Anda di halaman 1dari 11

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
TANGERANG SELATAN

RESUME TREASURY REFERENCE MODEL


BY ALI HASHIM AND BILL ALAN

DISUSUN OLEH:
RIZKY RIDHO DWINANDA
NPM 1401180116
NOMOR URUT 29

KELAS 9-01
PRODI DIPLOMA IV AKUNTANSI ALIH PROGRAM (NON AKT)
OKTOBER 2019
A. Pendahuluan
Sistem perbendaharaan membentuk kekuatan untuk mencatat dan memproses seluruh
transaksi keuangan terkait dengan anggaran pada setiap tingkat pemerintahan. Sistem
perbendaharaan terintegrasi menawarkan beberapa manfaat signifikan dalam mengelola keuangan
publik yang lebih efektif, yaitu (1) integrasi penuh anggaran dan data pelaksanaan anggaran,
sehingga memungkinkan pengendalian keuangan yang lebih besar; (2) peningkatan perencanaan
untuk kas serta pemantauan secara ketat dan tepat waktu atas posisi kas pemerintah; (3)
penyediaan pelaporan manajemen yang memadai di berbagai tingkat pelaksanaan anggaran; (4)
peningkatan kualitas data untuk persiapan dan pelaksanaan anggaran; dan (5) fasilitasi penyusunan
laporan keuangan dan laporan keuangan lainnya untuk penganggaran, analisis, dan pengendalian
keuangan.
Terdapat 2 karakteristik kunci sistem perbendaharaan, yaitu (1) memerlukan konsolidasi dan
kompilasi yang cepat dengan data yang sangat banyak yang tersebar di berbagai kantor
perbendaharaan di seluruh negara dan (2) proses fungsional yang diasosiasikan dengan sistem ini
adalah yang berulang dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan.
Untuk perancangan dan implementasi sistem informasi manajemen fiskal pemerintah yang
efektif, penting bahwa (1) diperlukan reformasi proses manajemen keuangan yang mendasari secara
jelas disepakati dan dipahami sebagai dasar untuk desain sistem; (2) spesifikasi fungsional dan
teknis untuk desain sistem didasarkan pada proses-proses ini; dan (3) panduan yang jelas diberikan
untuk mengintegrasikan semua subsistem yang dibutuhkan untuk mendukung Government Fiscal
Management (GFM).

B. Treasury Reference Model: Konteks


Kerangka kerja pengaturan secara keseluruhan untuk mengoperasikan berbagai modul
komponen dari jaringan sistem terdiri dari struktur kontrol, klasifikasi akun, dan persyaratan
pelaporan. Standar dan prosedur yang harus diikuti untuk pemprosesan transaksi antara lain
dokumen dan kontrol tingkat transaksi untuk memastikan proses yang benar, rekaman lengkap dan
benar, dan jejak audit, kontrol akses untuk memastikan bahwa hanya personel yang berwenang yang
dapat merekam, mengubah, atau melaporkan informasi, dan kontrol sistem secara keseluruhan
untuk memastikan bahwa sistem mewujudkan standar pengolahan yang ditetapkan.
Struktur kode klasifikasi pemerintah perlu diatur untuk memberikan dasar yang konsisten
untuk mengintegrasikan perencanaan, penganggaran dan akuntansi, menyusun alokasi anggaran
dan program dan biaya proyek di dalam dan di berbagai instansi pemerintah, menangkap data pada
titik masuk di seluruh pemerintahan, serta mengonsolidasikan informasi keuangan di seluruh
pemerintahan.

1
Pemerintah harus menentukan persyaratan dan tujuan pelaporan dalam dua bidang, yaitu:
1. Pelaporan Eksternal – Untuk memberikan informasi kepada legislatif dan publik, serta negara
lain, organisasi internasional, investor luar negeri, dan pasar keuangan.
2. Pelaporan Internal Manajemen – Untuk pembuat kebijakan dan manajer pemerintah.
Proses fungsional untuk penganggaran dan akuntansi mencakup dua bidang yang saling
terkait, yaitu proyeksi fiskal makro, persiapan dan persetujuan anggaran dan proyeksi anggaran,
manajemen kas, dan akuntansi. Setelah disiapkan oleh cabang eksekutif, legislatif meninjau
perkiraan dan menyetujui anggaran. Durasi waktu pertimbangan legislatif dan tingkat perubahan
yang dapat diperkenalkan pada tahap ini sangat beragam di tiap negara. Anggaran yang disetujui ini
menjadi dasar hukum dari program Pekerjaan Sektor Publik (PSP) untuk dilaksanakan oleh
kementerian sektoral. Hal Ini memberikan perkiraan pendapatan yang diharapkan, jumlah pinjaman
dan jumlah pengeluaran berdasarkan anggaran dan klasifikasi akun yang diizinkan untuk
dibelanjakan untuk program dan proyek yang disetujui. Setelah anggaran disetujui, Kementerian
Keuangan memiliki tugas untuk mengendalikan pelepasan dana, memantau kemajuan implementasi
anggaran, dan mengelola sumber daya kas dari pemerintah.
Fungsi akuntansi meliputi menjaga otorisasi pencatatan pengeluaran pada tingkatan yang
sesuai dan tingkatan pelepasan dana yang ditetapkan, memproses pengeluaran dan transaksi
penerimaan – pencatatan transaksi sebagaimana yang terjadi, menerapkan kontrol yang diperlukan,
memposting ke akun yang sesuai, dan daftar transaksi dan data terkait untuk kontrol dan audit,
mempertahankan rekening buku besar untuk memantau dan mengendalikan pengeluaran dan
penerimaan aktual terhadap kontrol anggaran dan surat perintah, dan pelaporan.
Sistem Buku Besar Perbendaharaan (Treasury Ledger System) digunakan untuk merujuk
secara kolektif ke modul sistem yang memberikan dukungan untuk kontrol anggaran dan jaminan,
utang, piutang, buku besar umum, dan pelaporan fiskal.
Elemen utama Arsitektur Sistem yang diperlukan untuk mendukung GFM dan arus informasi
antara lain (1) sistem informasi untuk mendukung peramalan ekonomi makro, (2) sistem informasi
untuk membantu dalam persiapan dan persetujuan anggaran, (3) sistem informasi untuk
pelaksanaan anggaran, akuntansi, dan pelaporan fiskal, (4) sistem manajemen kas, (5) sistem
manajemen utang, (6) sistem administrasi pendapatan, (7) sistem untuk membantu dalam aspek
fiskal manajemen personalia, dan (8) sistem untuk mendukung audit.

C. Struktur Luas Treasury Reference Model


Berikut ini adalah deskripsi singkat tentang proses dan arus informasi yang terkait dengan
sistem perbendaharaan:
1. Mencatat alokasi dan pembagian anggaran

2
Setelah persetujuan anggaran tahunan oleh legislatif, alokasi anggaran tersebut diinput ke
dalam sistem oleh Bagian Anggaran Kementerian Keuangan. Anggaran yang disetujui untuk
kementerian kemudian dirinci berdasarkan klasifikasi ekonomi dan waktu (triwulan/bulanan).
Setelah tercatat dalam sistem, kemudian dilakukan koordinasi dengan kementrian yang memiliki
fungsi belanja. Kementerian-kementerian yang memiliki fungsi pembelanjaan kemudian
mengajukan anggaran rinci untuk unit satker bawahan mereka dan mengomunikasikan bagian
kepada unit satker.
2. Menentukan kebutuhan uang tunai dan jumlah surat perintah
Setiap tahun, satuan pengeluaran merinci proyeksi pengeluaran dan penerimaan. Pada tahun
berjalan, Kementerian Keuangan kemudian mengeluarkan surat perintah kepada kementerian
untuk merinci setiap kategori pembelanjaan. Tingkat perincian perlu dirinci berdasarkan
kewenangan yang didelegasikan kepada unit pengeluaran.
3. Rekam transaksi komitmen
Sepanjang tahun, kementerian yang befungsi sebagai pengeluaran melakukan permintaan dana.
Setelah memverifikasi kelayakan pengeluaran dan ketersediaan anggaran dan dana anggaran,
Perbendaharaan mendaftarkan komitmen aktual dalam sistem. Jika lembaga pembelanja
memiliki akses ke sistem, mereka mencatat transaksi itu sendiri, namun jika tidak, transaksi
dicatat melalui Unit Perbendaharaan Daerah.
4. Verifikasi tanda terima barang dan catat pesanan pembayaran
Setelah verifikasi pengeluaran dana diberikan, kementerian secara otomatis mencatat perintah
pembayaran. Sistem kemudian memeriksa batas alokasi dana. Lembaga pengeluaran
memproses pesanan pembayaran melalui RTU yang juga mencatat semua transaksi. Setelah
semua persyaratan untuk kewajiban telah dipenuhi, bagian pengeluaran harus mengonfirmasi
bahwa komitmen tersebut siap untuk pembayaran.
5. Proses Pembayaran
Sistem perbankan harus dilakukan pada saat yang sama dengan permintaan pembayaran
didaftarkan di TLS untuk dibayar. Hal Ini dapat dilakukan secara otomatis dalam sistem yang
sepenuhnya dikembangkan. Transaksi harian TLS dalam bentuk batch dikirim ke Bank Sentral
atau oleh RTU ke unit Bank Sentral regional. Bank kemudian mentransmisikan dana dan
informasi yang relevan ke setiap bank komersial untuk mengkredit akun yang sesuai dan
mendebit rekening pemerintah. Bank penerima mengonfirmasi debit ke akun Pemerintah ke TLS.
6. Pencatatan Penerimaan
Penerimaan pemerintah seperti pajak dan bea masuk dibayarkan ke satu set sub-rekening yang
diatur oleh Departemen Perbendaharaan di Bank Sentral. Wajib Pajak dapat memerintahkan
Bank mereka sendiri untuk melakukan transfer dari akun mereka ke dalam sub-akun khusus dari

3
TSA yang diatur untuk tujuan penerimaan pajak, atau dapat melakukan pembayaran langsung
ke akun-akun ini. Laporan berkala yang menunjukkan semua rincian penerimaan dikirim oleh
Bank Sentral kepada Departemen Keuangan dan otoritas pajak negara untuk pencatatan dan
rekonsiliasi.
Proses manajemen keuangan dan organisasi dalam sistem perbendaharaan dapat
dijabarkan sebagai berikut:
Level 1 Level 2
1. Manajemen otoritas 1. Pengalokasian dan penyaluran anggaran
penganggaran 2. Alokasi waran
3. Transfer anggaran
4. Otorisasi pendukung
5. Reviu anggaran
2. Manajemen komitmen 1. Pengadaan barang dan jasa (tahunan)
pendanaan 2. Pengadaan barang dan jasa (kontrak perpanjangan)
3. Pembuatan posisi staf baru dan rekrutmen
4. Komitmen penggajian
3. Manajemen pembayaran dan 1. Verifikasi penerimaan dan pembayaran barang dan jasa
penerimaan 2. Pembayaran gaji
3. Penerimaan
4. Manajemen utang dan 1. Pencatatan dan pembayaran utang
bantuan 2. Penerimaan hibah
3. Penerimaan pinjaman
4. Penerbitan surat berharga
5. Penjaminan
5. Manajemen kas 1. Prakiraan belanja
2. Prakiraan pedapatan
3. Monitoring kas
4. Strategi peminjaman
Pengaturan kelembagaan (untuk proses pengeluaran) yang umum terjadi dimana (a) semua
pembayaran dari agen-agen lini disalurkan melalui Perbendaharaan; (b) Perbendaharaan
bertanggungjawab untuk melakukan pembayaran dari Treasury Single Account (TSA) yang terdapat
di Bank Sentral; dan (c) Bank Sentral bertanggung jawab atas operasi perbankan ritel yang terkait
dengan pembayaran dan penerimaan pemerintah. Pengaturan kelembagaan ini memungkinkan
manajemen kas yang efisien dan kepatuhan terhadap alokasi anggaran untuk lingkungan yang
struktur tata kelolanya sangat lemah dan tidak stabil.

4
Untuk mengimplementasikan model bisnis ini diperlukan struktur organisasi yang terdiri dari
kantor perbendaharaan utama terletak di pusat, kantor perbendaharaan tingkat dua berada di
daerah/ provinsi, dan dimungkinkan untuk tingkat ketiga di kabupaten. Kementerian berkomunikasi
dengan kantor perbendaharaan tingkat pusat dan unit pengeluaran bawahannya berkomunikasi
dengan kantor regional/kabupaten terdekat untuk memproses transaksi pembayaran. Unit
pengeluaran mengirim transaksi pengeluaran mereka ke kantor kas terdekat untuk pembayaran.
Kantor-kantor ini mengirimkan transaksi pengeluaran yang disetujui ke cabang terdekat dari Bank
Sentral tempat TSA diadakan, untuk pembayaran ke vendor. Alternatif lain yaitu dengan hanya
memiliki kantor perbendaharaan di pusat. Dalam kasus ini unit pembelanjaan meneruskan transaksi
mereka melalui kementerian di atasnya yang selanjutnya diteruskan ke Perbendaharaan.
Alasan utama untuk memiliki jaringan kantor perbendaharaan di seluruh negeri adalah untuk
memberikan akses layanan yang mudah ke kantor perbendaharaan. Apabila didukung dengan
infrastruktur telekomunikasi yang baik proses antara unit pengeluaran di tiap kementerian dengan
kantor perbendaharaan yang ditunjuk akan dapat berjalan dengan sistem berbasis komputer,
sehingga dapat mengurangi jumlah kantor perbendaharaan secara signifikan. Pemprosesan
pembayaran dapat dipusatkan di beberapa kantor perbendaharaan yang berlokasi strategis di
seluruh negara yang melayani unit pengeluaran di wilayah hukum mereka.
Dalam pengimplementasiannya, terdapat dua arsitektur teknologi yang mendukung model
fungsional dan model organisasi yang diadopsi oleh Perbendaharaan, yaitu Pengolahan Transaksi
Terdistribusi dan Arsitektur Teknologi dan Pengolahan Transaksi Terpusat dan Arsitektur Teknologi.
Pada model Pengolahan Transaksi Terdistribusi dan Arsitektur Teknologi, fasilitas untuk
memproses transaksi, menghasilkan, menyimpan dan memproses data berada di masing-masing
level perbendaharaan, baik pusat, daerah, kabupaten, instansi lini, dan spending unit. Fasilitas pada
tiap level tersebut dapat berupa komputer, server, dan/atau LAN yang berdiri sendiri, yang terletak
di simpul-simpul jaringan (nodes of the network) yang terhubung dengan Wide Area Network (WAN).
Pengolahan transaksi diproses di masing-masing sistem komputer pada level tertentu yang
kemudian dikirimkan menuju sistem komputer pada tingkat yang lebih tinggi. Kelebihannya antara
lain mendistribusikan daya komputasi sepadan dengan persyaratan jaringan (node), membuat
sistem lebih tidak rentan terhadap malfungsi di situs pusat (central site), penggunaan akhir memiliki
kontrol lebih besar terhadap sumber daya teknologi dan data mereka, dan tidak bergantung pada
infrastruktur telekomunikasi.
Sedangkan pada model Pengolahan Transaksi Terpusat dan Arsitektur Teknologi, koneksi
yang dibangun dapat berbasis telepon ataupun berbasis satelit komunikasi. Data dikendalikan
(remote) dalam lokasi tertentu melalui web browser, baik secara Intranet yang dibuat oleh Pengelola
Data (Perbendaharaan) maupun Internet menggunakan Internet Service Provider (ISP). Kelebihan

5
utama dari model ini adalah dapat mengurangi biaya dan upaya untuk pengelolaan dan
pemeliharaan aplikasi. Hal ini dikarenakan penempatan data yang terpusat dalam satu lokasi
sehingga memudahkan untuk dilakukan pengelolaan jaringan. Pihak pengguna dapat mengakses
data tersebut melalui Client mode, sehingga kompleksitas dan besarnya infrastruktur yang
dibutuhkan juga dapat berkurang dan biaya investasi yang dilakukan dapat disesuaikan.
Di beberapa negara, kementerian dan unit pengeluaran bertanggung jawab langsung untuk
melakukan pembayaran dari TSA daripada pembayaran dilakukan melalui Perbendaharaan.
Meskipun demikian, TSA masih dilakukan di Bank Sentral, yang bertanggung jawab atas operasi
perbankan yang dilakukan pemerintah. Pengendalian anggaran dapat dilakukan oleh petugas dari
kantor pusat Perbendaharaan yang merupakan pos terdepan dari keuangan dan akuntansi lembaga.
Bank Sentral mendelegasikan tanggung jawab operasi perbankan ritel ke satu atau lebih
agen fiskal seperti bank komersial resmi yang melakukan pembayaran atas nama Perbendaharaan,
menerima pendapatan pemerintah dan melakukan setoran harian ke TSA di Bank Sentral.
Pengaturan ini memiliki keuntungan memberikan pembayaran yang lebih cepat kepada kreditur
pemerintah dan mengurangi keraguan terhadap kapasitas bank komersial untuk memproses
transaksi ini. Tiga proses penting untuk berfungsinya sistem secara efisien, yaitu (1) semua
pembayaran yang ditransfer ke TSA harus sekecil mungkin, (2) rekening Bank harus terus berada di
bawah kendali Ditjen Perbendaharaan meskipun dapat dioperasikan oleh agen, serta (3) saldo akun
harus dikliring ke TSA secara berkala untuk memastikan bahwa posisi kas pemerintah diketahui
secara akurat tepat waktu dan strategi peminjaman dapat dioptimalkan.
Keberadaan sistem pembayaran dan kliring antar bank memfasilitasi mekanisme
pembayaran dan penyelesaian yang efisien dan memastikan bahwa Perbendaharaan memiliki
informasi yang akurat dan tepat waktu mengenai saldo dan transaksi di rekening banknya. Namun,
hal ini tidak dapat menggantikan sistem perbendaharaan, karena sistem pembayaran dan kliring
antar bank tidak masuk dalam kontrol sistem perbendaharaan. Distribusi dan lokasi kantor
perbendaharaan di suatu negara akan tergantung pada kemudahan akses unit pengeluaran ke
kantor Perbendaharaan yang akan memproses transaksi mereka, tidak tergantung pada keberadaan
sistem kliring/pembayaran antarbank.

D. Kepatuhan terhadap Standar dan Praktik Internasional


Dua elemen khusus yang harus dipertimbangkan adalah pengadopsian bagan struktur akun
yang memenuhi standar internasional untuk akuntansi dan pelaporan fiskal, dan elemen yang relevan
dengan “IMF Code of Good Practices on Fiscal Transparency Declaration on Principles.”
Chart of Accounts (COA) adalah komponen kunci untuk memastikan bahwa data anggaran
diambil dalam tingkat rincian yang disyaratkan, bahwa sumber dan alasan untuk setiap transaksi

6
dapat diidentifikasi dalam sistem, dan informasi anggaran tersebut dapat dilihat dalam konteks yang
sesuai. COA juga mengkorelasikan anggaran dengan yang sebenarnya terjadi dengan menyediakan
pemetaan terhadap struktur klasifikasi anggaran.
Pada prinsipnya, COA mewujudkan semua klasifikasi hubungan antara catatan akuntansi.
Istilah ini paling sering diterapkan pada perusahaan komersial dan terkait secara mendasar dengan
definisi akrual dari transaksi dan konsep neraca. Hal ini juga sering diterapkan pada rekening
pemerintah dan digunakan secara bergantian dengan istilah "klasifikasi anggaran (atau akun)",
meskipun dasar yang mendasari untuk klasifikasi dalam pemerintahan tidak dapat menggunakan
struktur akrual. COA lengkap akan mencakup subklasifikasi dana, organisasi, ekonomi, fungsional,
program, dan proyek.
Walaupun tidak menerapkan basis akrual, pemerintah setidaknya menerapkan struktur basis
akrual pada COA untuk dapat mendukung fitur-fitur yang telah disebutkan sebelumnya. Secara garis
besar, COA basis akrual pada akuntansi sektor pemerintah dikategorikan sebagai berikut.
1. Pendapatan
Dalam arti luas, pendapatan adalah semua transaksi yang menambah kekayaan bersih
pemerintah. Pendapatan pemerintah diperoleh dari berbagai sumber yang berbeda di setiap
negara, konsekuensinya adalah pengklasifikasian pendapatan tidak dapat diseragamkan secara
utuh. Pendapatan dibagi menjadi dua, yaitu pendapatan pajak dan pendapatan selain pajak.
2. Belanja
Belanja dapat diartikan sebagai aliran sumber daya keluar yang mengurangi kekayaan bersih
pemerintah. Ada tujuh kelompok besar dalam pengelompokan belanja, yaitu kompensasi kepada
pegawai, pemanfaatan barang dan/atau jasa, konsumsi aset tetap, belanja properti, subsidi,
hibah, dan jaminan sosial.
3. Aset
Aset adalah sumber daya yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh pemerintah.
a. Aset keuangan: kas, piutang pada pihak lain, investasi saham pada holding, dll.
b. Aset non-keuangan: gedung dan bangunan, kendaraan, jalan, dan infrastruktur lainnya.
4. Kewajiban
Klaim atas sumber daya oleh pihak lain, antara lain utang baik jangka panjang maupun jangka
pendek.
5. Aliran Ekonomi Lain
Akun kategori ini mencatat perubahan yang terjadi pada nilai aset dan/atau kewajiban yang
diakibatkan oleh perubahan penilaian, pembangunan, penciptaan, ataupun penghapusan aset
dan/atau kewajiban.

7
Sistem Klasifikasi Anggaran terdiri dari lima substruktur klasifikasi dan memungkinkan
beberapa tampilan penganggaran.
1. Klasifikasi Dana menunjukkan di mana dana publik diotorisasi (misalnya, dana umum, atau
pendapatan, dana pengembangan, dana jalan, dll).
2. Klasifikasi Organisasi menggambarkan organisasi yang menerima sumber daya anggaran.
3. Klasifikasi Ekonomi menunjukkan rincian rincian pendapatan, pinjaman, dan pengeluaran
anggaran.
4. Klasifikasi Fungsional menunjukkan penerimaan dan pengeluaran dengan fungsi pemerintah
seperti Keamanan, Pendidikan, Kesehatan, dll.
5. Klasifikasi Program menunjukkan alokasi anggaran yang direncanakan untuk program tertentu
(seperti pengurangan kemiskinan) yang dapat dilaksanakan oleh berbagai unit organisasi dan
mungkin melibatkan beberapa kategori fungsional.
6. Klasifikasi Proyek mengidentifikasi kegiatan yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu dalam
jangka waktu tertentu. Proyek adalah elemen dari klasifikasi program yang lebih luas, dan banyak
yang mungkin terkait dengan bantuan eksternal (diidentifikasi dengan dana pemerintah/donor
tertentu).
Pengembangan sistem perbendaharaan harus diatur dalam konteks pengembangan sistem
manajemen fiskal secara keseluruhan. Peningkatan transparansi fiskal menyediakan serangkaian
tujuan yang relevan dengan semua elemen reformasi manajemen fiskal dan dapat membantu
memandu reformasi keuangan sebagai bagian dari program reformasi terpadu. Pada bulan April
1998, Komite Interim Dewan Gubernur IMF mengadopsi Code of Good Practices on Fiscal
Transparency dan mendorong semua negara untuk mengambil langkah-langkah untuk
menerapkannya. Standar dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk menetapkan prioritas bagi
reformasi manajemen fiskal, mengoordinasikan upaya berbagai lembaga, dan menilai kemajuan dari
waktu ke waktu.

E. Faktor Keberhasilan Kritis untuk Implementasi Proyek


Komitmen pemerintah yang berkelanjutan untuk reformasi sektor publik dan untuk
memperkuat lembaga manajemen keuangan dasar merupakan faktor penentu keberhasilan utama
untuk implementasi proyek yang memuaskan.
Implementasi penuh dari sistem Perbendaharaan dan program reformasi yang menyertainya
biasanya membutuhkan beberapa tahun untuk penyelesaiannya. Selama periode ini mungkin ada
beberapa perubahan dalam manajemen. Untuk memitigasi risiko-risiko ini maka perlu bahwa: (a)
langkah-langkah reformasi merupakan bagian dari program reformasi yang lebih luas untuk
manajemen pengeluaran publik dan disepakati dengan Pemerintah di tingkat tertinggi; (b) program

8
orientasi luas diterapkan untuk manajer sektor publik menekankan keunggulan yang ditawarkan oleh
sistem dan proses baru untuk mendorong apresiasi yang lebih luas dari manfaat dan meningkatkan
kepemilikan; dan (c) proyek dirancang sedemikian rupa sehingga quick wins dan tanda yang jelas
dicapai relatif awal dalam proyek untuk menarik perhatian dan minat manajemen.
Keberhasilan implementasi jaringan sistem informasi yang terintegrasi sangat tergantung
pada kerja sama antar beragam pengguna. Persiapan dan implementasi proyek rumit ketika
dilakukan dalam lingkungan multi-lembaga. Hal ini membutuhkan penetapan pengaturan, protokol,
dan jadwal berbagi data yang sistematis antara berbagai sistem sehingga semua lembaga memiliki
akses ke data keuangan sesuai kebutuhan.
Proyek-proyek reformasi sistem perbendaharaan perlu mengatasi kapasitas organisasi dari
lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan reformasi dan pengelolaan
pelaksanaan proyek. Untuk memastikan keberlanjutan proyek mungkin perlu menambah
keterampilan yang ada dan menyediakan pembiayaan dan perekrutan spesialis implementasi
proyek, spesialis manajemen fiskal, dan keterampilan teknis lainnya sesuai kebutuhan.
Implementasi sistem informasi terkait erat dengan dan biasanya memiliki dampak langsung
pada cara orang melakukan pekerjaan sehari-hari mereka. Sangat penting bahwa prosedur
manajemen perubahan yang tepat dilembagakan di samping program pelatihan formal untuk
memastikan bahwa staf merasa nyaman di lingkungan kerja baru mereka, dan khususnya tidak
merasa tidak aman karena ketakutan yang salah tempat tentang redundansi pekerjaan, dll.
Metodologi perencanaan proyek formal harus digunakan untuk merancang,
mengimplementasikan, dan memantau sistem. Mekanisme koordinasi harus dibuat untuk
memastikan bahwa serangkaian kebijakan, prosedur, dan standar tersedia untuk mengelola data
dan sistem di seluruh pemerintah. Standar tersebut harus, antara lain, mencakup protokol untuk
komunikasi, entri data, pengeditan, dan memperbarui format input dan output layar, cadangan dan
pemulihan, keamanan, kontingensi, dan perencanaan pemulihan bencana, serta dokumentasi teknis
dan pengguna.
Sangat penting bahwa perangkat keras dan lunak yang dipilih didukung secara lokal. Vendor
harus memiliki kehadiran di negara tersebut untuk memberikan pelatihan, dukungan teknis dan
pemeliharaan, termasuk pemenuhan kewajiban garansi, sepanjang umur sistem.

F. Beberapa Perkembangan Proyek Perbendaharan pada Transisi Ekonomi


Hal-hal penting yang dapat dipelajari dari proyek reformasi perbendaharaan Kazakhstan:
1. Komitmen pemerintah sepanjang/selama masa reformasi perbendaharaan;
2. Implementasi sistem interim (sementara) mendapatkan perhatian dari para pengguna sehingga
memudahkan penerimaan perubahan dan prosesnya; serta

9
3. Pelaksanaan pengawasan yang dekat dan masukan yang konsisten serta berkelanjutan dari
pihak bank maupun IMF merupakan hal yang krusial, dapat dilakukan dengan tidak adanya
perubahan penasihat perbendaharaan IMF dan tidak ada perubahan staf kunci dari pihak bank
Selama masa proyek reformasi perbendaharaan.
Kurangnya kapasitas Kementerian Keuangan untuk menangani pelaksanaan tersebut
menjadi hambatan utama dalam penyelesaian proyek. Penggajian atas pegawai pemerintah yang
rendah turut menyebabkan pencarian staf teknis yang berkualitas baik itu dalam bidang fungsional
maupun dari sisi IT menjadi sulit.
Poin penting yang dapat diambil dari proyek sistem perbendaharaan Ukraina adalah
kebutuhan untuk membangun kontrol internal yang baik untuk semua tahap pelaksanaan anggaran.
Sedangkan hal penting yang dapat dipelajari dari proyek manajemen keuangan publik Hungaria
antara lain:
1. Perbendaharaan mengoperasikan arsitektur pemprosesan transaksi terpusat di mana semua
transaksi diproses di pusat dan kantor perbendaharaan jarak jauh ditautkan dengan transaksi
diproses di pusat dan kantor perbendaharaan jarak jauh dihubungkan ke pusat melalui tautan
telekomunikasi dalam mode daring dan
2. perangkat lunak aplikasi yang digunakan telah dikembangkan secara khusus.

10