Anda di halaman 1dari 26

DASAR DASAR PERTOLONGAN PERTAMA

Pertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan
penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.

Tujuan Pertolongan Pertama


1. Menyelamatkan jiwa penderita
2. Mencegah cacat
3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan

Alat Perlindungan Diri


Keamanan penolong merupakan hal yang sangat penting, sebaiknya dilengkapi dengan peralatan
yang dikenal sebagai Alat Perlindungan Diri antara lain :
1. Sarung tangan lateks
Pada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapat menularkan penyakit.
2. Kaca mata pelindung
Mata juga termasuk pintu gerbang masuknya penyakit kedalam tubuh manusia
3. Baju pelindung
Mengamankan tubuh penolong dari merembesnya carian tubuh melalui pakaian.
4. Masker penolong
Mencegah penularan penyakit melalui udara
5. Masker RJP
6. Helm
Seiring risiko adanya benturan pada kepala meningkat. Helm dapat mencegah terjadinya
cedera pada kepala saat melakukan pertolongan.

Tindakan Pencegahan
 Mencuci Tangan dengan sanun antiseptik
 Membersihkan peralatan
Mencuci (Membersihkan peralatan dengan sabun dan air)
Desinfeksi (Menggunakan bahan kimia seperti alkohol untuk membunuh bakteri pathogen)
Sterilisasi (Proses menggunakan bahan kimia atau pemanasan untuk membunuh semua
mikroorganisme)
 Menggunakan APD

Respon Kegawatdaruratan 3A
- Amankan diri-sendiri
- Amankan Lingkungan
- Amankan korban

DR-ABC
 Danger-Rescue
- Pastikan penolong dan korban berada pada tempat yang aman
- Posisikan korban pada posisi stabil
- Longgarkan pakaian korban
- Pemeriksaan kesadaran (GCS, dicubit, ditepuk)
 Airway (saluran nafas)
- Periksa saluran nafas korban apakah terbuka dengan baik dan jelas atau tidak
- Baringkan korban dan buang segala benda asing yang ada di mulut korban agar saluran
nafas dapat terbuka dengan baik
1. Pemeriksaan jalan napas
Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda
asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan
dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong
kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari
telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu
jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban.

2. Membuka jalan napas


Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak
sadar tonus otot–otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan
larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh
lidah dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu (Head tilt – chin lift) dan
Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan napas yang direkomendasikan
untuk orang awam dan petugas kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun
demikian petugas kesehatan harus dapat melakukan manuver lainnya.
 Breathing (bernafas)
- Periksa pernafasan korban dengan LDR (lihat, dengar, dan rasakan)
- Lihat pergerakan dada korban
- Dengarkan bunyi pernafasan korban
- Rasakan pernafasan korban
Jika korban / pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut,
mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara
memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap
kali hembusan adalah 1,5–2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 400 -500 ml
(10 ml/kg) atau sampai dada korban / pasien terlihat mengembang.
Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai
volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16–17%.
Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban / pasien setelah diberikan bantuan
napas.
 Circulation (cek nadi berdenyut atau tidak)
- Cek nadi yang gampang dicek seperti nadi karotis dan nadi radialis
- Tanda syok, nadi lemah, akral dingin
Resusitasi jantung paru: tidak sadar tidak bernafas tidak berdenyut
30 pijatan x 2 nafas buatan
Jika nadi tidak berdenyut : periksa nadi karotis dan nafas 2 /3 menit kemudian
Jika berdenyut, nafas belum: periksa nafas 10-12 menit
Nadi berdenyut, nafas ada: terus awasi ABC sampai bantuan datang

EVAKUASI

Evakuasi adalah kegiatan memindahkan korban ke lingkungan yng aman dan nyaman untuk
mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut.

Tujuan evakuasi :
1. Menyelamatkan jiwa
2. Mencegah cacat
3. Membantu proses penyembuhan
4. Memindahkan korban dari tempat kejadian ke tempat yang lebih aman

Prinsip evakuasi:
1. Lokasi kejadian
2. Kondisi korban
3. Pengetahuan dan keterampilan penolong
4. Peralatan evakuasi

Untuk jenis jenis evakuasi cari di internet, nanti kita belajar prakteknya kok tapi gak tau kapan

PEMBALUTAN
Definisi
Tindakan medis untuk menyangga atau menahan bagian tubuh tertentu agar tidak bergeser atau
berubah dari posisi yang dikehendaki.

Tujuan
 Menahan bagian tubuh supaya tidak bergeser dari tempatnya
 Menahan pembengkakan yang dapat terjadi pada luka
 Menyokong bagian tubuh yang cedera dan mencegah agar bagian itu tidak bergeser
 Menutup bagian tubuh agar tidak terkontaminasi
 Melindungi atau mempertahankan dressing lain pada tempatnya

Jenis Pembalut
1. Pembalut secara general:
- Pembalut tekan
- Pembalut gulung
- Pembalut bebat (dressing)
Yaitu kain kasa berlapis yang digunakan untuk menutup luka, pembersih luka, dan
mengontrol pendarahan
- Pembalut segitiga (mitela)
2. Pembalut yang spesifik:
- Snelverband adalah pembalut pita yang sudah ditambah dengan kassa penutup luka dan
steril, baru dibuka pada saat akan dipergunakan, sering dipakai pada luka-luka lebar yang
terdapat pada badan.
- Sufratulle adalah kassa steril yang telah direndam dengan obat pembunuh kuman. Biasa
dipergunakan pada luka-luka kecil
Kasa Steril
Adalah kassa yang dipotong dengan berbagai ukuran untuk menutup luka kecil yang sudah
diberi obat-obatan (antibiotik, antiplagestik). Setelah ditutup kassa itu kemudian baru
dibalut.

Kegunaan Pembalut
- Sebagai pemegang perban
- Sebagai penekan pada luka untuk mengurangi perdarahan
- Untuk mengurangi mobilisasi

Prinsip Pembalutan
- Tempatkan korban pada posisi nyaman
- Menahan bagian tubuh yang dibalut
- Pada korban perdarahan (gak sempet nyatet)
- Mobilisasi (pengikatan dilakukan di daerah lawan luka)
- Tidak kencang (agar tidak sakit dan aliran darah tetap lancar) dan tidak terlalu longgar
(kalau longgar rugi balut, buat apa men)
- Kuku jari terlihat agar mempermudah dalam mengevaluasi aliran darah
DIKLA II

 Primary dan Secondari Survey


a. Primary Survey terdiri dari ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability,
Exposure)
b. Secondary Survey terdiri dari AMPLE (Allergy, Medication, Past history and pregnancy,
Last meal, Event)

 Indikasi Resusitasi Jantung Paru: Henti nafas, henti jantung, tidak sadarkan diri

 Mati Klinis dan Mati Biologis


a. Mati Klinis : jantung berhenti, tidak ada nafas, bersifat reversible apabila mendapat
pertolongan segera. Penderita punya kesempatan waktu 4-6 menit untuk dilakukan
resusitasi tanpa kerusakan otak.
b. Mati biologis : Biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung, dimulai
dengan mati batang otak, bersifat irreversibel..
Indikasi mati batang otak: bisa dilihat dari pelebaran pupil (dilatasi maksimal). Diperiksa
menggunakan senter dari arah lateral menuju medial.

1. Masalah Airway
Masalah airways adalah sumbatan (obstruksi). Penyebab sumbatan antara lain:
a. Benda asing
b. Muntahan
c. Edema laring atu bronkus yang merupakan reaksi alergi anafilasis
d. Spasme laring atau bronkus
e. Tumor

Obstruksi ada 2 macam yaitu obstruksi total dan obstruksi parsial.


a. Obstruksi total (tersedak), yaitu keadaan dimana jalan nafas benar-benar tersumbat.
Ciri-ciri obstruksi total:
- Tidak mampu bicara
- Kesulitan bernafas atau pernafasan bising
- Tidak mampu batuk sempurna
- Kulit, bibir, kuku membiru/kehitaman
- Kehilangan kesadaran
Tanda umum tersedak → tangan mencengkeram tenggorokan

Penatalaksanaannya dilakukan dengan Five and Five yaitu pertama memberikan 5


pukulan (back blows) diantara dua tulang punggung menggunakan tumit tangan.
Selanjutnya 5 kali abdominal thrust (Heimlich maneuver). Tahapan Prosedur Abdominal
Thrust:
a. Anda berdiri di belakang klien
b. Lingkarkan lengan kanan anda dengan tangan kanan terkepal, kemudian pegang
lengan kanan tsb dg lengan kiri. Posisi lengan anda pd abdomen klien yakni
dibawah prosesus xipoideus dan diatas pusat/umbilikus.
c. Dorong secara cepat (thrust quickly), dengan dorongan pada abdomen ke arah
dalam-atas.
d. Jika diperlukan, ulangi abdominal thrust beberapa kali utk menghilangkan
obstruksi jalan napas.
e. Kaji jalan napas secara sering utk memastikan keberhasilan tindakan ini.

Untuk wanita hamil atau gemuk tangan berada di taju pedang (2/3 sternum).

2. Untuk Pasien tidak sadar


- Rebahkan sampai punggungnya menyentuh lantai
- Bebaskan jalan nafas dengan membersihkan sumbatan dengan cara dijepit atau
sapuan jari (finger sweep).
3. Untuk bayi di bawah 1 tahun, penanganan tersedak sama seperti pada orang dewasa,
hanya saja abdominal thrust digani dengan chest thrust dan tenaga untuk mendorong
cukup menggunakan dua ujung jari.
4. Untuk anak di atas 1 tahun, penanganan tersedak dilakukan dengan back blow dan
abdominal thrust.
b. Obstruksi Parsial, di mana pasien masih bisa bernafas namun dengan suara tambahan
seperti:

- Gurgling : sumbatan oleh cairan


- Stridor : sumbatan pada plika vokalis
- Snoring : sumbatan akibat jatuhnya pangkal lidah ke belakang

Penanganan:
1. Jika tidak ada trauma lakukan head tilt-chin lift
2. Jika ada trauma lakukan jaw-thrust
3. Akibat sumbatan cairan lakukan finger sweep misalnya menggunakan mitela.

Ketika jalan nafas terbuka pertahankan dengan oropharingeal tube, endotracheal tube,
laringoskop, ambu bag.
2. Masalah Breathing
Kebersihan jalan nafas tidak menjamin bahwa pasien dapat bernafas secara adekwat.
Inspirasi dan eksprasi penting untuk terjadinya pertukaran gas, terutama masuknya oksigen
yang diperlukan untuk metabolisme tubuh. Inspirasi dan ekspirasi merupakan tahap ventilasi
pada proses respirasi. Fungsi ventilasi mencerminkan fungsi paru, dinding dada dan
diafragma.

Pengkajian pernafasan dilakukan dengan mengidentifikasi :


- pergerakan dada
- adanya bunyi nafas
- adanya hembusan/aliran udara
Breathing dianggap baik apabila tidak terjadi dyspnea dan sianosis (membiru/hitam)

3. Masalah Circulation
Jika pasien trauma (penyebabnya jelas, misalnya kecelakaan) → start ABC
Jika pasien tiba-tiba tidak sadar (misalnya tamu datang ke rumah tiba-tiba pingsan, curiga
jantung) → start CAB

 RJP yang Berkualitas


1. Kompresi cepat dan kuat
2. Minimalisir interupsi
3. Hindari ventilasi yang berlebihan
4. Ganti kompresor tiap 2 menit
5. Rasio ventilasi 30:2 (30 pijatan, 2 nafas pancingan)
6. Tekanan intra arterial, jika ditemukan pada fase relaksasi <20 mmHg diperlukan
peningkatan kualitas RJP
7. Quantitative wave form capnography jika tekanan CO2 <10 mmHg diperlukan
peningkatan kualitas RJP.

Apanila ada nadi tapi tidak ada nafas berikan bantuan pada nafas saja. Sedangkan apabila ada
mafas tapi tidak ada nadi lanjutkan RJP yang komplit.
 RJP dihentikan bila:
1. Pasien sadar
2. Pasien ada dalam fase terminal, contohnya mati batang otak
3. Penolong yang lebih ahli datang
4. Penolong kelelahan

 Komplikasi RJP:
- Fraktur tulang rusuk dan dada
- Bocornya paru-paru ( pneumothorak)
- Perdarahan dalam paru-paru/ rongga dada ( hemothorak )
- Luka dan memar pada paru-paru
- Robekan pada hati

 Chain of Survival:
Merupakan serangkaian penyelamatan pada korban yang mengalami henti jantung. Empat
Komponen Chain Survival :
a. Kecepatan dalam permintaan bantuan
b. Resusitasi jantung paru ( RJP )
c. Defibrilasi
d. Pertolongan hidup lanjut

MATERI II
Setiap tahap ABC pada RJP diawali dengan fase penilaian penilaian respons, pernafasan dan
nadi.

Penilaian respons.
Setelah memastikan keadaan aman, maka penolong yang tiba ditempat kejadian harus
segera melakukan penilaian dini. Lakukan penilaian respons dengan AVPU (alert, voice, pain,
unresponse).

Airway Control (Penguasaan Jalan Nafas)

Bila tidak ditemukan respons pada korban maka langkah selanjutnya adalah penolong
menilai pernafasan korban apakah cukup adekuat? Untuk menilainya maka korban harus
dibaringkan terlentang dengan jalan nafas terbuka.

Lidah paling sering menyebabkan sumbatan jalan nafas pada kasus-kasus korban dewasa tidak
ada respons, karena pada saat korban kehilangan kesadaran otot-otot akan menjadi lemas
termasuk otot dasar lidah yang akan jatuh ke belakang sehingga jalan nafas jadi tertutup.
Penyebab lainnya adalah adanya benda asing terutama pada bayi dan anak.
Beberapa cara yang dikenal dan sering dilakukan untuk membebaskan jalan nafas:

a. Head tilt-chin lift :

Teknik ini dilakukan pada korban yang tidak mengalami trauma pada kepala, leher maupun
tulang belakang.

b. Perasat Pendorongan Rahang Bawah (Jaw Thrust Maneuver)


Teknik ini digunakan sebagai pengganti teknik angkat dagu tekan dahi. Teknik ini sangat
sulit dilakukan tetapi merupakan teknik yang aman untuk membuka jalan nafas bagi korban
yang mengalami trauma pada tulang belakang. Dengan teknik ini, kepala dan leher korban
dibuat dalam posisi alami / normal.

Pemeriksaan Jalan Nafas

Setelah jalan nafas terbuka, maka periksalah jalan nafas karena terbukanya jalan nafas
dengan baik dan bersih sangat diperlukan untuk pernafasan adekuat. Keadaan jalan nafas dapat
ditentukan bila korban sadar, respon dan dapat berbicara dengan penolong.

Penilaian cepat:
Look : Ada gerak napas(ada,pernafasan 32x/menit),
Listen : ada suara tambahan, pada kasus ini terdengar suara snoring (jatuh pangkal lidah)
Feel : Ada hawa ekshalasi

BREATHING SUPPORT (BANTUAN PERNAFASAN)


Bila pernafasan seseorang terhenti maka penolong harus berupaya untuk memberikan bantuan
pernafasan. Berikan ventilasi (nafas pancingan) sebanyak 2 kali. Pemberian ventilasi dengan
jarak 1 detik diantara ventilasi. Perhatikan kenaikan dada korban untuk memastikan volume tidal
yang masuk adekuat. Untuk pemberian mulut ke mulut langkahnya sebagai berikut :

- Pastikan hidung korban terpencet rapat


- Ambil nafas seperti biasa (jangan terelalu dalam)
- Buat keadaan mulut ke mulut yang serapat mungkin
- Berikan satu ventilasi tiap satu detik
- Kembali ke langkah ambil nafas hingga berikan nafas kedua selama satu detik.
- Jika tidak memungkinkan untuk memberikan pernafasan melalui mulut korban dapat
dilakukan pernafasan mulut ke hidung korban.
- Jika pasien mempunyai denyut nadi namun membutuhkan pernapasan bantuan, ventilasi
dilakukan dengan kecepatan 5-6 detik/nafas atau sekitar 10-12 nafas/menit dan
memeriksa denyut nadi kembali setiap 2 menit.
- Untuk satu siklus perbandingan kompresi dan ventilasi adalah 30 : 2, setelah terdapat
advance airway kompresi dilakukan terus menerus dengan kecepatan 100 kali/menit dan
ventilasi tiap 6-8 detik/kali.

Frekuensi pemberian nafas buatan:


Dewasa : 30 kali kompresi, 2 kali pernapasan
Anak & Bayi : 30 kali kompresi, 2 kali pernapasan (1 penolong)
15 kali kompresi, 2 kali pernapasan (2 penolong)

Recovery Position:
Posisi ini berguna untuk mencegah sumbatan dan jika ada cairan maka cairan akan mengalir
melalui mulut dan tidak masuk ke dalam saluran nafas.
Prosedur:
1. Korban tidur terlentang pada posisi supine, penolong berlutut di sisi kanan korban
2. Tangan kanan korban diluruskan di sisi kepala korban.
3. Tangan kiri korban ditekuk menyilang dada hingga posisi telapak tangan berada dibahu
kanan korban.
4. Lutut kaki kiri korban ditekuk ke kanan
5. Posisi tangan kiri penolong di bahu kiri korban, tangan kanan penolong di lipatan lutut

kiri korban
6. Tarik korban dengan kedua tangan bersamaan ke kanan hingga korban miring kanan (90
derajat) tahan badan korban dengan kedua kaki penolong agar korban tidak terguling.
7. Secara pelan-pelan miringkan lagi tubuh korban (disangga oleh kedua paha penolong)
hingga korban berada pada posisi miring.
8. Cek kembali nadi karotis dan pernafasan korban, jika masih ada baru korban bisa
ditinggalkan
9. Evaluasi kembali nadi dan pernafasan korban hingga petugas ambulans datang.

RESUME MATERI DIKLAT 3 TBM JD


Tema : care for what is worth
Materi : syok, trauma thermal, dan sport injury
Pemateri : dr. IGN Pramesemara, S.Ked. (bagian andrology dan seksologi)

1. Trauma thermal :
 Jenis-jenis trauma thermal :
o Hiperthermal (karena suhu yang tinggi)
Indikasi :
1. Hiperpireksia > suhu tubuh yang sangat tinggi (demam),ada gangguan
kesadaran
2. Abnormalitas SSP (gangguan kesadaran), terutama pada otak dan medula
3. Kulit panas dan kering

Penyebab :
1. Mekanisme pendingin tidak bekerja (thermal set pada otak tidak bekerja
dengan baik)
2. Perpindahan panas (konduksi, konveksi, radiasi, evaporasi):biasanya pada
manusia terjadi perpindahan panas dengan cara radiasi dan evaporasi
3. Bekerja di tempat yang panas dan tidak banyak minum

Jenis hiperthermal (siklus panas) :


1. Heat sinkup : kepanasan hingga tidak sadarkan diri
2. Heat cramp : kram otot karena terlalu lama berjemur
3. Heat exhaustion : kondisi yang diperparah akibat berada pada lingkungan
yang panas
- Excessive sweating
- Cool skin
- Pale appeareance
- Rapid heartbeat
- Headache
- Dizziness
- Vomiting
- Kram
- Fatigue
- Fainting
- Weakness
- Slight fever
4. Heat sroke
- Suhu tubuh tinggi
- Red, hot, dry skin
- Racing pulse
- Shallow breathing
- Tidak sadar
- Confussion
- Seizures
- Halusinasi
- Unusual behaviour
- Dark urien
- Nausea
- Throbbing headache
Prinsip penanganan :
1. Moving early (pindahkan ke tempat yang teduh)
2. Dehidration enough(kontrol jumlah cairan dalam tubuh korban)
3. Decrease body temperature
Cara penanganan :
1. Quickly remove the clothing (buka kancing baju, atau longgarkan
pakaian)
2. Jangan berikan obat
3. Rujuk dalam waktu kurang dari 2 jam

o Hipothermal (karena suhu yang rendah)


Siklus dingin : Hipotermia (suhu di bawah 35 C) – frostnip – frostbite
Hipothermal juga dapat menyebabkan freezing tissue (auto tissue
amputatum / jaringan mati yang terlepas yaitu pada saat terjadi frostbite)
Kulit terlihat putih atau pucat. Ditandainya dengan adanya ganggren(luka
mikrotik)
Penanganan :
1. Warming the patient ( dengan air hangat atau selimut) dengan suhu 40-
42°C dan dilakukan di lokal area.
2. Surgical amputation (untuk necrotic tissue (jaringan yang mati)
2. Sport injury (trauma anggota gerak)
Sport injury adalah segala cedera atau kecelakaan yang terjadi saat kita berolahraga
Penyebab : trauma > kecelakaan, kesalahan pada pemanasan
Non trauma > kelainan bawaan
Jenis :
1. Hard tissue injury (cedera yang terjadi pada jaringan keras seperti tulang atau sendi)
Contoh :
dislokasi (pergeseran tulang )
fracture :adalah suatu keadaan dimana komponen-komponen tulang (jaringan-
jaringan yang ada di dalamnya) terpisah satu sama lain atau hancur.
o open fracture : patah tulang terbuka yang menyebabkan tulang
mengalami kontak dengan udara luar
o closed fracture : patah tulang tertutup

penanganan : dilakukan tindakan imobilisasi yang bertujuan untuk mencegah kerusakan


jaringan lebih lanjut dan membantu mengurangi rasa nyeri pada korban.

2. Soft tissue injury (cedera yang terjadi pada jaringan lunak seperti pada kulit atau otot
Jenis :
o Sprain : peregangan berlebihan, robeknya ligamen pada sendi
o Strain : peregangan berlebihan, robeknya otot/tendon

Gejala :
1. Nyeri
2. Bengkak
3. Perubahan warna kulit akibat benturan atau trauma
4. Deformitas (angulasi, rotasi, atau pemendekan)
5. Adanya tanda-tanda ancaman shock terutama hipofolemik yaitu terjadinya
pendarahan baik pada kasus hard tissue maupun pada soft tissue injury. Pada hard
tissue injury misalnya fraktur. Akibat fraktur tersebut bias menyebabkan terjadinya
shock berupa pendarahan sebab pada tulang juga terdapat pembuluh darah dan
apabila itu pecah akibat fraktur maka terjadilah pendarahan.
6. Terbatasnya menggerakkan anggota gerak

Tambahan: perbedaan bleeding dan contusion. Bleeding adalah pendarahan yang


menyebabkan darah mengalir keluar sedangkan contusion adalah pendarahan tapi
darahnya tidak keluar (hanya mengalir pada sela-sela otot)sehingga terjadilah
lebam/memar
Penanganan : (RICE)
1. R > rest (diistirahatkan)
2. I > Ice (dikompres dengan es selama 10 menit setelah cedera, lalu dilanjutkan dengan
kompres es secara rutin maksimal 3x24 jam
3. C> compression (balut luka untuk menekan cedera, mencegah imobilisasi atau
perdarahan,)
4. E >Elevation (tinggikan posisi bagian yang terluka 15-20 derajat dari posisi jantung
5. , dan dilanjutkan dengan kompres dengan air hangat selama maksimal 3x 24 jam )

COMBUTIO ( trauma luka bakar)


1. Etiologi penyebab: flame, thermal contact, electrical, chemical, frost bite)
2. Mekanisme of injury: explosion, suicide, associated injury
3. Related problems: shock, inhalation injury, delayed resusitasi
4. Tergantung pada derajat, luas, zona dan umur dari korban
Derajat ada tiga yaitu:
Superficial(derajat I) : terjadi pada epidermis
Partial thickness (derajat II) : terjadi pada dermis
Full thickness (derajat III) : terjadi pada subkutan dan otot
Rule of 9 (wallace): disebut demikian, karena rata-rata angkanya 9 atau pembaginya.
Pembagiannya untuk orang dewasa
1. Tangan kiri dan kanan masing-masing 9 %
2. Dada depan dan belakang masing-masing 18%
3. Kaki kanan dan kiri masing-masing 18%
4. Kepala 9%
5. Leher /Vital 1%
6. Telapak tangan 1%

NB: untuk anak-anak sama dengan orang dewasa, yang berbeda hanya pada kaki yaitu
masing-masing 14%.
COMBUTIO MANAGEMENT
1. Anamnesis Mekanisme Of Injury (MOI) : missal : bagaimana kejadiannya?
2. ABCDE procedure
3. Fluid resucitation (baxter’s formula) : diguyur air yaitu untuk derajat 1 dan 2, kenapa
derajat 3 tidak? Hal ini ditakutkan dapat menyebabkan terjadinya infeksi karena pada
derajat 3 sudah sampai subkutan dan otot
4. Monitoring vital sign, yaitu
1. Napas, terkait laju pernapasan
2. Denyut nadi, pada carotis atau radialis
3. Suhu tubuh
4. Tekanan darah
5. Urine output: untuk menakar cairan tubuh
6. Dirujuk >

Wound management
1. Seni dan perlu latihan
2. Vulvus (wound) : jaringan tubuh yang mengalami discontinuitas (trauma atau non
trauma)
3.

Klasifikasi Vulvus
1. Kontak dengan lingkungan : tertutup atau terbuka
2. Kontaminasi : steril
3. Kontaminasi dan infeksi
4. Kerusakab jaringan : regular atau irregular
5. Wound process : primer dan sekunder
6. Tipe ; exeoratium ( lecet), ictum (tusukan), appertum (robek), dan amputatum
(terpotong).

Prinsip Wound Management


1. Cek ABCDE
2. Aseptic Procedure
3. Anastesi untuk mengurangi sakit
4. Cuci luka ( dengan NaCl, betadin, cairan infuse) dan debridement (menghilangkan
jaringan yang mati)
5. dijarit
6. perban dan balut
7. imobilisasi dan istirahat
8. maintain hemostasis
9. mencegah infeksi
DIKLAT 3
SIMPUL
1. In Line Figure of 8 : digunakan pada saat istirahan climbing dan juga digunakan pada
pertengahan tali. Terdiri dari 3 pembebanan dan 2 arah yaitu atas dan bawah.
2. Bow Line : tidak menjerat, digunakan untuk lifting pada vertikal rescue

BAGIAN SIMPUL :
1. Bight : lekukan tali yang tidak berpotongan contohnya pada eight on bight.
2. Lup : lingkaran/bulat/ tali yang menyilang
3. Running end : ujung tali yang akan bekerja membuat simpul dan menguatkan simpul
4. Standing end : tali yang tidak bekerja/ tempat pembuatan simpul
5. Turn : satu kali lilitan pada benda (pada jangkar dan pangkal)
6. Long turn : dua kali lilitan

PEMBALUTAN
1. Pembalutan lengan : lakukan lipatan mitela, lalu silang biasa, usahakan rapi, cepat dan
tepat
2. Pembalutan lutut : lakuka lipatan mitela (prinsipnya sama seperti pembalutan lengan)
3. Pembalutan telapak tangan : lipat mitela 2 kali lipatan atau sesuaikan dengan telapak
tangan yang akan dibalut, pada waktu pelipatan jangan sampai menutupi ibu jari dan
tidak mudah ditarik.
4. Pembalutan telapak kaki : lakukan lipatan mitela, taruh mitela di telak kaki, pada waktu
melipat bagian mitela, mitela yang berada diatas harus selalu diatas waktu pelipatan
berikutnya. Tujuan dari pembalutan ini adalah untuk menfiksasi telapak kaki yang luka.

NB : beban tekan menjauhi luka/ fiksasinya berlawanan dengan luka.

DIKLAT 3

SIMPUL

3. In Line Figure of 8 : digunakan pada saat istirahan climbing dan juga digunakan pada
pertengahan tali. Terdiri dari 3 pembebanan dan 2 arah yaitu atas dan bawah.
4. Bow Line : tidak menjerat, digunakan untuk lifting pada vertikal rescue

BAGIAN SIMPUL :
7. Bight : lekukan tali yang tidak berpotongan contohnya pada eight on bight.
8. Lup : lingkaran/bulat/ tali yang menyilang
9. Running end : ujung tali yang akan bekerja membuat simpul dan menguatkan simpul
10. Standing end : tali yang tidak bekerja/ tempat pembuatan simpul
11. Turn : satu kali lilitan pada benda (pada jangkar dan pangkal)
12. Long turn : dua kali lilitan

PEMBALUTAN

5. Pembalutan lengan : lakukan lipatan mitela, lalu silang biasa, usahakan rapi, cepat dan tepat
6. Pembalutan lutut : lakuka lipatan mitela (prinsipnya sama seperti pembalutan lengan)
7. Pembalutan telapak tangan : lipat mitela 2 kali lipatan atau sesuaikan dengan telapak tangan
yang akan dibalut, pada waktu pelipatan jangan sampai menutupi ibu jari dan tidak mudah
ditarik.
8. Pembalutan telapak kaki : lakukan lipatan mitela, taruh mitela di telak kaki, pada waktu melipat
bagian mitela, mitela yang berada diatas harus selalu diatas waktu pelipatan berikutnya. Tujuan
dari pembalutan ini adalah untuk menfiksasi telapak kaki yang luka.

NB : beban tekan menjauhi luka/ fiksasinya berlawanan dengan luka.

Incident Command System dan Triage

Incident Command System (ICS)

Di sini tidak akan dijelaskan secara rinci mengenai hal ini karena bahasan ini merupakan suatu
topik pelatihan sendiri. Perlu diketahui oleh penolong bahwa sistem ini sebenarnya sudah ada
dan baku, pelaksanaannya tergantung dari masing-masing daerah.

Di Indonesia ICS ini sering dikenal sebagai POSKO, yang tugas dasarnya adalah mengatur
penanggulangan korban banyak atau bencana. Bagaimana melakukan pemilahan korban,
bagaimana dan kemana korban di evakuasi, menggunakan apa, siapa yang bertugas di mana,
kemana dan semua hal lain yang berhubungan dengan pengaturan di lokasi.

Secara umum pada penanggulangan korban banyak perlu di atur tempat sedemikian rupa
sehingga ada :

1. Daerah triage

Pada dasarnya daerah ini merupakan areal kejadian.


2. Daerah pertolongan

Setelah pasien ditentukan triagenya maka dipindahkan ke daerah penampungan di mana


pertolongan diberikan.
3. Daerah transportasi

Pada daerah ini berkumpul semua kendaraan yang akan digunakan untuk mengevakuasi
para korban, termasuk pencatatan data pengiriman korban.
4. Daerah penampungan penolong dan peralatan.

Pada daerah ini para penolong yang baru datang atau sudah bekerja berkumpul, di data
dan di atur pembagian kerjanya. Bila kejadiannya besar maka daerah penampungan juga
diperlukan untuk peralatan, barang-barang lainnya.

Peran Penolong Pertama

Sebagai penolong kita harus mengetahui sistem yang ada, terutama apa yang harus dilakukan
pada fase awal, pada dasarnya penolong harus :

1. Mendirikan Posko dan komandonya


2. Menilai keadaan
3. Meminta bantuan sesuai keperluan
4. Mulai melakukan triage

Penilaian keadaan

Setelah menentukan suatu kejadian sebagai kasus dengan korban banyak maka hal yang paling
penting dilakukan adalah menahan diri untuk tidak langsung memberikan pertolongan kepada
perorangan. Nilai hal-hal sebagai berikut :

1. Keadaan
2. Jumlah penderita
3. Tindakan khusus
4. Sumber daya yang kira-kira akan diperlukan
5. Hal lain yang dapat berdampak pada situasi dan kondisi
6. Berapa banyak sektor yang diperlukan
7. Wilayah atau areal penampungan

Buat suatu laporan singkat, sehingga bantuan yang akan datang akan sesuai dengan keperluan.

Triage
Triage berasal dari bahasa Perancis yang berarti pemilahan. Dalam dunia medis istilah ini
dipergunakan untuk tindakan pemilahan korban berdasarkan prioritas pertolongan atau
transportasinya.

Prinsip utama dari triage adalah menolong para penderita yang mengalami cedera atau
keadaan yang berat namun memiliki harapan hidup.
Salah satu metode yang paling sederhana dan umum digunakan adalah metode S.T.A.R.T atau
Simple Triage and Rapid Treatment. Metode ini membagi penderita menjadi 4 kategori :
1. Prioritas 1 – Merah
Merupakan prioritas utama, diberikan kepada para penderita yang kritis keadaannya seperti
gangguan jalan napas, gangguan pernapasan, perdarahan berat atau perdarahan tidak
terkontrol, penurunan status mental
2. Prioritas 2 – Kuning
Merupakan prioritas berikutnya diberikan kepada para penderita yang mengalami keadaan
seperti luka bakar tanpa gangguan saluran napas atau kerusakan alat gerak, patah tulang
tertutup yang tidak dapat berjalan, cedera punggung.

3. Prioritas 3 – Hijau
Merupakan kelompok yang paling akhir prioritasnya, dikenal juga sebagai ‘Walking
Wounded” atau orang cedera yang dapat berjalan sendiri.

4. Prioritas 0 – Hitam
Diberikan kepada mereka yang meninggal atau mengalami cedera yang mematikan.

Pelaksanaan triage dilakukan dengan memberikan tanda sesuai dengan warna prioritas. Tanda
triage dapat bervariasi mulai dari suatu kartu khusus sampai hanya suatu ikatan dengan bahan
yang warnanya sesuai dengan prioritasnya. Jangan mengganti tanda triage yang sudah
ditentukan. Bila keadaan penderita berubah sebelum memperoleh perawatan maka label lama
jangan dilepas tetapi diberi tanda, waktu dan pasang yang baru.

Pelaksanaan Triage Metode S.T.A.R.T

Untuk memudahkan pelaksanaan triage maka dapat dilakukan suatu pemeriksaan sebagai
berikut :

1. Kumpulkan semua penderita yang dapat / mampu berjalan sendiri ke areal yang telah
ditentukan, dan beri mereka label HIJAU.
2. Setelah itu alihkan kepada penderita yang tersisa periksa :
3. Pernapasan :
a. Bila pernapasan lebih dari 30 kali / menit beri label MERAH.
b. Bila penderita tidak bernapas maka upayakan membuka jalan napas dan
bersihkan jalan napas satu kali, bila pernapasan spontan mulai maka beri label
MERAH, bila tidak beri HITAM.
c. Bila pernapasan kurang dari 30 kali /menit nilai waktu pengisian kapiler.
4. Waktu pengisian kapiler :
a. Lebih dari 2 detik berarti kurang baik, beri MERAH, hentikan perdarahan besar
bila ada.
b. Bila kurang dari 2 detik maka nilai status mentalnya.
c. Bila penerangan kurang maka periksa nadi radial penderita. Bila tidak ada maka
ini berarti bahwa tekanan darah penderita sudah rendah dan perfusi jaringan sudah
menurun.
5. Pemeriksaan status mental :
a. Pemeriksaan untuk mengikuti perintah-perintah sederhana
b. Bila penderita tidak mampu mengikuti suatu perintah sederhana maka beri
MERAH.
c. Bila mampu beri KUNING.

Setelah memberikan label kepada penderita maka tugas anda berakhir segera
lanjutkan ke penderita berikut.
BAGAN PELAKSANAAN METODE START

Penderita dapat YA
HIJAU
berjalan ?

TIDAK

TIDAK Penderita YA
bernapas ?

Penderita
TIDAK bernapas YA  30 x Frekuensi
setelah jalan pernapasan
napas dibuka

< 30 x

HITAM MERAH

Waktu
 2 detik pengisian
kapiler

< 2 detik

Status mental
TIDAK perintah
sederhana ?

YA

KUNING
Resume Materi Diklat 4
Materi 1 : Pembidaian

Penangan awal cedera anggota gerak

Gejala : nyeri, bengkak, deformitas, perubahan warna kulit, keterbatasan/ketidakmampuan anggota


gerak, tanda ancaman syok

Penangan awal untuk cedera anggota gerak (RICE) :

1. Rest : istirahat
2. Ice : dikompres dengan es selama 10 menit setelah cidera, lalu dilanjutkan dengan kompres es
secara rutin naksimal 3 x 24 jam, dan dilanjutkan dengan kompres air hangat selama maksimal
24 jam
3. Compression : balut luka untuk menekan cedera, mencegah imobilisasi atau perdarahan
4. Elevation : tinggikan posisi bagian yang terluka 15-20 derajat dari posisi jantung

Fraktur / patah tulang

 Primary survey
 Pengontrolan perdarahan yang terjadi dengan metode bebat tekan
 Segera hubungi RS atau rujuk
 Kalau tidak yakin jangan melakukan imobilisasi
 Kalau mampu lakukan proses splint / pemindaian

Tujuan Splint

 Mencegah pergerakan
 Mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut
 Membantu mengurangi rasa nyeri pada korban
 Mempercepat penyembuhan

Lokasi Splint/ imobilisasi

1. Jika patah tulang melewati 2 sendi


2. Melewati 2 tulang yang berbatasan

Prinsip pembidaian :

 Bidai di anggota badan yang cedera


 Bidai yang dicurigai patah tulang
 Melewati minimal 2 sendi yang berbatas dan 2 tulang yang berbatasan

Cara pemindaian :
1. Lakuakn reposisi
2. Ikatkan yang dimulai dari dari bagian yang mudah cedera
3. Ikatan jangan terlalu keras dan jangan terlalu kendor
4. Bidai dibalut dengan pembalut, sebelum digunakan
5. Anggota gerak tersebut ditinggikan setelah dibidai
6. Perikasa denyut nadi distal dan warna kulit sebelum dan sesudah pembidaian

Teknik Imobilisasi

Prinsip : peralatan yang dipakai sedapat mungkin harus keras, kuat, dapat mencegah pergerakan
fragmen tulang yang patah dan sebaiknya dibungkus untuk menghindari kontak langsung dan lebih steril

Macam-macam bidai :

 Bidai keras (kuat dan ringan)


 Lunak (lunak dan cukup kuat)
 Traksi (menggunakan anggota gerak tubuh)

NB : Kalo ngak ada bidai tersebut pake bidai improvisasi ( kayu, Koran atau majalah ditumpukan,
selimut, bantal, dll)

Contoh Pembidaian :

1. Pembidaian pada lutut : cek cavilary reviltime, fiksasi/ balut lutut dengan mitela, bidai di bawah,
ikat dari distal ke proksimal, bisa ditraksi dengan bagian kaki lainnya.
2. Pembidaian pada Femur/ paha : denga menggunakan 2 bidai, di deket femur ada pembuluh
darah besar, kalau bisa iket sampai bagian perut/ sampai dada, iketan harus rapi, kalau bisa
ditraksi.
3. Pembidaian Lengan bawah : bidai di bawah lengan bawah, lalu mitela dihubungakan dengan
lengan bawah yang dibidai dengan leher.
4. Pembidaian lengan atas : pake 2 bidai, ditraksi dada dan panggul

NB : sebelum dan sesudah pembidaian cek cavilary reviltime, iketan selalu dari distal ke proksimal.

Materi 2 : Evakuasi

Definisi : proses pemindahan korban ke tempat yang lebih aman


Prinsip :

1. Penolong dan korban memakai APD (alat perlindunga Diri)


2. Dilakukan jika memang mutlak perlu
3. Teknik yang cepat dan tepat
4. Kondisi fisik yang prima dan terlatih

Alat-Alat Evakuasi :

1. Stracher, scoop stracher


2. Kursi
3. Selimut
4. Tandu

Teknik Evakuasi

1. Satu orang penolong


 Membopong ( human cruth)
 Piggy back carry ( menggendong di belakang )
 Honeymoon carry (membopong di depan)
 Fire fighter’s carry (jika tidak sadar, ada luka di ekstremitas) : rapikan posisi korban, tekuk
kaki korban, injak kaki korban, lalu tarik tangan korban
2. Teknik dua penolong
 Two handed seat carry
 Four handed seat carry ( jika korbab tidak bisa berdiri)
 Extremity lift
 Membopong 2 orang ( 2 person human carry)

Extremity lift :

 1 dikepala, 1 di kaki
 Hitungan 1 : dari posisi berdiri ke posisi jongkok, yang di kepala bersimpuh
 Hitungan 2 : kaki di tekuk dan kepala korban tarus di simpuhan kaki penolong
 Hitungan 3 : penolong yang di kepala, memasukan tangan kirinya ke tangan kanan
korban, dan tangan kanan penolong ke tangan kiri korban. Penolong yang di kaki berada
di samping korban
 Hitungan 4 : Angkat pasien dengan serempak

3. Teknik tiga penolong atau lebih


 Direet ground lift :
Hitungan 1 : penolong jongkok, dan yang dikepala bersimpuh
Hitungan 2 : masukan tangan ke bawah badan korban dengan tangan menyilang dengan
tangan penolong lainnya, penolong yang di kepala, pegang tulang selangka korban dan
menjepit kepala korban dengan lengan bawah penolong
Hitungan 3 : angkat pasien, pasien berada di atas paha penolong
Hitungan 4 : angkat pasien, posisi pasien di dada penolong
Hitungan 5 : angkat pasien dan penolong berdiri
 Evakuasi tandu :
Pindahkan pasien ke tandu dengan teknik extremity lift
Hitungan 1 : penolong berdiri di dekat tandu
Hitungan 2 : tangan di tandu
Hitungan 3 : angkat tandu di paha
Hitungan 4 : angkat tandu di atas bahu
Hitungan 5 : penolong berdiri
Lalu berjalan dengan mengatakan medial lateral untuk menjaga stabilitas evakuasi

Improve :

 Chair carry
 Sheet carry
 Ankle drag
 Shoulder drag
 Cloth drag
 Tied hand crawl
 Pack strap carry