Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN BEST PRACTICE PROGRAM PKP

(PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN)


BERBASIS ZONASI

DISUSUN OLEH :
AAN MULYATI, S.Pd

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPTEN LEBAK


TAHUN 2019
LEMBAR PENGESAHAN
Nama : AAN MULYATI, S.Pd.
Asal Sekolah : SD NEGERI I CIPANAS
Telah disetujui dan disahkan pada/oleh : Kepala Sekolah
Hari : Sabtu
Tanggal : 02 Nopember 2019

Kepala SD NEGERI 1 CIPANAS

SRI MULATINI S.Pd.SD


NIP. 19601219791219122003
BIODATA PENULIS
Nama : AAN MULYATI, S.Pd.
NIP : 197412022008012003
NUPTK : 4534753655300043
Jabatan : Guru Kelas
Pangkat/Gol Ruang : Penata/111 C
Tempat, tanggal lahir : Lebak, 12 Desember1974
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : S.1 PGSD
Unit Kerja : SD NEGERI 1 CIPANAS
Alamat Rumah : Kp. Babakan Pedes Rt. 09 Rw. 01
Ds. Sipayung Kec. Cipanas Kab. Lebak

Cipanas, 02 Nopember 2019


Penulis

AAN MULYATI, S.Pd.


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt. Yang telah memberikan rahmat dan
hidayah kepada kita semua sehingga penyusunan dan pelaksanaan Best Practice ini
dapat terselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Best Practice
merupakan laporan uraian hasil pengalaman nyata seorang guru dalam
memecahkan masalah yang dijumpai sesuai dengan tujuan pembelajaran dan
memiliki nilai bermanfaatan baik secara langsung untuk guru itu sendiri atau tidak
langsung meliputi (peserta didik, masyarakat, Rekan sejawat lain nya). Best
practice juga berisi cara pembaharuan atau berinovasi untuk meningkatkan sebuah
pembelajaran di lingkungan sekolah bagi guru itu sendiri.

Dalam penyusunan Best Practice penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terimakasih
kepada
1. Kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Lebakgedong atas
bimbingan dan arahannya

2. Kepala Sekolah SDN I Cipanas yang telah memberi izin, kesempatan dan
kepercayaan kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini seluas-
luasnya

3. Semua rekan guru di SDN I Cipanas yang telah memberikan bantuan


selama proses penelitian sampai dengan terwujud dalam bentuk best
practice ini.

4. Istri dan anak-anak yang selalu memberikan dukungan baik dalam bentuk
doa dan memberikan kekuatan dalam setiap langkah.

5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan berupa apapun dalam menyelesaikan best practice
ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan Best Practice ini masih terdapat banyak
kekurangan dan kelemahan di dalamnya. Sehingga, saran, dan kritikan dapat
menjadikan penulis untuk lebih baik, demi kesempurnaan penyusunan Best Practice
selanjutnya. Terima kasih.
DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL .....................................................................................


HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................
BIODATA PENULIS ................................................................................
KATA PENGANTAR ...............................................................................
DAFTAR ISI .............................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................
A. Latar Belakang Masalah ................................................................
B. Jenis Kegiatan ................................................................................
C. Dasar Hukum .................................................................................
D. Manfaat Kegiatan ..........................................................................

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN ...................................................


A. Tujuan dan Sasaran ........................................................................
B. Bahan/Materi Kegiatan ..................................................................
C. Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan ...........................................
D. Alat/Instrumen ...............................................................................
E. Waktu dan Tempat Kegiatan .........................................................

BAB III HASIL KEGIATAN ....................................................................


A. Hasil ...............................................................................................
B. Masalah Yang Dihadapi ................................................................
C. Cara Mengatasi Masalah ...............................................................

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ........................................................


A. Simpulan ........................................................................................
B. Rekomendasi .................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................


LAMPIRAN ..............................................................................................
BAB I.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Guru adalah sumber daya manusia di sekolah, bahkan merupakan tumpuan
utama peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Dalam rangka menjaga mutu
SDM (guru) maka dalam kegiatan manajamen SDM dapat menerapkan beberapa
cara, antara lain melalui penerapan fungsi manajerial dan fungsi operasional
dalam manajemen sumber daya manusia (MSDM). Fungsi manajemen
seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Sedangkan
fungsi operasional seperti pengadaan, fungsi pengembangan, fungsi kompensasi,
fungsi intergrasi dan fungsi pemeliharaan (Wukir, 2013: 52). Fungsi-fungsi
tersebut diterapkan harus melihat kondisi yang ada di sekolah, karena bagi sekolah
negeri masalah pengadaan bukan menjadi wilayah kerja sekolah. Hal ini
disebabkan sistem sekolah negeri pengadaan pegawai merupakan kewenangan
pemerintah, dan pihak sekolah perlu memperhatikan fungsi yang lain
terutama fungsi pengembangan, fungsi kompensasi, fungsi intergrasi dan
fungsi pemeliharaan. Fungsi-fungsi tersebut lebih fokus penekanan pada
peningkatan SDM guru karena guru adalah agent of change di sekolah.

Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan keprofesian, karena untuk


menjadi guru yang profesional seseorang harus menempuh pendidikan profesi.
Seperti yang tercantum pada UU No.1 4 Tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal
1 butir 1 disebutkan bahwa:“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”Guru yang
profesional memiliki empat kompetensi, yaitu meliputi kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (UU RI No. 14 Tahun 2005
pasal 10 butir 1).

Seorang guru yang profesional merupakan sumber daya manusia yang unggul,
karena guru yang profesional memiliki ciri-ciri, antara lain: (1) memiliki
keahlian mendidik dalam bidangnya, (2) memiliki rasa tanggung jawab
yang berkomitmen dan peduli terhadap tugasnya, dan (3) memiliki rasa
kesejawatan, menghayati tugasnya sebagai guru serta mampu menjaga kode
etik profesinya (Sahartien, 2010: 2).Dalam rangka mewujudkan guru yang
profesional perlu adanya kegiatan peningkatan mutu guru.

Adapun cara meningkatkan mutu guru dapat melalui beberapa cara seperti
menerapkan fungsi pengembangan, pembinaan, kompensasi dan fungsi
pengawasan (supervisi). Supervisi menurut Suhardan (2010) adalah pengawasan
terhadap kegiatan akademik yang berupa proses belajar mengajar, pengawasan
terhadap guru dalam mengajar, pengawasan terhadap murid yang belajar dan
pengawasan terhadap situasi yang menyebabkannya. Pengawasan dalam
pendidikan merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok guru agar mampu
meningkatkan potensinya sehingga benar-benar menjadi sumber daya manusia
di sekolah yang profesional secara berkesinambungan. Adapun pelaksanaan
kegiatan supervisi di sekolah, sepenuhnya menjadi tanggung jawab kepala
sekolah, karena salah satu tugas pokok kepala sekolah adalah sebagai
supervisor.

Fenomena yang terjadi di sekolah kita mengajar yang berkaitan dengan


aktivitas guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya adalah sebagai
berikut: 1) sebagian besar guru masih menerapkan pembelajaran yang konvesional
dengan metode ceramah, tanya jawab, pemberian tugas; 2) minat dan motivasi
guru dalam inovasi yang masih rendah, hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap
guru yang cenderung apatis dengan adanya berbagai pembaharuan, dan merasa
nyaman dengan kondisi rutinitas; 3) dalam melaksanakan pembelajaran guru
jarang menggunakan media, sehingga pembelajaran cenderung membawa siswa
hanya untuk membayangkan apa yang dipelajari (pembelajaran kurang nyata/riil);
4) guru sering tidak mengerjakan administrasi akademik (RPP dibuat dengan
mengcopy milik orang lain, adminisrasi penilaian dan jurnal pembelajaran belum
3terdokumentasi dengan baik 5) guru sering meninggalkan kelas saat jam mengajar
dan hadir tidak tepat waktu pada jam mengajar,6) supervisi dilaksanakan satu kali
dalam satu semester dengan tujuan hanya untuk kepentingan administrasi PKG,
tanpa disertai tindak lanjut.

Berdasar informasi sementara dari kepala sekolah, guru dan siswa,


permasalahan tersebut disebabkan adanya beberapa hal yang menghambat, antara
lain: 1) kepengawasan (supervisi) terhadap kinerja guru dari atasan yang masih
kurang karena masih terbatas pada kepentingan PKG; 2) masih banyak guru yang
kurang mendukung terhadap guru-guru yang mau dan mampu berinovasi;
3) fasilitas multi media yang belum tersedia secara merata di semua
kelas.

Hambatan-hambatan tersebut perlu untuk segera diatasi, jika tidak segara


diatasi akan berpengaruh pada kinerja guru dan dampak selajutnya dapat
berpengaruh pada mutu lulusan/siswa sebagai muara dari kegiatan pendidikan.

Berdasar hal tersebut dapat dikategorikan kinerja guru sebagai sumber


daya manusia utama dalam pendidikan masih rendah. Padahal tuntutan yang
ada guru adalah agent of change, dan menjadi seorang yang benar-benar
profesional dalam bidangnya demi terwujudnya pendidikan yang bermutu.
Sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut, kepala sekolah selaku
manajer SDM telah melakukan kegiatan yang mampu mewujudkan
tercapainya sumber daya manusia yang bermutu melalui kegiatan supervisi.
Keberhasilan kepala sekolah dalam hal kegiatan supervisi ini, merupakan
suatu prestasi kerja yang dapat disebut sebagai best practice, oleh sebab itu
penulis akan mendokumenasikan keberhasilan kepala sekolah ini dengan laporan
yang berjudul “ Best Prectice Implementasi Supervisi Akademik untuk
Meningkatkan Sumber Daya Manusia.

B. Jenis kegiatan
Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran, selanjutnya akan disingkat
dengan Program PKP, merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan
kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan,
sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan
berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Program ini
merupakan bagian dari program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang
diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi
Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) adalah pengembangan


kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap,
berkelanjutan untuk meningkatkan keprofesiannya. Pada Program PKB terdahulu
yang dikembangkan oleh Ditjen GTK sebelumnya, yang didasarkan pada hasil Uji
Kompetensi Guru, berfokus pada peningkatan kompetensi guru khususnya
kompetensi pedagogi dan profesional. Sedangkan Program PKP lebih berfokus
pada upaya mencerdaskan siswa melalui pembelajaran berorientasi keterampilan
berpikir tingkat tinggi. Penyelenggaraan program PKP Berbasis Zonasi.

Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi merupakan


salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan dalam hal ini peserta
didik. Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang
menekankan pembelajaran berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau
Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,


membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Guru profesional memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan
prestasi peserta didik. Untuk senantiasa menjaga profesionalitasnya, guru harus
senantiasa meng-update dirinya dengan melakukan pengembangan keprofesian
berkelanjutan. Jika program pengembangan keprofesian berkelanjutan yang
dikembangkan oleh Ditjen GTK sebelumnya, yang didasarkan pada hasil Uji
Kompetensi Guru, berfokus pada peningkatan kompetensi guru khususnya
kompetensi pedagogik dan profesional, maka Program PKP Berbasis Zonasi lebih
berfokus pada upaya memintarkan siswa melalui pembelajaran berorientasi
keterampilan berpikir tingkat tinggi.

C. Dasar Hukum
Program PKP dikembangkan dengan memperhatikan beberapa peraturan sebagai
berikut.
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen.
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang
Guru sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun
2008 tentang Guru.

5. Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan


Karakter.
6. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya.
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12
Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Pengawas Sekolah/Madrasah.
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13
Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah.
9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16
Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27
Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi
Konselor.
11. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 32
Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
Pendidikan Khusus.
12. Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun
2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.
13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik IndonesiaNomor
57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 SD/MI.
14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.
15. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan
Menengah.
16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah.
17. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
19. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran
Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
20. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah.
21. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan
Pendidikan.
22. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan SMK/MAK.
23. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
35 Tahun 2018 tentang Struktur Kurikulum 2013 SMP/MTs.
24. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
36 Tahun 2018 tentang Struktur Kurikulum 2013 SMA/MA.
25. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
37 Tahun 2018 tentang KI dan KD Jenjang SD, SMP, SMA.
26. Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor
10/D/KR/2017 tentang Struktur Kurikulum, Kompetensi Inti, Kompetensi
Dasar, dan Pedoman Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Khusus.
27. Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor
06/D.D5/KK/2018 tentang Spektrum Keahlian SMK/MAK.
28. Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor
07/D.D5/KK/2018 tentang Struktur Kurikulum SMK/MAK.

C. Manfaat kegiatan
Manfaat Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Manfaat pengembangan keprofesian berkelanjutan yang terstruktur, sistematik dan
memenuhi kebutuhan peningkatan keprofesian guru adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peserta Didik. Dengan adanya pelaksanaan PKB, maka peserta didik
memperoleh jaminan pelayanan dan pengalaman belajar yang efektif.
2. Bagi Guru. Kepada guru dengan melaksanakan PKB (pengembangan
keprofesian berkelanjutan) akan dapat memenuhi standar dan
mengembangkan kompetensinya sehingga mampu melaksanakan tugas-
tugas utamanya secara efektif sesuai dengan kebutuhan belajar peserta
didik untuk menghadapi kehidupan di masa datang.
3. Bagi Sekolah/Madrasah. Sekolah/Madrasah akan mampu memberikan
pelayanan pendidikan yang lebih baik dan berkualitas bagi peserta didik.
4. Orang tua/masyarakat memperoleh jaminan bahwa anak mereka
mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan pengalaman belajar
yang efektif.
5. Bagi Pemerinta, dengan adanya PKB akan memberikan jaminan kepada
masyarakat tentang layanan pendidikan yang berkualitas dan profesional.
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Tujuan dan sasaran


Tujuan Sejalan dengan pengertian di atas, zona peningkatan kompetensi
pembelajaran bertujuan untuk :
1. Mewujudkan pemerataan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan.

2. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas peningkatan kompetensi


pembelajaran, di mana kegiatan dilakukan secara terintegrasi dalam satu
area wilayah dengan mempertimbangkan jarak, akses, dan volume guru
yang ikut serta.
3. Memudahkan dalam melakukan pemetaan kompetensi, kinerja, serta
aktivitas guru.

4. Memudahkan dalam melakukan pembinaan terhadap program peningkatan


kompetensi guru sesuai dengan hasil pemetaan yang dilakukan.

5. Memudahkan dalam melakukan supervisi dan koordinasi peningkatan


kompetensi pembelajaran.

Mekanisme Penetapan Zona Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Penetapan


zona peningkatan kompetensi pembelajaran dilakukan dengan mempertimbangkan
rambu-rambu berikut:

1. Penetapan zona didasarkan pada pengklasifikasian setiap Satuan Pendidikan


menurut definisi/tema zonasi yang akan disusun.
2. Penentuan sekolah nominasi pusat zona mempertimbangkan indikator skala
nasional, yaitu Akreditasi Sekolah, serta indikator kontrol yang mencakup
hasil Ujian Nasional (UN), Uji Kompetensi Guru (UKG), dan Hasil
Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP). Pada tahap ini, pertimbangan
terhadap dukungan sarana dan prasarana dan dukungan peningkatan
kompetensi guru menjadi pertimbangan utama. Pertimbangan terhadap
dukungan sarana dan prasarana harus mempertimbangkan kelayakan ruang
kelas, laboratorium komputer dan laboratorium lainnya, sumber listrik,
internet, pelaksana UNBK, sanitasi, perpustakaan, dan sarana pendukung
lainnya. Sementara itu, untuk pendukung proses belajar mengajar harus
mempertimbangkan faktor-faktor guru yang sudah berkualifikasi,
bersertifikasi, guru yang mengajar minimal 24 jam, serta faktor lainnya.
3. Perancangan program peningkatan kompetensi pembelajaran yang ada di
zona yang telah ditetapkan harus mempertimbangkan karakteristik satuan
pendidikan, baik jarak, akses, maupun jumlah dan sebaran guru.

4. Pemantauan terhadap wilayah-wilayah zonasi melalui pemberdayaan


PKG/KKG/MGMP/MGBK dengan sekolah pusat zona sebagai basis
kelompok/zona

B. Bahan / Materi Kegiatan


Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) merupakan program
yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru
dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran
yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking
Skills/HOTS).

Program ini merupakan bagian dari program Pengembangan Keprofesian


Berkelanjutan (PKB). PKB merupakan pengembangan kompetensi guru yang
dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk
meningkatkan keprofesiannya.

Dalam mengikuti program ini, guru harus mempelajari beberapa materi yang
telah disiapkan. Berikut kami bagikan beberapa materi yang dipelajari oleh guru-
guru guna mempersiapkan diri dalam mengikuti Program PKP berbasis Zonasi.

Kumpulan materi PKP Berbasis Zonasi Guru SD 2019:


Membuat LK 3 berupa in-2

LK-3. format desain pembelajaran berdasarkan model pembelajaran

LK-4. penilaian berorientasi hots

LKk-5. pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran

LK-6 reviu rpp

LK-7 jurnal praktek mengajar

Adapun bahan yang digunakan dalam praktik baik pembelajaran ini adalah materi
kelas 2 untuk tema hidup rukun yang merupakan pembelajaran tematik Bahasa
indonesia berikut ini
A. Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi

No KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN


KOMPETENSI
Kompetensi Pengetahuan Bahasa Indonesia
3.1 Merinci ungkapan IPK Pendukung
ajakan, perintah, penolakan
1.1.1 Memahami makna ungkapan
yang terdapat dalam teks
cerita atau lagu yang IPK Kunci
menggambarkan sikap
hidup rukun 3.1.1. Menunjukkan ungkapan yang terdapat
pada teks cerita dengan tepat.
3.1 Menjelaskan makna
bilangan cacah dan 3.1.2 menjelaskan arti dari ungkapan yang
menentukan lambangnya ditemukan dalam teks cerita
bedasarkan nilai tempat Matematika
dengan menggunakan
model konkrit serta cara 3.1.1 Membaca lambang bilangan cacah
membacanya berdasarkan nilai tempat dengan
menggunakan model konkret
3.1.2 Menentukan lambang bilangan cacah
berdasarkan nilai tempat dengan
menggunakan model konkret

Kompetensi Keterampilan Bahasa Indonesia


4.11.Menirukan ungkapan 4.1.1. Mengucapkan ungkapan yang
,ajakan perintah penolakan terdapat pada teks percakapan
dalam cerita atau lagu anak- dengan tepat
anak dengan bahasa yang
4.1.2. Menuliskan arti ungkapan yang
santun
ditemukan dalam teks cerita
4.1Menyajikan bilangan
Matematika
cacah sampai dengan 99
yang bersesuaian dengan 4.1.1. Membaca lambang bilangan
banyak anggota kumpulan sampai dengan 999 dengan tepat
objek yang disajikan.
4.1.2. menuliskan lambang bilangan
sampai dengan 999 dengan tepat
C. Metode / cara melaksanakan kegiatan
Saat ini, pemerintah melalui Dirjen GTK Kemdikbud sedang melaksanakan
program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran atau PKP, dengan sasaran para
guru pada semua jenjang. Akibatnya, banyak guru kini berusaha mencari informasi
perihal PKP itu sendiri. Sehingga nantinya para guru peserta ini sedikit banyak tahu
apa saja yang perlu dilakukan saat mengikuti program ini.
PKP Berbasis Zonasi adalah kegiatan proses pembelajaran dan peningkatan
kompetensi guru melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan,
sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan
berpikir tingkat tinggi dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa.
Pelaksanaan PKP Berbasis Zonasi dilakukan secara tatap muka dengan pola In-
On-In, dimana kegiatan pembelajarannya dilakukan sebagian secara tatap muka dan
sebagian dilakukan secara mandiri. Kegiatan In-Service Learning (In) adalah
pembelajaran melalui kegiatan tatap muka antara peserta dengan Guru Inti (GI)
sebagai fasilitator.
Sementara itu, kegiatan On-the-Job Learning (On) adalah kelanjutan proses
pembelajaran dari kegiatan In. Pada tahap On, peserta melakukan pendalaman
materi dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan pada saat In.
Pelaksanaan Program PKP Berbasis Zonasi bagi guru sasaran menggunakan pola
82 Jam Pelajaran (JP) @45 menit.
Struktur Program PKP
Pola Pembelajaran
Program PKP Berbasis Zonasi dilaksanakan dengan pola pembelajaran In-On-In.
a. Pelaksanaan In (in service learning)
Pada kegiatan In, peserta dan fasilitator akan melakukan pertemuan tatap
muka di pusat zona atau tempat kegiatan yang telah ditetapkan. Selama kegiatan
ini, partisipasi dan sikap peserta selama kegiatan berlangsung dinilai oleh fasilitator
sebagai salah satu unsur penilaian kegiatan PKP Berbasis Zonasi. Hasil yang
diharapkan selama kegiatan In disesuaikan dengan materi yang disampaikan, baik
teori maupun praktik, serta tagihan yang harus dikerjakan oleh peserta.
b. Pelaksanaan On (on the job learning)
Peserta On adalah guru yang telah mengikuti kegiatan In-1 dan In-2. Setiap
kegiatan On dilakukan di sekolah tiap-tiap peserta selama sekitar 1 minggu atau
setara dengan 10 jam pelajaran, dengan asumsi 2JP/hari. Hasil yang diharapkan
selama kegiatan On disesuaikan dengan praktik yang harus dilakukan peserta, serta
tagihan yang harus dikerjakan selama kegiatan On.
Peserta pada program PKP Berbasis Zonasi harus berperan aktif dalam seluruh
proses pembelajaran, antara lain:
1. Mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sesuai jadwal yang ditetapkan.
2. Melaksanakan proses pembelajaran secara aktif dan berkomitmen tinggi.
3. Melaksanakan pembelajaran secara kolaboratif.
4. Berbagi pengalaman kepada peserta lain.
5. Mencari jawaban terhadap permasalahan melalui berbagai sumber antara
lain melalui internet, buku, dan lain-lain.
6. Mengungkapkan permasalahan terkait pembelajaran yang dihadapi.
7. Menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran (tagihan) yang ditetapkan.
c. Penilaian
Pada Program PKP Berbasis Zonasi, komponen yang dinilai meliputi
proses kegiatan pelatihan dan produk atau hasil belajar. Berdasarkan pada hasil
penilaian proses dan penilaian produk, maka fasilitator dan Pengawas Sekolah akan
melakukan penilaian secara menyeluruh kepada peserta dengan menggunakan
format Penilaian Kompetensi.
Peserta dinyatakan KOMPETEN jika:
1. Memenuhi minimal kehadiran 90% dari seluruh kegiatan In;
2. Memperoleh penilaian proses dengan nilai minimal baik;
3. Telah mengerjakan dan menyelesaikan semua tagihan-tagihan yang telah
diberikan;
4. Dinyatakan KOMPETEN oleh fasilitator dan pengawas sekolah.
Jika pada akhir kegiatan peserta dinyatakan belum kompeten, maka yang
bersangkutan diberi kesempatan untuk menyelesaikan semua tagihan selama satu
minggu.
d. Pemilihan model pembelajaran
Model pembelajaran yang dipilih adalahProblem based learning (PBL)
e. Merancang Kegiatan pembelajaran Sesuai dengan Model
pembelajaran Pengembangan desain pembelajaran Dilakukan
dengan merinci kegiatan pembelajaran yang dilakukan sesuai
dengan sintak PBL.
Berikut ini adalah rencana kegiatan pembelajaran yang dikembangkan
berdasarkan model PBL.
Sintak Model
Guru Siswa
Pembelajaran
Orientasi Masalah 1) Guru menyampaikan 1) Menyimak
ilustrasi bahwa diban- penjelasan guru dan
dingkan kehidupan-nya pada menjawab pertanyaan
masa kecil, saat ini dunia guru.
sudah berkembang menjadi
modern.
2) Guru mengajukan
pertanyaan, “Apa yang
kalian ketahui tentang
modern dan modernisasi?
3) Guru meminta siswa
membaca teks eks-planasi
tentang pengertian
modernisasi.
4) Bertanya jawab untuk
menyimpulkan pengertian
modernisasi termasuk
membuka kBBI.
5) Guru menyampaikan
tujuan materi pem-belajaran
hari itu adalah membuat
ring-kasan teks ekspla-
nasi; Menganalisis
perubahan budaya dalam
rangka modern isasi bangsa
Indonesia.
6) Guru menyampaikan
bahwa kegiatan beri kutnya
siswa ditu-gaskan untuk
menyimak tayangan video
tentang perubahan budaya.
7) Guru menyampaikan
tugas siswa yaitu (a)
menentukan pokok-pokok
informasi terkait yang
terdapat dalam video (teks
audio visual), (b)
mengidenti-fikasi kalimat
tidak efektif yang digunakan
dalam video’ (c) membenahi
kalimat tidak efektif menjadi
kalimat efektif, (d)
mengidentifikasi kosa kata
baru dalam video, (e)
menemukan makna kosa
kata baru dengan
menggunakan Kamus Besar
Bahasa Indo-nesia, (f)
membuat ringkasan isi video
dengan menggunakan
kalimat efektif, (g)
menjawab pertanyaan yang
disediakan dalam LKS, (g)
mengiden-tifikasi contoh
peru-bahan sosial budaya
dalam rangka modern-isasi
yang terdapat dalam video.
Mengorganisasi 1) Guru membagi siswa
dalam beberapa kelompok.
Setiap kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 45
orang.
2) Setiap kelompok
mengerjakan tugas yang
telah dijelaskan oleh guru.
Membimbing 1) Guru membimbing
penyelidikan siswa menyelesaikan
tugasnya.
2) Guru memberi ban-
tuan dan atau menja-wab
pertanyaan dari siswa bila
dibutuhkan.
Mengembangkan Mendampingi siswa dalam 1) Menyusun laporan
dan menyajikan mengembangkan dan hasil kerja kelompok.
laporan hasil karya menyajikan laporan hasil 2) Mempresentasikan
kerja. hasil kerjanya dalam
diskusi kelas.
3) Kelompok lain
memberikan tang-gapan,
mengajukan pertanyaan,
atau usul terhadap hasil
kerja kelompok lain.
Menganalisis dan 1) Menganalisis dan 1) Menyimak
mengevaluasi mengevaluasi hasil kerja penjelasan guru.
proses pemecahan siswa. 2) Mengajukan
masalah. 2) Memberi penguatan pertanyaan dan atau
hasil belajar siswa.
tanggapan bila belum
paham.
Pembelajaran setelah istirahat
Orientasi Masalah 1) Guru menyampai kan 1) Menyimak
bahwa agar dapat hidup penjelasan guru.
sesuai dengan perubahan 2) Menjawab
zaman yang terjadi (moder pertanyaan guru.
nisasi), seseorang harus
mampu bera-daptasi. Bila
tidak, orang tersebut akan
tergilas zaman. Begitu pun
dengan tumbuhan dan
binatang. Mereka juga harus
mampu beradaptasi.
2) Guru mengajukan
pertanyaan, “Dapatkah
kalian memberi contoh cara
kita beradaptasi dengan
lingkungan?
Guru menyampaikan tugas
siswa berikutnya adalah
menganalisis cara mahluk
hidup beradaptasi dengan
lingkungannya.
Mengorganisasi Guru meminta siswa 1) Duduk dalam
kembali duduk bersama kelompoknya.
kelompoknya untuk 2) Membagi tugas.
mengerjakan tugas
kelompok.
Membimbing 1) Menyajikan video 1) Menyimak
penyelidikan tentang cara mahluk hidup tayangan video.
beradaptasi dengan 2) Membuat catatan
lingkungannya. penting sesuai dengan
2) Mendampingi siswa tugas yang harus
mengerjakan tugas dikerjakan.
kelompoknya.
Mengembangkan Mendampingi siswa 1) Mendiskusikan
dan menyajikan menyelesaikan kerja hasil simakan.
laporan hasil karya kelompoknya. 2) Mengerjakan tugas
yang disajikan dalam
LKS.
3) Mempresentasikan
hasil kerja kelompok.
4) Menanggapi
presentasi kelompok lain.
Menganalisis dan 1) Menganalisis dan 1) Menyimak
mengevaluasi mengevaluasi hasil kerja penjelasan guru.
proses pemecahan kelompok. 2) Mengajukan
masalah. 2) Memberi pertanyaan bila belum
penguatan hasil belajar paham.
siswa.
3) Membimbing siswa
membuat simpulan hasil
belajar hari itu mulai dari
teks eksplanasi, perubahan
sosial budaya dalam rangka
modernisasi, dan cara
mahluk hidup beradaptasi
dengan lingkungannya.

f. Penyusunan Perangkat Pembelajaran


Berdasarkan hasil kerja 1 higga 5 di atas kemudian disusun perangkat pembelajaran
meliputi RPP, bahan ajar, LKS, dan instrumen penilaian. RPP disusun dengan
mengintegrasikan kegiatan literasi, penguatan pendidikan karakter (PPK), dan
kecakapan abad 21.

D. Media dan Instrumen


Media pembelajaran yang digunakan dalam praktik terbaik ini adalah (a) contoh
teks ekplanasi berjudul “Pengaruh Globalisasi terhadap Masyarakat Indonesia”, (b)
video “Perubahan Sosial Budaya pada masa Modern”diambil
dari https://www.youtube.com/ watch?v=cx0DRUawd-, dan (c) lembar kerja siswa
(LKS) tematik.
Instrumen yang digunakan dalam praktik baik ini ada 2 macam yaitu (a) instrumen
untuk mengamati proses pembelajaran berupa lembar observasi dan (b) instrumen
untuk melihat hasil belajar siswa dengan menggunakan (a) tes tulis pilihan ganda
dan uraian singkat.

E. Waktu dan Tempat Kegiatan


Praktik baik ini dilaksanakan pada tanggal 14 sampai 26 tahun 2019 bertempat di
kelas 2 SD Negeri 1 Cipanas

F. Pelaksanaan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis


Zonasi
Mekanisme Pelaksanaan Pelaksanaan Program PKP Berbasis Zonasi dirancang
dalam bentuk pelatihan berjenjang mulai dari Pembekalan Narasumber Nasional,
Instruktur Nasional. Alur Implementasi Program PKP Berbasis Zonasi Setiap unsur
yang terlibat pada Program PKP Berbasis Zonasi dengan alur tahapan Implementasi
Program PKP Berbasis Zonasi
Dan pelaksanaannya yaitu dilaksanakan setiap hari minggu dan bertempat di SD
Negeri 2 Maja Kabupaten Lebak Provinsi Banten.
BAB III
HASIL KEGIATAN
A. Hasil
Hasil yang dapat diilaporkan dari praktik baik ini diuraikan sebagai berikut.

1. Proses pembelajaran tematik yang dilakukan dengan menerapkan model


pembelajaran PBL berlangsung aktif. Siswa menjadi lebih aktif merespon
pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada guru maupun
temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang sesuai sintak PBL
megharuskan siswa aktif selama proses pembelajaran.

2. Pembelajaran tematik yang dilakukan dengan menerapkan model


pembelajaran PBL meningkatkan kemampuan siswa dalam
melakukan transfer knowledge. Setelah membaca, meringkas, dan
mendiskusikan teks eksplanasi tentang modernisasi, siswa tidak hanya
memahami konsep teks eksplanasi (pengetahuan konseptual) dan
bagaimana membuat ringkasan yang benar (pengetahuan prosedural), tetapi
juga memahami konsep modernisasi. Pemahaman ini menjadi dasar siswa
dalam mempelajari materi IPS tentang perubahan sosial budaya dalam
rangka modernisasi. Pemahaman tentang konsep moderisasi membantu
siswa dalam menganalisis prubahan sosial budaya sebagai akibat
moderisasi. Pemahaman siswa tetang perubahan sosial budaya dalam
rangka moderisasi pada dasarnya merupakan bentuk adaptasi masyarakat
terhadap modernisasi. Pemahaman ini dapat menjadi pengantar bagi siswa
untuk memahami cara mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungan.

3. Penerapan model pembelajaran PBL meningkatkan kemampuan siswa


untuk berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi siswa untuk
bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran. Dalam
pembelajaran sebelumnya yang dilakukan penulis tanpa berorientasi HOTS
suasana kelas cenderung sepi dan serius. Siswa cenderung bekerja sendiri-
sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus
guru adalah bagaimana siswa dapat menyelesikan soal yang disajikan;
kurang peduli pada proses berpikir siswa. Tak hanya itu, materi
pembelajaran yang selama ini selalu disajikan dengan pola deduktif (diawali
dengan ceramah teori tentang materi yang dipelajari, pemberian tugas, dan
pembahasa), membuat siswa cenderung menghapalkan teori. Pengetahuan
yang diperoleh siswa adalah apa yang diajarkan oleh guru. Berbeda
kondisinya dengan praktik baik pembelajaran tematik berorientasi HOTS
dengan menerapkan PBL ini. Dalam pembelajaran ini pemahaman siswa
tentang konsep teks eksplanasi, perubahan sosial budaya, dan cara mahluk
hidup menyesuaikan diri benar-benar dibangun oleh siswa melalui
pengamatan dan diskusi yang meuntut kemampuan siswa untuk berpikir
kritis.

4. Penerapan model pembelajaran PBL juga meningkatkan kemampuan siswa


dalam memecahkan masalah (problem solving). PBL yang diterapkan
dengan menyajikan teks tulis dan video berisi permasalahan kontekstual
mampu mendorong siswa merumuskan pemecahan masalah. Sebelum
menerapkan PBL, penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan buku
guru dan buku siswa. Meskipun permasalahan yang disajikan dalam buku
teks kadang kala kurang sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa, tetap
saja penulis gunakan. Jenis teks yang digunakan juga hanya pada teks tulis
dari buku teks. Dengan menerapkan PBL, siswa tak hanya belajar dari teks
tulis, tetapi juga dari video serta diberi kesempatan terbuka untuk mencari
data, materi dari sumber lainnya.

B. Masalah Yang Dihadapi


Masalah yang dihadapi terutama adalah siswa belum terbiasa siswa belajar
dengan model PBL. Dengan tujuan untuk mendapat nilai ulangan yang baik guru
selalu mengguakan metode ceramah, siswa pun merasa lebih percaya diri
menghadapi ulangan (penilaian) setelah mendapat penjelasan guru melalui
ceramah.

Masalah lainnya adalah guru tidak mempunyai kompetensi yang memadai untuk
membuat video pembelajaran. Padahal selain sebagai media pembelajaran,. Video
juga merupakan bentuk teks audiovisual yang juga harus disajikan sesuai dengan
rumusan KD.

C. Cara Mengatasi Masalah


Agar siswa yakin bahwa pembelajaran tematik dengan PBL dapat
membantu mereka lebih menguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan
sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada
keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking
skills/HOTS). Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya HOTS ajkan membuat
siswa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, kesadaran bahwa
belajar bukan sekadar menghafal teori dan konsep akan membuat siswa mau belajar
dengan HOTS.

Kekurangmampuan guru membuat video pembelajaran dapat diatasi dengan


mengunduh video sesuai dengan KD yang akan dibelajarkan baik dari youtube
maupun dari Rumah Belajar. Dengan demikian, selain menerapkan kegiatan literasi
baca = tulis, siswa juga dapat meningkatkan literasi digitalnya.
Aktivitas Kendala yang Pemecahan masalah
No. Hari/Tanggal Jenis Tagihan
Pembelajaran dihadapi yang dilakukan
1. Minggu IN I LK I Belum 1. Kerja kelompok
6/10/2019 pahamnya
1. Kebijakan program 2. Konsultasi dengan GI
pembelajaran
peningkatan
Instrumen yang
kompetensi
penilaian diri berorientasi
pembelajaran
HOTS
2. Integritas PPK dan
GLN dalam
pembelajaran
berbasis HOTS
3. Pembekalan kelas
pendampingan
Online
2. Minggu IN 2 IN 2 Kerja 1. Anggota yang super
13/10/2019 kelompok di hebat
1. Konsep dan LK 3 dan LK 4
luar IN susah
pendalaman materi 2. Mencoba bersabar
dilakukan
pembelajaran agar bisa mengupload
karena kendala
ON I jarak dimana
2. Desain
pembelajaran LK 3, LK 4, hanya alat
berbasis HOTS LK 5 komunikasi via
WA dan
3. Penilaian kendala signal
pembelajaran dan server
berorientasi HOTS
3. Minggu IN 3 IN 3 Kerja 1. Kerja kelompok
20/10/2019 kelompok yang melalui komunikasi
1. Reviu RPP unit 1 LK 6
tidak terwujud HP kalau ada masalah
2. Reviu desain LK 4d karena jarak yang susah maka
pembelajaran unit dan kendala kami tanyakan ke GI
2 server yang
2. Kami selalu berusaha
ON 2 super lelet
walau banyak kendala
(Maaf) LOLA
LK 7, LK 5 di signal dan harus
ekstra sabar
Jurnal OJL ke menghadapi server
2 yang banyak error

Secara keseluruhan sudah di jabarkan hal yang berkenaan dengan hasil yang
diperoleh termasuk kendala yang di hadapi
BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan
Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Peningkatan
Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi merupakan salah satu upaya
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan
Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
dan meningkatkan kualitas lulusan.

Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang


menekankan pada pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat
tinggi atau higher Order Thinking Skills (HOTS). Keterampilan berpikir tingkat
tinggi adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat
kesimpulan, membangun representasi, menganalisis dan membangun hubungan
dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar yang sebaiknya dimiliki oleh
seorang guru professional.

Guru profesional memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan


prestasi peserta didik. Penelitian menunjukkan bahwa 30% prestasi peserta didik
ditentukan oleh faktor guru. Dengan demikian maka guru harus senantiasa meng-
update dirinya dengan melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Jika program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang


dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
sebelumnya didasarkan pada hasil Uji Kompetensi Guru, berfokus pada
peningkatan kompetensi guru khususnya kompetensi pedagogi dan profesional,
maka Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi lebih
berfokus pada upaya memintarkan peserta didik melalui pembelajaran berorientasi
keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, serta pemerataan mutu pendidikan,


maka pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan,
atau dikenal dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan
Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD dan musyawarah guru mata
pelajaran (MGMP), dapat terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan
pemberdayaan guru. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu
pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai
kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan
mutu lainnya.

Semoga Unit Pembelajaran ini bisa menginspirasi guru untuk


mengembangkan materi dan melaksanakan pembelajaran dengan berorientasi pada
kemampuan berpikir tingkat tinggi.

B. Rekomendasi

Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan,


maka pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan,
atau dikenal dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan
Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD, atau musyawarah guru mata
pelajaran (MGMP) SMP/SMA/SMK, dan musyawarah guru bimbingan dan
konseling (MGBK), yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon, dapat
terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru. Zonasi
memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan
terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-
rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya. Petunjuk teknis ini
disusun sebagai acuan bagi para pihak yang berkepentingan dalam implementasi
Program PKP
DAFTAR PUSTAKA

Anneahira, Perkembangan IPA http://www.anneahira.com/perkembangan-ilmu-


pengetahuan-alam-13396.htm
Andayani dkk, (2008) Pemantapan Kemampuan Profesional, Buku Panduan
PDGK4501 Edisi 1, Universitas Terbuka, Jakarta
Anton M. Moeliano, (1989) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta
Desailmu, Metode Observasi http://desailmu.blogspot.com/2011/11/metode-
observasi.html
Gatot Muhsetyo, dkk (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Univeritas Terbuka,
Jakarta
Harnawan, Asep Herry, dkk (2008), Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran.
Universitas Terbuka, Jakarta.
Oliveoile, Pengamatan Cuaca http : // oliveoile.wordpress.com / 2008 / 02 / 21 /
pengamatan-cuaca/
Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 34 Tahun 2008 Tentang Penetapan Buku
Teks Pelajaran Yang Memenuhi Syarat Kelayakan Untuk Digunakan Dalam Proses
Pembelajaran
Sarjanaku, Hasil Belajar http://www.sarjanaku.com/2011/03/pengertian-definisi-
hasil-belajar.html
Sudjana (20050) Konsep Dasar Pendidikan, Nusantara Pers, Bandung
TIM.TAP.FKIP (2008), Panduan Tugas Akhir Program Sarjana FKIP, Universitas
Terbuka, Jakarta
Undang – Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidkan Nasional
www.binaanak.org Published in e-BinaAnak, 3 September 2008, Volume 2008, No.
398
LAMPIRAN
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP )

Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar


Mata Pelajaran : B.Indonesia,Matematika
(Tema/Sub Tema/PB untuk SD) : Hidup Rukun/1
Kelas/ Semester : II/ I
Materi Pokok : Tata Kalimat
Alokasi Waktu : 4X 35

A. Kompetensi Inti (KI)


Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli,percaya diri, dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga,
serta cinta tanah air.
Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif
pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya,dan mencoba berdasarkan rasa
ingin tahu tentang dirinya,makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, serta benda-
benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.
Menunjukkan keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produktif,kritis,
mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dalam bahasa yang jelas,sistematis, logis
dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat,
dan tindakan yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap
perkembangannya.

B. Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi


INDIKATOR PENCAPAIAN
No KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI
Kompetensi Pengetahuan Bahasa Indonesia
3.1 Merinci ungkapan IPK Pendukung
ajakan, perintah, penolakan
1.1.2 Memahami makna ungkapan
yang terdapat dalam teks
cerita atau lagu yang IPK Kunci
menggambarkan sikap
hidup rukun 3.1.1. Menunjukkan ungkapan yang terdapat
pada teks cerita dengan tepat.
3.1 Menjelaskan makna 3.1.2 menjelaskan arti dari ungkapan yang
bilangan cacah dan ditemukan dalam teks cerita
menentukan lambangnya
Matematika
bedasarkan nilai tempat
dengan menggunakan 3.1.1 Membaca lambang bilangan cacah
model konkrit serta cara berdasarkan nilai tempat dengan
membacanya menggunakan model konkret
3.1.2 Menentukan lambang bilangan cacah
berdasarkan nilai tempat dengan
menggunakan model konkret

Kompetensi Keterampilan Bahasa Indonesia


4.11.Menirukan ungkapan 4.1.3. Mengucapkan ungkapan yang
,ajakan perintah penolakan terdapat pada teks percakapan
dalam cerita atau lagu anak- dengan tepat
anak dengan bahasa yang
4.1.4. Menuliskan arti ungkapan yang
santun
ditemukan dalam teks cerita
4.1. Menyajikan bilangan
Matematika
cacah sampai dengan 99
yang bersesuaian dengan 4.1.3. Membaca lambang bilangan
banyak anggota kumpulan sampai dengan 999 dengan tepat
objek yang disajikan.
4.1.4. menuliskan lambang bilangan
sampai dengan 999 dengan tepat

C. Tujuan Pembelajaran
 Dengan diberikan teks cerita tentang hidup rukun yang mengandung
ungkapan, siswa berdiskusi untuk dapat menunjukkan ungkapan yang
terdapat pada teks cerita tersebut dengan tepat.
 Dengan diberikan teks cerita tentang hidup rukun yang mengandung
ungkapan, siswa berdiskusi untuk dapat menjelaskan arti ungkapan yang
terdapat pada teks cerita tersebut dengan tepat.
 Dengan diberikan kumpulan kubus lebih dari 100, siswa dapat menyatakan
kumpulan objek dengan bilangan sampai dengan 999 dengan benar.
 Dengan diberikan kumpulan kubus lebih dari 100, siswa dapat membaca
lambang bilangan sampai dengan 999 dengan tepat.
 Dengan diberikan kumpulan kubus lebih dari 100, siswa dapat menentukan
lambang bilangan sampai dengan 999 dengan tepat
D. Materi Pembelajaran
1) Membaca teks percakapan tentang hidup rukun
2) Mengamati gambar
3) Membuat kalimat ungkapan
4) Bilangan cacah sampai 999
5) Nilai tempat

E. Model dan Metode Pembelajaran


Model : Discovery Learning
Pendekatan : Saintifik
Metode : Permainan/simulasi, diskusi, tanya jawab, penugasan dan
ceramah

F.Media Pembelajaran
Beberapa Gambar yang berhubungan dengan Hidup rukun

G.Sumber belajar
Buku Pedoman Guru Tema : Hidup rukun Kelas II (Buku Tematik Terpadu
Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014).
Buku Siswa Tema : Hidup rukun Kelas II (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013,
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014).
Buku teks yang lain sebagai referensi.
Lingkungan setempat.
H. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke I
TAHAP ALOKASI
KEGIATAN PEMBELAJARAN
PEMBELAJARAN WAKTU
A. Kegiatan Pendahuluan
Pendahuluan  Pendahuluan 10
(persiapan/orientasi)  Kelas dibuka dengan salam,
menanyakan kabar, dan doa bersama.
(Religius)
 Guru mengecek kesiapan diri peserta
didik dengan mengisi lembar
kehadiran dan memeriksa kerapihan
pakaian, posisi dan tempat duduk
disesuaikan dengan kegiatan
pembelajaran

Apersepsi  Siswa mengamati gambar yang terdapat


pada Buku Siswa. Guru memancing
motivasi siswa dengan bertanya jawab
dengan siswa.
 Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat
di bawah gambar utama dapat
digunakan sebagai bahan untuk
bertanya jawab dengan siswa.
 Pertanyaan besarnya adalah,
“Bagaimana agar kerukunan dapat
terjaga di rumah, tempat bermain,
sekolah, dan masyarakat?
 Setiap jawaban siswa direspon dengan
baik sehingga terjadi suasana diskusi
yang hidup. (mandiri)
Pertanyaaan besar tersebut akan dijawab
dengan kegiatan pembelajaran
menggunakan Tema Hidup Rukun.
(Nasionalis
Motivasi  Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran
 Siswa di motivasi dengan
menyanyikan lagu hidup rukun (nada
“disini senang”)
B. Kegiatan Inti
Sintak Model 1. Pemberian rangsangan (Stimulatio 45
Pembelajaran 1  Disajikan teks bacaan tentang
kerukunan sebagai bahan
pembelajaran untuk ungkapan.
 Peserta didik secara berkelompok
diminta mengidentifikasi ungkapan
yang terdapat pada teks bacaan.
Peserta didik menuliskan ungkapan
yang terdapat pada teks bacaan
Sintak Model 2. Pernyataan/Identifikasi Masalah
(Problem Statement)
 Peserta didik melakukan tanya jawab
untuk menentukan arti dari ungkapan
yang ada pada teks
 Siswa menentukan arti ungkapan yang
terdapat pada teks cerita. (Mandiri)
3. Pengumpulan data (Data
Collection)
 Peserta didik berlatih menentukan
bilangan cacah sampai dengan 999
dengan mengamati gambar.
4. Pengolahan Data (Data Processing)
 Siswa berlatih menerapkan cara
termudah untuk menentukan lambang
bilangan cacah dengan menggunakan
kubus satuan. ( Creativity and
Innovation )
5. Pembuktian (Verification)
 Perwakilan kelompok menyajikan
hasil penemuan mereka (lambang
bilangan cacah) dengan
mempresentasikannya di depan
 Guru memberikan apresiasi terhadap
hasil pekerjaan peserta didik dan
memberikan penilaian aspek sikap dan
keterampilan peserta didik.
 Guru melakukan pengamatan untuk
menilai pengetahuan peserta didik
6. Menarik simpulan (Generalization)
Guru bersama-sama siswa membuat
kesimpulan / rangkuman hasil belajar
selama sehari (Integritas)
Sintak Model
Pembelajaran dst
A. Kegiatan Penutup
 Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui
hasil ketercapaian materi)
 Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan
pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti.
 Melakukan penilaian hasil belajar
 Mengajak semua siswa berdo’a (untuk mengakhiri kegiatan
pembelajaran) (Religius)

a. I.Penilaian Teknik Penilaian


i. Sikap
 Lembar observasi
ii. Keterampilan
 Unjuk kerja
iii. Pengetahuan
 tes
b. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
Bentuk Instrumen Penilaian
a. Sikap
Sikap siswa yang muncul ketika proses pembelajaran.
Contoh Format Jurnal untuk Penilaian Sikap

b. Pengetahuan dan Keterampilan


1. Skor penilaian: 100
Skor yang diperoleh x 100
Penilaian : Skor maksimal

Paduan Kontroversi Nilai


Konversi Nilai
Predikat Klasifikasi
(skala 0-100)
81 – 100 A SB ( Sangat Baik )
66 – 80 B B ( Baik )
51 – 65 C C ( Cukup )
0 – 50 D K ( Kurang )

Contoh Rubrik:
1) Bahasa Indonesia
Rubrik Penilaian Mengucapkan Ungkapan di dalam teks (KD 3.1 dan 4.1)
Skor
Aspek/Kriteria
4 3 2 1
Pengetahuan: Semua Ada beberapa Ada beberapa Belum ada
(KD 3.1) ungkapan di ungkapan ungkapan di ungkapan yang
ketepatan dalam teks di dalam dalam teks disebutkan
yang
menyebutkan disebutkan teks yang dengan benar
masih salah
ungkapan di dengan benar, masih salah meskipun
dalam disebutkan,
tanpa bantuan disebutkan, dengan
teks guru. tanpa bantuan dengan bantuan guru.
guru. bantuan guru.

Keterampilan: Semua Ada beberapa Ada beberapa Belum ada


(KD 4.1) ungkapan di ungkapan di ungkapan di ungkapan yang
ketepatan dalam teks dalam teks dalam teks diucapkan
yang yang
mengucapkan diucapkan dengan benar
masih salah masih salah
ungkapan di dengan benar, meskipun
dalam diucapkan, diucapkan,
tanpa bantuan dengan
teks tanpa bantuan dengan
guru. bantuan guru.
guru. bantuan guru.

Sikap yang dapat diamati dan dikembangkan adalah percaya diri.


2) Matematika
Rubrik Penilaian Membaca Bilangan Sampai 999 (KD 3.1 dan 4.1)
Skor
Aspek/Kriteria
4 3 2 1
Pengetahuan: Semua Ada satu Ada dua Ada tiga
(KD 3.1) bilangan bilangan bilangan atau lebih
ketepatan dinyatakan yang yang bilangan
menyatakan dengan dinyatakan dinyatakan yang
bilangan tiga benar. masih salah. masih salah. dinyatakan
angka, minimal masih salah.
5
bilangan
Keterampilan: Semua Ada Ada Belum ada
(KD 4.1) bilangan beberapa beberapa bilangan
ketepatan dibaca bilangan bilangan yang
membaca dengan yang yang dibaca
bilangan tiga benar. masih salah masih salah dengan
angka, minimal dibaca, tanpa dibaca, benar,
5 bantuan guru. dengan meskipun
bilangan bantuan guru. dibantu guru.
D. Bahan Ajar
 Buku Siswa Tema : Hidup Rukun Kelas 2 (Buku Tematik Terpadu
Kurikulum 2013 Rev.2017, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2013 Rev.2017).
 Gambar kerukunan keluarga di rumah

Soal pengetahuan
1.Disajikan teks bacaan
Soal
Suatu hari ayah membawakan buah tangan untuk Mutiara dan udin
Mutiara mendapatkan buku cerita
Udin mendapatkan mainan
Mutiara dan udin menerima kasih kepada ayah dan ibu
Mutira dan Udin tidak saling berebut oleh-oleh
Ayah dan ibu bahagia melihat buah hati mereka selalu rukun

1.Apa arti dari ungkapan buah hati?...


Disajikan teks
Di dalam lemari terdapat 3 tumpukan buku. Tumpukan buku pertama terdapat 10
tumpuk yang masing-masing tumpuk berisi 10 buah buku. Tumpukan buku kedua
ada 4 tumpuk yang masing-masing berisi 10 buah buku. Tumpukan buku ketiga
terdapat 5 buah buku.
Tentukan bilangan yang tepat yang mewakili jumlah buku seluruhnya!..
J.Bahan Ajar
Teks wacana yang telah dipersiapakan dan didesain sedemikian rupa, didalamnya
terdapat beberapa gambar, yang telah dirangkai dengan baik sehingga anak suka
untuk membacanya. Teks wacana tersebut disesuaikan dengan kondisi dan
lingkungan setempat.
1. KISI-KISI PENULISAN SOAL
Jenis sekolah : Sekolah Dasar
Jumlah soal :2
Mata pelajaran : B.Indonesia,Matematika
Bentuk soal/tes : Isian singkat
Penyusun : Aan Mulyati
Alokasi waktu : 4 x 35
Kisi-Kisi Penulisan Soal

N Kompetensi Materi Indikator Bentuk Nomor


IPK Level
o. Dasar Pokok Soal Soal Soal

1 2 3 4 5 6 7

3.1 Merinci 3.1.1Mengidenti Kalimat Disajikan C5 Isian 1


ungkapan fikasi ajakan, Ungkapan teks wacana
ajakan, yang terdapat siswa dapat
Bilangan
perintah, dalam teks cerita membuat
cacah
penolakan yang kalimat
sampai999
yang terdapat menggambarkan ungkapan
dalam teks sikap hidup yang benar
cerita atau rukun.
lagu yang
menggambark
an sikap hidup
rukun
2. KARTU SOAL

KARTU SOAL NOMOR 1


(ISIAN SINGKAT)

Mata Pelajaran : B.Indonesia,Matematika


Kelas/Semester : II/I
3.1 Merinci ungkapan ajakan, perintah, penolakan yang
Kompetensi Dasar terdapat dalam teks cerita atau lagu yang menggambarkan
sikap hidup rukun
Kalimat ungkapan,Bilangan cacah sampai 999
Materi

Disajikan teks wacana siswa dapat membuat kalimat ungkapan


Indikator Soal
yang benar
Level Kognitif C5

Soal 1
Suatu hari ayah membawakan buah tangan untuk Mutiara dan udin
Mutiara mendapatkan buku cerita
Udin mendapatkan mainan
Mutiara dan udin menerima kasih kepada ayah dan ibu
Mutira dan Udin tidak saling berebut oleh-oleh
Ayah dan ibu bahagia melihat buah hati mereka selalu rukun

1.Apa perbedaan antara ungkapan buah hati ayah dan ibu dan ayah membawakan
buah tangan ?...

Soal 2
2.Di dalam lemari terdapat 3 tumpukan buku. Tumpukan buku pertama terdapat 10
tumpuk yang masing-masing tumpuk berisi 10 buah buku. Tumpukan buku kedua
ada 4 tumpuk yang masing-masing berisi 10 buah buku. Tumpukan buku ketiga
terdapat 5 buah buku.
Tentukan bilangan yang tepat yang mewakili jumlah buku seluruhnya

Kunci Pedoman Penskoran


NO
KUNCI/KRITERIA JAWABAN SKOR
SOAL

1 1.Oleh-oleh 2. Anak -anak


10
Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena
1. Karena “ Membedakan” termasuk KKO ke C 2
2. ........
3. ........

KARTU SOAL NOMOR 2


(URAIAN)

Mata Pelajaran : Matematika


Kelas/Semester : I / I

3.1
Menjelaskan makna bilangan cacah sampai dengan 99 sebagai
Kompetensi Dasar banyak anggota suatu kumpulan objek.

Materi Bilangan cacah sampai 999

Disajikan teks soal ceriata tentang bilangan cacah


Indikator Soal

Level Kognitif C4

Soal 2
Di dalam lemari Leni terdapat 3 tumpukan buku yang masing –masing 10 buah
buku,
Dan di dalam lemari Dayu terdapat 2 tumpukan buku masing-masing 5 buah buku
Buku siapa yang lebih banyak?...

Kunci Pedoman Penskoran


NO
URAIAN JAWABAN/KATA KUNCI SKOR
SOAL
1
Leni 10
Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena
1. Kata “Membandingkan” termasuk KKO C5
2. ........
P0T0P-POTO KEGIATAN PENGUATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN (
PKP )