Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

Keselamatan kerja keperawatan


Resiko bahaya kebisingan, pencahayaan APD dan penanggulangannya

Dosen Pembimbing :
Ns. Dewi kuriawati, M.kep

Disusun oleh :

1. Agung Pratama
2. Anggi Kurnia Putri
3. Endah Putri
4. Novica Saputri
5. Tesa

STIKes YARSI SUMBAR BUKITTINGGI


TP. 2019/ 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
rahmatnyalah kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul ” Resiko bahaya
kebisingan, pencahayaan APD dan penanggulangannya” tepat pada waktunya. Dalam
penyusunan makalah ini kami mendapat banyak tantangan dan hambatan tapi dengan bantuan
berbagai pihak, masalah itu dapat teratasi.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada penulisan makalah ini. Maka
dari itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca sekalian.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Bukittinggi, 3 Oktober 2019

Kelompok 2
DAFTAR ISI

Kata pengantar...............................................................................................................................

Dafatar isi......................................................................................................................................

Bab 1 pendahuluan........................................................................................................................

1. Tujuan.......................................................................................................................................

2 Rumusan masalah.....................................................................................................................

Bab 2 pembahasan.......................................................................................................................

1 pengertian kebisingan.............................................................................................................

2. alat pelindung diri / alat pelindung pendengaran...................................................................

3 contoh pengendalian bahaya kebisingan.................................................................................

4 pengertian pencahayaan...........................................................................................................

5 standar pencahayaan................................................................................................................

6 sistem pencahayaan.................................................................................................................

7 akibat pencahayaan yang tidak baik.......................................................................................

8 pengendalian bahaya pencahayaan........................................................................................

Bab 3 penutup................................................................................................................................

1 Kesimpulan.................................................................................................................................

2 Saran...........................................................................................................................................

Daftar pustaka.................................................................................................................................
BAB 1

PENDAHULUAN

Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/aktifitas pekerjaan. Dan
saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun kecilnya, akan mengakibatkan efek
kerugian (loss). Karena itu sebisa mungkin dan sedini mungkin, kecelakaan/ potensi kecelakaan
kerja harus dicegah/ dihilangkan, atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Penanganan
masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh
seluruh komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-
bahasan marginal dalam perusahaan.

Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut: 1. Kelelahan
(fatigue) 2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe
working condition) 3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab
awalnya (pre-cause) adalah kurangnya training 4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri. Hubungan
antara karakter pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang cukup menarik dan
membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work), pekerjaan yang dilakukan
secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaan-pekerjaan yang harus diawali dengan
"pemanasan prosedural", beban kerja (workload), dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan
(workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud. Penyebab-penyebab di atas
bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause
consequences chain).

1. TUJUAN

Agar mahasiswa dapat memahami tentang resiko bahaya kebisingan dan penanggulangannya

Agar mahasiswa dapat memahami tentang resiko bahaya pencahayaan dan penanggulangannya

2. RUMUSAN MASALAH

1. bagaimana resiko bahaya kebisingan dan penanggulangannya?

2. bagaimana resiko bahaya pencahayaan dan penanggulangannya?


BAB II

PEMBAHASAN

1 Pengertian Kebisingan
Kebisingan adalah bunyi atau suara yang timbul yang tidak dikehendaki yang sifatnya
mengganngu dan menurunkan daya dengar seseorang (WHS, 1993).

Jenis Kebisingan
a. Bising kontinu (terus menerus) seperti suara mesin, kipas angin, dll.
b. Bising intermitten (terputus putus) yang terjadi tidak terus menerus seperti suara lalu lintas,
suara pesawat terbang
c. Bising Impulsif yang memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu yang

d. cepat sehingga mengejutkan pendengarnya seperti suara senapan, mercon, dll


e. Bising impulsif berulang yang terjadi secara berulang-ulang pada periode yang sama seperti
suara mesin tempa.

Sumber Kebisingan
Pengaruh Kebisingan terhadap tenaga kerja adalah sebagai berikut :
1. Gangguan fisiologis
Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah, nadi dan dapat menyebabkan pucat dan
gangguan sensoris
2. Gangguan psikologis
Gannguan psikologis berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, emosi dll.
3. Gangguan komunikasi
Gangguan komunikasi dapat menyebabkan terganggunya pekerjaan, bahkan bisa berakibat
kepada kecelakaan karena tidak dapat mendengar isyarat ataupun tanda bahaya.
4. Gangguan pada pendengaran (Ketulian)
Gangguan yang paling serius karena pengaruhnya dapat menyebabkan berkurangnya fungsi
pendengaran. Gannguan pendengaran ini bersifat progresif tapi apabila tidak dilakendalikan
dapat menyebabkan ketulian permanen.
Batasan tingkat kebisingan yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran
Batasan tingkat kebisingan dibagi menjadi 2, yaitu untuk lingkungan dengan waktu pajanan 24
jam yang kita kenal dengan Baku Mutu Lingkungan dan untuk tempat kerja dengan waktu
pajanan 8 jam kerja atau Nilai Ambang Batas (NAB).
Gangguan Pendengaran Akibat Bising/GPAB (Noise Induced hearing Loss/NIHL)
Gangguan pendengaran akibat bising (GPAB) adalah penurunan pendengaran sensorineural yang
pada awalnya tidak disadari, karena belum mengganggu percakapan sehari-hari. Penurunan
pendengaran sensorineural tipe koklea pada kedua telinga. Faktor lama pajanan, intensitas
kebisingan, umur serta faktor lain akan berpengaruh terhadap penurunan pendengaran tersebut.
Faktor yang mempercepat GPAB/NIHL adalah pajanan intensitas kebisingan melebihi NAB
(>85 dbA selama 8 jam).

Ilustrasi dibawah ini adalah beberapa penelitian tentang GPAB (sumber:Ketulian.com)


Di Indonesia penelitian tentang gangguan pendengaran akibat bising telah banyak dilakukan
sejak lama. Survai yang dilakukan oleh Hendarmin dalam tahun yang sama pada Manufacturing
Plant Pertamina dan dua pabrik es di Jakarta mendapatkan hasil terdapat gangguan pendengaran
pada 50% jumlah karyawan disertai peningkatan ambang dengar sementara sebesar 5-10 dB pada
karyawan yang telah bekerja terus-menerus selama 5-10 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh
Hendarmin dan Hadjar tahun 1971, mendapatkan hasil bising jalan raya (Jl.MH.Thamrin,
Jakarta) sebesar 95 dB lebih pada jam sibuk.Sundari pada penelitiannya di pabrik peleburan besi
baja di Jakarta, mendapatkan 31,55 % pekerja menderita tuli akibat bising, dengan intensitas
bising antara 85 – 105 dB, dengan masa kerja rata-rata 8,99 tahun.
Lusianawaty mendapatkan 7 dari 22 pekerja ( 31,8%) di perusahaan kayu lapis Jawa
Barat mengalami tuli akibat bising, dengan intensitas bising lingkungan antara 84,9 – 108,2 dB.
Purnama pada penelitian dampak pajanan bising bajaj pada pengemudinya mendapatkan 26 dari
32 pengemudi mengalami tuli akibat bising, 14 pengemudi mengalami tuli akibat bising tahap
awal dan 12 pengemudi mengalami tuli akibat bising tahap lanjut. Rerata intensitas bising bajaj
pada kelompok kasus tersebut adalah 101,42 dB dengan lama pajanan kerja 12,37 tahun dan 98,5
dB pada kelompok kontrol dengan lama pajanan kerja 8 tahun.
Bashiruddin pada penelitian pengaruh bising dan getaran pada fungsi keseimbangan dan
pendengaran mendapatkan rerata intensitas bising bajaj pada beberapa frekuensi adalah 90 dB
dengan intensitas maksimum 98 dB dan serata akselerasi getar adalah 4,2 m/dt. Hal ini melebihi
nilai ambang batas bising dan getaran yang diperkanankan.
Kombinasi antara bising alat transportasi dengan sistem suspensi dan gas buang yang buruk
seperti bajaj dan bising jalan raya menyebabkan risiko gangguan pendengaran pengemudi
kendaraan tersebut menjadi lebih tinggi

GPAB tidak dapat disembuhkan namun bisa dicegah, oleh karena itu tempat kerja yang
melebihi NAB harus menerapkan Program Konservasi Pendengaran / Hearing Conservation
Program (HCP).
Program Konservasi Pendengaran meliputi :
1. Pemantauan Kebisingan
2. Audiometri Test
3. Pengendalian Kebisingan
4. Alat Pelindung Diri
5. Training Motivasi
6. Pemeliharaan Catatan / record

2 Alat Pelindung Diri / Alat Pelindung pendengaran


Pemakaian Alat pelindung pendengaran adalah upaya terakhir dalam upaya pencegahan
gangguan pendengaran, ada 2 jenis :
1. Ear plug / sumbat telinga
2. Ear muff / tutup telinga

Namun pengurangan dengan rumus diatas tidak tepat, gunakan safety faktor 50%, dengan
mempertimbangkan kualitas serta cara penggunaannya yang tidak tepat, sehingga rumus diatas
menjadi
Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan Alat Pelindung Pendengaran adalah :
1. Dapat melindungi pekerja dari kebisingan
2. Nyaman diapakai dan efisien
3. Cocok dengan Alat Pelindung diri yang lainnya misal helm dan kacamata
4. Masih bisa berkomunikasi ketika digunakan, karena jika berlebihan dapat menimbulkan
bahaya lainnya misal tidak dapat mendengar isyarat atau sirene tanda bahaya.

3 Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise)

Kebisingan sampai pada tingkat tertentu bisa menimbulkan gangguan pada fungsi
pendengaran manusia. Resiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara
permanen. Dan jika resiko ini terjadi (biasanya secara medis sudah tidak dapat diatasi/ "diobati").
sudah barang tentu akan mengurangi efisiensi pekerjaan si penderita secara signifikan. Secara
umum dampak kebisingan bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu:

1. Dampak auditorial (Auditory effects), dan Dampak ini berhubungan langsung dengan fungsi
(perangkat keras) pendengaran, seperti hilangnya/ berkurangnya fungsi pendengaran, suara
dering/ berfrekuensi tinggi dalam telinga.

2. Dampak non-auditorial (Non-auditory effects)

Dampak ini bersifat psikologis, seperti gangguan cara berkomunikasi,


kebingungan, stress, dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keamanan kerja. Berikut ini
adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan
untuk menilai tingkat keamanan kerja: 1. Percakapan biasa (45-60 dB) 2. Bor listrik (88-98 dB)
3. Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB) 4. Gergaji mesin (110-115 dB) 5. Musik rock
(metal) (115 dB) 6. Sirene ambulans (120 dB) 7. Teriakan awal seseorang yang menjerit
kesakitan (140 dB) 8. Pesawat terbang jet (140 dB)
Sedangkan industri, di mana kebisingan bisa menjadi sumber bahaya yang potensial bagi pekerja
antara lain:

1. Industri perkayuan (wood working & wood processing)


2. Pekerjaan pemipaan (plumbing)
3. Pertambangan batu bara dan berbagai jenis pertambangan logam

Indikator adanya (potensi) gangguan kebisingan beresiko tinggi diantaranya:

1. Terdengarnya suara-suara dering/ berfrekuensi tinggi di telinga


2. Volume suara yang makin keras pada saat harus berbicara dengan orang lain
3. “Mengeraskan” sumber suara hingga tingkatan tertentu yang dianggap oleh seseorang sebagai
kebisingan

Implementasi prinsip-prinsip pengendalian bahaya untuk resiko yang disebabkan oleh


kebisingan

1. Penggantian (substitution)
a. Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan tingkat kebisingan yang
lebih rendah
b. Mengganti “jenis proses” mesin (dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah)
dengan fungsi proses yang sama, contohnya pengelasan digunakan sbg
penggantian proses riveting
c. Modifikasi “tempat” mesin, spt pemberian dudukan mesin dengan
materialmaterial yang memiliki koefisien redaman getaran lebih tinggi
d. Pemasangan peredam akustik (acoustic barrier) dalam ruang kerja
2. Pemisahan (separation)

a. Pemisahan fisik (physical separation)


Memindahkan mesin (sumber kebisingan) ke tempat yang lebih jauh dari pekerja

b. Pemisahan waktu (time separation)


Mengurangi lamanya waktu yang harus dialami oleh seorang bekerjauntuk “berhadapan” dengan
kebisingan. Rotasi pekerjaan dan pengaturan jam kerja termasuk dua cara yang biasa digunakan.
3. Perlengkapan perlindungan personnel (personnel protective equipment/ PPE)
a. Penggunaan earplug dan earmuffs
4. Pengendalian administratif (administrative controls)
a. Larangan memasuki kawasan dengan tingkat kebisingan tinggi tanpa alat
pengaman
b. Larangan/ peringatan untuk terus mengenakan PPE selama berada di dalam
tempat dengan tingkat kebisingan tinggi

4 Pengertian Pencahayaan

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1405 tahun 2002, penerangan adalah


jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara
efektif. Oleh sebab itu salah satu masalah lingkungan ditempat kerja harus diperhatikan
yaitu pencahayaan. Nilai Pencahayaan yang dipersyaratkan oleh Kep-Menkes RI No.
1405/Menkes/SK/XI/2002 yaitu minimal 100 lux.

Penerangan atau cahaya yang cukup merupakan pertimbangan yang penting dalam fasilitas
fisik kantor. Lebih-lebih dalam gedung yang luas dan kurang jendalanya, cahaya alam itu tidak
dapat menembus sepenuhnya, karena itu sering dipergunakan cahaya lampu untuk
mengatur penerangan dalam kantor. Pencahayaan yang tidak memadai akan menyebabkan
kelelahan pada otot dan saraf mata yang berlanjut pada kelelahan lokal mata dan akhirnya
kelelahan keseluruhan fisiologis pada seorang pekerja.

Kelelahan yang timbul kemudian akan mengakibatkan turunnya konsentrasi kerja,


meningkatkan tingkat kesalahan dalam bekerja yang berujung pada tingginya cacat produksi.
Hal-hal ini yang kemudian menyumbang peran untuk menurunkan produktivitas pekerja secara
individual maupun perusahaan secara keseluruhan.

Penerangan di tempat kerja adalah salah satu sumber cahaya yang menerangi benda-benda
ditempat kerja. Penerangan dapat berasal dari cahaya alami dan cahaya buatan, banyak obyek
kerja beserta benda atau alat dan kondisi disekitar yang perlu dilihat oleh tenaga kerja, hal
ini penting untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi, selain itu penerangan yang
memadai memberikan kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang
menyegarkan.
Pencahayaan yang kurang memadai merupakan beban tambahan bagi pekerja, sehingga
dapat menimbulkan gangguan performance (penampilan) kerja yang akhirnya dapat memberikan
pengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. Hal ini sangat erat kaitannya dan mutlak
harus ada karena berhubungan denganfungsi indera penglihatan, yang dapat mempengaruhi
produktifitas bagi tenagakerja. Berdasarkan baku mutu lingkungan kerja, standar pencahayaan
untuk ruangan yang dipakai untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan ketelitian adalah 500
- 1000 Lux.

Tujuan pencahayaan :
a. Memberi kenyamanan dan efisiensi dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Memberi lingkungan kerja yang aman.

5 Sumber pencahayaan
Pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan yang aman
dan nyaman dan berkaitan erat dengan produktivitas manusia. Pencahayaan yang baik
memungkinkan orang dapat melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat.
Menurut sumbernya, pencahayaan dapat dibagi menjadi :
a) Pencahayaan alami
Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar matahari. Sinar
alami mempunyai banyak keuntungan, selain menghemat energi listrik juga dapat membunuh
kuman. Untuk mendapatkan pencahayaan alami pada suatu ruang diperlukan jendela-jendela
yang besar ataupun dinding kaca sekurang-kurangnya 1/6 daripada luas lantai. Sumber
pencahayaan alami kadang dirasa kurang efektif dibanding dengan penggunaan pencahayaan
buatan, selain karena intensitas cahaya yang tidak tetap, sumber alami menghasilkan panas
terutama saat siang hari.
b) Pencahayaan buatan
Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya selain
cahaya alami. Pencahayaan buatan sangat diperlukan apabila posisi ruangan sulit dicapai
oleh pencahayaan alami atau saat pencahayaan alami tidak mencukupi. Fungsi pokok
pencahayaan buatan baik yang diterapkan secara tersendiri maupun yang dikombinasikan
dengan pencahayaan alami adalah sebagai berikut:
1. Menciptakan lingkungan yang memungkinkan penghuni melihat secara detail serta
terlaksananya tugas serta kegiatan visual secara mudah dan tepat
2. Memungkinkan penghuni berjalan dan bergerak secara mudah dan aman
3. Tidak menimbukan pertambahan suhu udara yang berlebihan pada tempat kerja
4. Memberikan pencahayaan dengan intensitas yang tetap menyebar secara merata, tidak
berkedip, tidak menyilaukan, dan tidak menimbulkan bayang-bayang.
5. .Meningkatkan lingkungan visual yang nyaman dan meningkatkan prestasi.

Disamping hal-hal tesebut di atas, dalam perencanaan penggunaan pencahayaan untuk suatu
lingkungan kerja maka perlu pula diperhatikan hal-hal berikut ini:
a. Seberapa jauh pencahayaan buatan akan digunakan, baik untuk menunjang dan
melengkapi pencahayaan alami.
b. Tingkat pencahayaan yang diinginkan, baik untuk pencahayaan tempat kerja yang
memerlukan tugas visual tertentu atau hanya untuk pencahayaan umum
c. Distribusi dan variasi iluminasi yang diperlukan dalam keseluruhan interior,
apakah menyebar atau tefokus pada satu arah
d. Arah cahaya, apakah ada maksud untuk menonjolkan bentuk dan kepribadian
ruangan yang diterangi atau tidak
e. Warna yang akan dipergunakan dalam ruangan serta efek warna dari cahaya
f. Derajat kesilauan obyek ataupun lingkungan yang ingin diterangi, apakah tinggi
atau rendah.

6 Sistem pencahayaan
Sistem pencahayaan buatan yang sering dipergunakan secara umum dapat dibedakan atas
3 macam yakni:
a. Sistem Pencahayaan Merata. Pada sistem ini iluminasi cahaya tersebar secara merata di
seluruh ruangan. Sistem pencahayaan ini cocok untuk ruangan yang tidak dipergunakan untuk
melakukan tugas visual khusus. Pada sistem ini sejumlah armatur ditempatkan secara teratur di
seluruh langi-langit.
b. Sistem Pencahayaan Terarah. Pada sistem ini seluruh ruangan memperoleh pencahayaan
dari salah satu arah tertentu. Sistem ini cocok untuk pameran atau penonjolan suatu objek karena
akan tampak lebih jelas. Lebih dari itu, pencahayaan terarah yang menyoroti satu objek tersebut
berperan sebagai sumber cahaya sekunder untuk ruangan sekitar, yakni melalui mekanisme
pemantulan cahaya. Sistem ini dapat juga digabungkan dengan sistem pencahayaan merata
karena bermanfaat mengurangi efek menjemukan yang mungkin ditimbulkan oleh pencahayaan
merata.
c. Sistem Pencahayaan Setempat. Pada sistem ini cahaya dikonsentrasikan pada suatu objek
tertentu misalnya tempat kerja yang memerlukan tugas visual. Sistem pencahayaan ini sangat
bermanfaat untuk:
1) memperlancar tugas yang memerlukan visualisasi teliti
2) mengamati bentuk dan susunan benda yang memerlukan cahaya dari arah
tertentu.
3) melengkapi pencahayaan umum yang terhalang mencapai ruangan khusus yang
ingin diterangi
4) membantu pekerja yang sudah tua atau telah berkurang daya penglihatannya.
5) menunjang tugas visual yang pada mulanya tidak direncanakan untuk ruangan
tersebut.

7 Akibat pencahayaan yang tidak baik


Menurut Grandjean (1993) penerangan yang tidak didesain dengan baik akan menimbulkan
gangguan atau kelelahan penglihatan selama kerja. Pengaruh dan penerangan yang kurang
memenuhi syarat akan mengakibatkan dampak, yaitu:
1. Kelelahan mata sehinga berkurangnya daya dan efisiensi kerja.
2. Kelelahan mental.
3. Keluhan pegal di daerah sekitar mata dan sakit kepala di sekitar mata.
4. Kerusakan penglihatan
5. Meningkatnya kecelakaan kerja
Kerusakan indera mata dan lain-lain. Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut
akan bermuara kepada penurunan performansi kerja, sebagai berikut:
1 .Kehilangan produktivitas.
2. Kualitas kerja rendah.
3. Banyak terjadi kesalahn
4. Kecelakaan kerja meningkat.

Kelelahan mata
a. Definisi Kelelahan
Pada Mata Kelelahan mata adalah ketegangan pada mata dan disebabkan oleh penggunaan
indera penglihatan dalam bekerja yang memerlukan kemampuan untuk melihat dalam jangka
waktu yang lama dan biasanya disertai dengan kondisi pandangan yang tidak nyaman
Kelelahan mata akibat dari pencahayaan yang kurang baik akan menunjukkan gejala
kelelahan mata yang sering muncul antara lain : kelopak mata terasa berat, terasa ada tekanan
dalam mata, mata sulit dibiarkan terbuka, merasa enak kalau kelopak mata sedikit
ditekan, bagian mata paling dalam terasa sakit, perasaan mata berkedip, penglihatan kabur, tidak
bisa difokuskan, penglihatan terasa silau, penglihatan seperti berkabut walau mata difokuskan,
mata mudah berair, mata pedih dan berdenyut, mata merah, jika mata ditutup terlihat kilatan
cahaya, kotoran mata bertambah, tidak dapat membedakan warna sebagaimana biasanya, ada
sisa bayangan dalam mata, penglihatan tampak double, mata terasa panas, mata terasa kering
Gejala-gejala kelelahan mata tersebut penyebab utamanya adalah penggunaan otot-otot di
sekitar mata yang berlebihan. Kelelahan mata dapat dikurangi dengan memberikan pencahayaan
yang baik di tempat kerja. Sedangkan Sidarta , menyebutkan bahwa gejela-gejala kelelahan mata
antara lain :
1) Iritasi pada mata (mata pedih, merah, berair)
2) Penglihatan ganda
3) Sakit sekitar mata
4) Berkurangnya kemampuan akomodasi
5) Menurunnya ketajaman penglihatan, kepekaan kontras dan kecepatan persepsi
Tanda-tanda tersebut di atas terjadi bila iluminasi tempat kerja berkurang dan pekerja
yang bersangkutan menderita kelainan reflaksi mata yang tidak dikoreksi. Bila persepsi visual
mengalami stress yang hebat tanpa disertai efek lokal pada otot akomodasi atau retina maka
keadaan ini akan menimbulkan kelelahan syaraf
1. Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang membeda-bedakan barang-barang kecil yang
agak teliti seperti :
a. Pekerjaan mesin dan bubut yang kasar.
b. Pemeriksaan atau percobaan kasar terhadap barang-barang
c. Menjahit tekstil atau kulit yang berwarna muda
d. Perusahaan dan pengawasan bahan-bahan makanan dalam kaleng
e. Pembungkusan daging Harus paling sedikit mempunyai kekuatan 200 luks.
2. Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan pembedaan yang teliti daripada barang- barang
kecil dan halus harus paling sedikit mempunyai kekuatan 300 luks.
3. Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan membeda-bedakan barang halus dengan kontras
yang sedang dan dalam waktu yang lama harus mempunyai kekuatan antara 500-1000 luks.
4. Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan membeda-bedakan barang-barang yang sangat halus
dengan kontras yang sangat kurang untuk waktu yang lama harus mempunyai kekuatan paling
sedikit 2.000 luk

8 Pengendalian bahaya Pencahayaan


Pencegahan kelelahan :
1. Perbaikan kontras : dengan memilih latar penglihatan yang tepat
2. Meninggikan penerangan : menambah jumlah dan meletakkan penerangan pada daerah kerja.
3. Pemindahan tenaga kerja : pekerja muda pada shift malam
Penanggulangan resiko pencahayaan
1. Optimalkan pencahayaan alami
a. Cahaya alami adalah yang terbaik dan merupakan sumber cahaya yang murah, sehingga
akan menghemat biaya.
b. Pemerataan cahaya dalam tempat kerja dapat ditingkatkan melalui cahaya alami, hal ini
terbukti dapat meningkatkan efisisiensi dan kenyamanan naker.
c. Penggunaan cahaya alamiah merupakan gerakan ramah lingkungan
2. Gunakan warna cerah pada dinding dan langit langit
a. Perbedaan warna akan memberikan perbedaan pantulan. Pantulan terbesar pada warna
putih (90%), terendah pada warna hitam
b. Dinding dan langit2 yang cerah akan menghemat energi karena dg sedikit cahaya dapat
meningkatkan penerangan kamar
c. Dinding dan langit2 yang cerah akan membuat ruangan menjadi nyaman, sehingga
kondusif untuk bekerja efisien
d. Permukaan warna cerah penting dalam pekerjaan teliti dan
3. Terangi lorong, tangga, turunan
a. Tempat gelap menyebabkan kecelakaan, apalagi pada pemindahan barangbarang
b. Tangga, balik pintu dan gudang cenderung terlindung dan gelap karena tidak terjangkau
sinar matahari, sehingga perlu perhatian pada daerah ini
c. Penerangan yang memadai pada tempat-tempat ini akan mencegah kerusakan bahan dan
4. Pencahayaan merata mengurangi perubahan cahaya
a. Perubahan pandangan dari terang ke gelap memerlukan adaptasi mata dan membutuhkan
waktu serta menimbulkan kelelahan
b. Bekerja menjadi lebih nyaman dan efisien pada ruangan dengan variasi penerangan kecil
c. Penting untuk mencegah kelap-kelip, karena melelahkan mata
d. Bayangan pada permukaan benda kerja menyebabkan hasil kerja buruk, produktifitas
rendah, gangguan & kelelahan mata,dan kecelakaan
5. Penerangan yang memadai menjadikan pekerjaan efisien dan nyaman sepanjang waktu
a. Penerangan memadai meningkatkan kenyamanan pekerja dan ruang kerja
b. Penerangan memadai mengurangi kesalahan dan kecelakaan
c. Penerangan yang memadai dan pas akan membantu pekerja mengawasi benda kerja
secara cepat dan rinci sesuai tuntutan tugas
6. Pasang penerangan lokal untuk pekerjaan teliti dan pemeriksaan
a. Dibanding dengan pekerjaan produksi dan kantor, pekerjaan presisi dan pemerikaan
memerlukan lebih banyak penerangan
b. Penerangan lokal yang memadai akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi
c. Kombinasi penerangan utama dan lokal akan diperoreh penerangan memadai dan
mengurangi gangguan akibat adanya bayangan
7. Pindahkan sumber cahaya atau pasang tabir untuk mengurangi silau
a. Silau langsung atau pantulan mengurangi daya lihat orang
b. Silau menyebabkan tidak nyaman dan kelelahan mata
c. Banyak cara menguranginya silau
8.Pindahkan benda mengkilap agar tidak menyilaukan
a. Silau tidak langsung sama dengan silau langsung dapat mengurangi daya lihat tenaga
kerja
b. Membuat kurang nyaman dan kelelahan mata
9. Bersihkan jendela dan pelihara sumber penerangan
a. Penerangan yang kotor dan tidak terpelihara akan mengurangi pencahayaan
b. Pemeliharaan dan kebersihan akan menghemat energi
c. Pemeliharaan akan menambah umur bola lampu
BAB III

PENUTUP

1 Kesimpulan
Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan secara efektif. Nilai Pencahayaan yang dipersyaratkan oleh Kep-Menkes
RI No. 1405/Menkes/SK/XI/2002 yaitu minimal 100 lux. Penerangan yang buruk di lingkungan
kerja akan menyebabkan hal-hal sebagai berikut :
a. Kelelahan dan ketidaknyamanan pada mata yang akan mengakibatkan kurangnya daya
efesiensi kerja.
b. Kelelahan mental yang akan berpengaruh pada kelelahan fisik.
c. Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata.
d. Kerusakan alat penglihatan (mata).
e. Meningkatnya kecelakaan kerja.
Untuk pencegahan kelelahan mental oleh upaya mata yang berlebihan, perlu diusahakan :
a. Perbaikan kontras: cara ini termudah dan tersederhana, serta dilakukan dengan memilih
latar penglihatan yang tepat. Akan tetapi, bahwa kontras selalu ditentukan oleh sifat-
sifat bahan yang tidak dapat diubah atas permintaan tenaga kesehatan.
b. Meninggikan pencahayaan : biasanya penerangan harus sekurang-kurangnya 2 kali
dibesarkan. Dalam berbagai hal, masih perlu dipakai lampu-lampu di daerah kerja untuk
lebih memudahkan penglihatan.
c. Pemindahan tenaga kerja dengan visus yang setinggi-tingginya. Kerja malam harus
dikerjakan oleh tenaga kerja berusia muda, yang apabila usianya bertambah, dapat
dipindahkan kepada pekerjaan yang kurang diperlukan ketelitian.
2 saran
Saran yang dapat penulis berikan pada pembaca makalah ini yaitu kiranya pembaca makalah
ini bisa mengetahui dengan jelas tentang keselamatan kerja keperawatan agar dapat berguna bagi
kehidupan para pembaca makalah ini, dan kiranya pembaca makalah ini bisa mengkritik dan
memperbaiki cara penulisan atau penyusunan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Suma’mur, PK. 2010. Higiene


Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: CV Sagung Seto. Tarwaka. 2011. Ergonomi untuk
Keselamatan Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surakarta: Universitas Islam Batik. Anggoro, S.
2011. Pengembangan Model Pengaruh Faktor Faktor Keselamatan, Kesehatan, Lingkungan, Dan
Insentif Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja Dengan Metode Structural Equation Modeling.
Tesis.Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya. Dewinta Grahanintyas, Sritomo
Wignjosoebroto, dan Effi Latiffianti Analisa Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Dalam
Meningkatkan Produktivitas Kerja (Studi Kasus: Pabrik Teh Wonosari PTPN XII) Jurusan
Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6