Anda di halaman 1dari 107

LATIHAN

DASAR CPNS GOL. III

MATA DIKLAT

ANTI KORUPSI
Drs. Tata Zakaria, M.Si
KORUPSI
.
Berbicara masalah
Korupsi, sekarang ini
menjadi sesuatu yang sangat
serius, mengapa ?
1. Bukan saja korupsi itu dilakukan oleh Oknum
Pejabat, malah sekarang dilakukan juga oleh
oknum Masyakarat ;
2. Modus Korupsi yang dilakukan tidak
terbatas kepada hal hal barang dan jasa saja
akan tetapi sudah keberbagai hal misalnya
masalah Perizinan ;
3. Yang paling menghawatirkan Pelaku
Korupsi sekarang ini bukan saja dilakukan
oleh orang2 yang berumur diatas 50 th, namun
dilakukan juga oleh para kalangan muda.
Jumlah PNS
terlibat korupsi
2001-2018
Jumlah PNS Daerah Terlibat
Korupsi 2018
Penanganan Kasus
Jenis Tipikor 2004 - 2018
Perkara

564 46 25 10
188 31 23
PENYUAPAN PENYALAHGUNAAN PUNGUTAN MERINTANGI
ANGGARAN TPPU PROSES KPK
PENGADAAN PERIJINAN
BARANG/JASA

321 PEMKAB/ 128 DPR/DPRD


56 KOMISI
PEMKOT (LPND)

Instan
si K/L PEMPROV BUMN/D

295 67 20
8
DESKRIPSI KASUS:

PT. LIPPO Cikarang sebagai developer mengajukan ijin proyek
Meikarta di wilayah Kabupaten Bekasi. Pengajuan ijin proyek
Meikarta diajukan pada saat BupaA Bekasi dijabat oleh Hj. Neneng.
PT. Lippo Cikarang melalui PT. Mahkota Sentosa Utama mengajukan
IPPT ke Pemda Bekasi untuk membangun kawasan hunian dalam
bentuk kawasan bisnis, property (53 apartemen dan 13 basement)
dilahan seluas 143 Ha. Namun berdasar RTRW Kabupaten Bekasi,
lahan yang dapat dibuat kawasan bisnis dan property hanya seluas
84,6 Ha (sesuai dengan kajian dari Bappeda dan PUPR Kabupaten
Bekasi).
Ijin pembangunan kawasan tersebut diterbitkan oleh Pemda Bekasi
pada tanggal 12 Mei 2017, dan untuk memudahkan mendapat ijin
tersebut BupaA menerima suap dari pengembang senilai Rp.
16.182.020.000 dan S$270 ribuatau Rp. 18 Milyar lebih.
Mengingat lahan yang dimintakan ijin 143 Ha, sementara yang
masuk dalam RTRW hanya 84,6 Ha, maka untuk dapat memenuhi
luasan yang dimintakan ijin pembangunan tersebut memerlukan
perubahan RTRW melalui revisi Perda yang penetapannya
merupakan kewenangan dari DPRD. Dalam hal perubahan RTRW
perlu mendapatkan rekomendasi dari Pemda Provinsi Jawa Barat;
sehingga dalam proses penyelidikan dan penyidikan perkara
tersebut menghadirkan Gubernur Aher, Wagub Deddy Mizwar dan
Sekda Provinsi Jabar Iwa Karniwa.

3/17/2019 NRDW 9
Dalam kasus suap pemberian ijin pembangunan
proyek Meikarta tersebut, pemberi suap yaitu
pihak Lippo Group yang menyediakan dana dan
melibatkan Presdir PT. Lippo Cikarang, Konsultan
Perijinan, Kadiv land AcquisiAon PT. Lippo
Cikarang, bahkan melibatkan James Riyadi sebagai
boss Lippo group yang menemui BupaA Neneng
saat habis melahirkan anaknya.
Uang yang diberikan sebagai uang suap untuk
memperoleh kemudahan IPPT, sejumlah total Rp.
18 milyar lebih, terdistribusi ke BupaA, Sekda
Provinsi dan para Kepala Dinas sebagai berikut :
Sekda Prov Jabar, BupaG Bekasi, Kadis PUPR,
Kadis PMPTSP, Kadis Damkar, Kabid Penataan
Ruang Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup,
Kabid Penataan Ruang Dinas PUPR, kabid Tata
Ruang Bappeda Bekasi, Kasi Ruang Dinas Bina
Marga. Sidang pengadilan perkara suap untuk
memperoleh kemudahan pengurusan IMB
tersebut, sedang berlangsung dan sebagian para
pihak yang diduga terlibat dan disebutkan dalam
dakwaan jaksa maupun keterangan saksi-saksi
serta fakta persidangan; sebagian telah
memperoleh penetapan dari hakim yang
Sumber : DeAknews memutuskan perkara; sedangkan pihak-pihak yang
3/17/2019 NRDW 10
lain masih proses persidangan.
Masyarakat Masyarakat
/Pengusaha /Pengusaha

Penyuapan Gratifikasi
“Transaksional” “Pasif”

Pegawai Negeri
SEGI /Penyelenggara Negara

TIGA Pemerasan
“Aktif”
PEMERASAN

Masyarakat
/Pengusaha
APAKAH YG ANDA INGINKAN
SETELAH MENJADI PNS ?

TAHUN I
TAHUN 2
TAHUN 3
TAHUN 4
POLIGAMI
TAHUN 5
PENJARA
ITULAH
ENDINGNYA
PELAKU
KORUPSI
“ To end corruption is my
dream; togetherness in
fighting it makes the
dream come true ”
UU 31/1999 juncto UU 20/2001
1.  Kerugian
Ada 30 jenis tindak pidana Keuanga
korupsi dan pada dasarnya n Negara
dapat dikelompokkan menjadi:

7. Konflik 2. Suap
Kepenting
an dalam
Pengadaan

6. Perbuatan 3. Gratifikasi
Curang

4.
5. Penggelapa
Pemerasan n dalam
Jabatan
DEFINISI KORUPSI
1. Psl .2 UU No. 31 Th 1999 jo. UU No. 20 Th 2001.
(1). Setiap orang yg secara melawan hukum melakukan
perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi yg dpt merugikan keuneg
atau perekneg, dipidana dg pidana penjara seumur
hidup atau pidana penjara paling sedikit 4 (empat) th
& paling lama 20 (duapuluh) th & denda paling
sedikit
Rp.200.000.000.- (duaratus juta rupiah) & paling
banyak Rp1.000.000.000.- (satu miliar rupiah)

(2). Dlm hal TPK sebagaimana dimaksud ayat (1)


dilakukan dlm keadaan ttt, pidana mati dpt
dijatuhkan.
2. Psl.3 UU No. 31 Th 1999 jo. UU No. 20 Th 2001.
Setiap orang yg dg tujuan menguntungkan diri sendiri
atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan
kewenangan, kesempatan atau sarana yg ada padanya
karena jabatan atau kedudukan yg dpt merugikan
keuneg dipidana dg pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 1 (satu) th & paling lama
20 (duapuluh) th & denda paling sedikit Rp.50.000.000.-
(limapuluh juta) & paling banyak Rp1.000.000.000.- (satu
miliar rupiah)
3. Ps. 5 ayat (1) huruf b UU No. 31 Th 1999 jo. UU
No 20 Th 2001

(1)  Dipidana dg pidana penjara paling singkat 1 (satu)


th & paling lama 5 (lima) th & atau pidana denda
paling sedikit Rp50.000.000.- (limapuluh juta
rupiah):& paling banyakRp250.000.000.- (duaratus
limapuluh juta rupiah) setiap orang :
a. memberi atau menjanjikan sesuatu kpd pegneg
atau penyelenggara negara dg maksud supaya
pegneg atau penyelenggara negara tsb berbuat
atau tdk berbuat sesuatu dlm jabatannya, yg
bertentangan dg kewajibannya, atau.
b. …….
Istilah Korupsi berasal
dari kata Corruption/
Corruptus dari bahasa
Yunani
KENAPA TERJADI
KORUPSI ?
PENYEBAB TERJADINYA KORUPSI

1. Lemahnya Penegakan hukum


2. Rendahnya Komitmen dan Konsistensi
kebijakan Pemberantasan korupsi
3. Moralitas Aparatur Rendah
4. Rendahnya Nasionalisme
5. Sistem Pengawasan Internal belum sesuai
dengan harapan
6. Pengawasan Fungsional belum efektfif
dan efisien
7. Pengawasan Masyarakat belum mampu memberikan
efek jera kepada Pejabat yang mekakukan korupsi
Dampak Korupsi
DAMPAK KORUPSI

1. Hancurnya Perekonomian Negara;


2. Menipisnya kepercayaan rakyat
terhadap Pemerintah;
5. Instabilitas politik, Ekonomi dan Sosial
yang mengarah kepada konflik
horizontal / vertikal.
Dampak akibat banyaknya
korupsi
KENAPA KORUPSI
HARUS DIBERANTAS ?
KARENA PRAKTEK KKN MENGAKIBATKAN :
1.  KETIDAKADILAN DALAM BERBAGAI BIDANG KEHIDUPAN
2. TIMBULNYA KEMEROSOTAN MORAL BANGSA,
KETIDAK JUJURAN, MUNAFIK/KEPURA-PURAAN
3. MELEMAHNYA IMAN PARA BIROKRAT, TIDAK TAHAN
TERHADAP GODAAN-GODAAN DALAM KEHIDUPAN DUNIA
(HTW)
4. MERUSAK PERILAKU KEHIDUPAN DAN POLA HIDUP
MASYARAKAT, MEMENTINGKAN KEHIDUPAN DUNIAWI,
MATERIALISTIS.
5. MENIMBULKAN KESENJANGAN KEHIDUPAN DALAM
MASYARAKAT MENYENGSARAKAN RAKYAT BANYAK
- YANG KAYA SEMAKIN KAYA KARENA DAPAT KESEMPATAN
BER KKN (PARA KORUPTOR, PENGUSAHA,CUKONG, CALO
DSB)
- YANG MISKIN SEMAKIN MISKIN (KARENA TIDAK
MENDAPAT KESEMPATAN YANG LAYAK UNTUK
MEMPERBAIKI KEHIDUPAN)
6. MENURUNKAN ETOS KERJA YANG SEHAT :
- YANG DAPAT KESEMPATAN BER-KKN SEMANGAT KERJA
TINGGI, HIDUP MAKMUR.
- YANG TIDAK DAPAT BER-KKN FRUSTASI, MALAS ,
KURANG GAIRAH KERJA KARENA PUTUS ASA
- PELAYANAN UMUM SEMAKIN MEROSOT, MASYARAKAT
MENDERITA DAN MENJADI KORBAN!!
UU 31/1999 juncto UU 20/2001
1.  Kerugian
Ada 30 jenis tindak pidana Keuanga
korupsi dan pada dasarnya n Negara
dapat dikelompokkan menjadi:

7. Konflik 2. Suap
Kepenting
an dalam
Pengadaan

6. Perbuatan 3. Gratifikasi
Curang

4.
5. Penggelapa
Pemerasan n dalam
Jabatan
©
Tindak Pidana KORUPSI yus2017

©
yus2017

1 Kerugian keuangan negara


2 Suap Menyuap
3 Pemerasan
4 Perbuatan Curang
5 Penggelapan dalam Jabatan

6 Benturan Kepentingan dalam


Pengadaan
7 Gratifikasi
UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.2001 Page: 15
KERUGIAN KEUANGAN NEGARA
Pasal 2 (1) UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis Ancaman


perbuatan Pidana
(Hukuman)
Perseorang Secara Penjara seumur
melawan hukum hidup; penjara
an/korporasi memperkaya diri min. 4 th max.
sendiri/orang 20 th; dan
lain/korporasi denda min. Rp.
yang dapat 200 juta max.
merugikan Rp. 1 milyar
keuangan/
perekonomian
Keterangan negara
Dalam keadaan tertentu Pidana Mati dapat dijatuhkan. Keadaan tertentu yang
memberatkan pidana yaitu bila tindak pidana korupsi tersebut dilakukan pada
dana-dana bagi penanggulangan bahaya/bencana, penanggulangan kerusuhan,
penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, serta penanggulangan korupsi
KERUGIAN KEUANGAN NEGARA
Pasal 3 UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman


Pidana
(Hukuman)
Perseorang Menguntungkan Penjara
diri sendiri/orng seumur hidup;
an/korporasi lain/korporasi, penjara min. 1
menyalahgunakan th max. 20 th;
kewenangan, dan/atau
kesempatan/ denda min.
sarana yg ada Rp. 50 juta
padanya krn max. Rp. 1
jabatan / milyar
kedudukan
SUAP MENYUAP
Pasal 5 (1) a & b UU No.31 Th.1999 jo UU No.20
Th.2001
Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Pidana
(Hukuman)
Memberi atau penjara min. 1 th max.
Perseorangan/ menjanjikan sesuatu 5 th; dan/atau denda
korporasi kepada pegawai negeri/ min. Rp. 50 juta max.
penyelenggara negara
Rp. 250 juta
supaya mau berbuat atau
tidak berbuat sesuatu,
dalam jabatannya atau
tidak dalam jabatannya,
yang bertentangan
dengan kewajibannya.
Memberi sesuatu kepada
pegawai negeri /
penyelenggara
negara karena/
berhubungan dg sesuatu
yang bertentangan dg
kewajiban, dilakukan/tidak
dilakukan dalam
SUAP MENYUAP
Pasal 6 (1) a & b, Pasal 6 (2) UU No.31 Th.1999 jo UU No.20
Th.2001
Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Pidana
(Hukuman)
Memberi atau penjara min. 1 th max.
Perseorangan/ menjanjikan sesuatu 5 th; dan/atau denda
korporasi kepada hakim dg maksud min. Rp. 50 juta max.
unt mempengaruhi
Rp. 250 juta
putusan perkara yg
diserahkan kepadanya
unt diadili; atau
Memberi sesuatu kpd
sesorang yg menjd advokat
unt menghadiri sidang
pengadilan dg maksud unt
mempengaruhi nasihat/
pendpt yg akan diberikan
berhubung dg perkara yg
diserahkan kpd pengadilan
unt diadili.

Keterangan
Hakim atau advokat yang menerima pemberian/ janji
juga dipidana dg pidana dan denda yg sama dg di atas
SUAP MENYUAP
Pasal 11 UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis Ancaman


perbuatan Pidana
(Hukuman)

Pegawai Memberi penjara


negeri/ hadiah atau min. 1 th
penyelenggara janji kepada max. 5 th;
negara pegawai negeri denda min.
karena Rp. 50 juta
kekuasaan/ max. Rp.
kedudukannya/ 250 juta
oleh pemberi/
janji dianggap
melekat pd
jabatan/
kedudukannya
SUAP MENYUAP
Pasal 12 a UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Pidana


(Hukuman)

Pegawai negeri/ Menerima hadiah atau Penjara seumur hidup;


penyelenggara negara janji, supaya untu penjara min. 4 th max.
menggerakkan agar 20 th; dan denda min.
melakukan atau tidak Rp. 200 juta max. Rp.
melakukan sesuatu 1 milyar
dalam jabatannya ,
yang bertentangan
dengan kewajibannya

Keterangan
Bagi pelaku tindak pidana korupsi yang nilainya kurang dari Rp
5.000.000,00 (lima juta rupiah) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00
(lima puluh juta
rupiah).
SUAP MENYUAP Pasal 12 b UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Pidana


(Hukuman)
Pegawai negeri/ Menerima hadiah karena Penjara seumur hidup;
penyelenggara telah melakukan atau tidak penjara min. 4 th max. 20
negara melakukan sesuatu dalam th; dan denda min. Rp.
jabatannya , yang 200 juta max. Rp. 1
bertentangan dengan milyar
kewajibannya

Keterangan
Pembuktian oleh :
Penerima suap jk nilai <Rp10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah)
Penuntut Umu jk nilai >Rp10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah)
SUAP MENYUAP Pasal 12 c UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis Ancaman Pidana


perbuatan (Hukuman)
Hakim Menerima Penjara seumur
hadiah atau hidup; penjara
janji yang min. 4 th max. 20
diberikan untuk th; dan denda
mempengaruhi min. Rp. 200 juta
putusan max. Rp. 1 milyar
perkara yg
diserahkan
kpdnya untuk
diadili
Keterangan
Jika penerima suap melaporkan ke KPK
tdk dianggap tindak pidana
SUAP MENYUAP
Pasal 12 d UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Pidana


(Hukuman)
Advokat Menerima hadiah Penjara seumur
atau janji yang hidup; penjara
diberikan untuk min. 4 th max. 20
mempengaruhi th; dan denda min.
nasihat/pendapat Rp. 200 juta max.
yang akan Rp. 1 milyar
diberikan, berhub
dg perkara yg
diserahkan kpd
pengadilan unt
diadili
SUAP MENYUAP
Pasal 13 UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis Ancaman


perbuatan Pidana
(Hukuman)
Perseoarangan/ Memberi hadiah Penjara max. 3
korporasi atau janji th; dan/atau
kepada pegawai denda max. Rp.
negeri karena 150 juta
kekuasaan/
kedudukannya/
oleh pemberi/
janji dianggap
melekat pd
jabatan/
kedudukannya
•  Berhubungan dengan
jabatan
•  Bersifat tanam budi
•  Tidak
membutuhkan
kesepakatan Contoh:
Pengusaha memberi
hadiah voucher
•  Ada kesepakatan belanja kepada PNS
•  Biasanya dilakukan karena merasa
secara rahasia dan terbantu dalam
tertutup pengurusan perizinan
Contoh:
Pengusaha menyuap
pejabat pemerintah untuk
mendapatkan proyek
•  Ada permintaan
sepihak dari
penerima (pejabat) Contoh:
•  Bersifat memaksa Pejabat memaksa calon peserta
•  Penyalahgunaan tender untuk memberikan sejumlah
kuasa uang dengan ancaman akan
menggugurkan calon peserta
PEMERASAN
Pasal 12 e UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001
Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Pidana
(Hukuman)
Pegawai negeri/ Menyalahgunakan Penjara seumur
penyelenggara kekuasaannya untuk hidup; penjara min. 4
negara menguntungkan diri th max. 20 th; dan
sendiri/ orang lain denda min. Rp. 200
(secara melawan juta max. Rp. 1 milyar
hukum), memaksa
seseorang untuk
memberikan sesuatu,
membayar, menerima
pembayaran dengan
potongan, atau
mengerjakan sesuatu
bagi dirinya sendiri
PEMERASAN
Pasal 12 f UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis Ancaman


perbuatan Pidana
(Hukuman)
Pegawai negeri/ Meminta, Penjara seumur
penyelenggara menerima, hidup; penjara
negara memotong min. 4 th max.
pembayaran 20 th; dan
seolah-olah denda min. Rp.
merupakan 200 juta max.
utang Rp. 1 milyar
PEMERASAN
Pasal 12 g UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Pidana


(Hukuman)

Pegawai negeri/ Meminta, menerima Penjara seumur hidup;


penyelenggara negara pekerjaan atau penjara min. 4 th max.
penyerahan barang 20 th; dan denda min.
seolah-olah Rp. 200 juta max. Rp.
merupakan utang 1 milyar
PERBUATAN CURANG
Pasal 7 (1) a dan b UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Keterangan


Pidana
(Hukuman)
Pemborong/ a. Melakukan penjara min. 2 Pengawas
ahli pembangunan atau th max. 7 th; dan penerima
bangunan; menyerahkan bahan dan/atau denda bahan/ barang
bangunan secara curang,
penjual min. Rp. 100 yang
yang dapat
bahan membahayakan juta max. Rp. membiarkan
bangunan keamanan orang/ barang 350 juta terjadinya
atau keselamatan negara perbuatan
dalam keadaan perang curang
Perseoranga b. Mengawasi tersebut juga
n/ korporasi pembangunan atau dipidana
penyerahan bahan
bangunan, sengaja
membiarkan perbuatan
curang sebagaimana
PERBUATAN CURANG
Pasal 7 (1) c dan d UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Keterangan


Pidana
(Hukuman)
Perseoranga c. Menyerahkan barang penjara min. 2 Pengawas
n/ korporasi keperluan TNI atau th max. 7 th; dan penerima
POLRI, secara curang, dan/atau denda bahan/ barang
yang dapat
min. Rp. 100 yang
membahayakan
keselamatan negara juta max. Rp. membiarkan
dalam keadaan perang 350 juta terjadinya
perbuatan
Perseoranga d. Mengawasi
curang
n/ korporasi penyerahan barang
keperluan Tentara tersebut juga
Nasional Indonesia dan dipidana
atau Kepolisian Negara
RI
dg sengaja membiarkan
perbuatan curang
sebagaimana dimaksud
PERBUATAN CURANG
Pasal 7 (2) UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Keterangan


Pidana
(Hukuman)
Perseoranga Menerima penyerahan penjara min. 2 Pengawas
n/ korporasi bahan bangunan atau th max. 7 th; dan penerima
orang yang menerima dan/atau denda bahan/ barang
penyerahan barang min. Rp. 100 yang
keperluan Tentara juta max. Rp. membiarkan
Nasional Indonesia 350 juta terjadinya
dan/atau Kepolisian perbuatan
Negara RI dan curang
membiarkan perbuatan tersebut juga
curang sebagaimana dipidana
dimaksud dalam ayat
(1) huruf a atau huruf c
PERBUATAN CURANG
Pasal 12 h UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis perbuatan Ancaman Pidana


(Hukuman)
Pegawai negeri/ Menggunakan tanah Penjara seumur hidup;
penyelenggara negara negara (di atasnya ada penjara min. 4 th max.
hak pakai) seolah-olah 20 th; denda min. Rp.
sesuai peraturan 200 juta max. Rp. 1
perundang-undangan milyar
padahal bertentangan,
dan merugikan yang
berhak
PENGGELAPAN DLM JABATAN
Pasal 8 UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
Pelaku Jenis perbuatan Ancaman 2001

Pidana
(Hukuman
)
Pegawai Menjalankan jabatan penjara
Negeri secara terus menerus/ min. 3 th
Sipil dan sementara waktu, max. 15 th;
dengan sengaja
Non PNS dan denda
menggelapkan uang/
surat berharga yang min. Rp.
disimpan karena 150 juta
jabatannya, atau max. Rp.
membiarkan uang/ surat 750 juta
berharga tersebut
diambil/digelapkan oleh
orang lain, atau
membantu dalam
melakukan perbuatan
tersebut.
PENGGELAPAN DLM JABATAN
Pasal 9 UU No.31 Th.1999 jo UU No.20 Th.
2001

Pelaku Jenis Ancaman Keterangan


perbuatan Pidana
(Hukuman)
Pegawai negeri Memalsukan penjara min. 1 Selain pegawai
buku-buku atau th max. 5 th; negeri juga
daftar-daftar dan denda min. dapat dipidana
khusus untuk Rp. 50 juta max.
pemeriksaan Rp. 250 juta
administrasi
BENTURAN
KEPENTINGAN
DALAM
PENGADAAN
PEGAWAI NEGERI
PENYELENGGARA NEGARA

1.Meminta Menggunakan Langsung / tdk lang


2.Menerima pe tanah negara sung, sengaja turut
kerjaan ( Hak Pakai ), meru serta dalam :
3. Penyerahan gikan orang yg 1.  Pemborongan
barang (se berhak ( seolah 2. Pengadaan
olah hutang sesuai dengan 3. Persewaan
pd dirinya) peraturan ) ( pd saat dilakukan
seluruh / sebagian
Pidana penjara seumur hidup atau pidana pen
ditugaskan utk meng
Jara p.s.4 th dan p.l. 20 th dan pidana denda urus / mengawasi )
p.s.Rp 200 jt, p.b. Rp. 1 M ( psl 12 UU No. 20/01 )

Sri Indrarti Pudjilestari


PINJAMAN TIKET PENGOBATAN
TANPA BUNGA PERJALANAN GRATIS

BARANG DISCOUNT

KOMISI UANG
PERJALANAN FASILITAS
WISATA PENGINAPAN

Kepada Pegawai Negeri / Rp. 10 juta / lebih


Penyel. Negara dianggap Pembuktian bukan
SUAP bila berhubungan suap oleh penerima.
dgn jabatan & berlawan Kurang dari Rp.10 jt,
an dgn tugas atau pembuktian gratifika
si tsb suap o/ Jaksa
kewajibannya.
( psl 12 b UU 20/01 )
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Pasal 12 B :
(1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan
yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan
sebagai berikut:
–  yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih,
pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap
dilakukan oleh penerima gratifikasi; (Pembuktian terbalik)
–  yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan
oleh penuntut umum.
(2) Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pengertian Gratifikasi
menurut penjelasan pasal 12 B UU No. 20 Tahun 2001

•  pemberian dalam arti luas, yakni meliputi


pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi,
pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas
penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-
cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik
yang diterima di dalam negeri maupun di luar
negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan
sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik .
•  Pengecualian
–  Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Pasal 12 C
ayat (1) :
•  Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B
ayat (1) tidak berlaku, jika penerima melaporkan
gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
UU NO.31 / 1999
Pemberantasan tindak
Tindak Pidana Korupsi

BANK tidak SAKSI / AHLI


beri keterang Tidak beri ke
an rekening terangan
Tersangka ( ps 22 jo 35)
(ps 22 jo 29) Org yg pegang
Tdk memberi
gang rahasia jabat
keterangan an tdk beri kete
(beri keterang rangan / memberi
an tdk benar ketr tapi palsu
(ps 22 jo 28) (ps 22 jo 36

Merintangi SAKSI
proses peme Membuka iden
riksaan PK titas pelapor
( ps. 21 ) (ps 22 jo 31
UU NO. 15 TAHUN 2002 Menempatkan
Menghilangkan
Harta kekayaan yg diketahui
patut diduga hasil tindak pidana
untuk menyembunyikan asal
usul harta kekayaan,seolah
Menitipkan olah harta kekayaan yang sah
Mentransfer

Membayarkan

Menukarkan Membelanjakan

Menyumbangkan

Membawa ke luar negeri


Bentuk-Bentuk Korupsi
A. DI KALANGAN PEGAWAI PEMERINTAH
1. MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN KELUARGA /TEMAN
DEKAT DALAM SEGALA URUSAN DINAS MISALNYA
(PENERIMAAN PEGAWAI, PENEMPATAN JABATAN ,
PEMBERIAN PERIJINAN, DSB)
2. TERJADINYA PRAKTEK SUAP-MENYUAP DALAM SETIAP
URUSAN KEDINASAN ANTARA LAIN :
- USULAN KENAIKAN PANGKAT
- PROSES LELANG/TENDER-TENDER PROYEK
- SEGALA BENTUK PELAYANAN MASYARAKAT
- PROSES PENEGAKAN HUKUM
Lanjutan………
B. DI KALANGAN PARA PENGUSAHA/PELAKU BISNIS
- TERJADI PERSAINGAN TIDAK SEHAT
- TERJADI PRAKTEK SUAP
- DALAM SETIAP PENGURUSAN IJIN
- DALAM SETIAP PROSES TENDER
- DALAM MEMPEROLEH INFORMASI USAHA
- DLL
C. DI KALANGAN MASYARAKAT
- PERILAKU TIDAK JUJUR
- BUDAYA HIDUP “SEMAU GUE”
KENDALA
PEMBERANTASAN
KORUPSI
KENDALA PEMBERANTASAN KORUPSI
A. Hambatan Utama
1. Aspek struktural - Lemahnya koordinasi
- Ego sektoral / instansional
- Lemahnya pelaksanaan waskat
- Remunerasi kurang memadai
2. Aspek kultural -  Kurangnya komitmen, konsistensi,
kompetensi & profesionalisme SDM
3. Aspek Instrumental -  Masih adanya perat. & Per-UU-an
kebijakan yg belum mendukung
upaya pemberantasan KKN
4. Aspek Manajemen komitmen, konsisten & ketegasan
Pimpinan dan dukungan Teknologi
Informasi
B. Hambatan lain
1. Rendahnya kesadaran & penegakan hukum;
2. Sangat banyaknya orang yg terkena ancaman pidana
(korupsi), hari ini dia dituntut, besok dia juga akan
dituntut (termasuk, jaksa & hakimnya);
3. Nasionalisme & moralitas bangsa rendah,
khususnya di kalangan aparat penegak hukum;
4. Banyaknya lembaga yg menjadi sarang korupsi
5. Pengingkaran thdp pasal 33 UUD 1945 (ekonomi
kerakyatan);
6. Merosotnya kepercayaan masyarakat terhaap
pemerintah.
Ketentuan dan
Peraturan yang
mengatur
Pemberantasan
Korupsi
Indonesialah Negara pertama yg
merancang Peraturan tentang
pemberantasan korupsi di Asia, oleh
Penguasa Perang Pusat KSAD
Jenderal AH Nasution melalui
Peraturan PEPERPU KSAD tgl 16
April 1958 No. Prt/Peperpu/C 13/1958
yg Peraturan Pelaksanaannya diikuti
PEPERPUKSAL No. Prt/Z.1./17 tgl 17
April 1958
è  49% (110 juta) penduduk Indonesia.... hidup di bawah garis kemiskinan
(Survey WB)

è  LISTRIK: 70 juta penduduk Indonesia setiap malam masih dirundung


kegelapan - tanpa listrik

è  ENERGI: 52.5% konsumsi energi di negeri ini sangat tergantung pada BBM.....
Dan yang mencengangkan subsidi untuk 62 juta kiloliter BBM pada tahun
2005 menghabiskan hampir 20% APBN.

è  KESEHATAN: 2/3 penduduk Indonesia masih mengkonsumsi makanan kurang


dari 2.100 kalori per hari...data ini menunjukan sebagaian besar masyarakat
kita hidup dibawah standar garis kemiskinan

è  AIR: ...50 juta penduduk miskin di perkotaan tidak memiliki akses terhadap air
bersih. Apalagi Penyediaan air bersih saat ini baru menjangkau 9% dari total
penduduk Indonesia....!”

è  KERUSAKAN ALAM: 1.8 juta hektar hutan di Indonesia dibabat setiap


tahunnya, belum lagi yang disebabkan oleh kebakaran. Akibatnya, 39%
habitat alami turut musnah.... Padahal 30 juta jiwa tergantung hidupnya dari
keberadaan dan kelestarian hutan...
Gumelar Anti Korupsi gilangprat@yahoo.com 70
Selain itu ……………….

Kebocoran dana pembangunan mencapai 45% - 50%


Pungutan tidak resmi mencapai 30% biaya produksi.
Utang terus bertumpuk, tapi korupsi juga terus meningkat.
Kurangnya akses, tranparansi dan akuntabililtas layanan publik
Corruption By Need 85% & Corruption By Greed 15%.

INDONESIA menempati posisi ”Terhormat”


sebagai NEGARA TERKORUP NO. 7 DI DUNIA
FAKTA, 2005

SUAP MERAJALELA
KEPOLISIAN, PENGADILAN,
KEJAKSAAN AGUNG, MA, KPU,
PEMERINTAH PUSAT, PROPINSI,
KAB /KOTA,KECAMATAN,
KELURAHAN, RW, RT, SWASTA,

gilangprat@yahoo.com 72
korupsi DAN TINDAK
PIDANA
KORUPSI ?????????

Gumelar Anti Korupsi gilangprat@yahoo.com


73
UU No.31 Tahun 1999 jo UU No.20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (pasal 2 ayat 1),
pengertian korupsi
dari kaidah hukum adalah setiap orang
yang secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau
orang lain, atau suatu korporasi yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara.

Korupsi didefinisikan sebagai kebiasaan berperilaku koruptif


yang selama ini dianggap wajar dan lumrah dapat dinyatakan
sebagai tindak pidana korupsi, seperti gratifikasi (pemberian
hadiah). Dalam hal merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, maka secara implisit dan eksplisit
terkandung pengertian keuangan dan kekayaan milik
pemerintah, swasta dan masyarakat, baik keseluruhan maupun
sebagian yang merupakan unsur pokok (elemen) tidak
terpisahkan dari pengertian negara atau state (ADB, 2006).
Gumelar Anti Korupsi gilangprat@yahoo.com 74
Korupsi as an extraordinary crime
Korupsi adalah kejahatan yang tidak lagi
dipandang sebagai kejahatan konvensional,
melainkan sebagai kejahatan luar biasa
(extraordinary crime), karena karakter korupsi
yang sangat kriminogin (dapat menjadi sumber
kejahatan lain) dan viktimogin (secara potensial
dapat merugikan pelbagai dimensi kepentingan).

75
Delik-delik tindak pidana KORUPSI ?
Definisi Korupsi secara gamblang dijelaskan dalam 14 buah
pasal dalam UU 31/ 1999 jo UU 20/2001
30 Bentuk / jenis TPK, dengan pengelompokan sbb:
1.  Kerugian Keuangan Negara
- Pasal 2
- Pasal 3
2.  Suap – Menyuap
- Pasal 5 ayat (1) huruf a - Pasal 11
- Pasal 5 ayat (1) huruf b - Pasal 6 ayat (1) huruf a
- Pasal 13 - Pasal 6 ayat (1) huruf b
- Pasal 5 ayat (2) - Pasal 6 ayat (2)
- Pasal 12 huruf a - Pasal 12 huruf c
- Pasal 12 huruf b - Pasal 12 huruf d

uus nata
3.  Penggelapan dalam jabatan
- Pasal 8
- Pasal 9
- Pasal 10 huruf a
- Pasal 10 huruf b
- Pasal 10 huruf c
4.  Pemerasan
- Pasal 12 huruf e
- Pasal 12 huruf g
- Pasal 12 huruf h
5.  Perbuatan curang
- Pasal 7 ayat (1) huruf a
- Pasal 7 ayat (1)huruf b
- Pasal 7 ayat (1) huruf c
- Pasal 7 ayat (1) huruf d
- Pasal 7 ayat 2
- Pasal 12 huruf h
6.  Benturan kepentingan dalam pengadaan
- Pasal 12 huruf I
7.  Gratifikasi
- Pasal 12 B jo. Pasal 12 C
uus nata
BENTUK - BENTUK TINDAK PIDANA
KORUPSI
;;

Gumelar Anti Korupsi gilangprat@yahoo.com 80


KASUS KORUPSI DI INDONESIA.

•  Kasus dugaan korupsi Soeharto: dakwaan atas tindak korupsi di tujuh


yayasan Pertamina: dalam Technical Assistance Contract dengan PT
Ustaindo Petro Gas
•  Bapindo: pembobolan di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) oleh
Eddy Tansil
•  HPH dan dana reboisasi: melibatkan Bob Hasan, Prajogo Pangestu,
sejumlah pejabat Departemen Kehutanan, dan Tommy Soeharto.
•  Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI): penyimpangan penyaluran
dana BLBI
•  Abdullah Puteh: korupsi APBD.
•  Sudjiono Timan - Dirut PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI)
•  Eko Edi Putranto - Direksi Bank Harapan Sentosa (BHS)
•  Samadikun Hartono - Presdir Bank Modern
•  Lesmana Basuki - Kasus BLBI
•  Sherny Kojongian - Direksi BHS
PENYEBAB TERJADINYA
KORUPSI (SECARA UMUM)
1.  ADANYA KETAMAKAN/KERAKUSAN
(GREEDS)
2.  ADANYA KEBUTUHAN-KEBUTUHAN
(NEEDS)
3.  ADANYA PELUANG/KESEMPATAN
(OPPORTUNITY)
4.  ADANYA KETERBUKAAN/TERBUKA
(EXPOSES).
Niat semangat dan
komitmen melakukan
pemberantasan korupsi

83
1. MENGUBAH CARA BERPIKIR
DAN MERUMUSKAN KEMBALI
SIAPA SEBENARNYA MUSUH
RAKYAT ?
2.KITA HARUS BELAJAR
MENGENALI APA ITU KORUPSI
3.KENALI HAK DAN KEWAJIBAN
KITA DALAM HUKUM

gilangprat@yahoo.com 84
IMPIAN INDONESIA
BEBAS DARI
KORUPSI
PRAKTEK VISUALISASI
INDONESIA BEBAS KORUPSI
Barang siapa yang diangkat menjadi pegawai
lalu ia menerima hadiah atau menyembunyikan
sesuatu walau sebesar jarum maka kelak ia
harus bertanggung jawab di hadapan Allah SWT
SEMAKIN JAUH DARI
KORUPSI
TUNAS INTEGRITAS
Seperti apakah manusia
tunas integritas ?
TUNAS INTEGRITAS

Manusia -manusia yang mampu menyelaraskan antara rohani


dan jasmani, dengan melakukan penyelarasan pada semua
elemen dirinya (jiwa, pikiran, perasaan, ucapan dan
tindakan) dengan nurani (standar kebaikan universal),
sehingga terbentuk perilaku integritas yang selaras pula
dengan berbagai situasi dan lingkungan (sistem dan budaya
integritas)
PERAN TUNAS INTEGRITAS

•  Menjadi jembatan masa depan kesuksesan


organisasi, mereka menjadi kumpulan orang
yang selalu terdepan untuk memastikan tujuan
organisasi tercapai.!
•  Membangun sistem integritas, berpartisipasi
aktif dalam pembangunan sistem integritas
hingga semua peluang korupsi dan berbagai
penyimpangan lainnya dapat ditutupi.!
•  Mempengaruhi orang lain, khususnya mitra
kerja untuk berintegritas tinggi!
Dalam kondisi integritas apapun,
sedang tinggi maupun rendah,
pembahasaan tunas integritas
menjadikan Anda mudah untuk
menjadi bagiannya, karena tunas
sebagai simbol kesadaran dan
pencerahan, yang bisa saja
tumbuh dari sejak awal, muda
maupun tua.

TUNAS INTEGRITAS
Pemberantasan korupsi
•  Preventif
1. Penyuluhan
2. pembentukan lembaga-lembaga
hukum(Pemerintah;Ekstra struktural; LSM)
3. Pengaturan Sistem (GG, Anggaran Berbasis Kinerja;
•  Represif
1. Penindakan (rule Of Law)
2. Penayangan
9 nilai anti korupsi
1) Jujur, 6) Kerja keras,
2) Peduli, 7) Sederhana
3) Mandiri, 8) Berani,
4) Disiplin, 9) Adil
5) Tanggung jawab,

Gumelar Anti Korupsi gilangprat@yahoo.com


Good Governance sebagai
Upaya Pencegahan Korupsi
Terkait dengan tugas Pencegahan, KPK mendorong pelaksanaan
prinsip2 good governance pada tataran administrasi Pemerintahan dari
mulai Pusat sampai ke Daerah, dalam program pencegahan korupsi
yang disebut Island of integrity
meliputi :

1.  Pelaksanaan penerapan manajemen berbasis kinerja


2.  Pelaksanaan pemberantasan korupsi pada proses pengadaan
melalui penerapan Pakta Integritas
3.  Pelaksanaan mekanisme pengaduan masyarakat
4.  Pelaksanaan peningkatan kapasitas pemerintah daerah
5.  Pelaksanaan reformasi pelayanan sektor publik
6.  Pemberian akses informasi
7.  Pelaksanaan mobilisasi publik melalui pendidikan dan
peningkatan kesadaran anti korupsi
8.  Pelaksanaan pelatihan dan bantuan teknis
9.  Pelaksanaan pertukaran informasi korupsi.
PENANAMAN
NILAI DAN INTEGRITAS
MEMBANGUN SISTEM
INTEGRITAS ANTI
KORUPSI
RE-FRAMING CULTURE

Upaya mengubah orientasi dari perilaku


korupsi yang berbentuk kolusi. Unsur-unsur
yang Membentuk kolusi baik perilaku,
ucapan, emosi,
maupun pikiran (paradigma) atau kita
sebut sebagai konten dilakukan perubahan
atau dikembalikan orientasi (konteks)
menjadi gotong royong yang sebelumnya
telah menjadi budaya yang sangat kuat di
masyarakat Indonesia.
Terdapat 7 semangat dasar
yang diharapkan dapat di tumbuhkan

1. Semangat ketakwaan pada Tuhan!


2. Semangat keikhlasan dan ketulusan!
3. Semangat pengabdian dan tanggungjawab!
4. Semangat menghasilkan yang terbaik!
5. Kekeluargaan!
6. Semangat keadilan dan kemanusiaan!
7. Semangat perjuangan!
SEEDING OF INTEGRITY

Upaya untuk menanamkan pengaruh


integritas pada bawah sadar hingga
dapat membentuk perilaku, kebiasaan
dan budaya integritas. Seakan menjadi
suatu pertempuran antara integritas
dan korupsi, saling memp
SISTEM INTEGRITAS ORGANISASI

dilakukan secara simultan sebagai


perwujudan dari upaya pencegahan
korupsi secara terintegrasi, yaitu
pendekatan perilaku dan sistem
hingga budaya.
AKTUALISASI NILAI-NILAI
DASAR ANTI KORUPSI
PENUTUP
Harapan kita kedepan, kita ingin memiliki negara
yang bebas korupsi, sehingga kita diperhitungkan
oleh bangsa-bangsa lain, Menyangkut
pemberantasan korupsi tidak akan berjalan
dengan baik tanpa didukung oleh kita sebagai
Aparatur Sipil Negara, mari mulai dari sekarang
dari diri kita sejak hari ini, kita berantas korupsi
dari lingkungan kita sendiri.
SEKIAN
TERIMA KASIH