekeliruan? Kekeliruan pada
umumnya disebabkan oleh faktor performasi, misal keterbatasan dalam mengingat atau
kelupaan. Sebagai contoh, [psikologi] dilafalkan [spikologi] adalah keliru dalam
melafalkan kata. Contoh lain adalah keliru memilih kata, keliru dalam mengurutkan

3
kata sewaktu membentuk kalimat. Hal ini bisa terjadi pada mahasiswa yang belajar
bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.

Karakteristik berikutnya adalah bahwa kekeliruan itu bersifat acak, artinya bisa
terjadi pada setiap tataran linguistik, apakah tataran fonologi, morfologi, maupun
sintaksis. Selain itu, kekeliruan lazimnya dapat diperbaiki oleh siswa sendiri, karena
sistem linguistiknya telah mereka kuasai. Penguasaan sistem linguistik bahasa yang
sedang mereka pelajari sudah mereka capai, tetapi pada saat tertentu karena sesuatu hal,
mereka lupa menggunakannya. Dengan demikian, kekeliruan bersifat sementara.

Sekarang, bagaimana dengan kesalahan? Kesalahan disebabkan oleh faktor


kompetensi. Artinya, siswa belum memahami sistem linguistik bahasa yang
dipelajarinya. Kesalahan terjadi secara ajeg dan sistematis. Bila tidak diperbaiki,
kesalahan dapat berlangsung lama. Mengapa demikian? Ya, karena siswa belum
menguasai sistem bahasa tersebut. Dengan demikian, mereka tidak tahu bahwa kata,
frasa, klausa, atau kalimat yang mereka hasilkan salah. Dengan perbaikan yang
dilakukan guru, misalnya melalui remedial, pelatihan, dan praktek, pemahaman mereka
tentang sistem linguistik akan meningkat.

Sumber Kesalahan Berbahasa

Masih ingatkah Anda tentang penyebab atau sumber kesalahan rnenurut


analisis kontrastif? Ya, jika Anda ingat bunyi hipotesis bentuk kuat, sumber kesalahan
berbahasa yang dilakukan oleh siswa adalah interferensi BI ke dalam B2. (L1
dependent errors).

Menurut analisis kesalahan berbahasa, sumber kesalahan bukan hanya


dilatarbelakangi bahasa pertama siswa, yang disebut dengan istilah “Ll independent
errors”, tetapi juga oleh berbagai faktor, yakni strategi belajar, teknik pengajaran,
sistem bahasa kedua, usia kedwibahasaan, situasi Sosiolinguistik siswa (Fisiak, 1985
dalam Tarigan dan Tarigan 1989: 79; Pateda, 1988: 67-68).

2. Ragam Sumber Kesalahan Berbahasa


a. Strategi belajar

Yang dimaksud dengan strategi belajar adalah cara atau siasat belajar bahasa yang
digunakan siswa untuk mencapai tujuan, yakni menguasai bahasa yang dipelajarinya.
Menurut Tarigan dan Tarigan (1988:81), lazimnya dalam pembelajaran bahasa, siswa
menggunakan strategi belajar reduksi. Yang dimaksud dengan reduksi adalah
pengurangan atau pemotongan ujaran. Lebih lanjut dikatakan bahwa siswa yang belajar
pertama atau orang dewasa yang belajar kedua mempunyai tingkat-tingkat, taraf atau

4
fase bahasa telegrafik. Karakteristik ujaran telegrafik siswa dapat diidentifikasikan
melalui data penampilan berbahasa siswa, baik yang salah maupun yang benar.

Strategi belajar reduksi merupakan upaya untuk menyederhanakan sistem bahasa


kedua yang dipelajari para siswa. Bila pereduksian tersebut menyimpang dari kaidah
atau sistem bahasa target, yang dapat terjadi dalam tataran sintaksis, performansi
bahasa siswa mengandung kesalahan. Sebaliknya, bila pereduksiannya dilakukan
secara selektif dan tidak menyimpang dari kaidah atau sistem bahasa target,
performansi bahasa siswa relatif baik dan bebas dari kesalahan.

Pereduksian bahasa yang sedang dipelajari siswa menjadi sistem yang lebih
sederhana, dan yang paling efektif adalah melalui generalisasi. Generalisasi sangat
potensial menghasilkan kesalahan berbahasa. Apakah yang dimaksud dengan
generalisasi? generalisasi atau penyamarataan adalah penggunaan strategi atau siasat
yang telah tersedia sebelumnya di dalam situasi baru. Misalnya, dalam bahasa
Indonesia, terdapat kaidah pembentukan kalimat pasif, yakni kata kerja aktif berawalan
me- diubah menjadi di-. Berdasarkan kaidah tersebut, siswa yang sedang mempelajari
bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua akan menerapkannya secara berlebihan tanpa
memperhatikan subjek kalimat aktif tersebut. Perhatikan contoh berikut ini!

Kalimat aktif Kalimat pasif

(1) Adi membeli buku. (1) Buku dibeli (oleh) Adi.

(2) Saya menulis surat. (2) Surat ditulis (oleh) saya.


(salah) Surat saya tulis (benar)

(3) Mereka memancing ikan. (3) Ikan dipancing mereka (salah)


Ikan mereka pancing. (benar)

Melalui contoh di atas, tampak bahwa siswa melakukan generalisasi dalam


pembentukkan kalimat pasif, yakni predikat berawalan me- diubah menjadi berawalan
di-. Mereka tidak memperhatikan sybjek kalimat aktif.

5
b. Teknik pengajaran

Yang dimaksud dengan teknik pengajaran adalah teknik atau cara yang digunakan
orang tua atau guru dalam pemerolehan bahasa pertama atau pembelajaran bahasa
kedua. Ketidaktepatan teknik pengajaran akan berdampak pada munculnya kesalahan
berbahasa oleh siswa. Sebagai contoh, orang tua yang melafalkan kata secara tidak
jelas, karena menirukan belum sempumanya pelafalan anak.

Perhatikan contoh berikut ini!

1. Mama cayang anak Mama yang akep deh.


2. Adik mau num cucu ya atau aem Ioti?

Bukankah Anda pernah, bahkan sering menjumpai ujaran-ujaran seperti contoh


tersebut? Hal itu merupakan contoh penerapan teknik mengajarkan pelafalan yang tidak
benar. Dampaknya adalah anak akan menirukan pelafalan yang salah atau yang tidak
tepat tersebut.

c. System bahasa kedua

Kita tahu bahwa setiap bahasa mempunyai sistem atau kaidah sendiri-sendiri.
Sebagai contoh, penjamakan dalam bahasa Indonesia bisa dilakukan dengan cara
perulangan kata, penambahan "para", "banyak”, dan "beberapa", dan sebagainya.
Kaidah tersebut berbeda dengan lidah dalam bahasa Inggris. Salah satu cara penjamakan
dalam bahasa inggris adalah dengan menambahkan -s atau -es. Perhatikan contoh
berikut ini!

buku -- buku-buku a book - books

ikan -- ikan-ikan a fish - fishes

banyak ikan many fishes

Siswa yang berbahasa pertama bahasa Inggris yang sedang mempelajari bahasa
Indonesia, bisa terjadi melakukan kesalahan berbahasa dalam hal penjamakan. Contoh:
banyak ikan-ikan, para guru-guru, beberapa buku-buku. Jika diamati, ternyata kesalahan
seperti di atas ternyata dilakukan juga oleh siswa asli Indonesia yang belajar bahasa
Indonesia.

6
d. Usia kedwibahasaan

Kedwibahasaan adalah perihal penguasaan dua bahasa oleh seseorang. Adapun


kedwibahasawan adalah orang yang menguasai dua bahasa. Usia kedwibahasaan adalah
lamanya seseorang menjadi dwibahasawan. Semakin lama seseorang menjadi
dwibahasawan semakin baik pula penguasaan bahasa keduanya. Sebaliknya,
dwibahasawan yang baru belajar bahasa kedua tentulah penguasaannya masih belum
seberapa baik. Perhatikan kesalahan-kesalahan yang dibuat mahasiswa asing asal Cina,
yang belajar bahasa Indonesia di Universitas Negeri Surabaya dalam dua semester
berikut ini!

1. Dia buat cara yaitu suluh raja mengutus anaknya pergi selama waktu ini.
2. dia membuat banyak perlakuan kepada menantunya.
3. Akhimya masih buang bayinya yang baru dilahirkan.
4. dia percaya kata ibunya mau membunuh istrinya tapi sebelumnya dia juga setuju
pintanya istrinya yaitu bawanya ke pinggir sungi.
5. Air sungi juga sabab itu menjadi jernih dan berbau harum.

Contoh berikut ini diambil dari kalimat-kalimat mahasiswa asal Thailand yang
belajar bahasa Indonesia sekelas dengan mahasiswa asal Cina di atas.

1. Susan adalah seorang melahirkan di Brita.


2. Dia adalah seorang berhasilkan pendidikannya.
3. Dia memanuhi permintaan cucunya.
4. Sidopekso adalah seorang diutus ke Gunung ljen mengambilkan bunganya untuk
meraya raja Baginda.
5. Dia adalah menantunya menikah sama anak saya.

e. Situasi sosiolinguistik siswa

Yang dimaksud dengan situasi sosiolinguistik siswa adalah situasi pemakaian


bahasa di sekitar siswa, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal ini
sangat berpengaruh pada penguasaan bahasa siswa. Bila situasi sosiolinguistiknya
mendukung, hal itu akan berpengaruh positif bagi siswa. Sebaliknya, bila
lingkungannya tidak mendukung, misalnya keluarga atau masyarakat menggunakan
bahasa secara sembrono, tidak taat pada kaidah, tidak sesuai dengan konteks situasi,
penguasaan bahasa siswa pun juga akan tidak baik.

7
3. Proses Kesalahan Berbahasa
Selinker (1971) dalam (Tarigan dan Tarigan, l989:109) membahas Iima macam
proses kesalahan berbahasa, khususnya jika dikaitkan dengan antarbahasa. Kelima
proses tersebut adalah

1. transfer bahasa (language transfer);


2. transfer latihan (transfer of training);
3. siasat pembelajaran bahasa kedua (strategies of second Ianguage learning);
4. siasat komunikasi bahasa kedua (Strategies of second language communication);
5. penyamarataan yang berlebihan mengenai bahan linguistik bahasa sasaran
(overgeneralization of target language linguistic material).

Penjelasan tentang kelima proses tersebut, bila dipandang dari sudut pandang
“kesalahan”, tampak sebagai bcrikut.

1. transfer bahasa adalah interferensi dari bahasa ibu atau BI kepada bahasa sasaran
atau B2;
2. transfer latihan adalah kesalahan yang berkaitan dengan hakikat bahan-bahan
pembelajaran bahasa dan pendekatan-pendekatannya sendiri;
3. siasat pembelajaran bahasa kedua adalah kesalahan yang berkaitan dengan
pendekatan siswa scndiri pada bahan yang dipelajari;
4. siasat komunikasi bahasa kedua adalah kesalahan yang berkaitan dcngan cara siswa
berupaya berkomunikasi dengan para penutur asli di dalam situasi pemakaian
bahasa secara alamiah;
5. penyamarataan berlebihan kaidah-kaidah bahasa sasaran adalah kesalahan yang
berkaitan dengan cara siswa menstrukturkan kembali dan mengorganisasi kembali
bahan linguistik (Omaggio, I986:276).

4. Jenis Proses Kesalahan Berbahasa


Dengan mengutip pendapat Selinker (I972) dan Richards (ed) (I985), Tarigan dan
Tarigan (l989:lll-ll2) mengungkapkan bahwa ada empat jenis lainnya proses kesalahan
berbahasa. Keempat jenis proses kesalahan berbahasa tersebut adalah

1. ucapan ejaan (spelling pronunciation);


2. ucapan sanak (cognate pronunciation);
3. belajar holofrase (holophrase learning);
4. hiperkoreksi (hypercorrectian).

8
1. Ucapan Ejaan

Yang dimaksud dengan ucapan ejaan adalah siswa yang sedang belajar B2
mengucapkan kata-kata sesuai dengan ejaannya, sekalipun ejaan bakunya tidak seperti
itu. Sebagai contoh, siswa yang belajar dengan bahasa pertama, bahasa lndonesia,
belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua akan mengucapkan kata-tata sebagai
berikut.

Book sebagai [bok] atau [buk]

Target sebagai [tarjet]

2. Ucapanan Sanak

Yang dimaksud dengan ucapan sanak adalah siswa mengucapkan kata-kata yang
sama asalnya. Misalnya, siswa Indonesia dengan Bl, bahasa Indonesia belajar bahasa
Inggris sebagai B2. Dia akan mengucapkan kata-kata sebagai berikut.

Athlete sebagai [atlit]

Domestic sebagai [domestik]

3. Belajar Holofrase
Kesalahan jenis ini dapat diberi contoh sebagai berikut. Dalam bahasa

Inggris, Tarigan dan Tarigan (1989:111) mencontohkan haIf-an-hour dibentuk one and
haIf-an-hour. Selanjutnya, dalam bahasa indonesia, mereka mencontohkan dua puluh
lima dibentuk dua puluh dan lima.

4. Hiperkoreksi

Hiperkoreksi adalah suatu kesalahan yang diakibatkan sebagai suatu sikap yang
sangat berlebih-lebihan atau kesempurnaan dalam pelafalan.

Contoh:

menerangkan diucapkan [menerangken]

pendidikan diucapkan [pendidikkan]

9
BAB III

PENUTUP

Simpulan
Dalam pandangan analisis kontrastif (anakon), kesalahan berbahasa dianggap
sebagai kegagalan pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Sebelum hal itu
terjadi, para pakar anakon berupaya meramalkan kesulitan dan kesalahan berbahasa
yang akan muncul pada saat siswa belajar B2 atau BA. Karena itu mereka
membandingkan system bahasa yang dipelajari dengan system bahasa yang telah
dikuasai siswa (bahasa pertama).

Dalam bahasa Indonesia, kata kesalahan dan kekeliruan sering dimaknai


sebagai kata yang bersinonim. Hal itu tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1989:411;771) kekeliruan kesalahan; kekhiiafan dan kesalahan kekeliruan; kealpaan.
Dalam bahasa lnggris, kedua kata tersebut memiliki bentuk kata dan makna yang
berbeda. Kesalahan berasal dari kata eror sedangkan kekeliruan berasal dari kata
mistake. Keduanya dimaknai sebagai penyimpangan dalam pemakaian bahasa
(Tarigan dan Tarigan, 1989:75).

Menurut analisis kesalahan berbahasa, sumber kesalahan bukan hanya


dilatarbelakangi bahasa pertama siswa, yang disebut dengan istilah “Ll independent
errors”, tetapi juga oleh berbagai faktor, yakni strategi belajar, teknik pengajaran, sistem
bahasa kedua, usia kedwibahasaanp, situasi Sosiolinguistik siswa (Fisiak, 1985 dalam
Tarigan dan Tarigan 1989: 79; Pateda, 1988: 67-68).

Selinker (1971) dalam (Tarigan dan Tarigan, l989:109) membahas Iima macam
proses kesalahan berbahasa, khususnya jika dikaitkan dengan antarbahasa. Kelima
proses tersebut adalah transfer bahasa (language transfer), transfer latihan (transfer of
training), siasat pembelajaran bahasa kedua (strategies of second Ianguage learning),
siasat komunikasi bahasa kedua (Strategies of second language communication),
penyamarataan yang berlebihan mengenai bahan linguistik bahasa sasaran
(overgeneralization of target language linguistic material).

Dengan mengutip pendapat Selinker (I972) dan Richards (ed) (I985), Tarigan dan
Tarigan (l989:lll-ll2) mengungkapkan bahwa ada empat jenis lainnya proses kesalahan
berbahasa. Keempat jenis proses kesalahan berbahasa tersebut adalah ucapan ejaan
(spelling pronunciation), ucapan sanak (cognate pronunciation), belajar holofrase
(holophrase learning), hiperkoreksi (hypercorrectian).

DAFTAR PUSTAKA

10
https://www.academia.edu/7440902/MAKALAH_ANALISIS_KESALAHAN_BE
RBAHASA_INDONESIA

Yulianto, Bambang dan Mario Mintowati. 2010.Analisis Kesalahan Berbahasa.


Jakarta : Universitas Terbuka

11