Anda di halaman 1dari 11

Nama : Yeni Lestari

Nim : 15210681
Mata Kuliah : perilaku konsumen
Dosen pembimbing : Rismawati Sitepu , S. Sos, MM

PERILAKU KONSUMEN

1. Jelaskan tentang kepribadian, nilai, dan gaya hidup dalam perilaku


konsumen!

1. DEFINISI KEPRIBADIAN

Kepribadian didefinisikan sebagai ciri-ciri kejiwaan dalam diri yang menentukan dan
mencerminkan bagaimana seseorang berespon terhadap lingkungannya. Kepribadian cenderung
mempengaruhi pilihan seseorang terhadap produk. Sifat-sifat inilah yang mempengaruhi cara
konsumen merespon usaha promosi para pemasar, dan kapan, di mana, dan bagaimana mereka
mengkonsumsi produk dan jasa tertentu. Sifat-sifat Dasar Kepribadian :

1) Kepribadian mencerminkan perbedaan individu

Karena karakterisitik dalam diri yang memebentuk kepribadian individu merupakan kombinasi
unik berbagai faktor, maka tidak ada dua individu yang betul-betul sama. Kepribadian
merupakan konsep yang berguna karena memungkinkan kita untuk menggolongkan konsumen
ke dalam berbagai kelompok yang berbeda atas dasar satu atau beberapa sifat.

2) Kepribadian bersifat konsisten dan bertahan lama

Suatu kepribadian umumnya sudah terlihat sejak manusia berumur anak-anak , hal ini cenderung
akan bertahan secara konsisten membentuk kepribadian ketika kita dewasa. Walaupun para
pemasar tidak dapat merubah kepribadian konsumen supa ya sesuai dengan produk mereka, jika
mereka mengetahui, mereka dapat berusaha me narik perhatian kelompok konsumen yang
menjadi target mereka melalui sifat-sifat relevan yang menjadi karakteristik kepribadian
kelompok konsumen yang bersangku tan. Walaupun kepribadian konsumen mungkin konsisten,
perilaku konsumsi mereka sering sangat bervariasi karena berbagai faktor psikologis,
sosiobudaya, lingkung an, dan situasional yang mempengaruhi perilaku.

3) Kepribadian dapat berubah

Kepribadian dapat mengalami perubahan pada berbagai keadaan tertentu. Karena adanya
berbagai peristiwa hidup seperti kelahiran, kematian, dan lain sebagainya. Kepribadian seseorang
berubah tidak hanya sebagai respon terhadap berbagai peristiwa yang terjadi tiba-tiba, tetapi juga
sebagai bagian dari proses menuju ke kedewasaan secara berangsur-angsur.

Secara praktis konsep kepribadian dapat didefinisikan sebagai seperangkat pola


perasaan,pemikiran dan perilaku yang unik yang menjadi standar respon konsumen untuk
berbagai situasi.

Pola ini memiliki beberapa cirri khas yaitu :

1) Mencerminkan perbedaan individu

2) Konsisten

3) Psikologis dan fisiologi

4) Kepribadian dapat berubah

5) Kepribadian berinteraksi dengan situasi.

Dimensi kepribadian :
1) Ekstraversi adalah suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang senang bergaul
dan banyak bicara dan tegas.
2) Sifat menyenangkan adalah suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang baik
hati, kooperatif dan mempercayai.
3) Sifat mendengarkan kata hati adalah suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang
yang bertanggung jawab, dapat diandalkan, tekun dan berorientasi prestasi
4) Kemantapan emosional adalah suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang
tenang, bergairah,terjamin (positif), lawan tegang, gelisah,murung dan tak kokoh (negative).
5) Keterbukaan terhadap pengalaman adalah suatu dimensi kepribadian yang emncirikan
seseorang yang imajinatif, secara artistic peka dan intelektual.

2. NILAI

Nilai adalah prinsip, tujuan, atau standar sosial yang dipertahankan oleh seseorang atau
sekelompok orang (masyarakat) karena secara intrinsik mengandung makna. Semakin tinggi
seseorang atau masyarakat menilai dari suatu barang dan jasa terhadap kehidupan,maka akan
makin tinggi pula apresiasi mereka dalam memandang barang dan jasa tersebut dari segi
konsumsi.

Contohnya adalah jika seseorang memandang bahwa jenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah
sesuatu yang mutlak dan penting, maka ia akan berusaha untuk memperoleh pendidikan yang
layak, walaupun tentu ada uang yang harus ia keluarkan untuk hal tersebut. Dan sebaliknya, alau
seseorang menmandang pendidikan sebagai sesuatu yang kurang begitu penting bagi dirinya,
maka ia tidak akan berusaha untuk memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Walaupun
ia sebenarnya memiliki kemampuan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
3. GAYA HIDUP

Gaya hidup menurut Plummer (1983) gaya hidup adalah cara hidup individu yang di
identifikasikan oleh bagaimana orangmenghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang
mereka anggap penting dalam hidupnya(ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang
dunia sekitar.

Menurut Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) menyatakan bahwa faktor-faktor yang


mempengaruhi gaya hidup seseorang ada dua faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri
individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal yaitu sikap,
pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi (Nugraheni, 2003)
dengan penjelasannya sebagai berikut :

a. Sikap

Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan
tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara
langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan,
kebudayaan dan lingkungan sosialnya.

b. Pengalaman dan pengamatan

Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat
diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan
dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat membentuk pandangan
terhadap suatu objek.

c. Kepribadian

Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan
perbedaan perilaku dari setiap individu.

d. Konsep diri

Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep diri. Konsep diri sudah
menjadi pendekatan yang dikenal amat luas untuk menggambarkan hubungan antara konsep diri
konsumen dengan image merek. Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi
minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan
perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan
frame of reference yang menjadi awal perilaku.
e. Motif

Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan
terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap
kebutuhan akan prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah
kepada gaya hidup hedonis.

f. Persepsi

Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi
untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.

Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut :

a. Kelompok referensi

Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung
terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah
kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan
kelompok yang memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana individu tidak
menjadi anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan
individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.

b. Keluarga

Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku
individu.Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak
langsung mempengaruhi pola hidupnya.

c. Kelas sosial

Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah
masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang
itu memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial
pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan. Kedudukan sosial
artinya tempat seseorang dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya.
Kedudukan sosial ini dapat dicapai oleh seseorang dengan usaha yang sengaja maupun diperoleh
karena kelahiran. Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan. Apabila individu
melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu
peranan.

d. Kebudayaan
Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri
dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri pola
pikir, merasakan dan bertindak.

2. Jelaskan tentang faktor eksternal yang mempengaruhi gaya hidup !

Faktor Eksternal

Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi gaya hidup sebagai berikut

a. Kelompok Referensi

Kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan
perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok
dimana seseorang menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan kelompok yang
memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana seseorang tidak menjadi
anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh tersebut akan menghapkan individu pada
perilaku dan gaya hidup tertentu.

b. Keluarga

Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku
individu. Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara
tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.

c. Kelas sosial

Sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat,
yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu
memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama.

3. Jelaskan tentang pengertian sikap dan pengertian perilaku dan berikan


contonya !

 Sikap dapat juga diartikan sebagai pikiran dan perasaan yang mendorong kita bertingkah laku
ketika kita menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Sedang sikap sendiri mengandung tiga
komponen yaitu : kognisi, emosi dan perilaku serta bisa konsisten dan bisa juga tidak.
Tergantung permasalahan apa yang mereka hadapi. Kraus menemukan beberapa faktor yang
memprediksi konsistensi sikap dan perilaku seseorang yaitu: stabil sepanjang waktu, dilakukan
dengan keyakinan yang tinggi. konsisten dengan reaksi emosi seseorang ke arah perilaku,
terbentuk karena pengalaman langsung, mudah diingat.
Contoh :
1. Menghormati sesama manusia agar terjalin kerukunan.
2. Mengedepankan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi dalam
bermusyawarah.
3. Menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah untuk mufakat.
4 Menjungjung tinggi kedisiplinan dalam berbagai aktifitas dan melaksanakannya dengan baik.
5. Menghormati pendapat orang lain.

 Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan
dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika.

Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku
aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak
ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang
sangat mendasar. Perilaku tidak boleh disalahartikan sebagai perilaku sosial, yang merupakan
suatu tindakan dengan tingkat lebih tinggi, karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara
khusus ditujukan kepada orang lain.

Penerimaan terhadap perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh
berbagai kontrol sosial. Dalam kedokteran perilaku seseorang dan keluarganya dipelajari untuk
mengidentifikasi faktor penyebab, pencetus atau yang memperberat timbulnya masalah
kesehatan. Intervensi terhadap perilaku seringkali dilakukan dalam rangka penatalaksanaan yang
holistik dan komprehensif.

Contoh Perilaku Jujur dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Masyarakat :

1. Tidak melakukan suap kepada polisi ketika kena tilang.


2. Tidak melebihkan takaran timbangan harga agar mendapatkan keuntungan berlebih.
3. Berjualan makanan menggunakan bahan-bahan yang aman bagi tubuh manusia.
4. Tidak memilih pemimpin yang melakukan aksi “serangan fajar” maupun bagi-bagi
sembao (BLT) terhadap rakyatnya agar dipilih kembali.
5. Tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas.

4. Menurut ahli james F. Engel – Roger D. Blackwell- Paul W. Miniard


terhadap tiga faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, jelaskan !

1. Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai
dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang
membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi
mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku
keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
2. Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan,
sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor
internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima
faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses
keputusannya.
3. Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap
dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen
sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan
keputusan pembelian.

5.Jelaskan pengaruh kebudayaan terhadap perilaku konsumen, dan


berikan contohnya!

Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang, terutama dalam
perilaku pengambilan keputusan dan perilaku pembelian. Dalam perkembangan
sejarah budaya konsumsi maka masyarakat konsumsi lahir pertama kali di Inggris
pada abad 18 saat terjadinya tehnologi produksi secara massal. Tehnologi yang
disebabkan oleh berkembangnya revolusi industri memungkinkan perusahaan-
perusahaan memproduksi barang terstandarisasi dalam jumlah besar dengan harga
yang relatif murah.
Pada saat yang bersamaan muncul revolusi kebudayaan, di mana masyarakat secara
bertahap berubah dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang kekotaan, karena
dengan berpindahnya ke perkotaan maka budaya mereka berubah sehingga
berkembanglah tata nilai baru dan pola kehidupan yang baru akibat pekerjaan yang
berbeda. Tidak hanya orang yang kaya saja bahkan orang yang biasa juga merasa
perlu membeli produk yang dapat memuaskan kebutuhan budaya baru, seperti
munculnya perbedaan status yang makin menonjol di kalangan masyarakat perkotaan.
Gambaran lahirnya masyarakat konsumsi tersebut diatas, menunjukkan pentingnya
budaya dalam memahami perilaku konsumen. Aspek-aspek budaya yang penting
dapat diidentifikasi sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami
bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi konsumen dan tentunya dapat digunakan
dalam mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif.

Contoh :

1. Seperti halnya : pakaian, penampilan, komunikasi, bahasa, makanan dan kebiasaan


makan, hubungan, kepercayaan, dan lain sebagainya yang seringkali meliputi semua
hal yang konsumen lakukan tanpa sadar memilih karena nilai kultur mereka, adat
istiadat dan ritual mereka telah menyatu dalam kebiasaan mereka sehari-hari.

2. Sebagai contoh misalnya komponen budaya di masyarakat Amerika, memiliki sekian


nilai yakni : achievement & succes, activity, efficiency & practicality, progress, material
comfort, individualism, freedom, humanitarianism, youthfulness, fitness and health and
external conformity.
6. Jelaskan tentang definisi kelas sosial dan definisi status, dan berikan
contohnya!

Kelas sosial
Kelas sosial merupakan penggolongan dalam masyarakat yang disusun secara hirarki.
Kelas sosial hadir untuk mengelompokan antara anggota masyarakat atau sebagai contoh
diferensiasi sosial. Kelas sosial akan mendeskripsikan bagian atau golongan mana orang
tersebut didalam masyarakat sebagai bentuk hubungan sosial. Kelas sosial sangat
berhubungan dengan stratifikasi sosial. Dapat juga dikatakan bahwa kelas sosial termasuk
dalam satu dari contoh contoh stratifikasi sosial. Kelas sosial menggambarkan bagaimana
kondisi ekonomi serta sosial orang tersebut dalam masyarakat.

Contoh : Pekerjaan dapat menentukan kelas sosial seseorang. Dengan pekerjaan kita dapat
mengetahui status kita atau jabatan dan dengan pekerjaan juga dapat memperoleh pemasukan
yang dapat digunakan untuk menabung pundi pundi rupiah. Pekerjaan sangat mempengaruhi
kekayaan baik secara material maupun gaya hidup seseorang. Poin terakhir adalah pendidikan.
Tinggi rendahnya pendidikan juga mempengaruhi kelas sosial seseorang. Selain itu tingkat
pendidikan juga berlaku sebagai Faktor Perubahan Sosial yang mempengaruhi pekerjaan
maupun secara tidak langsung mempengaruhi kekayaan.

Status
Status sosial adalah suatu kedudukan sosial seseorang di masyarakat yang dapat diperoleh
dengan sendirinya (otomatis) melalui usaha ataupun karena pemberian. Interaksi sosial akan
mendorong individu untuk dapat mencapai status sosial yang lebih tinggi. Status sosial yang
lebih tinggi akan berpengaruh pula pada sikap dan rasa penghargaan yang tinggi dari
masyarakat. Oleh karena itu, setiap orang akan berusaha untuk mencapai status sosial yang
lebih tinggi.

Contoh : seorang pejabat tentunya memiliki ruang lingkup interaksi yang lebih luas dan
bervariatif bila dibandingkan dengan seorang petani. Pejabat akan berinteraksi dengan banyak
orang dan dari berbagai status dan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari masyarakat
biasa, pengusaha, politikus, teknokrat, akademis, dan sebagainya yang berkaitan dengan tugas
dan fungsinya. Lain halnya dengan petani, dalam kesehariannya ia hanya berinteraksi dengan
sedikit orang yang status dan latar belakangnya juga tidak jauh bebeda dengan dirinya.
7. Jelaskan tentang faktor penentu kelas sosial dan status kriteria yang
menentukan kelas sosial dan status dan berikan contohnya!

Faktor Penentu Kelas sosial


Dalam istilah sosiologi kedudukan seseorang dalam masyarakat disebut status atau
kedudukan sosial (posisi seseorang dalam suatu pola hubungan sosial yang tertentu).
Status merupakan unsur utama pembentukan strata sosial, karena status mengandung
aspek struktural dan aspek fungsional. Aspek struktural adalah aspek yang
menunjukkan adanya kedudukan - tinggi dan rendah dalam hubungan antar status.
Aspek fungsional, yaitu aspek yang menunjukkan adanya hak-hak dan tanggung jawab
yang harus dilaksanakan oleh penyandang status.
Talcott Persons, menyebutkan ada lima menentukan tinggi rendahnya status seseorang,
yaitu:
1. Kriteria kelahiran (ras, kebangsawanan, jenis keCamin,
2. Kualitas atau mutu pribadi (umur, kearifan atau kebijaksanaan)
3. Prestasi (kesuksesan usaha, pangkat,
4. Pemilikan atau kekayaan (kekayaan harta benda)
Otoritas (kekuasaan dan wewenang: kemampuan-untuk menguasai/ mempengaruhi
orang lain sehingga orang itu mau bertindak sesuai dengan yang diinginkan tanpa
perlawanan)

Faktor penentu Status Sosial

Dalam istilah sosiologi kedudukan seseorang dalam masyarakat disebut status atau
kedudukan sosial (posisi seseorang dalam suatu pola hubungan sosial yang tertentu).
Status merupakan unsur utama pembentukan strata sosial, karena status mengandung
aspek struktural dan aspek fungsional. Aspek struktural adalah aspek yang menunjukkan
adanya kedudukan – tinggi dan rendah dalam hubungan antar status. Aspek fungsional,
yaitu aspek yang menunjukkan adanya hak-hak dan tanggung jawab yang harus
dilaksanakan oleh penyandang status.

Talcott Persons, menyebutkan ada lima menentukan tinggi rendahnya status seseorang,
yaitu:

1. Kriteria kelahiran (ras, kebangsawanan, jenis keCamin,

2. Kualitas atau mutu pribadi (umur, kearifan atau kebijaksanaan)

3. Prestasi (kesuksesan usaha, pangkat,

4. Pemilikan atau kekayaan (kekayaan harta benda)

Otoritas (kekuasaan dan wewenang: kemampuan-untuk menguasai/


mempengaruhi orang lain sehingga orang itu mau bertindak sesuai dengan yang
diinginkan tanpa perlawanan).
Status social dapat dibedakan menjadi dua macam menurut proses perkembangannya:

1. Status yang diperoleh atas dasar keturunan . Pada umumnya status ini banyak dijumpai
pada masyarakat yang menganut stratifikasi tertutup.
2. Status yang diperoleh atas dasar usaha yang disengaja, status ini dalam perolehannya
individu dan anggota masyarakat berhak dan bebas menentukan kehendaknya sendiri
dalam memilih status tertentu sesuai dengan kemampuannya sendiri.

8. Sebutkan tiga indikator yang mempengaruhi pembentukan kelas sosial


dan status, dan berikan contohnya !
Beberapa indikator lain yang berpengaruh terhadap pembentukan kelas sosial, yaitu:
a) Kekayaan
Untuk memahami peran uang dalam menentukan strata sosiai/kelas sosial, kita harus
menyadari bahwa pada dasamya kelas sosial merupakan suatu cara hidup. Artinya
bahwa pada kelas-kelas sosial tertentu, memiliki cara hidup atau pola hidup tertentu
pula, dan untuk menopang cara hidup tersebut diperlukan biaya dalam hal ini uang
memiliki peran untuk menopang cara hidup kelas sosial tertentu.
Untuk memasuki suatu status baru, maka dituntut untuk memiliki sikap, perasaan, dan
reaksi yang merupakan kebiasaan orang status yang akan dituju, dan hal ini diperlukan
waktu yang tidak singkat.

Uang juga memiliki makna halus lainnya. Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan
profesional lebih memiliki prestise daripada penghasilan yang berujud upah dari
pekerjaan kasar. Uang yang diperoleh dari pekerjaan halal lebih memiliki prestise
daripada uang hasil perjudian atau korupsi. Dengan demikian, sumber dan jenis
penghasilan seseorang memberi gambaran tentang latar belakang keluarga dan
kemungkinan cara hidupnya.
Jadi, uang memang merupakan determinan kelas sosial yang penting; hal tersebut
sebagian disebabkan oleh perannya dalam memberikan gambaran tentang latar
belakang keluarga dan cara hidup seseorang.

b) Pekerjaan
Dengan semakin beragamnya pekerjaan yang terspesialisasi kedalam jenis-jenis
pekerjaan tertentu, kita secara sadar atau tidak bahwa beberapa jenis pekerjaan tertentu
lebih terhormat daripada jenis pekerjaan lainnya. Mengapa suatu jenis pekerjaan harus
memiliki prestise yang lebih tinggi daripada jenis pekerjaan lainnya. Hal ini merupakan
masalah yang sudah lama menarik perhatian para ahli ilmu sosial. Jenis-jenis pekerjaan
yang berprestise tinggi pada umumnya memberi penghasilan yang lebih tinggi;
meskipun demikian terdapat banyak pengecualian (?). Jenis-jenis pekerjaan yang
berprestise tinggi pada umumnya memerlukan pendidikan tinggi, meskipun
korelasinya masih jauh dari sempuma.
Pekerjaan merupakan aspek strata sosial yang penting, karena begitu banyak segi
kehidupan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Apabila kita mengetahui jenis
pekerjaan seseorang, maka kita bisa menduga tinggi rendahnya pendidikan, standar
hidup, pertemanannya, jam kerja, dan kebiasaan sehari-hari keluarga orang tersebut.
Kita bahkan bisa menduga selera bacaan, selera rekreasi, standar moral, dan bahkan
orientasi keagamaannya. Dengan kata lain, setiap jenis pekerjaan merupakan bagian
dari cara hidup yang sangat berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya.
Keseluruhan cara hidup seseoranglah yang pada akhimya menentukan pada strata
sosial mana orang itu digolongkan. Pekerjaan merupakan salah satu indikator terbaik
untuk mengetahui cara hidup seseorang. Oleh karena itu, pekerjaan-pun merupakan
indikator terbaik untuk mengetahui strata sosial seseorang.

c) Pendidikan
Kelas sosial dan pendidikan saling mempengaruhi sekurang-kurangnya dalam dua hal.
Pertama, pendidikan yang tinggi memerlukan uang dan motivasi. Kedua, jenis dan
tinggi rendahnya pendidikan mempengaruhi jenjang kelas sosia. Pendidikan tidak
hanya sekedar memberikan ketrampilan kerja, tetapi juga melahirkan perubahan
mental, selera, minat, tujuan, etiket, cara berbicara - perubahan dalam keseluruhan cara
hidup seseorang.