Anda di halaman 1dari 39

KONSEP KOMUNIKASI UMUM DAN TERAPEUTIK

Disusun oleh:
Home Group 1

Andi Nurmala Sari 1906428285


AnindyaKiranaWidowati 1906428303
DevyDwiwanti 1906428322
Dyah Tri Handayani 1906428335

Fakultas Ilmu Keperawatan


Universitas Indonesia
Ekstensi 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat, nikmat serta karunia-
Nya sehingga kami bisa menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul “Konsep
Komunikasi Umum dan Terapeutik”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata ajar
Praktikum Komunikasi Keperawatan, yang juga sebagai salah satu kriteria penilaian pokok
bahasan mengenai komunikasi terapeutik.

Kami ucapkan terima kasih yang kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini, Serta Ibu Ria Utami Panjaitan, S.Kp., M.Kep. selaku fasilitator yang
telah membimbingan serta memberikan arahan dalam penulisan makalah ini.

Kami menyadari penyusunan makalah ini masih ada kekurangan baik dari segi isi
maupun sistematik. Oleh karena itu kami menerima saran dan kritik agar kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat bermanfaat
sehingga dapat memberikan wawasan bagi pembacanya.

Depok, 23 September
2019

Tim Penyusun

Home Group 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................2


DAFTAR ISI ...........................................................................................................................................3
BAB I .......................................................................................................................................................4
PENDAHULUAN ...................................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang Masalah ...........................................................................................................4
1.2 Tujuan Penulisan........................................................................................................................5
1.3 Sistematika Penulisan ................................................................................................................5
BAB II .....................................................................................................................................................6
TINJAUAN TEORI ...............................................................................................................................6
2.1 Komunikasi Secara Umum..............................................................................................................6
2.2 Pengertian dan Tujuan Komunikasi Terapeutik ................................................................. 11
2.3 Sikap dan Teknik Komunikasi............................................................................................... 16
2.4 Konsep Analisis Kesadaran Diri dan Analisis Proteksi Diri ............................................... 25
BAB III .................................................................................................................................................... 36
PENUTUP ............................................................................................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 38
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kegiatan sehari-hari perawat dalam melakukan proses keperawatan tidak lepas


dari komunikasi. Komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan dalam proses
keperawatan. Komunikasi yang efektif dapat meningkatkan kualitas dari asuhan
keperawatan dan membantu perawat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Komunikasi adalah suatu kegiatan pertukaran informasi atau pikiran yang dapat
disampaikan secara verbal maupun non-verbal. Komunikasi digunakan pada setiap
tingkatan komunikasi, dalam tingkatan komunikasi hubungan antar perawat-klien,
komunikasi terapeutik yang akan selalu digunakan. Komunikasi terapeutik digunakan
mulai dari sebelum perawat kontak langsung dengan pasien sampai dengan tahap akhir
kontak dengan klien.
Ada banyak cerita kegagalan mahasiswa dalam membentuk dan membina
hubungan saling percaya dengan klien. Hal ini dikarenaka nmahasiswa belum berhasil
dalam menerapkan komunikasi terapeutik dalam proses keperawatan. Perawat dalam
komunikasi menggunakan diri mereka sebagai alat komunikasi teraupetik untuk
membangun hubungan terapeutik dengan klien. Videback mengutip dari Peplau (1952),
menjelaskan “penggunaan diri secara terapeutik dalam hubungan perawat-klien,
meyakini bahwa perawat harus memiliki pemahaman yang jelas tentang diri mereka
sendiri untuk meningkatkan pertumbuhan klien dan menghindari membatasi pilihan
klien dengan pilihan yang diyakini perawat”. Perawat sebagai alat komunikasi harus
terus-menerus diasah sampai memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Seperti yang
sudah disinggung oleh Peplau dalam melakukan komunikasi, perawat harus memiliki
pemahaman mengenai dirinya. Pemahaman mengenai diri sendiri dapat dinilai dengan
melakukan analisa diri. Semakin tinggi pemahaman perawat mengenai dirinya, maka
akan semakin tinggi pula kemampuan komunikasi perawat tersebut.
Kemampuan komunikasi terapeutik yang baik dibutuhkan oleh setiap perawat,
komunikasi ini tidak dimudah untuk diaplikasikan, untuk itu dibutuhkan pemahaman
yang tinggi, analisa diri yang kuat serta latihan untuk meningkatkan kemampuan
perawat dalam melakukan komunikasi. Demikian akan dijelaskan lebihlanjut mengenai
konsep komunikasi terapeutik dan analisa diri dalam tinjauan teori.

1.2 Tujuan Penulisan


a. Tujuan umum
Mahasiswa mampu memahami konsep komunikasi terapeutik
b. Tujuan khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep umum komunikasi
2. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep komunikasi terapeutik
3. Mahasiswa mampu menjelaskan sikap dan teknik komunikasi
4. Mahasiswa mampu menjelaskan analisa kesadaran diri perawat
5. Mahasiswa mampu menjelaskan analisa proses interaksi (API)

1.3 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan dalam makalah ini dibuat menjadi tiga BAB, yaitu BAB I
pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, tujuan umum dan tujuan khusus serta
sistematika penulisan. BAB II merupakan tinjauan teori yang berisi konsep umum komunikasi,
konsep komunikasi terapeutik, sikap dan teknik komunikasi, serta analisa kesadaran diri
perawat dan analisa proses interaksi. BAB III yang berisi kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Komunikasi Secara Umum

2.1.1 Pengertian Komunikasi


Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dikehidupan sehari-hari, sering
digunakan dalam melakukan aktivitas apalagi yang berkaitan erat dengan orang lain. Bila
dikaitkan dengan komunikasi dalam keperawatan, komunikasi merupakan hal utama yang harus
perawat kuasai sebelum melakukan proses asuhan keperawatan.
Dalam buku dasar- dasar komunikasi bagi perawat, pengertian komunikasi merupakan
salah satu bentuk proses interaksi sosial dan interpersonal dalam kehidupan manusia. Dalam
buku komunikasi keperawatan, komunikasi dimaknai sebagai sebuah proses penyesuaian dan
adaptasi yang dinamis antara dua orang atau lebih dalam sebuah interaksi tatap muka ataupun
tidak akan terjadi pertukaran ide, makna, perasaan dan perhatian.

2.1.2 Komponen Komunikasi


A. Komunikator (sender atau decoder)
Pemberi komunikasi (komunikator) adalah orang atau sekumpulan orang yang
menyampaikan pesan (stimulus) kepada seseorang atau sekelompok orang
(komunikan) dan diharapkan komunikan bersedia menerima dan melaksanakan
menurut pesan atau stimulus yang disampaikan sehingga proses komunikasinya terus
berjalan dengan baik. Komunikator ialah orang yang membentuk ataupun
menciptkan perbuatan baru komunikannya.

B. Komunikan (Penerima pesan)


Komunikan adalah orang yang menerima pesan dan memberikan respons
(memberikan penilaian, interpretasi, perbuatan baru) atas pesan (informasi, ide atau
gagasan) yang disampaikan komunikator. Komunikan adalah seorang (sekumpulan
orang) yang menerima, melakukan, berbuat, menilai, menginterpretasi atau
memberikan respons atas informasi (pesan, ide, gagasan atau pesan) yang
disampaikan oleh komunikator.
C. Pesan
Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan
merupakan keseluruhan isi stimulus yang dikeluarkan oleh komunikator pada
komunikan. Isi pesan atau materi pesan dapat bersifat informatif, persuasif atau
koersif. Isi pesan yang bersifat informatif, meliputi berita, amanat, laporan,
keterangan tentang suatu peristiwa atau kejadian. Isi pesan yang bersifat instruksi
meliputi sekumpulan instruksi kerja atau prosedur kerja. Adapun isi pesan yang
bersifat koersif meliputi sekumpulan pesann yang mendorong seseorang atau
sekumpulan orang untuk melakukan suatu (sekumpulan ) perbuatan tertentu yang
diharapkan komunikator.

D. Media
Media merupakan alat (instrumen ) yang dipakai untuk memindahkan pesan dari
komunikator kepada komunikan. Media ialah alat penghubung antara pemberi dan
penerima yang bersifat terbuka, dimana setiap orang dapat melihat, membaca dan
mendengarkannya.

2.1.3 Tingkatan Komunikasi


Komunikasi terbagi dalam beberapa tingkatan, diantaranya sebagai berikut.
A. Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi dari seseorang terhadap dirinya sendiri
seperti berpikir, merenung, menggambar, menulis sesuatu. Hasil yg terjadi dari
komunikasi ini adalah bagaimana individu mempersepsikan sesuatu.
B. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi antar dua orang, baik secara tatap
muka, melalui telepon, atau melalui media komunikasi lainnya. Hasil yang penting
dari komunikasi ini adalah mengembangkan hubungan antar pribadi dan merupakan
kompetensi yang penting bagi seorang perawat.
C. Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang terjadi antara tiga orang atau lebih,
baik secara tatap muka atau melalui media komunikasi lain seperti panggilan
konferensi atau webinar. Tipe komunikasi ini lebih kompleks dari intrapersonal dan
interpersonal karena melibatkan interaksi banyak orang.
Sebagai seorang perawat, sudah pasti akan berurusan dengan kelompok misalnya
ketika berurusan dengan keluarga pasien, dan berkolaborasi dengan tim lain yang
memberikan terapi. Dalam berurusan dengan kelompok seorang perawat harus
memahami pesan non verbal yang disampaikan oleh anggota kelompok lainnya.
Berikut adalah tiga mekanisme yang digunakan oleh perawat untuk
menghubungkan klien dengan kelompok promosi kesehatan.
 Komunikasi – perawat secara aktif mendengarkan klien untuk menentukan
kebutuhan
 Berpikir kritis – perawat menggunakan proses kognitif untuk memutuskan
kelompok mana yang sesuai dengan kebutuhan klien
 Kolaborasi – perawat bekerja dengan anggota tim multidisiplin untuk memulai
proses rujukan
(DeLaune & Ladner, 2011)
2.1.4 Bentuk Komunikasi
A. Pesan Verbal
Pesan verbal adalah pesan yang disampaikan baik secara lisan maupun tulisan yang
berbentuk kata-kata. Pesan verbal disertai isyarat paraverbal seperti nada suara,
kecepatan, volume, dan vokalisasi non bahasa lainnya yang dapat menambah makna
dan memengaruhi pendengar untuk menyimpulkan pemahaman.
B. Pesan non Verbal
Pesan non verbal adalah pesan yang disampaikan tanpa melalui kata-kata, yaitu
melalui bahasa tubuh. Pesan non verbal dapat memiliki beberapa interpretasi, dan
sangat penting bagi kita memaknai pesan, kemudian memvalidasi maksud dari
pesan tersebut.
Pesan non verbal dapat disampaikan dengan berbagai cara diantaranya :
1. Ekspresi Wajah
Wajah merupakan penyampai pesan non verbal yang baik karena dapat
memberikan petunjuk yang mendukung, atau bertentangan dengan pesan verbal.
Banyak jenis perasaan yang tergambar di wajah seseorang, seperti expresi saat
sedang marah, sedih, ataupun bahagia.
2. Postur Tubuh
Bentuk postur tubuh dapat mencerminkan banyak hal dan bisa menafsirkan
dalam citra diri yang positif atau negative. Misalnya postur yang tegak
menunjukkan kepercayaan diri seseorang sedangkan postur membungkuk,
menunjukkan kondisi yang sebaliknya.
3. Gesture
Hal ini mengacu pada pergerakan beberapa anggota tubuh yang dapat
menambah pemaknaan dari komunikasi verbal.
4. Sentuhan
Sentuhan adalah salah satu media non verbal yang kuat untuk komunikasi karena
dapat mengkomunikasikan rasa peduli.
5. Penampilan dan Artefak Fisik
Penampilan dan artefak fisik adalah salah satu jenis pesan non verbal yang
melibatkan lingkungan, misalnya dalam penggunaan seragam, karena dapat
menghambat penyampaian pesan dan pertukaran antarpribadi dengan
menetapkan batas superioritas
C. Metakomunikasi
Metakomunikasi adalah termasuk isyarat komunikasi tidak langsung tentang
bagaimana suatu pesan dimaknai. Jenis komunikasi ini melibatkan fokus pada
proses komunikasi daripada hanya pada konten. "Membaca yang tersirat" yang
terjadi dalam komunikasi.
2.1.5 Struktur Komunikasi
A. Komunikasi Formal
Ada tiga bentuk utama dari arus pesan dalam jaringan komunikasi formal yang
mengikuti garis komunikasi seperti yang digambarkan dalam struktur organisasi yaitu:
1. Komunikasi Kebawah.
Komunikasi kebawah menunjukan arus pesan yang mengalir dari para atasan atau
para pimpinan kepada bawahannya. Kebanyakan komunikasi kebawah digunakan
untuk menyampaikan pesan pesan yang biasanya berkenaan dengan tugas tugas dan
pemeliharaan. Pesan tersebut biasanya berhubungan dengan pengarahan, tujuan,
untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan kecurigaan
yang timbul karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman karena kurang
informasi dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan.
2. Komunikasi keatas
Yang dimaksud dengan komunikasi ke atas adalah pesan yang mengalir dari
bawahan kepada atasan atau dari tingkat yang lebih rendah kepada tingkat yang
lebih tinggi. Semua karyawan dalam suatu organisasi kecuali yang berada pada
tingkatan yang paling atas mungkin berkomunikasi ke atas. Tujuan dari komunikasi
ini adalah untuk memberikan balikan, memberikan saran dan mengajukan
pertanyaan. Komunikasi ini mempunyai efek pada penyempurnaan moral dan sikap
karyawan, tipe pesan adalah integrasi dan pembaruan.
3. Kominikasi Horizontal
Komunikasi horizontal adalah pertukaran pesan di antara orang orang yang sama
tingkatan otoritasnya di dalam organisasi. Pesan yang mengalir menurut fungsi
dalam organisasi diarahkan secara horizontal. Pesan ini biasanya berhubungan
dengan tugas tugas atau tujuan kemanusiaan, seperti koordinasi, pemecahan
masalah, penyelesaian konflik dan saling memberikan informasi.
B. Jaringan Komunikasi Informal
Jaringan komunikasi informal adalah Informasi yang mengalir ke atas ke bawah
ataupun secara horizontal. Tanpa memperhatikan hubungan posisi, kalaupun ada
mungkin sedikit. Karena komunikasi informal ini menyebabkan informasi pribadi
muncul dari interaksi di antara orang orang dan mengalir keseluruh organisasi tanpa
dapat diperkirakan.
Jaringan komunikasi lebih dikenal dengan desas desus (grapevine) atau kabar
angin. Informasi yang mengalir dalam jaringan grapevine ini, kelihatannya berubah
ubah dan tersembunyi. Dalam istilah komunikasi grapevine dikatakan sebagai
metode untuk menyampaikan rahasia dari orang ke orang, yang tidak dapat
diperoleh melalui jaringan komunikasi formal. Komunikasi informal cenderung
berisi laporan rahasia mengenai orang dan kejadia kejadian yang tidak mengalir
secara resmi. Informasi yang diperoleh dari desas desus adalah yang berkenaan
dengan apa yang didengar atau apa yang dikatakan orang dan bukan apa yang
diumumkan oleh orang yang berkuasa.
2.1.6 Hambatan dalam Komunikasi
A. Bahasa
Misalnya saja, A yang berasal dari Sunda sedang berpergian ke Jogjakarta, dan
diundang makan malam di rumah koleganya. Saat makan malam tuan rumah
menghidangkan beberapa menu makanan dan menyebutkan satu persatu menunya.
Tuan rumah mengatakan “Ini Jangan asem”, “Ini Jangan lodeh” dan beberapa
“Jangan”, menu terakhir tuan rumah mengatakan “Ini tahu dan tempe”. Alhasil A
yang berasal dari Sunda itu pun hanya makan nasi dengan tempe dan tahu.Faktanya
adalah kata “Jangan” dalam Bahasa Jawa berarti “Sayur” dalam Bahasa Indonesia.
Karena adanya hambatan bahasa tersebut, A yang berasal dari Sunda itu memaknai
kata “jangan” tersebut dengan “jangan dimakan”. Artinya komunikasi antara tuan
rumah dan A tidak efektif karena maksud komunikasi tuan rumah dimaknai secara
berbeda oleh A.
B. Lingkungan
Berkomunikasi dilingkungan yang kurang mendukung untuk berkomunikasi dengan
baik seperti dekat dengan mesin yang mengeluarkan bunyi bising akan dapat
mengganggu proses komunikasi. Kata-kata yang diucapkan oleh pengirim bisa saja
tidak diterima secara sempurna, dan pada akhirnya dapat menimbulkan salah
memaknai pesan yang dimaksudkan oleh si pengirim.
C. Fisik
Keterbatasan fisik dari si pengirim maupun si penerima dapat menjadi hambatan
untuk berkomunikasi secara efektif. Misalnya jika pengirim pesan memiliki
keterbatasan fisik untuk berbicara seperti bisu atau sebaliknya penerima pesan
memilki keterbatasan fisik untuk mendengar seperti tuli maka hal ini berpotensi
menjadi hambatan untuk komunikasi yang efektif.
D. Psikologi
Faktor psikologis dapat menjadi hambatan untuk terciptanya komunikasi yang
efektif. Jika si pengirim dan/atau penerima berada dalam keadaan psikologis yang
kurang memungkinkan untuk berkomunikasi secara sehat, misalnya dalam keadaan
marah, maka hal ini berpotensi menjadi hambatan untuk komunikasi yang efektif

2.2 Pengertian dan Tujuan Komunikasi Terapeutik

Komunikasi adalah hal yang biasa di lakukan dalam kehidupan manusia, sedari kecil
hingga dewasa, baik secara verbal dan non verbal. Melalui komunikasi kita dapat
menyampaikan pesan, informasi dan berita. Semua jenis komunikasi tersebut dapat kita jumpai
di semua tempat, contohnya di sekolah saat proses pembelajaran, di pasar saat transaksi jual
beli, dan juga di rumah sakit saat pelayanan keperawatan. Komunikasi dalam bidang
keperawatan yang melibatkan perawat dan klien lebih kita kenal sebagai komunikasi
terapeutik, yaitu keterampilan komunikasi yang wajib di kuasai oleh seluruh perawat.

2.2.1 Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang bertujuan untuk memberikan hasil yang
baik untuk klien, memiliki tujuan, memiliki batas yang jelas, berfokus pada klien, tidak
menghakimi dan menggunakan teknik terpilih yang terencana dengan baik ( DeLaune dan
Landner , 2010).
2.2.2 Komunikasi terapeutik adalah komunikasi interpersonal antara perawat dan klien yang
dilakukan secara sadar ketika perawat dan klien saling memengaruhi dan memperoleh
pengalaman bersama yang bertujuan untuk membantu mengatasi masalah klien serta
memperbaiki pengalaman emosional klien yang pada akhirnya mencapai kesembuhan
klien.(Anjaswarni, 2016)
Berdasarkan definisi komunikasi terapeutik di atas, berikut ini tujuan dari komunikasi
terapeutik.
a. Membantu mengatasi masalah klien untuk mengurangi beban perasaan dan
pikiran.
b. Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk klien/pasien.
c. Memperbaiki pengalaman emosional klien.
d. Mencapai tingkat kesembuhan yang diharapkan.

Supaya tujuan komunikasi terapeutik ini dapat tercapai, ada beberapa prinsip dasar, prinsip –
prinsip dasar dari komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut :

1. Rencanakan waktu yang tepat untuk wawancara


Persiapkan waktu di mana klien dapat nyaman menjawab pertanyaan perawat, karena
akan sangat mempengaruhi hasil yg di harapkan, contoh : jangan saat jam kunjung, atau
saat peralihan dinas.
2. Kerahasiaan klien terjaga
Saat komunikasi tidak ada klien yang mau pembicaraan mereka di dengar oleh orang
lain, contoh : tutup tirai pemisah, tutup pintu kamar dan bicara perlahan
3. Panduan interaksi terapeutik
Saat interaksi terapeutik perawat memiliki acuan yang sama saat berkomunikasi dengan
klien, mulai dari memperkenalkan diri, maksud dan tujuan setiap tindakan serta
4. Berikan rasa nyaman saat berinteraksi
Rasa nyaman saat berinteraksi bukan hanya dengan bagaimana perawat berbicara, tetapi
suasana dan lingkungan sekitar saat berkomunikasi, mulai dari suhu tempat saat
berbicara, klien duduk dengan nyaman, klien tidak sedang kesakitan.

5. Terima klien apa ada nya


Saat berbicara dengan klien dengarkan dengan baik, jangan menghakimi pendapat dan
cerita klien
6. Mendorong spontanitas
Saat klien berbicara dengan nyaman, klien dapat bercerita tanpa batasan, dan perawat
akan dengan mudah mendapatkan informasi yang di butuhkan

7. Fokus pada penjelasan dan arahan klien


Dengarkan dengan seksama saat klien bicara, biarkan klien yang memulai untuk
berbicara tentang hal tertentu, sesekali bertanya untuk menunjukkan bahwa perawat
mendengarkan.
8. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan nya
Biarkan klien berbicara, komunikasi terapeutik bertujuan agar klien dapat menceritakan
masalah yg sedang di hadapi nya, tunjukkan bahwa kita sebagai perawat perduli
9. Waspadai perasaan perawat saat interaksi
Saat interaksi dengan klien, jangan tunjukkan perasaan yang dapat menghambat
komunikasi, contoh perawat saat mendengar cerita klien menjadi cemas dan ingin
segera mengakhiri komunikasi.

Karakteristik Komunikasi Terapeutik :

Menurut Kozier, B. dkk. (2012), karakteristik komunikasi terapeutik, yakni:


1. Komunikasi yang tercipta untuk membangun suatu hubungan dengan tujuan menolong
“helping relationship”
2. Terikat secara emosional dan intelektual antara perawat dan klien yang focus utamanya
adalah klien saja
3. Menghargai klien sebagai individu, termasuk:
a. Memaksimalkan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam menentukan
keputusan selama dalam masa perawatan.
b. Mempertimbangkan aspek etnis dan budaya klien
c. Mempertimbangkan hubungan dan nilai-nilai keluarga klien
4. Bersifat menghargai kerahasiaan klien
5. Terfokus pada kesehatan klien
6. Berlandaskan pada sikap saling percaya, menghargai, dan penerimaan terhadap klien

Di dalam bukunya, (Sarfika, Maisa dan Freska, 2018, p. 30) membuat tabel yang dapat
membedakan antara komunikasi social dengan komunikasi terapeutik. Berikut table perbedaan
komunikasi tersebut :
Komunikasi Sosial Komunikasi Terapeutik
Terjadi setiap hari antar orang per orang atau Terjadi antara perawat dengan klien atau
kelompok baik dalam lingkungan kerja maupun anggota tim kesehatan lainnya
pergaulan
Komunikasi umumnya bersifat dangkal karena Komunikasi bersifat dalam karena selalu
tidak mempunyai tujuan tetapi lebih mengarah mempunyai tujuan atau arah yang lebih spesifik
kepada kebersamaan dan rasa senang yaitu untuk kesembuhan klien
Komunikasi umumnya tidak menunjukkan sikap Perawat secara aktif mendengarkan dan
empati, tetapi lebih sering bersikap simpati memberi respon dengan cara menunjukkan
sikap empati kepada klien
Umumnya bersifat untuk kesenangan saja, tidak Membantu klien meningkatkan kesadaran diri
dituntut untuk memahami diri
Komunikasi dapat terjadi karena direncanakan Komunikasi terjadi karena direncanakan
ataupun tidak direncanakan

Selain karakteristik diatas, Arwani (2003), dalam Pangestika (2016), menuliskan tiga hal
mendasar lainnya yang member ciri-ciri komunikasi terapeutik, yaitu:
a. Keikhlasan (genuineness)
Komunikasi terapeutik memiliki karakteristik keikhlasan, artinya perawat memiliki rasa
ikhlas dalam menghadapi segala sikap klien tanpa menolak segala bentuk perasaan
negatif yang dimiliki klien. Hal ini akan menolong perawat dalam menghadapi klien
tanpa menyalahkan atau menghukum klien.
b. Empati (empathy)
Komunikasi terapeutik bercirikan empati artinya adalah dalam berkomunikasi, perawat
memiliki perasaan untuk memahami, menerima, dan mampu merasakan apa yang
sedang dialami klien. Perawat diharapkan mampu merasakan apa yang sedang dirasakan
klien pada saat mengungkapkan perasaannya.
c. Kehangatan (warmth)
Komunikasi terapeutik juga bercirikan menghasilkan suatu hubungan yang hangat
dengan harapan klien dapat merasakan kenyamanan dan dapat mengungkapkan
perasaan atau masalahnya lebih dalam lagi sehingga membantu perawat memiliki
kesempatan lebih luas untuk mengetahui kebutuhan klien.
Menurut Stuart (2013) tahap komunikasi terapeutik antara lain :
1. Tahap pra- interaksi
Tahap ini merupakan tahap persiapan yang dapat dilakukan perawat sebelum
berinteraksi dan berkomunikasi dengan klien. Pada fase ini perawat mengeksplorasi
perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri, serta menganalisis kekuatan dan kelemahan
profesional diri. Perawat dapat bertanya kepada dirinya untuk mengukur kesiapan
berinteraksi dan berkomunikasi dengan klien. Contoh pertanyaan perawat kepada diri
sendiri sebagai berikut :
 Apa yang akan saya tanyakan saat bertemu nanti?
 Bagaimana respons saya selanjutnya?
 Adakah pengalaman interaksi yang tidak menyenangkan?
 Bagaimana tingkat kecemasan saya?
2. Tahap orientasi/perkenalan
Tahap ini adalah tahap awal interaksi antara perawat dan klien yang bertujuan untuk
merencanakan apa yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya. Pada tahap ini perawat
dapat:
a) Memulai hubungan dan membina hubungan saling percaya
b) Memperjelas keluhan, masalah, atau kebutuhan klien dengan mengajukan
pertanyaan tentang perasaan klien
c) Merencanakan kontrak/kesepakatan yang meliputi lokasi, kapan, dan lama
pertemuan
3. Tahap kerja
Tahap ini adalah tahap terpenting karena menyangkut kualitas hubungan perawat- klien
dalam asuhan keperawatan. Selama berlangsungnya tahap kerja ini, perawat tidak hanya
mencapai tujuan yang telah diinginkan bersama, tetapi yang lebih bermakna adalah
tujuan untuk memandirikan klien. Pada tahap ini, perawat menggunakan teknik – teknik
berkomunikasi dengan klien sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan
4. Tahap terminasi
Pada tahap ini perawat memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan
keberhasilan dirinya dalam mencapai terapi dan unggkapan perasaannya. Selanjutnya
perawat merencanakan tindak lanjut pertemuan dan membuat kontrak pertemuan
selanjutnya dengan klien. Ada tiga kegiatan utama yang harus dilakukan perawat pada
tahap terminasi ini, yaitu melakukan evaluasi subjektif dan objektif; merencanakan
tindak lanjut interaksi dan membuat kontrak dengan klien untuk pertemuan selanjutnya.
Komunikasi terapeutik oleh perawat terhadap pasien sangat diperlukan dalam
menunjang proses penyembuhan pasien. Oleh karena itu perawat diharapkan mampu
menerapkan komunikasi terapeutik dengan baik sehingga tujuan yang akan dicapai oleh
perawat dan pasien dapat terwujud.
Jadi komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang terstruktur dan berfokus pada
kebaikan klien. Adapun tujuan-tujuan komunikasi di harapkan dapat meningkatkan
status kesehatan klien dan dapat membantu memberikan tindakan yang efektif. Dan
tujuan tersebut dapat tercapai apabila prinsip dasar komunikasi terapeutik dapat kita
lakukan seperti, menjaga kenyamanan klien dan tetap berpegang pada tatanan
komunikasi terapeutik.

2.3 Sikap dan Teknik Komunikasi

2.3.1 Sikap Komunikasi Secara Fisik


Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan adalah sebagai caregiven
dimana perawat hadir secara menyeluruh dari fisik maupun psikologis. Hal yang paling
penting dalam berkomunikasi dengan pasien adalah sikap dan penampilan saat
berkomunikasi. Identifikasi sikap dan cara untuk menghadirkan diri secara fisik. (Evans
1975 dalam Sandu. 2018) adalah:
a. Berhadapan. Posisi berhadapan berarti bahwa dalam komunikasi perawat harus
menghadap ke klien, tidak boleh membelakangi, atau duduk menyamping. Sikap
ini harus dipertahankan pada saat kontak dengan klien. Dengan posisi ini, perawat
dapat melihat secara jelas apa yang tampak secara verbal maupun nonverbal klien.
Arti posisi ini adalah saya siap membantu Anda.
b. Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti
menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi
c. Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan
atau mendengarkan sesuatu.
d. Mempertahankan sikap terbuka. Selama berkomunikasi, perawat tidak melipat
kaki atau tangan karena sikap ini menunjukkan keterbukaan perawat dalam
berkomunikasi. Tetap relaks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara
ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons pada klien.
e. Berjabat tangan. Menunjukkan perhatian dan memberikan kenyamanan pada
pasien serta penghargaan atas keberadaannya. Berjabatan tangan juga dapat
memberi kesan keakraban dan kedekatan antara perawat dan klien.
2.3.2 Sikap Komunikasi Secara Psikologi
2.3.2.1 Sikap dalam dimensi respon
a. Ikhlas (Genuiness): perawat menyatakan dan menunjukkan sikap
keterbukaan, jujur, tulus, dan berperan aktif dalam berhubungan dengan
klien. Perawat merespons tidak dibuat-buat dan mengekspresikan perasaan
yang sesungguhnya secara spontan.
b. Menghargai: perawat menerima klien apa adanya. Sikap tidak
menghakimi, tidak mengejek, tidak mengkritik, ataupun tidak menghina;
harus ditunjukkan oleh perawat melalui, misalnya, duduk diam
menemani klien ketika klien menangis; bersedia menerima permintaan
klien untuk berdiskusi atau bercerita tentang pengalaman; bahkan minta
maaf atas ucapan dan perilaku perawat yang menyinggung klien.
c. Empati (empathy) merupakan kemampuan perawat untuk memasuki
pikiran dan perasaan klien sehingga dapat merasakan apa yang sedang
dirasakan dan dipikirkan klien. Melalui rasa empati, perawat dapat
mengidentifikasi kebutuhan klien dan selanjutnya membantu klien
mengatasi masalahnya. Konkret: perawat menggunakan kata-kata yang
spesifik, jelas, dan nyata untuk menghindari keraguan dan ketidakjelasan
penyampaian.
2.3.2.2 Sikap dalam dimensi Tindakan
Dimensi ini termasuk konfrontasi, kesegaran, pengungkapan diri
perawat, katarsis emosional, dan bermain peran (Stuart dan Sundeen, 1989).
Dimensi ini harus diimplementasikan dalam konteks kehangatan,
penerimaan, dan pengertian yang dibentuk oleh dimensi responsif.
a. Konfrontasi
Pengekspresian perawat terhadap perbedaan perilaku klien yang
bermanfaat untuk memperluas kesadaran diri klien. Carkhoff (dikutip
oleh Stuart dan Sundeen, 1989) mengidentifikasi tiga kategori
konfrontasi sebagai berikut.
b. Ketidaksesuaian antara konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya)
dengan ideal diri (cita-cita/keinginan klien).
c. Ketidaksesuaian antara ekspresi nonverbal dan perilaku klien.
d. Ketidaksesuaian antara pengalaman klien dan perawat seharusnya
dilakukan secara asertif bukan agresif/marah (konfrontasi). Oleh karena
itu, sebelum melakukan konfrontasi, perawat perlu mengkaji, antara lain
tingkat hubungan saling percaya dengan klien, waktu yang tepat, tingkat
kecemasan, dan kekuatan koping klien. Konfrontasi sangat berguna
untuk klien yang telah mempunyai kesadaran diri, tetapi perilakunya
belum berubah.
e. Kesegeraan
Terjadi jika interaksi perawat-klien difokuskan untuk membantu klien
dan digunakan untuk mempelajari fungsi klien dalam hubungan
interpersonal lainnya. Perawat sensitif terhadap perasaan klien dan
berkeinginan untuk membantu dengan segera.
f. Keterbukaan perawat
Tampak ketika perawat memberikan informasi tentang diri, ide, nilai,
perasaan, dan sikapnya sendiri untuk memfasilitasi kerja sama, proses
belajar, katarsis, atau dukungan klien. Melalui penelitian yang dilakukan
oleh Johnson (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987: 134), ditemukan
bahwa peningkatan keterbukaan antara perawatklien menurunkan tingkat
kecemasan perawat klien.
g. Katarsis emosional
Klien didorong untuk membicarakan hal-hal yang sangat
mengganggunya untuk mendapatkan efek terapeutik. Dalam hal ini,
perawat harus dapat mengkaji kesiapan klien untuk mendiskusikan
maslahnya. Jika klien mengalami kesulitan mengekspresikan
perasaanya, perawat dapat membantu dengan mengekspresikan
perasaannya jika berada pada situasi klien.
h. Bermain peran
Membangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan penghayatan klien
dalam hubungan antara manusia dan memperdalam kemampuannya
untuk melihat situasi dari sudut pandang lain serta memperkenankan
klien untuk mencobakan situasi yang baru dalam lingkungan yang aman.
2.3.1 Sikap Komunikasi Non Verbal
Pesan dapat disampaikan melalui dua cara yaitu verbal dan non verbal. Dalam
komunikasi terapeutik komunikasi verbal dan non verbal sering dilakukan bersamaan.
Sikap non verbal yang menunjukan empati dapat di tunjukkan dengan anggukan
kepala yang alami, tatapan yang stabil, sikap tubuh yang wajar dan sedikit aktivitas
atau pergerakan tubuh. Semua penyampaian pesan tanpa kata-kata merupakan
komunikasi non verbal.
2.3.1.1 Lima Komunikasi non verbal
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), yaitu :
a. Isyarat vocal, yang perlu diperhatikan saat komunikasi antara lain tekanan
suara, kualitas suara, tertawa, irama dan kecepatan bicara.
b. Isyarat tindakan, ditunjukan dengan gerakan tubuh seperti ekspresi wajah
dan sikap tubuh.
c. Isyarat objek, yaitu objek yang digunakan secara sengaja atau tidak
sengaja oleh seseorang seperti cara berpakaian dan benda pribadi lainnya.
d. Ruang memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang.
Hal ini didasarkan pada norma-norma sosial budaya yang dimiliki.
e. Sentuhan, yaitu fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi non
verbal yang paling personal. Respon seseorang terhadap tindakan ini
sangat dipengaruhi oleh tatanan dan latar belakang budaya, jenis
hubungan, jenis kelamin, usia dan harapan. Kasih sayang, dukungan
emosional dan perhatian disampaikan melalui sentuhan, tapi harus
memperhatikan norma sosial. Perlu disadari bahwa keadaan sakit
membuat pasien tergantung pada perawat untuk melakukan interpersonal
sehingga sulit menghindarkan sentuhan.

2.3.1.2 Bahasa Tubuh


Menurut Sheldon (2009) meskipun komunikasi non verbal merupakan
pertukaran informasi tanpa kata-kata tetapi ini sangat penting bagi perawat untuk
membuat pasien menjadi terbuka untuk menyampaikan informasi kepada perawat.
Sikap non verbal dapat terlihat dari bahasa tubuh, intonasi, nada dan volume suara.
Dalam komunikasi terapeutik bahasa tubuh mempunyai peran yang penting
termasuk di dalamnya antara lain :
a. Ekspresi wajah dan kontak mata
Ekspresi wajah dapat menunjukan apakah orang sedang merasa bahagia,
sedih, terkejut, marah atau takut. Kontak mata menunjukan ketertarikan dan
kesediaan dalam menerima informasi.
b. Gestur tangan dan lengan
Sikap tangan dan lengan yang terbuka menunjukan keterbukaan dan
kejujuran dalam berkomunikasi. Lengan terlipat dan tangan tertutup termasuk
jari –jari yang terkatup merupakan keengganan untuk berbicara dan tertutup
terhadap informasi. Sudah seharusnya seorang perawat menggunakan bahasa
tubuh terbuka dalam berkomunikasi dengan pasien.
c. Postur
Postur tubuh yang baik dapat ditunjukan dengan mencondongkan tubuh ke
arah lawan bicara sebaiknya hindari postur tubuh yang kaku.
d. Ruang Tubuh
Ruang tubuh adalah jarak perawat dan pasien melakukan interaksi yaitu
sekitar 1 sampai 1,3 meter. Jarak tersebut dinggap ideal untuk perawat
melakukan asuhan fisik dan intervensi medis.
e. Sentuhan
Sentuhan berarti perawat peduli dengan pasien, membuat tentram,
menenangkan pasien.

2.3.3 TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK


Ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik, yaitu :
1. Semua komunikasi harus menciptakan rasa hormat dari kedua individu.
2. Seseorang harus mengkomunikasikan pemahaman dan penerimaannya sebelum
memberikan saran atau nasehat.
Untuk memastikan perawat menggunakan keterampilan ini secara efektif, perawat
harus mencatat interaksinya dengan klien melalui cara tertentu dan menganalisanya.
Skala penilaian dapat digunakan untuk mengkaji kompetensi komunikasi dan simulasi
skenario kesehatan jiwa yang akan membantu dalam mengembangkan keterampilan
(Grant 2011). Hanya dengan menganalisis interaksi, perawat dapat mengevaluasi
seberapa baik mereka menggunakan teknik komunikasi terapeutik. Adapun uraian teknik
komunikasi terapeutik yang paling bermanfaat menurut Stuart (2016), yang dikutip dalam
buku Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa oleh Budi Anna Keliat, teknik
komunikasi terapeutik diantaranya yaitu : mendengarkan, kata pembuka yang luas,
mengulang pernyataan, klarifikasi, refleksi, memfokuskan, berbagi persepsi, identifikasi
tema, diam, klarifikasi, refleksi, humor, menginformasikan, menyarankan.
Teknik Definisi Contoh Nilai terapeutik
Komunikasi
Mendengarkan Sautu proses Mempertahankan Secara non
aktif dari kontak mata dan verbal
penerimaan komunikasi non mengkomunikas
informasi dan verbal yang terbuka ikan kepada
memeriksa klien rasa
reaksi tertarik dan
terhadap penerimaan
pesan yang perawat
diterima
Membuka Mendorong “apa yang sedang Mengindikasika
secara umum klien untuk anda pikirkan?” n penerimaan
memilih oleh perawat
topik yang dan menghargai
akan inisiatif pasien
didiskusikan
Pernyataan Mengulang “anda mengatakan Mengindikasika
ulang pemikiran bahwa ibu anda n bahwa perawat
utama yang meninggalkan anda sedang
diekspresikan ketika anda masih mendengarkan
klien berusia 5 tahun?” dan
memvalidasi,
mendorong atau
mengundang
perhatian pada
sesuatu hal
penting yang
sudah
dikatakannya
Klarifikasi Mencoba “saya tidak tahu Membantu
merangkai pasti apa yang anda mengklarifikasi
kedalam maksudkan. persaan, ide dan
kata-kata Dapatkah anda persepsi klien
tentang ide jelaskan lagi hal itu dan memberikan
atau pikiran kepada saya?” suatu hubungan
klien yang yang eksplisit
tidak jelas antara perawat
untuk dan tindakan
meningkatka klien
n pemahaman
perawat atau
meminta
klien untuk
menjelaskan
apa yang
dimaksudnya
Refleksi Mengarahkan “anda Memvalidasi
klien merasategang dan pemahaman
kebelakang cemas, dan hal ini perawat tentang
ide, perasaan, berhubungan apa yang
pernyataan dengan dikatakan klien
atau konten pembicaraan anda dan menunjukan
dengan suami anda empati, rasa
semalam tertarik dan rasa
hormat pada
klien
Menginformas Keterampilan “saya piker anda Membantu
ikan memberikan perlu lebih tahu dalam
informasi tentang bagaiman penyuluhan atau
kerja obat anda” pendidikan
kesehatan klien
tentang aspek
yang relevan
dengan
kesejahteraan
dan perawatan
diri klien
Memfokuskan Pertanyaan “saya pikir kita Memberikan
atau seharusnya kesempatan
pernyataan membicarakan pada klien untuk
yang lebih banyak lagi mendiskusikan
membantu tentang hubungan masalah utama
klien mu dengan dan menjaga
melebarkan ayahmu” proses
topic yang komunikasi
penting tetap terarah
pada tujuan

Berbagi Meminta “anda sedang Menayampaikan


persepsi klien tersenyum, namun pemahaman
memverifikas saya merasakan perawat pada
i pemahaman bahwa anda benar klien dan
perawat benar sangat marah berpotensi untuk
tentang apa pada saya” memperjelas
yang sedang komunikasi
dipikirkan yang
atau membingungkan
dirasakan
oleh klien
Identifikasi Isu atau “saya perhatikan Memberikan
Tema masalah bahwa dalam kesempatan
mendasar semua hubungan pada perawat
yang dialami yang sudah anda untuk
klien muncul uraikan, anda meningkatkan
berulangkali disakiti atau ditolak eksplorasi klien
selama oleh laki-laki. dan pemahaman
rangkaian Apakah menurut tentang
hubungan anda ini yang pentingnya
perawat-klien mendasari masalah masalah
anda

Diam Tanpa Duduk dengan Memberikan


komunikasi klien dan secara waktu pada
verbal untuk nonverbal klien untuk
alasan mengkomunikasika berpikir dan
terapeutik n rasa tertarik dan meningkatan
keterlibatan penghayatan,
melambatkan
kecepatan
interaksi , dan
mndorong
memulai
pembicararn ,
sementara
perawat
menyampaikan
dukungan,mema
hami dan
menerima

Humor Pengeluaran Katakan dengan Dapat


energi berbagai canda meningkatkan
melalui antara perawat dan penghayatan
kerjaan klien dengan
sesuatu yang membuat
tidak materri yang
sempurna represikan
kedalam sadar,
mengatasi
paradox, agresi
kemarahan,
mengeluarkan
pilihan baru
Menyarankan Menyediakan Memberikan Meningkatkan
ide alternatif berbagai alternative opsi atau pilihan
bagi mekanisme koping yang
pertimbangan dipersepsikan
klien dalam klien
menyelesaika
n masalah

2.4 Konsep Analisis Kesadaran Diri dan Analisis Proteksi Diri

2.4.1 .1 Konsep Analisis Kesadaran Diri


Sebelum perawat dapat mulai memahami klien, perawat harus terlebih dahulu
mengenal dirinya sendiri. Kesadaran diri adalah proses mengembangkan
pemahaman tentang nilai-nilai sendiri, kepercayaan, pikiran, perasaan, sikap,
motivasi, prasangka, kekuatan, mengetahui keterbatasan yang dimiliki dan
bagaimana kualitas ini dapat mempengaruhi orang lain. Kesadaran diri
memungkinkan perawat untuk mengobservasi, memberikan perhatian, memahami
setiap respon dan reaksi klien ketika berinteraksi dengan mereka.
A. Nilai
Nilai adalah standar gambaran yang memberi peraturan tetang benar dan salah dan
menetapkan kode perilaku untuk hidup. Nilai-nilai berikut meliputi kerja keras,
kejujuran, ketulusan, kebersihan, dan ketertiban. Untuk mendapatkan wawasan
tentang nilai-nilai pribadi, proses system klarifikasi dapat saling membantu

Proses klarifikasi nilai memiliki tiga langkah: memilih, menentukan nilai, dan
bertindak.
a. Memilih adalah ketika orang mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan dengan
bebas memilih nilai yang terasa benar.
b. Menentukan nilai adalah ketika orang mempertimbangkan nilai, menghargai itu, dan
secara terbuka menempelkannya pada dirinya sendiri.
c. Bertindak adalah ketika orang tersebut memberikan nilai pada tindakan. Misalnya,
seorang siswa yang bersih dan tertib telah ditugaskan untuk tinggal bersama siswa lain
yang meninggalkan pakaian dan makanan di seluruh kamar mereka. Pada awalnya siswa
yang tertib tidak yakin.

B. Keyakinan
Keyakinan adalah gagasan yang dianggap benar: misalnya, "Semua orang tua sulit
mendengar," "Jika matahari bersinar, itu akan menjadi hari yang baik," atau "Kacang
polong harus ditanam di St. Patrick's Hari. ”Beberapa kepercayaan memiliki bukti
obyektif untuk membuktikannya. Sebagai contoh, orang yang percaya pada evolusi
telah menerima bukti yang mendukung penjelasan ini pada asal usul kehidupan.
Keyakinan lain tidak rasional dan mungkin bertahan, meskipun keyakinan ini tidak
memiliki bukti yang mendukung atau adanya bukti empiris yang saling bertentangan.
Sebagai contoh, banyak orang memiliki keyakinan irasional tentang budaya yang
berbeda dari budaya mereka yang mereka kembangkan hanya dari komentar orang
lain atau takut akan hal yang tidak diketahui, bukan dari bukti yang mendukung
keyakinan tersebut.

C. Sikap
Sikap adalah perasaan umum atau kerangka referensi di mana seseorang mengatur
pengetahuan tentang dunia. Sikap, seperti harapan, optimis, pesimistis, positif, dan
negatif, menjelaskan bagaimana kita memandang dunia dan orang-orang. Sikap
mental positif terjadi ketika seseorang memilih untuk berfikir positif pada
pengalaman, komentar, atau penilaian. Sebagai contoh, di toko bahan makanan yang
ramai, orang di depan membayar dengan uang receh, perlahan menghitungnya. Orang
yang menunggu dalam barisan yang memiliki sikap positif akan berterima kasih
untuk menit-menit ekstra dan akan mulai menggunakannya untuk melakukan latihan
pernapasan dalam dan bersantai. Sikap negatif juga mewarnai bagaimana seseorang
memandang dunia dan orang lain. Misalnya, seseorang yang memiliki pengalaman
tidak menyenangkan dengan pelayan kasar dapat mengembangkan sikap negatif
terhadap semua pelayan. Sikap negatif semacam itu dapat menyebabkan orang itu
berperilaku tidak sopan dan tidak menyenangkan dengan setiap pelayan yang
ditemuinya. Seperti contoh berikutnya adalah ketika menjalin pertemanan dengan
siswa dari Meksiko dan Kenya, dia mulai menyadari bahwa setiap budaya memiliki
keindahan dan gaya masing-masing dan masing-masing sama pentingnya dengan
yang lain. Dengan membiarkan pengalaman baru dan teman-temannya menjadi
bagian dari pandangannya tentang dunia, siswa telah merevisi kepercayaan dan
sikapnya dan memperluas pemahamannya tentang orang-orang dan dunia.

2.4.1.2 Penggunaan Terapeutik untuk Kesadaran Diri


Dengan mengembangkan kesadaran diri dan mulai memahami sikapnya,
perawat dapat mulai menggunakan aspek kepribadiannya, pengalaman, nilai-nilai,
perasaan, kecerdasan, kebutuhan, keterampilan koping, dan persepsi untuk
membangun hubungan baik dengan klien yang kami kenal dengan terapi diri.
Perawat menggunakan diri mereka sebagai alat terapi untuk membangun hubungan
terapi dengan klien dan untuk membantu klien tumbuh, berubah, dan sembuh.
Peplau (1952), yang menggambarkan penggunaan terapeutik ini dalam hubungan
perawat-klien, percaya bahwa perawat harus memahami diri mereka sendiri dengan
jelas untuk meningkatkan pertumbuhan klien mereka dan untuk menghindari
pembatasan pilihan klien kepada orang-orang yang memiliki nilai perawat.Tindakan
pribadi perawat muncul dari respons sadar dan tidak sadar yang dibentuk oleh
pengalaman hidup dan nilai-nilai pendidikan, spiritual, dan budaya.
Perawat (dan semua orang) cenderung menggunakan banyak tanggapan atau
perilaku matic hanya karena mereka terbiasa. Mereka perlu memeriksa cara-cara
yang diterima seperti itu untuk merespons atau berperilaku dan mengevaluasi
bagaimana mereka membantu atau menghambat hubungan terapeutik.Salah satu alat
yang berguna dalam mempelajari lebih banyak tentang diri sendiri adalah “jendela
Johari’ (Luft, 1970), yang menciptakan "potret kata" seseorang di empat bidang dan
menunjukkan seberapa baik orang itu mengenal dirinya sendiri dan berkomunikasi
dengan orang lain. Keempat bidang yang dievaluasi adalah sebagai berikut:

 Kuadran 1: Diri terbuka / publik: kualitas yang diketahui seseorang tentang


dirinya sendiri dan orang lain juga tahu.
 Kuadran 2: Buta / tidak sadar: kualitashanya diketahui orang lain.
 Kuadran 3: Diri tersembunyi / pribadi: kualitashanya diketahui oleh diri sendiri
 Kuadran 4: Tidak Dikenal: kuadran kosonguntuk melambangkan kualitas yang
belum ditemukan oleh diri sendiri atau orang lain.
Langkah-langkah dalam menciptakan jendela Johari :
a. Langkah pertama adalah agar perawat menilai kualitasnya sendiri dengan membuat
daftar antara lain : nilai, sikap, perasaan, kekuatan, perilaku, prestasi, kebutuhan,
keinginan, dan pikiran.
b. Langkah kedua adalah untuk mengetahui persepsi orang lain dengan mewawancarai
mereka dan meminta mereka untuk mengidentifikasi kualitas diri sendiri, baik positif
maupun negatif, yang mereka lihat dari perawat, untuk belajar dari latihan ini, pendapat
yang diberikan harus jujur; tidak boleh ada sanksi yang diambil terhadap mereka.
c. Langkah ketiga adalah membandingkan daftar dan menetapkan kualitas ke kuadran
yang sesuai.Jika kuadran 1 adalah daftar terpanjang, ini menunjukkan bahwa perawat
terbuka untuk orang lain; kuadran 1 yang lebih kecil berarti bahwa perawat sedikit
berbagi tentang dirinya sendiri dengan orang lain. Jika kuadran 1 dan 3 keduanya kecil,
orang tersebut menunjukkan sedikit tentang dirinya sendiri dengan orang lain. Setiap
perubahan dalam satu kuadran akan tercermin oleh perubahan di kuadran lain.
Tujuannya adalah bekerja menuju perubahankualitas dari kuadran 2, 3, dan 4 ke kuadran
1 (kualitas yang dikenal oleh diri sendiri dan orang lain). Melakukan hal itu
menunjukkan bahwa perawat memperoleh pengetahuan dan kesadaran diri.

2.4.1.3 Pola Mengetahui


Teori perawat Hildegard Peplau (1952) mengidentifikasi prakonsepsi, atau cara
seseorang mengharapkan orang lain untuk berperilaku atau berbicara, sebagai
penghalang bagi pembentukan hubungan yang otentik. Prasangka sering kali
menghalangi orang untuk saling mengenal. Pra-konsepsi dan keyakinan atau nilai-nilai
pribadi yang berbeda atau bertentangan dapat menghalangi perawat dalam hal
mengembangkan hubungan terapeutik dengan klien. Berikut adalah contoh prakonsepsi
yang mengganggu hubungan terapeutik. Bapak L adalah seorang klien(orang dari suku
Hispanic)memiliki gagasan stereotip yang sudah terbentuk sebelumnya bahwa semua
perawat pria adalah homoseksual dan menolak Samuel (seorang perawat pria) untuk
merawatnya. Samuel memiliki gagasan stereotip yang sudah terbentuk sebelumnya
bahwa semua orang dari suku Hispanic menggunakan pisau pengganti, jadi dia lega
karena Tuan Lopez telah menolak untuk bekerja dengannya. Kedua pria tersebut
kehilangan kesempatan untuk melakukan beberapa pekerjaan penting bersama karena
prasangka yang salah.
Carper (1978) mengidentifikasi empat pola pengetahuan dalam keperawatan:
pengetahuan empiris (berasal dari ilmu keperawatan), pengetahuan pribadi (berasal dari
pengalaman hidup), pengetahuan etis (berasal dari pengetahuan moral keperawatan),
dan pengetahuan estetika (berasal dari seni keperawatan). Pola-pola ini memberi
perawat metode yang jelas dalam mengamati dan memahami setiap interaksi klien.
Memahami dari mana asal pengetahuan dan bagaimana hal itu memengaruhi perilaku
akam membantu perawat menganalisa kesadaran diri. Munhall (1993) menambahkan
pola lain yang dia sebut tidak tahu: agar perawat mengakui bahwa dia tidak tahu klien
atau dunia subyektif klien dan membuka jalan bagi petugas yang benar-benar otentik.
Perawat dalam keadaan tidak mengetahui dan terbuka untuk melihat dan mendengar
pandangan klien tanpa meningkatkan nilai atau sudut pandangnya. Dalam keperawatan
psikis, prakonsepsi negatif pada bagian perawat dapat mempengaruhi hubungan
terapeutik, oleh karena itu,sangat penting bagi perawat untuk bekerja mengembangkan
keterbukaan dan penerimaan terhadap klien.
2.4.1.4 Analisis Faktor Kebutuhan dan Kemampuan Komunikasi Klien
Kemampuan seorang perawat dituntut untuk dapat menganalisis faktor-faktor apa saja
yang dibutuhkan oleh kliennya sebagai bentuk keperawatan secara holistik.Proses
analisis ini dilakukan secara tertutup dan dilakukan sesuai aktivitas kehidupan klien.
Dalam Fundamental Nursing Skill, 2004 terdapat poin spesifik yang harus
dipertimbangkan dalam menganalisis faktor kebutuhan dan kemampuan klien yaitu:
A. Fisik
Ketika menganalisis fisik klien pastikan klien tidak memiliki kelainan atau penyakit
yang mempengaruhi indra klien karena akan berdampak pada proses komunikasi.
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat digali untuk menganalisis kebutuhan individu
secara holistik. Contohnya:
1. Apakah klien dapat mendengar dengan baik dan tanyakan apakah mereka membutuhkan
alat bantu dengar? Apakah mereka memiliki kesulitan bicara?
2. Apakah klien mampu menggerakkan tangan, menunjukkan bahasa tubuh seperti kasih
sayang atau ketidaksukaan?
3. Bisakah klien mengontrol nada atau intonasi suara?
4. Dapatkah pasien melihat dengan baik? apakah mereka memiliki atau memerlukan
kacamata untuk dapat berkomunikasi?
5. Bisakah klien membaca atau menulis?
6. Apakah kemampuan kognitif klien terganggu?
7. Adakah tanda-tanda fisiologis dari kegugupan, misalnya melebarnya pupil, tremor, atau
berkeringat
B. Psikologis
Psikologis klien mempengaruhi cara berkomunkasi. Pertanyaan yang dapat digali antara
lain:
1. Apakah klien sedang khawatir, gugup atau takut?
2. Apakah klien merasa depresi, cemas atau gelisah?
3. Apa tingkat kecerdasan klien?
4. Bisakah klien mengerti bahasa yang rumit?
5. Apa saja kosakata klien?
6. Apakah klien percaya diri atau malu-malu?
7. Apakah klien tampak marah atau kesal? Apakah ada tanda-tanda aktual ataupotensial
agresi atau kekerasan?
C. Sosial dan Budaya
Budaya dan komunikasi memiliki hubunga timbal balik. Hubungan timbale balik antara
komunikasi dan budaya penting untuk dipahami karena dengan budayala orang-orang dapat
belajar berkomunikasi. Latar belakang budaya yang berbeda-beda maka dengan sendirinya
akan mempengaruhi cara dan praktek berkomunkasi. Pengaruh tersebut muncul melalui
suatu proses persepsi dan pemakna suatu realitas. Pertanyaan yang dapat digali saat
menganalisis sosial dan budaya diantaranya:
1. Apa bahasa pertama atau bahasa ibu klien?
2. Apakah klien memiliki bahasa kedua atau ketiga dan jika demikian seberapa lancar klien
berbahasa tersebut?
3. Apakah klien mengerti dialek dan bahasa sehari-hari?
4. Apakah ada masalah budaya seputar komunikas misalnya status sosial, kontak mata,
kedekatan atau sentuhan?
5. Apakah klien menggunakan jargon atau singkatan yang tidak dikenal?
6. Apakah klien membutuhkan penerjemah?

D. Lingkungan
Banyak hal yang sudah disumbangkan oleh lingkungan disekitar kita, demi berlangsungnya
kehidupan manusia setiap harinya. Lingkungan berdampak pada pola kumunikasi seahri-
hari. Perawat perlu menanyakan hal-hal tersebut untuk menganalisis kemampuan
komunikas pasien, contohnya:
1. Apakah lingkungan terlalu panas, terlalu dingin atau berventilasi buruk?
2. Apakah terlalu terang atau terlalu gelap?
3. Apakah klien lebih suka lingkungan yang tenang atau apakah mereka lebih suka latar
belakangkebisingan?
4. Apakah klien ingin berkomunikasi di tempat yang lebih pribadi atau mereka senang
mendiskusikan masalah di samping tempat tidur dengan jarak mendengar orang lain?
5. Adakah hambatan fisik untuk komunikasi, misalnya alat-alat disekitar lingkungan dan
penataannya, ukuran atau tipe ruangan?
6. Apakah lingkungan aman untuk klien, diri sendiri dan orang lain?

E. Politik dan Ekonomi


Politik dan ekonomi mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi klien. Begitupula media
yang ditawarkan. Perawat dapat menggali keterangan tersebut dari klien lewat pertanyaan-
pertanyaan berikut:
1. Untuk media dalam berkomunikasi tanyakan pada klien media apa yang dipilih seperti
telepon, koran, televisi, email, atauinternet?
2. Apakah klien dapat menggunakan komputer?
3. Apakah klien mengetahui hak dan tanggung jawab klien?
4. Apakah klien mengerti tentang undang-undang perlindungan data?

2.4.1.5 Analisis Faktor Penghambat dan Kegagalan Komunikasi Terapeutik

Dalam berkomunikasi perawat perlu mengetahui beberapa hambatan atau


respon terhadap komunikasi efektif. Kegagalan mendengarkan, ketidaksesuaian dalam
melakukan komunikasi terhadap pesan yang disampaikan oleh klien, dan
menempatkan kebutuhan perawat di atas kebutuhan klien adalah beberapa hambatan
utama dalam komunikasi.

Beberapa faktor yang menghambatankomunikasi dapat mengganggu


kemampuan klien untuk mengirim, menerima atau memahami pesan. Menolak,
mengubah topik dan subyek, setuju dan tidak setuju, menantang serta melontarkan
penilaian merupakan beberapa faktor hambatan proses interaksi .

2.4.1.6 Faktor Penghambat

A. Menolak

Perawat menolak membicarakan topik-topik tertentu bersama klien. Sehingga


membuat respon klien merasa seperti perawat bukan hanya menolak berkomunikasi
dengan mereka tetapi juga diri klien sendiri. Seperti, “ saya tidak ingin membicarakan
hal itu. Mari kita berdiskusi mengenai”.

B. Mengubah topik dan subyek


Melakukan komunikasi yang berarah pada persoalan pribadi, bukan karena
pertimbangan masalah yang klien rasakan. Sehingga respon ini menunjukkan bahwa
hal-hal yang dianggap penting oleh perawat akan di diskusikan, dan klien tidak boleh
mendiskusikan topik-topik tertentu.

C. Setuju dan tidak setuju

Sikap menyetujui dan tidak menyetujui merupakan respon penilaian terhadap klien. Ini
akan menunjukkan bahwa klien itu benar atau salah. Respon ini akan menghambat
pasien untuk berpikir melalui posisi mereka.

D. Menantang

Memaksa klien untuk membuktikan pernyataan atau pandangannya kepada perawat


sehingga menunjukkan respon bahwa perawat gagal mempertimbangkan perasaan
kliennya. Sehingga membuat klien merasa perlu mempertahankan posisinya.

E. Melontarkan penilaian

Perawat memberikan opini yang bersifat menerapkan nilai-nilai diri pribadi yang
seolah olah menunjukkan bahwa klien harus berpikir seperti perawat. Sehingga cara
ini dapat membuat klien memupuk sikap ketergantungan.

2.4.1.7 Faktor Kegagalan

 Gagal melakukan penilaian holistik. Dalam hal ini, perawat gagal membina hubungan
saling percaya serta menjelaskan tujuan interaksi.
 Gagal mendengarkan apa yang disampaikan oleh klien.
 Kegagalan untuk menerima dan membangun suasana yang hangat
 Kegagalan memahami kepribadian klien, seperti seseorang yang memiliki rasa pemalu
dan tertutup
 Seorang perawat yang dalam keadaan emosi, misalnya terlalu marah untuk
mendengarkan klien
 Kurangnya privasi, seperti berkomunikasi di lingkungan yang ramai atau terlalu bising

2.4.1.8 Cara Komunikasi Efektif

A. Diam
Memberikan suasana yang hening selama beberapa detik atau menit tanpa mengeluarkan respon
verbal. Misal dengan cara duduk tenang dan menunggu dengan penuh perhatian sampai klien
mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

B. Pembukuan yang luas

Menggunakan pernyataan atau pertanyaan yang mendorong klien untuk berbicara serta memilih
topik pembicaraan. Seperti, “dapatkah anda menceritakan seperti apa perasaan anda mengenai
hal ini?”

C.Bersifat spesifik

Membuat pernyataan yang lebih spesifik bukan pernyataan yang umum. Misal, “gambarkan
rasa nyeri yang anda rasakan dalam skala 1-10” (pernyataan spesifik). “apakah anda sedang
merasakan nyeri?” (pernyataan umum).

D.Mengajukan pertanyaan terbuka

Mengajukan pertanyaan yang bersifat luas untuk mengajak klien menggali, membandingkan,
atau mengklarifikasi isi pikiran atau perasaannya. Seperti, “bisa anda ceritakan
mengenai…”“apa alas an anda dating ke rumah sakit?” “bagaimana pendapat anda?”.

E.Sentuhan

Menerapkan bentuk-bentuk sentuhan yang sesuai untuk mendukung perasaan carring. Seperti
meletakkan tangan pada bahu klien, meletakkan tangan anda diatas tangan klien.

2.4.1.9 Analisa Proses Interaksi (API)

Komunikasi merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang perawat


professional. Proses komunikasi tidak dapat terlepas dalam kehidupan berinteraksi manusia,
baik dalam membangun hubungan maupun untuk mengekspresikan emosi. Dalam
keperawatan, komunikasi digunakan dalam proses yang dinamis untuk mengumpulkan
data, mendidik, mengajak, maupun mengekspresikan kepedulian dan memberikan
kenyamanan. (Kozier, Berman, Syder, 2012)
Kemampuan berkomunikasi menjadi pondasi dasar dalam interaksi antar manusia,
dimulai dari sapaan sederhana hingga membangun hubungan yang lebih kompleks. Cara
kita berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal menunjukkan gambaran pribadi diri,
apa yang kita rasakan, dan apa yang ingin kita sampaikan. (Hilton, 2005)

Dalam proses pembelajaran untuk memahami interaksi yang terjadi antara perawat dan
klien, perawat (mahasiswa) menggunakan konsep Analisa Proses Interaksi (API) (the
interactional process analysis). Penggunaan API dapat memudahkan perawat dalam
membangun hubungan terapeutik dengan klien yang bertujuan untuk:
1. Meningkatkan kemampuan mendengar aktif
2. Membangun kepercayaan klien
3. Meningkatkan empati perawat saat berinteraksi dengan klien
4. Memberi dasar belajar berupa alat untuk mengkaji kemampuan perawat (mahasiswa)
dalam berinteraksi dengan klien,
5. Mengidentifikasi perkembangan dan perubahan pendekatan perawat dengan klien
6. Membantu perawat merencanakan tindakan keperawatan
Dalam proses interaksi, pencatatan & pelaporan dapat digunakan sebagai alat komunikasi antar
tim keperawatan dan tim kesehatan lain, adapun komponen pencatatan dalam analisa proses
interaksi meliputi:
- Catatan perkembangan (proses keperawatan)
- Catatan hubungan perawat dengan klien yang terjadi selama perawat berhubung
individual dengan klien maupun dengan kelompok klien
- Komunikasi verbal dan non verbal perawat dan klien
- Analisa dan identifikasi perasaan perawat serta kemungkinan komunikasi yang dapat
dilakukan perawat
- Analisa dan identifikasi persepsi perawat terhadap emosi dan komunikasi klien
- Interaksi akhir hubungan perawat dengan klien
- Kesan atau evaluasi terhadap efektivitas dari komunikasi
- Rencana lanjutan tindakan keperawatan
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Komunikasi adalah hubungan timbal balik antara seorang individu yang
menyampaikan pesan (komunikan) kepada seorang individu yang menerima
pesan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Sedangkan maksud dan
tujuan komunikasi untuk mewujudkan suatu pengertian yamg sama antara
pihak yang mengoperkan dan pihak yang menerima informasi, gagasan, sikap
atau isi peasaan lainnya.
2. Kemampuan menerapkan Teknik komunikasi terapeutik memerlukan latihan
dan kepekaan serta ketajaman perasaan, karena komunikasi terjadi dalam
dimensi nilai, wakut dan ruang yang turut menjadi factor utama yang
mempengaruhi komunikasi yang terlihat melalui dampak terapeutik bagi klien
dan juga kepuasan bagi perawat
3. Komunikasi terapeutik yang perlu diperhatikan adalah sikap dan Teknik
komunikasi terapeutik juga dimensi hubungan, yang merupakan factor
penunjang yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan kemampuan
berhubungan terapeutik.
DAFTAR PUSTAKA

Ariani, T.A.(2018). Komunikasi Keperawatan. Malang:Penerbit Universitas Muhammadiyah


Malang

De Laune, Ladner. (2011). Fundamentals of Nursing Standards and Practice. New York,
Delmar
Hilton, P. A. (2005). Fundamental Nursing Skills. Philadelphia: Whurr Publisher Ltd.
Kozier, B., Erb, G.,Berman, A.J., & Snyder. (2012). Fundamentals of nursing: Concepts,
process, and practice. 9th Ed. New Jersey: Pearson Education, Inc.
Pieter, H.Z. (2017). Dasar-dasar Komunikasi Bagi Perawat.Jakarta:Kencana

Videbeck, Sheila L. (2014). Psychiatric-Mental Health Nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer


Health