Anda di halaman 1dari 2

Jakarta, 6 April 2018-- Wamena merupakan surga dan

mutiara di pedalaman pegunungan tengah Papua. Kota yang


terletak di lembah Baliem dan dialiri oleh sungai Baliem serta
diapit pegunungan Jayawijaya di sebelah selatannya memiliki
ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut. Kota
Wamena masih memiliki udara yang segar dan jauh dari
polusi udara seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Dari ceritera rakyat yang berkembang di tanah Papua, nama


Wamena seperti yang dikenal seperti sekarang ini dahulu
bernama Ahumpua, namun kedatangan bangsa berkulit putih
telah mengubah nama Ahumpua menjadi Wamena. Berikut
Asal Muasal Wamena seperti diunggah di web
dongengceritarakyat.com.

Dahulu, ada sebuah daerah bernama Ahumpua. Saat itu,


warga Ahumpua belum mengenal ilmu pengetahuan. Mereka
tidak mengenal Tuhan. Kepercayaan mereka tertuju pada
benda-benda gaib.

Setiap hari, anak-anak gadis di Ahumpua mempunyai


kewajiban menjaga anak babi dari pagi sampai siang di
pinggir Kali Baliem. Setelah itu, mereka akan mandi di sana.
Suatu hari ketika sedang mandi, mereka melihat seseorang
berkulit putih melintas di pinggir kali. Gadis-gadis kecil itu
pun berteriak.

"Eye! Eye! Eye! Ap Huluan! Ap Huluanl" teriak mereka. Eye


artinya minta tolong untuk menyelamatkan diri, sedangkan
Ap Huluan maksudnya orang berkulit putih. Lalu, gadis-gadis
itu lari ketakutan ke hutan. Hanya ada satu orang gadis yang
berani dan tetap tinggal di sana. Gadis ini berani menghadapi
Ap Huluan.

Mengetahui gadis-gadis itu takut kepadanya, Ap Haluan


berdiri agak jauh dan memberikan salam dengan bahasa
'isyarat dari kejauhan. Ia bermaksud mengatakan agar jangan
khawatir dan jangan takut. Sayangnya, gadis tersebut tidak
mengerti.
Akhirnya, Ap Haluan mendekati gadis itu dan mengajaknya
berjabat Langan.
"Apakah nama tempat ini?" kata Ap Haluan.

Tiba-tba saja, muncul seekor anak babi. Gadis tersebut


mengira Ap Haluan menanyakan anak babi.

"Tu Wamena," kata gadis itu. Wamena dalam bahasa Baliem


berarti anak babi.
Ap Haluan menganggukkan kepalanya dan mencatat nama
daerah tersebut sebagai Wamena. Mereka tidak menyadari
bahwa mereka telah salah pengertian.

Kemudian, mereka berjalan berpisah arah. Gadis tersebut lari


menemui orangtuanya dan menceritakan apa yang terjadi.
Para orangtua bermaksud mengejar Ap Haluan, tetapi
mereka tidak dapat menemukan orang berkulit putih itu.

Suatu saat, tentara Belanda datang dan menguasai Ahumpua.


Orang-orang tersebut menetap disana dan membangun
rumah-rumah menjadi sebuah perkampungan. Nama daerah
yang sebelumnya Ahumpua, kemudian diganti menjadi
Wamena yang berarti anak babi.
Wamena merupakan satu-satunya kota terbesar yang terletak
di pegunungan tengah Papua. Wamena berasal dari bahasa
Dani yang terdiri dari dua kata Wa dan Mena, yang berarti
Babi Jinak.