Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN MINGGUAN

PRAKTIKUM ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH


ACARA 4 : BERAT 1000 BUTIR BIJI

OLEH:

NAMA : AHMAD RIDO


NIM : C1M017006
KELOMPOK : 7

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti praktikum
selanjutnya.

Mataram, Senin 14 Oktober 2019

Menyetujui :
Asisten praktikum Praktikan

Nama : Rosyta Solihatin Nama : Ahmad Rido


NIM : C1M016160 NIM : C1M017006
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemilihan biji untuk bahan tanam (benih,bibit) harus diperhatiakn betul agar produksi
tanamanya mencapai hasil yang maksimal. Sertifikasi benih bertujuan untuk memelihara
kemurnian dan mutu benih dari varietas unggul serta mennyediakan scara kontiyu kepada
petani. Sertivikasi benih dimaksut sebagai pelayanan terhadap produsen, penangkar benih
dan pedagang benih.

Penggunaan benih yang bermutu sangat menunjang petani untuk meningkatkan


prodktivitas pertaniannya. Umumnya produktivitas pertanian hanya sekitar 50% dari
produktivitas yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya mutu benih
yang juga menyebabkan kerugian bagi para petani. Maka, perlu dilakukan beberapa
pengujian kualitas benih, di antaranya ada pengujian kemurnian benih, dan penetapan
bobot 1000 butir benih. Mutu suatu benih terdiri dari mutu genetik, mutu fisik, dan
mutu fisiologis.
Suatu varietas dapat disertifikasi bila telah dianjurkan oleh team penilaian dan
pelepas varietas dari Badan Nasional dan disetujui oleh menteri. Benih bina adalah
jenis tanaman yang benihnya sudah ditetapkan untuk diatur dan diawasi
dalampemasaranya berdasarkan peraturan yang berlaku.
Pengujian mutu benih merupakan salah satu bagian yang sangat penting untuk
mengetahui mutu dan kualitas benih. Informasi tersebut akan bermanfaat bagi
produsen, penjual maupun konsumen benih. Pengujian laboratorium berperan besar
dalam menyajikan data hasil uji yang akurat, dan tepat secara ilmiah. Pengujian
laboratorium dilakukan untuk mengetahui mutu fisik, fisiologi dan genetis benih
contoh. Untuk memperoleh hasil uiji yang dapat dipertanggungjawabkan, maka
metode yang digunakan sebaiknya merupakan metode standar yang dipublikasikan
secara nasional, regional maupun internasional. Internasional Seed Testing
Association (ISTA) Rule merupakan acuan yang memuat metode pengujian benih
yang telah teruji validasinya dan diterima secara Internasional di dunia perdagangan
benih
Penentuan benih dapat dilakukan dengan menetukan bobot 1000 biji. Dengan
mengetahui biji yang besar atau berat berarti menandakan biji tersebut pada saat
dipanen sudah dalam keadaan yang benar-benar masak, karena biji yang baik untuk
ditanam atau dijadikan benih adalah biji yang benar-benar masak. Penggunaan bobot
1000 biji adalah untuk mencari bobot rata-rata yang dapat menyebabkan ukuran benih
yang konstan dalam beberapa spesies karena penggunaan contohnya terlalu banyak,
hal ini dapat menutupi variasi dalam tiap individu tumbuhan

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dilakasanakannya praktikum ini adalah untuk dapat mengetahui
keragaman berat 1000 butir benih tanaman dalam satu spesies maupun antar spesies.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Benih adalah simbol dari suatu permulaan, ia merupakan inti dari


kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai
penyambung dari kehidupan tanaman. Dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk
bermutu tinggi, sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi
maksimum sebagai teknologi yang maju. Benih merupakan masukan yang penting
dalam proses produksi tanaman. Kualitas benih sangat berpengaruh terhadap
penampilan dan hasil tanaman. Pada tanaman tahunan, benih merupakan
bahan/sumber utama untuk perbanyakan bahan tanaman (Sukarman dan Hasanah
2005).
Kemurnian ditentukan berdasarkan persentase berat masing-masing komponen
terhadap berat awal contoh kerja. Pemurnian benih bertujuan : membuang benih
spesies lain yang berbeda dengan spesies yang diproduksi dan bahan - bahan
pengotor. Dengan memilih benih murni dari beni-benih yang kecil, berwarna tidak
normal dan benih-benih yang tidak sehat lainnya (Rudi 2010).
Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu atau kualitas benih.
Pengujian kualitas benih dilakukan di laboratorium untuk menentukan baik mutu fisik
maupun mutu fisiologik suatu jenis atau kelompok benih. Pengujian terhadap mutu
fisik benih mencakup kegiatan pengambilan contoh benih, kadar air benih dan berat
1000 butir benih. Sedangkan pengujian terhadap mutu fisiologik benih mencakup
kegiatan pengujian daya kecambah, kekuatan tumbuh, dan kesehatan benih (Bewley
et al. 2013).
Penentuan benih dapat dilakukan dengan menetukan bobot 1000 biji. Bobot
1.000 biji merupakan berat nisbah dari 1.000 butir benih yang dihasilkan oleh suatu
jenis tanaman atau varietas. Salah satu aplikasi penggunaan bobot 1.000 biji adalah
untuk menentukan kebutuhan benih dalam satu hektar. Penentuan benih dapat
dilakukan dengan menetukan bobot 1000 biji. Dengan mengetahui biji yang besar
atau berat berarti menandakan biji tersebut pada saat dipanen sudah dalam keadaan
yang benar-benar masak, karena biji yang baik untuk ditanam atau dijadikan benih
adalah biji yang benar-benar masak. Penggunaan bobot 1000 biji adalah untuk
mencari bobot rata-rata yang dapat menyebabkan ukuran benih yang konstan dalam
beberapa spesies karena penggunaan contohnya terlalu banyak, hal ini dapat
menutupi variasi dalam tiap individu tumbuhan (Imran, 2002).
Berat 1000 biji merupakan karakter kuantitatif dari suatu tanaman yang
meliputi bagian biji, panjang biji, jumlah biji, berat biomassa dan lain-lain. Umumnya
karakter ini dapat diukur dengan menggunakan satuan tertentu, sehingga disebut juga
karakter metrik. Karakter metrik tidak dapat dibedakan secara tegas, karena
sebenarnya bersifat kontinue. Biasanya karakter ini dikendalikan oleh banyak gen
minor, untuk menentukan hasil gabah tiap hektar perlu diketahui berat 1000 biji,
karena berat 1000 biji relatif tetap sehingga dapat digunakan untuk menyatakan hasil
tiap hektar (Nasir 2005).
Penentuan berat untuk 1000 butir benih dilakukan karena karakter ini
merupakan salah satu ciri dari suatu jenis benih yang juga tercantum dalam deskripsi
varietas. Benih dapat dihitung secara manual dengan menggunakan sebuah spatula
dan diletakkan pada sebuah tempat dengan warna permukaan kontras terhadap
berwarna benih, kemudian jumlah benih tersebut ditimbang. Pekerjaan menghitung
jumlah benih akan lebih mudah dengan alat penghitung automatik. Bila alat tersebut
digunakan secara benar maka tingkat ketepannya adalah sekitar ± 5 % (Sutopo,
2006).
Penentuan bobot 1000 biji suatu tanaman untuk mengetahui produktivitas
suatu tanaman pada suatu luas tertentu yang diharapkan dapat menentukan hasil dari
suatu varietas yang dapat beradaptasi dengan lingkungan. Untuk penentuan berat
1000 butir benih, prinsip pelaksanaannya adalah 1000 butir benih hasil uji kemurnian
benih ditimbang dengan tingkat kepekaan penimbangan pada uji kemurnian benih,
dapat juga dilakukan dengan penimbangan per 100 butir. (Kuswanto, 2007).
Bobot 1000 butir benih suatu tanaman menunjukkan berat benih yang diperlukan
dalam satuan gram. Semakin tinggi bobot 1000 butir benih menunjukkan tingkat
pengisian biji yang tinggi. Tinggi rendahnya bobot 1000 butir benih dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan dari tanaman yang menghasilkan biji tersebut. Jika tanamannya
terserang penyakit, maka biji yang dihasilkan lebih kecil dari yang normal sehingga
bobot 1000 butir benih tersebut juga rendah (Wahyuni et al., 2006).
Pengujian benih ini dilakukan untuk mengetahui kualitas benih. Penentuan
kualitas ini dapat ditentukan berdasarkan bobot seribu benih dan pengujian
kemurnian benih. Pengujian kemurnian benih adalah pengujian atas dasar keselarasan
dengan faktor kualitas benih. Faktor kualitas benih yaitu prosentase benih murni,
benih tanaman lain, biji herba, kotoran yang tercampur, daya dan kecepatan
kecambah, daya tumbuh benih, terbebasnya benih dari penyakit, kadar air serta hasil
pengujian berat benih perseribu benih (Ferdian 2010).
BAB III. METODE PRAKTIKUM

3.1 Pelaksanaan Peraktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari jum’at, 4 Oktober 2019 dimulai dari jam
09.00-10.30 WITA. Bertempat di laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas
Pertanian, Universitas Mataram.
3.2 Alat dan Bahan Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
- Timbangan analitik
- Cawan petridish
- Hand counter
Bahan yangdigunakan :
- Spesies padi (Oryza sativa):varietas IR64, Atomita, Cilosari dan IR66
- Spesie kacang hijau (Vigna radiata):Arjuna, Bisi 2, ketan lokal Bima, lokal
kebo.
3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah :
Cara l
Ambil benih murni sebanyak 1000 butir dan timbang beratnya dengan timbangan
analitik, kerjakan dengan 4x ulangan.
Cara ll
Ambil benih murni sebanyak 1000 butir dan timbang beratnya, kerjakan dengan 8x
ulangan. Berat butir dapat dihitung berat rata rata 1000 butir benih.
Kemudian dari cara cara diatas dibuat table sebagai berikut :

Cara I (contoh)
No Berat 1000 butir X (𝑎𝑖 -a) 𝑋2 Berat 1000 butir
benih (a) benih sebenarnya
1 9.90 g -0.05 0.0025 a±𝑋 2 /n(n-1)
2 10.25 g +0.30 0.0900 9.95±0.125/4(4-1)
3 9.8 g -0.15 0.0225 9.95±0.0140 g
4 9.85 g +0.10 0.0100
∑𝑎 = 39.80 𝑔 ∑𝑋 2 = 0.125
a = 9.95 g

Cara II (contoh)
No Berat Berat 1000 butir X (y-y) 𝑋2 Berat 1000 butir
100 butir yang diharapkan (y) sebenarnya

1 1.00 1000/100x100=10.0 -0.22 0.0484 y±𝑥 2 /𝑛(𝑛 − 1)


2 1.10 11.0 +0.78 0.6084
3 1.08 10.8 +0.58 0.3364 11.98
10.22±8(8−1)
4 1.25 12.5 +2.28 5.1984
5 0.80 8.0 -1.78 3.1684
6 0.95 9.5 -0.72 0.5184 10.22±0.2139 g
7 0.90 9.0 -1.22 1.4884
8 1.10 11.0 +0.78 0.6084
∑a = 81.80 ∑𝑥 2 =11.98
a = 10.22 g
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4,1 Hasil Pengamatan

Tabel 1. Data berat 1000 butir Padi

No Berat 1000 x (ai –a ) x˞ Berat 1000 butir


butir ( a ) sebelumnya
𝑥˞
27,91 0,01 0,01 a ± 𝑛(𝑛−1)
1 0,0965
27,63 -0,18 0,0324 27,81 ± 8( 8−1)
2
28,01 0,2 0,04 27,81 ± 0, 0017
3
27,70 -0,11 0,0121
4
Ƹx˞ = 0,0965
Ƹa = 111,
25
a = 27,81

Tabel 2. Data berat 100 butir benih padi


No Berat 100 Berat 100 butir x (y-y) x˞ Berat 100 butir
butir yang diharapkan sebelumnya
3,01 30,1 1,61 2,591
1
2,91 29,1 0,61 0,3721
2
2,89 28,9 0,41 0,1681
3 𝑥˞
y ± 𝑛 (𝑛−1)
2,98 29,8 1,31 1,7116
4
12,7094
2,87 28,7 0,21 0,0441 28,4875± 8 (8−1)
5
2,83 28,3 -0,18 0,0324
6 28,4875± 2,226
2,63 26,3 -2,18 4,7524
7
-1,78 3,0724
8 2,67 26,7

Ƹa = 227,9 Ƹx˞=
12,7049
a = 28,4875

Tabel 3.Berat 1000 butirkacangtanah

No Berat 1000 butir x (ai-a) x˞ Berat 1000 butir


sebelumnya

1 47,3 0,71 0,5041


𝑥˞
2 46,44 -0,16 0,0256 a ± 𝑛 (𝑛−1)

3 45,99 -0,65 0,4425 0,9571


46,60 ± 4 (4−1)
4 46,67 0,07 0,0049
46,60 ± 0,079
Ƹa = 186,37 Ƹx˞ = 0,9571

a = 46,60

Table 4.berat 100 butir benih kacang tanah

No Berat Berat 100 butir x (y-y) x˞ Berat 100 butir


100 yang diharapkan sebelumnya
butir

1 4,63 46,3 -4,38 19,1844

2 4,73 47,3 -3,38 11,4244


𝑥˞
3 5,01 50,1 -0,58 0,3364 y ± 𝑛 (𝑛−1)

4 4,05 45,0 -5,68 32,2624


5 4,36 43,6 -7,08 50,1264 132,0888
50,68 ± 8 (8−1)
6 5,08 50,8 0,12 0,0144
50,68 ± 2, 3587
7 4,84 48,4 -2,28 5,1984

8 Ƹa = 405,5 Ƹx˞=132,0888

a = 50,68

4.2 Pembahasan

Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di


lapangan. Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan
korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapang harus dievaluasi dalam pengujian.
Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA (International Seed Testing Association),
dan beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus
(ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk
ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur
pengujian benih. Pengujian benih mencakup pengujian mutu fisik fisiologi benih.

Pengujian bobot 1000 benih adalah kegiatan menelaah benih dengan


membandingkan bobot benih dengan deskripsi yang telah ada sehingga dapat
diketahui kualitas benih. Benih dengan bobot besar dapat dianggap baik karena
dimungkinkan benih tersebut benar-benar masak pada saat pemanenanya. Dengan
menghitung secara langsung 1000 benih dengan empat kali ulangan atau dengan cara
menghitung berat 100 biji dengan delapan kali ulangan. Untuk cara pertama
pekerjaannya sangat mudah dan dapat menghasilkan perhitungan berat 1000 biji yang
sebenarnya hanya saja kelemahannya ialah kurang akuratnya perhitungan jumlah biji
terutama biji yang berukuran kecil sehingga nilai berat 1000 biji tidak benar., setelah
benih dihitung sebanyak 1000 benih lalu benih ditimbang dan diketahui beratnya.
Data yang dihasilkan dalam penghitungan ini sangat akurat, tetapi dalam pelaksanaan
penghitungan tentu sangat memakan waktu dengan menghitung 1000 benih apa lagi
benih berukuran yang kecil.

Berdasarkan hasil perhitungan 1000 biji padi pengulangan sebanyak 4 kali,


didapatkan bobot biji padi sebenarnya adalah 27,81 ± 0,001 g, untuk bobot biji
berdasarkan ISTA adalah untuk berukuran kecil kurang dari 20g, berukuran sedang
20-25 g, sedangkan berukuran besar lebih dari 25g. Berat 1000 butir padi yang diuji
pada biji padi menunjukkan bahwa padi tersebut memiliki kualitas yang baik. Biji
padi yang ditimbang memiliki ukuran yang cukup besar sehingga bobot sebenarnya
sesuai dengan kategori yang telah tercantum sesuai ISTA. Dan hasil analisis 100 biji
padi pengulangan sebanyak 8 kali, menunjukkan bobot biji sebenarnya adalah
28,4875 ± 0,226 g. hal ini menunjukkan bahwa biji padi yang diuji memiliki ukuran
yang cukup besar serta memiliki kualitas yang sangat baik, berarti dari hasil tersebut
dapatdiketahui bahwa biji padi yang diamati memiliki cadangan makanan yang
optimal, kadar air yang baik, bebas hama dan penyakit serta daya kecambahnya juga
baik atau viabilitas yang baik.

Pada biji kacang hijau untuk perhitungan 1000 butir biji dengan pengulangan
sebanyak 4 kali didapatkan bahwa bobot sebenarnya adalah 46,60 ± 0,079g.
Sedangkan biji kacang hijau perhitungan 100 butir biji dengan pengulangan 8 kali
yang memiliki bobot sebenarnya yaitu 50,68 ± 2,3587 g. Sesuai dengan standar ISTA
bahwa berat 1000 butir biji yaitu 25g. Hal ini menunjukkan bahwa biji kacang hijau
yang digunakan memiliki kualitas yang sangat baik dan ukuran yang lumayan besar.
Biji kacang hijau tersebut memiliki cadangan makanan yang optimal serta daya
kecambah yang baik pula.
BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah di laksanakan dapat di tarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. hasil perhitungan 1000 biji padi pengulangan sebanyak 4 kali, didapatkan
bobot biji padi sebenarnya adalah 27,81 ± 0,001 g
2. hasil analisis 100 biji padi pengulangan sebanyak 8 kali, menunjukkan bobot
biji sebenarnya adalah 28,4875 ± 0,226 g.
3. Pada biji kacang hijau untuk perhitungan 1000 butir biji dengan pengulangan
sebanyak 4 kali didapatkan bahwa bobot sebenarnya adalah 46,60 ± 0,079g.
4. Sedangkan biji kacang hijau perhitungan 100 butir biji dengan pengulangan 8
kali yang memiliki bobot sebenarnya yaitu 50,68 ± 2,3587 g.
5. Untuk bobot biji berdasarkan ISTA adalah untuk berukuran kecil kurang dari
20g, berukuran sedang 20-25 g, sedangkan berukuran besar lebih dari 25g,
benih yang diuji memiliki berat rata rata yang tinggi, melebihi berat 25 g. Hal
ini menunjukkan bahwa benih padi dan kacang hijau yang digunakan
memiliki kualitas yang sangat baik dan ukuran benih yang cukup besar
5.2 Saran
Sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum ini dilakukan sebaik – baiknya oleh
praktikan, sehingga praktikum dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan dan
berakhir tepat waktu. Laboratorium juga diperhatikan dan dijaga kebersihannya agar
praktikum dapat berjalan dengan nyaman.
DAFTAR PUSTAKA

Kuswanto, H. 2007. Analisis Benih. Kanisius: Yogyakarta.


Sutopo, L. 2006. Teknologi Benih. Rajawali Pers: Jakarta.

Bewley J D, Bradford K, Hilhorst H, Nonogaki H 2013. Seed. Physiology of


Development, Germination and Dormancy 3 rd Edition. New York
Springer.
Imran, S., Syamsuddin, dan Efendi. 2002. Analisis vigor benih padi (Oryza sativaL.)
pada lahan alang-alang. Agrista 6(1):81-86.

Sukarman dan M Hasanah 2005. Perbaikan mutu Benih Aneka Tanaman Perkebunan
Melalui Cara Panen dan Penangan Benih. Jurnal Litbang Pertanian.
22(1) : 16-23.
Nasir 2005. Peranan benih dalam usaha pengembangan palawija 1. Jurnal
Agronomi XII (1): 12-15.

Ferdian 2010. Ilmu Pertanian. Jurnal Kultura. Vol. 11 (No.1). halaman : 22-31
Rudi Purnomo 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan
Perkembangan Tumbuhan. Agriculture Lands.

Anda mungkin juga menyukai