Anda di halaman 1dari 51

PROFESI KEPENDIDIKA DAN PROFESI KEPENDIDIKAN TUGAS : CRITICAL BOOK

(Dr. Yasaratodo Wau, M.P.d, 2017)


REVIEW

NAMAMAHASISWA: 1. RHENDRA RAHMANSYAH (6181111022)


2. DEBI ZULFRIADI HASIBUAN (6181111011)
3. FAHROZI HIDAYAT (6181111009)
4.NAOMI KRISTIN GINTING (6181111028)
KELOMPOK : 5
DOSENPENGAMPU:Lidia Simanihuruk, S.Si, M.Pd
MATA KULIAH: PROFESI KEPENDIDIKAN

PENDIDIKAN JASMANI, KESEHATAN DAN REKREASI


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN MEDAN
MARET 2019
EXECUTIVE SUMMARY

Didalam buku yang saya analisis berjudul Perspektif Guru Profesional karya Drs. Ahmad
Suriansyah, M.Pd.,Ph.D. dan Dr. Hj. Aslamiah Ahmad , M.Pd., Ph.D. profesi
kependidikan selalu memberikan kesan yang menarik. Topik ini memberikan daya tarik yang
kuat pada setiap orang, literatur-literatur tentang profesi kependidikan senantiasa memberikan
penjelasan bagaimana menjadi pendidik, sikap dan gaya yang sesuai dengan situasi
pendidikan Indonesia dan sayarat-syarat menjadi pendidik yang baik. Critical book report ini
juga bertujuan untuk memberikan uraian mengenai hal-hal yang baik tentang profesi
kependidikan.

Dalam dunia pendidikan dan pengajaran yang menjadi fokus perhatian adalah peserta
didiknya, baik itu di Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun
perguruan tinggi. Dalam kaitan dengan pendidikan anak usia SD, guru harus mengetahui
benar sifat sifat tersebut agar dapat memberikan pembinaan dengan baik untuk
meningkatkan potensi kecerdasan dan kemampuan anak sesuai harapan orang tua dan
masyarakat. Pemahaman pada diri peserta didik mempunyai makna bahwa guru mengenal
betul kelebihan dan kelemahan peserta didik sehingga dapat memberikan layanan pendidikan
yang tepat dan bermanfaat bagi masing masing anak.
KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena telah memberikan rahmat dan karunianya serta kesehatan kepada saya, sehingga
mampu menyelesaikan tugas “CRITICAL BOOK REPORT”. Tugas ini di buat untuk
memenuhi salah satu mata kuliah saya yaitu “PROFESI PENDIDIKAN”.

Tugas Critical Jurnal Review Book Report ini disusun dengan harapan dapat
menambah pengetahuan dan wawasan kita semua khusunya dalam hal Profesi Pendidikan.
Saya menyadari bahwa tugas Critical Book Report ini masih jauh dari kesempurnaan.
Apabila dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, Saya mohon maaf karena
sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman saya masih terbatas, karena keterbatasan ilmu
dan pemahaman saya yang belum seberapa. Karena itu saya sangat menantikan saran dan
kritik dari pembaca yang sifatnya membangun guna menyempurnakan tugas ini. Saya
berharap semoga tugas Critical Book Report ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi
saya khususnya. Atas perhatiannya saya mengucapkan terimakasih.
DAFTAR ISI
EXECUTIVE SUMMARY……………………………………………………………. 2
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………. 3
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………... 4
BAB I ( PENDAHULUAN )………………………………………………………….. 5
A. Latar Belakang Pentingnya
CBR……………………………………………………………………………. 5
B. Tujuan…………………………………………………………………………. 5
C. Manfaat………………………………………………………………………... 5
D. Identitas Buku Laporan………………………………………………………... 5
BAB II ( RINGKASAN ISI BUKU )…………………………………………………. 6
A. Buku Utama……...……………………………………………………………. 6
B. BUKU Pembanding……………………………………………………………. 32
BAB III ( PEMBAHASAN ) ......................................................................................... 48
A. Pembahasan Isi Buku
a. Pembahasan bab 1
b. Pembahasan bab 2
c. Pembahasan bab 3
d. Pembahasan bab 4
e. Pembahasan bab 5
B. Kelebihan Dan Kekurangan Buku
BAB IV ( PENUTUP ) ..................................................................................................... 49
A. Kesimpulan .......................................................................................................... 49
B. Rekomendasi ....................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 51
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Melakukan CBR pada suatu buku dengan membandingkannya dengan buku lain
sangat penting untuk di lakukan. Dari kegiatan inilah kita dapat mengetahui kelebihan
den kekurangan paada buku. Dan mengkritik inilah kita jadi mendapatkan informasi
yang kompeten dengan cara menggabungkan informasi yang kompeten dengan cara
menggabungkan informasi dari buku yang lain.

B. Tujuan Penulisan CBR

 Mengulas isi buku


 Mengetahui informasi sebuah buku
 Membandingkan ke dua buku
 Meltih individu agar berfikir kritis dalam mencari informasi yang ada di setiap
buku

C. Manfaat Penulisan CBR


 Untuk memenuhi tugas mata kuliah perkembangan profesi pendidikan
 Untuk menambah pengetahuan tentang profesi pendidikan yang baik bagi seorang
 Untuk mengetahui banyak hal tentang buku

D. Identitas Buku Yang Di Riview


1. Judul :Persfektif Guru Profesinal
2. Edisi : Ke-1
3. Pengarang : Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd., Ph.D
4. Penerbit : PT RajaGrafindo Persada
5. Kota terbit : Depok
6. Tahun terbit : 2015
7. ISBN : 978-979-769-914-7

BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

A. Buku Utama

BAB 1
Hakikat 1
PROFESI GURU
Profesi Guru dan Syarat Menjadi Guru
1. Guru
Guru atau tenaga pendidik menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 39, ayat 2 tentang Tenaga Kependidikan dinyatakan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional
yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil belajar, melakukan
bimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat”. Selanjutnya,
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan bahwa guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan
pendidikan menengah.
Dari dua undang-undang tersebut sangat jelas bahwa guru memegang peranan yang sangat sentral dan
strategis dalam proses pembelajaran di sekolah. Mengingat peran pentingnya tersebut sehingga peran guru
sebagai pendidik tak akan pernah tergantikan oleh peran apa pun. Guru yang awalnya dikenal dengan
istilah pendidik dalam sejarahnya sampai sekarang tidak pernah dapat tergantikan oleh apa pun termasuk
oleh teknologi seperti sekarang yang sedang tumbuh dan berkembang pesat dalam berbagai aspek
kehidupan manusia. Setinggi dan secepat apa pun perkembangan teknologi peranan guru tidak akan pernah
bisa tergantikan oleh kemajuan teknologi, karena guru bukan hanya sebagai pengajar yang tugasnya
mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada peserta didik, tetapi yang terpenting justru tugasnya
sebagai pendidik. Tugas sebagai pendidik adalah mendidik anak menjadi manusia dewasa dalam
pengertian yang sebenarnya.
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa guru memainkan peranan yang strategis dalam peningkatan
mutu hasil belajar siswa. Karena itu dapat dikatakan guru memainkan peranan dalam pendidikan masa kini
dan masa depan anggota masyarakat melalui sekolahnya masing-masing, atau dengan kata lain masa kini
dan masa depan masyarakat khususnya generasi muda sangat tergantung pada kualitas guru (pemahaman
guru dalam hal ini adalah mulai dari PAUD/TK sampai Perguruan Tinggi) dalam melaksanakan
pembelajaran. Ini berarti bahwa masa depan bangsa sangat tergantung pada sampai sejauhmana peranan
guru dapat melaksanakan proses pembelajaran. Dalam kaitan ini sesuai dengan kebutuhan masa depan
bangsa Indonesia, maka peranan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas dan berkarakter
menjadi harapan semua orang. Sebab, dari generasi yang cerdas dan berkarakterlah bangsa ini dapat
mencapai tujuannya mensejahterakan kehidupan masyarakat.
Adanya tuntutan terhadap mutu pendidikan yang tinggi itu pada gilirannya memerlukan guru yang bermutu
dan profesional dalam bidangnya. Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen yang mempersyaratkan pendidikan minimal bagi seorang guru mulai dari TK
sampai dengan SMTA adalah Strata 1 serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, yang secara
tegas menyatakan seorang guru yang layak mengajar adalah mereka yang memiliki kompetensi pedagogis,
profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Hal ini menuntut setiap orang yang merasa
sebagai guru atau tenaga pendidik untuk selalu berupaya menyesuaikan tuntutan kualifikasi dan kualitas
kompetensi guru dengan peraturan perundang-undangan tersebut di atas.

2. Apakah Kriteria Profesi Itu


Jadi, syarat pertama untuk dapat dikatakan suatu pekerjaan/jabatan sebagai suatu profesi adalah adanya bidang
ilmu yang mendasari teknik, prosedur kerja dan lain-lain yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus yang
dipersiapkan untuk itu.
Yang sering menjadi pertanyaan adalah, apakah seorang profesional dapat melakukan kesalahan dalam
melaksanakan tugasnya..? Bagaimana kalau seorang dokter melakukan kesalahan dalam praktik pengobatan
terhadap pasien (mal praktik) ..?, bagaimana perilaku dia dalam menghadapi pasien yang berbeda strata sosial
ekonomi, ras, suku dan sebagainya...? Ternyata sikap, tindakan, perilaku mereka telah diatur dan diarahkan oleh
aturan-aturan yang menjadi panduan dalam setiap tindakannya. Bahkan mereka punya standar nilai dan standar
perilaku yang harus dilakukan dalam melayani pasiennya. Demikian pula halnya dengan penasihat hukum,
petinju dan pemain sepak bola. Misalnya seorang petinju tidak boleh sembarang bertinju. Aturan-aturan ini
sudah mereka sepakati bersama. Inilah yang disebut dan dikenal dengan istilah Kode Etik Jabatan/Kode Etik
Profesi.
Dengan demikian syarat ketiga untuk dapat dikatakan suatu pekerjaan/jabatan sebagai suatu profesi
adalah adanya layanan unik yang memperoleh pengakuan dari masyarakat atau pemerintah.
Cukupkah ketiga syarat di atas sebagai kriteria/ciri suatu jabatan dapat dikatakan sebagai profesi.....?
Kalau kita mengamati kenyataan yang ada di tengah-tangah masyarakat yang berkaitan dengan pekerjaan
seorang profesional, kita akan menyaksikan banyak hal termasuk di antaranya mereka sering membuat
kelompok tertentu sesama profesi.
a. Expertise (Keahlian)
Seorang akan mempunyai keahlian dalam suatu bidang ilmu tertentu kalau dia dipersiapkan secara khusus
melalui pendidikan yang dilakukan secara matang dan dalam kurun waktu yang relatif lama.
b. Responsibility (Tanggung Jawab)
Tanggung jawab tenaga kependidikan sebenarnya mencakup rentang waktu masa kini dan masa yang akan
datang, dalam arti masa kini guru wajib bertanggung jawab membantu anak-anak bangsa mengembangkan
diri sesuai dengan potensinya sehingga dia mampu mandiri dalam kondisi lingkungannya.

c. Corporation (Kesejawatan)
Tenaga kependidikan yang profesional tidak dapat menutup diri dari teman sejawat sesama profesi, tetapi
dituntut untuk selalu berkomunikasi dan berkerja sama untuk saling mengisi dan tukar informasi guna
menyempurnakan pelaksanaan tugas profesinya.

B. Apakah Jabatan Guru Dapat Dikatakan Sebagai Profesi


Setelah kita memperoleh kejelasan tentang kriteria jabatan untuk dapat dikatakan sebagai suatu profesi,
mari kita kaji lebih lanjut tentang diri kita, apakah jabatan kita sebagai guru dapat dikategorikan sebagai
suatu profesi...? Dalam kenyataan sehari-hari, kita sering mendengar bahwa jabatan guru adalah profesi,
benarkah demikian? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita merenungkan apakah setiap kriteria di
atas sudah dimiliki oleh guru.
1. Pendidikan Khusus
2. Pengakuan Masyarakat
3. Pengakuan Pemerintah
4. Kode Etik Profesi

C. Syarat Apa yang Harus Dipenuhi Sebagai Seorang Guru


Karena semuanya sepakat bahwa kemampuan yang harus dimiliki seorang guru mencakup: penguasaan
peserta didik dan mendidik, penguasaan bidang studi/materi bahan ajar yang menjadi tanggung jawabnya,
penguasaan metodologis pembelajaran, penguasaan psikologi yang mendasari perilaku siswa dalam
belajar, penguasaan IPTEKS dan kemauan untuk selalu berkembang dalam profesinya sebagai guru.
Kemampuan tersebut sangat diperlukan oleh seorang guru untuk dapat berperan sebagai seorang guru yang
profesional.

D. Tugas dan Fungsi Guru Serta Indikator Guru yang Profesional


1. Tugas dan Fungsi Guru
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik,mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan
mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan
dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterammpilan pada siswa.
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa
guru bertugas untuk:
Merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran
Menilai hasil pembelajaran
Melakukan pembimbingan dan pelatihan
Melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
Dalam rangka melaksanakan tugas tersebut, maka guru/tenaga kependidikan menurut UU Nomor 20 Tahun
2003 berkewajiban untuk:
Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis.
Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan
kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Tilaar (1999), mengemukakan beberapa fungsi guru dalam konteks era globalisasi yang memiliki ciri
persaingan yang sangat ketat tidak hanya persaingan regional, tetapi juga persaingan nasional dan global.
Fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
Guru sebagai agen perubahan
Dalam era transformasi yang begitu cepat tidak ada sosok masyarakat lain selain guru yang dapat berfungsi
secara efektif sebagai agen perubahan, sebab guru berhadapan langsung dengan generasi muda bahkan di
dalam masyarakat pada umumnya. Guru yang intelektual dan berdedikasi merupakan unsur terdepan dan
strategis dalam membawa masyarakat ke dalam nilai-nilai modern.
Guru sebagai seorang pengembang sikap toleran dan saling pengertian
Dalam era global saling pengertian dan toleran sangat diperlukan. Hal ini dapat terjadi apabila dimulai dari
lingkungan yang terkecil yaitu keluarga, yang diteruskan ke lingkungan sekolah sehingga dapat menjadi
kristalisasi untuk diwujudkan dalam lingkungan masyarakat.

2. Tugas Guru
Para ahli pendidikan, khususnya yang tergabung dalam tim perumus Pengembangan Sistem Pendidikan
Tenaga Kependidikan Abad ke-21 (SPTK-
pada tahun 2002, merumuskan beberapa tugas operasional konkret guru sebagai berikut:
Menjabarkan kebijakan dan landasan pendidikan dalam wujud perencanaan pembelajaran di kelas
dan luar kelas.
Mengaplikasikan komponen-komponen pembelajaran sebagai suatu sistem dalam proses
pembelajaran.
Melakukan komunikasi dalam komunitas profesi, sosial dan memfasilitasi pembelajaran masyarakat.
Mengelola kelas dengan pendekatan dan prosedur yang tepat dan relevan dengan karakteristik
peserta didik.
Meneliti, mengembangkan, berinovasi di bidang pendidikan dan pembelajaran dan mampu
memanfaatkan hasilnya untuk pengembangan profesi.
Melaksanakan fungsinya sebagai pendidik untuk menghasilkan lulusan yang menjunjung tinggi nilai-
nilai etika, kesatuan dan nilai luhur bangsa, masyarakat dan agama.
Melaksanakan fungsi dan program bimbingan dan konseling dan administrasi pendidikan.
Mengembangkan diri dalam wawasan, sikap dan keterampilan profesi. Memanfaatkan teknologi,
lingkungan, budaya dan sosial serta lingkungan alam dalam mengembangkan proses pembelajaran.

3. Tipe Guru
Ahli lain dalam perspektif lain menggolong beberapa tipe guru. Glickman (2002) menggolongkan ketegori
guru yang didasarkan pada perspektif paradigma kategori guru yang didasarkan pada tinggi rendahnya
level ofcommitment (tingkat komitmen guru) dan level of abstraction thinking (tingkatberpikir abstrak
guru).
Suriansyah, A (1992), mengelaborasi beberapa kegiatan dan indikator yang menunjukkan aktivitas guru dalam
aspek komitmen guru dan kemampuan berpikir abstrak guru sehingga dapat terukur dalam menentukan dan
menggolongkan kategori guru. Indikator-indikator tersebut adalah sebagai berikut:
Komitmen. Aspek komitmen ini mencakup indikator-indikator sebagai berikut:
Komitmen guru dalam penggunaan waktu mengajar (disiplin), waktu datang dan waktu selesai
mengajar.
Perhatian guru terhadap siswa yang ditunjukkan dalam bentuk berkomunikasi secara intern
dengan siswa dalam membantu belajar, mendorong dan menggalakkan keterlibatan siswa dalam
belajar.
Menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas sekolah guna kemajuan sekolah dan mutu
sekolahnya.
Menunjukkan minat dan perhatian yang besar terhadap berbagai kegiatan pengembangan siswa
dalam kegiatan non akademik.
Kemampuan berpikir abstrak. Kemampuan ini mencakup beberapa indikator-indikator sebagai
berikut:
Kemampuan guru dalam membuat perencanaan dan persiapan pembelajaran secara berkualitas.

4. Guru yang Profesional


Komitmen Terhadap Profesi

E. Organisasi Guru dan Kode Etik Guru Indonesia


1. Kode Etik Guru
Adapun kode etik jabatan guru adalah sebagai berikut:
65540. Guru sebagai manusia Pancasilais hendaknya senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
65541. Guru selaku Pendidik hendaknya bertekad untuk menciptakan anak-anak dan jabatannya, serta
selalu menjadikan dirinya suri teladan bagi anak didiknya.
65542. Setiap guru berkewajiban selalu menyelaraskan pengetahuan dan meningkatkan kecakapan
profesinya dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut.
65543. Setiap guru diharapkan selalu memperhitungkan masyarakat sekitarnya, sebab pada hakikatnya
pendidikan itu merupakan tugas pembangunan dan tugas kemanusiaan.
65544. Setiap guru berkewajiban meningkatkan kesehatan dan keselarasan jasmaniahnya, sehingga
berwujud penampilan pribadi yang sebaik- baiknya, agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-
baiknya.
65545. Di dalam hal berpakaian dan berhias, seorang guru hendaknya memerhatikan norma-norma
estetika dan sopan santun.
65546. Guru hendaknya bersikap terbuka dan demokratis dalam hubungan dengan atasan dan sanggup
menempatkan dirinya sesuai dengan hierarki kepegawaian.
65547. Jalinan hubungan antara seorang guru dengan atasannya hendaknya selalu diarahkan untuk
meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama.
65548. Setiap guru berkewajiban untuk selalu memelihara semangat korps dan meningkatkan rasa
kekeluargaan dengan sesama guru dan pegawai lainnya.
65549. Setiap guru hendaknya bersikap toleran dalam menyelenggarakan setiap persoalan yang timbul
atas dasar musyawarah dan mufakat demi kepentingan bersama.
65550. Setiap guru dalam pergaulan dengan murid-muridnya tidak dibenarkan mengaitkan persoalan
politik dan ideologi yang dianutnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
65551. Setiap guru hendaknya mengadakan hubungan yang baik dengan instansi, organisasi atau
perseorangan dalam menyukseskan kerjanya.
65552. Setiap guru berkewajiban untuk berpartisipasi secara dalam melaksanakan program dan kegiatan
sekolah.
Kode Etik Guru Republik Indonesia
Guru Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
bangsa dan negara serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila
dan setia pada Undang -Undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Kode etik guru bersumber dari nilai-nilai agama dan Pancasila, nilai-nilai kompetensi pedagogik, nilai
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Di samping itu, kode etik juga
bersumber dari nilai-nilai jati diri, harkat dan martabat manusia yang meliputi perkembangan kesehatan
jasmaniah, emosional, intelektual, sosial dan spiritual.
Oleh sebab itu, guru Republik Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan memedomani
dasar-dasar kode etik guru Indonesia. Berdasarkan hasil Kongres XX PGRI di Palembang tahun 2008,
ditetapkan kode etik guru Indonesia sebagai berikut:
Hubungan guru dengan peserta didik
Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan hak-hak dan
kewajibannya sebagai individu, warga sekolah dan anggota masyarakat.
Guru mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masing-
masing berhak atas layanan pembelajaran.
Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya untuk kepentingan proses
kependidikan.
Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus berusaha menciptakan,
memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai lingkungan
belajar yang efektif dan efisien bagi peserta didik.
Hubungan guru dengan orangtua/wali murid
Guru berusaha membina hubungan kerja sama yang efektif dan efisien dengan orangtua/wali siswa
dalam melaksanakan proses pendidikan.
Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan objektif mengenai
perkembangan peserta didik.
Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang bukan orangtua/wali
siswanya.
Hubungan guru dengan masyarakat
Guru menjalin komunikasi dan kerja sama yang harmonis, efektif, dan efisien dengan masyarakat
untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan.
Guru mengakomodasi aspirasi masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas
pendidikan dan pembelajaran.
Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat.
Hubungan guru dengan sekolah dan rekan sejawat
Guru memelihara dan meningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.
Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreaif dalam melaksanakan proses
pendidikan.
Hubungan guru dengan profesi
Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi.
Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan dan mata pelajaran yang
diajarkan.
Guru terus-menerus meningkatkan kompetensinya.
Hubungan guru dengan organisasi profesi
Guru menjadi anggota organisasi profesi dan berperan serta secara aktif dalam melaksanakan
program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan.
Guru memantapkan dan memajukan organisasi guru yang memberikan manfaat bagi kepentingan
kependidikan.
Hubungan guru dengan pemerintah
Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan bidang pendidikan
sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU tentang
Guru dan Dosen dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Guru membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan yang berbudaya.
2. Organisasi Profesi
Mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga-lembaga pemerintah dan swasta
serta organisasi profesi baik di dalam maupun di luar negeri.
Menertibkan media komunikasi ilmu, seni dan teknologi pendidikan.
Melindungi kepentingan profesional para anggota dan mengembangkan profesi pendidikan.
Melindungi kepentingan masyarakat dari praktik profesional kependidikan yang merugikan.
BAB 2BAB
BIMBINGAN DAN KONSELING
2
 Pengertian Bimbingan dan Konseling

1. Pengertian Bimbingan
Sebagaimana yang telah diuraikan pada bagian terdahulu secara singkat telah dijelaskan bahwa, secara
harfiah istilah “guidance” (bimbingan) dari akar kata “guide” yang berarti (1) mengarahkan (to direct),
(2) memandu (topilot), (3) mengelola (to manage), (4) menyetir (to steer), (5) menunjukkanjalan
(showing the way), (6) memimpin (leading), (7) memberikan petunjuk (giving instruction), (8) mengatur
(regulating), (9) dan memberi nasihat (giving advice) (winkel, 1991).
Sedangkan istilah kedua yaitu counseling dalam bahasa Indonesia disebut konseling mempunyai makna
membantu seseorang untuk menemukan jalan terbaik dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

2. Pengertian Konseling
Untuk menekankan kekhususannya itu maka dipakai istilah Bimbingan dan Konseling. Mengingat
kegiatan konseling merupakan kegiatan yang sangat khusus (bukan sekadar penyuluhan) maka kegiatan
pelayanan konseling menuntut keahlian khusus, sehingga tidak semua orang yang dapat memberikan
bimbingan mampu memberikan jenis layanan konseling ini ( Winkel, 1978 ).
Secara singkat bimbingan dan konseling dapat dikatakan sebagai sebuah pelayanan dan pemberian bantuan
kepada peserta didik baik individu/ kelompok agar tumbuh kemandirian dan perkembangan hubungan
pribadi, sosial, belajar, karier dapat secara optimal.

Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan di Sekolah

Tujuan pendidikan pada akhirnya adalah pembentukan manusia yang utuh dan mandiri, maka proses
pendidikan harus dapat membantu siswa mencapai kematangan emosional dan sosial, sebagai individu
dan anggota masyarakat selain mengembangkan kemampuan inteleknya. Bimbingan dan konseling
menangani masalah-masalah atau hal-hal di luar bidang garapan pengajaran, tetapi secara tidak langsung
menunjang tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah itu. Kegiatan ini dilakukan melalui
layanan secara khusus terhadap semua siswa agar dapat mengembangkan dan memanfaatkan
kemampuannya secara penuh (Mortensen & Schemuller, 1969).

1. Peranan BK dalam Proses Pembelajaran di Sekolah


Guru bimbingan konseling berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat
rutin, insidental dan keteladanan, seperti tertera dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi
keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran, dan Pasal 12 Ayat (1b) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan
pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
Pelaksanaan kegiatan pelayanan bimbingan: di dalam jam pembelajaran sekolah/tatap muka dan di luar
jam pembelajaran sekolah berupa layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan
mediasi (layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan
antarmereka), serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.

2. Tujuan Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Layanan bimbingan sangat dibutuhkan agar siswa-siswa yang mempunyai masalah dapat terbantu,
sehingga mereka dapat belajar lebih baik. Dalam kurikulum SMA tahun 1975 Buku III C dinyatakan
bahwa tujuan bimbingan di sekolah adalah membantu siswa:
Mengatasi kesulitan dalam belajarnya, sehingga memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukannya pada saat proses belajar
mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.
Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan studi.
Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan
setelah mereka tamat.
Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosial-emosional di sekolah yang
bersumber dari sikap murid yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan
sekolah, keluarga, dan lingkungan yang lebih luas.
Tujuan umum bimbingan terhadap siswa agar dapat membantu memandirikan peserta didik dan
mengembangkan potensi-potensi mereka secara optimal.

3. Fungsi Bimbingan dan Konseling


Pelayan bimbingan dan konseling memiliki beberapa fungsi, yaitu
fungsi pencegahan (preventif), (2) pemahaman, (3) pengentasan, (4) pemeliharaan,(5) penyaluran, (6)
penyesuaian, (7) pengembangan dan (8) perbaikan (kuratif), serta (9) advokasi.

C. Prinsip Bimbingan dan Konseling


Prinsip-prinsip BK
Adapun rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling mencakup prinsip sasaran layanan,
prinsip permasalahan individu, prinsip program pelayanan dan yang terakhir prinsip tujuan dan
pelaksanaan pelayanan. Apabila keempat prinsip tersebut dilaksanakan secara utuh maka layanan
bimbingan dan konseling akan tercapai sesuai keinginan konselor dan klien.
a. Prinsip Umum
Bimbingan diberikan kepada memberikan bantuan agar individu yang dibimbing mampu mengarahkan
dirinya dan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya.
b. Prinsip-prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Siswa
Pelayanan BK harus diberikan kepada semua siswa.
Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas pelayanan bimbingan dan konseling kepada individu atau
siswa.
Program pemberian bimbingan dan konseling harus berpusat pada siswa.
Pelayanan dan bimbingan konseling di sekolah dan madrasah harus dapat memenuhi kebutuhan-
kebutuhan individu yang bersangkutan beragam dan luas.
Keputusan akhir dalam proses BK dibentuk oleh siswa sendiri.
Siswa yang telah memperoleh bimbingan, harus secara berangsur-angsur dapat menolong dirinya
sendiri.

c. Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Pembimbing


Konselor harus melakukan tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Konselor di sekolah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan pengalaman, dan
kemampuan.
Sebagai tuntutan profesi, pembimbing atau konselor harus senantiasa berusaha mengembangkan
dirinya dan keahliannya melalui berbagai kegiatan.
Konselor hendaknya selalu mempergunakan berbagai informasi yang tersedia tentang siswa yang
dibimbing beserta lingkungannya sebagai bahan yang membantu individu yang bersangkutan ke arah
penyesuaian diri yang lebih baik.
Konselor harus menghormati, menjaga kerahasiaan informasi tentang siswa yang dibimbingnya.
Prinsip yang Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi (Manajemen)
Pelayanan Bimbingan Konseling
Bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan.
Pelaksanaan bimbingan dan konseling ada di kartu pribadi (commulativerecord) bagi setiap siswa.
Program pelayanan bimbingan dan konseling harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah atau
madrasah yang bersangkutan.
Harus ada pembagian waktu antar pembimbing, sehingga masing-masing pembimbing mendapat
kesempatan yang sama dalam memberikan bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam situasi individu atau kelompok sesuai dengan masalah
yang dipecahkan dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah terkait.
Dalam menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, sekolah dan madrasah harus bekerja
sama dengan berbagai pihak.
Kepala sekolah atau madrasah merupakan penanggung jawab utama dalam penyelenggaraan
bimbingan dan konseling di sekolah.

Prayitno dan Amti (1999) mengklasifikasikan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling ke dalam empat
bagian, yaitu:
Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran pelayanan
Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan individu
Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan
Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan
Selanjutnya oleh Prayitno dan Amti (1999), keempat prinsip tersebut dirinci dengan rumusan masing-
masing sebagai berikut:
Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan
Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin,
suku, agama dan status sosial ekonomi.
Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan
dinamis.
Bimbingan dan konseling memerhatikan sepenuhnya tahap-tahap berbagai aspek perkembangan
individu.
Prinsip yang Berkenaan dengan Pemasalahan Individu
Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik
individu terhadap penyesuaian dirinya di rumah, di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontak
sosial dan pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada individu
yang semuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan dan konseling.

Prinsip yang Berkenaan dengan Program Layanan


Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan
individu; oleh karena itu, program bimbingan dan konseling harus diselaraskan dan dipadukan
dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu,
masyarakat, dan kondisi lembaga.
Program bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah
sampai tertinggi.

Prinsip-prinsip yang Berkenaan dengan Tujuan dan Pelaksanaan


Pelayanan
Bimbingan dan konseling harus mengarahkan individu mampu menyelesaikan permasalahan pribadi.
Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu
harusnya atas kemauan individu sendiri, bukan karena desakan atau kemauan orang lain.
Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dan bidang yang relevan dengan
permasalahan yang dihadapi.
Kerja sama antara pembimbing dengan guru lain dan orangtua menentukan hasil pelayanan
pembimbingan.
Pengembangan program layanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang
maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang telibat dalam proses pelayanan
dan program bimbingan dan konseling itu sendiri.
D. Asas Bimbingan dan Konseling
1. Asas Kerahasiaan
Kerahasiaan dalam sebuah bimbingan dan konseling sangatlah ditekankan bahkan menjadi kunci mendasar
yang harus atau wajib ditaati oleh pemberi layanan dalam penyelenggaraan layanan bimbingan dan
konseling. Seorang konselor harus mengetahui secara detail akan masalah pribadi klien sampai ke hal-hal
yang sangat rahasia. Oleh karena itu, konselor harus menjaga kerahasiaan data yang diperoleh dari
kliennya. Kerahasiaan data perlu dihargai dengan baik dan diyakini secara pasti oleh klien, karena layanan
dalam bimbingan dan konseling hanya dapat berlangsung dengan baik jika data atau informasi yang
dipercayakan pada konselor dapat dijamin kerahasiaannya oleh klien, tanpa keyakinan dan kepercayaan
dari klien maka proses layanan tidak akan mencapai hasil yang optimal.
2. Asas Kesukarelaan
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa bimbingan dan konseling merupakan proses membantu
individu. Pengertian membantu di sini yaitu bimbingan bukan suatu paksaan. Sebab layanan yang
diberikan secara paksaan tidak akan mampu membuat klien untuk terbuka semua hal yang
melatarbelakangi masalah yang dihadapinya.

3. Asas Keterbukaan
Asas keterbukaan merupakan asas penting bagi konselor, karena hubungan tatap muka antara klien dengan
konselor merupakan pertemuan batin. Kesadaran diri seorang klien akan ditindaklanjutinya dengan
kesadaran tanpa paksaan untuk mengungkapkan segala isi hatinya kepada konselor.

4. Asas Kekinian
Pada umumnya pelayanan bimbingan dan konseling bertitik tolak dari masalah yang dirasakan klien saat
sekarang, namun pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling itu sendiri menjangkau dimensi
waktu yang lebih luas. Dalam hal ini diharapkan konselor dapat mengarahkan klien untuk memecahkan
masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Sebagaimana firman Allah Swt., yang artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang
beriman dan mengajarkan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat
menasihati menetapi kesabaran.”(QS. Al-Ashar/103:1-3)

5. Asas Kemandirian
Sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu konseling diberikan untuk dapat mengembangkan dan lebih
memberdayakan potensi yang ada pada klien untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Oleh
karena itu, salah satu tujuan diberikannya bimbingan dam konseling adalah agar konselor dapat
menghidupkan kemandirian di dalam diri klien.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari
kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa ( dari kejahatannya ) yang dikerjakannya….”(QS. Al-
Baqarah/2:286)

6. Asas Kegiatan
Asas kegiatan yang dimaksudkan dalam layanan bimbingan konseling ini pada dasarnya adalah asas yang
menghendaki layanan bimbingan dan konseling yang menghendaki agar klien berpartisipasi secara aktif di
dalam proses penyelenggaraan bimbingan. Dalam hal ini konselor perlu mendorong klien untuk aktif
dalam setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukkan baginya. Pada saat kegiatan layanan
dilakukan, konselor berupaya mendorong siswa untuk lebih aktif dalam mengemukakan masalah, aktif
dalam mencari solusi masalah bersama-sama konselor dan akhirnya aktif mencari atau memilih cara
terbaik dalam memecahkan masalah setelah mendapatkan pencerahan dari konselor.

7. Asas Kedinamisan
Keberhasilan usaha pelayanan bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan
tingkah laku klien ke arah yang baik. Untuk mewujudkan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku itu
membutuhkan proses dan waktu yang sesuai dengan kedalaman dan kerumitan masalah yang dihadapi
klien. Konselor dan klien serta pihak-pihak lain diminta untuk bekerja sama sepenuhnya agar pelayanan
bimbingan dan konseling yang diberikan dapat dengan cepat menimbulkan perubahan sikap dan tingkah
laku baik pada klien. Sebagaimana firman Allah Swt., yang artinya:
…”sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah dirinya
sendiri.”(QS. Ar Ra’du/13:11)

8. Asas Keterpaduan
Asas ini yang menghendaki agar berbagai proses pelayanan bimbingan dan konseling terjalin kerja sama
yang baik antara konselor dengan pihak lain yang dapat membantu penanggulangan masalah yang dihadapi
klien. Kerja sama ini tidak hanya antara klien dan konselor tetapi juga kerja sama dengan semua pihak
yang membantu kegiatan layanan bimbingan konseling.

9. Asas Kenormatifan
Pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan hendaknya tidak bertentangan dengan norma-norma
yang berlaku di dalam masyarakat dan lingkungannya. Konselor harus dapat membicarakan secara
terbuka dan terus terang segala sesuatu yang menyangkut norma dari mulai bagaimana berkembangnya,
bagaimana penerimaan masyarakat, apa dan bagaimana akibatnya bila norma-norma itu terus dianut dan
lain sebagainya. Sehingga klien dapat menentukan dan memilih norma-norma yang akan dianutnya.

10. Asas Keahlian


Untuk menjamin keberhasilan usaha bimbingan dan konseling, para konselor harus mendapatkan
pendidikan dan latihan yang memadai. Tidak semua orang dapat menjadi konselor untuk memberikan
layanan bimbingan konseling, karena konseling adalah layanan ahli maka semua petugas dalam hal ini
konselor harus dilakukan oleh orang yang mendapat pendidikan khusus untuk itu. Pada saat ini bahkan
konselor sudah merupakan profesi, dan karenanya konselor dihasilkan oleh pendidikan konselor sama
seperti dokter harus melalui pendidikan profesi dokter setelah mendapatkan sarjana kedokteran (S.Ked).
Demikian pula dengan konselor wajib mendapatkan pendidikan profesi konselor. Pentingnya keahlian ini
sebagaimana firman Allah Swt., yang artinya:

“Maka disebabkan oleh rahmat Allah, kami berlaku lemah lembut terhadap mereka.Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
maafkanlah mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu
telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai mereka yang
bertakwa kepada-Nya.”(QS.Al-Imran 3: 159)

11. Asas Alih Tangan


Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang menangani masalah-masalah yang cukup
sulit. Dengan keterbatasan konselor dalam membantu dan menyelesaikan masalah klien sedangkan dalam
bimbingan dan konseling pelayanannya harus tuntas jangan sampai terkatung-katung sehingga klien
menjadi semakin susah dalam menyelesaikan masalahnya.

E. Landasan Bimbingan dan Konseling


1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi
konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa
dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis. Landasan filosofis dalam bimbingan dan
konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis.
2. Landasan Religius
Dimensi spiritual pada manusia menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk religius.
Keyakinan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan, mengisyaratkan pada ketinggian derajat dan
keindahan makhluk manusia serta peranannya sebagai khalifah di bumi.
Landasan religius bagi layanan BK setidaknya ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu:
Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk Allah Swt.
Sikap yang mendorong perkembangan dan prikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan
kaidah-kaidah agama.
Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkan secara optimal suasana dan perangkat
budaya serta masyarakat yang sesuai dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu
perkembangan dan pemecahan masalah individu.

3. Landasan Psikologis
Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor
tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk kepentingan bimbingan
dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang: (a)
motifdan motivasi, (b) pembawaan dan lingkungan, (c) perkembangan individu, (d) belajar, dan
(e) kepribadian.

a. Motif dan Motivasi


Setiap orang dalam hal ini siswa dalam berperilaku atau bertindak selalu didasari oleh suatu motif
tertentu, dan motif berperilaku ini selalu berbeda antara satu orang dengan yang lainnya.

b. Pembawaan dan Lingkungan


Setiap anak lahir membawa pembawaannya masing-masing, dia lahir dengan sejumlah potensi
yang akan optimal apabila dikembangkan secara tepat. Di sisi lain anak berada pada lingkungan
tertentu yang memiliki potensi untuk memengaruhinya dalam berperilaku dan bertindak.
c. Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang
sejak masa konsepsi (pra natal/ bayi/fetus) hingga akhir hayatnya, di antaranya meliputi aspek fisik dan
psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial.
d. Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup.
Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan
belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar
adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri
individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tAnda
perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor/ keterampilan.
e. Kepribadian
Syamsuddin (2003), mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang mencakup:
Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten tidaknya dalam
memegang pendirian atau pendapat.
Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-
rangsangan yang datang dari lingkungan.
Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti
mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa.
Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima risiko dari tindakan atau perbuatan yang
dilakukan. Seperti mau menerima risiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari risiko
yang dihadapi.
Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi ya

4. Landasan Sosial-Budaya
ng berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
5. Landasan Pedagogis
Landasan pedagogis pelayanan BK setidaknya berkaitan dengan: (1) pendidikan sebagai upaya
pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, (2) pendidikan
sebagai inti proses bimbingan dan konseling, (3) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan
dan konseling.
6. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasar-dasar keilmuan,
baik yang menyangkut teori maupun praktiknya. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun
secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara,
analisis dokumen, serta prosedur tes.

F. Bidang Bimbingan Belajar, Sosial, Pribadi dan Karier


1. Bimbingan Belajar
Bimbingan ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan kegiatan belajar
baik di sekolah maupun di luar sekolah. Bimbingan ini antara lain meliputi:
Cara belajar, baik belajar secara kelompok ataupun individual.
Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar.
Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran.
Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu.

2. Bimbingan dalam Mengatasi Masalah-masalah Pribadi


. Sehubungan dengan hal tersebut Downing (1968), menyatakan bahwa layanan bimbingan di sekolah
sangat bermanfaat terutama dalam membantu:
Menciptakan suasana hubungan sosial yang menyenangkan.
Menstimulasi siswa agar mereka meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan belajar-mengajar.
Menciptakan atau mewujudkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Meningkatkan motivasi belajar siswa.
Menciptakan dan menstimulasi tumbuhnya minat belajar.

3. Bimbingan Sosial
Menurut Ahmad (1977), bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk:
Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai.
Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai.
Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tertentu.

Di samping itu, bimbingan sosial juga dimaksudkan agar siswa dapat melakukan penyesuaian diri terhadap
teman sebayanya baik di sekolah maupun di luar sekolah (Downing, 1978).

4. Bimbingan Karier
Bimbingan karier merupakan layanan bantuan kepada peserta didik dalam mempertimbangkan pilihan
kerja atau mempertimbangkan untuk bekerja atau tidak; dan (jika perlu segera bekerja, baik part-time
maupun full-time).

G. Struktur Organisasi Bimbingan Konseling di Sekolah


Menurut PP No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar Bab X Bimbingan Pasal 25 ayat (1) Bimbingan
merupakan bantuan yang diberikan pada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal
lingkungan dan merencanakan masa depan, ayat (2) Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing, ayat (3)
Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (1) dan (2) di atas oleh menteri. PP No. 29/1990
tentang Pendidikan Menengah Bab X Bimbingan Pasal 27 ayat (1) Bimbingan merupakan bantuan yang
diberikan pada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan
masa depan. Ayat (2) Bimbingan diberikan
STRUKTUR ORGANISASI BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

Personel kantor dinas


pendidikan

Kepala sekolah

Tata usaha

Wali kelas/Guru pembina Guru mata pelajaran/pelatih

Guru pembimbing

Tenaga ahli BP 3

Siswa

H. Orientasi Bimbingan dan Konseling

1. Orientasi Perorangan
Orientasi perorangan pada bimbingan dan konseling yaitu orientasi yang menghendaki konselor
menitikberatkan pandangan pada siswa secara individual. Artinya seorang konselor harus menjadikan
perhatian pada siswa secara individual, yaitu satu persatu siswa perlu mendapat perhatian.

2. Orientasi Perkembangan
Orientasi perkembangan dalam bimbingan dan konseling lebih menekankan lagi pentingnya peranan
perkembangan yang terjadi dan hendaknya diterjadikan pada diri individu. Bimbingan dan konseling
memusatkan perhatiannya pada keseluruhan proses perkembangan itu.

3. Orientasi Permasalahan
Seperti kita ketahui bahwa fungsi-fungsi bimbingan dan konseling, maka orientasi masalah secara
langsung terkait dengan fungsi pencegahan dan fungsi pengentasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar
individu dapat terhindar dari masalah-masalah yang mugkin membebani dirinya, sedangkan fungsi
pengentasan menginginkan agar individu yang sudah terlanjur mengalami masalah dapat terentaskan
masalahnya.
Fungsi-fungsi lain dari layanan bimbingan konseling yaitu fungsi pemahaman masalah sehingga
memungkinkan individu memahami berbagai informasi sumber masalah yang bersumber dari berbagai
aspek seperti aspek lingkungan yang dapat berguna untuk mencegah timbulnya masalah pada diri klien.

I. Ruang Lingkup Pelayanan Bimbingan dan Konseling


1. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Sekolah merupakan lembaga formal yang secara khusus dibentuk untuk menyelenggarakan pendidikan
bagi warga masyarakat.
Keterkaitan antara Bidang Pelayanan Bimbingan Konseling dan Bidang-bidang Lainnya.

Dalam proses pendidikan, khususnya di sekolah, Mortensen dan Schmuller (1976) mengemukakan adanya
bidang-bidang tugas atau pelayanan yang saling terkait. Bidang-bidang tersebut hendaknya secara lengkap
ada apabila diinginkan agar pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi
secara optimal kebutuhan peserta didik dalam proses perkembangannya. Terdapat tiga bidang pelayanan
pendidikan yaitu bidang kurikulum dan pengajaran, bidang administrasi dan kepemimpinan dan kesiswaan

J. Kode Etik Bimbingan Konseling


Menurut Winkel (1992): “kode etik jabatan ialah pola ketentuan/aturan/ cara yang menjadi pedoman dalam
menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi”.
Bimo Walgito (1980) mengemukakan beberapa butir rumusan kode etik bimbingan dan konseling sebagai
berikut:
Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan penyuluhan harus
memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya,
dengan membatasi diri pada keahliannya atau wewenangnya. Karena itu, pembimbing jangan sampai
mencampuri wewenang serta tanggung jawabnya.

Peranan Guru dalam Program Bimbingan dan Konseling di


Sekolah
Guru bukan hanya sekadar penyampai pelajaran, bukan pula sebagai penerap metode mengajar,
melainkan guru adalah pribadinya, yaitu keseluruhan penampilan serta perwujudan dirinya dalam
berinteraksi dengan siswa. Bernard (1961:127-128) menyatakan bahwa pribadi guru lebih dari apa yang
diucapkan dan metode yang digunakannya yang menentukan kadar dan arah pertumbuhan siswa. Beliau
juga mengemukakan bahwa banyak penelitian yang menyatakan adanya akibat langsung pribadi guru
terhadap tingkah laku siswa.
1. Guru Sebagai Mediator Kebudayaan
Guru merupakan seorang perantara di dalam suatu proses pewarisan kebudayaan. Beberapa keterampilan
dan kecakapan yang merupakan aspek kebudayaan seperti: bahasa, ilmu pengetahuan, keterampilan sosial,
sikap dan sebagainya diterima oleh anak dengan perantaraan guru. Dalam peranannya sebagai seorang
mediator kebudayaan maka seorang guru harus sanggup memberikan, mengajarkan dan membimbing
berbagai ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada peserta didiknya. Seorang guru harus mampu
membimbing peserta didiknya dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan kebudayaannya.
Perkembangan kebudayaan itu sendiri sering kali menimbulkan masalah-masalah bagi murid-murid,
terutama masalah penyesuaian diri dan masalah pemilihan. Untuk itu hendaknya guru mampu memberikan
bantuan kepada peserta didiknya dalam melakukan penyesuaian diri kepada unsur-unsur kebudayaan.

2. Guru Sebagai Mediator dalam Belajar


Guru bertindak sebagai perantara dalam proses pembelajaran secara keseluruhan. Guru lah yang
menyelenggarakan pembelajaran peserta didik dan guru harus bertanggung jawab akan hasil pembelajaran
itu, melalui proses interaksi belajar-mengajar. Guru merupakan faktor penting yang memengaruhi berhasil
tidaknya proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus menguasai
3. Guru Sebagai Pembimbing
Dalam tugasnya yang pokok yaitu mendidik, guru harus membantu agar anak mencapai kedewasaan
secara optimal, artinya kedewasaan yang sempurna sesuai dengan norma dan sesuai pula dengan kodrat
yang dimiliknya. Dalam peranan ini guru harus memerhatikan aspek-aspek pribadi peserta didik, antara
lain aspek kematangan, bakat, kebutuhan, kemampuan, sikap dan sebagainya, supaya kepada mereka ini
dapat diberikan bantuan dalam mencapai tingkat kedewasaan optimal. Hal ini mengandung arti bahwa
guru pun turut bertanggung jawab dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling.
Sebagai seorang petugas bimbingan, guru merupakan tangan pertama dalam usaha membantu
memecahkan kesulitan murid-murid yang menjadi peserta didiknya. Guru harus paling banyak dan sering
berhubungan dengan murid-muridnya, terutama dalam kegiatan-kegiatan kurikuler. Jadi, tugas guru tidak
hanya terbatas dalam memberikan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada murid-muridnya,
tetapi guru juga bertanggung jawab untuk membantu dan mengawasi peserta didiknya. Sehubungan
dengan peranannya sebagai pembimbing, maka seorang guru harus:
Mengumpulkan data tentang murid
Mengamati tingkah laku murid dalam situasi sehari-hari
Mengenal murid-murid yang memerlukan bantuan khusus
Mengadakan interaksi dengan orangtua murid, baik secara individual maupun secara kelompok
untuk memperoleh saling pengertian dalam pandidikan anak
Bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga lainnya untuk membantu memecahkan
masalah murid
Membuat catatan pribadi murid serta menyiapkannya dengan baik
Menyelenggarakan bimbingan kelompok maupun individual
Bekerja sama dengan petugas-petugas bimbingan lainnya untuk membantu memecahkan masalah
murid
Bersama-sama dengan petugas bimbingan lainnya menyusun program bimbingan sekolah
Meneliti kemajuan murid baik di sekolah maupun di luar sekolah.
4. Guru Sebagai Mediator antara Sekolah dan Masyarakat
Ini berarti bahwa kelancaran hubungan antara sekolah dan masyarakat merupakan tugas dan tanggung
jawab guru. Lancar tidaknya hubungan tersebut tergantung pada tingkat kemampuan guru dalam
memainkan peranan ini. Dalam peranan itu, guru seharusnya mampu:
Memberikan penjelasan-penjelasan kepada masyarakat tentang kebijaksanaan pendidikan yang sedang
berlangsung atau yang akan ditempuh
Menerima usul-usul atau pertanyaan dari pihak masyarakat tentang pendidikan
Menyelenggarakan pertemuan-pertemuan antara sekolah dan masyarakat khususnya dengan orangtua
murid
Bekerja sama dengan berbagai pihak di masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan
Menyelenggarakan hubungan yang sebaik-baiknya antara sekolah dengan lembaga-lembaga yang
berhubungan dengan pendidikan
Guru merupakan suara sekolah di masyarakat dan suara masyarakat di sekolah.

5. Guru Sebagai Penegak Disiplin


Dalam peranan ini guru harus menegakkan disiplin baik di dalam maupun di luar kelas. Guru harus
menjadi teladan bagi terlaksananya suatu disiplin. Guru harus membimbing murid agar menjadi warga
sekolah dan masyarakat yang berdisiplin. Guru harus menyiapkan murid-muridnya sebagai calon anggota
masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai masyarakat. Dalam peranan inilah seorang
guru harus mencerminkan suatu tingkah laku sebagai anggota masyarakat yang dapat “digugu dan ditiru”
oleh segenap peserta didik dengan penuh kesadaran.

6. Guru Sebagai Administrator dan Manager Kelas


Sebagai administrator, tugas seorang guru harus dapat menyelenggarakan program pendidikan dengan
sebaik-baiknya. Berbagai aspek yang menyangkut kelancaran jalannya pendidikan merupakan tanggung
jawab guru. Guru harus mengambil bagian dalam hal perencanaan kegiatan pendidikan (planning),
mengatur dan menyusun berbagai aspek dalam pendidikan (organizing), mengarahkan kegiatan-kegiatan
dalam pendidikan (directing), melaksanakan segala rencana dan kebijakan pendidikan (actuating),
merencanakan dan
7. Guru Sebagai Anggota Suatu Profesi
Suatu profesi adalah jabatan yang mempunyai kualifikasi tertentu. Pekerjaan guru sebagai suatu profesi
berarti bahwa guru merupakan seorang yang ahli. Keahlian tersebut tidak dapat dilakukan oleh ahli-ahli
atau pejabat-pejabat lain yang tidak memperoleh dasar pendidikan keahlian tersebut. Sebagai anggota
suatu profesi, maka guru harus memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan tertentu yaitu
keterampilan keguruan. Kemampuan untuk membimbing murid, merupakan salah satu aspek
keterampilan profesi keguruan. Di samping itu, seorang guru harus menunjukkan, mempertahankan serta
mengembangkan keahlian itu.

Fungsi dan Peran Guru Sebagai Pembimbing


Menurut Ngalimun, sebagai guru kelas yang mengajarkan mata pelajaran, guru sekolah dasar pada
dasarnya mempunyai peran sebagai pembimbing. Dalam SK Menpan No. 83/1993 ditegaskan bahwa selain
tugas utama mengajar, guru sekolah dasar ditambah dengan melaksanakan program bimbingan di kelas
menjadi tanggung jawabnya. Bahkan Murno dan Kottman (1995:69), menempatkan posisi guru sebagai
unsur yang sangat kritis dalam inplementasi program bimbingan perkembangan: “Without teacher
involvement, developmental guidance is simply one more good, bud unworkable, concept”. Guru
merupakan pelindung terdepan dalam mengidentifikasi kebutuhan siswa, penasihat utama bagi siswa, dan
perekayasa nuansa belajar, dan bekerja sama dengan orangtua untuk keberhasilan siswa.
Peran guru sebagai guru pembimbing, sesungguhnya akan tumbuh subur jika guru menguasai rumpun
model mengajar pribadi. Rumpun mengajar pribadi terdiri atas model mengajar yang berorientasi kepada
perkembangan diri siswa. Penekanannya lebih diutamakan kepada proses yang membantu individu dalam
membentuk dan mengorganisasikan realita yang unik, dan lebih banyak memerhatikan kehidupan
emosional siswa. Model mengajar yang termasuk rumpun ini adalah model pengajaran non-direktif, dan
pemerkayaan harga diri (enbancing self esthem). Model mengajar untuk mengembangkan kebersamaan
adalah belajar kelompok, sedangkan model mengajar untuk memecahkan masalah sosial adalah bermain
peran (Joyce dan Well, 1996).
Kerja Sama Guru dan Konselor Sekolah dalam Layanan Bimbingan
dan Konseling
Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan adanya kerja sama antara guru dan guru pembimbing
demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan tugas pokok guru dalam proses pembelajaran tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan bimbingan, sebaliknya, layanan bimbingan di sekolah memerlukan
dukungan atau bantuan guru. Dukungan atau bantuan tersebut terutama dari guru mata pelajaran dan wali
kelas. Ada beberapa pertimbangan mengapa guru juga harus melaksanakan kegiatan bimbingan dalam
proses pembelajaran.

BAB
BAB 3
ADMINISTRASI 3
SEKOLAH
Pengertian Administrasi Pendidikan di Sekolah
1. Pengertian Administrasi Pendidikan
Dalam setiap organisasi, apa pun bentuk dan jenisnya, administrasi dan manajemen menempati kedudukan
sentral dan menentukan dalam pembinaan dan pengembangan serta keberhasilan kegiatan kerja sama. Oleh
karena itulah, administrasi telah dan selalu akan dikaji secara ilmiah. Administrasi sebagai disiplin ilmu
telah dikaji secara mendalam dan intensif secara teoretis maupun praktis tentang rangkaian perilaku
berkaitan dengan kegiatan pengendalian, pengelolaan dan usaha kerja sama dalam mencapai suatu tujuan.
Kecenderungan berkelompok merupakan hakikat manusia sebagai makhluk sosial, yang mendorong
mereka untuk selalu hidup berkelompok sehingga terbentuklah berbagai kelompok dalam kegiatan
manusia.
Ilmu administrasi sebagai ilmu, berusaha mengkaji berbagai usaha-usaha manusia dalam mencapai dan
meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja di dalam suatu kelompok. Sebagai disiplin ilmu, administrasi
mengkaji dan mencari metode serta alat kerja yang tepat, juga menaruh perhatian terhadap pengaturan
tenaga-tenaga manusia sehingga diperoleh kelompok yang produktif dalam pelaksanaan kerjanya.
Perhatian ini terutama ditujukan kepada usaha untuk mendayagunakan dan memberdayakan serta
meningkatkan sumber daya manusia agar dapat mencapai hasil kerja yang maksimal tanpa
mengorbankan hakikatnya sebagai manusia. Meskipun demikian ilmu administrasi tetap memerhatikan
unsur-unsur psikologis manusia, karena itu administrasi berusaha mengkaji bagaimana cara
memanfaatkan sumber daya manusia agar menjadi produktif dalam kerjanya yang diiringi dengan
perasaan puas bagi yang bersangkutan. Hal inilah yang mendorong mengapa teori manajemen modern
seperti HumanResource Management (HRM) selalu diadopsi oleh teori administrasi pendidikan.

2. Pengertian Administrasi dan Administrasi Pendidikan


Administrasi menurut asal katanya berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari AD+MINISTRARE yang
berarti melayani, membantu dan memenuhi. Dari perkataan itu terbentuk kata benda ADMINISTRATIO
dan kata sifat ADMINISTRATIVUS yang kemudian dikenal dalam bahasa lnggris
Administrasi pendidikan pada dasarnya adalah penerapan administrasi umum dalam pendidikan. lnikah
hakikat sebenarnya administrasi pendidikan? untuk menjawab hal berikut akan dikemukakan beberapa
kutipan pengertian administrasi pendidikan menurut beberapa ahli:
Wartel s Monroe mengemukakan bahwa: educational administration is thedirection, control of
management of all matter pertaining to school affairs, including business administration since aspect of
school affairs may be considered as carried on for educational end.
Albert H. Shuster dan Wilson F. Wetzler mendefinisikan administration ofschool may be defined as the
art and science of creatively integrating ideas, materials and person in to an organic, harmonious
working unit for the achievement of desired goal.Lebih lanjut Albert dkk menyatakan bahwa fungsi
administratif di sekolah mencakup memimpin staf personel, menyediakan materiil pengajaran, dan
mengarahkan penyelenggaraan pendidikan.
Dari berbagai definisi tersebut di atas, apabila kita coba untuk menarik kesimpulan berdasarkan komponen
pengertian administrasi yang terdapat pada masing-masing pengertian yang dikemukakan oleh para ahli
dapat dikatakan bahwa administrasi pendidikan adalah keseluruhan proses pengelolaan dan pengendalian
usaha kerja sama sejumlah orang pada lembaga pendidikan yaitu kepala sekolah, guru, murid, karyawan
bahkan orangtua murid dengan mendayagunakan berbagai sumber dan metode serta alat tertentu untuk
mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

 Fungsi Administrasi
Dalam diskusi kita pada bagian ini, tidak menguraikan seluruh fungsi-fungsi di atas, tetapi hanya
beberapa fungsi yang memang mutlak ada dalam setiap kegiatan proses manajemen yaitu planning,
organizing, directing,coordinating, controlling dan communicating.

1. Planning (Perencanaan)
Perencanaan adalah proses pemikiran tentang bagaimana kegiatan yang akan dilakukan dimasa yang
akan datang dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan yang ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan
efisien. Ini berarti dalam perencanaan adalah persiapan menyusun suatu keputusan, berupa langkah-
langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah kepada pencapaian
tujuan tertentu.

2. Organizing (Pengorganisasian)
Pengorganisasian diartikan sebagai pengaturan penyelesaian kegiatan berdasarkan aturan yang berlaku.
Pengorganisasian dapat diartikan sebagai kegiatan menyusun struktur dan membentuk hubungan-
hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha mencapai tujuan bersama. Dengan demikian
pengorganisasian ini diwujudkan dengan menetapkan bidang-bidang atau fungsi-fungsi yang termasuk
ruang lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan oleh sekelompok orang, kegiatan ini sekaligus
merupakan pembagian kerja beserta deskripsi kerjanya, juga dilengkapi dengan mekanisme kerja dalam
bentuk struktur organisasi.

3. Directing (Pengarahan)
Pengarahan dapat diartikan sebagai proses kegiatan memberi petunjuk secara operasional kepada semua
anggota staf yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai, tugas dan tanggung jawab masing-
masing, waktu yang tersedia untuk melakukan kegiatan (target waktu) serta memberikan gambaran
umum tentang pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan.
Pengarahan dapat pula diartikan sebagai kegiatan untuk memelihara, menjaga dan memajukan organisasi
melalui setiap personel, baik secara struktural maupun fungsional agar setiap kegiatannya tidak terlepas
dari usaha pencapaian tujuan. Kegiatan nyata dalam rangka pemeliharaan tersebut diwujudkan oleh
pimpinan dengan melakukan berbagai hal sebagai berikut:
Memberi dan menjelaskan perintah.
Memberi petunjuk melaksanakan suatu kegiatan.
Memberi kesempatan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan keahlian agar lebih efektif
dalam melaksanakan berbagai tugas yang dipercayakan organisasi kepada personel yang
bersangkutan.
Memberi kesempatan ikut serta menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk memajukan organisasi
berdasarkan inisiatif dan kreativitas masing-masing.

Memberikan koreksi agar setiap personel memahami serta mampu melaksanakan tugas sehari-hari
secara efektif dan efisien.
Apabila kita cermati secara mendalam apa yang diuraikan di atas, dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa
pengarahan pada dasarnya adalah upaya yang harus dilakukan oleh seseorang (kepala sekolah atau orang
lain yang ditunjuk) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan.
4. Coordinating (Pengoordinasian)
Pengoordinasian sebagai fungsi manajemen memegang peranan penting dan merupakan kegiatan yang
mutlak dilakukan oleh seorang manajer. Koordinasi yang sistematik akan menjamin terhindarnya saling
tumpang tindih atau konflik antar berbagai kegiatan. Kegiatan ini memegang peranan yang sangat besar
lebih-lebih pada organisasi yang unit kerjanya besar.

5. Controlling (Pengawasan)
Kegiatan pengawasan ini dapat dilakukan antara lain dengan pemeriksaaan, penyampaian
pertanggungjawaban, pengecekan dan pengumpulan informasi (dari berbagai sumber) untuk diolah dan
diinterpretasikan berdasarkan perbandingan dengan tujuan yang hendak dicapai sebagai standar
keberhasilan. Jadi pengawasan dan penilaian ini tidak hanya menyangkut kuantitas tetapi juga hendaknya
menyangkut kualitas.
6. Communicating (Pengomunikasian)
Komunikasi sering diartikan sebagai proses penyempurnaan informasi, ide, gagasan, pendapat dan saran-
saran bahkan kritik secara timbal balik dalam rangka melancarkan proses kerja sama untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan.
Komunikasi sebagai salah satu fungsi manajemen mutlak dilakukan oleh seorang manajer (dalam
pendidikan berarti kepala sekolah, di dalam kelas berarti guru) dalam proses kegiatan untuk mencapai
tujuan. Dalam setiap organisasi (termasuk organisasi pendidikan di sekolah) komunikasi juga berarti untuk
menyampaikan informasi, perintah memengaruhi, membujuk atau persuasi serta mengadakan integrasi
(Koontz, 1981), bahkan Kallaus dan Kelling (1987) menambahkan fungsi komunikasi juga berarti untuk
mengevaluasi dan memenuhi kebutuhan kemanusiaan dan budaya. Karena menurut Kallaus dkk
komunikasi merupakan kebutuhan dasar (basic needs) manusia dalam kodratnya sebagai makhluk sosial.
Ditinjau dan segi teori kebutuhan, maka Adler & Rodman, (1982) menyatakan bahwa komunikasi
merupakan salah satu kebutuhan hidup yaitu kebutuhan fisik berupa kerja sama, sehingga manusia tidak
akan menjadi manusiawi tanpa berkomunikasi dengan manusia lainnya. Hal ini menuntut kemampuan
berkomunikasi.

C. Kegiatan-kegiatan Administratif Guru di Sekolah

1. Pengelolaan Pengajaran
Menyusun Program Kerja
Menyusun Kalender Sekolah
Pengaturan Jadwal Pelajaran
Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP)
Mengelola Evaluasi Belajar (UTS, UAS & UN)
Membuat Laporan Kemajuan
Melakukan Pembinaan Terhadap Guru

2. Pengelolaan Kesiswaan
Adapun kegiatan konkret dalam pengelolaan kesiswaan ini dapat diuraikan secara ringkas sebagai berikut:
Penerimaan Siswa Baru
Melakukan Pengelompokan Siswa dalam Kelas
Melakukan Pencatatan Kehadiran/Ketidakhadiran Siswa
Pembinaan Disiplin Siswa
Pengelolaan Mutasi Siswa
Pembinaan Osis
3. Pengelolaan Personalia/Kepegawaian
Dalam pengelolaan kepegawaian ini ada beberapa kegiatan yang perlu mendapat perhatian yaitu:
Perencanaan Pegawai
Pengembangan Pegawai

4. Pengelolaan Alat Pelajaran


Beberapa hal pokok yang perlu mendapatkan perhatian dari kepala sekolah dalam pengelolaan alat
pelajaran ini adalah sebagai berikut:
Perencanaan jenis dan jumlah alat
Pengadaan alat pelajaran
Penyimpanan dan penggunaan alat pelajaran.

5. Pengelolaan Gedung Beserta Perlengkapannya


Beberapa kegiatan yang harus dilakukan dalam rangka pengelolaan gedung dan perlengkapannya adalah:
Melakukan pemeliharaan dan pengaturan terhadap gedung sekolah secara keseluruhannya baik kebersihan,
keindahan, kenyamanan, keasrian dan keserasiannya.
Melakukan pencatatan dan inventarisasi terhadap semua perabot sekolah, baik perabot untuk kegiatan
belajar mengajar (meja kursi, papan tulis, dan sebagainya) maupun perabot untuk keperluan administrasi
ketatausahaan seperti mesin tik, mesin hitung, komputer dan sebagainya.

Melakukan monitoring dan atau pengecekan terhadap keadaan barang perlengkapan sekolah, sehingga
dapat diketahui dengan jelas keadaan masing-masing barang, mana yang perlu diperbaiki, atau malah
dihapuskan.
6. Pengelolaan Keuangan
Prinsip dasar yang harus diperhatikan dan tidak boleh diabaikan masa sekarang dalam pengelolaan
keuangan adalah transparansi dan akuntabilitas. Sebab dalam era keterbukaan sekarang apabila tidak
dilakukan transparansi maka akan menimbulkan kecurigaan masyarakat yang berujung pada hal-hal yang
tidak diinginkan.
7. Pengelolaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Hubungan sekolah dengan masyarakat ini sangat penting dalam rangka mendapatkan bantuan dan
masyarakat, sebab melalui kegiatan ini dapat diberikan penjelasan kepada masyarakat tentang program
yang ingin dilakukan
oleh sekolah sehingga mereka mengerti dan mau membantu. Sehubungan dengan ini Clifford Lee
Brownell mengemukakan:
Knowledge of the programme is essential to understanding, understanding is basic to appreciation, and
appreciation is basic to support.
Bertolak dari pendapat di atas berarti bahwa sekolah harus memberikan penjelasan kepada orangtua murid
atau masyarakat tentang program sekolah yang akan dilaksanakan, serta tujuan apa yang ingin dicapai
melalui program tersebut.
BAB4

SUPERVISIPENDIDIKAN
A. Perlunya Pembinaan Guru
Strategisnya peranan guru sekarang ini dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dapat dipahami dari
hakikat guru yang selama ini dijadikan asumsi programmatic pendidikan guru yaitu:
Guru merupakan agen pembaruan.
Guru berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi subjek didik
untuk belajar (memudahkan terjadinya proses belajar).
Guru bertanggung jawab atas terciptanya hasil belajar subjek didik, rendah atau tingginya hasil belajar
siswa tidak terlepas dari tanggung jawab guru.
Guru merupakan contoh teladan bagi peserta didik.
Guru bertanggung jawab secara profesional untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan
kegiatan proses belajar mengajar di kelas baik secara individual maupun yang dilakukan secara
berkelompok.
Guru harus menjunjung tinggi kode etik profesinya.

Guru harus memainkan peranan atau fungsi sebagai:


Pembimbing
Pembaharu model (inovator)
Konselor
Pelatih
Dan lain-lain fungsi yang tidak ringan

Pengertian dan Fungsi Pokok Supervisi

1. Pengertian dan Fungsi Supervisi


Istilah supervisi yang berasal dari bahasa Inggris terdiri dari dua kata, yaitu: super yang artinya di atas
dan vision mempunyai arti melihat, maka secara keseluruhan supervisi diartikan sebagai ‘’melihat dari
atas’’. Dengan pengertian itulah maka supervisi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pengawas
dan kepala sekolah -- sebagai pejabat yang berkedudukan di atas -- atau lebih tinggi dari guru – untuk
melihat atau mengawasi pekerjaan guru. Dalam pengertian lain, supervisi merupakan peningkatan makna
dari inspeksi yang berkonotasi mencari-cari kesalahan. Jelaslah bahwa kesan seperti itu sangat kurang
tepat dan tidak sesuai lagi dengan zaman reformasi seperti sekarang ini. Supervisi adalah kegiatan
mengamati, mengidenfikasi mana hal-hal yang sudah benar, mana yang belum benar, dan mana pula
yang tidak benar, dengan maksud agar tepat dengan tujuan memberikan pembinaan.
Kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada sekolah pada umumnya dan guru pada
khususnya agar kualitas pembelajarannya meningkat. Sebagai dampak meningkatnya kualitas
pembelajaran,tentu dapat meningkat pula prestasi belajar siswa, dan itu sudah tertuju pada keberhasilan
siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan di sekolah, berarti bahwa supervisi tersebut
sudah sesuai dengan tujuannya. Oleh karena siswalah yang menjadi pusat perhatian dari segala upaya
pendidikan, berarti supervisi sudah mengarah pada subjeknya.

Berpijak pada batasan pengertian tersebut maka sedikitnya ada tiga fungsi supervisi, yaitu: (1) sebagai
kegiatan meningkatkan mutu pembelajaran
sebagai pemicu atau penggerak terjadinya perubahan pada unsur-unsur yang terkait dengan
pembelajaran, dan (3) sebagai kegiatan memimpin dan membimbing.

a. Fungsi Meningkatkan Mutu Pembelajaran


Supervisi yang berfungsi meningkatkan mutu pembelajaran merupakan supervisi dengan ruang
lingkup yang sempit, tertuju pada aspek akademik, khususnya yang terjadi di ruang kelas ketika guru
sedang memberikan bantuan dan arahan kepada siswa. Perhatian utama supervisor adalah bagaimana guru
dan perilaku siswa yang belajar, dengan bantuan atau tanpa bantuan guru secara langsung. Seberapa tinggi
keberhasilan siswa kepada belajar, itulah fokus supervisi sebenarnya. Artinya perbaikan proses
pembelajaran menuju pembelajaran yang berkualitas, dalam rangka mewujudkan perbaikan belajar siswa
menuju kepada kemampuan siswa belajar secara mandiri.

b. Fungsi Memicu Unsur yang Terkait dengan Pembelajaran


Supervisi yang berfungsi memicu atau penggerak terjadinya perubahan tertuju pada unsur-unsur
yang terkait dengan, atau bahkan yang merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan
kualitas pembelajaran. Faktor yang sangat kuat mendukung dan memberi pengaruh terhadap kelancaran
pelaksanaan pembelajaran adalah administrasi. Sebab proses administrasi sifatnya melayani atau
mendukung kegiatan pembelajaran, maka para pelaksana administrasi termasuk guru perlu juga diberikan
bantuan tentang administrasi yang baik.

c. Fungsi Membina dan Memimpin


Yang berkewajiban memimpin dan membimbing guru dan staf tata usaha di sekolah adalah kepala
sekolah dan guru. Sebetulnya kedua pengertian tersebut maknanya hampir sama, namun dipakai keduanya
untuk sekadar memperkuat konsep yang dibahas. Seorang supervisor memang tugas utamanya adalah
membina guru agar dapat menjalankan tugas dan kewajibannya secara optimal.

C. Tanggung Jawab Pembinaan Profesionalisme Guru


Pelaksanaan pembinaan guru menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan pengawas sekolah, tetapi
mengingat setiap hari guru berada di sekolah, maka pimpinan langsungnya sehari-hari adalah kepala
sekolah, oleh sebab itu maka kepala sekolah bertanggung jawab untuk membina guru-guru di sekolahnya
agar dapat berperan secara profesional dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru.

LPTK
Mengutip pendapat Rake Joni (2009) dinyatakan bahwa LPTK yang mampu menghasilkan guru
profesional adalah LPTK yang memiliki keutuhan sumber daya manusia dan non manusia, yang dikelola
dengan manajemen yang modern. Tampaknya SDM yang profesional di LPTK memberikan kontribuasi
dalam menghasilkan guru yang profesional. Kompf dan Denicolo (2005) menyatakan hanya dari institusi
pendidikan tinggi yang memiliki penelitian yang besar dan berkualitas lah yang dapat menghasilkan guru
yang juga profesional dan kompetensi tinggi dalam penelitian. Lebih lanjut dinyatakan bahwa guru yang
memiliki daya berpikir tinggi akan mampu melakukan kegiatan inovatif. Hal tersebut akan mampu
membawa guru dalam melakukan penelitian yang kreatif dan inovatif dalam kelasnya. Tim OECD (2008),
menyatakan bahwa inovasi pembelajaran hanya lahir dari guru yang inovatif. Hal senada juga
dikemukakan oleh Sue, B (2005) bahwa inovasi guru akan lahir dan menjadi budaya apabila dilakukan
pembentukan karakter inovasi sejak mereka dibentuk menjadi guru (calon guru). Pentingnya peranan
LPTK dalam menghasilkan guru yang berkualitas ini dinyatakan juga oleh Mantja (2007) yang
dinyatakannya bahwa adalah tugas LPTK mempersiapkan calon guru dengan baik melalui rancangan dan
pendekatan yang baik pula. Kelemahan dan kekurangmampuan guru dalam melaksanakan tugasnya terkait
dengan lembaga penghasilnya. Kualitas guru yang rendah menyebabkan mutu pendidikan yang rendah
pula, walaupun komponen pengaruh terhadap mutu itu banyak sekali, pada gilirannya rendahnya mutu
guru berbalik pada LPTK yang menyiapkannya.
Gambaran berbagai studi tersebut mengingatkan kepada kita di LPTK untuk selalu menampilkan
pembelajaran yang inovatif dan kreatif sehingga mampu menghasilkan kemandirian mahasiswa. Di
samping itu juga diperlukan manajemen yang profesional, karena kajian-kajian manajemen membuktikan
bahwa keberhasilan institusi pendidikan 80% ditentukan oleh manajemen institusi tersebut (lihat kajian
Deming, Juran, Crosby, Ishikawa, Arcaro dalam TQN in Education).

Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah


Kepala sekolah memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembinaan dan
pengembangan profesionalisme guru. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Glickman (2002), Bafaddal
(2009) yang menyatakan bahwa tidak ada sekolah yang baik (termasuk guru yang baik) tanpa kepala
sekolah yang baik. Kualitas sekolah sangat ditentukan oleh kepala sekolah.

Dinas Pendidikan
Institusi yang berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan menurut
peraturan pemerintah dalam era otonomi adalah dinas pendidikan. Oleh sebab itu, institusi ini memegang
peranan penting dalam pembinaan dan pengembangan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan
lainnya. Diperlukan manajemen ketenagaan yang baik dan efektif. Tanpa hal tersebut maka kualitas
tenaga pendidik dan kependidikan tidak akan berkembang.

D. Pendekatan Supervisi Pendidikan


Pendekatan supervisi sering dikelompokkan menjadi dua pendekatan, yaitu: pendekatan langsung (direct
contact) dan pendekatan tidak langsung (indirect contact). Pendekatan pertama dapat disebut dengan
pendekatan tatapmuka dan kedua pendekatan menggunakan perantara, seperti melalui surat menyurat,
media massa, media elektronik, radio, kaset, internet dan yang sejenis. Sementara dikenal juga
pendekatan kolaboratif, yaitu pendekatan yang menggabungkan kedua pendekatan itu (Aqib, Zainal dan
Rohmanto, Elham, 2007). Meskipun ahli lainnya ada yang menggolongkan dalam tiga pendekatan. Hal
ini akan diuraikan secara tersendiri pada bagian lain buku ini.
Orientasi Perilaku Supervisi Pengajaran
. Dalam kaitan ini ada beberapa ahli mengelompokkan karakter guru dalam tiga bagian, yang
menggambarkan sejauhmana efektivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran. Kelompok tersebut
adalah sebagai berikut:
Guru yang tidak efektf dalam melaksanakan pembelajaran menurut pertimbangan/penilaian
supervisor, tapi menurut guru itu sendiri dia efektif. Dengan kata lain guru ini disebut dengan
istilah guru yangtidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Guru yang tergolong dalam kategori semacam
ini dapat diidentifikasi oleh supervisor melalui indikator sebagai berikut:
Kemajuan siswa yang rendah/prestasi belajar siswa yang diajarnya rendah.

Guru tidak mempunyai hubungan yang baik/tidak akrab dengan siswanya.
Pemilihan Pendekatan/Orientasi Supervisi Pengajaran yang Digunakan
dalam Pembinaan Guru
Di sini diperlukan kemampuan supervisor dalam menggali informasi dan memicu munculnya informasi
dari guru.
Mengklarifikasi (Clarifying), berarti supervisor mempertegas apa yang dikemukakan oleh guru tentang
masalah yang dihadapinya dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Mendorong (Encouraging), berarti supervisor mendorong guru agar bersedia kembali mengemukakan
masalahnya apabila dirasa tidak jelas.
Mempresentasikan (Presenting), berarti supervisor menyajikan atau menyampaikan dan
mengemukakan pemikiran-pemikirannya tentang strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi
masalah atau upaya yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran di kelasnya, sehingga dapat meningkatkan mutu hasil belajar siswa.

Kriteria Memilih Pendekatan Supervisi Pengajaran


Adapun ciri-ciri guru yang memiliki komitmen yang tinggi atau rendah dapat diidentifikasi dari perilaku
yang ditunjukkan oleh guru sebagai berikut:
Tingkat Komitmen (level of commitment)
Rendah Tinggi
Sedikit perhatian terhadap murid Tinggi perhatian terhadap murid
Sedikit waktu dan tenaga yang dikeluarkan Banyak waktu dan tenaga yang dikeluarkan
Perhatian utama adalah mempertahankan Bekerja sebanyak mungkin untuk orang lain/staf
apa yang ada

Sedangkan ciri guru-guru yang mempunyai abstraksi yang tinggi atau rendah dapat diidentifikasi dari
ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
Abstraksi (level of abstraction thinking)
Rendah Tinggi
Bingung menghadapi masalah Bisa memikirkan masalah dari berbagai segi/
perspektif

Tidak tahu apa yang dapat dilakukan Dapat membuat banyak alternatif perencanaan

Selalu tampak tidak mampu, dengan berkata Bisa memilih satu alternatif dan memikirkan
seperti tolonglah saya… langkah-langkahnya secara tepat

Hanya mempunyai satu respons terhadap Biasa terhadap masalah, karena selalu memiliki
masalah solusi terbaik

Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka guru dapat digolongkan dalam 4 (empat) kategori sebagai berikut:
Tipe guru yang berada pada kuadran 1 (drop out teachers) adalah mereka yang mempunyai komitmen
rendah dan abstraksi rendah. Ia termasuk guru yang tidak bermutu karena hanya melakukan tugas rutin
tanpa tanggung jawab dan perhatiannya hanya sekadar untuk mempertahankan pekerjaannya yang ada. Hal
itu dia lakukan sekadar untuk mempertahankan pekerjaan agar tidak diberhentikan.

BAB 5

MANAJEMEN 5
BERBASIS SEKOLAH
A. Latar Belakang
Pendidikan mempunyai peranan strategis dan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam
mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Melalui proses pendidikan yang tepat dan
berkualitas, maka suatu bangsa akan mempunyai sumber daya manusia yang memiliki keahlian, terampil,
kreatif, inovatif dan produktif yang didasari oleh keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Kualitas manusia yang demikian sangat diperlukan dalam era global dan era desentralisasi sekarang sehingga
SDM suatu daerah dapat membangun daerahnya sendiri dan bersaing secara nasional dan global.
Pada era globalisasi dan era informasi dengan tingkat persaingan yang sangat ketat ini maka
pembangunan bidang pendidikan, mutlak harus terus-menerus ditingkatkan dan disempurnakan baik
kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana serta lebih-lebih penyempurnaan
yang berkaitan dengan sistem penyelenggaraan pendidikannya, khususnya manajemen dan
penyelenggaraan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Dengan demikian diharapkan program
pendidikan dan program pembelajaran di tingkat sekolah senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan
tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan pembangunan manusia Indonesia.
Pengertian, Tujuan dan Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah
Pengertian
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya merupakan strategi untuk mencapai sekolah
yang efektif, karena itu MBS bukanlah tujuan akhir tetapi merupakan sarana dan strategi untuk
mencapai tujuan.
MBS adalah suatu konsep di mana kekuasaan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan
pendidikan diletakkan pada tempat yang paling dekat dengan terjadinya proses pembelajaran,
dalam hal ini berarti sekolah. Jadi MBS pada hakikatnya adalah kewenangan pengambilan
keputusan yang berkaitan dengan sekolah diberikan kepada sekolah itu sendiri. Hal ini sangat
penting karena yang paling memahami dan paling mengerti secara detail dan komprehensif
tentang sekolah adalah sekolah itu sendiri. Oleh sebab itu, apa yang harus dikembangkan oleh
sekolah dan aspek apa yang harus diperkuat untuk meningkatkan mutu sekolah adalah sekolah itu
sendiri.
Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam rangka
desentralisasi pendidikan yang ditandai adanya kewenangan pengambilan keputusan yang lebih
luas di tingkat sekolah, serta partisipasi masyarakat yang relatif tinggi dalam kerangka kebijakan
pendidikan nasional. Kondisi ini menuntut sekolah harus memiliki kepekaan dan kecermatan
dalam mengidientifikasi tentang berbagai hal yang menjadi kekuatan dan kelemahan sekolah serta
berbagai aspek yang perlu peningkatan.

Tujuan dan Manfaat


Implementasi manajemen berbasis sekolah, pada dasarnya bertujuan untuk memberdayakan sekolah
secara optimal dalam pengelolaan dan pengembangan sekolah. Secara khusus penerapan Manajemen
Berbasis Sekolah ini bertujuan untuk:
Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan
memberdayakan sumber daya yang tersedia, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya.
Sekolah tentunya sangat paham dengan situasi, kondisi serta potensi yang dia miliki secara pasti.
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui
pengambilan keputusan bersama semua warga sekolah.
Meningkatkan suasana kompetisi yang sehat dan positif antarsekolah tentang penyelenggaraan sekolah
yang bermutu dan mutu sekolah yang dapat dicapai oleh masing-masing sekolah.

C. Prinsip Dasar Manajemen Berbasis Sekolah


Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
Keterbukaan, artinya segala sesuatu kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah, dilakukan secara
terbuka dengan semua sumber daya yang ada di sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, staf tata usaha,
komite sekolah, orangtua murid, dan siswa.
Kebersamaan, artinya dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah, maka harus dilakukan
secara bersama-sama oleh semua komponen sekolah, dengan demikian maka segala sesuatunya akan
menjadi tanggung jawab bersama pula.
Berkelanjutan, artinya manajemen berbasis sekolah dilaksanakan secara berkelanjutan tanpa dipengaruhi
oleh pergantian pimpinan sekolah.
Menyeluruh, artinya aktivitas yang perlu dilakukan dalam implementasi manajemen berbasis sekolah
adalah mencakup semua kegiatan yang mempunyai kontribusi bagi keberhasilan pencapaian tujuan
sekolah.
Pertanggungjawaban, artinya manajemen berbasis sekolah harus dapat dipertanggungjawabkan tidak
hanya pada atasan sekolah, tetapi harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Demokratis, artinya semua keputusan dan kebijakan yang diambil sekolah, baik menyangkut aspek
administratif atau edukatif merupakan hasil musyawarah semua komponen sekolah. Hal ini
mendorong komitmen bersama untuk menjalankan keputusan atau kebijakan yang diambil.
Kemandirian sekolah, artinya sekolah harus memulai sedikit demi sedikit untuk tumbuh dan
berkembang secara mandiri atas dasar kemampuan dan potensinya, tidak menggantungkan diri pada
orang atau lembaga lain dalam memajukan sekolah. Untuk itu sekolah harus menumbuhkan
prakarsa, inisiatif dan jiwa inovatif dalam rangka mencapai tujuan sekolah.
Berorientasi pada mutu, artinya apa pun jenis kegiatan yang akan dilakukan, yang menjadi dasar
pertimbangan adalah sejauhmana kegiatan tersebut menunjang pada percepatan peningkatan mutu
sekolah.
Pencapaian standar minimal, artinya sekolah mempunyai standar minimal yang harus dicapai untuk
selanjutnya secara bertahap dapat mencapai standar yang lebih tinggi.

D. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah dalam Perspektif


Teoretik
Konsep manajemen berbasis sekolah sebenarnya didasarkan pada selfdetermination theory. Teori ini
menyatakan bahwa apabila seseorang atau kelompok orang memiliki kekuasaan untuk mengambil
keputusan sendiri, maka orang atau kelompok tersebut akan memiliki tanggung jawab yang besar untuk
melaksanakan apa yang telah diputuskan dan melibatkan diri dan kelompoknya.

B. Buku Pembanding

BAB I Profesi dan Pendidik

1.1 Pengertian profesi dan pendidik

1.1.1 Profesi
Graham Cheetham, G. E. Chivers menerangkan definisi profesi adalah : “A vocation or
calling, especially one thatinvolved some branch of advanced learning or science.”
Sebuahpanggilan atau panggilan, terutama yang melibatkan beberapa cabang belajar lanjut
atau ilmu pengetahuan. Suatu pekerjaan atau panggilan yang membutuhkan pelatihan, seperti
dalam hukum, teologi, dan ilmu.
Kata profesi semakin populer kita dengar sejalan dengan semakin kuatnya tuntutan
kemampuan profesional dalam bekerja. Apa pun bentuk dan jenis pekerjaannya, kemampuan
profesional telah menjadi kebutuhan individu.

Secara etimologi, profesi berasal dari istilah bahasa Inggris: profession atau bahasa Latin:
profecus, yang artinya mengakui, pengkauan, menyatakan mampu, atau ahli dalam
melaksanakan pekerjaan tertentu. Pengakuan siapa? Kalau pengakuan itu datang dari
penyandangprofesi itu, munculbeberapa pertanyaan. Apakah kemampuan yang diakui atau
diklaimnya itu benar-benar sebuah kenyataan? Apakah pengakuan itu tidak lebih dari sebuah
kesombongan? Tidakkah pengakuan itu tidak lebih dari “riak-riak air” yang sesungguhnya
mengimplisitkan kedangkalan derajat profesional penyandangan profesi itu? Apakah benar-
benar ada bukti formal dan material yang memperkuat pengakuannya itu. Pertanyaan ini
mengemuka karena dalam masyarakat kerap muncul perilaku gadungan, misalnya dokter
gadungan, dosen gadungan, ABRI atau Polisi gadungan, Wartawan gadungan dan
sebagainya. Mungkin juga guru gadungan, bukan? Penyandang profesi boleh mengatakan
bahwa dia mampu atau ahli dalam melaksanakan pekerjaan tertentu asalkan pengakuannya
disertai bukti riil bahwa dia benar-benar mampu melaksanakan suatu pekerjaan yang diklaim
sebagai keahliannya. Akan tetapi, pengakuan itu idealnya berasal dari masyarakat atau
pengguna jasa penyandang profesi itu atau berangkat dari karya ilmiah atau produk kerja lain
yang dihasilkan oleh penyandang profesi itu. Pengakuan itu terutama didasari atas
kemampuan konseptual-aplikatif dari penyandang profesi itu.
Secara terminologi,3 profesi dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang mempersyaratkan
pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental, bukan pekerjaan
manual. Kemampuan mental yang dimaksudkan di sini adalah adanya persyaratan
pengetahuan teoretis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis. Merujuk pada
definisi ini, pekerjaan-pekerjaan yang menuntut keterampilan manual atau fisikal, meskipun
levelnya tinggi, tidak digolongkan dalam profesi. Dengan demikian, tidak muncul organisasi
profesi, seperti Ikatan Tukang Semen Indonesia, Ikatan Tukang Jahit
Indonesia, Ikatan Pengayam Rotan Indonesia, dan sebagainya. Bandingkan dengan Ikatan
Dokter Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia, Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia,
dan sebagainya.
Perubahan paradigma dalam pembelajaran sebagaimana gambar 2 di atas adalah proses
pembelajaran bagaimana guru mendampingi peserta didik dalam proses belajar. Karena
sekolah merupakan medan belajar, baik guru maupun peserta didik terpanggil untuk belajar.
Guru terpanggil untuk bersedia belajar bagaimana mendampingi atau mengajar dengan baik
dan menyenangkan; peserta didik terpanggil untuk menemukan cara belajar yang tepat.
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang
hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan
lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi dimana dan di kapan saja . salah satu
pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya terjadi suatu perubahan tingkah
laku pada diri orang itu yang mungkin di sebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat
pengetahuan, keterampilan atau sikap nya.
Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu bahwa dirinya adalah
pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk belajar. Guru dituntut untuk
mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka apabila ada
kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebab kegagalan dan mencari
jalan keluar bersama dengan peserta didik; bukan mendiamkannya atau malahan
menyalahkannya.
Perubahan paradigma dalam pembelajaran merupakan awal dibutuhkan guru profesional,
guru yang mampu mendesain pembelajaran sesuai kebutuhan pembelajaran di kelas.
BAB II LANDASAN PROFESI PENDIDIKAN

2.1 Landasan Hukum

2.1.1 Dasar Hukum undang-undang pendidikan profesi guru


Undang-Undang Dasar 1945 adalah merupakan hukum tertinggi di Indonesia. Semua
peraturan perundang-undangan yang lain harus tunduk atau tidak boleh bertentangan dengan
Undang-Undang Dasar ini. Sesuai dengan namanya, ia mendasari semua perundang-
undangan yang ada yang muncul kemudian. Kedudukan seperti ini, membuat Undang-
Undang Dasar mengandung isi yang sifatnya umum. Demikianlah aturan tentang pendidikan
dalam Undang-Undang Dasar ini sangat sederhana.
Pasal-pasal yang bertalian dengan pendidikan dalam Undang-Undang Dasar 1945 hanya 2
pasal, yaitu Pasal 31 dan Pasal 32. Yang satu menceritakan tentang pendidikan dan yang satu
menceritakan tentang kebudayaan. Pasal 31 ayat 1 berbunyi: “Tiap-tiap warga ngara berhak
mendapat pengajaran. Ayat 2 pasal ini berbunti: “Setiap warga negara wajib mengikuti
pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ayat ini berkaitan dengan wajib
belajar 9 tahun di SD dan SMP yang sedang dilaksanakan. Agar wajib belajar ini berjalan
lancar, maka biayanya harus ditanggung oleh negara. Kwajiban negara ini
berkaitan erat dengan ayat 4 pasal yang sama yang mengharuskan negara memprioritaskan
anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari APBN dan APBD.
Ayat 3 pasal ini berbunyi: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional. Ayat ini mengharuskan pemerintah mengadakan satu sistem pendidikan
nasional, untuk memberikan kesempatan kepada setiap warga negara mendapatkan
pendidikan. Kalau karean suatu hal seseorang atau sekelompok masyarakat tidak bisa
mendapatkan kesempatan belajar, maka mereka bisa menuntut hak itu kepada
pemerintah. Atas dasar inilah pemerintah menciptakan sekolah-sekolah khusus yang bisa
melayani kebutuhan masyarakat terpencil, masyarakat yang penduduknya sedikit, dan
masyarakat yang penduduknya tersebut berjauhan satu dengan yang lain. Sekolah-sekolah
yang dimaksud antara lain ialah SD kecil, SD Pamong, SMP terbuka dan sistem belajar jarak
jauh.
BAB III MENJADI GURU PROFESIONAL

3.1 Profesi dan Kode Etik Guru


Kode etik pendidik adalah salah satu bagian dari profesi pendidik. Artinya setiap pendidik
yang profesional akan melaksanakan etika jabatannya sebagai pendidik. ISPI dalam temu
karya pendidikan III dan Rakornas di Bandung Tahun 1991 mengemukakan kode etik sarjana
pendidikan Indonesia sebagai berikut: (1) bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia dan
jujur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, (2) menjungjung tinggi harkat dan martabat
peserta didik (3) menjungjung tinggi ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa, (4) selalu menjalankan tugas dengan berpegang teguh
kepada kebudayaan nasional dan ilmu pendidikan, dan (5) selalu melaksanakan pendidikan,
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Kode etik pendidik ini bertalian erat dengan unsur-unsur yang dinilai dalam menentkan DP3
menurut PP Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1979. Unsur-unsur yang dimaksud
adalah: (1) kesetiaan kepada Pancasila dan UUD 1945, negara, serta bangsa, (2) berprestasi
dalam kerja, (3) bertanggungjawab dalam bekrja, (4) taat kepad peraturan perundang-
undangan dan landasan, (5) jujur dalam melaksanakan tugas, (6) bisa melakukan kerja sama
dengan baik, (7) memiliki prakarsa yang positif untuk memajukan pekerjaan dan hasil
3.1.1 Berkompetensi
Menurut, PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 28, Ayat 3 dan UU No. 14 Tahun 2005 Pasal 10, Ayat
1, menyatakan 17 “Kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: (a) kompetensi pedagogik, (b)
kompetensi kepribadian,
(c) kompetensi profesional, dan (d) kompetensi sosial. a. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”.
Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran
Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar,
kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan
kemampuan melakukan penilaian.
Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran meliputi
(1) mampu mendeskripsikan tujuan, (2) mampu memilih materi, (3) mampu mengorganisir
materi, (4) mampu menentukan metode/strategi pembelajaran, (5) mampu menentukan
sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran, (6) mampu menyusun perangkat penilaian,
mampu menentukan teknik penilaian, dan (8) mampu mengalokasikan waktu.Berdasarkan
uraian di atas, merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru dan dosen
dan dosen mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung,
yang mencakup: merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang
kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan
penilaian penguasaan tujuan.
b. Kompetensi Kepribadian
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan
bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang
mantap, stabil, dewasa, 19 arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan
berakhlak mulia. Sosok seorang gur
haruslah memiliki kekuatan kepribadian yang positif yang dapat dijadikan sumber inspirasi
bagi peserta didiknya. Dikemukakan pula oleh Ki Hajar Dewantara dalam sistem pendidikan
yang diinginkannya yaitu guru harus “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut
wuri handayani”. Artinya bahwa guru harus contoh dan teladan yang baik, membangkitkan
motivasi berlajar siswa serta mendorong/memberikan dukungan dari belakang. Berdasarkan
hasil rapat Asosiasi LPTKI (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Indonesia) di Unesa
Surabaya Tahun 2006 dalam Abdul Hadis dan Nurhayati (2010: 27-28) kompetensi
kepribadian dapat dijabarkan menjadi subkompetensi dan pengalaman belajar sebagai
berikut: 1) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan
berwibawa
Berlatih membiasakan diri untuk menerima dan memberi kritik dan saran. b) Berlatih
membiasakan diri untuk menaati peraturan.
Berlatih membiasakan diri untuk bersikap dan bertindak secara konsisten. d) Berlatih
mengendalikan diri dan berlatih membiasakan diri untuk menematkan persoalan secara
proporsonal. e) Berlatih membiasakan diri melaksanakan tugas secara mandiri dan
bertanggung jawab. 2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan sebagai
teladan bagi peserta didik dan masyarakat: a) Berlatih membiasakan diri berperilaku yang
mencerminkan keimanan dan ketakwaan. b) Berlatih membiasakan diri beperilaku santun. c)
Berlatih membiasakan diri berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan
masyarakat. 3) Mengevaluasi kinerja sendiri: a) Berlatih dan mengevaluasi kekuatan dan
kelemahan sendiri. b) Berlatih mengevaluasi kierja sendiri dan c) Berlatih menerima kritikan
dan saran dari peserta didik. 4) Mengembangkan diri secara berkelanjutan: a) Berlatih
memanfaatkan berbagai sumber belajar untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan
kepribadian.
Mengikuti berbagai kegiatan yang menunjang pengembangan profesi. c) Berlatih
mengembangkan dan menyelenggarakan kegiatan yang menunjang profesi guru
BAB IV PROFESI GURU DALAM PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN
4.1 Pengembangan Pembelajaran
Pengembangan pembelajaran adalah langkah awal untuk peningkatan profesionalisme tenaga
kependidikan atau sistem pembelajaran dalam pendidikan. Pengembangan pembelajaran juga
menjadi langkah awal dalam mengengembangan pembelajaran bagi setiap guru yang
menjadikan dirinya menjadi guru profesional. Sebagaimana tujuan dan misi dari
sistempembelajaran di setiap fakultas ilmu pendidikan dan keguruan mengharapkan para
lulusannya mencapai profil kemampuannya :
Mampu mencari solusi dalam bidang profesinya, 2) Memiliki kemampuan manajerial dan
memberdayakan profesinya, 3) Memiliki rasa tanggung jawab dalam lingkungan dan peka
terhadap perubahan, 4) Berorientasi ke masa depan dan menghargai waktu, 5) Mampu
menguasai konsep-konsep teknologi pendidikan dan menerapkannya dalam berbagai aplikasi
bidang teknologi pendidikan, 6) Mampu memadukan kemampuaan telaah teknologi
pendidikan dengan kemampuan menggunakan alat (software) dalam proses penyelesaian
kasus dimulai dari tahap identifikasi, formulasi hingga penetapan kesimpulan, memiliki
wawasan kreatif dan inovatif, 7) Mampu berkompetensi dengan lulusan perguruan tinggi lain
dan beriorientasi global.
pembelajaran identik dengan pengajaran, suatu kegiatan di mana guru mengajar atau
membimbing anak-anak menuju proses pendewasaan diri. Istilah pembelajaran setara dengan
istilah teaching atau intruction.
Kegiatan pembelajaran yaitu kegiatan belajar dan mengajar. Mengajar berarti ‘Pengajaran’
yang dilaksanakan dalam suatu aktivitas yang kita kenal dengan istilah mengajar. Pengajaran
amat dekat dengan pengertian pedagogi. Pedagogi adalah seni atau ilmu untuk menjadi guru.
Dalam pengajaran sains, pada hakikatnya pengajaran didefinisikan sebagai transformasi dari
pengetahuan sains.2
Selanjutnya ‘Belajar’ merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja
oleh setiap individu, sehingga terjadi perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu,dari yang
tidak bisa berjalan menjadi bisa berjalan, tidak bisa membaca menjadi bisa membaca dan
sebagainya. Belajar adalah suatu proses perubahan individu yang berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya ke arah yang baik maupun tidak baik.
Materi pelajaran merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran, bahkan dalam
pengajaran yang berpusat pada materi pelajaran (subject-centered teaching), materi pelajaran
merupakan inti dari kegiatan pembelajaran. Materi pelajaran dapat dibedakan menjadi:
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), sikap (attitude). Pengetahuan menunjuk pada
informasi yang disimpan dalampikiran (mind) siswa, dengan demikian pengetahuan
berhubungan dengan berbagai informasi yang harus dihafal dan dikuasai oleh siswa, sehingga
manakala diperlukan siswa dapat mengungkapkan kembali. Keterampilan (skill)
menunjukkan pada tindakan-tindakan (fisik dan non fisik) yang dilakukan seseorang dengan
cara yang kompeten untuk mencapai tujuan tertentu. Sikap menunjuk pada kecenderungan
seseorang untuk bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang diyakini kebenarannya oleh
siswa.
4.3 Pengembangan Media dan Sumber Materi Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harafiah brarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau
‘pengantar’.47Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis
besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa
mampu memperolh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku
teks, dan lingkungan sekolah merupakan media.
Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan
sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Di samping sebagai sistem penyampai pesan atau pengantar, media yang sering diganti
dengan kata mediator menurut Fleming (1987):234) adalah dua pihak dan mendamaikannya.
Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur dalam
proses belajar-siswa
dan isi pelajaran. Di samping itu, mediator dapatpulamencerminkan pengertian bahwa setiap
sistem pengajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada peralatan
paling canggih, dapat disebut media. Ringkasnya, media adalah alat yang menyampaikan atau
mengantarkan pesan-pesan pengajaran.48
Media yakni perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan.
Mediapembelajaran bisa dikatakan sebagai alat yang bisa merangsang siswa untuksupaya
terjadi proses belajar. Sanjaya (2008) menyatakan bahwa mediapembelajaran meliputi
perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan danperangkat lunak yang mengandung
pesan.Namun demikian, media bukan hanyaberupa alat atau bahan saja, tap
Dengan media pembelajaran hal yang bersifat abstrak bisa menjadi lebih konkret.
Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dimanfaatkan dan diperlukan dalam
prosespembelajaran, yang dapat berupa buku teks, media cetak, media elektronik,
narasumber, lingkungan sekitar, dan sebagainya yang dapat meningkatkan kadarkeaktifan
dalam proses pembelajaran.Sumber belajar adalah segala sesuatu yang tersedia di sekitar
lingkungan belajaryang berfungsi untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Optimalisasi
hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar saja, namun juga dilihat dariproses
pembelajaran yang berupa interaksi siswa dengan berbagai sumber belajaryang dapat
memberikan rangsangan untuk belajar dan mempercepat pemahamandan penguasaan bidang
ilmu yang dipelajari.
AECT (Association for Education and CommunicationTechnology) menyatakanbahwa
sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupadata, orang danwujud
tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar,baik secara terpisah maupun secara
terkombinasi sehingga mempermudah siswadalam mencapai tujuan belajar atau mencapai
kompetensi tertentu.
Dalam pembelajaran konvensional, sering guru menentukan buku teks sebagai satu-satunya
sumber materi pelajaran. Bahkan, pembelajaran yang berorientasi kepada kurikulum subjek
akademis, buku teks yang telah disusun oleh para pengembang kurikulum merupakan sumber
utama. Dengan demikian, perubahan dan atau penyempurnaan kurikulum, pada dasarnya
adalah penyempurnaan dan perubahan buku ajar. Akibat, ketika terjadi perubahan kurikulum,
maka selalu diikuti oleh perubahan buku pelajaran.
Heinich, dan kawan-kawan (1982) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang
mengantar informasi antara sumber dan penrima. Jadi, Televisi, Film, Photo, Radio, Rekaman
Audio, Gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya adalah media
komunikasi. Apabila media itu mmbawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan
instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media
pembelajaran. Sejalan dengan batasan ini, Hamidjojo dalam Latuheru (1993) memberi
batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk
menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide, gagasan atau
pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju.
Istilah media sering dikaitkan atau dipergantikan dengan kata teknologi, yang berasal dari
kata Latin tekne (bahasa Inggris: art) dan logos (bahasa Yunani, artinya ilmu). Menurut
Webster(1983:105), “art adalah keterampilan atau skill yang diperoleh lewat pengalaman,
studi dan observasi. Dengan demikian teknologi tidak lebih dari suatu ilmu yang membahas
tentang keterampilan yang diperoleh lewat pengalaman, studi, dan observasi. Bila
dihubungkan dengan pndidikan dan pengajaran, maka teknologi mempunyai pengertian
sebagai: perluasan konsep tentang media, di mana teknologi bukan sekedar benda, alat, bahan
atau perkakas, tetapi tersimpul pula sikap, perbuatan, organisasi dan manajemen yang
brhubungan dengan penerapan ilmu. (Achsin, 1986:10).50
Buku pelajaran bukan merupakan satu-satunya sumber bahan pelajaran, alasannya, karena:51
Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat, sehingga kalau guru fan siswa hanya
mengandalkan buku teks sebagai sumber pembeljaran, bisa terjadi materi yang dipelajarinya
itu akan cepat usang. Dengan demikian, guru dituntut untuk menggunakan sumber lain yang
dapat menyajikan informasi terbaru, misalnya menggunakan jurnal yang menyajikan berbagai
pengetahuan mutakhir, majalah, koran dan sumber informasi elektronik, misalnya dengan
menggunakan dan mamanfaatkan Internet dan lain sebagainya.
Kemajuan teknologi informasi, memungkinkan materi pelajaran tidak hanya disimpan dalam
buku teks saja, akan tetapi bisa disimpan dalam berbagai bentuk teknologi yang lebih efektif
dan efisien, misalnya dalam bentuk CD, kaset, dan lain sebagainya. Dalam bentuk-bentuk
semacam ini diyakini materi pelajaran akan lebih menarik untuk dipelajari sebab dengan
berbagai teknik animasi, maka materi pelajaran akan lebih jelas dalam konkret. Sesuatu yang
tidak mungkin disajikan dalam buku cetak karena keterbatasannya, maka dalam bentuk media
elektronik akan dapat disajikan.
Tuntutan kurikulum seperti pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), menuntut
siswa agar tidak hanya sekedar menguasai informasi teoretis, akan tetapi bagaimana
informasi tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah dan lingkungan di
mana siswa tinggal. Dengan demikian, kehidupan masyarakat nyata mestinya dijadikan
sebagai salah satu bahan pelajaran.
Ketiga alasan tersebut, mestinya membuka wawasan baru bagi guru, bahwa ternyata banyak
sumber yang dapat dimanfaatkan untuk membelajarkan siswa, selain dari buku teks yang
dicetak secara masal. Guru yang hanya mengandalkan buku teks sebagai sumber materi
pelajaran cenderung pengelolaan pembelajaran hanya menyajikan materi pelajaran yang
belum tentu berguna untuk kehidupan siswa. Ataupu, seandainya materi pelajaran itu
dianggap penting, maka siswa akan sulit menangkap pentingnya materi tersebut, selain hanya
untuk dihafal. Itulah sebabnya selain buku teks, guru seharusnya memanfaatkan berbagai
sumber belajar yang lain.
Sumber materi pelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran dapat
dikategorikan sebagai berikut:52
a. Tempat atau lingkungan
Lingkungan merupakan sumber pelajaran yang sangat kaya sesuai dengan tuntutan
kurikulum. Ada dua bentuk lingkungan
belajar, yakni pertama lingkungan atau tempat yang sengaja didesain untuk belajar siswa
seperti laboratorium, perpustakaan, ruang internet dan lain sebagainya. Lingkungan semacam
ini dikenal dengan lingkungan by disign. Mengapa dikatakan bydisign? Karena tempat
semacam ini dirancang untuk prosespembelajaran. Kedua, lingkungan yang tidak didesain
untuk proses pembelajaran akan tetapi keberadaannya dapat dimanfaatkan, misalnya halaman
sekolah, taman sekolah, kantin, kamar mandi, dan lain sebagainya. Lingkungan yang
demikian dikenal dengan lingkungan yang bersifat by utilism. Kedua bentuk lingkungan ini
dapat dimanfaatkan oleh setiap guru karena memang selain memiliki informasi yang sangat
kaya untuk membepalajari materi pembelajaran, juga dapat secara langsung dijadikan tempat
belajar setiap siswa.
b. Orang atau narasumber
Pengetahuan itu tidak statis, akan tetapi bersifat dinamis, yang terus berkembang sangat
cepat. Oleh karena perkembangan yang secpat itu kadang-kadang apa yang disajikan dalam
buku teks tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir. Misalnya,
peraturan dan undang-undang baru mengenai sesuatu, penemuan-penemuan baru dalam
berbagai ilmu pengetahuan mutakhir, seperti munculnya berbagai jenis penyakit misalnya flu
burung, sapi gila, dan lain sebagainya serta berbagai jenis rekayasa genetik; munculnya
berbagai fenomena alam serta pengaruhnya terhadap gejala-gejala sosial dan lain sebagainya,
yang kesemuaannya itu tidak mungkin dipahami sepenuhnya oleh guru, maka untuk
mempelajari konsep-konsep baru semacam itu, guru dapat menggunakan orang-orang yang
lebih menguasai persoalan misalnya dengan mengundang dokter, Polisi dan lain sebagainya
sebagai sumber bahan pelajaran.
c. Objek
Objek atau benda yang sebenarnya merupakan sumber informasi yang akan membawa siswa
pada pemahaman yang
lebih sempurna tentang sesuatu. Mempelajari bahan pelajaran dari benda yang sebenarnya
bukan hanya dapat menghindari kesalahan persepsi tentang isi pelajaran, akan tetapi juga
dapat membuat pelajaran lebih akurat di samping motivasi belajar siswa akan lebih baik.
d. Bahan cetak dan noncetak
Bahan cetak (printed material) adalah berbagai informasi sebagai materi pelajaran yang
disimpan dalam berbagai bentuk tercetak, seperti buku, majalah, koran dan lain sebagainya.
Sedangkan bahan belajar non cetak aadalah informasi sebagai materi pelajaran, yang
disimpan dalam brbagai bntuk alat komunikasi elektronik yang biasanya berfungsi sebagai
media pembelajaran misalnya dalam bentuk kaset, video, komputer, CD, dan lain sebagainya.
Terdapat tiga jenis bahan cetak dan non cetak yang dapat dijadikan sumber pelajaran.
Pertama, bahan-bahan yang dapat dijadikan sumber belajar utama untuk setiap individu.
Pada bentuk ini bahan-bahan pelajaran disusun sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar
secara individual, misalnya bahan cetakan seperti model atau pelajaran berprograma. Kedua,
cetak yang disusun sebagai bahan penunjang, dan dirancang bukan sebagai bahan pelajaran
individual. Artinya, belajar melalui bahan cetakan ini masih memerlukan guru atau instruktur
secara langsung. Yang termasuk bahan jenis ini adalah buku-buku paket, diktat, hand-out dan
lain sebagainya. Ketiga, bahan yang tidak dirancang khusus untuk pembelajaran, tetapi dapat
dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan siswa dalam mempelajari sesuatu.
Bahan yang demikian biasanya berisi tentang gagasan dan ide-ide pengarang secara bebas,
atau berisi tentang hasil-hasil penelitian mutakhir dalam suatu bidang kajian tertentu. Yang
termasuk ke dalam jenis ini adalah berbagai buku populer atau jurnal ilmiah.
BAB V PROFESI GURU DAN EVALUASI

Edwin Wandt dan Gerald W. Brown (1977): “Evaluationrefer to the act or process to
determining the value of somthing.”Menurut devinisi ini, maka istilah evaluasi itu menunjuk
kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu pross untuk menentukan nilai
dari sesuatu.27
Profesi guru dalam evaluasi pembelajaran tidak terlepasbagaimana kondisi lingkungan
belajar peserta didik/mahasiswa.Kondisi lingkungan belajar baik secara internal dan eksternal
sangat berpengaruh pada proses belajar. Kondisi itu antara lain lingkungan fisik. Lingkungan
fisik yang ada dalam proses dan di sekitar proses pembelajaran memberi pengaruh bagi
proses belajar. Kedua suasana emosional siswa.Suasana emosional siswa akan memberi
pengaruh dalam proses pembelajaran siswa. Hal ini bisa dicermati ketika kondisi emosional
siswa sedang labil maka proses belajarpun akan mengalami gangguan.Ketiga lingkungan
sosial.Lingkungan sosialyang berada di sekitar siswa juga turut mempengaruhi bagaiman
seorang siswa belajar.Kondisi-kondisi lingkungan belajar ini menjadi evaluasi pembelajaran
bagi peningkatan profesi guru dalam meningkatkan penerapan model pembelajaran di dalam
kelas.Evaluasi belajar yang muncul dari berbagai masalah baik masalah internal maupun
eksternal dalam pembelajaran.
Masalah-masalah internal yang dialami siswa akan berpengaruh pada proses belajar sebagai
berikut:

Sikap terhadap Belajar


Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri
sesuai dengan penilaian.Adanya penilaian terhadap sesuatu mengakibatkan terjadinya sikap
menerima,menolak, atau mengabaikan.Akibat penerimaan, penolakan, atau pengabaian dapat
berpengaruh pada perkembangan kepribadian.Oleh karena itu ada baiknya siswa
mempertimbangkan masak-masak akibat sikap belajar.

Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses
belajar.Motivasi belajar sangat berpengaruh pada aktifitas belajar apabila motivasi tersebut
melemah maka hasil belajar akan menjadi rendah. Motivasi belajar perlu diperkuat secara
terus menerus supaya kuat,untuk mengoptimalkan perlu didukung pula suasana belajar yang
menyenangkan.

Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran.Disini
diperlukan peran guru dalam
menerapkan strategi-strategi belajar mengajar dan memperhitungkan waktu belajar serta
selingan istirahat.Maka perhatian dan prestasi belajar dapat ditingkatkan

Mengolah Bahan Belajar


Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara
pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa.Kemampuan siswa mengolah
bahan belajar akan menjadi baik jika siswa berpeluang aktif dalam belajar.Disisi guru
pada tempatnya menggunakan proses, inkuiri ataupun laboratori.
5.1 Evaluasi Tes Hasil Belajar
Evaluasi Tes Hasil Belajar merupakan hasil kompetensi siswa dalam kemampuan atau
kecakapan siswa dalam pembelajaran.Kompetensi berarti kemampuan diri siswa baik
dalam keterampilan, nilai, sikap dan hasil belajar siswa.Kemampuan siswa dalam
pengetahuan, apresiasi diri, nilai sikap dan keterampilan belajar yang dimiliki setiap
siswa.
BAB III
PEMBAHASAN

a. Kelebihan dan Kekurangan Buku

Buku Review

Dilihat dari segi bahasa buku, bahasanya sudah jelas, penampilan pada buku menarik,
buku ini menjelaskan perihal pada bagian setiap perbab-nya, ukuran tulisan pada buku
sudah normal, memiliki daftar isi yang lengkap dengan penulis buku yang lengkap
sehingga mempermudah pembaca dalam mencari isi dari bagian setiap bab-nya. Namun,
penjelasan dari setiap bab terlalu panjang, sehingga mempersulit untuk mereview buku
bagi pemula.

Buku Pembanding

Dilihat dari segi bahasa buku, bahasanya cukup jelas, penampilan pada
bukumenarik, buku ini menjelaskan kasus-kasus pada bagian setiap bab-nya, ukuran
tulisan pada buku cukup bagus, memiliki gambar yang sesuai, memiliki daftar isi yang
lengkap dengan penulis buku yang bernama riswandi, dan buku memiliki ISBN serta
penulisan daftar pustaka yang sesuai dengan penulisan kaidah yang berlaku. Sedangkan
cover pada buku sudah kelihatan sangat jelek sehingga penampilan pada buku ini sangat
kurang menarik
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Buku ini sudah disusun oleh penulis sedemikian rupa dengan baik sehingga penulis
dapat menarik minat membaca. Hal-hal atau pembahasan yang tidak ada dari buku ini
dapat dilengkapi dan diperoleh dari dua buku pembanding yang saya gunakan. Menurut
saya buku yang di review dengan buku pembanding yang saya gunakan memiliki
hubungan saling melengkapi satu sama lain.

Critical book ini hanya untuk mempermudah pembaca dan melatih kemampuan serta
mengasah pengetahuan dan keterampilan reviewer untuk mengkritisi sebuah buku baik
itu dengan membandingkan buku maupun menghubungkan buku utama dan buku
pembanding yang dipaparkan pada bagian kelebihan dan kekurangan buku. Hasil dari
review ini menjadi literure baru bagi pembaca dalam memahami isi dari buku. Selain itu
reviewer juga menyajikan pembahasan setiap bab dari ketiga buku itu dan menyajikan
ringkasan buku yang di review. Buku yang di review menurut saya dapat digunakan
diidunia pendidikan sebagai buku pegangan dan dapat dijadikan referensi baru.

B. Rekomendasi

Reviewer menyarankan kepada pembaca untuk tetap rajin membaca buku, menambah
pengetahuan dan selalu mencari referensi yang ter baru (up to date) sehingga tidak
ketinggalan informasi. Selain itu reviewer juga menyarankan agar pembaca mencari
referensi tambahan selain satu buku yang jadi pegangan tentu pembahasan yang dikaji
setiap buku berbeda sehingga pembaca dapat mengambil informasi yang banyak dan
beragam. Sangat penting bagi calon guru untuk mengetahui peran penting yang
dimilikinya dalam mendidik dan mempertanggungjawabkan perannya sebagai tenaga
pendidik.

Reviewer sadar masih terdapat kesalahan dalam penyususna laporan critical book
review baik itu penggunaan bahasa, tata letak dan kemenarikkan isinya. Oleh sebab itu,
reviewer sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun dan
membuat reviewer agar terus belajar. Sehingga dapat memperbaiki kekurangan yang
mungkin terjadi di masa yang akan dating dalam penyusunan laporan critical book
review.
Daftar Pustaka
Suriansyah Ahmad, Perspektif Guru Profesional, Depok: PT Raja Grafindo, 2015
Siregar Nurlina, Pendidikan Profesi Guru, Bandung: Gramedia, 2014