Anda di halaman 1dari 29

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan dalam bentuk bagan

sebagai berikut :

Variable Independent Variable Dependent

Faktor-faktor yang berhubungan Temper Tantrum


dengan temper tantrum anak: Anak Usia Prasekolah
1. Pola asuh orang tua
2. Komunikasi orang tua
3. Pekerjaan orang tua
4. Jenis kelamin orang tua
5. Jenis kelamin anak Faktor yang mempengaruhi
6. Tingkat pendidikan anak Temper Tantrum :
7. Jumlah balita dalam keluarga 1. Kondisi Fisiologis
8. Keluarga yang tinggal serumah 2. Kondisi Psikologis

Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti, namun akan dikontrol dalam

kriteria inklusi yaitu dengan Kondisi Fisiologis dan

Psikologis dikontrol dengan memilih responden yang

dalam kondisi sehat atau tidak sakit dan pola

perkembangannya normal atau tidak ada gangguan

perkembangan.

: Hubungan yang diteliti

67
68

B. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara penelitia, patokan duga, atau dalil

sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut

(Notoatmodjo, 2010). Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Hipotesis Alternatif (Ha)

a. Ada hubungan faktor pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada

anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten Cilacap.

b. Ada hubungan faktor komunikasi orang tua dengan temper tantrum

pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten

Cilacap.

c. Ada hubungan faktor pekerjaan orang tua dengan temper tantrum pada

anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten Cilacap.

d. Ada hubungan faktor jenis kelamin orang tua dengan temper tantrum

pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten

Cilacap.

e. Ada hubungan faktor jenis kelamin anak dengan temper tantrum pada

anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten Cilacap.

f. Ada hubungan faktor tingkat pendidikan anak dengan temper tantrum

pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten

Cilacap.

g. Ada hubungan faktor jumlah balita dalam keluarga dengan temper

tantrum pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.
69

h. Ada hubungan faktor keluarga yang tinggal serumah dengan temper

tantrum pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

i. Ada faktor yang paling dominan berhubungan dengan temper tantrum

pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten

Cilacap.

2. Hipotesis Nol (Ho)

a. Tidak ada hubungan faktor pola asuh orang tua dengan temper tantrum

pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten

Cilacap.

b. Tidak ada hubungan faktor komunikasi orang tua dengan temper

tantrum pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

c. Tidak ada hubungan faktor pekerjaan orang tua dengan temper tantrum

pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten

Cilacap.

d. Tidak ada hubungan faktor jenis kelamin orang tua dengan temper

tantrum pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

e. Tidak ada hubungan faktor jenis kelamin anak dengan temper tantrum

pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten

Cilacap.
70

f. Tidak ada hubungan faktor tingkat pendidikan anak dengan temper

tantrum pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

g. Tidak ada hubungan faktor jumlah balita dalam keluarga dengan temper

tantrum pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

h. Tidak ada hubungan faktor keluarga yang tinggal serumah dengan

temper tantrum pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

i. Tidak ada faktor yang paling dominan berhubungan dengan temper

tantrum pada anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

C. Variabel Penelitian

Notoatmodjo (2010) menjelaskan variabel penelitian adalah ukuran atau

ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan

yang dimiliki oleh kelompok lain. Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu

variabel independent dan variabel dependent.

1. Variabel Independent

Variabel independent adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya

variabel dependent. Variabel independent pada penelitian ini adalah faktor-

faktor yang berhubungan dengan temper tantrum anak yang terdiri dari

pola asuh orang tua, komunikasi orang tua, pekerjaan orang tua, jenis
71

kelamin orang tua, jenis kelamin anak, tingkat pendidikan anak, jumlah

balita dalam keluarga dan keluarga yang tinggal serumah.

2. Variabel Dependent

Variabel dependent adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat

karena adanya variabel independent. Variabel dependent dalam penelitian

ini adalah temper tantrum anak usia prasekolah di Kelurahan

KarangTalun, Kabupaten Cilacap.

D. Definisi Operasional, Variabel Penelitian, Skala Pengukuran

Notoatmodjo (2010) menjelaskan definisi operasional adalah uraian

tentang batasan variabel yang diamati atau diteliti, atau tentang apa yang

diukur oleh variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen yang

digunakan.

Tabel 3.1 Identifikasi Variabel, Definisi Operasional, Skala Pengukuran


No Variabel Definisi Cara Pengukuran Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
Variabel independent
1. Pola Asuh Bentuk atau gaya Cara ukur : Data disajikan Nominal
Orang Tua pengasuhan orang Mengkaji gaya pengasuhan orang tua berdasarkan total skor
tua untuk kepada anak dalam membimbing, jawaban dibagi
membimbing dan pengambilan keputusan, aturan,
menjadi 3 kategori
menanamkan komunikasi dan kedisiplinan
disiplin dalam yaitu :
membentuk Alat ukur : 1. Permisif : jika
kepribadian dan Kuesioner B yang terdiri dari 24 jumlah skor c > a
perilaku anak usia pernyataan dengan skala Likert dengan dan b
prasekolah (3-5 4 alternatif jawaban : 2. Otoriter : jika
tahun) dalam Untuk pernyataan favourable : Sangat jumlah skor b > a
kehidupan sehari- Tidak Setuju (1), Tidak Setuju (2),
dan c
hari Setuju (3), Sangat Setuju (4).
Untuk Pernyataan unfavourable : 3. Demokratis : jika
Sangat Setuju (1), Setuju (2), Tidak jumlah skor a > b
Setuju (3), Sangat Tidak Setuju (4). dan c
(Kirana, 2013)
2. Komunikasi Interaksi atau cara Cara ukur : Data disajikan Ordinal
Orang Tua penyampaian Mengkaji keakraban, keterbukaan dan menjadi 2 kategori
pesan antara perhatian dalam penyampaian pesan dengan menggunakan
atau informasi antar anggota keluarga
orang tua dan Cut of Point dari skor
72

anak usia total :


prasekolah atau Alat ukur : 1. Disfungsional :
sebaliknya dalam Kuesioner C yang terdiri dari 16 16-40
pertanyaan dengan skala Likert dengan
kehidupan sehari- 2. Fungsional : 41-
4 alternatif jawaban :
hari Untuk pertanyaan favourable : Tidak 64
Pernah (1), Jarang (2), Sering (3),
Sangat Sering (4).
Untuk Pertanyaan unfavourable :
Sangat Sering (1), Sering (2), Jarang
(3), Tidak Pernah (4). (Wardani, 2016)
3. Pekerjaan Jenis aktifitas Cara ukur : Data disajikan Nominal
Orang Tua (profesi) yang Mengkaji jenis profesi atau aktifitas menjadi 2 kategori :
ditekuni orang tua yang ditekuni orang tua dan bersifat 1. Pekerjaan non ibu
dan bersifat menetap dilakukan dalam keseharian rumah tangga
menetap yang (Guru/PNS,
memperoleh hasil Alat ukur : Wiraswasta,
baik berupa Kuesioner A dengan memilih jenis Buruh/Swasta,
materi pekerjaan yang meliputi : Petani/Pedagang)
(pendapatan) atau Guru/PNS, Wiraswasta, Buruh/Swasta, 2. Pekerjaan ibu
non materi Petani/Pedagang, Ibu Rumah Tangga, rumah tangga
Lainnya/Sebutkan (IRT, Lainnya)
4. Jenis Tanda fisik yang Cara ukur : Data disajikan Nominal
Kelamin teridentifikasi Mengkaji tanda fisik yang menjadi 2 kategori :
Orang Tua pada orang tua teridentifikasi dan dibawa sejak lahir 1. Laki-laki
dan dibawa sejak yang terdapat pada orang tua 2. Perempuan
lahir.
Alat ukur :
Kuesioner A dengan memilih jenis
kelamin orang tua yang meliputi :
Laki-laki atau Perempuan
5. Jenis Tanda fisik yang Cara ukur : Data disajikan Nominal
Kelamin teridentifikasi Mengkaji tanda fisik yang menjadi 2 kategori :
Anak pada anak usia teridentifikasi dan dibawa sejak lahir 1. Laki-laki
prasekolah dan yang terdapat pada anak usia 2. Perempuan
dibawa sejak prasekolah
lahir.
Alat ukur :
Kuesioner A dengan memilih jenis
kelamin anak usia prasekolah yang
meliputi : Laki-laki atau Perempuan
6. Tingkat Pendidikan formal Cara ukur : Data disajikan Ordinal
Pendidikan yang sedang di Mengkaji pendidikan formal yang menjadi 2 kategori :
Anak jalani oleh anak sedang dijalani oleh anak usia 1. Ya (anak sedang
usia prasekolah prasekolah. bersekolah di
(PAUD atau TK) PAUD/TK)
Alat ukur : 2. Tidak (anak
Kuesioner A dengan memilih sedang atau
pernyataan tingkat pendidikan anak belum
yang meliputi : bersekolah)
Ya (anak sedang bersekolah di
PAUD/TK)
Tidak (anak sedang atau belum
bersekolah)
7. Jumlah Jumlah balita Cara ukur : Data disajikan Nominal
Balita dalam hidup (usia 0-6 Mengkaji jumlah balita hidup yang menjadi 2 kategori :
Keluarga tahun) yang terdapat dalam keluarga 1. Satu
dimiliki keluarga 2. Dua atau lebih
73

Alat ukur :
Kuesioner A dengan mengisi
pertanyaan mengenai jumlah balita
dalam keluarga
8. Keluarga Anggota keluarga Cara ukur : Data disajikan Nominal
yang Tinggal lain yang tinggal Mengkaji keluarga yang tinggal menjadi 3 kategori :
Serumah bersama, selain bersama dalam keluarga 1. Kakek/Nenek
orang tua dan 2. Om/Tante
anak dalam suatu Alat ukur : 3. Lainnya
keluarga (kakek, Kuesioner A dengan memilih
nenek, om, tante, pernyataan mengenai keluarga yang
atau keluarga tinggal serumah yang meliputi :
kandung lainnya) Kakek/Nenek, Om/Tante atau Lainnya
Variabel dependent
1. Temper Suatu luapan Cara ukur : Data disajikan menjadi Ordinal
Tantrum emosi pada anak Mengkaji perilaku destruktif yang 3 kategori :
Anak Usia (usia 3-5 tahun) ditujukan anak saat keinginan dan 1. Rendah : 33-66
Prasekolah ketika harapannya tidak sesuai berupa 2. Sedang : 67-99
keinginannya perilaku merengek, menangis, 3. Tinggi : 100-132
tidak sesuai menjerit, mengamuk, menghentakkan
dengan yang kaki, berguling, melempar atau
diharapkan dalam merusak barang, menendang,
bentuk perilaku memukul, membanting badan
destruktif atau
merusak Alat ukur :
Kuesioner D yang terdiri dari 33
pernyataan dengan skala Likert
dengan 4 alternatif jawaban :
Untuk pernyataan favourable : Tidak
Pernah (1), Jarang (2), Sering (3),
Sangat Sering (4).
Untuk Pernyataan unfavourable :
Sangat Sering (1), Sering (2), Jarang
(3), Tidak Pernah (1). (Kirana, 2013)

E. Desain Penelitian

Desain atau rancangan penelitian merupakan kerangka acuan bagi peneliti

untuk mengkaji hubungan antar variabel dalam suatu penelitian (Riyanto,

2011). Penelitian ini merupakan penelitain kuantitatif dengan desain survey

analytic menggunakan rancangan pengambilan data cross sectional yang

bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan temper

tantrum anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun, Kabupaten Cilacap.


74

Survey analytic adalah suatu penelitian yang mencoba menggali

bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi, kemudian melakukan

analisa dinamika korelasi atau hubungan antar fenomena, baik antara faktor

risiko atau variabel independent dengan faktor efek atau variabel dependent,

antar faktor risiko, maupun antar faktor efek (Riyanto, 2011). Rancangan

cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi

antara faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau

pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).

Pengukuran subyek penelitian tidak terbatas harus pada waktu yang sama,

namun mempunyai makna subyek hanya diukur satu kali tanpa dilakukan

tindak lanjut atau pengulangan pengukuran (Nursalam, 2013).

F. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi penelitian adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang

akan diteliti (Arikunto, 2013; Notoatmodjo, 2010). Sedangkan menurut

Sugiyono (2011), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas

obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua dan

anak usia prasekolah di Posyandu Lestari 1-10 Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap yang berjumlah 150 orang.


75

2. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang terjangkau yang dapat

dipergunakan sebagai subyek penelitian melalui sampling (Nursalam,

2013). Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua

dan anak usia prasekolah di Posyandu Lestari 1-10 Kelurahan

KarangTalun, Kabupaten Cilacap yang memenuhi kriteria inklusi.

a. Besar Sampel

Besar sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus

sederhana untuk populasi kecil yaitu lebih kecil dari 10.000

(Notoatmojo, 2012).

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁(𝑑2 )

Keterangan :

n : Jumlah sampel

N : Jumlah populasi

d : Derajat kesalahan dalam penelitian ini ditentukan sebesar 5%

Dengan demikian, jumlah sampel dapat dihitung sebagai berikut :

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁(𝑑 2 )

150
𝑛=
1 + 150(0,052 )

150
𝑛=
1 + 150(0,0025)

150
𝑛=
1,375

𝑛 = 109,090 responden, jadi 109 responden


76

Untuk menghindari missing data maka jumlah sampel ditambah 10%,

yaitu ditambah 11 responden, jadi jumlah sampelnya 120 responden.

b. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik

cluster sampling. Cluster sampling adalah teknik pengambilan sampel

dari kelompok-kelompok atau gugusan (cluster) (Notoatmodjo, 2010;

Dharma, 2011). Jumlah sampel dimasing-masing cluster atau

posyandu dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Jumlah Sampel Setiap Cluster

Jumlah Anggota Cluster dalam Populasi


= X Jumlah Sampel
Jumlah Anggota Total Populasi

Tabel 3.2 Kerangka Sampel yang Ditetapkan


Berdasarkan Teknik Cluster Sampling
Jumlah
Kriteria Posyandu dan Jumlah Sampel
No Populasi
Jenis Kelamin
(anak) (anak) (%)
1. Posyandu Lestari 1 14 11 9
Laki-laki 8 6 5
Perempuan 6 5 4
2. Posyandu Lestari 2 13 11 9
Laki-laki 6 5 4
Perempuan 7 6 5
3. Posyandu Lestari 3 13 11 9
Laki-laki 7 6 5
Perempuan 6 5 4
4. Posyandu Lestari 4 15 12 10
Laki-laki 9 7 6
Perempuan 6 5 4
5. Posyandu Lestari 5 18 14 12
Laki-laki 6 5 4
Perempuan 12 9 8
6. Posyandu Lestari 6 20 16 14
Laki-laki 13 10 9
Perempuan 7 6 5
7. Posyandu Lestari 7 15 12 10
Laki-laki 7 6 5
Perempuan 8 6 5
8. Posyandu Lestari 8 13 10 8
Laki-laki 9 7 6
Perempuan 4 3 3
9. Posyandu Lestari 9 13 10 8
Laki-laki 6 5 4
77

Perempuan 7 5 4
10. Posyandu Lestari 10 16 13 11
Laki-laki 10 8 7
Perempuan 6 5 4
Jumlah Total 150 120 100

c. Kriteria Sampel

1) Kritria Inklusi

a) Anak usia 3-5 tahun

b) Anak merupakan anak ke-1 atau pertama

c) Anak yang datang ke posyandu dan dapat berkomunikasi

d) Orang tua yang datang bersama anak ke posyandu (ibu, ayah)

e) Orang tua mampu baca tulis atau tidak buta huruf

f) Kondisi sehat

g) Bersedia menjadi responden

2) Kriteria Eksklusi

a) Kondisi sedang sakit baik secara fisik maupun mental (anak dan

orang tua)

b) Anak berkebutuhan khusus

c) Menolak atau tidak bersedia menjadi responden

G. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di Posyandu Lestari 1-10 Kelurahan

KarangTalun, Kabupaten Cilacap pada Bulan Februari sampai dengan Juli

2019. Pengambilan data dilaksanakan pada 8 Mei 2019 sampai 20 Mei 2019.
78

H. Etika Penelitian

Notoatmodjo (2010) menjelaskan kode etik penelitian adalah suatu

pedoman etika yang berlaku untuk setiap kegiatan penelitian yang melibatkan

antara pihak peneliti, pihak yang diteliti (subyek penelitian) dan masyarakat

yang akan memperoleh dampak hasil penelitian tersebut. Etika penelitian

mencakup perilaku atau perlakuan peneliti terhadap subyek penelitian serta

sesuatu yang dihasilkan oleh peneliti bagi masyarakat

Etika penelitian mempunyai tujuan untuk melindungi hak dan kewajiban

responden maupun penelitian. Penelitian ini telah menjamin kerahasiaan data

responden pada saat pengumpulan data dan pada hasil penelitian. Sebelum

melakukan penelitian, peneliti meminta perijinan kepada Ketua STIKES Al-

Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap, kemudian melalui tembusan Badan Kesatuan

Bangsa dan Politik (BAKESBANGPOL), merekomendasikan untuk ke Badan

Perencanaan Daerah (BAPPEDA), merekomendasikan untuk ke Dinas

Kesehatan kemudian direkomendasikan kepada Ketua Puskesmas Cilacap

Utara II dan ke Ketua Posyandu Lestari 1-10 Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap untuk menjadi tempat penelitian. Notoatmodjo (2010)

menjelaskan bahwa setelah mendapatkan persetujuan baru dapat

melaksanakan sebuah penelitian dengan tetap memegang etika penelitian

sebagai berikut (Dharma, 2011) :

1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)

Peneliti mempertimbangkan hak-hak subyek penelitian untuk

mendapatkan informasi tentang tujuan peneliti melakukan penelitian

tersebut. Peneliti juga memberikan kebebasan kepada subyek untuk


79

memberikan informasi atau tidak memberikan informasi (berpartisipasi).

Formulir persetujuan subyek (informed consent) merupakan salah satu

bentuk upaya yang dilakukan peneliti dalam menghormati harkat dan

martabat subyek penelitian. Peneliti telah mempersiapkan informed

consent yang mencakup :

a. Penjelasan tentang judul penelitian, tujuan dan manfaat penelitian.

b. Permintaan kepada subyek untuk berpartisipasi dalam penelitian.

c. Penjelasan tentang prosedur penelitian, kemungkinan risiko dan

ketidaknyamanan yang ditimbulkan selama penelitan.

d. Persetujuan peneliti dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan

subyek secara jujur berkaitan dengan prosedur penelitian.

e. Persetujuan subyek dapat mengundurkan diri sebagai objek penelitian

kapan saja.

f. Jaminan anonimitas dan kerahasiaan terhadap identitas dan informasi

yang diberikan oleh responden.

2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (respect for

privacy and confidentiality)

Peneliti menjaga kerahasiaan informasi responden dengan tidak

menampilkan informasi mengenai identitas responden. Peneliti cukup

menggunakan coding sebagai pengganti identitas responden.

3. Keadilan dan inklusivitas/keterbukaan (respect for justice and

inclusiveness)

Peneliti telah berusaha mengkondisikan lingkungan penelitian sehingga

memenuhi prinsip keterbukaan dan keadilan, yakni dengan menjelaskan


80

prosedur penelitian dan memberikan perlakuan serta keuntungan yang

sama pada subyek penelitian.

4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing

harms and benefits)

Peneliti telah berusaha meminimalisasi dampak yang merugikan bagi

subyek. Pelaksanaan penelitian telah dilaksanakan sebaik mungkin untuk

dapat mencegah atau paling tidak mengurangi rasa sakit, cidera, stres

maupun kematian subyek penelitian.

I. Teknik Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang berasal langsung dari sumber asli atau

pertama, data primer tidak tersedia dalam bentuk terkompilasi ataupun

dalam bentuk file-file. Data primer harus dicari melalui narasumber atau

responden (subyek penelitian) (Sumantri, 2011). Data primer dalam

penelitian ini berupa data hasil pengisian kuesioner pada orang tua dari

anak usia prasekolah (usia 3-5 tahun) di Posyandu Lestari 1-10 Kelurahan

KarangTalun, Kabupaten Cilacap.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak

langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya, biasanya

berupa data dokumentasi atau data laporan yang tersedia (Sumantri, 2011).

Data sekunder penelitian ini berupa data identitas anak (nama, usia, jenis

kelamin, tingkat pendidikan) dan orang tua (nama, usia, jenis kelamin,
81

tingkat pendidikan, pekerjaan) dari anak usia prasekolah di Puskesmas

Cilacap Utara II dan Posyandu Lestari 1-10 Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

3. Instrumen Penelitian

Menurut Sugiyono (2011) instrumen penelitian adalah alat atau tes

yang akan digunakan untuk mengumpulkan data guna mendukung dalam

keberhasilan suatu penelitian. Menurut Dharma (2011), instrumen

penelitian adalah alat yang digunakan dalam melaksanakan uji coba atau

perlakuan terhadap subyek penelitian dan alat ukur untuk mengumpulkan

data.

Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner atau angket. Menurut

Dharma (2011) kuesioner atau angket merupakan bentuk atau dokumen

yang berisi beberapa item pertanyaan yang dibuat berdasarkan indikator-

indikator suatu variabel. Pada penelitian ini menggunakan angket tertutup

dan bersifat langsung, dimana responden hanya memberikan tanda ceklist

(√) pada salah satu jawaban yang dianggap sesuai dengan responden.

Angket atau kuesioner dalam penelitian ini terbagi dalam lima bagian

yaitu :

a) Kuesioner A berisi identitas atau karakteristik responden baik orang tua

maupun anak (nama anak dan orang tua, usia anak dan orang tua, jenis

kelamin anak dan orang tua, pendidikan anak dan orang tua, pekerjaan

orang tua, urutan kelahiran anak, keluarga yang tinggal serumah dan

tanggal pengisian kuesioner)


82

b) Kuesioner B berisi pernyataan untuk mengetahui pola asuh orang tua

kepada anak yang berisi tiga komponen yaitu pola asuh demokratis (a),

otoriter (b) dan permisif (c), yang terdiri dari 24 pernyataan. Penentuan

skor nilai dengan menggunakan skala Likert dengan jawaban : Untuk

pernyataan favourable : Sangat Tidak Setuju (1), Tidak Setuju (2),

Setuju (3), Sangat Setuju (4). Untuk Pernyataan unfavourable : Sangat

Setuju (1), Setuju (2), Tidak Setuju (3), Sangat Tidak Setuju (4).

c) Kuesioner C berisi pertanyaan untuk mengetahui pola komunikasi

orang tua kepada anak yang terdiri dari tiga komponen yaitu keakraban,

keterbukaan, dan perhatian, yang terdiri dari 16 pernyataan. Penentuan

skor nilai dengan menggunakan skala Likert dengan jawaban : Untuk

pernyataan favourable : Tidak Pernah (1), Jarang (2), Sering (3), Sangat

Sering (4). Untuk Pernyataan unfavourable : Sangat Sering (1), Sering

(2), Jarang (3), Tidak Pernah (4).

d) Kuesioner D berisi pernyataan untuk mengetahui kejadian temper

tantrum pada anak usia prasekolah yang terdiri dari perilaku menyerang

secara fisik dan verbal, yang terdiri dari 33 pernyataan. Penentuan skor

nilai dengan menggunakan skala Likert dengan jawaban : Untuk

pernyataan favourable : Tidak Pernah (1), Jarang (2), Sering (3), Sangat

Sering (4). Untuk Pernyataan unfavourable : Sangat Sering (1), Sering

(2), Jarang (3), Tidak Pernah (4).

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian


Variabel Sub Variabel Indikator No Item Jumlah
F U
Pola Asuh a. Pola Asuh - Peraturan dan disiplin dengan
Demokratis 1,17 2 3
memperhatikan anak
- Menghadapi masalah dengan
18 - 1
tenang
83

- Saling menghormati 19 3 2
- Komunikasi dua arah 4,20 - 2
b. Pola Asuh - Menghukum anak dengan mencari
Otoriter 21 - 1
alasannya
- Perintah dan larangan yang mutlak 6 5 2
- Disiplin yang dipaksakan 7 - 1
- Menggunakan kekerasan
8,22 - 2
fisik dalam menghukum
- Pengambilan keputusan
9 23 2
hanya dari orang tua
c. Pola Asuh - Tidak ada monitor dan bimbingan 10 11 2
Permisif - Bersikap pasif dan masa Bodoh 12,24 13 3
- Anak bebas bertingkah laku 14 15 2
- Hubungan dengan keluarga kurang - 16 1
Jumlah 16 8 24
- Keakraban 1,5 2,3,4,6 6
Komunikasi - Keterbukaan 7,10 8,9,10 5
- Perhatian 13,15 12,14,16 5
Jumlah 6 10 16
Perilaku Menyerang yang - Menghentakkan kaki 1,21 2,22 4
Temper bersifat fisik - Memukul 3,5,23 4 4
Tantrum - Membenturkan Kepala 6,24 - 2
- Menendang 7,25 - 2
- Membanting pintu 8,26 9 3
- Melemparkan dan merusak barang- 10,27 11,28 4
barang
Menyerang - Menangis dengan keras 12,13,29 30 4
secara verbal - Merengek 14, 31 15 3
- Berteriak dan menjerit 16,32 17 3
- Mengumpat dan memaki 18,20 19,33 4
Jumlah 22 11 33
Total Jumlah Item Soal 44 29 73

4. Uji Instrumen

a. Uji Validitas Instrumen

Arikunto (2013) mengatakan bahwa validitas adalah suatu ukuran

yang menunjukan kevalidan atau kesahehan suatu instrumen. Dari

pengertian tersebut dapat diartikan bahwa validitas itu mengukur apa

yang hendak diukur (ketepatan). Untuk menguji tingkat validitas maka

digunakan rumus Korelasi Product Moment. Rumus yang digunakan

adalah Korelasi Product Moment yaitu :


84

𝑁(𝛴𝑋𝑌) − (𝛴𝑋). (𝛴𝑌)


𝑟𝑥𝑦 =
√(𝑁𝛴𝑋 2 − 𝛴𝑋 2 ). (𝑁𝛴𝑌 2 − 𝛴𝑌 2 )

Keterangan :

𝑟𝑥𝑦 = Koefisien korelasi tiap item

𝞢X = Skor tiap faktor

𝞢Y = Skor seluruh faktor

N = Jumlah sampel uji coba

Jika, 𝑟𝑥𝑦 ≥ 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 atau 𝑟𝑥𝑦 < 0,50 berarti butir soal valid, sebaliknya bila

𝑟𝑥𝑦 < 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 maka butir soal tidak valid (Arikunto, 2013).

Semua kuesioner yang digunakan untuk mengukur pola asuh,

komunikasi dan temper tantrum tidak dilakukan uji validitas, karena

telah dilakukan uji validitas oleh peneliti sebelumnya. Kuesioner pola

asuh orang tua dan temper tantrum telah dilakukan uji validitas oleh

Kirana (2013), dengan hasil uji validitas skala pola asuh mempunyai

nilai koefisian r antara 0,324 sampai 0,757 dengan nilai signifikan p < α

(0,05) dan hasil uji validitas skala temper tantrum mempunyai nilai

koefisien r antara 0,408 sampai dengan 0,797 dengan tingkat

signifikansi 0,000. Kuesioner komunikasi orang tua telah dilakukan uji

validitas oleh Suhartini (2017), dengan hasil nilai signifikan p < α

(0,05). Berdasarkan hasil uji validitas tersebut, maka setiap item

pernyataan didapatkan nilai signifikansi < α (0,05) sehingga Ho ditolak,

maka instrumen penelitian ini dinyatakan valid.


85

b. Uji Reliabilitas Instrumen

Menurut Arikunto (2013), angket dinyatakan reliabel jika dapat

dipercaya, konsisten, dan bila digunakan untuk mengukur subyek yang

sama memberikan hasil tidak jauh berbeda. Untuk mencari reliabilitas

angket dalam penelitian ini digunakan rumus Cronbach’s Alpha (a).

Rumusnya sebagai berikut (Arikunto, 2013) :

𝑘 𝛴𝜎𝑏2
𝑟11 = ( ) (1 − 2 )
𝑘−1 𝜎𝑡

Keterangan :

𝑟11 = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan

σ2b = Jumlah variasi soal

𝜎𝑡2 = Variabel total

Jika r11 ≥ r tabel, maka instrumen tersebut reliabel, sedangkan jika r11 <

r tabel maka instrumen tersebut tidak reliabel (Arikunto, 2013).

Semua kuesioner yang digunakan untuk mengukur pola asuh,

komunikasi dan temper tantrum tidak dilakukan uji reliabilitas karena

telah dilakukan reliabilitas oleh peneliti sebelumnya. Kuesioner pola

asuh orang tua dan temper tantrum telah dilakukan uji reliabilitas oleh

Kirana (2013), dengan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,946 untuk

kuesioner pola asuh dan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,963 untuk

kuesioner temper tantrum. Kuesioner komunikasi orang tua telah

dilakukan uji reliabilitas oleh Suhartini (2017), dengan hasil nilai

Cronbach Alpha > 0,6. Berdasarkan hasil uji reliabilitas tersebut, maka

setiap item pernyataan didapatkan nilai koefisian reliabilitas > r tabel


86

dengan demikian instrumen penelitian ini dinyatakan reliabel untuk

digunakan dalam penelitian ini.

J. Prosedur Pengumpulan Data

1. Persiapan

a. Peneliti meminta surat ijin penelitian ke Ketua STIKES Al-Irsyad Al-

Islamiyyah Cilacap setelah melakukan seminar proposal.

b. Peneliti meminta perijinan ke Bupati Cilacap melalui Kantor Badan

Kesatuan Bangsa dan Politik (BAKESBANGPOL).

c. Peneliti membawa surat pengantar dari Kesbangpol Kabupaten Cilacap

untuk mengurus perijinan ke Kepala Badan Perencanaan Pembangunan

Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPPELITBANGDA).

Berdasarkan surat pengantar dari Kepala Bappeda dimaksudkan

kemudian peneliti mengurus perijinan ke Kecamatan Cilacap Utara,

Kelurahan KarangTalun dan Ketua Posyandu Lestari 1-10 Kelurahan

KarangTalun, Kabupaten Cilacap.

d. Setelah mendapatkan perijinan atau persetujuan, peneliti menemui dan

bekerja sama dengan bidan desa, ketua dan kader posyandu Lestari 1-10

Kelurahan KarangTalun, Cilacap untuk membantu dalam pelaksanaan

penelitian.

2. Pelaksanaan

a. Peneliti memilih semua responden yang datang dan memenuhi kriteria

inklusi dimasukan kedalam penelitian, sampai jumlah subyek yang

diperlukan terpenuhi di setiap posyandu (consecutive sampling).


87

b. Peneliti meminta kesediaan responden untuk terlibat dalam penelitian.

Apabila responden setuju, maka peneliti menjelaskan tujuan, prosedur

dan manfaat penelitian, selanjutnya orang tua atau wali anak

dipersilahkan untuk menandatangani lembar informed consent.

c. Peneliti melakukan proses pengambilan data dengan memberikan

kuesioner kepada orang tua atau wali anak yang berisi pernyataan

terkait pola asuh, komunikasi dan kejadian temper tantrum pada anak,

untuk dijawab dan diisi dengan lengkap sesuai kondisi dari orang tua

dan anak tersebut.

d. Kuesioner yang telah selesai diisi oleh responden, selanjutnya

dikumpulkan dan diteliti mengenai kelengkapan data dan jawabannya.

Apabila belum lengkap, maka peneliti meminta responden untuk

melengkapi data dan jawaban yang belum lengkap tersebut.

e. Peneliti memberikan sedikit penjelasan atau edukasi tentang pola asuh

dan komunikasi orang tua serta temper tantrum anak usia prasekolah

kepada orang tua anak usia prasekolah.

f. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis untuk

mengidentifikasi hubungan pola asuh dan komunikasi orang tua dengan

temper tantrum anak usia prasekolah di Kelurahan KarangTalun,

Kabupaten Cilacap.

Pengumpulan data penelitian ini dilakukan oleh peneliti yang dibantu oleh

bidan desa, ketua dan kader posyandu serta asisten peneliti. Pemilihan

asisten peneliti berdasarkan ketentuan yang ditetapkan yaitu minimal

setingkat dengan peneliti atau mahasiswa S1 Keperawatan tingkat IV dan


88

telah memiliki persamaan persepsi dengan peneliti tentang penelitian yang

akan dilakukan sehingga pemahamannya sama.

K. Analisa Data

1. Pengolahan Data

a. Editing

Menurut Notoatmodjo (2010), editing merupakan kegiatan untuk

pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner yang telah diisi

pada saat pengumpulan data. Pada penelitian ini, peneliti memeriksa

data yang diperoleh dari hasil pengisian kuesioner dan biodata anak

usia prasekolah dan orang tua dari catatan atau arsip posyandu yang

dikumpulkan dalam lembar pengumpulan data (Notoatmodjo, 2010).

b. Scoring

Scoring merupakan kegiatan pemberian skor pada setiap jawaban

responden setelah selesai diobservasi (Notoatmodjo, 2010). Tidak ada

pedoman buku untuk scoring, namun scoring harus diberikan secara

konsisten. Pada tahap ini, peneliti melakukan scoring pada kuesioner B,

C dan D yaitu :

1) Kuesioner B (lembar pola asuh orang tua)

Tabel 3.4 Skor Kuesioner Pola Asuh


Jenis Pernyataan
Pilihan
Favourable Unfavourable
Sangat Tidak Setuju 1 4
Tidak Setuju 2 3
Setuju 3 2
Sangat Setuju 4 1
89

2) Kuesioner C (lembar komunikasi)

Tabel 3.5 Skor Kuesioner Komunikasi


Jenis Pertanyaan
Pilihan
Favourable Unfavourable
Tidak Pernah 1 4
Jarang 2 3
Sering 3 2
Sangat Sering 4 1

Komunikasi terdiri dari 16 item pertanyaan, scoring dengan cara

jumlah item dikali dengan jumlah jawaban yang diperoleh sehingga

didapatkan skor terendah 1 x 16 = 16 dan skor tertinggi 4 x 16 = 64.

Data disajikan menjadi 2 kategori dengan berdasarkan Cut of Point

dari skor total menurut Wardani (2016), yaitu :

a) 16-40 : komunikasi disfungsional

b) 41-64 : komunikasi fungsional

3) Kuesioner D (lembar temper tantrum anak)

Tabel 3.6 Skor Kuesioner Temper Tantrum


Jenis Pernyataan
Pilihan
Favourable Unfavourable
Tidak Pernah 1 4
Jarang 2 3
Sering 3 2
Sangat Sering 4 1

Temper tantrum terdiri dari 33 item pernyataan, scoring dengan cara

jumlah item dikali dengan jumlah jawaban yang diperoleh sehingga

didapatkan skor terendah 1 x 33 = 33 dan skor tertinggi 4 x 33 =

132. Nilai tertinggi dikurangi nilai terendah dibagi 3 yaitu 132-33 =

99 : 3 = 33, sehingga didapatkan skor menurut Kirana (2013), yaitu :

a) 33-66 : Rendah

b) 67-99 : Sedang

c) 100-132 : Tinggi
90

c. Coding

Coding merupakan kegiatan mengubah data ke dalam bentuk yang

lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode tertentu. Coding

digunakan untuk mengubah data yang berbentuk huruf menjadi data

yang berbentuk angka atau bilangan (Notoatmodjo, 2010). Tujuan dari

coding adalah untuk mempermudah pada saat entry dan analisa data.

Pada penelitian ini coding untuk variabel independent dan dependent

diuraikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 3.7 Pengkodingan Variabel Penelitian


Coding
No Variabel Penelitian Kategori
Data Umum
1. Responden Responden 1 (Posyandu Lestari 1) 1
Responden 2 (Posyandu Lestari 2) 2
Responden 3 (Posyandu Lestari 3) 3
Responden 4 (Posyandu Lestari 4) 4
Responden 5 (Posyandu Lestari 5) 5
Responden 6 (Posyandu Lestari 6) 6
Responden 7 (Posyandu Lestari 7) 7
Responden 8 (Posyandu Lestari 8) 8
Responden 9 (Posyandu Lestari 9) 9
Responden 10 (Posyandu Lestari 10) 10
2. Jenis Kelamin Orang Tua Laki-laki 1
Perempuan 2
3. Pendidikan Orang Tua SD 1
SMP 2
SMA 3
Diploma 4
Sarjana 5
4. Pekerjaan Orang Tua Guru/PNS 1
Wiraswasta 2
Buruh/Swasta 3
Petani/Pedagang 4
Ibu Rumah Tangga (IRT) 5
Lain-lainnya/sebutkan 6
5. Jenis Kelamin Anak Laki-laki 1
Perempuan 2
6. Anak Ke Anak ke-1 1
Anak ke-2 2
Anak ke-3/lebih 3
7. Anak Bersekolah Ya 1
Tidak 2
8. Jumlah Balita dalam 1 1
Keluarga 2 atau lebih 2
9. Keluarga yang Tinggal Kakek/Nenek 1
Serumah Om/Tante 2
91

Lainnya/sebutkan 3
Data Khusus
1. Pola Asuh Orang Tua Permisif 1
Otoriter 2
Demokratis 3
2. Pola Komunikasi Orang 16-40 : Disfungsional 1
Tua 41-64 : Fungsional 2
3. Temper Tantrum Anak 33-66 : Rendah 1
Usia Prasekolah 2
67-99 : Sedang
100-132 : Tinggi 3

d. Tabulating

Notoatmodjo (2010) berpendapat bahwa pekerjaan tabulasi adalah

pekerjaan membuat tabel. Jawaban-jawaban yang sudah diberi kode

kategori jawaban kemudian dimasukkan dalam tabel. Pada penelitian

ini data dikelompokkan sesuai dengan kategori berdasarkan variabel

yang telah ditentukan. Tabulating dilakukan dengan membuat tabulasi

data dengan cara mengelompokkan data ke dalam suatu data tertentu

menurut sifat yang dimiliki dan sesuai dengan tujuan penelitian.

e. Cleaning

Semua data yang telah ditabulasi, oleh peneliti dilakukan

pengecekan ulang berdasarkan kode dan kelengkapan data. Pada proses

cleaning ini tidak ditemukan kesalahan atau missing data, sehingga

dilanjutkan ke proses analisis data dengan program komputer.

f. Processing atau Data Entry

Peneliti selanjutnya memasukkan data yang sudah dalam bentuk

kode (angka atau huruf) ke program atau software komputer.


92

2. Analisis Data

a. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik

setiap variabel yang diukur dalam penelitian (Notoatmodjo, 2010).

Karakteristik responden yang meliputi usia orang tua dan usia anak

dianalisis dengan frekuensi, mean, standar deviasi, minimal-maksimal

dan 95% CI. Karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin orang

tua dan anak, pendidikan orang tua dan anak, pekerjaan orang tua,

urutan lahir anak, keluarga yang tinggal serumah, jumlah balita dalam

keluarga, pola asuh, komunikasi orang tua dan temper tantrum anak

dianalisis dengan distribusi frekuensi dan persentase.

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan dengan pengujian statistik untuk

mengetahui hubungan antar variabel dan membuktikan hipotesis

(Notoatmodjo, 2010). Analisis ini dilakukan dengan statistik untuk

mengetahui hubungan antara variabel independent yaitu faktor-faktor

yang berhubungan dengan temper tantrum anak usia prasekolah

meliputi pola asuh orang tua, komunikasi orang tua, pekerjaan orang

tua, jenis kelamin orang tua, jenis kelamin anak, tingkat pendidikan

anak, jumlah balita dalam keluarga dan keluarga yang tinggal serumah

terhadap variabel dependent yaitu temper tantrum anak usia prasekolah.

Analisis bivariat pada penelitian ini tercantum dalam tabel 3.8 berikut :
93

Tabel 3.8 Uji Statistik yang Digunakan dalam Analisis Bivariat


Variabel Independen Variabel Dependen
Skala Skala Cara Analisis
Variabel Variabel
Data Data
Pola Asuh Orang Tua Nominal Temper tantrum Ordinal Chi-Square
Komunikasi Orang Tua Ordinal Temper tantrum Ordinal Spearman Rank
Pekerjaan Orang Tua Nominal Temper tantrum Ordinal Chi-Square
Jenis Kelamin Orang Tua Nominal Temper tantrum Ordinal Chi-Square
Jenis Kelamin Anak Nominal Temper tantrum Ordinal Chi-Square
Tingkat Pendidikan Anak Ordinal Temper tantrum Ordinal Chi-Square
Jumlah Balita dalam Keluarga Nominal Temper tantrum Ordinal Chi-Square
Keluarga yang Tinggal Serumah Nominal Temper tantrum Ordinal Chi-Square

Pengambilan keputusan Ho diterima atau ditolak dengan melihat

taraf signifikansi. Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi 5% (α

= 0,05), dengan kriteria pengujian ditetapkan Ho diterima apabila nilai

p > 0,05, Ho ditolak apabila nilai p ≤ 0,05 (Hastono, 2011; Dahlan,

2014).

c. Analisis Multivariat

Analisis bivariat hanya akan menghasilkan hubungan antara dua

variabel yang bersangkutan (variabel independent dan variabel

dependent). Oleh karena itu, untuk mengetahui hubungan lebih dari satu

variabel independent dengan satu variabel dependent, harus dilanjutkan

dengan melakukan analisis multivariat (Notoatmodjo, 2010). Analisis

multivariat merupakan teknik analisis perluasan atau pengembangan

dari analisis bivariat yang bertujuan melihat atau mempelajari

hubungan beberapa variabel (lebih dari satu) independent dengan satu

atau beberapa variabel dependent (umumnya satu variabel dependent)

(Hastono, 2011). Penelitian ini menggunakan analisa multivariat

dengan Regresi Logistik Ganda.


94

Yasril dan Kasjono (2009) menjelaskan regresi logistik adalah suatu

model matematik yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara

satu atau beberapa variabel independent dengan satu variabel dependent

yang bersifat dikotomus (binary) yaitu variabel yang mempunyai dua

nilai. Sebaiknya pada regresi logistik menggunakan variabel kategorik

agar lebih mudah dalam menginterpretasikan hasil analisisnya. Hal

tersebut diperjelas oleh Saryono (2008) bahwa regresi logistik dipakai

untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi variabel

dependent. Uji regresi logistik dipakai bila variabel independent

berskala numerik dan kategorik, serta variabel dependent berupa

kategorik (dikotomi). Hastono (2011) menjelaskan langkah-langkah

dalam pemodelan regresi logistik ganda adalah sebagai berikut :

1) Melakukan analisis bivariat antara masing-masing variabel

independent dengan variabel dependent nya. Bila hasil uji bivariat

mempunyai nilai p value < 0,25, maka variabel tersebut dapat masuk

model multivariat. Namun, bisa saja nilai p value > 0,25 tetap

diikutkan ke multivariat bila variabel tersebut secara substansi

penting.

2) Memilih variabel yang dianggap penting yang masuk dalam model,

dengan cara mempertahankan variabel yang mempunyai nilai p

value ≤ 0,05 dan mengeluarkan variabel yang nilai p value > 0,05.

Pengeluaran variabel tidak secara serentak, namun dilakukan secara

bertahap dimulai dari variabel yang mempunyai nilai p value

terbesar. Setelah itu dilanjut dengan melakukan uji confounding,


95

dengan cara melihat perubahan Odds Ratio (OR). Bila diperoleh

selisih OR > 10%, maka variabel tersebut adalah confounding dan

dimasukkan kembali ke dalam model.

3) Setelah memperoleh model yang memuat variabel-variabel penting,

maka langkah terakhir adalah memeriksa kemungkinan interaksi

variabel ke dalam model. Penentuan variabel interaksi sebaiknya

melalui pertimbangan logika substantif. Pengujian interaksi dilihat

dari kemaknaan uji statistik. Bila variabel mempunyai nilai

bermakna, maka variabel interaksi penting dimasukkan dalam

model.

Dengan metode ini, diketahui faktor yang dominan berhubungan

dengan temper tantrum anak usia prasekolah di Kelurahan

KarangTalun, Kabupaten Cilacap.