Anda di halaman 1dari 4

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Klien : Tn. Adi


Pertemuan Ke :1

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien :
Tn. Adi dibawa keluarga pada tanggal 1 Januari 2001 ke RSJ karena pasien suka
kesal/marah-marah tidak jelas dan suka melempar barang-barang sendiri.
Data Subjektif
a. Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan
b. Klien mengatakan sering merasa marah tanpa sebab
Data Objektif
a. Klien tampak tegang saat bercerita
b. Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya
c. Mata melotot, pandangan tajam
d. Nada suara tinggi
e. Tangan mengepal
f. Berteriak

2. Diagnosa Keperawatan :
Perilaku Kekerasan

3. Tujuan Umum :
Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan secara fisik
Tujuan Khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
c. Klien dapat mengidentifikasi tanda gejala perilaku kekerasan
d. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan
e. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
f. Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan
g. Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan fisik 1: teknik
nafas dalam
h. Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.

4. Tindakan Keperawatan :
a. Bina hubungan saling percaya
b. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya
c. Bantu klien mengungkapkan penyebab perilaku kekerasan
d. Bantu klien mengungkapkan tanda gejala perilaku kekerasan yang dialaminya
e. Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini
f. Diskusikan dengan klien akibat negative (kerugian) cara yang dilakukan pada diri
sendiri, orang lain/keluarga, dan lingkungan
g. Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik :
teknik napas dalam
h. Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan didalam jadwal kegiatan harian

B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN


KEPERAWATAN
1. Salam Terapeutik :
Perawat : “Selamat pagi bapak’….perkenalkan nama saya Artisha Rizal, biasa di
panggil perawat Tisha. Kalo boleh tau bapak namanya siapa? senang
dipanggil apa ya pak?
Pasien : “Adi”
Perawat : Ohhhh……bapak senang dipanggil dengan bapak Adi, bapak saya disini
yang akan merawat bapak selama saya bertugas dari jam 8 pagi sampai
jam 2 siang nanti”. “Bagaiman perasaan bapak hari ini?”
Pasien : (Diam, ekspresi kesal dengan tangan mengepal)
Perawat : “Bapak bisa ceritakan pada saya, apa keluhan bapak saaat ini?” “Apakah
bapak masih merasa kesal?”
Pasien : “jelas dong”
Perawat : “Baiklah bapak, bagaimana kalau kita membicarakan apa yang membuat
bapak merasa kesal/marah yang tadi?”.
Pasien : “Jangan lama-lama, bosan saya di sini,”
Perawat : “Baik, Dimana tempat yang bapak suka untuk kita akan membahas ini? di
ruang tamu saja bagaimana?”.
Pasien : “iya” (dengan nada ketus)
Perawat : “Berapa lama kita akan bercakap-cakap?” “Bagaimana kalau 10 menit
saja?”
Pasien : “Baik” (dengan ketus)
Perawat : “Nah, sekarang coba Bapak ceritakan, Apa yang membuat bapak adi
merasa marah? ”
Pasien : “karena saya diselingkuhin oleh istri saya” (dengan wajah emosi)
Perawat : “Apakah sebelumnya Bapak pernah marah? Terus, penyebabnya apa?
Samakah dengan yang sekarang?”
Pasien : “pernah, entah kenapa saya selalu merasa kesal terhadap orang lain karena
saya ingat dengan istri saya yang selingkuh jadi saya teriaki mereka dan
memaki mereka”
Perawat : ““Lalu saat bapak sedang marah apa yang Bapak rasakan? Apakah Bapak
merasa sangat kesal, dada berdebar-debar lebih kencang, mata melotot,
rahang terkatup rapat dan ingin mengamuk?”
Pasien : “Iya” (mengangguk)
Perawat : “Setelah itu apa yang bapak lakukan? ”
Pasien : “Memaki dan melempar barang pada orang-orang”
Perawat : “Apakah dengan cara itu marah/kesal bapak dapat terselesaikan?”
Pasien : “tidak”
Perawat : “Ya tentu tidak, apa kerugian yang bapak adi alami?”
Pasien : “barang-barang rumah saya jadi rusak dan semua orang marah balik kesaya”
Perawat : “Menurut bapak adakah cara lain yang lebih baik?”
Pasien : “entahlah”
Perawat : “Maukah bapak belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik
tanpa menimbulkan kerugian?”
Pasien : “Bagaimana?”
Perawat : ”Jadi, ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, bapak. Salah
satunya adalah dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik, rasa marah
bapak dapat tersalurkan.”. ”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita
belajar 1 cara dulu? Namanya teknik napas dalam”
Pasien : “Iya”
Perawat : ”Begini Pak, kalau tanda-tanda marah tadi sudah bapak rasakan, maka
bapak berdiri atau duduk dengan rileks, lalu tarik napas dari hidung, tahan
sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan –lahan melalui mulut”
Pasien : (Diam)
Perawat : “Ayo Pak coba lakukan apa yang saya praktikan tadi, bapak berdiri atau
duduk dengan rileks tarik nafas dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui
mulut. Nah, lakukan 5 kali.“ “Bagus sekali, Bapak sudah bias
melakukannya”
Pasien : “terimakasih”
Perawat : “Bgaimana perasaanya pak setelah kita melakukan teknik nafas dalam
tadi?”
Pasien : “sudah sedikit lumayan tenang”
Perawat : “Nah.. bapak adi tadi telah melakukan latihan teknik relaksasi nafas
dalam, sebaiknya latihan ini bapak lakukan secara rutin, sehingga bila
sewaktu-waktu rasa marah itu muncul Bapak sudah terbiasa melakukannya”
Pasien : “Baik”
Perawat : “Bagaimana kalau kita buat jadwal latihannya? maunya jam berapa
latihannya?
Pasien : “baik, seperti saat kita latihan hari ini saja”
Perawat : “Bapak, besok kita bercakap-cakap lagi tentang cara yang kedua ya, yaitu
mencegah/mengontrol marah”. sekitar jam 09.00 wib kita akan berbincang
sekitar 10 menit ya”
Pasien : “Baik suster”
Perawat : “Baik, ika tidak ada yang ingin ditanyakan saya permisi dulu, permisi dan
selamat pagi”.