Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai bentuk olahan kedelai

berupa tahu. Setiap 1 kg kedelai mengandung kurang lebih 300-400 g (40%)

protein, 200 - 350 g (35%) karbohidrat, 150 - 200 g (20%) lemak dan sisanya

merupakan zat-zat mineral seperti kalsium, fosfor, magnesium dan vitamin anti

beri-beri (Sarwono dan Saragih, 2001). Kebutuhan masyarakat terhadap tahu

sangat besar sehingga banyak industri tahu bermunculan. Dengan demikian,

industri tahu juga wajib menerapkan K3 di tempat kerja, agar dapat mencegah dan

mengendalikan terjadinya kecelakaan dan kesakitan akibat kerja.

Secara umum, terdapat dua golongan penyebab kecelakaan yaitu tindakan

atau perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan (unsafe human acts)

dan keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe condition) (Heinrich, 1959).

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, faktor manusia menempati posisi

yang sangat penting terhadap terjadinya 3 kecelakaan kerja yaitu antara 80-85%.

Salah satu faktor penyebab utama kecelakaan kerja yang disebabkan oleh manusia

adalah kelelahan (Suma’mur, 1993). Kelelahan yang terjadi di tempat kerja

memberi kontribusi 50% terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja

(Setyawati, 2007, Maurits dan Widodo, 2008).


Masalah lingkungan yang tidak aman saat bekerja, termasuk di tempat

tahu yaitu suhu yang terlalu panas. Peningkatan suhu lingkungan 5,50C dari suhu

nyaman (24-260C) dapat menurunkan produktifitas kerja 30% (Livchak, 2005).

Risiko tinggi cedera kerja dalam lingkungan panas pun juga dapat meningkatkat

seiring ketidaknyamanan pekerja terhadap suhu lingkungan (Onder dan Sarac,

2005). Selain dapat mengganggu kenyamanan, bekerja di lingkungan yang

suhunya tinggi juga dapat meningkatkan tekanan terhadap mekanisme sisitem

pertahanan suhu tubuh sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan (OSHS,

1997). Hasil penelitian di Amerika menunjukkan terjadi 400 kematian setiap

tahun yang diakibatkan oleh tekanan panas (Moreau dan Daater, 2005 dalam

Arief, 2012). Sedangkan di Jepang dari tahun 2001-2003 dilaporkan 483 orang

tidak masuk kerja selama lebih dari 4 hari karena penyakit akibat panas. Dari 483

tersebut 63 orang meninggal (Kamijo dan Nose, 2006 dalam Arief, 2012).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh kementrian tenaga kerja Jepang

terhadap 12.000 perusahaan yang melibatkan sekitar 16.000 pekerja di Negara

tersebut yang dipilih secara acak telah menunjukkan hasil bahwa ditemukan

bahwa 65% pekerja mengeluhkan kelelahan fisik akibat kerja rutin, 28%

mengeluhkan kelelahan mental dan sekitar 7% pekerja mengeluh stress dan

merasa tersisihkan. (hidayat, 2003).

Menurut standar kesehatan (Tarwaka, 2008). Kondisi temperatur

lingkungan kerja yang ekstrim meliputi panas dan dingin yang berada di luar

batas standar kesehatan dapat menyebabkan meningkatnya pengeluaran cairan


tubuh melalui keringat sehingga bisa terjadi dehidrasi dan gangguan kesehatan

lainnya yang lebih berat. Persoalan tentang bagaimana menentukan bahwa

kondisi temperatur lingkungan adalah ekstrim menjadi penting, mengingat

kemampuan manusia untuk beradaptasi sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh

banyak faktor. Namun demikian secara umum kita dapat menentukan batas

kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan temperatur lingkungan pada

kondisi yang ekstrim dengan menentukan rentang toleransi terhadap temperatur

lingkungan (Suma’mur, 2009).

Tingginya potensi bahaya pada lingkungan kerja panas tersebut perlu

diperhatikan dan dikendalikan agar kondisi keselamatan dan kesehatan pekerja

tetap terjaga. Menurut ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah yang berkaitan

dengan temperatir tempat kerja, yaitu Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE.

51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas untuk Iklim Kerja dan Nilai Ambang

Batas untuk Temperatur Temapt Kerja, ditetapkan: Nilai Ambang Batas (NAB)

untuk iklim kerja adalah situasi kerja yang masih dapat dihadapi oleh tenaga kerja

dalam pekerjaan sehari-hari yang tidak mengakibatkan penyakit atau gangguan

kesehatan untuk waktu kerja terus-menerus tidak melebihi dari 8 jam sehari dan

40 jam seminggi. NAB terendah untuk ruang kerja adlah 250C dan NAB tertinggi

adalah 32,20C, tergantung pada beban kerja dan pengaturan waktu kerja

(Depnakertrans, 1999).

Berkaiatan dengan kondisi iklim panas yang berpengaruh terhadap

kelelahan kerja dapat berdampak terhadap menurunnya perhatian, perlambatan


dan hambatan persepsi, lambat dan sukar berfikir, penurunan motivasi untuk

bekerja, penurunan kewaspadaan, menurunnya konsentrasi dan ketelitian,

performa kerja rendah, kualitas kerja rendah, dan menurunnya kecepatan reaksi.

Hal-hal tersebut akan menyebabkan banyak terjadi kesalahan, sehingga pekerja

mengalami cidera, stress kerja, penyakit akibat kerja, kecelakaan kerja, dan pada

akhirnya produktivitas berkurang (Sastrowinoto, 1985, Manuaba, 1998, Budiono,

dkk, 2003, Tarwaka, 2013).

Home Industri Mandiri Sakti Kartasura merupakan industri yang bergerak

di bidang produksi tahu. Industri ini sudah berdiri sejak ± 8 tahun yang lalu,

dimana sistem kepemilikannya masih turun-temurun yang diawali dari kakeknya

memulai usaha dengan membuat tempat kecil-kecilan, setelah kakeknya sudah

tidak mampu lagi dan sempat vakum, kemudian dikembangkan dengan anaknya

sampai sekarang ini.

Pekerja tahu memiliki risiko kelelahan akibat dari tidak sesuainya kondisi

iklim yang begitu panas saat proses pembuatan tahu. Jumlah pekerja di pabrik

tahu ini berjumalah 12 orang dari 2 tempat yang dimilikinya, dimana pekerjanya

ada yang pria dan juga wanita, tetapi bagian pekerja wanitanya hanya sebagai

mencetak dan memotong tahu saja, sedangkan prianya bagian produksi tahunya.

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan terhadap 12 orang

pekerja di Home Industri Tahu Mandiri Sakti Kartasura pada bulan Oktober 2016,

didapatkan bahwa pekerja mengeluh dengan kondisi ruangan saat proses

pembuatan tahu ini terlalu panas yang mengakibatkan pekerja menjadi cepat lelah
dan merasa kurang nyaman saat bekerja serta tempat yang terlalu panas dan

berisik.

Berdasarkan fenomena diatas, peneliti tertarik untuk mengangkat judul

tentang hubungan iklim kerja dengan kelelahan kerja di Home Industri Tahu

Mandiri Sakti Kartasura.

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah

apakah ada hubungan iklim kerja dengan kelelahan kerja di Home Industri Tahu

Mandiri Sakti, Kartasura?

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan iklim kerja dengan

kelelahan kerja di Home Industri Tahu Mandiri Sakti Kartasura.

2. Tujuan Khusus

a. Menganalisis keterkaitan hubungan iklim kerja dengan kelelahan kerja di

Home Indusrti Tahu Mandiri Sakti Kartasura

b. Mengidentifikasi iklim kerja yang panas pada pabrik tahu yang membuat

pekerja tidak nyaman


C. Manfaat

1. Bagi Pemilik Industri

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada

pemilik industri dalam memperhatikan kondisi ruangan dalam proses

pembuatan tahu, serta jam kerja yang diterapkan agar pekerja tidak merasa

cepat lelah saat bekerja.

2. Bagi Tenaga Kerja

Hasil penelitian ini diharapkan pekerja mampu mengatasi iklim kerja

panas yang terjadi dengan menggunakan waktu istirahat yang sebaik mungkin

agar pekerja tidak mengalami kelelahan saat bekerja.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi peneliti

selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang sama di masa mendatang.