Anda di halaman 1dari 31

ALAT EVALUASI PROSES BELAJAR

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Evaluasi
Pembelajaran Biologi
Dosen Pengampu :Dr. Ahmad Sofyan, M.Pd.

Disusun Oleh :
Nadhilah Jalilah Suti Halwan (11170161000036)
Fajar Riyanto (11170161000039)
Afifah Az-Zahra (11170161000050)

5B Pendidikan Biologi

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. yang telah menciptakan manusia dengan
sebaik-baik bentuk serta dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Selawat serta salam semoga selalu dilimpahcurahkan kepada junjungan besar
Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan dengan sempurna kepada
manusia tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan yang bermartabat.
Atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan
sebaik-baiknya yang berjudul ”Alat Evaluasi Proses Belajar” untuk dapat
memenuhi tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Biologi. Penulis
menyampaikan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam penyusunan
makalah ini, yaitu Dr. Ahmad Sofyan, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah
Mata Kuliah Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Biologi yang telah berkenan
memberikan petunjuk dan bimbingan sehingga makalah ini dapat terselesaikan
juga teman-teman yang telah membantu kelancaran dalam penyelesaian makalah
ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menyususn makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis
sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun guna
menyempurnakan makalah ini dan semoga makalah ini dapat digunakan sebagai
referensi atau acuan bagi pembaca.

Tangerang Selatan, 15 Oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i

DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 2

B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2

C. Tujuan Penulisan Makalah ...................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3

A. Pengembangan Alat Evaluasi Pembelajaran ............................................. 3


B. Alat Evaluasi Pembelajaran Teknik Non Tes .......................................... 10
C. Penilaian Diri ........................................................................................... 21

BAB III PENUTUP ......................................................................................... 26

A. Simpulan ................................................................................................. 26

B. Saran ....................................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 27

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran
dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan, sistem pembelajaran yang baik
akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik pula, selanjutnya sistem penilaian yang
baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi
siswa untuk belajar yang lebih baik. Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran
dibutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan baik, namun mampu melakukan
evaluasi dengan baik.
Evaluasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan
tingkah lakunya. Sebagai calon guru atau pendidik kita harus mempunyai pengetahuan,
kreatifitas dan wawasan yang luas untuk memahami peserta didik. Kemudian, kita juga
harus mengerti psikokologi anak, kemampuan anak, kelemahan anak dalam kesulitan
belajar dan keinginan anak yang mempunyai bakat tertentu. Untuk itu kita harus
mengetahui tingkat kemampuan dan perkembangan peserta didik.
Kegiatan mengukur, menilai, dan mengevaluasi sangatlah penting dalam dunia
pendidikan. Hal ini tidak terlepas karena kegiatan tersebut merupakan suatu siklus yang
dibutuhkan untuk mengetahui sejauhmana pencapaian pendidikan telah terlaksana.
Contohnya dalam evaluasi penilaian hasil belajar siswa, kegiatan pengukuran dan penilaian
merupakan langkah awal dalam proses evaluasi tersebut. Kegiatan pengukuran yang
dilakukan biasanya dituangkan dalam berbagai bentuk tes dan hal ini yang paling banyak
digunakan. Namun, tes bukanlah satu-satunya alat dalam proses pengukuran, penilaian, dan
evaluasi pendidikan sebab masih ada teknik lain yakni teknik “non tes”. Tehnik ini berguna
untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar yang tidak dapat diukur
dengan alat tes. Penggunaan tehnik ini dalam evaluasi pembelajaran terutama karena
banyak aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup
objektifitas. Sasaran teknik ini adalah perbuatan, ucapan, kegiatan, pengalaman,tingkah
laku, riwayat hidup, dan lain-lain.
Dalam makalah ini, akan disajikan beberapa hal tentang teknik evaluasi yang dapat
digunakan dalam penilaian terhadap anak didik. Adapun teknik yang akan dijelaskan dalam

1
makalah ini adalah teknik non-tes. Salah satu teknik yang sangat membantu dalam penilaian
terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan siswa.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengembangkan alat evaluasi proses belajar ?
2. Apa yang dimaksud dengan alat evaluasi nontes?
3. Apa saja yang termasuk kedalam alat evaluasi nontes?
4. Apa yang dimaksud dengan penilaian diri ?
5. Apa yang dimaksud dengan penilaian sejawat?
6. Bagaimana membuat instrumen jurnal ?

C. Tujuan
1. Menjelaskan alat evaluasi proses belajar.
2. Menjelaskan alat evaluasi nontes.
3. Menyebutkan dan menjelaskan apa saja yang termasuk kedalam alat evaluasi nontes
4. Menjelaskan penilaian diri (self assesment)
5. Menjelaskan penilaian sejawat
6. Menjelaskan dan memberi contoh dari instrumen jurnal

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengembangan Alat Evaluasi Pembelajaran

Kegiatan evaluasi selama pelaksanaannya sudah menggunakan banyak alat yang dapat digunakan
dalam kegiatan evaluasi. Sebagai contoh ialah dalam bentuk tes maupun non-tes. Kegiatan ini tidak hanya
dilakukan di sekolah saja, melainkan banyak juga digunakan di luar sekolah dan juga masyarakat umum.
Contoh alat evaluasi dalam bentuk tes yang ada disekolah ialah pre-tes dan juga pos tes, sedangkan pada
luar sekolah yaitu tes kesehatan, tes kendaraan, tes makanan, dan lain-lain. Penggunaan tes sebagai alat
ukur dalam hasil dari berbagai hal khususnya di sekolah sudah banyak digunakan untuk hasil evaluasi
peserta didik pada bidang kognitif.1

Jika dilihat dalam teknik yang digunakan, alat evaluasi non-tes digunakan jika ingin mengetahui
kualitas proses maupun produk dari sebuah pekerjaan dan juga hal-hal yang berhubungan dengan domain
afektif, seperti minat, bakat, sikap, motivasi, dan lain-lain. Kegunaan alat ini ialah untuk mengukur
kemampuan non-kognitif bagi peserta didik. Guru biasanya diharuskan memahami serta mengetahui
berbagai macam alat evaluasi non-tes, baik dalam segi teori maupun praktik. Sehingga dapat
meningkatkan kualitas serta proses dari hasil evaluasi pembelajaran. Dengan demikian, seiring
berjalannya waktu alat-alat evaluasi baik tes dan juga non-tes perlu diadakannya perkembangan, agar
dapat membantu proses evaluasi, terutama evaluasi dalam bidang pendidikan.2

a. Pengembangan Alat Evaluasi Tes


Secara bahasa, kata “tes” berasal dari bahasa perancis yang berarti “testum”, yaitu piring. Hal
ini digunakan sebagai pemilihan logam-logam mulia dari bernda-benda lain, seperti halnya pasir,
batu, dan lain-lain. Seperti yang telah diketahui, istilah tes diadopsi dalam bidang psikologi dan
juga pendidikan. Dalam dunia pendidikan, berdasarkan jumlah peserta didik dalam suatu ruang
lingkup sekolah, tes dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes secara berkelompok dan juga tes secara
perorangan. Lain halnya dalam bidang psikologi, tes dibagi menjadi bebeapa jenis, yaitu tes
intelegensia umum, tes intelegensia khusus, tes kepribadian, dan juga tes prestasi belajar.
Sedangkan jika dilihat dari bentuk jawabannya, tes dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tes lisan, tes
tindakan, dan juga tes tertulis.
a) Pengembangan Tes Bentuk Uraian
Penggunaan berbagai jenis tes yang ada di sekolah-sekolah menggunakan soal
yang berbentuk uraian dikarenakan dalam pembuatan soalnya lebih mudah. Namun, soal
berbentuk uraian sangat sulit dibagian penyekoran, dimana skor dari masing-masing
jawaban masih bersifat subjektif, dan itu sangatlah tidak adil. Sehingga, banyak guru
beralih menggunakan soal dengan bentuk objektif berupa soal melengkapi dan juga soal
dengan jawaban singkat. Dari surut pandang siswa, soal bentuk uraian dirasa lebih sulit
jika dibanding dengan soal objektif.
Menurut Heaton (1988), tes dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu tes prestasi
belajar (Achievement test), tes penguasaan (profiency test), tes bakat (aptitude test), dan

1
Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama, 2012).
hal 127.
2
Ibid, hal 179.
3
tes diagnostik (diagnostic test). Berdasarkan tata cara pengusunannya, tes dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1) Tes Buatan Guru (teacher-made test)
Jenis tes ini merupakan tes yang disusun sendiri oleh guru yang
bersangkutan. Tes ini biasanya berbentuk tes formatif, harian. Dan juga
ulangan umum. Tes in memiliki tujuan untuk mengukur tingkat dari
penguasaan peserta didik dalam pemahamannya dalam mata pelajaran
yang dipelajarinya. Untuk hal itu, soal dari tes ini haruslah bersifat logis
dan juga rasional mengenai pokok-pokok materi apa saja yang patut dan
seharusnya ditanyakan sebagai bahan pengetahuan penting. Jenis tes ini
masih belum menjamin keobjektifannya, sebab hanya diberikan kepada
peserta didik dalam ruang lingkup tertentu.
Tibgkat kesukaran dalam tes buatan guru tidak berdasarkan dari
sifat dan karakteristik peserta didiknya. Dalam pelaksanaannya, guru
menganggap peserta didik memiliki taraf berpikir yang sama. Padahal
setiap peserta didik memiliki tingkat psikologis yang berbeda, dengan
demikian seharusnya item-item yang terdapat dalam soal buatan guru
haruslah disusun secara cermat berdasarkan tingkat kemampuan individu
yang heterogen.
Tes buatan guru biasanya terdiri dari beberapa sifat, ada yang
bersifat hafalan semata, ada pula yang bersifat analitis. Sebagai guru
yang profesional, diharapkan dapat memasukkan kedua sifat tersebut
secara bersamaan dalam porsi yang seimbang. Hal ini bertujuan agar
guru dapat memahami, mana peserta didik yang memiliki kemampuan
yang baik dalam bidang menghafal atapun peserta didik yang memiliki
daya analisis yang baik.

2) Tes yang Dibakukan


Tes baku merupakan tes yang memiliki derajat validitas dan
reliabilitas yang tinggi berdasarkan hasil percobaan terhadap sampel
dalam jumlah besar dan representatif. Secara umum, tes baku merupakan
tes yang telah dikaji berulang-ulang kepada kelompok besar dari peserta
didik, serta memiliki item-item yang relevan dan juga mempunyai daya
pembeda yang tinggi. Disamping itu, tes baku biasanya telah dianalisis
seara statistik dan diuji secara empiris oleh ahli. Pengolahan secara
statistik dimaksudkan untuk mencari derajat keshahihan dan keandalan
dan juga daya pembeda yang itnggi disetiap itemnya, dengan demikian
soal tersebut benar-benar dijadikan alat pengukur dari sebuah
kemampuan secara umum.
Tes baku memiliki tujuan untuk mengukur kemampuan peserta
didik dalam beberapa aspek, yaitu kedudukan belajar, kemajuan belajar,
dan juga diagnostik. Tes baku digunakan untuk mengukur kemajuan
belajar peserta didik dalam mata pelajaran tersentu. Tes baku biasanya
dilakukan berulang kali, sehingga kemajan dan kemunduran pengetahuan
peserta didik dapat diketahui. Tes baku berisi materi-materi yang telah

4
disusun dari yang termudah hingga yang tersulit. Beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam pengembangan tes baku yaitu:
a) Aspek yang hendak diukur, misalnya kemampuan
membacam perbendaharaan pengetahuan umum, sikap,
kepribadian, dan juga minat.
b) Pihak penyusun, baik secara individual maupun
kelompok, contohnya TOEFL yang dibuat oleh College
Entrance Examination Board and Educational Testing
Service.
c) Tujuan penggunaan tes
d) Sampel
e) Kesahihan
f) Pengadministrasian
g) Cara menskor
h) Kunci jawaban
i) Tabel skor mentah
j) Penafsiran
Ketentuan-ketentuan tersebut bersifat pokok dan haruslah diperhatikan
dalam pelaksanannya. Beberapa perbedaan antara tes baku dengan tes
buatan guru, yaitu tes baku mengcangkup pengetahuan yang dapat
dikatakan cukup luas, sedangkan tes buatan guru hanya pengetahuan
yang bersifat khusus.

Menurut sejarah, soal tes yang pertama kali ada adalah bentuk uraian.
Mengingat bentuk uraian ini banyak kelemahannya, maka orang
berusaha untuk menyusun tes dalam bentuk yang lain, yaitu tes objektif.
Namun demikian, tidak berarti bentuk uraian ditinggalkan sama sekali.
Disebut bentuk uraian, karena menuntut peserta didik untuk
menguraikan, mengorganisasikan dan menyatakan jawaban dengan
katakatanya sendiri dalam bentuk, teknik, dan gaya yang berbeda satu
dengan lainnya. Bentuk uraian sering juga disebut bentuk subjektif,
karena dalam pelaksanaannya sering dipengaruhi oleh faktor subjektifitas
guru. Dilihat dari luas-sempitnya materi yang ditanyakan, maka tes
bentuk uraian ini dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu uraian terbatas
(restricted respons items) dan uraian bebas (extended respons items).

a. Uraian Terbatas
Dalam menjawab soal bentuk uraian terbatas ini, peserta didik
harus mengemukakan hal-hal tertentu sebagai batas-batasnya.
Walaupun kalimat jawaban peserta didik itu beraneka ragam,
tetap harus ada pokokpokok penting yang terdapat dalam
sistematika jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah
ditentukan dan dikehendaki dalam soalnya.
Contoh :
a. Jelaskan bagaimana masuknya Islam di Indonesia dilihat dari
segi ekonomi dan politik.
b. Sebutkan lima rukum Islam!

5
b. Uraian Bebas
Dalam bentuk ini peserta didik bebas untuk menjawab soal
dengan cara dan sistematika sendiri. Peserta didik bebas
mengemukakan pendapat sesuai dengan kemampuannya. Oleh
karena itu, setiap peserta didik mempunyai cara dan sistematika
yang berbeda-beda. Namun demikian, guru tetap harus
mempunyai acuan atau patokan dalam mengoreksi jawaban
peserta didik nanti.
Contoh :
a. Jelaskan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia!
b.Bagaimana peranan pendidikan Islam dalam memecahkan
masalahmasalah pokok pendidikan di Indonesia?

Sehubungan dengan kedua bentuk uraian di atas, Depdikbud sering


menyebutnya dengan istilah lain, yaitu Bentuk Uraian Objektif (BUO)
dan Bentuk Uraian Non Objektif (BUNO). Kedua bentuk ini sebenarnya
merupakan bagian dari bentuk uraian terbatas, karena pengelompokkan
tersebut hanya didasarkan pada pendekatan/cara pemberian skor.
Perbedaan BUO dan BUNO terletak pada kepastian pemberian skor.
Pada soal BUO, kunci jawaban dan pedoman penskorannya lebih pasti.

Setiap bentuk soal tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan.


Begitu juga bentuk uraian. Kebaikan tes bentuk uraian antara lain
menyusunnya relatif mudah, guru dapat menilai peserta didik mengenai
kreatifitas, menganalisa dan mengsintesa suatu soal. Hal ini berarti
memberikan kebebasan yang luas kepada peserta didik untuk
menyatakan tanggapannya. Disisi lain guru dapat memperoleh data-data
mengenai kepribadian peserta didik dan peserta didik tidak dapat
menerka-nerka dalam proses pengerjaannya. Derajat ketepatan dan
kebenaran peserta didik dapat dilihat dari ungkapan kalimat-kalimatnya,
sehingga sangat cocok untuk mengukur dan menilai hasil belajar yang
kompleks, yang sukar diukur dengan mempergunakan bentuk objektif.

Kelemahan tes bentuk uraian yaitu sukar sekali menilai jawaban


peserta didik secara tepat dan komprehensif, sehingga ada
kecenderungan guru untuk memberikan nilai seperti biasanya. Guru
biasanya menghendaki respon-respon yang relatif panjang, untuk
mengoreksi jawaban diperlukan waktu yang lama dan guru sering
terkecoh dalam memberikan nilai, karena keindahan kalimat dan tulisan,
bahkan juga oleh lembar jawaban. Hal ini menyebabkan hanya terbatas
pada guru-guru yang menguasai materi yang dapat mengoreksi jawaban
peserta didik, sehingga kurang praktis bila jumlah peserta didik cukup
banyak.

b) Pengembangan Tes Objektif, Lisan, dan Tindakan


1) Pengembangan tes objektif
a) Benar-Salah

6
Bentuk tes benar-salah (B – S) merupakan pernyataan yang mengandung dua
kemungkinan jawaban, yaitu benar atau salah. Peserta didik diminta untuk
menentukan pilihannya mengenai pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-
pernyataan dengan cara seperti yang diminta dalam petunjuk mengerjakan
soal. Salah satu fungsi bentuk soal benar-salah adalah untuk mengukur
kemampuan peserta didik dalam membedakan antara fakta dengan pendapat.

b) Pilihan Ganda
Soal tes bentuk pilihan-ganda dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar
yang lebih kompleks dan berkenaan dengan aspek ingatan, pengertian,
aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Soal tes bentuk pilihan-ganda terdiri
atas pembawa pokok persoalan dan pilihan jawaban. Pembawa pokok
persoalan dapat dikemukakan dalam bentuk pertanyaan dan dapat pula
dalam bentuk pernyataan (statement) yang belum sempurna yang sering
disebut stem. Sedangkan pilihan jawaban itu mungkin berbentuk perkataan,
bilangan atau kalimat dan sering disebut option. Pilihan jawaban terdiri atas
jawaban yang benar atau yang paling benar, selanjutnya disebut kunci
jawaban dan kemungkinan jawaban salah yang dinamakan pengecoh
(distractor atau decoy atau fails) namun memungkinkan seseorang
memilihnya apabila tidak menguasai materi yang ditanyakan dalam soal.

c) Menjodohkan
Soal tes bentuk menjodohkan sebenarnya masih merupakan bentuk
pilihanganda. Perbedaannya dengan bentuk pilihan-ganda adalah pilihan-
ganda terdiri atas stem dan option, kemudian peserta didik tinggal memilih
salah satu option yang dianggap paling tepat. Sedangkan bentuk
menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban yang
keduanya dikumpulkan pada dua kolom yang berbeda, yaitu kolom sebelah
kiri menunjukkan kumpulan persoalan, dan kolom sebelah kanan
menunjukkan kumpulan jawaban. Jumlah pilihan jawaban dibuat lebih
banyak dari jumlah persoalan.

d) Jawaban Singkat dan Melengkapi


Kedua bentuk tes ini masing-masing menghendaki jawaban dengan kalimat
dan atau angka-angka yang hanya dapat dinilai benar atau salah. Soal tes
bentuk jawaban singkat biasanya dikemukakan dalam bentuk pertanyaan.
Dengan kata lain, soal tersebut berupa suatu kalimat bertanya yang dapat
dijawab dengan singkat, berupa kata, prase, nama, tempat, nama tokoh,
lambang, dan lain-lain.

2) Pengembangan tes lisan


Tes lisan adalah tes yang menuntut jawaban dari peserta didik dalam bentuk
lisan. Peserta didik akan mengucapkan jawaban dengan kata-katanya sendiri
sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan. Tes lisan dapat berbentuk
seperti berikut :
1. Seorang guru menilai seorang peserta didik.
2. Seorang guru menilai sekelompok peserta didik.
7
3. Sekelompok guru menilai seorang peserta didik.
4. Sekelompok guru menilai sekelompok peserta didik.

3) Pengembangan tes tindakan


Tes tindakan adalah suatu bentuk tes dimana peserta didik diminta untuk
melakukan kegiatan khusus di bawah pengawasan penguji yang akan
mengobservasi penampilannya dan membuat keputusan tentang kualitas hasil
belajar yang didemontrasikan. Peserta didik bertindak sesuai dengan apa yang
diperintahkan dan ditanyakan. Misalnya, coba praktikkan bagaimana cara
melaksanakan sholat dengan baik dan benar.
Tes-tes semacam inilah yang dimaksudkan dengan tes perbuatan atau
tindakan. Tes tindakan sebagai suatu teknik evaluasi tidak hanya digunakan
dalam mata pelajaran pendidikan agama saja, tetapi dapat juga digunakan dalam
menilai hasil-hasil pelajaran tertentu, seperti olahraga, teknologi informasi dan
komunikasi, bahasa, kesenian, dan sebagainya. Sebaliknya, tidak semua hasil
pelajaran pendidikan agama Islam atau mata pelajaran agama lainnya dapat
dievaluasi dengan menggunakan tes perbuatan ini. Tes tindakan dapat dilakukan
secara kelompok dan individual. Secara kelompok berarti seorang guru
menghadapi sekelompok peserta didik, sedangkan secara individual berarti
seorang guru menghadapi seorang peserta didik. Tes tindakan dapat digunakan
untuk menilai kualitas suatu perkerjaan yang telah selesai dikerjaan oleh peserta
didik, termasuk juga keterampilan dan ketepatan menyelesaikan suatu pekerjaan,
kecepatan dan kemampuan merencanakan suatu pekerjaan, dan mengidentifikasi
suatu piranti (komputer misalnya). Tes tindakan dapat difokuskan kepada proses ,
produk atau keduanya.

b. Pengenbangan Alat Evaluasi non-Tes


Para ahli berpendapat bahwa dalam melakukan evaluasi pembelajaran, kita dapat
menggunakan teknik tes dan nontes, sebab hasil belajar atau pembelajaran bersifat aneka ragam.
Hasil belajar dapat berupa pengetahuan teoritis, keterampilan dan sikap. Pengetahuan teoritis
dapat diukur dengan menggunakan teknik tes. Keterampilan dapat diukur dengan menggunakan
tes perbuatan. Adapun perubahan sikap dan petumbuhan anak dalam psikologi hanya dapat
diukur dengan teknik nontes, misalnya observasi, wawancara, skala sikap, dan lain-lain. Dengan
kata lain, banyak proses dan hasil belajar yang hanya dapat diukur dengan teknik nontes. Untuk
itu, jika Anda di madrasah hanya menggunakan teknik tes, tentu hal ini dapat merugikan peserta
didik dan orang tua. Teknik nontes digunakan sebagai suatu kritikan terhadap kelemahan teknik
tes. Teknik ini terdiri atas observasi, wawancara, dan skala sikap.
a. Observasi
Observasi merupakan salah satu alat evaluasi jenis nontes yang dilakukan dengan
jalan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional mengenai
berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan
untuk mencapai tujuan tertentu. Observasi tidak hanya digunakan dalam kegiatan
evaluasi, tetapi juga dalam bidang penelitian, terutama penelitian kualitatif (qualitative
research). Tujuan utama observasi adalah untuk mengumpulkan data dan informasi
mengenai suatu fenomena, baik yang berupa peristiwa maupun tindakan, baik dalam
situasi yang sesungguhnya maupun dalam situasi buatan. Selain itu tujuannya adalah

8
untuk mengukur perilaku kelas, interaksi antara peserta didik dengan guru, dan faktor-
faktor yang dapat diamati lainnya, terutama kecakapan sosial (social skills). Dalam
evaluasi, observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik,
seperti tingkah laku peserta didik pada waktu belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan
lain-lain.
Hal yang harus dipahami oleh Anda adalah bahwa tidak semua apa yang dilihat
disebut observasi. Observasi yang Anda lakukan di kelas tidak cukup dengan hanya
duduk dan melihat melainkan harus dilakukan secara sistematis, sesuai dengan aspek-
aspek tertentu, dan berdasarkan tujuan yang jelas. Untuk memperoleh hasil observasi
yang baik, maka kemampuan Anda dalam melakukan pengamatan harus sering dilatih,
mulai dari hal-hal yang sederhana sampai dengan hal-hal yang kompleks. Observasi
mempunyai beberapa karakteristik, antara lain:
a) Mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Hal ini dimaksudkan agar
pelaksanaan observasi tidak menyimpang dari permasalahan. Oleh sebab
itu, dalam pelaksanaannya harus ada pedoman observasi.
b) Bersifat ilmiah, yaitu dilakukan secara sistematis, logis, kritis, objektif
dan rasional.
c) Terdapat berbagai aspek-aspek yang akan diobservasi dan
d) Praktis penggunaannya
Sedangkan bila dilihat dari teknis pelaksanaannya, observasi dapat ditempuh
melalui tiga cara, yaitu:

a) Observasi langsung, yaitu observasi yang dilakukan secara langsung


terhadap objek yang diselidiki.
b) Observasi tak langsung, yaitu observasi yang dilakukan melalui
perantara, baik teknik maupun alat tertentu.
c) Observasi partisipasi, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara ikut
ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti.

b. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu bentuk alat evaluasi jenis non-tes yang
dilakukan melalui percakapan dan tanya-jawab, baik langsung maupun tidak langsung
dengan peserta didik. Pengertian wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan
secara langsung antara pewawancara (interviewer) atau guru dengan orang yang
diwawancarai (interviewee) atau peserta didik tanpa melalui perantara. Sedangkan
wawancara tidak langsung artinya pewawancara atau guru menanyakan sesuatu kepada
peserta didik melalui perantara orang lain atau media. Jadi, tidak menemui langsung
kepada sumbernya.
Tujuan wawancara adalah untuk memperoleh informasi secara langsung guna
menjelaskan suatu situasi dan kondisi tertentu. Selain itu, wawancara juga berguna untuk
melengkapi suatu penyelidikan ilmiah dan memperoleh data agar dapat mempengaruhi
situasi atau orang tertentu. Pertanyaan wawancara dapat menggunakan bentuk seperti
berikut:
a) Bentuk pertanyaan berstruktur, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban
agar sesuai dengan apa yang terkandung dalam pertanyaan tersebut.
Pertanyaan semacam ini biasanya digunakan jika masalahnya tidak
terlalu kompleks dan jawabannya sudah konkret.
9
b) Bentuk petanyaan tak berstruktur, yaitu pertanyaan yang bersifat terbuka
dimana peserta didik secara bebas menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan semacam ini tidak memberi struktur jawaban kepada peserta
didik, karena jawaban dalam pertanyaan itu bebas.
c) Bentuk pertanyaan campuran, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban
campuran, ada yang berstruktur ada pula yang bebas.

c. Skala Sikap
Sikap merupakan suatu kecenderungan tingkah laku untuk berbuat sesuatu
dengan cara, metode, teknik dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa
orang-orang maupun berupa objek-objek tertentu. Sikap mengacu kepada perbuatan atau
perilaku seseorang, tetapi tidak berarti semua perbuatan identik dengan sikap. Perbuatan
seseorang mungkin saja bertentangan dengan sikapnya. Perlu diperhatikan saat membuat
skala sikap yaitu mengetahui norma-norma yang ada pada peserta didik, bahkan sikap
peserta didik terhadap dunia sekitarnya, terutama terhadap mata pelajaran dan lingkungan
madrasah. Jika terdapat sikap peserta didik yang negatif, pembuat evaluasi perlu mencari
suatu cara atau teknik tertentu untuk menempatkan atau mengubah sikap negatif itu
menjadi sikap yang positif.
Dalam mengukur sikap, guru hendaknya memperhatikan tiga komponen sikap,
yaitu kognisi, yaitu berkenaan dengan pengetahuan peserta didik tentang objek,
selanjutnya afeksi, yaitu berkenaan dengan perasaan peserta didik terhadap objek, dan
juga konasi, yaitu berkenaan dengan kecenderungan berprilaku peserta didik terhadap
objek. Sikap merupakan suatu kecenderungan tingkah laku peserta didik untuk berbuat
sesuatu dengan cara, metode, teknik dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik
berupa orang-orang maupun berupa objek-objek tertentu. Tiga komponen sikap adalah
kognisi, afeksi, dan konasi. Adapun model-model skala sikap adalah menggunakan
bilangan, menggunakan frekuensi, menggunakan istilah-istilah yang bersifat kualitatif,
menggunakan istilah-istilah yang menunjukkan status/ kedudukan, menggunakan kode
bilangan atau huruf. Untuk menyusun skala Likert, Anda perlu mengikuti langkah-
langkah sebagai berikut : memilih variabel afektif yang akan diukur, membuat beberapa
pernyataan tentang variabel afektif yang akan diukur, mengklasifikasikan pernyataan
positif dan negatif, menentukan jumlah secara gradual dan frase atau angka yang dapat
menjadi alternatif pilihan, menyusun pernyataan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat
penilaian, melakukan uji-coba, membuang butir-butir pernyataan yang kurang baik,
melaksanakan penilaian.

B. Alat Evaluasi Belajar Teknik Non Tes

Pada bab terdahulu telah dikemukakan bahwa kegiatan "mengukur" atau


"melakukan pengukuran" adalah merupakan kegiatan paling umum dilakukan dan
merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar.
Kegiatan "mengukur" itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dan berbagai
variasinya. Dalam praktek, tes inilah yang lebih sering dipergunakan dalam rangka
mengevaluasi hasil belajar peserta didik.
10
Pernyataan di atas tidaklah harus diartikan bahwa teknik tes adalah satu-satunya
teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat
dipergunakan yaitu teknik non-tes. Dengan teknik non-tes maka penilaian atau evaluasi
hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa "menguji" peserta didik, melainkan
dilakukan dengan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara
(interview), menyebarkan angket (quistionairre), dan memeriksa atau meneliti dokumen-
dokumen (documentary analysis). Teknik non tes ini pada umumnya memegang peranan
yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap
hidup (affective domain) dan ranah keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan
teknik tes lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar dari segi ranah proses
berpikirnya (cognitive domain). Berikut beberapa alat evaluasi proses belajar dengan
teknik non tes:
1. Pengamatan (Observation)
Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan
keterangan (= data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pendataan
secara sistematis terhadap fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
Observasi sebagai alat evalusi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku
individu atau proses terjadinya kegiatan yang sedang diamati, baik dalam situasi
yang sebenarnya maupun situasi buatan. Observasi dapat mengukur proses atau hasil
belajar siswa; tingkah laku saat siswa sedang mendengarkan penjelasan dari guru,
saat siswa sedang beristirahat, saat sedang ada jam pelajaran kosong, saat upacara
bendera, dan lain sebagainya.
Observasi dapat dilakukan secara partisipatif maupun non partisipatif. Observasi
dapat dilakukan dengan cara experimental yaitu melakukan dalam situasi buatan
ataupun nonexperimental yang dilakukan dalam situasi yang wajar. Pada observasi
partisipatif, observer (dalam hal ini yang melakukan penilaian seperti guru atau
dosen) melibatkan diri di tengah-tengah kegiatan observee (dalam hal ini peserta
didik yang sedang diamati tingkah lakunya yaitu siswa ataupun mahasiswa)
sedangkan pada observasi non-partisipatif evaluator berada di luar garis seolah-olah
hanya sebagai penonton belaka.
Observasi eksperimental di mana tingkah laku dapat diharapkan muncul karena
peserta didik diberikan semacam perlakua atau suatu kondisi tertentu, maka
observasi tersebut harus dengan perencanaan dan persiapan yang matang, sedangkan
11
observasi non-eksperimental pelaksanaannya lebih sederhana karena observasi
semacam ini dilakukan dalam situasi yang wajar dan dapat dilakukan secara sepintas
lalu saja.3
Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku
catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di
sekolah. Contoh Isi Buku Catatan Harian :
No. Hari/Tanggal Nama Peserta Didik Kejadian (Positif atau
Negatif
1.
2.
Catatan dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan
menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai peserta didik
serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara
keseluruhan.4
Jika observasi digunakan sebagai alat evaluasi, maka perlu diingat bahwa
mencatat perilaku lebih sukar dibandingkan dengan mencatat jawaban-jawaban dari
hasil tes seperti ulangan atau ujian. Observer selaku evaluator harus dapat dengan
secara tepat mencatatnya karena hasilnya akan dijadikan landasan untuk menilai
makna yang terkandung dibalik tingkah laku peserta didik tersebut. Terdapat dua
macam jenis observasi yaitu:
a) Observasi sistematis
 Observasi yang dilaksanakan dengan terlebih dahulu membuat perencanaan
secara matang.
 Observasi dilandaskan pada kerangka kerja yang memuat faktor-faktor yang
telah diatur kategorisasinya.
 Isi dan luas materi observasinya telah ditetapkan dan dibatasi secara tegas
sehingga pengamatan dan sekaligus pencatatan yang dilakukan evaluator
sifatnya selektif. Faktor-faktor yang tercantum saja yang diamati, sedangkan
faktor-faktor yang tidak tercatat tidak perlu diamati.

3
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 76-77.

4
Hamzah B. Uno dan Satria Koni, Assesment Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 30-31.
12
Berikut ini dikemukakan dua buah contoh instrumen evaluasi berupa daftar
isian dalam rangka menilai keterampilan peserta didik, dalam suatu observasi
sistematis.

Hasil penilaian dengan menggunakan instrumen tersebut di atas sifatnya


adalah individual. Setelah selesai, nilai-nilai individual itu dimasukkan ke
dalam daftar nilai yang sifatnya kolektif, seperti contoh berikut ini:

b) Observasi non-sistematis
 Observer atau evaluator dalam melakukan pengamatan dan pencatatan tidak
dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti, maka kegiatan observasi di sini
semata-mata hanya dibatasi oleh tujuan dari observasi itu sendiri.
 Contoh: guru pendidikan agama Islam dalam bulan Ramadhan mengadakan
observasi pada satu atau beberapa masjid atau musholla, guna mengetahui

13
dan selanjutnya menilai keaktifan siswa-siswanya dalam menjalankan ibadah
shalat tarawih dan shalat witir.5

Kegiatan observasi memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:


a. Kelebihan
Data observasi diperoleh secara langsung di lapangan yakni dengan cara
melihat dan mengamati kegiatan atau ekspresi peserta didik di dalam melakukan
sesuatu, sehingga data tersebut dapat lebih bersifat objektif dalam melukiskan
aspek-aspek kepribadian peserta didik menurut keadaan yang senyata-nyatanya.
Data hasil observasi dapat mencakup berbagai aspek kepribadian masing-
masing individu peserta didik, dengan demikian di dalam pengolahannya tidak
berat sebelah atau hanya menekankan pada salah satu segi saja dari kecakapan
atau prestasi belajar mereka.
b. Kekurangan
Observasi sebagai salah satu alat evaluasi hasil belajar tidak selalu dapat
dilakukan dengan baik dan benar oleh para pengajar. Untuk menghasilkan data
observasi yang baik, seorang guru harus mampu membedakan antara apa yang
tersurat dan apa yang tersirat.

5
Anas Sudijono, Op. Cit., h. 77-78.
14
Kepribadian dari observer atau evaluator acapkali mewarnai atau menyelinap
masuk ke dalam penilaian yang dilakukan dengan cara observasi. Prasangka-
prasangka yang mungkin melekat pada diri evaluator dapat mengakibatkan sulit
dipisahkannya secara tegas mengenai tingkah laku peserta didik yang diamatinya.
Data yang diperoleh dari kegiatan observasi umumnya baru dapat
mengungkap “kulit luar”nya saja. Adapun apa-apa saja yang terjadi di balik hasil
pengamatan itu belum dapat diungkap secara tuntas hanya dengan melakukan
observasi saja, harus didukung dengan cara lainnya seperti wawancara.6
2. Wawancara
Secara umum yang dimaksud dengan Wawancara adalah cara menghimpun
bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan
secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah
ditentukan.7.
Dalam wawancara ada beberapa persyaratan penting yang perlu diperhatikan,
yaitu:
a) Adanya interaksi atau tatap muka guru dengan siswa,
b) Ada percakapan verbal di antara mereka,
c) Memiliki tujuan tertentu.
Untuk tujuan evaluasi wawancara, pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua
macam bentuk, yaitu menggunakan model pertanyaan dengan jawaban pasti (fixed
ended questions) atau pertanyaan dengan jawaban terbuka (open ended questions).
Contoh dari pertanyaan fix ended:

Masih tepatkah pelajaran keterampilan hidup ya Tidak


diberikan pada siswa kelas tiga SMP?

Wawancara dikatakan menggunakan pertanyaan open ended jika isi yang hendak
dievaluasi memiliki jawaban kompleksitas tinggi. Indikator jawaban yang
kompleks di antaranya:
a) Jawaban pasti tidak diketahui

6
Anas Sudijono, Op. Cit., h. 81-82.
7 Ibid., h. 82.
15
b) Tujuan wawancara lebih menekankan pada siswa untuk dapat mengeksplorasi
pengetahuan mereka
c) Jawaban memerlukan alasan proses
d) Jawaban masih bisa ditafsirkan sesuai dengan pengetahuan para siswa8

Ada dua jenis wawancara yang yang dapat di guanakan sebagai alat evaluasi
yaitu :

a) Wawancara terpimpin ( guided interview) yang sering juga dikenal dengan


istilah wawancara berstruktur (structured interview) atau wawancara
sistematis (Systematic interview). Wawancara terpimpin ( guided interview)
yang sering juga dikenal dengan istilah wawancara berstruktur (structured
interview) atau wawancara sistematis (Systematic interview). Dalam
wawancara ini evaluator melakukan tanya jawab lisan dengan pihak-pihak
yang diperlukan. Wawancara ini berpegang dengan panduan wawancara
yang butir-butir itemnya terdiri dari hal-hal yang dipandang perlu.
b) Wawancara tidak terpimpin (un- guided interview) yang sering juga dikenal
dengan istilah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara
sistematis (non- Systematic interview). Dalam wawancara ini. pewawancara
selaku evaluator mengajukan pertanyaan-pertanyaan tanpa dikendalikan
oleh pedoman tertentu. Hanya saja pada saat menganalisis dan menarik
kesimpulan pada wawancara ini, evaluator akan kesulitan apabila
jawabannya sangat beraneka ragam.9

Wawancara dapat dilengkapi alat bantu berupa tape recorder (alat perekam
suara) sehingga jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dapat dicatat secara lebih
lengkap. Penggunaan pedoman wawancara dan alat bantu perekam suara akan
sangat membantu pewawancara dalam mengategorikkan dan menganalisis
jawaban-jawaban yang diberikan untuk pada akhirnya dapat ditarik
kesimpulannya.

Di antara kelebihan yang dimiliki oleh wawancara adalah:

8
M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 187-188.
9
Anas Sudijono, Loc. Cit.
16
- Pewawancara secara evaluator dapat melakukan kontak langsung dengan orang
yang akan diwawancarai, sehingga akan diperoleh hasil penilaian yang lebih
lengkap dan mendalam.
- Data dapat diperoleh secara kualitatif maupun kuantitatif.
- Pernyataan-pernyataan yang kurang jelas dapat dijelaskan lagi dan sebaliknya
jawaban-jawaban yang belum jelas dapat diminta lago dengan lebih terarah dan
lebih bermakna
- Peserta didik dapat mengeluarkan isi hatinya secara bebas.10

3. Angket
Berbeda dengan wawancara di mana penilai (evaluator) berhadapan secara
langsung dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan
menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan hasil evaluasi belajar, jauh
lebih praktis, menghemat waktu, dan tenaga. Hanya saja jawaban-jawaban yang
diberikan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan, apalagi jika pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan kurang tajam, bisa memungkinkan bagi responden untuk
memberikan jawaban yang melegakan atau memberikan kepuasan kepada pihak
penilai.
Pada umumnya tujuan penggunaan angket dalam proses pembelajaran
adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah
satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka. Selain itu,
untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan program
pembelajaran.
Data yang dapat dihimpun melalui angket yaitu misalnya data yang berkenaan
dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik, cara belajar mereka,
fasilitas belajar, bimbingan belajar, motivasi dan minat belajarnya, sikap belajarnya,
sikap terhadap mata pelajaran tertentu, dan sebagainya.
Angket sering digunakan untuk menilai hasil belajar ranah afektif. Ia dapat
berupa kuesioner bentuk pilihan ganda dan dapat pula berbentuk skala sikap. Skala
yang mengukur sikap, sangat terkenal dan sering digunakan untuk mengungkap
sikap peserta didik adalah skala likert.

10
Ibid., h. 83-84.
17
Contoh 1: Angket Bentuk Pilihan Ganda untuk Mengukur Hasil Belajar Ranah
Afektif Pendidikan Agama Islam

18
Contoh 2: Angket Bentuk Skala Likert untuk Mengukur Hasil Belajar Ranah
Afektif Pendidikan Agama Islam.11

11
Anas Sudijono, Op. Cit., h. 84-89.
19
4. Pemeriksaan Dokumen (Documentary Analysis)
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan, atau keberhasilan belajar peserta
didik tanpa menguji (teknik non-tes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan
cara melengkapi pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen misalnya dokumen yang
memuat informasi mengenai riwayat hidup (auto biografi), seperti kapan dan di mana
peserta didik dilahirkan, agama yang dianut, kedudukan anak di dalam keluarga, dari
mana sekolah asalnya, kejuaraan apa yang pernah ia raih, apakah yang bersangkutan
pernah mendeita penyakit, dan sebagainya.
Berbagai informasi, baik mengenai peserta didik, orang tua, dan lingkungannya
itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan
pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta
didiknya. Informasi-informasi tersebut dapat direkam melalui sebuah dokumen
berbentuk formulir atau blanko isian, yang harus diisi pada saat peserta didik untuk
pertama kali diterima sebagai siswa di sekolah yang bersangkutan.12

5. Portofolio
Portofolio dapat digunakan untuk pengumpulan data kinerja siswa. Secara
definitif, portofolio menurut Johnson dan Johnson (2002) dapat diartikan sebagai
pengumpulan data secara terorganisir yang dilakukan dalam periode waktu tertentu
atas siswa atau perkembanagn program kelompok mahasiswa, pencapaian,
keterampilan, atau sikap.
Portofolio juga dapat menggambarkan kinerja siswa dalam satu atau beberapa
mata pelajaran atau bahkan semua mata pelajaran yang telah dicapainya. Dilihat dari
siapa sasarannya, portofolio dapat bervariasi, misalnya untuk satu orang siswa
maupun satu grup siswa untuk satu orang portofolio. Di samping itu, portofolio juga
dapat disimpan dalam map, note book, atau dalam compact dis.13
Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah sebagai
berikut:

12
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2017), hal. 90-91.
13
M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hal. 191-192.
20
 Jelaskan kepada peserta didik maksud penggunaan portofolio, yaitu tidak semata-
mata merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru
untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik itu sendiri untuk
mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya.
 Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan
dibuat.
 Kumpulkan dan simpan karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau
folder.
 Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta
didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.
 Tentukan kriteria penilaian sampel-sampel portofolio peserta didik beserta
pembobotannya bersama peserta didik agar dicapai kesepakatan.
 Setelah portofolio dinilai dan ternyata nilainya belum memuaskan, peserta didik
diberi kesempatan untuk memperbaiki lagi.14

C. Penilaian Diri (self assesment)

a. Pengertian Penilaian Diri (self assesment)


Menurut BPPPN Pusat Kurikulum penilaian diri merupakan suatu teknik
penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan
status, proses, dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata
pelajaran tertentu didasarkan berkaitan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian
kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu didasarkan atas kriteria atau
acuan yang telah disiapkan.15
Adapun menurut (Kunandar,2012) penilaian diri merupakan suatu teknik
penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan
kekurangan dirinya dalam konteks kompetensi sikap, baik sikap spiritual maupun sikap
sosial. 16

14
Hamzah B. Uno dan Satria Koni, Assesment Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hal. 27-28.
15
Depdiknas, Model Pembelajaran, (Malang: Pusat Kurikulum Baltibang Depdiknas), hal. 40.
16
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2012), hal. 20.
21
Sedangkan menurut (Sudaryono,2012) penilaian diri (self assessment) adalah
suatu teknik penilaian dimana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri
berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya
dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur
kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor.17
1. Penilaian kompetensi kognitif di kelas, misalnya : peserta didik diminta untuk menilai
penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari
suatu mata pelajaran tertentu. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau
acuan yang telah disiapkan.
2. Penilaian kompetensi afektif, misalnya : peserta didik dapat diminta membuat tulisan
yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. Selanjutnya, peserta
didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah
disiapkan.
3. Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik, peserta didik dapat diminta
untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan
kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penilaian diri (self assessment) merupakan suatu teknik
penilaian yang di dalamnya peserta didik mengemukakan kelemahan dan kelebihannya
dalam pencapaian kompetensi baik pada ranah kognitif, ranah afektif, maupun pada ranah
psikomotorik dan pada penelitian kali ini peserta didik mengemukakan kelebihan dan
kelemahannya tentang karakter peserta didik dan ini merupakan kompetensi pada ranah
afektif.
b. Macam-macam Penilain Diri
Ada beberapa jenis penilaian diri (self assessment), diantaranya:
1. Penilaian Langsung dan Spesifik, yaitu penilaian secara langsung, pada saat atau
setelah selesai melakukan tugas, untuk menilai aspek-aspek kompetensi tertentudari
suatu mata pelajaran.
2. Penilaian Tidak Langsung dan Holistik, yaitu penilaian yang dilakukan dalam kurun
waktu yang panjang untuk memberikan penilaian secara keseluruhan.

17
Sudaryono, Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2012), hal. 92.
22
3. Penilaian Sosio-Afektif, yaitu penilaian terhadap unsur-unsur afektif atau
emosional.18

c. Prinsip-Prinsip Dalam Penilaian Diri (self assessment).


Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penilaian diri adalah:
1. Aspek-aspek yang mau dinilai oleh peserta didik melalui penilaian diri harus jelas.
2. Menentukan dan menetapkan cara dan prosedur yang digunakan dalam penilaian diri,
misalnya dengan daftar cek atau dengan skala.
3. Menentukan bagaimana mengolah dan menentukan nilai hasil penilaian diri oleh
peserta didik.
4. Membuat kesimpulan hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik.19

d. Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Diri (self assesment)


Keunggulan dari penilaian diri (self assessment) adalah:
1. Guru mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
2. Peserta didik mampu merefleksikan mata pelajaran yang sudah diberikan.
3. Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
4. Memberikan motivasi diri peserta didik dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
5. Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
6. Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar mengetahui standar inputpeserta
didik yang akan kita ajar.
7. Peserta didik dapat mengukur kemampuan dalam mengikuti pelajaran, peserta didik
dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
8. Melatih kemandirian peserta didik.
9. Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
10. Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
11. Guru memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
12. Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
13. Peserta didik mampu menilai dirinya.
14. Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
15. Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.

18
Depdiknas, op.cit, hal.41.
19
Kunandar, Penilaian Authentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013), (Jakarta :
Rajawali Pres, 2013), hal. 133.
23
Sedangkan kelemahan dari penilaian diri (self assessment) adalah :
1. Cenderung subjektif.
2. Data mungkin ada yang pengisiannya tidak jujur.
3. Dapat terjadi kemungkinan peserta didik menilai dengan skor tinggi.
4. Membutuhkan persiapan dan alat ukur yang cermat.
5. Pada saat penilaian dapat terjadi peserta didik melaksanakan sebaik-baiknya tetapi
diluar penilaian ada peserta didik yang tidak konsisten.
6. Hasilnya kurang akurat.
7. Kurang terbuka.
8. Mungkin peserta didik tidak memahami adanya kemampuan yang dimiliki.
9. Peserta didik yang kurang aktif biasanya nilainya kurang.20

e. Contoh Instrumen
Contoh menggunakan daftar checklist saat kegiatan kelompok :
Nama : ………….
Kelas/Smtr : ………….
Petunjuk :
Bacalah baik-baik setiap pernyataan dan berlah tanda (V) pada kolom yang sesuai dengan
dirimu yang sebenarnya.

No Pernyataan Ya Tidak
Selama kegiatan kelompok saya :
1 Mengusulkan ide kepada kelompok
2 Sibuk mengerjakan tugas saya senditi
3 Tidak berani bertanya karena takut
ditertawakan
4 Menertawakan pendapat teman
5 Aktif mengajukan pertanyaan dengan
sopan
6 Melaksanakan kesepakatan kelompok,
meskipun tak sesuai dengan pendapat
saya

Serahkan kembali format yang sudah kamu isi kepada guru.


Contoh rating scale :
Nama : ………….
Kelas/Smtr : ………….
Petunjuk :
20
Ibid
24
Bacalah baik-baik setiap pernyataan dan berilah tanda (V) pada kolom yang sesuai
dengan dirimu yang sebenarnya.
Serahkan kembali format yang sudah kamu isi kepada guru.
Skala Nilai
Tidak Kadang
Sering Selalu
Pernah -kadang
No Pernyataan
0 1 2 3
Berdo’a / memohon
1 v
dimudahkan dalam belajar
2 Mengerjakan PR disekolah v
Mengantuk kalau sedng
3 v
berlangsung KBM
Bertanya kepada guru masalah
4 v
pelajaran

Lembar Penilaian Diri

Nama : Mata Pelajaran :

Kelas : Tanggal :
Sejauh ini saya belajar banyak tentang :
Saya ingin tahu lebih banyak tentang :
Besok saya akan belajar :
Saya senang belajar dengan cara :
Saya sulit memahami :
Di kelas saya termasuk :

Mengetahui Orang Tua/Wali Tanda tangan dan nama


siswa

.................................................. ...........................................
.......

25
D. Instrumen Teman Sejawat
Penilaian antar teman atau teman sebaya (peer assessment) merupakan teknik penilaian
dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan temannya
dalam berbagai hal. Keterlibatan peserta didik dalam proses penilaian mempunyai beberapa
keuntungan dan tujuan, yaitu: 1) memperkenalkan peserta didik mengenal kompleksitas, 2)
mendorong peserta didik dalam melakukan penilaian mengenai keterampilan dan usahanya, 3)
mendorong keterlibatan peserta didik di dalam proses belajar mengajar. Pelaksanaan system
penilaian ini dapat dilakukan dengan cara: 1) masing-masing peserta didik diminta saling menilai
temannya dalam satu kelas, baik proses maupun produk, 2) membentuk sebuah tim yang terdiri
dari beberapa peserta didik yang bertanggung jawab menilai keterampilan seluruh peserta didik
dalam kelas tersebut, 3) masing-masing peserta didik diberi tanggung jawab untuk menilai tiga
atau empat temannya.

Penilaain antarteman sejawat dapat mengajarkan siswa untuk menilai secara jujur
mengenai kemampuan temannya sendiri. ketika menerapkan suatu penilaian antarteman sejawat
( peer assessment) prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, yakni aspek yang akan dinilai harus
jelas, menentukan dan menetapakan cara dan prosedur yang digunakan dalam penilaian,
menentukan bagaimana mengolah dan menentukan nilai hasil penilaian, dan membuat
kesimpulan hasil penilaian antar peserta didik yang dilakukan oleh peserta didik. Selanjutnya
ketika sudah mengetahui prinsip-prinsip penilaian antarpeserta didik maka langkah-langkah
untuk membuat instrumen penialain harus dilakukan dengan baik pula.

Penilaian antarteman (peer assessment) dapat digunakan untuk membantu siswa dalam
mengembangkan kemampuan bekerjasama, menerima atau memberikan umpan balik (feedback)
antar sesama teman, mengkritisi proses dan hasil belajar teman, dan memberikan pengertian
kepada para siswa tentang kriteria yang digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar.
Penggunaan peer assessment bertujuan untuk memberikan feedback yang berasal dari peer. Peer
assessment dapat digunakan untuk membantu pelajar dalam mengembangkan kemampuan
bekerjasama, mengkritisi proses dan hasil belajar orang lain (penilaian formatif), menerima
feedback atau kritik dari orang lain, memberikan pengertian yang mendalam kepada para siswa
tentang kriteria yang digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar dan untuk penilaian
sumatif

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Alat evaluasi proses belajar merupakan alat yang digunakan guru dalam
membantunya membuat evaluasi peserta didik. Dengan adanya alat ini, tentunya guru
dapat menentukan apa saja yang perlu dievaluasi dalam proses belajar mengajarnya serta
26
tingkat pengetahuan baik dalam ranah kognitif maupun metakognitif dari peserta didik.
Selain dengan jalur tes, evaluasi juga dapat dilakukan dengan jalur non-tes, dimana cara
ini dapat digunakan agar guru dapat memahami sikap, sifat, dan karakteristik secara
verbal dari peserta didik.
Cara yang digunakan biasanya berupa wawancara, skala sikap, dan juga
observasi. Penilaian diri (self assessment) merupakan suatu teknik penilaian yang di
dalamnya peserta didik mengemukakan kelemahan dan kelebihannya dalam pencapaian
kompetensi baik pada ranah kognitif, ranah afektif, maupun pada ranah psikomotorik dan
pada penelitian kali ini peserta didik mengemukakan kelebihan dan kelemahannya
tentang karakter peserta didik dan ini merupakan kompetensi pada ranah afektif.

B. Saran
Sebagai guru yang profesional, haruslah dapat memahami berbagai alat evaluasi
pembelajaran baik tes maupun non-tes. Agar peskembangan peserta didik dapat dilihat
serta ditinjau jauh lebih dalam lagi dan guru dapat mengevaluasi agar perkembangannya
dapat optimal.

27
DAFTAR PUSTAKA

Arifin Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementrian Agama.

Depdiknas. 2010. Model Pembelajaran. Malang : Pusat Kurikulum Baltibang Depdiknas.


Kunandar. 2012. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi
Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kunandar.2013. Penilaian Authentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan
Kurikulum 2013). Jakarta : Rajawali Pres.
M. Sukardi. 2009. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudaryono. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta : Graha Ilmu.
Sudijono,Ana. 2013. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers.
Sudijono, Anas. 2017. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sukardi, M. 2009. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta : Bumi Aksara.
Uno, B. Hamzah dan Koni, Satria. 2013. Assesment Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

28