Anda di halaman 1dari 16

PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM PENCEGAHAN DAN

PENGENDALIAN PENYAKIT DI UPTD PUSKESMAS BUNIWANGI


KABUPATEN SUKABUMI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan
masyarakat Indonesia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit
tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah
administratif, sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan
kerjasama antar daerah, misalnya antar propinsi, kabupaten/kota bahkan
antar negara. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di
Indonesia adalah diare, malaria, demam berdarah dengue, influensa, tifus
abdominalis, penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Beberapa
penyakit tidak menular yang menunjukkan kecenderungan peningkatan
adalah penyakit jantung koroner, hipertensi, kanker, diabetes mellitus,
kecelakaan dan sebagainya. Untuk melakukan upaya pemberantasan
penyakit menular, penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan
keracunan, serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu
sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya
program dalam daerah kerja Kabupaten/Kota, Propinsi dan Nasional,
dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara
Kabupaten/Kota, Propinsi, Nasional dan internasional.
Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) merupakan
suatu program kesehatan yang menangani penyakit menular dan tidak
menular yang ada di lingkungan kerja Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
(FKTP)/Puskesmas. Hingga saat ini penyakit menular dan tidak menular
masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini
dapat dilihat dari meningkatnya angka kesakitan dari penyakit menular
dari tahun ke tahun dan berubahnya pola penyakit tidak menular yang
sekarang berkembang telah menunjukkan terjadinya kecenderungan
masalah kesehatan yang biasa disebut transisi epidemiologi.
Secara garis besar transisi epidemiologi adalah terjadinya perubahan
pola penyakit dan kematian yang ditandai dengan beralihnya penyebab
kematian yang semula didominasi penyakit infeksi yang tetap menjadi
masalah kesehatan, bergeser kepada penyakit non infeksi atau penyakit
tidak menular yang menjadi masalah kesehatan baru.
Faktor yang menjadi penyebab timbulnya penyakit menular dan tidak
menular adalah dikarenakan berubahnya pola hidup dari masyarakat dan
berubahnya pola penyakit.
Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu
(SST) berbasis data, Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP), dan Sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPRS), yang telah mengalami
beberapa kali perubahan dan perbaikan. Disamping keberadaan SST telah
juga dikembangkan beberapa sistem Surveilans khusus penyakit
Tuberkulosa, penyakit malaria, penyakit demam berdarah, penyakit kusta
dan lain sebagainya. Sistem Surveilans tersebut perlu dikembangkan dan
1
disesuaikan dengan ketetapan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah; Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999
tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom; dan
Keputusan Menteri Kesehatan No.1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta
kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya
pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.
Prioritas surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang potensial
menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa, penyakit menular dan
keracunan, demam berdarah dan demam berdarah dengue, malaria,
penyakit-penyakit zoonosis antara lain antraks, rabies, leptospirosis,
filariasis serta tuberkulosis, diare, tipus perut, kecacingan dan penyakit
perut lainnya, kusta, frambusia, penyakit HIV/AIDS, penyakit menular
seksual, pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat (severe
acute respiratory syndrome), hipertensi, stroke dan penyakit jantung
koroner, diabetes mellitus, neoplasma, penyakit paru obstuksi menahun,
gangguan mental dan gangguan kesehatan akibat kecelakaan.
Penyelenggaraan surveilans epidemiologi terhadap penyakit-penyakit
tersebut diatas disusun dalam pedoman surveilans epidemiologi, khusus
masing-masing penyakit dan pedoman surveilans epidemiologi secara rutin
dan terpadu. Untuk menyelenggarakan surveilans epidemiologi penyakit
menular dan penyakit tidak menular secara rutin terpadu maka disusun
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit
Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu yang selanjutnya disebut
sebagai Surveilans Terpadu Penyakit (STP). Sementara pedoman surveilans
khusus masing-masing penyakit disusun dalam pedoman terpisah dengan
Keputusan Menteri Kesehatan.
Puskesmas merupakan kesatuan organisasi fungsional yang
menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu,
merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh masyarakat dengan peran
serta aktif masyarakat menggunakan hasil perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat
ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya tersebut
diselenggarakan dengan menitikberatkan pada pelayanan untuk
masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal tanpa
mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan (Depkes, RI 2004).
Salah satu fungsi puskesmas adalah memberikan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah
kerjanya. Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas meliputi
pelayanan pengobatan, upaya pencegahan, peningkatan kesehatan dan
pemulihan kesehatan (Depkes RI, 2004).Pencegahan Penyakit merupakan
salah satu pelayanan wajib puskesmas termasuk di Puskesmas Rendeng
yang mempunyai peranan strategis mendukung peningkatan pencapaian
target lintas program dan diharapkan berdampak pada peningkatan kinerja
puskesmas. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan visi Puskesmas yaitu
“Terwujudnya Puskesmas Buniwangi yang berkualitas menuju
Kecamatan Surade sehat yang mandiri tahun 2021” dengan misi
sebagai berikut : 1. Meningkatkan infrastruktur dan pelayanan kesehatan
2
yang merata, bermutu dan terjangkau, 2. Mewujudkan pembangunan
berwawasan kesehatan dan menggerakkan masyarakat berperilaku hidup
sehat, 3. Meningkatkan tata kelola manajemen dan system informasi
kesehatan serta ketersediaan sumber daya manusia, 4. Meningkatkan
koordinasi lintas program dan sektor. Dalam melakukan kegiatan petugas
selalu membudayakan tata nilai puskesmas yaitu IDAMAN (Inovatif,
Dinamis, Amanah, Mandiri, Adil dan Nyaman).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
a) Memberi arah bagi para petugas kesehatan pemegang program
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dalam
penatalaksanaan kasus penyakit menular dan penyakit tidak
menular yang merupakan masalah utama di lingkungan Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)/Puskesmas sebagai unit kerja
kesehatan dasar.
b) Terselenggaranya pencegahan dan pengendalian penyakit menular
dan penyakit tidak menular di lingkungan Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama (FKTP)/Puskesmas sebagai unit kerja kesehatan
dasar.
2. Tujuan Khusus
a) Menurunnya angka kesakitan dan kematian penyakit menular di
lingkungan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)/Puskesmas
sebagai unit kerja kesehatan dasar.
b) Mengidentifikasi faktor resiko dan penyakit tidak menular tertentu
pada masyarakat.
c) Melakukan intervensi dengan metode tanya jawab kepada
masyarakat tentang paparan faktor resiko penyakit tidak menular.
d) Mendapatkan model bentuk intervensi yang efektif untuk
menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular pada msayarakat.
e) Mendapatkan data dasar penyakit menular dan penyakit tidak
menular.
f) Mengevaluasi sistem pengendalian faktor resiko penyakit tidak
menular.

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Ruang lingkup pelayanan yang diatur dalam pedoman ini meliputi
penatalaksanaan penyakit menular dan tidak menular.
1. Penyusunan Perencanaan
2. Tatalaksana Penderita
3. Pengelolaan Logistik
4. Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Menular
5. Peran Serta Masyarakat
6. Surveilans Epidemiologi
7. Kegiatan Pelatihanistik untuk pelaksanaan kegiatan
8. Pendekatan Komunikasi, Informasi dan Evaluasi
9. Kerja Sama Lintas Program/Sektor
10. Pemantauan
11. Evaluasi Program

D. Batasan Operasional
3
Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) merupakan
suatu program yang menangani penyakit menular dan tidak menular.
1. Penyakit Menular
Penyakit menular (Communicable Desease) adalah penyakit yang
disebabkan oleh adanya agen penyebab yang mengakibatkan
perpindahan atau penularan penyakit dari orang atau hewan yang
terinfeksi, kepada orang atau hewan yang rentan (potential host), baik
secara langsung maupun tidak langsung melalui perantara (vector) atau
lingkungan hidup.
Penyakit-penyakit menular dikelompokkan menjadi beberapa kelompok
yaitu:
a) Penyakit menular potensial mewabah
Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit menular
berikut:
1. Diare
2. Demam berdarah dengue
3. Malaria (di daerah endemik tinggi)
4. Filaria (di daerah endemik tinggi)
b) Penyakit menular endemik tinggi
Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit berikut:
1. Tuberkulosis paru
2. Lepra (Morbus Hansen)
3. Patek (Framboesia)
4. Anjing gila (Rabies)
5. Antraks
c) Penyakit menular penting lain
Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit berikut:
1. Penyakit menular seksual
2. Sifilis (Raja Singa)
3. Gonorhoe (kencing nanah)
4. HIV/ AIDS
d) Penyakit menular lain
1. Hepatitis-B
2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Dikenal beberapa cara penularan penyakit menular yaitu:
a) Penularan secara kontak, baik kontak langsung maupun kontak
tidak langsung (benda-benda bekas dipakai pasien).
b) Penularan melalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman
yang tercemar.
c) Penularan melalui vector.
d) Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik, dan tato.
2. Penyakit Tidak Menular
Penyakit tidak menular ialah penyakit yang bersifat kronik, menahun,
berlangsung lama atau bisa juga mendadak, disebabkan oleh beberapa
faktor dan dapat dicegah apabila faktor resikonya dikendalikan. Sehingga
perawatan pasien penyakit tidak menular mencerminkan kegagalan dari
pengelolaan program penanggulangan penyakit tidak menular. Penyakit
tidak menular merupakan penyakit non infeksi karena penyebabnya
bukan mikroorganisme namun tidak berarti tidak ada peran
mikroorganisme dalam terjadinya penyakit tidak menular.
Penanggulangan penyakit tidak menular merupakan kombinasi upaya
4
inisiatif pemeliharaan mandiri oleh petugas, masyarakat dan individu
yang bersangkutan.
Penyakit-penyakit tidak menular meliputi :
a) Hipertensi (Penyakit Darah Tinggi)
b) Penyakit Jantung Koroner
c) Diabetes Melitus (Penyakit Kencing Manis)
d) Kanker
e) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
f) Osteoporosis
g) Penyakit Asam Urat
h) Asma
i) Stroke
j) Obesitas (Kegemukan)
k) Batu Ginjal

E. Landasan Hukum
1. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Program Pembangunan Nasional (PROPENAS).
3. Global Strategy for The Prevention and Control of Non Communicable
Disease (WHA 53 tahun 2000).
4. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 468/Menkes-
Kesos/SK/V/2001, tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan
Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
5. Sistem Kesehatan Nasional, tahun 2003.
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014, tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat.
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1116/Menkes/SK/VIII/2003,
tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi
Kesehatan.
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1479/Menkes/SK/X/2003,
tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi
Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular.
9. Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan
Penyakit Tidak Menular (Departemen Kesehatan Republik Indonesia).

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


5
Sesuai dengan pasal 88 dan pasal 96 Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan disebutkan bahwa tenaga
kesehatan yang diijinkan berprofesi minimal berijazah Diploma Tiga ( D
III ). Akan tetapi karena keterbatasan tenaga maka realisasi tenaga
program P2P yang ada di Puskesmas Buniwangi adalah :
Kegiatan Kualifikasi SDM Realisasi

P2P Minimal D III Diampu oleh 1 orang


petugas dengan latar
belakang pendidikan
DIII Keperawtan

B. Distribusi Ketenagaan
Pengaturan dan penjadualan Penanggung jawab P2P di puskesmas
dikoordinir oleh Penanggung jawab masing-masing program sesuai dengan
kesepakatan.
.
Kegiatan Petugas Unit terkait

P2P Muslihin, Am.Kep Kepala Puskesmas


UKP
UKM
ADMIN
Lintas Sektor
C. Jadwal Kegiatan
1. Pengaturan kegiatan upaya P2P dilakukan bersama oleh para
pemegang program dalam kegiatan lokakarya mini bulanan maupun
tri bulanan/lintas sektor, dengan persetujuan kepala puskesmas.
2. Jadwal kegiatan Program P2P dibuat untuk jangka waktu satu tahun,
dan di break down dalam jadwal kegiatan bulanan dan
dikoordinasikan pada awal bulan sebelum pelaksanaan jadwal.
3. Secara keseluruhan jadwal dan perencanaan kegiatan Program P2P di
koordinasikan oleh Kepala Puskesmas Buniwangi.

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang
Koordinasi pelaksanaan kegiatan Program Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit (P2P) dilakukan oleh penanggungjawab program
6
yang menempati

B. Standar Fasilitas

PINTU MASUK PASIEN

JENDELA
PINTU MASUK PETUGAS
MEJA KIPAS
PETUGAS ANGIN
JENDELA

DOKU
LEMA

MEN
P2P
DOKU
LEMA

RI

MEN
RI
BED PEMERIKSAAN PASIEN
BED PEMERIKSAAN PASIEN

BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

A. Penyusunan Perencanaan
Pada tahapan penyusunan perencanaan meliputi :
1. Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK)
2. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)
7
3. Penyusunan Plan of Action (POA) dari Bantuan Operasional Kesehatan
(BOK)
4. Penyusunan Standar Pelayanan Minimal yang memuat :
a. Target yang akan dicapai
b. Cakupan penderita

B. Tatalaksana Penderita
Penatalaksanaan penderita yang dilakukan pada Program Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit terbagi mejadi 2 (dua) yaitu penatalaksanaan dalam
upaya penanganan penyakit tidak menular dan penyakit menular.
1. Penyakit Tidak Menular
Melalui Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU
PTM) yang mengacu pada buku Pedoman Deteksi Dini Faktor Resiko
Penyakit Tidak Menular Berbasis Masyarakat (POSBINDU PTM) yang
dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2013.
2. Penyakit Menular
Penatalaksanaan penderita pada penyakit menular disesuaikan dengan
Buku-buku pedoman tentang penyakit menular yang disusun oleh Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan dijabarkan melalui Standar
Pelayanan Operasional yang telah disusun untuk setiap penyakit yang
digolongkan pada penyakit menular.

C. Pengelolaan Logistik
1. Tujuan
a. Melakukan penyimpanan dan distribusi obat dan perlatan yang
diperlukan
b. Mengatur persediaan (stock) sehingga tidak mengalami kekosongan
stock
c. Memantau penyimpanan, distribusi dan persediaan obat dan
peralatan di lapangan
2. Kebijaksanaan dan Koordinasi
Hasil pertemuan lintas program dan sektor menghasilkan koordinasi dan
kesepakatan serta pengertian-pengertian yang luas terhadap pengelolaan
suplai obat dan peralatan.

D. Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Menular


Pencegahan penyakit yang dilakukan pada Program Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit terbagi mejadi 2 (dua) yaitu pencegahan dalam
upaya penanganan penyakit tidak menular dan penyakit menular.
1. Penyakit Tidak Menular
Melalui Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU
PTM) yang mengacu pada buku Pedoman Deteksi Dini Faktor Resiko
Penyakit Tidak Menular Berbasis Masyarakat (POSBINDU PTM) yang
dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2013.
2. Penyakit Menular
a. Pengendalian Filariasis
b. Pengendalian kecacingan
c. Pengendalian infeksi dengue/DBD
d. Pengendalian malaria
e. Pengendalian zoonosis
f. Pengendalian HIV/AIDS
8
g. Pengendalian infeksi menular seksual
h. Pengendalian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
i. Pengendalian infeksi saluran pernafasan atas (ISPA)
j. Pengendalian diare

E. Peran Serta Masyarakat


Dalam upaya pelaksanaan Program Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P) perlu melibatkan sektor terkait yaitu :
1. Kecamatan
2. Kelurahan
3. Polsek dan Koramil
4. Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat
5. PKK
6. Kader Posyandu
7. Sekolah
8. Sektor lainnya yang terkait dengan Program Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit (P2P)

Contoh pada ISPA :

: Garis Koordinasi
: Rujukan

F. Surveilans Epidemiologi
Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu
(SST) berbasis data, Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP), dan Sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPRS), yang telah mengalami
beberapa kali perubahan dan perbaikan. Disamping keberadaan SST telah
juga dikembangkan beberapa sistem Surveilans khusus penyakit
Tuberkulosa, penyakit malaria, penyakit demam berdarah, penyakit kusta
dan lain sebagainya. Sistem Surveilans tersebut perlu dikembangkan dan
disesuaikan dengan ketetapan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah; Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999
tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
9
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom; dan
Keputusan Menteri Kesehatan No.1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta
kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya
pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.
Prioritas surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang potensial
menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa, penyakit menular dan
keracunan, demam berdarah dan demam berdarah dengue, malaria,
penyakit-penyakit zoonosis antara lain antraks, rabies, leptospirosis,
filariasis serta tuberkulosis, diare, tipus perut, kecacingan dan penyakit
perut lainnya, kusta, frambusia, penyakit HIV/AIDS, penyakit menular
seksual, pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat (severe
acute respiratory syndrome), hipertensi, stroke dan penyakit jantung
koroner, diabetes mellitus, neoplasma, penyakit paru obstuksi menahun,
gangguan mental dan gangguan kesehatan akibat kecelakaan.
Penyelenggaraan surveilans epidemiologi terhadap penyakit-penyakit
tersebut diatas disusun dalam pedoman surveilans epidemiologi, khusus
masing-masing penyakit dan pedoman surveilans epidemiologi secara rutin
dan terpadu. Untuk menyelenggarakan surveilans epidemiologi penyakit
menular dan penyakit tidak menular secara rutin terpadu maka disusun
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit
Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu yang selanjutnya disebut
sebagai Surveilans Terpadu Penyakit (STP). Sementara pedoman surveilans
khusus masing-masing penyakit disusun dalam pedoman terpisah dengan
Keputusan Menteri Kesehatan.

G. Kegiatan Pelatihan untuk pelaksanaan kegiatan


Kegiatan Pelatihan dalam rangka pelaksanaan kegiatan dilakukan
kepada penanggungjawab Program Pencegahan den Pengendalian Penyakit
(P2P) sesuai dengan rekomendasi dari Kepala Puskesmas untuk
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, setelah itu penanggungjawab
program melakukan koordinasi lintas program/sektor memberikan arahan
kepada petugas yang melaksanakan dan juga memberikan sosialisasi
kepada kader posyandu dan lintas sektor.

H. Pendekatan Komunikasi, Informasi dan Evaluasi


1. Tujuan
Terwujudnya masyarakat yang mengerti, menghayati dan melaksanakan
hidup sehat melalui pendekatan komunikasi, informasi dan edukasi
(KIE) sehingga program pencegahan dan pengendalian penyakit dapat
terlaksana.
2. Strategi
a. Melaksanakan pendekatan kepada para pengambil keputusan sesuai
dengan tingkat administratif pelaksanan program,baik lintas program
maupun sektor guna mendukung program pencegahan dan
pengendalian penyakit.
b. Melaksanakan upaya untuk mengembangkan norma hidup sehat di
masyarakat untuk mendapatkan social support dalam komunikasi
pencegahan dan pengendalian penyakit.
c. Mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan masyarakat
10
dalam melaksanakan tatalaksana penderita dan pencegahan.
3. Langkah Kegiatan
a. Pendekatan Pimpinan/Pengambil Keputusan
1) Menentukan dan menetapkan bentuk dukungan yang
diharapkan dari para pengambil keputusan
2) Menentukan sasaran (pimpinan lintas program, pimpinan lintas
sektor, penyandang/sumber dana)
3) Menentukan perilaku yang diharapkan
4) Menentukan pesan
5) Menentukan metoda dan teknis
6) Menentukan media
b. Dukungan Suasana (Social Support)
Rangkaian kegiatan hampir sama dengan advocacy, tetapi kelompok
sasaran lebih ke tingkat teknis operasional berjenjang, antara lain
kader, Tim Penggerak PKK, tokoh masyarakat.
c. Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)
1) Sasaran utama KIE adalah masyarakat
2) Metoda dan teknik selain disesuaikan dengan segmen pasar,
diupayakan berlangsung dinamis, misalnya tatap muka,
simulasi, demonstrasi, penyuluhan kelompok.

I. Kerja Sama Lintas Program/Sektor


Kerja sama lintas program/sektoral (LP/LS) adalah salah satu kegiatan
bentuk program yang perlu dibina dan dikembangkan. Melalui kerjasama
LP/LS diharapkan pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian
penyakit akan dapat dukungan baik politis maupun operasional dari
institusi lain sesuai dengan porsi masing-masing.

J. Pemantauan
1. Tujuan
a. Melihat kinerja petugas kesehatan dan memberikan bimbingan
dalam pengelolaan program pencegahan dan pengendalian penyakit
di wilayah kerja masing-masing.
b. Memberikan umpan balik atau alternatif pemecahan masalah yang
ditemukan pada saat pemantauan.
2. Kegiatan Pemantauan
Pemantauan adalah kegiatan mengamati secara berkesinambungan atas
penampilan kerja dalam melaksanakan kegiatan pencegahan dan
pengendalian penyakit di semua jenjang di wilayah kerja masing-
masing.

K. Evaluasi Program
1. Tujuan
Mengetahui hasil kegiatan yang telah dilaksanakan, masalah yang ada
dan merencanakan kegiatan pada tahun depan.
2. Beberapa cara melakukan evaluasi
a. Evaluasi berdasarkan data rutin
b. Evaluasi berdasarkan hasil pemantaun supervisi
c. Evaluasi berdasarkan survey khusus.

11
BAB V
PENYEDIAAN LOGISTIK

Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan Pencegahan


dan Pengendalian Penyakit direncanakan dalam mini lokakarya puskesmas
sesuai dengan tahapan dan metoda yang akan dilaksanakan.

12
BAB VI
KESELAMATAN SASARAN

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan Pencegahan


dan Pengendalian Penyakit perlu diperhatikan keselamatan sasaran dengan
melakukan identifikasi resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi
pada saat pelaksanaan kegiatan.
Upaya pencegahan resiko terhadap sasaran harus dilakukan untuk tiap-
tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.

13
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan Pencegahan


dan Pengendalian Penyakit perlu diperhatikan keselamatan kerja karyawan
puskesmas dan lintas sektor terkait dengan melakukan identifikasi resiko
terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan
kegiatan.
Upaya pencegahan terhadap resiko harus dilakukan untuk tiap-tiap
kegiatan yang akan dilaksanakan.

14
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Kinerja pelaksanaan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit


dimonitor dan dievaluasi dengan menggunakan indikator sebagai berikut :
1. Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan
2. Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan
3. Ketepatan metode yang digunakan
4. Tercapainya indikator, target, dan cakupan penyakit menular dan
penyakit tidak menular.
Permasalahan yang timbul dibahas pada pertemuan lokakarya mini setiap
1 (satu) bulan, Pada pertemuan Lintas Sektoral setiap 3 (tiga) bulan serta
forum - forum diskusi yang ada di masyarakat .

15
BAB IX
PENUTUP

Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dan lintas sektor
terkait dalam pelaksanaan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
(P2P) dengan tetap memperhatikan prinsip proses pembelajaran dan manfaat.
Keberhasilan kegiatan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
(P2P) tergantung pada komitmen yang kuat dari semua pihak terkait dalam
upaya meningkatkan kemandirian masyarakat dan peran aktif masyarakat
dalam bidang kesehatan.

16