Anda di halaman 1dari 22

3.1.

Umum
Untuk dapat tercapainya hasil pekerjaan Supervisi Konstruksi Optimalisasi
Intake dan Jaringan Pipa Transmisi Air Baku Tokararu-Tangkura Kabupaten
Donggala yang maksimal, Tim Supervisi melaksanakan sistem pengawasan dan
pembagian kerja yang sistematis dan terencana. Dalam hal ini diuraikan metodologi
pelaksanaan untuk pekerjaan supervisi konstruksi secara rinci untuk mencapai
sasaran yang diharapkan.

3.2. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Secara Umum


Secara umum pelaksanaan proyek dapat dibagi dalam beberapa tahapan:
1. Tahap I : Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-Construction)
▪ Penentuan dan penetapan anggota tim konsultan di lapangan
▪ Mempelajari dokumen kontrak
▪ Penetapan organisasi proyek
▪ Pengadaan material pendahuluan/peralatan pendukung
▪ Koordinasi dengan pihak-pihak berwenang (direksi pekerjaan dan
instansi terkait)
▪ Sosialisasi kepada instansi terkait dan Dinas Pekerjaan Umum
mengenai pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan. Sosialisasi ini
meliputi lingkup, metode dan dampak yang akan timbul dilapangan
akibat pelaksanaan pekerjaan
2. Tahap II : Saat Awal Proyek (At Project Starting)
▪ Rapat dengan pihak kontraktor mengenai organisasi proyek, dokumen
kontrak, program kerja, sub kontraktor (apabila ada), material dan
pengaturan lain yang diperlukan.
▪ Pengecekan bersama sebelum pekerjaan dimulai.
▪ Penetapan item-item pekerjaan.
▪ Rapat periodik yang terdiri dari rapat mingguan (weekly meeting) dan atau
rapat koordinasi bulanan (monthly meting) sesuai kesepakatan dalam pre
bid meeting.
▪ Pengecekan peralatan keselamatan kerja (safety life) di lapangan.
▪ Pengaturan khusus antara lain alur koordinasi lapangan dan
pengamanan terhadap sistem kerja.
3. Tahap III : Pelaksanaan Proyek (Project Construction)
▪ Pengaturan pengecekan yang dibuat kontraktor untuk tahap sebelumnya
didalamnya terdapat revisi schedule.

18
▪ Pengujian material dan spesifikasi bahan yang digunakan di lapangan.
▪ Pengendalian kualitas untuk pelaksanaan pekerjaan utama
▪ Pekerjaan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan
▪ Kemungkinan perubahan desain selama masa pelaksanaan
▪ Kaji ulang desain rinci (review of detailed design) dan persetujuan gambar
kerja (shop drawing)
▪ Pengukuran tahap pelaksanaan pekerjaan dan pembayarannya
▪ Monitoring dan pelaporan pelaksanaan pekerjaan
▪ Pelaksanaan pekerjaan yang sistematis dan praktis sehingga mudah diterima
▪ Pelaksanaan test akhir pada pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan
▪ Dokumentasi dan lain-lain
4. Tahap IV : Saat Project Selesai (Project Completion)
▪ Masa pemeliharaan (Maintenance Period)
▪ Melakukan pengecekan bersama volume pekerjaan total (final quatity) yang
menjadi dasar kontraktor melakukan klaim akhir pembayaran
▪ Pemeriksaan bersama setelah pekerjaan selesai (final request for joint
inspection) dengan kontraktor, direksi dan konsultan
▪ Serah terima pekerjaan yang telah selesai
▪ Commisioning pekerjaan yang telah selesai
▪ Pembayaran akhir dan pengembalian uang jaminan
▪ Evaluasi dan cara penilaian pekerjaan yang telah dilaksanakan
▪ Penyusunan laporan penyelesain akhir proyek (Project Completion Report).

3.3. Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan


Metodologi pelaksnaan pengawasan secara garis besar meliputi tahapan-
tahapan kegiatan sebagai berikut :
1. Tahap Pra-Konstruksi
a. Mobilisasi Personil Tim Konsultan
Setelah menerima Surat Perintah Mulai Kerja, Konsultan akan segera
melakukan mobilisasi personil sesuai dengan Jadwal Penugasan Personil.
Semua tenaga inti (Tenaga Ahli, Tenaga Teknis dan Tenaga Pendukung) yang
dimobilisasi akan dibekali bahan rujukan berupa formulir-formulir
pengawasan beserta manual pengawasan yang umum digunakan di
lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum termasuk disini adalah penetapan
struktur organisasi konsultan.
b. Review Data/Dokumen Kontrak
Pada tahap pendahuluan ini, Konsultan akan mempelajari dan mengkaji
gambar-gambar rencana dan spesifikasi teknis dari proyek yang akan
dikerjakan. Kajian ini dilakukan guna mengetahui apakah desain yang ada
dapat diimplementasikan atau mungkin ada bagian-bagian tertentu dari
desain yang perlu direvisi. Hasil kajian desain ini akan Konsultan sampaikan

19
secara tertulis kepada Pemberi Kerja untuk selanjutnya didiskusikan.
c. Peninjauan Lapangan
Pada tahap pendahuluan ini, Konsultan akan melakukan peninjauan
lapangan guna mengetahui batas-batas lokasi dan kondisi proyek akan
dikerjakan, hambatan-hambatan/kendala-kendala yang ada, serta lokasi
base camp dan fasilitasnya.
d. Evaluasi Program Kerja Penyedia Jasa Konstruksi
Pada tahap awal ini, Konsultan akan mengevaluasi Program Kerja Penyedia
Jasa Konstruksi (Kontraktor). Program Kerja ini adalah suatu proses dimana
Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor) harus menguraikan jadwal (schedule)
kerja menjadi bagian-bagian, antara lain :
▪ Jadwal mobilisasi tenaga kerja (Man Power Schedule),
▪ Jadwal mobilisasi peralatan (Equipment Schedule),
▪ Jadwal pengadaan material (Material Schedule),
▪ Pengalokasian dana (Cash Flow),
▪ Jadwal pelaksanaan kerja.
Kesemuanya itu dilengkapi dengan uraian dan penjelasan metoda kerja, atau
prosentasi kemajuan pekerjaan.
Program kerja dibuat untuk mempermudah pengelolaan proyek dengan
suatu system yang teratur dan memberikan system informasi manajemen
(Manajemen Informasi Sistem/MIS), secara jelas dan tepat guna.
▪ Untuk setiap minggu, sehingga Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor)
dapat menyiapkan dana, kebutuhan material, kebutuhan peralatan dan
kebutuhan tenaga setiap minggu.
▪ Program ini harus diperbaharui (up-date) setiap minggu sesuai
kenyataan lapangan.
▪ Program ini berkaitan erat dengan metode lintasan kritis (Critical Path
Method/CPM).
▪ Jenis pekerjaan/kegiatan apa saja yang berada pada garis lintas kritis
diprioritas untuk dikerjakan, karena ketinggalan 1 hari saja, secara
keseluruhan proyek ketinggalan 1 hari.
▪ Penanganan/jalan keluar yang dilakukan melaksanakan kerja ekstra
atau lembur pada lintasan kritis.
Dalam kaitan ini, Konsultan akan memeriksa program/jadwal kerja yang
diajukan oleh Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor), dan akan meninjau
program kerja ini dari berbagai aspek, seperti misalnya apakah pekerjaan
dapat atau tidak dilaksanakan secara efektif dan apakah pekerjaan ini dapat
dilaksanakan dalam waktu dan biaya seperti tercantum dalam kontrak, dan
lain-lain.
Jadwal kerja ini akan disesuaikan dengan ketersediaan alat, sumber daya
manusia/tenaga dan material yang dapat dimobilisasikan oleh Penyedia Jasa
Konstruksi (Kontraktor).

20
Bagan alir penyusunan program kerja dapat dilihat pada Gambar 3.1
berikut.

START

KONTRAKTOR MENGAJUKAN
RENCANA KERJANYA KEPADA
KONSULTAN PENGAWAS DAN PPK

UPDATING
BUAT JARINGAN
RENCANA KERJA METODE KERJA
(NETWORK PLANNING)

DIAGRAM BATANG

CATATAN SEMUA PERUBAHAN


DAN AKIBATNYA TERHADAP
(BAR CHART)

PERUBAHANNYA
STORE
JADWAL KERJA DATA
(SCHEDULE)

PROGRESS
MATERIAL MANNING EQUIPMENT REPORT
SCHEDULE SCHEDULE SCHEDULE

A
PENGALOKASIAN DANA LAKSANAKAN PEKERJAAN

PROGRAM
(CASH FLOW) LAPANGAN REVISI

DATA PROGRAM LAPANGAN


- SCHEDULE MATERIAL TIDAK
ADA
- SCHEDULE MANNING PERUBAHAN?
- SCHEDULE EQUIPMENT
- CASH FLOW YA

LANJUTKAN PELAKSANAAN PROGRESS


A
PEKERJAAN REPORT

PROGRESS
SIMPAN DATA DI SISTIM
REPORT
DOKUMEN ARSIP (FILE)

FINISH

Gambar 3.1.
Bagan Alir Penyusunan Program Kerja

21
e. Evaluasi Rencana Mobilisasi Personil dan Peralatan Penyedia Jasa Konstruksi
(Kontraktor)
Pada tahap persiapan ini, Konsultan akan mengevaluasi Rencana Mobilisasi
Personil dan Peralatan Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor). Pekerjaan
mobilisasi ini dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) bagian yaitu mobilisasi
awal dan mobilisasi personil, alat dan material secara keseluruhan, termasuk
penetapan struktur organisasi Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor).
Mobilisasi awal adalah suatu tahap dalam pelaksanaan kegiatan konstruksi
yang paling awal untuk mempersiapkan semua sumber daya baik manusia,
peralatan maupun bahan. Dalam tahap pelaksanaan kegiatan selanjutnya
semua sumber daya tersebut harus siap dioperasikan untuk memperlancar
tahapan konstruksi selanjutnya, sehingga tercapai suatu mutu, waktu dan
kuantitas sesuai yang diharapkan.
1) Mobilisasi Awal
Mobilisasi awal adalah mobilisasi personil inti untuk mempersiapkan:
- Pengkajian ulang terhadap desain,
- Pengukuran awal,
- Mempersiapkan program detail dan gambar kerja yang akan
dilaksanakan pada masa konstruksi,
- Mempersiapkan peralatan konstruksi untuk siap menjalani uji coba
dan running well.
2) Mobilisasi Keseluruhan
Pada periode mobilisasi ini personil, alat dan material, semua pekerjaan
yang berhubungan dengan cakupan pekerjaan mobilisasi telah selesai
semuanya.
Dalam kaitan ini, Konsultan akan memeriksa dan menyetujui daftar
material, peralatan yang akan didatangkan, fasilitas base camp dan
lokasi penempatan peralatan, menyiapkan titik data survei, mengecek
pemasangan patok center line dan review design.
f. Penyusunan Rencana Pengaturan Lalu Lintas (Bila Diperlukan)
Rencana pengaturan lalulintas (bila diperlukan) harus dibuat sesuai dengan
tahapan dan program pelaksanaan proyek. Pengaturan lalu lintas akan
meliputi, walaupun tidak terbatas pada hal-hal berikut:
1) Untuk pelaksanaan pembangunan, lokasi dan areal yang dibutuhkan
seminimum mungkin dengan cara pemasangan peralatan dan rambu-
rambu lalu lintas.
2) Rencana penempatan peralatan dan rambu lalu lintas untuk setiap
tahapan konstruksi.
3) Pengalihan lalu lintas.
4) Ringkasan tentang rencana pengaturan lalu lintas untuk setiap tahapan
konstruksi termasuk klasifikasi (tipe), jumlah dan dimensi dari
penghalang, traffic, cones, rambu konstruksi, lampu kedip, marka dan
lain-lain.

22
Bila rencana pengaturan lalulintas yang meliputi komponen proyek,
pembatasan areal untuk setiap tahapan, jalan sementara, alternatif
pengalihan, batasan kecepatan dan peralatan pemberitahuan dan peringatan
lainnya telah dibuat dan disetujui oleh instansi pemerintah yang berwenang
maka rencana tersebut harus diumumkan baik melalui radio, atau media
komunikasi lain yang dapat diketahui oleh pemanfaat jalan, penduduk
setempat dan pekerja Penyedia jasa Konstruksi (Kontraktor).
Dengan pengumuman ini, setiap pengendara mobil, pejalan kaki, penduduk
disekitarnya dan juga pekerja Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor) akan
mengetahui dan mengerti tentang rencana pengaturan lalu lintas ini,
sehingga akan mengurangi gangguan terhadap lalu lintas.
Konsultan Supervisi akan memonitor dan mengontrol secara rutin apakah
peralatan pengatur lalu lintas beserta rambu-rambunya benar-benar
dilakukan oleh Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor).
g. Base Camp dan Fasilitasnya
Base Camp adalah suatu lokasi tertentu di lapangan yang merupakan tempat
semua kegiatan, penunjang pelaksanaan proyek lapangan, sedangkan
fasilitas base camp adalah semua fasilitas yang menunjang pelaksanaan
pekerjaan fisik dan administrasi sesuai dengan syarat-syarat dan spesifikasi
teknik yang berlaku.
Base Camp dan fasilitasnya, bertujuan untuk :
▪ Untuk memudahkan koordinasi antara semua instansi terkait di
lapangan.
▪ Untuk mempermudah monitoring kemajuan pelaksanaan suatu proyek.
▪ Sebagai tempat tinggal kantor, laboratorium lapangan dan lain-lain.
Supaya maksud dan tujuan dari base camp dan fasilitasnya dapat optimal
menunjang pelaksanaan proyek, maka pada saat Penyedia Jasa Konstruksi
(Kontraktor), mengajukan gambar denah base camp.
Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor) diminta, supaya :
• Lokasi base camp dekat dengan proyek.
• Kegiatan administrasi instansi terkait di lapangan berada dalam satu
lokasi base camp.
• Jalan keluar base camp cukup baik.
• Keamanan lingkungan terjamin.
• Agak jauh permukiman polusi udara dan suara.
• Memiliki tingkat kesejukan ruang kerja yang memadai.
Konsultan akan memeriksa gambar denah base camp yang diajukan oleh
Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor) dan mengecek langsung ke lapangan,
kemudian dievaluasi sesuai yang diminta dalam Dokumen Kontrak.
h. Rapat Pra Pelaksanaan (Pre Construction Meeting/PCM)
Rapat pra pelaksanaan (Pre Construction Meeting) adalah rapat/pertemuan

23
awal yang diadakan oleh Pemberi Tugas yang dihadiri oleh Konsultan dan
Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor).
Hal ini diperlukan untuk menyamakan pengertian/bahasa atau pemahaman
mengenai dokumen kontrak dan spesifikasi teknik yang dipakai dalam
pelaksanaan pekerjaan.
Konsultan akan memberikan masukan-masukan di dalam pemahaman isi
dari seluruh Dokumen Kontrak, dan merumuskan pokok-pokok bahasan
dalam rapat tersebut.
Hal-hal penting yang perlu dibahas, antara lain :
▪ Pemahaman dan penyamanan interprestasi atas dokumen kontrak,
▪ Rencana kerja / jadwal pelaksanaan kontraktor,
▪ Mobilisasi personil dan peralatan kontraktor,
▪ Rencana pengaturan lalu lintas,
▪ Tata cara pengukuran volume pekerjaan (opname),
▪ Lintas koordinasi dan komunikasi.
2. Tahap Konstruksi
Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada tahap konstruksi ini adalah sebagai
berikut :
a. Pemeriksaan Gambar Kerja (Shop Drawings)
Sebelum pelaksanaan konstruksi, Konsultan akan meminta Kontraktor agar
membuat jadwal pelaksanaan dan gambar kerja dari seluruh item pekerjaan.
Gambar kerja tersebut diperlukan untuk merinci lebih detail hal-hal yang
tidak tercakup dalam gambar desain.
Dalam pembuatan gambar kerja (shop drawing), Penyedia Jasa Konstruksi
harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
▪ Ukuran dan standar kertas yang dipakai harus sama.
▪ Ukuran ketebalan garis alat gambar disesuaikan dengan gambar yang
dibuat.
▪ Penomoran gambar kerja (shop drawing harus teratur dan berurutan).
▪ Tampilan gambar kerja (shop drawing) antara lain :
- Lokasi dan jenis pekerjaan harus jelas tercantum.
- Ukuran konstruksi harus jelas dan ternotasi baik.
▪ Material, jenis dan mutu bahan yang dipakai dicantumkan sedetail
mungkin.
Selain itu, Kontraktor juga diminta harus membuat perhitungan desain dan
gambar kerja dari pekerjaan sementara.
Setelah diajukan oleh Kontraktor, gambar-gambar tersebut akan diperiksa
dengan teliti oleh Konsultan, setelah mendapatkan persetujuan dari
Konsultan dan Pemberi Tugas/Pemilik Proyek, gambar tersebut akan
dikembalikan lagi kepada Kontraktor untuk dilaksanakan di lapangan.
Prosedur Pemeriksaan Gambar Rencana ditunjukkan pada Gambar 3.2.
b. Pengecekan Data Survey/Pengukuran

24
Dalam masa konstruksi, Konsultan bersama-sama Kontraktor dan Pemilik
Proyek akan mengadakan pengecekan ulang titik survey/pengukuran yang
berupa Bench Mark (BM) dan data kontrol yang dibuat pada waktu
perencanaan teknis. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan ketepatan dan
kebenaran dalam pelaksanaan.
Apabila ada data yang tidak sesuai dengan keadaan lapangan yang
sebenarnya, maka Konsultan akan membantu Kontraktor untuk
menyelesaikan setiap perubahan dari perencanaan secara tuntas, termasuk
gambar-gambar rencana dan spesifikasinya.
Prosedur Pengecekan Data Survey dan Perubahan Gambar Desain disajikan
pada Gambar 3.3.

Gambar 3.2.
Bagan Alir Pemeriksaan Gambar Kerja (Shop Drawing)

25
Gambar 3.3.
Bagan Alir Pengecekan Data Survey dan Perubahan Gambar

c. Pemeriksaan/Pengujian Material
Setiap material yang akan digunakan oleh Kontraktor dalam pelaksanaan
konstruksi, baik itu bahan baku, bahan olahan maupun bahan jadi terlebih
dahulu harus diperiksa kualitasnya di laboratorium. Hasil pengujian yang
dilakukan harus sesuai dengan spesifikasi teknik yang tercantum dalam
Dokumen Kontrak.
Pemeriksaan mutu dilakukan secara rutin dengan mengambil contoh secara
acak pada lokasi-lokasi yang ditentukan oleh Konsultan.

26
1) Pemeriksaan Material Konstruksi
- Semua material dari setiap bagian pekerjaan akan di inspeksi oleh
Konsultan. Setiap saat Konsultan akan menginspeksikan
material yang akan digunakan berdasarkan atas jadwal Kerja
Pelaksana Kegiatan.
- Walaupun bahan yang disimpan telah disetujui sebelum
penyimpanan, namun dapat diperiksa ulang dan ditest kembali oleh
Konsultan.
- Material yang akan digunakan harus ditest di laboratorium
untuk mendapat persetujuan dari Konsultan, jenis dan jumlah test
seperti yang disebutkan dalam spesifikasi..
2) Pemeriksaan Hasil Pekerjaan
Pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan dilakukan secara visual dengan
mengamati hasil pekerjaan secara detail dan teliti.
Konsultan akan mengawasi, memeriksa dan mengevaluasi pekerjaan
pengujian laboratorium dan pengetesan di lapangan terhadap material
konstruksi yang akan dipergunakan. Berdasarkan hasil pemeriksaan
tersebut, Konsultan akan membuat rekomendasi berupa persetujuan dan
penolakan berikut alasan teknis sesuai dengan persyaratan teknis dalam
spesifikasi.
Prosedur Pengujian Material dapat dilihat pada Gambar 3.4.

27
Gambar 3.4.
Bagan Alir Pemeriksaan Material Konstruksi

d. Pemeriksaan Metode Pelaksanaan Pekerjaan


Metode pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia Jasa Konstruksi
akan diperiksa dan diawasi serta diberi perhatian khusus oleh Konsultan
untuk menghindari kesalahan yang bisa mengakibatkan kerugian baik mutu,
biaya dan waktu dari pelaksanaan pekerjaan.
e. Pemeriksaan Peralatan Yang Dipakai
Seluruh peralatan yang akan digunakan Kontraktor dalam pelaksanaan
pekerjaan terlebih dahulu akan diperiksa kelayakannya oleh Konsultan,
apakah sudah memenuhi standar/persyaratan yang ditentukan atau belum.
Apabila peralatan yang akan digunakan telah memenuhi

28
standar/persyaratan yang ditentukan, selanjutnya Kontraktor dapat
diizinkan melaksanakan pekerjaannya dibawah pengawasan Tenaga
Pengawas Konsultan.
f. Kesiapan Dalam Pelaksanaan Pekerjaan
Sebelum Jasa Penyedia Konstruksi memulai pekerjaan, Konsultan akan
memeriksa kesiapan dari seluruh unsur pelaksanaan, antara lain: material,
buruh dan peralatan. Setelah semuanya siap, maka pekerjaan bisa dimulai.
g. Pengawasan Pelaksanaan Pekerjaan
Jenis pekerjaan dalam Supervisi Konstruksi Pembangunan Tanggul
Pengaman Pantai Buol Kabupaten Buol dibedakan menjadi dua pekerjaan
yaitu pekerjaan dengan kategori pokok (Major) dan pekerjaan tidak pokok
(Minor). Hubungan di antara dua kegiatan tersebut saling berkait.
Pembagian jenis kegiatan ini didasarkan atas prosentase bobot dari masing-
masing pekerjaan tersebut dan berpengaruh dengan persiapan pendanaan,
peralatan maupun personil.
Dalam pengendalian mutu pekerjaan, upaya atau tindakan yang akan
dilakukan Konsultan secara garis besarnya adalah sebagai berikut :
▪ Semua personil inti konsultan akan bekerja sama selama masa
pelaksanaan proyek dengan cara/berpedoman pada matriks tanggung
jawab yang dibebankan kepada setiap personil inti.
▪ Seluruh pekerjaan yang akan dilaksanakan kontraktor diharuskan untuk
diperiksa, sebagaimana yang diperlukan untuk setiap bagian proyek.
Pemeriksaan akan meliputi material dan peralatan yang digunakan, teknis
pelaksanaan pekerjaan yang diterapkan, ukuran/dimensi, dan semua
masalah yang berhubungan dengan mutu pekerjaan.
▪ Pematokan yang dilakukan oleh kontraktor pada setiap bagian pekerjaan
akan diawasi dan diperiksa untuk memastikan bahwa pematokan yang
dilakukan oleh bagian survey lapangan kontraktor sudah benar dan tepat.
▪ Mutu seluruh material akan diuji guna memastikan bahwa material telah
memenuhi kualitas yang ditentukan, sebelum diangkut ke lokasi
pekerjaan. Hasil pengujian akan dicatat dalam suatu Form Standar yang
menunjukkan lokasi dari material yang akan digunakan pada pekerjaan.
Dokumentasi dari material yang di import dan material fabrikasi akan
diteliti dengan cermat untuk memastikan bahwa material memenuhi
persyaratan/spesifikasi yang ditentukan.
Dalam kegiatan pengawasan pelaksanaan pekerjaan ini, Konsultan akan
memberikan perhatian khusus terhadap metode/cara pelaksanaan
pekerjaan yang dilakukan Kontraktor. Hal ini untuk menghindari
terjadinya kesalahan yang bisa mengakibatkan kerugian, baik mutu dan
volume pekerjaan, biaya dan waktu dari pelaksanaan.

29
h. Pemeriksaan Hasil Pelaksanaan
Pemeriksaan hasil pelaksanaan ini meliputi: pemeriksaan dimensi (tebal,
lebar, panjang, kedalaman, kemiringan, elevasi, jari-jari, dsb), serta kualitas
pekerjaan.
Pemeriksaan kualitas pekerjaan secara umum meliputi :
▪ Untuk pekerjaan galian meliputi pemeriksaan terhadap volume galian,
dsb.
▪ Untuk pekerjaan tanah meliputi pemeriksaan terhadap kepadatannya,
daya lekatnya, gradasinya, CBR-nya dan lain sebagainya, harus sesuai
dengan spesifikasi teknik yang ditentukan.
▪ Untuk pekerjaan struktur meliputi pemeriksaan terhadap berat jenis,
gradasi, kuat tekan, abrasi dan lain sebagainya, harus sesuai dengan
spesifikasi teknik yang ditentukan.
i. Pemantauan Kemajuan Pekerjaan (Progress Monitoring)
Konsultan akan selalu memantau secara ketat kemajuan pekerjaan
Kontraktor untuk menjaga agar pekerjaan berjalan sesuai jadwal kerja yang
telah disetujui/disepakati.
Jika terlihat tanda-tanda akan terjadi keterlambatan dari jadwal rencana,
maka Konsultan akan segera memberitahukan kepada Kontraktor, dan
dibicarakan untuk mengetahui sebab musababnya dan mengajukan langkah-
langkah pemecahaannya yang tepat untuk memperbaiki kinerjanya
(manajemen dan finansial).
Jika perlu, Kontraktor diminta merubah jadwal kerja dengan
memperhitungkan perubahan keadaan untuk langkah-langkah seperlunya
agar pekerjaan selesai sesuai waktu yang telah ditentukan/masa kontrak.
j. Perhitungan Kuantitas dan Pembuatan Sertifikat Bulanan (Monthly
Certificate/MC)
Sertifikat Pembayaran Bulanan ini disiapkan oleh Kontraktor dan diperiksa
oleh Konsultan pada setiap akhir bulan. Usulan Sertifikat Bulanan harus
disiapkan menurut formulir yang telah ditetapkan dan harus dilengkapi
dengan dokumen pendukung yang lengkap dan dapat dipertanggung
jawabkan.
Sertifikat ini akan diperiksa oleh Konsultan dengan cermat untuk
memastikan bahwa tidak terdapat kesalahan hitungan baik
kuantitas/volume pekerjaan maupun biaya yang boleh dibayarkan kepada
Kontraktor. Sertifikat Pembayaran Bulanan ini setelah diperiksa dan disetujui
oleh Konsultan, selanjutnya diajukan kepada Pemberi Tugas/Pemilik Proyek
dengan segera untuk pemeriksaan terakhir dan pernyataan setuju untuk
dibayar. Banyaknya lembar yang harus diajukan tergantung keinginan
Pemberi Tugas/Pemilik Proyek.
Dalam pengukuran volume pekerjaan ini Konsultan akan menyiapkan
format-format standar untuk perhitungan dan pencatatannya, antara lain :

30
▪ Perhitungan volume galian dan timbunan.
▪ Perhitungan volume pekerjaan struktur.
▪ Pekerjaan-pekerjaan tambahan/tak terduga.
▪ Lampiran-lampiran pembayaran kumulatif.
▪ Dan sebagainya.
Prosedur pembuatan Sertifikat Bulanan (Monthly Certificate/MC) ini dapat
dilihat pada Gambar 3.5.

31
Gambar 3.5.
Bagan Alir Pembuatan Sertifikat Bulanan (Monthly Certificate/MC)

32
k. Pertemuan Berkala/Rapat Koordinasi
Tujuan diadakannya pertemuan berkala/rapat koordinasi ini adalah
disamping dapat menyelesaikan masalah dengan cepat yang otomatis
memperlancar pekerjaan, juga dalam rangka mengaktifkan organisasi
proyek semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan dan sasaran utama
proyek.
Pada saat awal pelaksanaan proyek perlu diadakan pertemuan setiap
minggu, kemudian boleh dikurangi menjadi tiap dua minggu dan mungkin
juga sekali sebulan. Para wakil dari proyek diundang untuk hadir bersama
dengan Team Leader Konsultan dan Kepala Pelaksana Kontraktor.
Hal-hal yang dibahas menyangkut antara lain :
▪ Setiap masalah penting yang terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan
selama bulan berjalan.
▪ Kemajuan kerja yang dicapai oleh Kontraktor dalam bulan berjalan.
▪ Faktor yang mempengaruhi kemajuan pekerjaan.
▪ Langkah-langkah perbaikan yang diambil oleh Kontraktor terhadap
kesalahan-kesalahan yang terjadi.
▪ Kendala atau kesulitan yang dihadapi oleh Kontraktor dan kemungkinan
pemecahannya.
▪ Volume pekerjaan yang sudah boleh dibayarkan kepada Kontraktor.
▪ Dan sebagainya.
Disamping pertemuan bulanan tetap, dapat juga diadakan pertemuan
sewaktu-waktu untuk membahas masalah-masalah khusus seperti masalah
pembebasan tanah (bila ada), mengupayakan agar bagian pekerjaan yang
sulit dapat dipercepat, mengatur pemindahan sarana umum seperti tiang
listrik, tiang telepon dan sebagainya (bila ada). Khusus untuk pertemuan ini
perlu diundang juga instansi-instansi terkait seperti PLN, Telkom, Camat,
Lurah, dan unsur-unsur terkait lainnya.
l. Gambar Terlaksana (As Buili Drawing)
Yang dimaksud gambar terlaksana (As built Drawing) adalah gambar
terlaksana di lapangan yang menggambarkan seluruh pekerjaan di lapangan
sesuai dengan volume pekerjaan yang telah dibayar setiap bulan sesuai
dengan tagihan Penyedia Jasa Konstruksi dalam sertifikat bulanan (Monthly
Certificate/MC).
Gambar ini memuat juga perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh
perubahan pekerjaan (Contract Change Order/CCO) dan modifikasi
lapangan karena adanya hal-hal yang tidak terdapat pada gambar rencana.
Dalam pembuatan gambar terlaksana (As Built Drawing) Penyedia jasa
Konstruksi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
▪ Ukuran dan standar kertas yang dipakai harus sama.
▪ Ukuran ketebalan garis lat gambar yang dipakai disesuaikan dengan
gambar yang dibuat.

33
▪ Pada gambar terlaksana (As Bulit Drawing) disebutkan tanggal, bulan
dan tahun revisi gambar dari gambar kerja (Shop Drawing) yang
disesuaikan dengan perubahan kontrak pekerjaan (Contract Change
Order/CCO), Addendum (kalau ada).
▪ Lokasi dan jenis pekerjaan harus jelas dicantumkan.
▪ Ukuran konstruksi harus jelas.
▪ Material, jenis dan mutu bahan yang dipakai
Dalam kaitan ini Konsultan Pengawas akan memeriksa (As Built Drawing)
dan mengevaluasi gambar terlaksana dan memberikan rekomendasi untuk
persetujuan dari Pemberi Tugas.
m. Pelaporan
Konsultan dalam melaksanakan tugas rutinnya senantiasa akan mencatat
segala aktifitas berdasarkan program yang telah disusun sehingga rekaman-
rekaman tersebut dapat disimpan/dipelihara dengan baik untuk keperluan
pembuatan laporan-laporan maupun untuk rekomendasi, rujukan, teguran
dan instruksi demi mencapai sasaran/tujuan proyek secara keseluruhan.
Laporan dan dokumentasi pekerjaan akan dibuat/disusun sesuai dengan
yang diminta dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), oleh karena itu Konsultan
telah menyusun schedul pelaksanaan pekerjaan dengan mencantumkan pula
produk-produk yang akan dihasilkan agar lebih mudah dikontrol.
Laporan-laporan yang akan dibuat Konsultan terdiri dari :
▪ Laporan Rencana Mutu Kontrak (RMK)
▪ Laporan Pendahuluan
▪ Laporan Bulanan
▪ Laporan Akhir
▪ Album Foto Dokumentasi
▪ Laporan Pendukung Lainnya
Laporan-laporan tersebut, disamping sebagai bahan monitoring Pemberi
Tugas/Pemilik Proyek juga sekaligus sebagai dokumen pelaksanaan kegiatan.
3. Tahap Pasca Konstruksi
Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada tahap pasca konstruksi adalah
sebagai berikut :
a. Serah Terima Awal (Provisional Hand Over /PHO)
Serah Terima Awal (Provisional Hand Over/PHO) adalah suatu kegiatan
serah terima awal dari seluruh pekerjaan yang telah dikerjakan oleh
Penyedia Jasa Konstruksi kepada Pemberi Tugas, dimana pekerjaan utama
(major works) sudah mencapai 100%.
Maksud pelaksanaan PHO adalah untuk memastikan bahwa seluruh
pekerjaan yang telah dikerjakan oleh Penyedia Jasa Konstruksi dalam arti:
sesuai kualitas, sesuai kuantitas dan tepat waktu dengan segala konsekwensi
yang tercantum dalam kontrak. Dengan adanya penyerahan awal ini maka
tahap pemeliharaan dimulai.

34
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan PHO adalah sebagai berikut :
▪ Rekomendasi Konsultan Supervisi bahwa Penyedia Jasa Konstruksi telah
menyelesaikan pekerjaan utama (major works) 100% dan minimal telah
menyelesaikan 97% pekerjaan dari seluruh nilai kontrak.
▪ Perkiraan tanggal selesai seluruh pekerjaan sesuai dengan bunyi kontrak.
▪ Pembentukan Panitia Serah Terima yang anggotanya ditunjuk Pemberi
Tugas.
▪ Penyerahan jaminan pemeliharaan (Bank Guarantee) dari pihak Penyedia
Jasa Konstruksi kepada pemberi tugas.
▪ Seluruh data yang ada (misalnya: seluruh hasil testing material/hasil
pekerjaan, surat-menyurat/administrasi, formulir-formulir, data disket,
photo dokumentasi pelaksanaan pekerjaan, dll) sudah harus terarsip
dengan baik.
▪ Yang perlu diperhatikan adalah unsur-unsur :
– Kelengkapan administrasi proyek.
– Kondisi fisik pekerjaan yang baik dan benar sesuai spesifikasi teknik.
– Sesuai dengan perencanaan.
– Pendataan/pencatatan data dan kurang (detect and deficiencies list).
Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor) mengajukan request untuk PHO,
kemudian Konsultan Pengawas akan mengecek apakah persyaratan untuk
PHO sudah dipenuhi atau belum antara lain pengecekan progress pekerjaan.
Kemudian Konsultan akan memberikan rekomendasi kepada pemberi Tugas
yang selanjutnya akan dibentuk Panitia PHO.
Bagan Alir Serah Terima Awal (PHO) ditunjukkan pada Gambar 3.6.

35
START

REQUEST KONTRAKTOR
UNTUK SERAH TERIMA

TUNDA

TIDAK 100% PEKERJAAN


MAJOR SELESAI

YA

KONSULTAN PENGAWAS
• SIAPKAN DATA PENDUKUNG YANG TEKNIK MEMBERIKAN
TERSIMPAN DI SISTIM DOKUMENTASI REKOMENDASI KEPADA
BERKAS (FILE) PEMBERI TUGAS
• LAKUKAN PEMBERSIHAN DI SELURUH
LAPANGAN PEKERJAAN YANG TELAH
SELESAI PEMBERI TUGAS SEJAK TANGGAL
• SIMPAN UNTUK VISUAL MONITORING YANG
MELAPORKAN KEPADA
• DIPERBAHARUI PERHITUNGAN BOBOT DIREKOMENDASIKAN
DIREKSI/PUSAT AKAN KONSULTAN
PRESTASI KERJA DILAKUKAN SERAH TERIMA PENGAWAS, MASA
• DIPERBAIKI PERSIAPAN UNTUK JAMINAN TERHADAP
PEMERIKSAAN SECARA KESELURUHAN KERUSAKAN
• PERSIAPKAN PEMBUATAN JAMINAN BENTUK PANITIA PENILAI
PEMELIHARAAN TERHADAP KERUSAKAN SERAH TERIMA

PEMERIKSAAN BERSAMA ANTARA


KONTRAKTOR, PANITIA PHO DAN
KONSULTAN PENGAWAS
A A

TIDAK ADA TIDAK DAFTAR CACAT &


PERBAIKI KETIDAKSESUAIAN/
KEKURANGAN? KEKURANGAN

YA
JAMINAN
PEMELIHARAAN CATATAN DISIMPAN DI SISTIM
DISERAHKAN KEPADA PEMERIKSAAN KEBENARAN DOKUMENTASI ARSIP (FILE)
PEMBERI TUGAS

FINISH

Gambar 3.6.
Bagan Alir Serah Terima Awal (Provisional Hand Over/PHO)

36
b. Masa Pemeliharaan (Jaminan Terhadap Kerusakan)
Masa pemeliharaan (jaminan terhadap kerusakan) adalah mulainya
pemeliharaan hasil pekerjaan yang dihitung dari mulai tanggal perkiraan
pekerjaan 100% berdasarkan rekomendasi konsultan pengawas teknik
sampai dengan berakhirnya kontrak yang sudah disetujui.
Tujuan masa jaminan terhadap kerusakan adalah :
▪ Memberikan waktu kepada Penyedia Jasa Konstruksi untuk
memperbaiki, menyempurnakan hasil pekerjaan yang belum dapat
diterima atau memuaskan tim panitia penilai serah terima pada waktu
kunjungan ke lapangan mengenai kualitas dan kuantitas pekerjaan.
▪ Memberikan waktu kepada Penyedia Jasa Konstruksi untuk
menyelesaikan pekerjaan minor yang belum terselesaikan dan lain-lain.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan masa jaminan
terhadap kerusakan adalah sebagai berikut :
▪ Penyedia Jasa Konstruksi (Kontraktor) harus melaksanakan perbaikan
pekerjaan yang telah disepakati/disetujui.
▪ Pekerjaan perbaikan atau penyempurnaan harus sesuai dengan :
- Syarat-syarat kontrak dan spesifikasi teknik.
- Catatan dari tim panitia serah terima.
o Lokasi
o Kerusakan, ketidak sempurnaan
o Cara perbaikan dan penyempurnaan dan lain-lain
- Lama perbaikan tidak boleh lebih dari masa pemeliharaan.
Panitia Penilai Serah Terima akan mengadakan pemeriksaan ulang ke
lapangan, apakah perbaikan-perbaikan yang sudah didaftar itu sudah
dilaksanakan semua atau belum. Apakah bila dianggap sudah selesai maka
dibuat Berita Acara pemeriksaan hasil pekerjaan yang disampaikan kepada
Pemberi Tugas.
c. Serah Terima Akhir (Final Hand Over/FHO)
Serah terima akhir (Final Hand Over/FHO) adalah suatu kegiatan serah
terima akhir lapangan dari Penyedia Jasa Konstruksi kepada Pemberi Tugas,
setelah Penyedia Jasa Konstruksi menyelesaikan seluruh perbaikan terhadap
kekurangan yang ada pada daftar perbaikan yang dibuat oleh panitia penilai
serah terima setelah kunjungan kedua di lapangan.
Maksud pelaksanaan FHO adalah sebagai berikut :
▪ Pernyataan berakhirnya masa kontrak pekerjaan antara Penyedia Jasa
Konstruksi dengan Pemberi Tugas.
▪ Pernyataan bahwa tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi dengan
Pemberi Tugas secara keseluruhan sudah selesai.
▪ Hasil pekerjaan Penyedia jasa Konstruksi berupa fisik maupun
administrasi secara keseluruhan dapat diterima oleh Pemberi Tugas dan
hasil pekerjaan tersebut sudah bisa dipakai untuk umum.

37
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan FHO adalah sebagai berikut :
▪ Rekomendasi dari Konsultan bahwa Penyedia Jasa Konstruksi telah
menyelesaikan seluruh pekerjaan yang tercantum dalam dokumen
kontrak dan telah memperbaiki/menyempurnakan semua kekurangan
yang diminta dalam daftar perbaikan serah terima awal waktu kegiatan
serah terima awal.
▪ Perkiraan tanggal selesai seluruh pekerjaan sesuai dengan bunyi
kontrak.
▪ Pengembalian jaminan pelaksanaan (Bank Guarantee) kepada pihak
Penyedia Jasa Konstruksi.
▪ Seluruh data yang ada (misalnya: seluruh hasil testing, surat-
menyurat/administrasi, formulir-formulir, data disket, photo
pelaksanaan pekerjaan, dll) sudah terdokumentasikan dengan baik.
▪ Yang perlu ditekankan adalah unsur-unsur :
- Kelengkapan administrasi.
- Kondisi fisik pekerjaan yang baik dan benar sesuai spesifikasi teknik.
- Kesesuaian dengan perencanaan.
Sehubungan dengan pelaksanaan FHO, sebelumnya Konsultan akan
mengevaluasi dan memeriksa persyaratan kelengkapan yang harus dipenuhi
yaitu pekerjaan seluruhnya telah selesai pada masa pemeliharaan berakhir.
Kemudian Konsultan memberikan rekomendasi kepada Pemberi Tugas untuk
selanjutnya Panitia Serah Terima akan diundang kembali untuk proses Serah
Terima Akhir (FHO). Bagan Alir Serah Terima Akhir (FHO) ditunjukkan pada
Gambar 3.7.

38
START

PROSES SERAH TERIMA AWAL SELESAI


PROSES MASA PEMELIHARAAN SELESAI

KONTRAKTOR MENGAJUKAN REQUEST


SERAH TERIMA PEKERJAAN KEPADA
PEMBERI TUGAS

TUNDA

PEKERJAAN
TIDAK SELURUHNYA SELESAI?
PEKERJAAN
MAJOR SELESAI

YA

KONSULTAN PENGAWAS TEKNIK


• SIAPKAN DATA PENDUKUNG YANG MEMBERIKAN REKOMENDASI KEPADA
TERSIMPAN DI SISTIM DOKUMENTASI PEMBERI TUGAS
BERKAS (FILE)
• LAKUKAN PEMBERSIHAN DI SELURUH
LAPANGAN PEKERJAAN YANG TELAH
SELESAI PEMBERI TUGAS MELAPORKAN KEPADA
• SIMPAN UNTUK VISUAL MONITORING DIREKSI/PUSAT AKAN DILAKUKAN SERAH
• DIPERBAHARUI PERHITUNGAN BOBOT TERIMA
PRESTASI KERJA
• DIPERBAIKI PERSIAPAN UNTUK
PEMERIKSAAN SECARA KESELURUHAN PANITIA PENILAI SERAH TERIMA
• PERBAIKI SESUDAH DISELESAIKAN DIUNDANG KEMBALI UNTUK SERAH
TERIMA

PEMERIKSAAN BERSAMA ANTARA


KONTRAKTOR, PANITIA PHO DAN
KONSULTAN PENGAWAS
A A

TIDAK ADA TIDAK DAFTAR CACAT &


PERBAIKI KETIDAKSESUAIAN/
KEKURANGAN? KEKURANGAN

YA
JAMINAN DICATAT DAN DISIMPAN
PEMELIHARAAN PEMERIKSAAN PADA SISTIM
DISERAHKAN KEPADA DOKUMENTASI ARSIP
KEBENARAN
PEMBERI TUGAS (FILE)

FINISH

Gambar 3.7.
Bagan Alir Serah Terima Akhir (Final Hand Over/FHO)

39