Anda di halaman 1dari 22

Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

Anjing merupakan jenis hewan yang didomestikasi sebagai hewan kesayangan dan membantu manusia untuk melaksanakan berbagai pekerjaan seperti penjaga, pelacak, atau penggembala ternak (Dharmojono 2003). Dirofilaria immitis (D. Immitis) adalah golongan parasit nematoda filaria dan merupakan salah satu parasit yang berbahaya bagi anjing, kucing, dan mamalia lainnya. Larva infektif yang ditularkan oleh nyamuk dan cacing dewasa berpredileksi dalam jantung terutama ventrikel kanan dan arteri pulmonalis pada host definitifnya (Reinecke 1983). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus infestasi Dirofilaria immitis pada anjing. Dalam karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode studi literatur dan kajian pustaka. Pencegahan dapat dilakukan denganpemberian obat Macrocyclic lactone (ivermectin, milbemycin oxime, moxidectin, dan selamectin).

Kata kunci : Dirofilaria immitis, anjing, infeksi

Pendahuluan Dirofilaria immitis (D. immitis) yang dikenalsebagai cacing jantung, adalah penyebab penyakit parasit yang serius pada anjing, hidup pada ventrikel kanan dan arteri pulmonalis (Leeet al2000). Spesies hewan yang dapat terinfeksi D. immitis selain anjing adalah kucing, serigala, rubah, coyote, ferret, tikus air, singa laut, coatimundi (Atkins et al2016), dan orangutan (Duran-Struuck et al 2005). Dirofilaria immitis sebagai agen penyebab penyakit cacing jantung tidak hanya menimbulkan masalah pada hewan tetapi juga bersifat zoonosis (Alia et al 2013). Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian telah diketahui bahwa nyamuk dari genus Aedesaegypti, Aedes albopictus,Anopheles subalbatus, danCulex quinquefasciatus dapat menjadi vektor D. Immitis(Karmil,

2002).

Penyebaran terutama pada daerah beriklim sedang dan tropis (Adam 2001). Di Indonesia, cacing ini sering ditemukan pada anjing dan kucing (Karmil, 2002).Distribusi dan prevalensi D. immitistelah dilaporkan di hampir semua negara dengan pola dan persentase yang berbeda. Menurut Lok dan Knight(2001),

infeksi D. immitis telah terjadi pada setiap benua,kecuali Antartika. Awalnya, penyebaran terbatas di daerah tropis dan akhirnya menyebar sampai ke wilayah subtropis. Di Amerika Serikat, cacing jantung tergolong enzootik dengan prevalensi tertinggi di sepanjang sungai Mississippi, Missouri, dan Ohio. Menurut McCall et al. (2005) sepanjang tahun 2005 diperkirakan seperempat juta kasus cacing jantung telah diagnosis di Amerika Serikat. Angka prevalensi berubah secara signifikan dari 1,4% meningkat menjadi 21-42%. Golongan anjing yang terinfeksi mulai dari jenis anjing kesayangan sampai anjing liar seperti coyote (Canis latrans). Kasus serupa jugatelah dilaporkan kejadiannya di Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa prevalensi infeksi D. immitispada anjing cukup tinggi (25-57%) yaitu di wilayah Jakarta, Bogor, dan Bali (Fitriawati, 2009). Menurut laporan Rajulani (2013) dalam investigasi keberadaan cacing jantung D. immitispada anjing di kota Gorontalo ditemukan 15 kasus, terdiri atas sembilanekor anjing betina dan enamekor anjing jantan.

2 | Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

Morfologi

Cacing D. immitis dewasa berbentuk ramping berwarna putih dengan panjang cacing jantan 12 16 cm, betina 25 30 cm. Ujung posterior cacing jantan berbentuk melingkar dan pada ekor terdapat beberapa papilae lateral. Vulva cacing betina terletak di belakang ujung esofagus (Soulsby 1986). Cacing D. immitis dewasa mengambil makanan dari induk semang (inang) berupa plasma dan cacing ini dapat hidup selama 5 7 tahun di tubuh inang. Nematoda ini termasuk golongan vivipar, cacing betina melepaskan mikrofilaria ke dalam aliran darah inang (Manfredi et al. 2007).

ke dalam aliran darah inang (Manfredi et al. 2007). A B C Gambar 1 Dirofilaria immitis

A

ke dalam aliran darah inang (Manfredi et al. 2007). A B C Gambar 1 Dirofilaria immitis

B

ke dalam aliran darah inang (Manfredi et al. 2007). A B C Gambar 1 Dirofilaria immitis

C

Gambar 1 Dirofilaria immitis (Manfredi et

al.

A.Ujung posterior cacing jantan B.Ujung anterior cacing betina C.Cacing dewasa betina (atas) dan jantan (bawah)

2007)

Etiologi

Dirofilaria immitis adalah cacing jantung pada anjing yang tergolong sebagai cacing nematoda. Cacing dapat dijumpai pada ventrikel kanan dan arteri pulmonum dari jantung anjing. Cacing kadang kala juga ditemukan pada beberapa lokasi lain seperti ruang mata depan dan rongga peritonium (Levine, 1990). Menurut Fan et al (2001), cacing ini dapat berkembang luas di daerah tropis, subtropis dan daerah beriklim sedang. Cacing jantung ini dapat ditularkan menginfeksi manusia dalam bentuk mikrofilaria melalui perantara vektor gigitan nyamuk (Genchi et al 2007). Menurut Soulsby (1986), klasifikasi D. immitis adalah sebagai berikut :

Filum

:

Nemathelminthes

Kelas

:

Nematoda

Sub Kelas

:

Secernentea

Sub Ordo

:

Spirurata

Superfamili

:

Filarioidea

Famili

:

Filariidae

Genus

:

Dirofilaria

Spesies

: Dirofilaria immitis

Selain canidae, siklus hidup D. immitis juga terjadi secara sempurna pada tikus air (Ondatra zibethica) walaupun mikrofilaria belum ditemukan hingga 160 hari (Karmil 2002).

Patofisiologi

Keparahan secara patologis pada anjing dipengaruhi oleh banyaknya cacing, respon imun host, durasi dari infeksi yang terjadi, serta aktivitas dari host tersebut. Cacing jantung dewasa akan mengakibatkan trauma secara mekanik yaitu mengiritasi tunika intima dari pembuluh darah. Hal ini akan menstimulasi respon imun host menyebabkan endarteritis, termasuk infiltrasi dari eosinophil dalam jumlah yang banyak. Infeksi yang terjadi lama (disebabkan oleh iritasi langsung, cacing yang mati, respon imun) akan menyebabkan lesi kronik dan lama- kelamaan menimbulkan jaringan parut atau

3 | Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

‘scars’. Anjing yang aktif akan lebih mungkin untuk mengalami hipertensi pulmonari dibanding yang tidak aktif. Infestasi cacing yang tinggi biasanya akan mengakibatkan sindrom vena cava. Selain itu, anjing berukuran kecil tidak dapat menolerir infeksi sebaik anjing yang berukuran besar karena ukuran cacing yang cukup besar sedangkan ruang pada pembuluh darah lebih kecil dari ukuran cacingnya (Atkins et al 2016). Pada permukaan Dirofilaria immitis terdapat bakteria Wolbachia pipiens yang memiliki hubungan endosimbiotik antara keduanya. Bakteri Wolbachia menumpang hidup pada cacing sedangkan bakteria tersebut menghasilkan endotoksin yang dibutuhkan cacing dirofilariauntuk maturasi dan bereproduksi. Ketika bakteri tersebut dihilangkan maka cacing akan perlahan-lahan mati karena tidak bisa dewasa dan tidak bisa bereproduksi dan akhirnya secara perlahan mati. Terapi doxycycline bisa dilakukan (Atkins et al 2016). Inflamasi yang disebabkan oleh cacing jantung biasanya akan mengindukasi respon imun pada paru-paru dan ginjal (contohnya immune complex glomerulonephritis) menyebabkan vasokonstriksi dan mungkin saja bronkokonstriksi. Kebocoran dari plasma dan mediator inflamasi dari pembuluh darah kecil atau kapiler menyebabkan peradangan pada parenkim paru dan non- cardiogenic edema formation. Penyakit pembuluh darah akan mengurangi kemampuan pembuluh darah untuk berdilatasi sehingga terjadi kenaikan laju velositas, memperparah kerusakan endotel. Jika hal ini terus terjadi maka akan terjadi iskemia lokal dan sebagai hasilnya akan ada interstisial fibrosis (Atkins et al 2016).

Gejala Klinis Dirofilariasis pada anjing dapat menyebabkan kombinasi masalah kesehatan yang melingkupi disfungsi dari paru-paru, jantung, hati, dan ginjal. Anjing belum menunjukkan gejala klinis pada

infeksi awal. Anjing baru menunjukkan beberapa gejala klinis seperti batuk pada infeksi D. Immitis ringan. Pada infeksi Dirofilaria yang sedang sampai parah, anjing akan kehilangan berat badan, rambut kasar, batuk kronis, mudah lelah, dyspnoe, suara jantung yang abnormal, hepatomegali, syncope, hydrotoraks, ascites, suara jantung yang abnormal, dan right-sided congestive heart failure (gagal jantung sebelah kanan). Anjing juga dapat mati secara mendadak (Manalu 2008). Nyamuk merupakan vektor bagi D. immitis. Sebanyak 60 -70 spesies nyamuk diperkirakan dapat menjadi vektor potensial. Larva D. immitis dapat berkembang menjadi L3 di dalam nyamuk dari genus Culex, Aedes, Psorophora, Mansonia atau Anopheles. Spesies yang dapat menjadi vektor D. immitis adalah spesies yang tidak mempunyai bucco- pharyngeal yang dapat merusak kutikula mikrofilaria sehingga menghambat perkembangannya menjadi larva infektif ( Lok 2001).

Dinamika Mikrofilaria D. immitis dalam Tubuh Inang

Mikrofilaria (mf) dapat ditemukan di dalam sirkulasi darah anjing reservoir setiap waktu, akan tetapi angka mikrofilaremik perifer umumnya mengikuti pola periodisitas yang berbeda pada setiap geografis. Di USA, Perancis dan Cina angka minimum dan maksimum mikrofilaremik perifer masing-masing terdapat pada jam 11.00 dan 16.00, 08.00 dan 20.00 serta 06.00 dan 18.00 (Soulsby 1986). Puncak mikrofilaremia di Indonesia khususnya di wilayah DI. Aceh, DKI Jakarta, Bogor dan Bali terjadi pada pukul 7.00 8.00 dan pukul 23.00 24.00 (Karmil 2002). Fenomena rendahnya mikrofilaremia pada anjing terlihat pada siang hari diduga terjadi karena: (1) tekanan O2 di dalam pembuluh darah perifer lebih rendah dibandingkan dengan

4 | Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

di dalam pembuluh darah pulmoner; (2) adanya kecenderungan bahwa anjing mempunyai aktivitas tinggi, sehingga terjadi vasokonstriksi pembuluh darah perifer; (3) aliran darah dalam sirkulasi lebih cepat dan kondisi demikian tidak menguntungkan bagi mf dan jumlah mf di dalam pembuluh darah perifer sedikit; (4) reservoir mf terdapat pada pembuluh darah pulmoner, limpa, vena abdominalis dan sinus-sinus vena hepatik, pleksus vena kulit. Berdasarkan sistem vena tersebut ternyata limpa dan pembuluh darah pulmonalis menjadi reservoir dari mf. Angka mikrofilaremik lebih tinggi pada malam hari dibandingkan pada siang hari, sehingga periodisitas demikian disebut subperiodik nokturnal. Fenomena tentang maksimum mikrofilaremia terjadi pada malam hari ada kemungkinan mengikuti irama sistem sirkulasi darah. Volume darah yang mengalir di dalam pembuluh darah perifer atau di jaringan-jaringan adalah sangat lambat, sehingga pertukaran zat-zat makanan antara darah dan jaringan berlangsung sangat intensif.

Dinamika mikrofilaria D. immitis di dalam tubuh vektor berkaitan erat dengan (1) jumlah mikrofilaria; (2) jenis nyamuk dan (3) geografi atau iklim (Karmil 2002). Pertumbuhan membutuhkan waktu 15 17 hari untuk daerah subtropis dan 18 10 hari untuk daerah tropis (Jones et al. 1993). Studi Karmil (2002) menunjukkan bahwa pertumbuhan menjadi stadium mikrofilaria

infektif (L3) dalam mikrofilaria lebih cepat

di

D.I. Aceh (9 hari) dibandingkan dengan

di

Bogor (12 hari).

Siklus hidup

Siklus hidup D. Immitis terjadi dalam dua fase; fase pertama terjadi pada nyamuk dan fase kedua terjadi pada indung

semang definitif. D. Immitis ditularkan

oleh lebih dari 60 spesies nyamuk. Tetapi jumlah nyamuk yang penting sebagai vektor kurang dari 12 spesies. Cacing dewasa (L5) hidup pada arteri pulmonalis

dan ventrikel kanan. Setelah kawin, cacing

betina menghasilkan mikrofilaria (L1) yang dlepas memasuki sistem sirkulasi. Apabila anjing digigit oleh nyamuk, mikrofilaria (L1) dapat terhisap. Pada tubulus malpigi nyamuk betina (L1) mengalami dua kali moulting (L1 menjadi L2 menjadi L3). Proses tersebut berlangsung selama 8-17 hari. L3 bersifat infektif dan apabila nyamuk yag mengandung L3 menggigit hewan peka, L3 dapat berpindah ke hewan peka tersebut ( Atkins 2005).

Setelah terjadi infeksi pada hewan peka, terjadi moulting di daerah subkutan, jaringan lemak, dan jaringan otot skeletal, dengan moulting akhir menghasilkan L5. Proses moulting dari L3 menjadi L4 kemudian menjadi L5 berlangsung 50-68 hari setelah terjadi infeksi. Cacing imatur (panjang 1-2 cm) tersebut memasuki sistem vaskular, kemudian bermigrasi ke jantung dan arteri pulmonalis dimana cacing mengalami pendewasaan. Cacing jantan dewasa mempunyai panjang 15-18

cm dan yang betina berukuran 25-30 cm.

Pada kondisi optimum, siklus hidup cacing

jantung berlangsung selama 184-210 hari. Periode prepatent cacing adalah 6-7 bulan

Cacing dewasa pada anjing

dapat bertahan hidup sampai 5 tahun dan mikrofilaria sampai 30bulan (Atkins 2005).

Larva (L5) cacing D. Immitis pada anjing secara tidak normal dapat bermigrasi ke organ lain, seperti otak, sumsum tulang belakang, ruang epidural, ruang mata bagian anterior, rongga peritoneal, aorta, hati, cairan sinovial, dan kadang- kadang ditemukan pada vena kava (Atkins 2005).

(Atkins 2005)

5 | Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

Faktor Risiko

Tingkat

risiko

timbulnya

CHD

dipengaruhi

oleh

beberapa

faktor

diantaranya umur,

ras,

jenis

kelamin,

manajemen

pemeliharaan anjing.

Anjing pada semua kategori umur berisiko terinfeksi cacing jantung. Namun prevalensi infeksi meningkat seiring dengan bertambahnya umur anjing. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh waktu pemaparan yang lebih lama, terutama pada daerah endemik penyakit ini. Analisis chi square mengungkapkan bahwa prevalensi lebih tinggi secara signifikan pada anjing umur 4 6 tahun (100%) di wilayah garis pantai dan pada anjing umur 2 4 tahun (51,2%) di wilayah perkotaan (Song et al.

wilayah,

iklim

dan

2003).

Umumnya anjing ras besar paling sering terinfeksi oleh D. immitis.Anjing- anjing pekerja dan olahraga (Greyhound) juga memiliki risiko tinggi terhadap infeksi cacing D. immitis. Anjing gembala ras jerman dan Boxer mempunyai risiko paling tinggi terhadap infeksi cacing ini. Di Indonesia, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Satrija et al.(2008), anjing- anjing ras lokal memegang peranan sebagai sumber infeksi D. immitis.

Umumnya, infeksi cacing jantung pada anjing jantan lebih tinggi daripada anjing betina. Lewis dan Losonsky (1978) menyatakan bahwa Rasio infeksi pada anjing jantan terhadap anjing betina adalah 4:1. Perbedaan ini diduga akibat pergerakan hewan jantan lebih tinggi dibanding betina sehingga risiko terpapar nyamuk juga meningkat. Hewan betina cenderung membatasi pergerakan mereka selama musim panas dan menjaga anak- anaknya di sarang.

Wilayah dapat mempengaruhi timbulnya dirofilariasis didukung dengan kondisi geografis, iklim dan temperatur serta populasi vektor pada wilayah tersebut (Lok 1988). Hal ini terkait dengan jenis- jenis nyamuk sebagai vektor dan dinamika larva CHD di dalam tubuh vektor tersebut.

Iklim menyediakan temperatur dan kelembaban yang cukup untuk mendukung perkembangan populasi nyamuk dan juga perkembangan larva menjadi stadium infektif (L3) di dalam vektor. Hal ini memegang peranan penting dalam transmisi D.immitis. Kondisi temperatur di lingkungan nyamuk hidup merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi larva D. immitis,dimana larva di dalam tubuh nyamuk akan berkembang lebih cepat pada temperatur hangat (Abraham 1988). Temperatur optimum untuk perkembangan larva D. immitis adalah 22°C - 26,5°C. Pada suhu 27°C, waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan larva menjadi stadium infektif adalah 10 14 hari. Temperatur yang turun di bawah batas ambang (14°C) untuk beberapa jam saja akan memperlambat pematangan larva. Sejalan dengan pernyataan Lok (1988) yang menjelaskan bahwa temperatur hangat (21°C) akan mendukung perkembangan nyamuk. Lebih lanjut dijelaskan bahwa mikrofilaria banyak terdapat pada sirkulasi darah sepanjang musim semi dan musim panas dibandingkan musim hujan dan musim gugur.

Beberapa penelitian telah menunjukkan prevalensi infeksi D. immitis pada anjing-anjing yang dipelihara atau hidup di luar rumah, 4 5 kali lebih tinggi dibanding anjing di dalam rumah. Hal ini disebabkan oleh lebih besarnya kemungkinan anjing yang di luar rumah tergigit oleh nyamuk dibanding anjing yang di dalam rumah (Subroto 2010) sehingga lebih besar pula kemungkinan

6 | Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

anjing di luar rumah terinfeksi D. immitis, terutama pada daerah endemik.

Diagnosis

Dirofilariasis dapat didiagnosis dengan melihat gejala klinis yang muncul dan melakukan uji laboratorium. Uji-uji laboratorium yang biasa dilakukan adalah The modified Knott’s test, ELISA deteksi antigen atau antibodi, radiologi, angiografi, dan ultrasonografi. The modified Knott’s test adalah uji untuk memeriksa mikrofilaria dengan melakukan sentrifus sehingga didapat endapan mikrofilaria. Radiologi dilakukan untuk melihat abnormalitas pada jantung dan paru-paru. Perubahan yang dapat diamati adalah pembesaran arteri pulmonari, dilatasi ventrikel kanan jantung, hydrotoraks, dan ascites. Angiografi digunakan untuk melihat pembesaran pembuluh darah dan adanya cacing di pembuluh darah. Ultrasonografi digunakan untuk melihat dan mengevaluasi pembesaran bilik dan ventrikel jantung serta untuk melihat keberadaan cacing di ventrikel kanan jantung atau arteri pulmonari. ELISA deteksi antibodi digunakan untuk mendeteksi respon antibodi akibat paparan infeksi Dirofilaria. Uji ini memiliki kelemahan yaitu akurasi rendah dan dapat terjadi cross reaction dengan parasite lain, misalnya Dipetalonema reconditum. ELISA deteksi antigen digunakan untuk mendeteksi antigen yang dihasilkan oleh D. immitis dewasa. Kelemahan dari uji ini adalah tidak dapat mendeteksi infeksi yang kurang dari enam bulan (Attwell 1988).

dan

Pengendalian

Pengobatan pada kecacingan ini sangat kompleks antara cacing dewasa dan mikrofilaria berbeda dalam penggunaan anthelmintic. Treatmen tidak boleh

Pengobatan,

Pencegahan

dilakukan tanpa pemeriksaan fisik anjing dan pengecekan fungsi jantung, paruparu, hati, dan ginjal. Pada keadaan dimana fungsi tersebut tidak normal maka perlu diberikan prioritas penanganan untuk insuffisiensi jantung dengan pemberian digoxin dan diaretika. Rekomendasi itu untuk anjing yang terinfeksi pertama dengan diberikan thiacetarsamide dengan dosis 2,2 mg/kg secara intravena dua kali sehari selama dua hari atau diberikan melarsamide secara intramuscular selama dua hari untuk membunuh cacing dewasanya. Penggunanan sediaan ini harus disertai dengan perhatian yang ekstra. Penggunanan obat dengan sediaan lain diberikan enam miggu kemudian untuk menghilangkan mikrofilarianya yang tidak peka terhadap thiacetarsamide atau melarsamide (Taylor dan Mike 2007).

Sediaan Levamisol baik untuk cacing dewasa dan larvanya. Dosis yang dianjurkan 10 sampai 15 mg/kg diikuti dengan 2.5 mg/kg selama dua minggu, diteruskan 5 mg/kg selama dua minggu dan akhirnya 10 mg/kg selama dua minggu. Seluruh pengobatan memerlukan enam minggu. Dengan obat-obatan yang mampu membunuh cacing di dalam sistem peredaran darah, dapat diantisipasi timbulnya bahaya tromboemboli karena cacing yang mati dan hancur dapat membentuk trombus, yang mampu menyumbat pembuluh kapiler dan pembuluh darah lainnya (Subronto 2006).

Infeksi cacing jantung sangat melemahkan kondisi hewan penderita dan bahkan mematikan. Pengobatannya sangat mahal dan sulit dilakukan . Karena itu pencegahan infeksi perlu diprioritaskan. Sejumlah obat tersedia untuk pencegahan infeksi cacing jantung. Macrocyclic lactone (ivermectin, milbemycin oxime, moxidectin, dan selamectin) merupakan obat pilihan yang aman dan efektif. Obat tersebut memotong perkembangan larva

7 | Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

cacing dua bulan setelah infeksi, sehingga sangat manjur sebagai obat untuk mencegah penyakit cacing jantung. menyatakan bahwa obat-obat tersebut juga mempunyai aktivitas antelmintik terhadap mikrofilaria (Nelson et al. 2005).

SIMPULAN

Cacing jantung pada anjing masih terabaikan oleh pemiliknya. Cacing parasit telah dinyatakan sebagai penyebab penurunan tingkat kesehatan pada hewan itu sendiri. Meskipun jarang menimbulkan kematian, namun morbiditas kecacingan yang tinggi menyebabkan kerugian pada penderita. Kerugian akibat infeksi cacing pada anjing diantaranya adalah pertumbuhan yang tidak optimal, penurunan berat badan, penurunan daya tahan tubuh, hingga mengurangi nilai estetika penampilan hewan. Pengendalian dapat dilakuklan dengan menejemen pemeliharaan dan penggembalaan yang baik serta pengobatan menggunakan antihelmentik untuk mengurangi kejadian infektif pada anjing.

Daftar Pustaka

Adam,

R.H.

2001.

Veterinary

Pharmacology and

Therapeutics.

Press,

America. Alia YY, May HK, Amall HA. 2013.

8thed.

Iowa

State

Serologicalstudy of

Dirofilaria

immitis

in

human

fromsome

villages

in

Al-Hindya

Atkins

part of KarbalaGovernorate. Int J of

Sci Nature 4:185-188.

and

C,

Seaks

JL,

Emeritus. 2016.

Overview

(Dirofilarosis,Dirofilariasis).Colleg

of

Heartworm

Disease

e of Veterinary Medicine, North Carolina State University Atkins C. 2005. Canine Heartworm Disease. Dalam : Ettinger SJ, Felman EC (ED). Textbook Of Veterinary Internal Medicine. 6th Ed. Vol.2 St. Louis, Missouri:

Elsevier Sounders. Atwell RB. 1988. Clinical Signs and Diagnosis of Canine Dirofilariasis. Dalam Dirofilariasis. Boreham PFL dan Atwell RB, editor. Florida: CRC

Press. Dharmojono. 2003. Anjing Permasalahan dan Pemecahan. Penebar Swadaya, Jakarta. Duran-Struuck R, Jost C, Hernandez AH.2005. Dirofilaria immitis

prevalence

acanine population in the Samana Peninsula (Dominican Republic)

in

June 2001. VetParasitol 133: 323-

327.

Fan, C. K., Su, K. E., Lin, Y. H., Liao, C. W., Du, W. Y., and Chiou, H. Y.

2001. Seroepidemiologic Survey of Dirofilaria immitis Infection Among Domestic Dogs In Taipei City and Mountain Aboriginal Districts In Taiwan (1998 1999). Vet.Parasitol. 102: 113 120. Fitriawati. 2009. Infeksi Cacing Jantung pada Anjing di BeberapaWilayah

dan

Bali: Faktor Risiko Terkait dengan Manajemen Kesehatan Anjing. [Skripsi]FakultasKedokteranHewan Institut Pertanian Bogor.

Genchi, C., Rinaldi, L., Mortarino, M., Genchi, M., and Cringoli, G. 2007. Climate and Dirofilaria Infection in Europe. Vet. Parasitol. 163: 286-

Pulau

Jawa

292.

Karmil, T.F. 2002. Studi Biologis dan

Potensi Vektor Alami Dirofilariaimmitis sebagai Landasan PenyiapanBahan Hayati.

8 | Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

Disertasi.Program Pascasarjana Institut Petanian Bogor. Bogor.

Lee, K. J., Park, G. M., Yong, T. S., Im,

K.,

Jung, S. H., Jeong, N. J., Lee,

W.

Y., Yong, S. J., and Shin, K. C.

2000.

The

first

Korean

case

of

humanpulmonarydirofilariasis.Yon sei Med. J. 41: 285 288. Levine, N.D. 1990. Parasitologi Veteriner.

(Diterjemahkan Soekardono). Yogyakarta (ID) : Gadjah Mada Universitas Press. Lok, J.B. and D.H. Knight. 2001. Activity of an injectable, sustained-release

formulation

of

moxidectin administered prophylactically to mixed-breed dogs to prevent infection with Dirofilaria immitis.Am. J. Vet.Res. 62:1721-1726. Manalu, R.M. 2008.Faktor Resiko Manajemen Pemeliharaan Anjing Terhadap Kejadian Infeksi Dirofilaria immitis di Wilayah Pulau Jawa dan Bali [Skripsi]

FakultasKedokteran Hewan,Institut Pertanian Bogor.Hal 10. Manfredi MT, Cerbo AD, Genchi M. 2007.Biology of filaria worms parasitizin dogs and cats. In Genchi C, Rinaldi R, CringoliG (Ed). Dirofilaria immitis and D. repensin dog and cat and human infections. IVIS. McCall, J. 2005. The safety-netstory about macrocyclic lactone heartworm preventives:A review. Anupdate, and recommendations. VeterinaryParasitology. 133(2-

3):197-206.

Nelson CT, et al. 2005. 2005 guidelines for the diagnosis, prevention and management heartworm (Dirofilaria immitis) infection dogs.https://www.heartwormsocie

logy[21

Juli

Rajulani, R. 2013. Investigasi Keberadaan Cacing Jantung (Dirofilaria immitis) pada Anjing (Canis familiaris) di Tempat Pemotongan Anjing di Kota Gorontalo [Skripsi] Jurusan Biologi FakultasMatematika dan IPA Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo. Reinecke, R.K. 1983. Veterrinary Helminthology. Butterworths,Durban. Song KH, Lee SE, Hayasaki M, Shiramizu K,Kim DH, Cho KW. 2003. Seroprevalenceof canine dirofilariasis in South Korea.

VetParasitol

114:

231

236.

Soulsby, E.J.L. 1982. Helminths,

Arthropods

and

Protozoa

of

Domesticated Animals. 7thed. Academic Press. New York. Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta (ID) : Gadjah

Mada University Press. Subronto. 2010. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba Pada Anjing dan Kucing. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hal106-107.

Taylor, Mike A. 2007. Veterinary Parasithology. Oxford: Blackwell Publishing

BAHAYA INFEKSI DIROFILARIASIS IMITIS Pada JANTUNG ANJING FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN IPB

BAHAYA INFEKSI

DIROFILARIASIS IMITIS

Pada JANTUNG ANJING

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN IPB

Kelompok 3
Kelompok 3

Herlina maulida putri Annisa Prabaningrum Nurul lestari Anggi dian pratama

b04170003

b04170004

b04170005

b04170006

PENDAHULUAN

yang

dikenal sebagai cacing jantung, adalah penyebab penyakit parasit yang serius pada anjing, hidup pada ventrikel kanan dan arteri pulmonalis. PENYAKIT YANG BERSIFAT ZOONOSIS INI DAPAT MENYERANG ANJING JENIS HEWAN KESAYANGAN HINGGA ANJING LIAR SEPERTI

COYOTE (CANIS LATRANS)

Dirofilaria immitis (D. immitis)

ANJING JENIS HEWAN KESAYANGAN HINGGA ANJING LIAR SEPERTI COYOTE (CANIS LATRANS) Dirofilaria immitis (D. immitis)
ANJING JENIS HEWAN KESAYANGAN HINGGA ANJING LIAR SEPERTI COYOTE (CANIS LATRANS) Dirofilaria immitis (D. immitis)
Morfologi
Morfologi

Ramping berwarna putih

Panjang jantan 12-16 cm, betina 25-30 cm

Ujung posterior jantan melingkar

Pada ekor terdapat papile lateral

Vulva betina di belakang ujung esofagus

Makanan berupa plasma

Diambil dari induk semang, dapat bertahan 5-7 tahun di dalamnya

Golongan vivipar

Cacing betina melepaskan mikrofilaria ke aliran darah inang

Klasifikasi
Klasifikasi

nemathelminthes

Filum

nematoda

Kelas

spirurata

Sub ordo

filariidae

Famili

dirofilaria

Genus

Dirofilaria immitis

Spesies

FAKTOR PENYEBAB

INFEKSI

umur

ras

Jenis kelamin

Wilayah Iklim Manajemen pemeliharaan

FAKTOR PENYEBAB INFEKSI umur ras Jenis kelamin Wilayah Iklim Manajemen pemeliharaan
FAKTOR PENYEBAB INFEKSI umur ras Jenis kelamin Wilayah Iklim Manajemen pemeliharaan
FAKTOR PENYEBAB INFEKSI umur ras Jenis kelamin Wilayah Iklim Manajemen pemeliharaan

patofisiologi

Keparahan secara patologis pada

anjing dipengaruhi oleh banyaknya

cacing, respon imun host, durasi dari

infeksi yang terjadi, serta aktivitas

dari host tersebut. Cacing jantung dewasa akan

mengakibatkan trauma secara mekanik

yaitu mengiritasi tunika intima dari pembuluh darah.

Cacing jantung dewasa akan mengakibatkan trauma secara mekanik yaitu mengiritasi tunika intima dari pembuluh darah.
Cacing jantung dewasa akan mengakibatkan trauma secara mekanik yaitu mengiritasi tunika intima dari pembuluh darah.

vektor

Sebanyak 60 -70 spesies nyamuk diperkirakan dapat menjadi vektor potensial d. immitis. Larva D. immitis dapat berkembang menjadi L3 di dalam nyamuk dari genus Culex, Aedes, Psorophora, Mansonia atau Anopheles.

Spesies yang dapat menjadi vektor D. immitis adalah spesies yang tidak mempunyai bucco- pharyngeal yang dapat merusak kutikula mikrofilaria sehingga menghambat perkembangannya menjadi larva infektif

bucco- pharyngeal yang dapat merusak kutikula mikrofilaria sehingga menghambat perkembangannya menjadi larva infektif
bucco- pharyngeal yang dapat merusak kutikula mikrofilaria sehingga menghambat perkembangannya menjadi larva infektif
Gejala klinis
Gejala klinis

Infeksi awal

Belum menunjukkan gejala klinis

d. Immitis ringan

Batuk dengan frekuensi sering

Infeksi parah

Kehilangan berat badan, rambut kasar, batuk kronis, mudah Lelah, dyspnoe, suara jantung abnormal, hepatomegaly, syncope, hydrotoraks, ascites, suara jantung abnormal, gagal jantung kongestif sisi kanan

01

02 03 Diagnosis 04 05
02
03
Diagnosis
04
05

06

The modified knott’s test

Memeriksa mikrofilaria dengan melakukan sentrifus sehingga terdapat

endapan mikrofilaria

radiologi

Meilhat abnormalitas jantung dan paru-paru

angiografi

Melihat perbesaran pemuluh darah

ultrasonografi

Mengevaluasi perbesaran bilik

Elisa deteksi antibodi

Mendeteksi respon antibody akibat paparan Dirofilaria

Elisa deteksi antigen

Mendeteksi antigen yang dihasilkan oleh D. immitis dewasa

Pengobatan

thiacetarsamide dengan dosis 2,2 mg/kg

secara intravena dua kali sehari selama

dua hari. melarsamide secara intramuscular selama dua hari untuk membunuh cacing dewasanya. Levamisol 10-15 mg/kg diikuti dengan 2.5 mg/kg selama dua minggu, diteruskan 5

mg/kg selama dua minggu dan akhirnya 10 mg/kg selama dua minggu.

diikuti dengan 2.5 mg/kg selama dua minggu, diteruskan 5 mg/kg selama dua minggu dan akhirnya 10
diikuti dengan 2.5 mg/kg selama dua minggu, diteruskan 5 mg/kg selama dua minggu dan akhirnya 10

Pencegahan dan

pengendalian

Sejumlah obat tersedia untuk

pencegahan infeksi cacing jantung. Macrocyclic lactone (ivermectin,

milbemycin oxime, moxidectin, dan selamectin) merupakan obat

pilihan yang aman dan efektif.

Simpulan

Cacing jantung pada anjing masih terabaikan oleh pemiliknya. Cacing parasit telah dinyatakan sebagai penyebab penurunan tingkat kesehatan pada hewan itu sendiri. Meskipun jarang menimbulkan kematian, namun morbiditas kecacingan yang tinggi menyebabkan kerugian pada penderita. Kerugian akibat infeksi cacing pada anjing diantaranya adalah pertumbuhan yang tidak optimal, penurunan berat badan, penurunan daya tahan tubuh, hingga mengurangi nilai estetika penampilan hewan. Pengendalian dapat dilakuklan dengan menejemen pemeliharaan dan penggembalaan yang baik

serta pengobatan menggunakan antihelmentik untuk

mengurangi kejadian infektif pada anjing.

Terima kasih