Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Ny.

Y
FRAKTUR HUMERUS DEXTRA DI RUANG EDELWEIS
RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Disusun oleh :
Qori Nur Azizah
I4B019008

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
PROFESI NERS KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2019
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

1. Identitas pasien
a. Nama : Ny. Y
b. Jenis kelamin : Perempuan
c. Tempat, tanggal, lahir : Banyumas, 10/04/1985
d. Pekerjaan : Ibu rumah tangga
e. Pendidikan : SMP
f. Agama : Islam
g. Status perkawinan : Menikah
h. Alamat : Tambak rt6/3, Kab. Banyumas Jawa Tengah
i. Usia : 34 tahun
j. No. RM : 02064462
k. Diagnosa Medis : Fraktur Humerus Dextra
l. Tanggal pengkajian : Selasa, 29 Oktober 2019 pukul 13.00 WIB

2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien mengatakan tangan kanannya sangat nyeri seperti ditusuk-tusuk dan tangannya
sangat sakit ketika digerakkan sedikit. Sehingga pasien tidak mau menggerakan
tangannya. Pasien mengatakan nyerinya di angka 8. Selain itu pasien mengeluh
kepalanya pusing muter-muter. Pasien menambahkan bahwa kaki pasien terasa pegel
linu secara terus menerus. Pasien juga mengeluh dadanya sakit terutama ketika sedang
batuk. Pasien mengeluh mual dan muntah serta lambung yang terasa sakit. Pasien
menambahkan mengeluh batuk dan mual muntah.
b. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengatakan masuk ke Ruang Edelwise karena adanya fraktur pada tangan
kanan. Sebelumnya pasien di rawat di Ruang Bougenvile Flu Burung RS Margono.
Sekarang pasien terdiagnosa fraktur humerus dextra. Penyebab dari frakturnya adalah
akibat kanker serviks yang sudah bermestasis ke tulang sehingga tulang pasien sangat
rapuh ketika terkena sedikit tekanan. Pasien telah dilakukan tindakan reposisi gips U-
SLAB.
c. Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan sebelumnya memiliki riwayat penyakit kanker serviks.
Kemudian bermestasis ke otak. Pasien mengatakan memiliki penyakit kanker dari 4
tahun yang lalu. Pasien menambahkan bahwa tanda gejala yang dialami sebelum
terdiagnosis kanker serviks adanya keputihan disertai bercak merah selama sebulan
lebih dan tidak berhenti.
d. Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan di keluarganya tidak ada yang memiliki riwayat penyakit
kanker atau yang lainnya.
e. Riwayat alergi
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi obat.

3. Pola kesehatan fungsional


a. Persepsi kesehatan dan pola manejemen kesehatan
Pasien mengatakan sebelum sakit, pasien sering beraktivitas jalan pagi sebanyak
tiga kali dalam seminggu. Pasien mengatakan bahwa suaminya perokok aktif dan
pasien sering terpapar asap rokok tersebut. Sebelum sakit, pasien tidak pernah
melakukan cek kesehatan atau mengeluh sakit sehingga tidak pernah ada riwayat
berobat di pelayanan kesehatan.
b. Pola nutrisi metabolik
Pasien mengatakan sehari-harinya selalu makan gorengan karena merupakan
makanan favorit. Selain itu, pasien menambahkan bahwa setiap hari selalu minum kopi
sebanyak dua kali sehari. Pasien mengatakan untuk minyak yang digunakan sehari hari
dalam memasak adalah minyak kiloan (minyak jenuh) bukan minyak dalam bentuk
kemasan. Tetapi pasien menambahkan bahwa pasien mengusahakan makan sayur
mayur setiap hari. Pasien mengatakan selalu minum jamu kunyit asem semenjak umur
20 tahun dan minum jamunya dua kali dalam seminggu. Pasien mengatakan minum
jamunya tidak membuat sendiri melainkan selalu beli. Selain itu pasien mengatakan
bahwa pasien memiliki riwayat penurunan BB dalam kurun waktu setahun dari 85 kg
hingga 57 kg. Pasien menambahkan bahwa untuk sekarang mengalami kesulitan ketika
menelan. Selan itu, jika pasien mengalami luka maka penyembuhannya lambat.
c. Pola eliminasi
Pasien mengatakan tidak ada keluhan dalam BAK dan BAB. Namun pada urine bag
pasien terlihat warna urinenya kuning kemerahan sangat mudah untuk berkeringat.
d. Pola aktivitas-latihan
Sebelum sakit, pasien mengatakan tidak pernah mengeluh apapun terkait kondisi
tubuhnya dan selalu aktivitas seperti biasa. Namun, setelah mulai muncul keputihan
serta bercak-bercak merah selama sebulan tidak berhenti, pasien mengatakan tidak
bisa aktivitas seperti sebelumnya. Hal ini disebabkan karena perubahan fisik setelah
terdiagnosis kanker. Kemampuan aktivitas sekarang seluruh aktivitas dan kebutuhan
sehari-hari dibantu penuh oleh suaminya. Sebelum sakit, pasien mengisi waktu
luangnya dengan menonton televisi. Sekarang pasien terpasang gips pada tangan
kanannya.
e. Pola istirahat-tidur
Pasien mengatakan pola tidur sebelum sakit sering bergadang karena pasien selalu
menonton televisi di malam hari. Hal ini juga pengaruh tidak bisa tidur karena pasien
selalu minum kopi.
f. Pola persepsi kognitif
Pasien mengatakan untuk pendengaran dan penglihatannya tidak ada masalah.
Pasien juga dapat menjawab sesuai pertanyaan yang diberikan. Pasien menambahkan
ketika sakit, pasien sering lupa beraka rkaat ketika sholat dzhuhur dan isya.
g. Pola persepsi diri-konsep diri
Pasien mengatakan hanya bisa bersabar dan masih semangat untuk menjalani
pengobatan penyakit kankernya. Pasien menambahkan bahwa pasien harus selalu
semangat karena demi anaknya yang masih umur 4 tahun. Selain itu, pasien juga tipe
orang yang pantang menyerah. Pasien mengatakan selalu terpikirkan anak terakhirnya
yang masih kecil karena pasien tidak dapat merawatnya karena faktr proses
pengobatan yang membutuhkan waktu lama.
h. Pola peran hubungan
Pasien menjelaskan bahwa pasien tinggal dengan suami dan kedua anaknya. Pasien
mengatakan bahwa untuk keadaan keluarganya tidak ada masalah.
i. Pola seksualitas dan reproduksi
Pasien sudah menikah dan memiliki 2 anak.
j. Pola koping dan toleransi stress
Pasien mengatakan ketika menghadapi masalah berdiskusi terlebih dahulu sampai
menemukan akar permasalahannya lalu cari solusinya bersama. Pasien menambahkan
didalam prosesnya terkadang pasien sempat marah-marah.
k. Pola nilai-kepercayaan
Pasien mengatakan walau sedang sakit dan dirawat tetapi pasien selalu melakukan
sholat lima waktu dengan tayamum.

4. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : cukup
b. Kesadaran : komposmentis
E4, M5, V5 Nilai GCS: 14
a. Tanda-tanda Vital : TD= 100/60 mmHg, N= 80x/menit, S=37oC, RR=18x/menit,
TB=155 cm, BB=57kg
b. Kepala : bentuk kepala simetris, tidak ada rambut, tidak ada lesi.
c. Mata : bentuk mata simetris, reflek kedip ada, konjungtiva anemis, pupil isokor,
gerakan mata cepat, tidak teraba keras, fungsi penglihatan baik.
d. Hidung : bentuk hidung simetris ki/ka, tidak terdapat polip pada lubang hidung
kanan, terpasang selang oksigen nasal kanul, tidak ada inflamasi, tidak teraba massa.
e. Telinga : bentuk daun telinga simetris ki/ka, fungsi pendengaran bagus, telinga kiri
kotor warna putih bedak dan telinga kiri riwayat perdarahan.
f. Mulut : bibir kering, tidak ada tonsil atau stomatitis.
g. Leher : tidak ada jejas, tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada massa, tidak
ada pembesaran kelenjar tiroid.
h. Thorax :
1) Paru
Inspeksi : Bentuk dada simetris ki/ka, pergerakan dinding dada simetris, tidak
ada retraksi dinding dada, tidak menggunakan alat bantu pernapasan), tidak ada otot
bantu pernapasan.
Palpasi : ada nyeri tekan, tidak ada krepitasi
Perkusi : tidak terkaji karena pasien terasa sangat nyeri
Auskultasi : suara paru ronkhi basah
2) Jantung
Inspeksi : tidak terlihat iktus kordis
Palpasi : tidak teraba point maximal impuls
Perkusi : tidak terkaji
Auskultasi : bunyi jantung 1 dan 2 reguler, tidak ada suara jantung tambahan,
nadinya <100x/menit
i. Abdomen
Inspeksi : tidak ada asites, terlihat tidak ada benjolan
Auskultasi: bising usus 12x/menit
Palpasi : hepar tidak teraba, ginjal tidak teraba, limpa tidak teraba
Perkusi : timpani
j. Ekstremitas
Kekuatan otot pada ekstremitas masih bisa digerakkan semua tetapi tidak dapat
melawan gravitasi.
k. Kulit : akral terasa hangat, kapiler refil <2 detik, tidak ada lesi, turgor kulit elastik,
tekstur halus.
l. Genetalia dan anus
Pasien terpasang kateter urine dan mengatakan tidak merasa sakit ketika BAB.

5. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium dan kimia klinik (28 Oktober 2019)
Pemeriksaan Hasil Nilai normal Satuan

HEMATOLOGI
APTT 85.7 26.4-37.5 detik

KIMIA KLINIK
Kalium 3.1 3.4-4.5 mEq/L
b. Hasil rontgen
Hasil rontgen menunjukkan terdapat fraktur pada humerus dextra

6. Terapi pengobatan 21,22,23 Oktober 2019


Terapi Jumlah Rute Fungsi
pemberian

Infus NACL 0.9% 20 tpm Intravena Pemenuhan elektrolit

Ristonat tab Seminggu sekali Per oral Pencegahan osteoporosis pada wanita pasca
35 mg menopause

Kalsium laktat tab 2 x 500mg Per oral Mengatasi kadar kalsium rendah dalam
darah

Oscal tab 2 x 0.5mg Per oral Meningkatkan absorbsi kalsium di usus dan
mengatur mineral pada tulang
B. ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah

1. DS : Terdapat fraktur Nyeri akut b.d. agen


humerus dextra cidera fisik
 Pasien mengatakan nyeri
P: adanya fraktur pada tangan kanan
tulang humerus
Q: sakitnya seperti ditusuk-tusuk
jarum
R: di lengan tangan kanan
S: skala 8
T: nyerinya terasa terus menerus dan
mereda setelah diberikan obat
DO :
 TD 100/60 mmhg
 Nadi 80x/mnt
 Wajah pasien terlihat kesakitan
(meringis) ketika disentuh tangan
kanannya
2. DS : Rusaknya struktur Gangguan mobilitas fisik
tulang b.d. kerusakan integritas
 Pasien mengatakan sangat sakit jika struktur tulang.
tangan kanannya digerakan atau
digeser.
 Pasien mengatakan kakinya merasa
pegal linu sehingga susah untuk
digerakkan.

DO :

 Pasien terlihat tidak bisa miring


kanan ataupun miring kiri
 Tangan kanan pasien terlihat tidak
bisa digerakkan
 Tangan kanan pasien dilakukan
imobilisasi
 Tangan kanan pasien sudah
terpasang gips
 Pasien terpasang kateter urine

3. DS :- Dilakukan tindakan Kerusakan integritas


reposisi gips u-slab kulit b.d. laserasi kulit
DO : akibat cidera fisik.
 Pasien terpasang gips pada lengan
tangan kanan dan dilakukan reposisi
pada humerus dextra
 Tangan kanan pasien tidak dapat
digerakkan karena telah terpasang
gips
C. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d. agen cidera fisik ditandai adanya fraktur humerus kanan.
2. Gangguan mobilitas fisik b.d. kerusakan integritas struktur tulang.
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)

1. Nyeri akut b.d. agen Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam Manajemen nyeri
cidera fisik ditandai diharapkan nyeri pasien dapat berkurang dengan kriteria hasil: 1. Lakukan pengkajian nyeri meliputi lokasi,
adanya fraktur humerus Kontrol nyeri: karakteristik, durasi, kualitas, dan factor
dextra pencetus.
2. Pastikan perawatan analgesik bagi pasien
Indikator Awal Akhir dilakukan dengan pemantauan ketat.
3. Kurangi faktor-faktor yg dapat
 Mengenali kapan nyeri 2 3 mencetuskan nyeri.
terjadi 4. Pilih dan implementasikan tindakan yang
 Menggambarkan faktor 2 3 beragam (farmakologi, nonfarmakologi,
penyebab interpersonal)
 Menggunakan analgesik 2 3 5. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri.
yang direkomendasikan
 Melaporkan perubahan 2 3
terhadap gejala nyeri Pemberian analgesik
pada professional 1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas,
kesehatan dan keparahan nyeri sebelum mengobati
 Melaporkan gejala yang 2 3 pasien.
tidak terkontrol pada 2. Cek perintah pengobatan meliputi obat,
professional kesehatan dosis, dan frekuensi obat analgesik yang
diberikan.
1: tidak pernah menunjukkan 3. Cek adanya riwayat alergi obat.
2: jarang menunjukkan 4. Pilih analgesik atau kombinasi analgesik
3: kadang-kadang menunjukkan yang sesuai ketika lebih dari satu
4: sering menunjukkan diberikan.
5. Monitor ttv sebelum dan sesudah
5: secara konsisten menunjukkan
pemberian obat.
6. Evaluasi keefektifan analgesik.
Dokumentasi respn dan adanya efek
samping.
2. Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam Terapi latihan: ambulasi
b.d. kerusakan integritas diharapkan pasien dapat melakukan ROM aktif dengan 1. Beri pasien pakaian yang tidak
struktur tulang. gerakan atas inisiatif sendiri dengan kriteria hasil : mengekang.
Pergerakan Sendi 2. Sediakan tempat tidur dengan ketinggian
Indikator Awal Akhir rendah.
3. Bantu pasien duduk disisi tempat tidur
 Jari kanan 2 3 untuk memfasilitasi penyesuaian tubuh.
 Pergelangan tangan 2 3 4. Bantu pasien untuk perpindahan sesuai
kanan kebutuhan.
 Ibu jari kanan 2 3 5. Konsultasikan kepada alih terapi fisk
 Pergelangan kaki 2 3 mengenai rencana ambulasi.
kanan dan kiri Perawatan tirah baring
 Lutut kanan dan kiri 2 3 1. Posisikan sesuai dengan body aligment yg
 Panggul kanan dan 2 3 tepat.
kiri 2. Hindari menggunakan kain linen kasur yg
teksturnya kasar.
3. Jaga kain linen kasur tetap bersih, kering,
1 : sangat parah dan bebas kerutan.
2 : parah 4. Tinggikan teralis tempat tidur dengan
3 : sedang tepat.
4 : baik 5. Letakkan meja disamping tempat tidur
5 : sangat baik berada dalam jangkauan pasien.
6. Balikkan psien yang tiidak dapat
mobilisasi paling tidak setiap 2 jam sekali
sesuai jadwal yang spesifik.
7. Monitor kondisi kulit pasien.
8. Ajarkan latihan di tempat tidur dengan
tepat.
9. Monitor komplikasi dari tirah baring
(misalnya nyeri punggung, perubahan
siklus tidur, kesulitan dalam berkemih).
4. IMPLEMENTASI
No Hari / tanggal dx. Implementasi Respon Paraf

1. Selasa, 29 1 1. Melakukan pengkajian nyeri Objektif:-


Oktober 2019 meliputi lokasi, karakteristik, Subjektif:
pukul 15.00 durasi, kualitas, dan faktor - Pasien mengatakan nyerinya seperti ditusuk
pencetus. tusuk jarum dan secara terus menerus.
WIB
2. Mengurangi faktor-faktor yg dapat - Pasien mengatakan nyerinya akan semakin
mencetuskan nyeri. terasa ketika tangan kanannya mencoba
3. Ajarkan prinsip-prinsip untuk digerakan.
manajemen nyeri.

Pukul 16.00 1 1. Memastikan perawatan analgesik Objektif:


WIB bagi pasien dilakukan dengan - Pasien belum diberikan pemberian
pemantauan ketat. analgesik

Subjektif:-
Pukul 18.30 2 Objektif:
WIB 1. Memberikan pasien pakaian yang
tidak mengekang. - Pasien belum mampu duduk atau pindah
2. Menyiapkan tempat tidur dengan posisi miring kanan/kiri.
ketinggian rendah. - Pasien terlihat sudah menggunakan baju
3. Membantu pasien duduk disisi yang longgar.
tempat tidur untuk memfasilitasi
penyesuaian tubuh. Subjektif:
4. Bantu pasien untuk perpindahan
sesuai kebutuhan. - Pasien mengatakan masih terasa nyeri
ketika mencoba untuk berpindah.
Pukul 19.00 2 1. Menghindari penggunaan kain Objektif:
WIB linen kasur yg teksturnya kasar.
2. Menjaga kain linen kasur tetap - Pasien masih terlihat kesakitan ketika
bersih, kering, dan bebas kerutan. dilakukan logroll setiap 2 jam sekali
3. Meninggikan teralis tempat tidur
posisi semifowler. Subjektif:
4. Meletakkan meja disamping
tempat tidur berada dalam - Pasien mengatakan sudah nyaman dengan
jangkauan pasien. posis semifowler.
5. Membalikkan badan pasien
(logroll) setiap 2 jam sekali
sesuai jadwal yang spesifik.
6. Monitor kondisi kulit pasien.

Pukul 20.00 2 1. Mengajarkan latihan di tempat Objektif:


WIB tidur, yaitu ROM aktif.
- Pasien dapat mengikuti instruksi walau
hanya pelan-pelan

Subjektif:-

2. Rabu, 30 1 1. Melakukan pengkajian nyeri Objektif:


Oktober 2019 meliputi lokasi, karakteristik, - Telah diberikan terapi analgesik
pukul 09.00 durasi, kualitas, dan faktor Subjektif:
pencetus.
WIB - Pasien mengatakan masih nyeri seperti
2. Mengurangi faktor-faktor yg dapat
mencetuskan nyeri. ditusuk tusuk jarum dengan skala sekitar 6.
3. Ajarkan prinsip-prinsip - Pasien mengatakan nyerinya hilang timbul
manajemen nyeri dalam kurun waktu beberapa menit.
4. Memberikan terapi analgesik
Pukul 10.00 2 1. Menjaga kain linen kasur tetap Objektif:
WIB bersih, kering, dan bebas kerutan. - Tidak ada tanda-tanda luka dekubitus
2. Memantau tempat tidur pasien - Pasien mulai bisa miring sedikit demi
masih posisi semifowler.
sedikit dengan bantuan orang lain ke kiri
3. Meletakkan meja disamping
tempat tidur berada dalam
jangkauan pasien. Subjektif:-
4. Membalikkan badan pasien
(logroll) setiap 2 jam sekali sesuai
jadwal yang spesifik.
5. Monitor kondisi kulit pasien.
Pukul 12.00 2 1. Mengajarkan latihan di tempat Objektif:
WIB tidur, yaitu ROM aktif. - Pasien mengikuti instruksi yang diberikan
2. Membalikkan badan pasien - Sementara pasien hanya bisa mencoba
(logroll) setiap 2 jam sekali sesuai miring ke kiri
jadwal yang spesifik. Subjektif:

Pukul 13.30 2 1. Membalikkan badan pasien Objektif:


WIB (logroll) setiap 2 jam sekali sesuai - Sementara pasien hanya bisa mencoba
jadwal yang spesifik. miring ke kiri
Subjektif:-
5. EVALUASI
No. Hari/tanggal Dx. kep Evaluasi Paraf
1. Selasa, 29 1 S:
Oktober 2019 - Pasien mengatakan nyerinya seperti ditusuk tusuk jarum dan secara terus menerus.
pukul 15.00 - Pasien mengatakan nyerinya akan semakin terasa ketika tangan kanannya mencoba untuk
digerakan.
WIB
O:-

A : masalah keperawatan nyeri akut teratasi sebagian dengan indikator sebagai berikut.
Indikator Awal Target Akhir

 Mengenali kapan nyeri 2 3 3


terjadi
 Menggambarkan faktor 2 3 3
penyebab
 Menggunakan analgesik 2 3 3
yang direkomendasikan
 Melaporkan perubahan 2 3 2
terhadap gejala nyeri
pada professional
kesehatan
 Melaporkan gejala yang 2 3 2
tidak terkontrol pada
professional kesehatan

P : lanjutkan intervensi

1. Lakukan pengkajian nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, dan faktor
pencetus.
2. Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemantauan ketat.
3. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri.
Pukul 16.00 1 S:-
WIB
O : Pasien belum diberikan pemberian analgesik

A : masalah keperawatan nyeri akut teratasi sebagian dengan indikator sebagai berikut.
Indikator Awal Target Akhir

 Mengenali kapan nyeri 2 3 3


terjadi
 Menggambarkan faktor 2 3 3
penyebab
 Menggunakan analgesik 2 3 3
yang direkomendasikan
 Melaporkan perubahan 2 3 2
terhadap gejala nyeri
pada professional
kesehatan
 Melaporkan gejala yang 2 3 2
tidak terkontrol pada
professional kesehatan

P: lanjutkan intervensi
1. Lakukan pengkajian nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, dan faktor
pencetus.
2. Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemantauan ketat.
3. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri.
Pukul 18.30- 2 S:
20.00 WIB - Pasien mengatakan masih terasa nyeri ketika mencoba untuk berpindah.
- Pasien mengatakan sudah nyaman dengan posis semifowler.

O:
- Pasien belum mampu duduk atau pindah posisi miring kanan/kiri.
- Pasien terlihat sudah menggunakan baju yang longgar.
- Pasien masih terlihat kesakitan ketika dilakukan logroll setiap 2 jam sekali
- Pasien dapat mengikuti instruksi langakah2 ROM aktif walau hanya pelan-pelan
A: masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian dengan indikator sebagai
berikut.

Indikator Awal Target Akhir

 Jari kanan 2 3 3
 Pergelangan tangan 2 3 2
kanan
 Ibu jari kanan 2 3 3
 Pergelangan kaki 2 3 3
kanan dan kiri
 Lutut kanan dan kiri 2 3 2
 Panggul kanan dan 2 3 2
kiri

P: lanjutkan intervensi
1. Meninggikan teralis tempat tidur posisi semifowler.
2. Membalikkan badan pasien (logroll) setiap 2 jam sekali sesuai jadwal yang spesifik.
3. Monitor kondisi kulit pasien.
4. Mengajarkan latihan di tempat tidur, yaitu ROM aktif.
2. Rabu, 30 1 S:
Oktober 2019
1. Pasien mengatakan masih nyeri seperti ditusuk tusuk jarum dengan skala sekitar 6.
Pukul 09.00
2. Pasien mengatakan nyerinya hilang timbul dalam kurun waktu beberapa menit.
WIB
O : Telah diberikan terapi analgesik

A : masalah keperawatan nyeri akut teratasi sebagian dengan indikator sebagai berikut.

Indikator Awal Target Akhir

 Mengenali kapan nyeri 2 3 3


terjadi
 Menggambarkan faktor 2 3 3
penyebab
 Menggunakan analgesik 2 3 3
yang direkomendasikan
 Melaporkan perubahan 2 3 2
terhadap gejala nyeri
pada professional
kesehatan
 Melaporkan gejala yang 2 3 3
tidak terkontrol pada
professional kesehatan

P : lanjutkan intervensi
1. Lakukan pengkajian nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, dan faktor
pencetus.
2. Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemantauan ketat.
Pukul 10.00 2 S:-
WIB O:
- Tidak ada tanda-tanda luka dekubitus
- Pasien mulai bisa miring sedikit demi sedikit dengan bantuan orang lain ke kiri
A : masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian dengan indikator sebagai
berikut.
Indikator Awal Target Akhir

 Jari kanan 2 3 3
 Pergelangan tangan 2 3 2
kanan
 Ibu jari kanan 2 3 3
 Pergelangan kaki 2 3 3
kanan dan kiri
 Lutut kanan dan kiri 2 3 3
 Panggul kanan dan 2 3 2
kiri

P : lanjutkan intervensi

1. Balikkan badan pasien (logroll) setiap 2 jam sekali sesuai jadwal yang spesifik.
2. Monitor kondisi kulit pasien.
3. Ajarkan latihan di tempat tidur, yaitu ROM aktif.
Pukul 12.00 2 S:-
WIB O:
- Pasien mengikuti instruksi yang diberikan
- Sementara pasien hanya bisa mencoba miring ke kiri

A: masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian dengan indikator sebagai
berikut.

Indikator Awal Target Akhir

 Jari kanan 2 3 3
 Pergelangan tangan 2 3 2
kanan
 Ibu jari kanan 2 3 3
 Pergelangan kaki 2 3 3
kanan dan kiri
 Lutut kanan dan kiri 2 3 3
 Panggul kanan dan 2 3 2
kiri

P : lanjutkan intervensi
1. Ajarkan latihan di tempat tidur, yaitu ROM aktif.
2. Balikkan badan pasien (logroll) setiap 2 jam sekali sesuai jadwal yang spesifik.
Pukul 13.30 S:-
WIB O: Sementara pasien hanya bisa mencoba miring ke kiri

A : masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian dengan indikator sebagai
berikut.
Indikator Awal Target Akhir

 Jari kanan 2 3 3
 Pergelangan tangan 2 3 2
kanan
 Ibu jari kanan 2 3 3
 Pergelangan kaki 2 3 3
kanan dan kiri
 Lutut kanan dan kiri 2 3 3
 Panggul kanan dan 2 3 2
kiri

P: lanjutkan intervensi
1. Balikkan badan pasien (logroll) setiap 2 jam sekali sesuai jadwal yang spesifik.