Anda di halaman 1dari 29

CRITICAL BOOK REPORT

“ KEMISKINAN “

Dibuat untuk memenuhi salah satu tugas


Mata Kuliah Demografi dan Kependudukan

Dosen Pengampu : Dra. Novida Yenny, M. Si

Oleh : Kelompok 3
Abdullah Situmorang (3183131031)
Farhan Pratama Tanjung (3183331014)
Marshaulina Hasibuan (3182131018)
Siti Nurhalimah (3183131034)
Kelas A 2018

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha
Esa karena penulis dapat menyelesaikan tugas “ Critical Book Review” yang
masih jauh dari sempurna ini. Tak bisa di pungkiri , di era persaingan
Pendidikan kini sangat erat kaitannya degan Kurikulum yang dimuat oleh
berbagai pihak sekolah dengan maksud untuk memajukan kesejahteraan Sarana
dan Prasarana pendidikan sekolah yang membuat kita tidak bisa meutup mata.
Setiap orang dituntut untuk Mempelajari Kurikulum & pembelajaran, bahkan
bisa di bilang menjadi program wajib
Adapun maksud dari penulisan “Critical Book Review” atau yang sering
kita dengar dengan istilah “Meresensi Buku” ini adalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah Demografi dan Kependudukan, yang dalam hal ini proses
penulisannya tak lepas dari pengarahan dan bimbingan dari Ibu Dra. Novida
Yenny, M. Si selaku dosen mata kuliah.
Dan dengan ini penulis juga berterimakasih kepada pihak yang telah
bekerja sama dalam penyusunan tugas ini, Penulis minta maaf jika dalam
penulisan ini masih banyak kekurangan Saya berharap kritik dan saran dari
semua pembaca.
Terimakasih saya ucapkan kepada semua rekan dan semua pembaca.

Medan, 08 Oktober 2019

Penulis

Kelompok 3

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... 02

DAFTAR ISI .................................................................................................... 03

BAB I : PENDAHULUAN.............................................................................. 04

A. Latar Belakang Penyusunan ......................................................................... 04

B. Tujuan Penyusunan ...................................................................................... 05

C. Manfaat Penyusunan .................................................................................... 05

D. Identitas Buku ( Buku Utama & Buku Pembanding ) .................................. 05

BAB II : PEMBAHASAN............................................................................... 07

Ringkasan Buku Utama..................................................................................... 07

Ringkasan Buku Pembanding ........................................................................... 17

Kelebihan & Kekurangan Buku Utama ............................................................ 25

Kelebihan & Kekurangan Buku Pembanding ................................................... 25

BAB III : PENUTUP....................................................................................... 27

Kesimpulan ....................................................................................................... 27

Saran .................................................................................................................. 27

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 29

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan yang minim di karenakan rendahnya


minat baca masyarakat pada saat ini. Mengkritik buku salah satu cara yang
dilakukan untuk menaikkan ketertarikan minat baca seseorang terhadap suatu
pokok bahasan. Mengkritik buku (critical book report) ini adalah suatu tulisan
atau ulasan mengenai sebuah hasil karya atau buku, baik berupa buku fiksi
ataupun nonfiksi, juga dapat diartikan sebagai karya ilmiah yang melukiskan
pemahaman terhadap isi sebuah buku.

Mengkritik buku dilakukan bukan untuk menjatuhkan atau menaikkan


nilai suatu buku melainkan untuk menjelaskan apaa danya suatu buku yaitu
kelebihan atau kekurangannya yang akan menjadi bahan pertimbangan atau
ulasan tentang sebuah buku kepada pembaca perihal buku-buku baru dan ulasan
kelebihan maupun kekurangan buku tersebut. Yang lebih jelasnya dalam
mengkritik buku, kita dapat menguraikan isi pokok pemikiran pengarang dari
buku yang bersangkutan diikuti dengan pendapat terhadap isi buku.

Dengan demikian laporan buku atau resensi sangat bermanfaat untuk


mengetahui isi buku selain itu, akan tahu mengenai kekurangan dan kelebihan
dari isi buku yang telah dibaca.

Untuk itu, kami harapkan kepada pembaca agar mengetahui dan


memahami mengenai laporan buku atau resensi sehingga dapat menilai isi
buku tersebut dengan baik dan bukan hanya sekedar membaca sekilas buku
tersebut melainkan dapat memahami apa yang ada dalam buku tersebut secara
mendalam.

4
B. Tujuan Penyusunan
Kritik buku (critical book report) ini dibuat sebagai salah satu referensi
ilmu yang bermanfaat untuk menambah wawasan penulis maupun pembaca
dalam mengetahui kelebihan dan kekurangan suatu buku, menjadi bahan
pertimbangan, dan juga menyelesaikan salah satu mata kuliah Demografi dan
Kependudukan, Jurusan Pendidikan Geografi di Universitas Negeri Medan.

C. Manfaat Penyusunan
 Membantu pembaca mengetahui gambaran dan penilaian umum dari
sebuah buku atau hasil karya lainnya secara ringkas.

 Mengetahui kelebihan dan kelemahan buku yang diresensi.

 Mengetahui latar belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan.

 Menguji kualitas buku dengan membandingkan terhadap karya dari


penulis yang sama atau penulis lainnya.

 Memberi masukan kepada penulis buku berupa kritik dan saran


terhadap cara penulisan, isi, dan substansi buku.

D. Identitas Buku ( Buku Utama & Buku Pembanding )


 Buku Utama

Judul Buku : Kemiskinan & Pemberdayaan kelompok


Nama Pengarang : Agus Sjafari
Nama Penerbit : Graha Ilmu
Ketebalan Buku : 100
Tahun Terbit : 2014
ISBN : 978-602-262-174-4

5
 Buku Pembanding

Judul Buku : Memotong Ratai Kemiskinan


Penulis : Prof.Dr.H. Haryono Suyono
Penerbit : Yayasan Dana Sejahtera Mandiri
Tahun Terbit : 2003
Kota Terbit : Bandung
Tebal Buku : 120
ISBN : 979-3462-01-9

6
BAB II

PEMBAHASAN

A. Ringkasan Buku Utama

BAB I KEMISKINAN DI INDONESIA

Kemiskinan menjadi salah satu masalah di Indonesia sejak dulu hingga


sekarang apalagi sejak terhempas dengan pukulan krisis ekonomi dan moneter
yang terjadi sejak tahun 1997. Kemiskinan seringkali dipahami sebagai gejala
rendahnya tingkat kesejahteraan semata padahal kemiskinan merupakan gejala
yang bersifat komplek dan multidimensi. Rendahnya tingkat kehidupan yang
sering sebagai alat ukur kemiskinan pada hakekatnya merupakan salah satu
mata rantai dari munculnya lingkaran kemiskinan (Anonim, 2011).

Masalah kemiskinan ini sangatlah kompleks dan bersifat


multidimensional, dimana berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan
aspek lainnya. Kemiskinan terus menjadi masalah fenomenal di belahan dunia,
khususnya Indonesia yang merupakan Negara berkembang. Kemiskinan telah
membuat jutaan anak tidak bisa mengenyam pendidikan, kesulitan membiayai
kesehatan, kurangnya tabungan dan investasi, dan masalah lain yang menjurus
ke arah tindakan kekerasan dan kejahatan sehingga masalah ini menjadi fokus
pemerintah Indonesia sampai sekarang.

Kemiskinan adalah fenomena yang sangat urgen bagi Negara Indonesia.


Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga macam konsep kemiskinan:
kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan subyektif. Seseorang
termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah
garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum:

7
pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong
miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih
berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedangkan miskin relatif
dirumuskan berdasarkan the idea of relative standard, yaitu dengan
memperhatikan dimensi tempat dan waktu. Asumsinya adalah kemiskinan suatu
daerah berbeda dengan daerah lainnya dan kemiskinan pada waktu tertentu
berbeda dengan waktu lainnya (Usman, 2006; Masrizal, 2009).

Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada
masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan,
tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran
kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan,
pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada
zaman modern. Negara kita Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber
daya alamnya, tapi kemiskinan sampai dengan sekarang belum juga teratasi. Di
Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula
dilaksanakan, seperti pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung,
gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani
program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan
ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui
program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat
sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan dan akhir-akhir ini adanya
jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat) dan askeskin (asuransi kesehatan
miskin) tapi itu semua belum menjawab masalah kemiskinan (Masrizal, 2009).

Angka kemiskinan nasional menyembunyikan sejumlah besar penduduk


yang hidup sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional. Hampir 42 persen
dari seluruh rakyat Indonesia hidup di antara garis kemiskinan AS$1- dan
AS$2-per hari-suatu aspek kemiskinan yang luar biasa dan menentukan di
Indonesia. Analisis menunjukkan bahwa perbedaan antara orang miskin dan

8
yang hampir-miskin sangat kecil, menunjukkan bahwa strategi pengentasan
kemiskinan hendaknya dipusatkan pada perbaikan kesejahteraan mereka yang
masuk dalam dua kelompok kuintil berpenghasilan paling rendah. Hal ini juga
berarti bahwa kerentanan untuk jatuh miskin sangat tinggi di Indonesia:
walaupun hasil survei tahun 2004 menunjukkan hanya 16,7 persen penduduk
Indonesia yang tergolong miskin, lebih dari 59 persen dari mereka pernah jatuh
miskin dalam periode satu tahun sebelum survei dilaksanakan. Data terakhir
juga mengindikasikan tingkat pergerakan tinggi (masuk dan keluar) kemiskinan
selama periode tersebut, lebih dari 38 persen rumah tangga miskin pada tahun
2004 tidak miskin pada tahun 2003 (The World Bank, 2006).

BAB II FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN

Pada umumnya faktor penyebab kemiskinan di negara Indonesia adalah :

1. Laju Pertumbuhan Penduduk


Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat di setiap 10
tahun menurut hasil sensus penduduk. Menurut data Badan Pusat
Statistik (BPS) di tahun 1990 Indonesia memiliki 179 juta lebih
penduduk. Kemudian di sensus penduduk tahun 2000 penduduk
meningkat sebesar 27 juta penduduk atau menjadi 206 juta jiwa, dapat
diringkaskan pertambahan penduduk Indonesia persatuan waktu adalah
sebesar setiap tahun bertambah 2,04 juta orang pertahun atau 170 ribu
orang perbulan atau 5.577 orang perhari atau 232 orang perjam atau 4
orang per menit. Banyaknya jumlah penduduk ini membawa Indonesia
menjadi negara ke-4 terbanyak penduduknya setelah China, India dan
Amerika. Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesia semakin
terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumlah
penduduk yang bekerja tidak sebanding dengan jumlah beban
ketergantungan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya

9
beban ketergantungan yang harus ditanggung membuat penduduk hidup
di bawah garis kemiskinan (Sitanggang, 2011).

2. Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran


Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua
yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong sebagi tenaga
kerja ialah penduduk yang berumur di dalam batas usia kerja. Batasan
usia kerja berbeda-beda disetiap negara yang satu dengan yang lain.
Batas usia kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10
tahun tanpa batas umur maksimum. Jadi setiap orang atau semua
penduduk berumur 10 tahun tergolong sebagai tenaga kerja. Sisanya
merupakan bukan tenaga kerja yang selanjutnya dapat dimasukan dalam
katergori beban ketergantungan.

Tenaga kerja (manpower) dipilih pula kedalam dua kelompok


yaitu angkatan kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang
termasuk angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia
kerja yang bekerja atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara
tidak bekerja dan yang mencari pekerjaan. Sedangkan yang termasuk
sebagai bukan angkatan kerja adalah tenaga kerja dalam usia kerja yang
tidak sedang bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak sedang
mencari pekerjaan, yakni orang-orang yang kegiatannya bersekolah,
mengurus rumah tangga, serta orang yang menerima pendapatan tapi
bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya. Selanjutnya
angkatan kerja dibedakan pula menjadi dua subkelompok yaitu pekerja
dan penganggur. Pekerja di sini adalah orang-orang yang mempunyai
pekerjaan, mencakup orang-orang yang mempunyai pekerjaan dan
memang sedang bekerja maupun orang yang memilki pekerjaan namun
sedang tidak bekerja. Pengangguran yang dimaksud adalah orang yang
tidak mempunyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan

10
mencari pekerjaan. Pengangguran semacam ini oleh BPS dikatergorikan
sebagai pengangguran terbuka (Dumairy, 1996).

3. Distribusi Pendapatan dan Pemerataan Pembangunan


Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau
timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan
penduduknya. Kriteria ketidakmerataan versi Bank Dunia didasarkan
atas porsi pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan
penduduk, yakni 40% penduduk berpendapatan rendah (penduduk
miskin); 40% penduduk berpendapatan menengah; serta 20%
penduduk berpendapatan tertinggi (penduduk terkaya). Ketimpangan
dan ketidakmerataan distribusi dinyatakan parah apabila 40% penduduk
berpendapatan rendah menikmati kurang dari 12 persen pendapatan
nasional. Ketidakmerataan dianggap sedang atau moderat bila 40%
penduduk berpendapatan rendah menikmati 12-17 persen pendapatan
nasional. Sedangkan jika 40% penduduk miskin menikmati lebih dari 17
persen pendapatan nasional makan ketimpangan atau kesenjangan
dikatakan lunak, distribusi pendapatan nasional dikatakan cukup merata
(Dumairy, 1996).

Pendapatan penduduk yang didapatkan dari hasil pekerjaan yang


mereka lakukan relatif tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari
sedangkan ada sebagian penduduk di Indonesia mempunyai pendapatan
yang berlebih. Ini disebut jugasebagai ketimpangan. Ketimpangan
pendapatan yang ekstrim dapat menyebabkan inefisiensi ekonomi.
Penyebabnya sebagian adalah pada tingkat pendapatan rata-rata bearapa
pun, ketimpangan yang semakin tinggi akan menyebabkan semakin
kecilnya bagian populasi yang memenuhi syarat untuk mendapatkan
pinjaman atau sumber kredit. Selain itu ketimpangan dapat
menyebabkan alokasi aset yang tidak efisien. Ketimpangan yang tinggi

11
menyebabkan penekanan yang terlalu tinggi pada pendidikan tinggi
dengan mengorbankan kualitas universal pendidikan dasar, dan
kemudian menyebabkan kesenjangan pendapatan yang semakin melebar
(Todaro,2006).

Ketimpangan pembangunan di Indonesia selama ini berlangsung


dan berwujud dalam berbagai bentuk dan aspek atau dimensi. Bukan
saja berupa ketimpangan hasil-hasilnya, misalnya dalam hal pendapatan
per kapita tetapi juga ketimpangan kegiatan atau proses pembangunan
itu sendiri. Bukan pula semata-mata berupa ketimpangan spasial atau
antar daerah tetapi ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional.
Ketimpangan sektoral dan regional dapat ditengarai antara lain dengan
menelaah perbedaan mencolok dalam aspek-aspek seperti penyerapan
tenaga kerja, alokasi dana perbankan, investasi dan pertumbuhan.
Sepanjang era PJP I (lima pelita) yang lalu, sektor pertanian rata-rata
hanya tumbuh 3,54% per tahun. Sedangkan sektor industri pengolahan
tumbuh dengan rata-rata 12,22% per tahun. Di Repelita VI sektor
pertanian saat itu ditargetkan tumbuh rata-rata 3,4% per tahun,
sementara pertumbuhan rata-rata tahunan sektor industri pengolahan
ditargetkan 9,4% per tahun. Tidak seperti masa era PJP I, dimana dalam
pelita-pelita tertentu terdapat sektor lain yang tingkat pertumbuhannya
lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan sektor industri pengolahaan,
selama Repelita VI tingkat pertumbuhan sektor ini dicanangkan yang
tertinggi dibandingkan sector-sektor lainnya. Sektor industri pengolahan
diharapka dapatmenjadi pemimpin sepanjang sektor Repelita VI.
Ketimpangan pertumbuhan antarsektor, khususnya antara sektor
pertanian dan sektor industri pengolahan harus disikapi secara arif.
Ketimpangan pertumbuhansektoral ini bukanlah kecelakaan atau ekses
pembangunan. Ketimpangan ini lebih kepada suatu hal yang terencana

12
dan memang disengaja terkait dengan tujuan menjadikan Indonesia
sebagai negara industri. Akan tetapi sampai sejauh manakah
ketimpangan ini dapat ditolerir. Pemerintah perlu memikirkan kembali
perihal ketepatan keputusan menggunakan industrialisasi sebgai jalur
pembangunan karenaakan sangat berdampak bagi pendapatan penduduk
dan selanjutnya kemiskinan (Dumairy, 1996).

4. Tingkat Pendidikan Masyarakat yang Rendah


Banyak masyarakat Indonesia tidak memiliki pendidikan yang
dibutuhkan oleh perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja. Pada
umumya untuk memperoleh pendapatan yang tinggi diperlukan tingkat
pendidikan yang tinggi pula atau minimal mempunyai memiliki
ketrampilan yang memadai sehingga dapat memperoleh pendapatan
yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga kemakmuran
penduduk dapat terlaksana dengan baik dan kemiskinan dapat
ditanggulangi.

Rendahnya kualitas penduduk merupakan salah satu penyebab


kemiskinan di suatu negara. Untuk adanya perkembangan ekonomi
terutama industri, jelas sekali dibutuhkan lebih banyak teanga kerja
yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis.
Menurut Schumaker pendidikan merupakan sumber daya yang terbesar
manfaatnya dibandingkan faktor-faktor produksi lain (Irawan, 1999).

5. Kurangnya Perhatian dari Pemerintah


Masalah kemiskinan bisa dibilang menjadi masalah Negara yang
semakin berkembangsetiap tahunnya dan pemerintah sampai sekarang
belum mampu mengatasi masalahtersebut. Kurangnya perhatian
pemerintah akan maslah ini mungkin menjadi salah satu penyebnya.
Pemerintah yang kurang peka terhadap laju pertumbuhan masyarakat

13
miskin dapat menjadi salah satu faktor kemiskinan. Pemerintah tidak
dapat memutuskan kebijakan yang mampu mengendalikan tingkat
kemiskinan di negaranya (Sitanggang, 2011).

6. Kurangnya Lapangan Pekerjaan yang Tersedia di Indonesia


Seperti kita ketahui lapangan pekerjaan yang terdapat di
Indonesia tidak seimbangdengan jumlah penduduk yang ada dimana
lapangan pekerjaan lebih sedikitdibandingkan dengan jumlah
penduduknya. Dengan demikian banyak penduduk diIndonesia yang
tidak memperoleh penghasilan itu menyebabkan kemiskinan
diIndonesia.

BAB III DAMPAK KEMISKINAN

Dampak dari kemisikinan terhadap masyarakat umumnya begitu


banyak dan kompleks (Ghopur, 2011), yang kemudian dipaparkan sebagai
berikut :

a. Pengangguran
Jumlah pengangguran terbuka awal tahun 2011 sebanyak 8,12
juta orang. Jumlah yang cukup fantastis, mengingat krisis
multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini. Dengan
banyaknya pengangguran, berarti banyak masyarakat tidak memiliki
penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak
memiliki penghasilan, mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan
pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing
dan beli masyarakat. Sehingga akan memberikan dampak secara
langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi dan tingkat pengeluaran
rata-rata.

Dalam konteks daya saing secara keseluruhan, belum


membaiknya pembangunan manusia di tanah air akan melemahkan

14
kekuatan daya saing bangsa. Ukuran daya saing ini kerap digunakan
untuk mengetahui kemampuan suatu bangsa dalam bersaing dengan
bangsa-bangsa lain secara global. Dalam konteks daya beli, di tengah
melemahnya daya beli masyarakat, kenaikan harga beras akan
berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Perkiraan itu didasarkan
atas kontribusi pangan yang cukup dominan terhadap penentuan garis
kemiskinan, yakni hampir tiga perempatnya (74,99 %) (Ritonga, 2007).

Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkan


rendahnya tingkat pendidikan seseorang, tetapi juga disebabkan
kebijakan pemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro
atau pertumbuhan (growth). Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan
Asia tahun 1997 silam misalnya, banyak perusahaan yang melakukan
perampingan jumlah tenaga kerja, sebab tak mampu lagi membayar gaji
karyawan akibat defisit anggaran perusahaan. Akibatnya jutaan orang
terpaksa harus dirumahkan, atau dengan kata lain meraka terpaksa di-
PHK (Putus Hubungan Kerja).

b. Kekerasan
Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini
merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi
mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi
jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan
hidupnya, maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok,
menodong, mencuri atau menipu (dengan cara mengintimidasi orang
lain) di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak
keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk
operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.

c. Pendidikan

15
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang
terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat
miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan.
Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal
itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja
mereka sudah kesulitan. Bagaimana seorang penarik becak misalnya,
yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari kemiskinan,
ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher, sementara
anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-perguruan
tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi,
sesungguhnya negara sudah melakukan pemiskinan struktural terhadap
rakyatnya.

d. Kesehatan.
Biaya pengobatan sekarang sangatlah mahal. Hampir setiap
klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan
tarif/ongkos pengobatan dengan biayanya yang tinggi, sehingga
biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.

e. Konflik Sosial Bernuansa SARA (istilah Orba).


Tanpa bersikap munafik, konflik SARA muncul akibat
ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini
menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. Akibat ketiadaan
jaminan keadilan, keamanan dan perlindungan hukum dari negara,
persoalan ekonomi-politik yang objektif disublimasikan ke dalam
bentrokan identitas yang subjektif. Terlebih lagi fenomena bencana
alam yang kerap melanda negeri ini, yang berdampak langsung terhadap
mingkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret
panjang daftar kemiskinan dan semuanya terjadi hampir merata di setiap
daerah di Indonesia, baik di perdesaan maupun perkotaan.

16
B. Ringkasan Buku Pembanding

BAB I KEMISKINAN DALAM ILMU DEMOGRAFI

Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi


kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak (BPS dan Depsos, 2002:3).
Kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai
standar kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non makanan, yang
disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty
threshold). Garis kemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh
setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo
kalori per orang per hari dan kebutuhan non-makanan yang terdiri dari
perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang
dan jasa lainnya (BPS dan Depsos, 2002:4). Kemiskinan pada umumnya
didefinisikan dari segi pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan
keuntungan-keuntunan non-material yang diterima oleh seseorang. Secara luas
kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan, keadaan
kesehatan yang buruk, kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh
masyarakat (SMERU dalam Suharto dkk, 2004). Beberapa tahun ke belakang,
kemiskinan di Indonesia dan penanggulangannya telah menjadi prioritas
pembangunan dan menjadi agenda pokok yang mengerahkan berbagai sumber
daya pembangunan. Selama itu pula, dinamika kemiskinan dan
penanggulangannya di Indonesia juga turut berkembang. Sampai dengan Maret
2012, tingkat kemiskinan telah turun menjadi 11.96 persen (29.13 juta jiwa).
Sebelumnya, sampai dengan Maret 2011, tingkat kemiskinan nasional menurun
hingga 12,49 persen, dari 13,33 persen pada tahun 2010. Selanjutnya, pada
periode September 2011, tingkat kemiskinan menurun lagi menjadi 12,36
persen. “Diharapkan tingkat kemiskinan nasional akan dapat diturunkan lagi
pada kisaran 9,5-10,5 persen pada tahun 2013,” ungkap ibu Armida, dalam

17
Konferensi Pers Kementerian PPN/Bappenas, pada hari Senin, (13/8),
bertempat di Ruang Serba Guna, Gedung Bappenas.

Hal ini, menurut Menteri PPN/ Kepala Bappenas, mencerminkan


bahwa 6 pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan jangka pendek
sudah berjalan dengan baik. Diakui oleh Ibu Armida dalam paparannya,
penduduk miskin di Indonesia tersebar tidak merata. Jumlah terbesar dari
penduduk miskin sebesar 57,8 persen berada di pulau Jawa. Lalu sebanyak 21
persen di Sumatera, 7,5 persen di Sulawesi, 6,2 persen di Nusa Tenggara, 4,2
persen di Maluku dan Papua dan angka terkecil sebesar 3,4 persen tersebar di
Kalimantan. Angka kemiskinan tidak dapat turun dengan signifikan karena
inflasi yang dirasakan oleh masyarakat miskin juga tinggi. Kondisi global yang
berimbas pada situasi nasional, mendorong kenaikan harga- harga, kenaikan
bahan-bahan pokok yang tertinggi di antara kelompok pengeluaran untuk
bahan-bahan lainnya. Pengeluaran rumah tangga miskin untuk bahan pokok ini
rentan terhadap kenaikan harga pangan. Bahkan pada tahun 2005, meski terjadi
pertumbuhan, tetapi dengan poverty basket inflation tercatat sampai dengan
12,78 persen karena adanya kenaikan harga BBM, yang memicu kenaikan
harga bahan pokok sehingga berdampak pada kenaikan angka kemiskian. Oleh
karenanya, stabilitas harga pangan harus dijaga.Tercatat pada tahun 2006,
angka kemiskinan naik dari 15,97 persen menjadi 17,75 persen.

Masyarakat miskin kota umumnya tidak mendapatkan fasilitas yang


layak seperti air bersih, listrik dan lainnya. Tentu saja mereka tidak bisa
bercocok tanam karena tidak ada lahan. Akhirnya satu-satunya jalan terbaik
adalah menjadi pemulung dan pengemis, yang buruk adalah menjadi pencuri
dan pencopet. Ini disebabkan karena mereka tidak memiliki ketrampilan dan
pendidikan yang memadai untuk mendapatkan pekerjaan. Kemiskinan ini akan

18
diturunkan terus pada generasi selanjutnya karena orang tua mereka tidak
mampu membiayai pendidikan mereka.

BAB II PENYEBAB TERJADINYA KEMISKINAN

Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada
masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan,
tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran
kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan,
pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada
jaman modern.

Penyebab kemiskinan

Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:

a)penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat


dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin

b)penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan


keluarga;

c)penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan


keluarga;

d)penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan


dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan
sekitar;

e)penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang
lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;

19
f)penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan
hasil dari struktur sosial

Di sisi lain ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi,
yakni kemiskinan alamiah dan karena buatan. Kemiskinan alamiah terjadi
antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang
rendah dan bencana alam. Kemiskinan “buatan” terjadi karena lembaga-
lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak
mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia,
hingga mereka tetap miskin. Maka itulah sebabnya para pakar ekonomi sering
mengkritik kebijakan pembangunan yang melulu terfokus pada pertumbuhan
ketimbang pemerataan.

Adapun indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari


Badan Pusat Statistika, antara lain sebagi berikut:

a)Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan


dan papan).

b)Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan,


pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).

c)Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk


pendidikan dan keluarga).

d)Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.

e)Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.

f)Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.

20
g)Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang
berkesinambungan.

h)Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.

i)Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita


korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan
terpencil).

Lebih lanjut, garis kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kemampuan


masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. Melalui
pendekatan sosial, masih sulit mengukur garis kemiskinan masyarakat, tetapi
dari indikator ekonomi secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan tiga
pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran.
Sementara ini yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) untuk menarik garis
kemiiskinan adalah pendekatan pengeluaran.

BAB III CARA PENANGGULANGAN KEMISKINAN

Kemiskinan dapat ditanggulangi dengan berbagai cara mulai dari


pembagian bantuan secara langsung atau penyediaan lapangan pekerjaan yang
padat karya. Bantuan langsung haruslah bersifat sementara karena tidak akan
mendidik masyarakat dan membuat mereka menjadi malas. Penyediaan
lapangan pekerjaan yang cocok bagi mereka serta bantuan untuk relokasi
supaya mendapatkan fasilitas yang lebih baik tentu saja lebih cocok untuk
solusi jangka panjang. Solusi yang lain adalah transmigrasi, yakni merelokasi
ke pulau lain dan memberikan sebidang tanah untuk digarap. Dengan begitu
diharapkan mereka bisa mengubah nasib. Sudah banyak cerita tentang orang
yang tadinya gelandangan sekarang menjadi kaya raya karena hidup di daerah
transmigrasi. Namun tak sedikit pula yang kembali ke daerah asal dan kembali

21
menjadi gelandangan. (iwan) Saat iniIndonesia masih harus menghadapi tiga
masalah mendasar dalam upaya mengangkat sebagian besar penduduk yang
masih terhimpit kemiskinan yaitu: a) Mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Jumlah penduduk miskin tidak akan dapat dikurangi secara signifikan tanpa
adanya pertumbuhan ekonomi yang bermanfaat bagi orang miskin. Untuk
menurunkan tingkat kemiskinan lebih jauh lagi, pertumbuhan ekonomi yang
lebih tinggi merupakan suatu keharusan. b) Peningkatan pelayanan sosial bagi
masyarakat miskin. Indonesia harus dapat menyelesaikan masalah dalam
bidang pelayanan c) Perlidungan bagi si miskin. Kebanyakan penduduk
Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Perubahan sedikit saja dalam tingkat
harga, pendapatan dan kondisi kesehatan, dapat menyebabkan mereka berada
dalam kemiskinan, setidaknya untuk sementara waktu. Program perlidungan
sosial yang ada tidaklah mencukupi dalam menurunkan tingkat resiko bagi
keluarga miskin, walaupun memberikan manfaatpada keluarga yang lebih
berada. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan menyediakan program
perlindungan sosial yang lebih bermanfaat bagi penduduk miskin serta
masyarakat yang rentan terhadap kemiskinan.

BAB IV DAMPAK KEMISKINAN

Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan


kompleks.

a)pengangguran, Sebagaimana kita ketahui jumlah pengangguran terbuka tahun


2007 saja sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah yang cukup “fantastis” mengingat
krisis multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini. Dengan
banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki
penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki
penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara

22
otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat.
Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat
pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.

Dalam konteks daya saing secara keseluruhan, belum membaiknya


pembangunan manusia di Tanah Air, akan melemahkan kekuatan daya saing
bangsa. Ukuran daya saing ini kerap digunakan untuk mengetahui kemampuan
suatu bangsa dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain secara global. Dalam
konteks daya beli di tengah melemahnya daya beli masyarakat kenaikan harga
beras akan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Razali Ritonga
menyatakan perkiraan itu didasarkan atas kontribusi pangan yang cukup
dominan terhadap penentuan garis kemiskinan yakni hampir tiga perempatnya
[74,99 persen].

Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkan rendahnya


tingkat pendidikan seseorang. Tetapi, juga disebabkan kebijakan pemerintah
yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro atau pertumbuhan [growth].
Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia tahun 1997 silam misalnya
banyak perusahaan yang melakukan perampingan jumlah tenaga kerja. Sebab,
tak mampu lagi membayar gaji karyawan akibat defisit anggaran perusahaan.
Akibatnya jutaan orang terpaksa harus dirumahkan atau dengan kata lain
meraka terpaksa di-PHK [Putus Hubungan Kerja].

b) Kekerasan, Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini


merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi
mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan
bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka
jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau
menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum

23
dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya
besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari
memalak.

c) Pendidikan,Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang


terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin
tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak
dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka
begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.

Bagaimana seorang penarik becak misalnya yang memiliki anak cerdas


bisa mengangkat dirinya dari kemiskinan ketika biaya untuk sekolah saja sudah
sangat mencekik leher. Sementara anak-anak orang yang berduit bisa
bersekolah di perguruan-perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap.

Jika ini yang terjadi sesungguhnya negara sudah melakukan


“pemiskinan struktural” terhadap rakyatnya. Akhirnya kondisi masyarakat
miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah
berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan
mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.
Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu
bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.

24
C. Kelebihan & Kelemahan Buku Utama

 Kelebihan Buku
1. Dapat kita temukan bahwa di dalam buku tercakup materi yang
dirangkai secara teratur sehingga memudahkan pemahaman pembaca
yakni dicakupkannya terlebih dahulu apa yang menjadi pengertian dan
makna kemiskinan, lalu membahas faktor, dan dikupas apa yang
menjadi dampak dari kemiskinan sehingga memudahkan pemahaman
akan materi.
2. Bentuk bukunya yang sederhana dengan ukuran yang tidak terlalu besar
sehingga mudah dibawa kemana-mana.
3. Dibantunya keterangan gambar yang memperjelas teori pada buku buku
utama dan pembanding yang relevansi dengan teori.
 Kelemahan Buku
1. Dalam penulisan buku tulisan atau isi buku sama rata,maksudnya point-
point penting disama ratakan penulisannya dengan kalimat-kalimat
pendukung.Sehingga pembaca tidak dapat dengan mudah mengetahui
point-point penting dalam buku ini.
2. Buku ini juga tidak menyampaikan iktisar/ rangkuman
3. Adanya bahasa atau istilah-istilah yang susah dimengerti
4. Tidak adanya glosarium yang dapat membantu pembaca dalam
memahami istilah-istilah yang susah dimengerti

D. Kelebihan & Kelemahan Buku Pembanding

 Kelebihan Buku
1. Adanya teori konsep yang terdapat dalam buku utama pada buku yang
menjelaskan khusus mengenai materi data tentang kemiskinan sehingga
memudahkan untuk mengetahui deret kejadian prakiraan hidrologi yang
tidak ada pada buku pembanding.

25
2. Dapat kita temukan bahwa di dalam buku tercakup materi yang
dirangkai secara teratur sehingga memudahkan pemahaman pembaca
yakni dicakupkannya terlebih dahulu apa yang menjadi pengertian dan
makna kemiskinan, sehingga memudahkan pemahaman akan materi.
3. Isi buku pada buku pembanding memberi materi yang cukup luas yang
mencakup mengenai masalah statistik dan model matematik hidrologi
berbeda dengan buku utama yang mengulas pada bagian air dan
limpasan lebih banyak.
 Kelemahan Buku
1. Penggunaan bahasa dalam buku sedikit kurang membantu pemahaman
si pembaca
2. Adanya beberapa penjelasan materi yang kurang luas terutama pada
hidrologi teknik buku utama yang membahas tentang pada bagian air
atau limpasan lebih banyak.

26
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks yang memerlukan
penanganan lintas sektoral, lintas profesional dan lintas lembaga. Dari
berbagai sumber yang diperoleh maka diperoleh kesimpulan bahwa
Indonesia sampai saat ini belum dapat mengatasi masalah kemiskinan
sedangkan negara Indonesia telah banyak melakukan cara-cara pengentasan
kemiskinan tetapi kemiskinan juga belum bisa diatasi dengan baik. Hal ini
dapat dilihat dari contoh kasus kemiskinan yang terjadi di wilayah DKI
Jakarta yang masih banyak sekali penduduk yang berpenghasilan rendah
dan hidup kurang layak.

Strategi penanganan kemiskinan dalam persepektif pekerjaan sosial


terfokus pada peningkatan keberfungsian sosial masyarakat miskin (dalam
arti individu dan kelompok) dalam kaitannya dengan konteks lingkungan
dan situasi sosial. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan
peningkatan permodalan yang didukung sepenuhnya dengan kegiatan
pelatih yang terintegrasi sejak kegiatan penghimpunan modal, penguasaan
teknik produksi, pemasaran hasil dan pengelolaan surplus usaha. Selain itu
juga dengan mengupayakan penggolongan ekonomi makro yang yang
berhati-hati melalui kebijaksanaan keuangan dan perpajakan merupakan
bagian dari upaya menaggulangi kemiskinan.

4.2 Saran

Mengingat masih besarnya tingkat kemiskinan di Indonesia maka


pemerintah harus lebih tanggap dalam mengatasi masalah ini karena seperti
yang kita tahu kemiskinan merupakan salah satu penyebab

27
ketidakmakmuran masyarakat Indonesia. Dengan demikian kebijakan-
kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah harus berpihak pada kaum
miskin agar mereka tidak semakin tertindas dengan masalah kemiskinan
yang mereka hadapi. Pemerintah juga harus dapat memperbanyak sektor-
sektor usaha agar angka pengangguran dapat ditekan karena seperti yang
kita ketahui pengangguran merupakan salah satu penyebab kemiskinan.
Selain itu juga agar pemerintah dan seluruh masyarakat di Indonesia mau
bekerjasama untuk ikut berperan serata dalam meminimalkan jumlah
kemiskinan agar Negara kita bisa bangkit dari keterpurukan baik dari krisis
ekonomi maupun kemiskinan yang semakin meningkat setiap tahunnya,
agar Negara kita bisa berkembang dan maju serta mensejajarkan dengan
Negara maju yang sejahtera.

28
DAFTAR PUSTAKA

Irawan. 1999. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta

Masrizal. 2009. Kemiskinan di Indonesia. http://ijal-ewi.blogspot.com. Diakses


pada tanggal 5 Maret 2012, pukul 20.30 WIB.

Ritonga, Razali. 2007. “Kemiskinan dan Daya Saing Bangsa,”


dalam Republika, 5/3/2007.

Sadono, Sukirno. 2009. Ekonomi Pembangunan, Depok. Lembaga Penerbit


Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

29