Anda di halaman 1dari 18

HORMON SOMATOSTATIN/SOMATOTROPIN

DAN METABOLISMENYA

MAKALAH

Tugas Mata Kuliah Biokimia Lanjutan

Oleh :

KELOMPOK 5

ANDI EKA KARTIKA H311 13 305

EMMI ASTUTI H311 13 306

ARISANDI H311 13 308

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2015
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah yang berjudul “Somatotropin/Somatostatin dan

metabolismenya”, yang diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Biokimia

lanjutan.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan

pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun

isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Kami sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan karena

pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada

para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk

kesempurnaan makalah ini.

Makassar, 21 April 2015

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Makhluk hidup mengalami penambahan tinggi, penambahan besar diameter.

Begitu juga manusia juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Bayi yang

baru lahir tentu berbeda dengan orang dewasa. Seiring waktu pertumbuhannya,

bukan hanya ukuran tubuh saja yang menjadi lebih besar namun hal-hal lain juga

menjadi semakin matang. Tidak seperti pada makhluk hidup lainnya, pada manusia

perkembangan bukan hanya menyangkut masalah kemampuan berkembang biak,

namun juga banyak aspek lainnya. Misalnya kemampuan berfikir dan kemampuan

emosional. Pada makalah ini kami menjelaskan bagaimana pertumbuhan dan

perkembangan pada manusia.

Hormon pertumbuhan manusia atau yang biasa disebut dengan somatotropin

atau HGH (HumanGrowth Hormon) adalah suatu hormon anabolik yang berperan

sangat besar dalam pertumbuhan dan pembentukan tubuh, terutama pada masa anak-

anak dan puberitas.Growth Hormone berperan meningkatkan ukuran dan volume dari

otak, rambut, otot danorgan-organ di dalam tubuh.HG bertanggung jawab atas

pertumbuhan manusia sejak dari kecil sampai diatumbuh besar. Selain itu, terdapat

juga, hormon yang dapat menghambat pertumbuhan dengan cara menghambat

sekresi dari somatotropin atau Growth Hormon yang disebut somatostatin atau

growth hormone-inhibiting hormone.

Berdasarkan uraian di atas, maka disusunlah makalah tentang hormon

somatotropin/ somatostatin dan metabolismenya.


B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya adalah pengaruh hormon pertumbuhan pada

manusia.
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk membahas sedikit banyaknya

tentang hormon pertumbuhan pada manusia serta hormon yang menghambat

sekresi hormon somatotropin. Semoga dengan adanya makalah ini dapat

menambah wawasan tentang hormon pertumbuhan untuk para pembaca semua.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Growth Hormon/ Somatotropin

A. Pengertian Growth Hormon/ Somatotropin


Growth hormone adalah hormone polipeptida, terdiri dari 191 asam

amino. Hormon pertumbuhan (Growth hormone = GH) atau yang disebut

juga somatotropic hormone (SH) atau hormon somatotropin adalah hormon

polipeptida yang memiliki berat molekul 22.000. waktu paruh dalam plasma

antara 15 sampai 20 menit setelah disekresikan atau diinjeksikan intra vena.

Growth hormone adalah komponen pokok yang mengontrol sebagian dari

proses fisiologis kompleks yaitu pertumbuhan dan metabolism karbohidrat,

protein, dan lemak.Hormon pertumbuhan berikatan dengan suatu protein

yang identik dengan bagian pengikat-hormon dari reseptor hormone

pertumbuhan.

Gambar 1. Hormon Pertumbuhan


B. Letak Growth Hormon/ Somatotropin
Hormon pertumbuhan diproduksi di pituattary gland, yang berlokasi pada

bagian bawah otak diantara sinus sphenoidalis pada rongga tulang yang kecil yang

disebut sella tursika. Pituattary gland mensekresi hormon dari dua lobus yang

berbeda anterior dab posterior.


Gambar 3.LetakKelenjarPituitari

Gambar 4. Kelenjar Pituitari

C. Fungsi Fisiologis dan Efek Metabolik Hormon Pertumbuhan


Hormon pertumbuhan berbeda dengan hormon-hormon lainnya, tidak berfungsi

pada organ sasarannya dan berpengaruh secara langsung terhadap seluruh atau

hampir seluruh jaringan tubuh yang memang mampu untuk tumbuh. Hormon ini

menambah ukuran sel dan meningkatkan proses mitosis yang diikuti dengan

bertambahnya jumlah sel dan diferensiasi khusus dari beberapa tipe sel tertentu

seperti sel pertumbuhan tulang dan sel otot awal.


Selain dari efek umum hormon pertumbuhan dalam menyebabkan pertumbuhan,

hormon pertumbuhan juga mempunyai efek pada proses-proses metabolisme tubuh

sebagai berikut :
1. Meningkatkan penyimpanan protein dan kecepatan sintesis protein dalam

sebagian besar sel tubuh.


2. Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan lemak, meningkatkan asam

lemak bebas dalam darah dan meningkatkan penggunaan asam lemak untuk

energi.
3. Menurunkan kecepatan penggunaan karbohidrat di seluruh tubuh
Hormon pertumbuhan meningkatkan penyimpanan protein dalam jaringan

melalui berbagai mekanisme, yaitu


a. peningkatan pengangkutan asam amino melalui membrane plasma
b. peningkatan translasi RNA menyebabkan sintesis protein oleh ribosom
c. peningkatan transkripsi nucleus DNA untuk membentuk RNA
d. penurunan katabolisme protein dan asam amino

Efek metabolik berikutnya yaitu peningkatan pemakaian lemak untuk energi

sehingga meningkatkan konsentrasi asam lemak dalam cairan tubuh. Selain itu

meningkatkan perubahan asam lemak menjadi asetil koenzim A (asetil-KoA) dan

kemudian digunakan untuk energi. Oleh karena itu, di bawah pengaruh hormon

pertumbuhan, lebih disukai memakai lemak sebagai energi daripada memakai

karbohidrat dan protein. Namun dibawah pengaruh jumlah hormon pertumbuhan

yang berlebihan, pengangkutan lemak dari jaringan lemak menjadi sangat besar

sehingga sejumlah besar asam asetoasetat dibentuk oleh hati dan dilepaskan ke dalam

cairan tubuh dengan demikian menyebabkan ketosis. Pengangkutan lemak yang

berlebihan dari jaringan lemak ini juga sering menyebabkan perlemakan hati.

Hormon pertumbuhan menyebabkan berbagai efek yang mempengaruhi

metabolism karbohidrat, meliputi :

1. mengurangi ambilan glukosa di dalam jaringan seperti otot skeletal dan lemak
2. meningkatkan produksi glukosa oleh hati
3. meningkatkan sekresi insulin
Setiap perubahan tersebut disebabkan oleh resistensi insulin akibat pengaruh

hormon pertumbuhan yang melemahkan kerja insulin dalam merangsang

pengambilan dan pemakaian glukosa di dalam otot skeletal dan lemak, dan dalam

menghambat glukoneogenesis (produksi glukosa) oleh hati. Keadaan ini


menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa darah dan peningkatan kompensasi

sekresi insulin. Karena alasan inilah efek hormon pertumbuhan disebut diabetogenik,

dan sekresi hormon pertumbuhan yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan

metabolik yang sangat mirip dengan gangguan metabolik pada pasien diabetes tipe II

(tidak tergantung insulin) yang juga sangat resisten terhadap efek metabolik insulin.
Efek hormon pertumbuhan terhadap pertumbuhan kartilago dan tulang

meliputi:
1. peningkatan timbunan protein oleh sel kondrositik dan sel osteogenik yang

menyebabkan pertumbuhan tulang


2. meningkatkan kecepatan reproduksi sel-sel ini
3. efek spesifik dalam mengubah kondrosit menjadi sel osteogenik, sehingga

menyebabkan timbunan tulang yang baru.


Hormon pertumbuhan memperlihatkan keseimbangan positif untuk N, P, Na,

K, Ca dan Cl, unsur-unsur terpenting untuk membangun jaringan baru. Nitrogen

terutama terdapat dalam asam amino dibawah pengaruh hormone pertumbuhan

jumlah asam amino yang dibawa ke dalam jaringan untuk membentuk protein

meningkat, sehingga kadar N dalam darah (urea) menurun, sesuai dengan efek

anaboliknya.
Baik pada anak-anak ataupun dewasa, hormon pertumbuhan mempunyai efek

anabolik pada otot dan katabolik pada sel-sel lemak sehingga terjadi peningkatan

masa otot dan pengurangan jaringan lemak terutama di daerah pinggang. Terhadap

Metabolisme karbohidrat, hormon pertumbuhan dan IGF-1 sama-sama mempunyai

efek yang berlawanan pada sensitivitas terhadap insulin.


D. Sekresi Growth Hormon/ Somatotropin

Sekresi hormone pertumbuhan secara fisiologis diatur oleh hipotalamus

faktor penglepas hormon pertumbuhan (GHRF = Growth Hormone Releasing Factor)

yang merangsang sekresi hormon pertumbuhan. Selain itu dalam hipotalamus juga

dijumpai Stomatosatin (GH-RIH = growth hormone releasing inhibator hormone)


yang menghambat sekresi beberapa hormone antara lain hormone pertumbuhan.

Dengan demikian, hipotalamus memegang peran dwifungsi dalam pengaturan

hormone ini.

Gambar5.Mekanismekontrolsekresigrowth hormone

Pelepasan GH juga diregulasi oleh respon neurohormonal. Rangsangan

kolinergik meningkatkan sekresi GH dengan menghambat pelepasan somatostatin,

sedangkan rangsangadrenergik memiliki efek yang berlawanan. Respon perifer juga

mempengaruhi sekresi GH. Ini dapat terjadi melalui somatostatin yang

jugadiproduksipadajaringanlainatauhormonghrelin yang diproduksi di lambung.

Ghrelin dapatmemicuselsomatotrofuntukmemproduksi GH.Hormon-hormon lain

yang dapatmempengaruhi GH adalahkortisol, thyroid releasing hormone (TRH),


leptin, seks steroid, danhormontiroid. Kortisoldan TRH dapatmenghambatsekresi GH

sedangkanhormontiroiddanseks steroid memicupelepasan GH.Keadaan-

keadaansepertiaktivitas fisik, starvasi, anoreksia, stresdanjumlah jam tidur dapat

menstimulasi sekresi GH.Sedangkan depresi, hiperglikemia, dan obesitas

menurunkan GH basal, tetapi menstimulasi sekresi GH.

Growth hormone sendiri menghambat pelepasannya melalui mekanisme

umpanbalik. Hal ini terjadi melalui beberapa jalur yang diperankan oleh GH

maupunInsulin like growth factor (IGF-

1).Selsomatotrofdapatdihambatsecaralangsungmelaluirangsanganproduksi IGF- 1

lokalmaupunmelaluihambatanpada GHRH danstimulasisomatostatinoleh

GH.Mekanismelainnyaadalahmelalui IGF-1 yang sebagianbesardiproduksi di

hatiakibatrangsangan GH. Insulin like growth factor

tersebutdapatmenghambatsintesis GHRH

danmerangsangsintesissomatostatin.Mekanismekontrolsekresi GH

dapatdilihatpadaGambar 5.

Pengaruh GH terhadap proses fisiologitubuhsangatkompleks. Growth

hormone adalahkomponenpokok yang mengontrolsebagiandari proses

fisiologiskompleksyaitupertumbuhandan metabolism karbohidrat, protein, danlemak.

Ada duamekanisme GH dalambekerja, yaitusecaralangsungdantidaklangsung:

1. Secaralangsung

Secaralangsung GH menyebabkanlipolisis, meningkatkantransportasiasam

amino kejaringan, sintesis protein danglukosa di

hatisertabeberapaefeklangsungpadapertumbuhantulangrawan.

2. Secaratidaklangsung
Secaratidaklangsung GH bekerjamelalui IGF-1 yang

dihasilkanolehberbagaijaringansebagairesponterhadap GH.IGF-1

dalamsirkulasiterikatpada 6 spesifi c binding

poteindalambeberapakombinasi.IGFbinding protein (IGFBP) yang utamaadalah

IGFBP-3 yang merupakan 95 % darisemuabinding protein.Jaringan yang

memproduksi IGF-1 antaralainhati, otot, tulang, tulangrawan, ginjaldankulit.

Sebagianbesar IGF-1 yang dilepasdisirkulasiberasaldarihati.

E. DefisiensiGrowth Hormon/ Somatotropin


Faktor- faktor yang berperandalampatofisiologidefisiensi GH, antara lain:
1. Adiposity
Keadaanobesitasdapatmenyebabkanpenurunansekresi GH,

tidakhanyapadausiatuanamunjugapadausiamuda,

terutamapadaobesitassedangdanberat.
2. Berkurangnyaproduksihormonseks steroid
Penurunankadar estrogen

padawanitadantestosteronpadapriadapatmempengaruhisekresi GH.
3. Kebugaranfisik yang menurun
Kapasitasaerobikmempunyaihubungandengankonsentrasi serum GH 24 jam.
4. Tidurterganggu
Sekresi GH dapatdipengaruhipolatidur yang

berubahkarenaterjadinyaterutamaselamatidurdalamgelombanglambat(slow-

wave sleep).
5. Malnutrisi
Status nutrisi yang rendahberpengaruhnegatifterhadapsintesisdandayakerja

IGF-1.

Kekurangan hormon pertumbuhan dapat disebabkan oleh efek pada hipofisis anterior

(hiposekresi) atau pun sekunder yaitu disfungsi hipotalamus (defisiensi GHRH).

1. Akibat dari kekurangan hormon ini pada masa anak-anak yaitu cebol (dwarfism).

Gambaran utamanya yaitu perawakan yang pendek karena retardasi pertumbuhan

tulang. Gambaran penunjang antara lain: gangguan pertumbuhan otot akibat


penurunan sintesis protein otot, mobilisasi lemak sub kutis yang minim.

Pertumbuhan anak tidak sesuai dengan rentang umur yang tepat, contohnya:

ketika berumur 10 tahun, mempunyai tinggi badan yang seharusnya dimiliki oleh

anak berumur 5 tahun.


2. Selain itu dikenal tipe kelainan lain yaitu cebol laron (laron dwarfism). Pada

kelainan ini, gambaran yang tampak pada penderita sama dengan penderita

dengan defisiensi hormon pertumbuhan. Tetapi, pada penderita cebol laron ini,

kadar hormon pertumbuhan dalam darahnya adekuat seperti orang normal. Cebol

laron seperti yang telah dibahas diatas disebabkan karena sensitivitas reseptor

hormon pertumbuhan menurusn sehingga efek dari hormon tersebut tidak tercapai

secara optimal.Selain itu, cebol laron ini memiliki jenis lain dimana disebabkan

oleh defisiensi somatomedin. Dwarfism berkaitan dengan pubertas dimana

mempengaruhi sekresi hormon gonadotropin. Apabila defisiensi hormon

pertumbuhan sangat parah, penderita bisa mengalami kegagalan untuk pubertas.

Akan tetapi, konsentrasi hormon pertumbuhan berada di bawah kadar fisiologis

mengalami keterlambatan pubertas.


Defisiensi GH menunjukkangejala yang menyerupaigejala yang

identikdengankeluhan-keluhanumum yang dialamipadapenuaan.Padalaki-laki,

penuaandandefisiensigrowth hormone sama-samaberhubungandenganpenurunan

protein sintesis, massabebaslemak,dan mineral tulangsertapeningkatanlemaktubuh.

Gejaladantandaadanyapenurunan GH antara lain:


 Status kesehatansecaraumumdirasakanmenurun
 Gangguankenyamanansecarapsikologis, perasaantertekan, kecemasan,

emositidakstabil
 Kelelahan
 Berkurangnyaenergidanvitalitas
 Kulit tipis dankeringdenganekstremitasterasadingin
 Berkurangnyamassabebaslemak
 Volume cairanekstraselulerberkurang
 Bertambahnyalemak total dan di daerahperut
 Berkurangnyakekuatanototdankapasitasberolahraga
 Berkurangnyadensitas mineral tulang
 Penurunankolesterolhigh density lipoprotein (HDL)
 Peningkatankolesterollow density lipoprotein (LDL)
 Penurunanalirandarahginjal
 Penurunanbasal metabolic rate
 Penurunanambanganaerohik
F. Hiper sekresi Growth Hormon/ Somatotropin
Bilakelebihanhormoniniterjadipadamasapertumbuhanakanmengakibatkanpertum

buhan yang tidakterkendali/menjadilebihcepat. Pertumbuhan yang

sepertiinidikenaldengangigantisme.Jika terjadi pada masa anak-anak, gejala yang

nampak adalah adalah tinggi yang sangat mencolok (lebih dari 2 meter). Tinggi yang

bertambah sangat signifikan ini tanpa mengganggu proporsi tubuh. Kelebihan

hormon ini juga mengakibatkan otot yang membesar dan jaringan-jaringan lain ikut

tumbuh besar melebihi kapasitas saat normal. Oleh karena itu terapi yang diberikan

pada penderita gigantisme ini adalah pengangkatan tumor penyebab (utama) dan

pemberian somatostatin (tambahan).

Sedangkanbilakelebihanhormoniniterjadipadamasadewasaakanmengakibatka

npertumbuhan yang tidak normal padabeberapabagian organ tubuh. Hal yang paling

terlihatadalahpertumbuhanjaritangan yang tidak normal,

sepertimembesarsepertibengkaksertarautwajah yang kelihatanlebihtebalkulitnya,

dagumemanjang.Pertumbuhan yang sepertiinidikenaldenganakromegali.

Akromegali ditandai dengan pembesaran ukuran tulang selain tulang pipa.

Gejala yang tampak antara lain: penonjolan tulang rahang dan pipi, jari-jari tangan

dan kaki menebal, sinus paranasalis dan sinus frotalis menjadi besar, tonjolan

supraorbita menjadi semakin nyata, dan terjadi deformitas mandibula di sertai

timbulnya prognatisme (rahang yang menjorok kedepan) dan gigi geligi tidak dapat

menggigit. pembesaran mandibula menyebabkan gigi-gigi akan menjadi renggang,


lidah juga menjadi membesar sehingga penderita sulit untuk berbicara, suara menjadi

lebih dalam akibat penebalan pita suara Komplikasi dari kelainan ini adalah

gangguan pada saraf perifer dimana terjepitnya saraf-saraft tertentu saat pertumbuhan

tulang yang berlebihan. Komplikasi lainnya berupa: gangguan penglihatan dan

hipopituitarisme. Gangguan penglihatan disebabkan posisi kelenjar hipofisis

berdekatan dengan kiasma optikus; pertumbuhan berlebihan menekan daeerah

kiasma ini. Tumor dapat berkembang merusak jaringannya sendiri. Jika dibiarkan

dalam waktu yang relatif lama, kelenjar hipofisis akan rusak sendiri (sangat

mengancam hidup manusia).

2.2 Somatostatin
Pankreas terdiri dari dua jenis jaringan utama yakni (1) Acini, yang

menyekresi getah pencernaan ke dalam duodenum, dan (2) pulau-pulau

Langerhans, yang langsung menyekresi insulin dan glukagon ke dalam darah.

Pankreas manusia mempunyai 1 sampai 2 juta pulau Langerhas, setiap pulau

Langerhans hanya berdiameter 0,3 mm dan tersusun mengelilingi pembuluh

kapiler kecil yang merupakan tempat hormon disekresi oleh sel-sel tersebut.

Pulau Langerhans mengandung tiga jenis sel utama, yakni sel alfa, beta, dan

delta, yang dapat dibedakan satu sama lain melalui ciri morfologi dan

pewarnaannya.
Sel alfa, yang kira-kira mencakup 25 % dari seluruh sel, menyekresi

glukagon. Sel beta, yang kira-kira mencakup 60 % dari semua sel pulau,

terutama berada di bagian tengah setiap pulau dan menyekresi insulin dan

amilin. Sel delta, yang kira-kira mencakup 10 % dari seluruh sel, menyekresi

somatostatin. Untuk lebih jelasnya, dilihat pada gambar.

Pada pembahasan kali ini, kami lebih menjelaskan mengenai somatostatin.

Somatostatin (bahasa Inggris: growth hormone-inhibiting hormone, somatotropin

release-inhibiting factor, GHIH, SRIF) adalah hormonpeptida yang mengendalikan

sistem endokrin dan berpengaruh terhadap transmisi sinyal saraf dan perkembangan

seltubuh. GHIH mempunyai dua bentuk dari ir4isan sebuah preproprotein, satu

dengan 14 asam amino dan 28 asam amino.

Somatostatin pertama kali diisolasi dari hipolatalamus sebagai faktor yang

menghambat sekresi “growth hormone/somatotropin”. Merupakan peptida siklik

yang disekresi oleh dan disintetis di dalam sel D pulau Langerhans pada pankreas.
Selain di di pulau Langerhans somatostatin dijumpai di hipotalamus, jaringan

gastrointestinal, dan sistem saraf pusat (mungkin sebagai neurotransmiter).

Somatostatin terdapat dalam konsentrasi lebih tinggi pada pulau pankreas daripada

hipotalamus. Prohormon somatostatin yang besar (BM kira-kira 11.500) mula-mula

diproses menjadi menjadi peptida 28 asam amino dan akhirnya menjadi molekul

yang mempunyai berat molekul 1.640 dan berisi 14 asam amino.

Adapun peran dari somatostatin:

1. Somatostatin menghambat sekresi hormon pertumbuhan


2. Menghalangi ketosis pada kondisi defisiensi akut insulin (menghambat

kerjaglukagon untuk lipolisis saat kondisi insulin rendah)


3. Mengurangi pengangkutan nutrien dari traktus gastrointestinal ke dalam sirkulasi

darah, karena:
 hormon ini memperpanjang waktu pengosongan lambung
 mengurangi sekresi gastrin, sehingga produksi asam lambung menurun
 mengurangi sekresi kelenjar eksokrin pankreas (enzim pencernaan)
 mengurangi aliran darah splanknikus
 memperlambat absorbsi gula

Somatostatin memiliki efek penghambat sebagai berikut:

 Bekerja secara lokal di dalam pulau langerhan guna menekan sekresi insulin

dan glukagon.
 Menurunkan gerakan lambung, duodenum, dan kandung empedu.
 Mengurangi sekresi dan absorbsi dalam saluran cerna.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengaruh hormon pertumbuhan atau growth hormone (GH) pada tubuh

manusia yaitu dapat meningkatkan ukuran dan volume dari otak, rambut, otot

dan organ-organ di dalam tubuh. HG bertanggung jawab atas pertumbuhan

manusia sejak dari kecil sampai dia tumbuh besar.


3.2 Saran
Untuk menambah wawasan hendaknya pembaca menggunakan buku yang lain
sebagai bahan referensi. Mencari dan mengidentifikasi hormon-hormon
pertumbuhan sehingga dapat diketahui jenis hormone pertumbuhan yang
memiliki tingkat bioaktivitas yang optimum.
DAFTAR PUSTAKA

Alam I. G., 2011, Endokrin, (Online), (http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/


Jur._Pend._Kesehatan/hormon_pankreas.pdf)diakses pada tanggal 20 April
2015 pukul 22.11 Wita.

Anonim, 2009, Hormon Pankreas & Traktus Gastrointestinal, (Online),


(http://blogs.unpad.ac.id) diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 19.11
Wita.

Guyton, A. C., dan Hall, J. E., 2014, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi
Keduabelas, Saunders Elsevier, Singapore.

Martin, D. W., Mayes, P. A., Rodwell, V. W., dan Granner, D. K., 1987, Biokimia
Harper Edisi 20, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
.
Nayaarista, 2012, SOMATOSTATIN & POLIPEPTIDA PANKREAS, (Online),
(https://euphorbiahirta.wordpress.com) diakses pada tanggal 21 April 2015
pukul 19.18 Wita.