Anda di halaman 1dari 2

RENCANA STUDI

dr.Darma Satria, M.Si


Calon Penerima Beasiswa LPDP-Pendidikan Dokter Spesialis

Sebagai seorang dokter dan juga dosen, tuntutan untuk meng-update dan memperdalam suatu
bidang ilmu merupakan suatu keharusan. Dewasa ini, kita diwajibkan untuk mengikuti perkembangan
terbaru tentang penyakit, patofisiologi, kemampuan diagnosis dan juga pengobatan. Dengan dasar sebagai
tenaga pendidikan dan juga tanggung jawab profesi memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
maka saya memilih untuk melanjutkan pendidikan spesialis setelah menyelesaikan pendidikan master
saya.

Sejak menjalani pendidikan sarjana kedokteran, saya mulai tertarik dengan mata kuliah
kardiologi. Awal munculnya ketertarikan ini dikarenakan pada saat itu sangat jarang sekali jumlah dokter
ahli jantung yang ada di FK-Unsyiah, kesempatan untuk dapat dibimbing langsung sangatlah minim.
Banyak topik-topik yang sulit saya mengerti dan hal ini membuat saya banyak membaca dan mencoba
memahami mata kuliah tersebut secara mandiri. Mata kuliah kardiologi memang terlihat sulit dipahami,
tetapi bila kita mau membaca dan memahaminya sedikit demi sedikit, ilmu ini sangat dapat dipahami
seperti ilmu kedokteran lainnya. Saat menjalani program pendidikan profesi dokter ketertarikan ini makin
besar, ditambah lagi diperlukannya kesigapan, respon cepat yang dibutuhkan untuk mengobati pasien
dengan keluhan dibidang kardiologi.

Setelah menyelesaikan pendidikan dokter dan berpraktik dokter, saya menilai bahwa diri saya
lebih menyukai bekerja di UGD dengan situasi emergency dibandingkan di poliklinik rawat jalan. Saya
merasa lebih mendapatkan banyak tantangan, banyak melakukan tindakan dan kepuasan apabila mampu
melihat perubahan kondisi dalam waktu yang relatif singkat setelah pasien-pasien tersebut saya tangani.
Hal ini membuat ketertarikan terhadap ilmu Bedah juga menonjol. Setelah menyelesaikan pendidikan S2,
saya makin tertarik terhadap bidang kardiologi, vaskular khususnya yang terkait dengan pendekatan
bedah sebagai salah satu tatalaksananya. Saya mulai mencari informasi lebih lanjut tentang Ilmu Bedah
Toraks dan Kardiovaskular, makin banyak saya memperoleh informasi tentang ilmu ini, makin besar
ketertarikan saya akan luasnya ilmu ini.

Peminatan saya untuk memperdalam pendidikan spesialis di bidang Ilmu Bedah Toraks dan
Kardiovaskular makin besar setelah adanya ahli dibidang ini di Banda Aceh, ditambah dengan dukungan
fasilitas sarana dan prasarana diagnostik dan terapi di RSUDZA-Banda Aceh. Saat ini, Aceh masih

1
membutuhkan banyak pengembangan sumber daya manusia dalam bidang ilmu ini. Penggunaan fasilitas
kamar operasi (OK-Hybrid) masih dirasakan minim, beberapa pasien dengan penyakit jantung yang
membutuhkan operasi belum mampu ditangani secara mandiri sepenuhnya. RSUDZA sebagai rumah
sakit rujukan provinsi masih melakukan kerjasama dengan RSCM-FKUI untuk mensupervisi pelayanan
bedah jantung terbuka dan tidak jarang beberapa pasien dengan keadaan umum yang buruk atau dengan
kelainan jantung yang kompleks masih dirujuk ke RSCM. Hal ini makin melecut semangat saya untuk
mendalami keilmuan ini.

Di Indonesia, ada dua sentra pendidikan dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular, di
RSCM-FKUI Jakarta dan RSUD. Dr.Soetomo-Surabaya-FK UNAIR. Saya memilih untuk melanjutkan
pendidikan spesialis dimaksud di RSUD Dr.Soetomo-Surabaya-FK UNAIR dengan beberapa
pertimbangan, yaitu:

1. Tempat pendidikan lebih saya kenal, sebagai alumni pendidikan S2 di FK-UNAIR. Proses
adaptasi dengan guru-guru, proses pendidikan, masyarakat akan lebih mudah, disamping akan
banyak bantuan dari senior-senior disana (banyak mahasiswa asal Aceh yang menempuh
pendidikan spesialis di FK-UNAIR).
2. Saat ini, ahli bedah toraks dan kardiovaskular di Aceh merupakan alumni FKUI-RSCM.
Pemilihan pendidikan di tempat yang berbeda, akan memperluaskan wawasan keilmuan dibidang
ini. Masing-masing sentra pendidikan pastinya memiliki keunggulan khusus dibidang masing-
masing.

Pendidikan spesialis bedah toraks dan kardiovaskular di FK UNAIR-RS Dr.Soetomo-Surabaya


terdiri dari 1 semester pendidikan MKDU, ditambah dengan 12 semester pendidikan spesialis. Total lama
pendidikan yaitu 13 semester atau 6,5 tahun. Dalam masa pendidikan menjelang akhir akan ada stase di
RSCM-FKUI untuk memperdalam keilmuan dan keahlian di bidang pembedahan jantung terbuka selama
satu tahun. Dalam masa pendidikan peserta didik akan diajarkan berbagai ilmu untuk mendiagnosis dan
penanganan penyakit-penyakit di bidang Toraks (dada), Kardiologi (Jantung) dan Vaskular (Pembuluh
Darah). Penyakit akibat trauma, kelainan kongenital (bawaan), penyakit degeneratif akan saya pelajari
selama pendidikan. Untuk tugas akhir (Tesis) saya mempunyai ketertarikan untuk meneliti tentang
penyakit vaskular degeneratif dari aspek biomolekuler.

Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis dimaksud, saya berencana untuk


memperdalam/kekhususan dalam bidang bedah vascular, terutama intervensi penyakit vascular perifer
dengan pendekatan minimal invasif. Kemudian, saya juga berencana melanjutkan pendidikan doktor
dibidang kedokteran vascular degeneratif.