Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PEMBELAJARAN BIMBINGAN DAN KONSELING

“ ADAB/ETIKA PELAKSANAAN KONSELING ”

Dosen Pengajar : Febriany, M.A

Disusun Oleh :1. Muhammad Tafrikhan

2. Tri Hartati

Kelas : PAI V B

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA

( IAINU ) KEBUMEN

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji
syukur kami panjatkan kepada Allah yang melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya
kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul ‘Adab
Pelaksanaan Konseling‘’tanpa ada halangan suatu apapun meskipun masih banyak
kekurangan – kekurangan, baik isi maupun maupun cara penyusunan kalimatnya. Sholawat
serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw.
Yang kita nantikan syafaatnya di hari akhir. Amin

Terima kasih kami mengucapkan kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan berupa referensi dalam pembuatan makalah ini. Dan juga kami membutuhkan kritik
dan saran dari pembaca, karena kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan
keterbatasan kemampuan. Sehingga bisa membantu dan membangun guna menyemputnakan
makalah ini.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih

Kebumen, 16 Oktober 2019


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan professional, oleh
sebab itu harus dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah atau asas-asas tertentu.
Dengan mengikuti kaiadah –kaidah atau asas-asas tersebut diharapkan efektifitas dan
efesiensi proses bimbingan dan konseling dapat tercapai
Etika atau adab pelaksanaan konseling berarti suatu aturan yang harus
dilakukan oleh seorang konselor dan hak-hak klien yang harus dilindungi o;eh
seorang konselor.
B. Tujuan
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini yaitu :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah ”Pembelajaran Bimbingan dan
Konseling”
2. Untuk menambah pengetahuan tentang adab atau etika pelaksanaan
konseling
3. Dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai
seorang konselor
C. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalhnya adalah :
1. Apa yang dimaksud adab bimbingan konseling Islam?
2. Apa itu adab/etika pelaksanaan konseling umum
3. Pengertian Adab/Etika professional konseling menurut agama islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Adab Bimbingan Konseling islam
Menurut Al-Attas secara etimologi adab berasal dari bahasa arab yaitu
addaba-yu’addibu-ta’dib yang telah di terjemahkan oleh al-Attas sebagai
“mendidik atau pendidikan”.1 Dalam kamus Al-Munjid dan Al-Kautsar adab
dikaitkan dengan akhlak yang memiliki arti budi pekerti, perangai, tingkah laku
atau tabi’at sesuai dengan nilai-nilai agama islam. 2 Sedangkan, dalam bahasa
yunani adab disamkan dengan kata Ethicos atau Ethos, yang artinya kebiasaan,
perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian
berubah menjadi etika.3
Menurut Hunsen dalam Siti Hartinah (2006: 49), etika atau etik merupakan
standar tingkah laku sesorang atau satu kelompok orang, yang didasarkan atas
nilai-nilai yang disepakati. Setiap kelompok profesi pada dasarnya merumuskan
standar tingkah lakunya yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan
tugas dan kewajiban professional. Standar tingkah laku professional itu di
terjemahkan dari nilai-nilai hubunganya dengan orang lain, klien, dan masyarakat.

Sedangkan konseling, menurut Ahmad Jurtika Nurihsan (2006: 10) yitu upaya
membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor
dan konseli agar konseli mampu memahami dan menentukan tujuan berdasrkan
nilai yang di yakininya sehingga konseli mampu memahami merasa bahagia aatau
tenang dan efektif perilakunya.

Jadi dapat kami simpulkan adab pelaksanaan konseling ialah suatu aturan yang
harus dilakukan oleh seorang konselor dan hak-hak klien yang harus di lindungi
oleh seorang konselor.
B. Adab/Etika pelaksanaan konseling umum
Tidak bisa di pungkiri bahwa konseling merupakan pekerjaan professional,
maka dari itu kerjanya di atur dalam sebuah kode etik yang jelas. Setiap pekerjaan
professional pada dasarnya memiliki kode etik ini, setiap anggota professional itu

1 Al-attas,Konsep Pendidikan Dalam Islam. Terj. Dari bahasa inggris oleh Haidar Bagis(Bandung:Mizan,1996),
h.60.

2 Luis Ma’ruf, Kamus Al-Munjid, Al-Maktabah Al-Katulikiyah (Beirut, tt), h.194; Husin Al-Habsyi. Kamus Al-
Kautsar (Surabaya: Assegraff,tt), h. 87.

3 SahlilunA. Nasir, Tinjauan Akhlak, Cet. 1(Surabaya: Al-Ikhlas, 1991), h.14.


harus mempelajari sekaligus melakukan pekerjaanya sesuai dengan ketentuan
yang ada pada kode etik. Pelanggaran terhadap kode etik adalah suatu yang tidak
di harapkan dan pelanggaran terhadap kode etik itu disebut tindakan yang
malpraktik.

Ada 4 adab atau etika professional konseling secara umum, yakni;

1. Professional Responsbility
Selama proses konseling berlangsung seorang konselor harus bertanggung
jawab terhadap klienya dan dirinya sendiri. Ada berapa hal yang harus di
perhatikan:
 Responding fully, artinya konselor harus bertanggung jawab untuk
memberi perhatian penuh terhadap klienya selama proses konseling
 Terminating appropriately, yaitu kita harus bias melakukan terminasi
(menhentikan proses konseling) secara tepat
 Evaluating the Relationship, yakni relasi antara konselor dan klien
haruslah relasi yang terapeutik namun tidak menghilangkan yang personal
 Counselor’s responsibility to themselves, artinya konselor harus harus
dapat membangun kehidupanya sendiri secara sehat sehingga ia sehat
secara spiritual, emosional, dan fisikal.
2. Confidentiality.
Artinya bahwa seorang konselor harus bias menjaga kerahasiaan konseli.
Ada beberapa hal yang perlu penjelasan dalam etika ini, yaitu dinamakan
privileged Communications, yakni konselor secara hokum tidak dapat dipaksa
untuk membuka percakapannya dengan klien, namun untuk kasus-kasus yang
dibawa ke pengadilan, hal seperti ini bias bertentangan dari aturan itu
senddiri. Dengan demikian tidak ada kerahasian yang absolute.
3. Conveying Relevant Informtion To the Person in Counseling
Maksudnya klien berhak mendapatkan informasi mengenai konseling yang
akan mereka jalani, informasi tersebut adalah;
 Counselor qualification: konselor harus memberikan informasi
tentang kualifikasi atau keahlian yang ia miliki.
 Counseling consequences: konselor harusmemberikan informasi
tentang hasil yang dicapai dalam konseling dan efek samping dari
konseling.
 Time involved in counseling : konselor harus memberikan informasi
kepada klien berapa lama proses konseling yang akan dijalani oleh klien.
Konselor harus bisa memprekdisikan setiap kasus membutuhkan beberpa
kali pertemuan. Misalnya konselor dan klien bertemu seminggu sekali
selama 15 kali, kemudian sebulan sekali, dan setahun sekali.
 Alternative to consoling : konselor harus memberikan informasi
kepada klien bahwa konseling bukanlah satu-satunya jalan untuk sembuh,
ada factor lain yang berperan dalam penyembuhan, misalnya : motivasi
klien, natur dari problem, dan lain-lain.
4. The Counselor Influence.
Yakni konselor mempunyai pengaruh yang besar dalam relasi konseling,
sehingga ada beberapa hal yang perlu konselor waspadai yang akan
mempengaruhi proses konseling dan mengurangi efektifitas konseling. Hal-hal
tersebut adalah :
 The counselor needs : kebutuhan-kebutuhan pribadi seorang konselor
perlu dikenali dan diwaspadai supaya tidak mengganggu efektifitas
konseling.
 Authority : pengalaman konselor dengan figure otoritas juga perlu
diwaspadai karena akan mempengaruhi proses konseling jika kliennya juga
figure otoritas.
 The counselor’s moral and religious values : nilai moral dan religious
yang dimiliki konselor akan mempengaruhi persepsi konselor terhadap
klien yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ia pegang.
C. Adab/Etika Konseling Menurut Agama Islam
Ada sejumlah tingkah laku konselor yang perlu memperoleh perhatian dan ini
berkaitan dengan aspek nilai-nilai klien. Menurut Siti Hertinah (2006 : 47).
Tingkah laku ini misalnya soal sentuhan dengan klien berbeda jenis kelamin. Soal
itu sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai yang berlaku, khususnya dimasyarakat
kita. Sebagian klien menganggap tidak tepat jika konselor yang berlawanan jenis
melakukan sentuhan jasmaniyah, misalnya jabatan tangan dan menepuk-nepuk
diatas bahu. Selain itu ada sebgaian klien yang menganggap bahwa cara-cara
demikian ini menunjukkan penerimaan yang baik dari konselor kepada kliennya.
Menghadapi hal demikian, konselor perlu memahami nilai-nilai yang dianut oleh
klien, untuk menjaga agar konselornya tidak melakukan tindakan-tindakan yang
dianggap “aneh” atau bertentangan dengan nilai-nilai yang dianutnya.
Dengan demikian perlu dipahami bahwa pada sebagian masyarakat Indonesia ,
ada yang beranggapan bahwa kontak laki-laki dan perempuan pada ruang
tertutup sebagaimana yang diselenggarakan dalam hubungan konseling dilarang
dalam hukum agamanya. Jika kita menjumpai klien yang tidak bersedia di
konseling karena lawan jenis, yang hal ini didasarkan atas nilai-nilai yang
dianutnya, tidak perlu menjadi persoalan bagi konselor. Konselor perlu
mencarikan koleganya yang lebih dapat diterima oleh klien. Konselor tidak dapat
memaksakan kehendaknya sendiri kepada klien. Keberhasilan konseling selain
ditentukan oleh strategi yang digunakan oleh konselor juga pada penerimaan
klien terhadap pribadi konselor.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan materi yang telah disajikan diatas, dapat disimpulkan bahwa adab
pelaksanaan konseling ialah suatu aturan yang harus dilakukan oleh seorang
konselor dan hak-hak klien yang harus di lindungi oleh seorang konselor.
Dilihat dari segi umum, konseling merupakan pekerjaan professional, maka
dari itu kerjanya di atur dalam sebuah kode etik yang jelas. Setiap pekerjaan
professional pada dasarnya memiliki kode etik ini, setiap anggota professional itu
harus mempelajari sekaligus melakukan pekerjaanya sesuai dengan ketentuan
yang ada pada kode etik. Pada konseling agama, konselor perlu memahami nilai-
nilai yang dianut oleh klien, untuk menjaga agar konselornya tidak melakukan
tindakan-tindakan yang dianggap “aneh” atau bertentangan dengan nilai-nilai
yang dianutnya. Soal-soal yang berkaitan dengan nilai-nilai ini misalnya jabatan
tangan dan menepuk-nepuk diatas bahu. Hal ini sangat erat kaitannya dengan
nilai-nilai yang berlaku, khususnya dimasyarakat kita. Untuk itu, memahami etika
sangat dibutuhkan dalam melakukan suatu konseling.
DAFTAR PUSTAKA

-Al-attas,1996.Konsep Pendidikan Dalam Islam. Terj. Dari bahasa inggris oleh Haidar
Bagis.Bandung:Mizan.

-Luis Ma’ruf, Kamus Al-Munjid, Al-Maktabah Al-Katulikiyah (Beirut, tt), h.194; Husin Al-Habsyi. Kamus
Al-Kautsar.Surabaya: Assegraff,tt.

-SahlilunA. Nasir, 1991.Tinjauan Akhlak, Cet. 1.Surabaya: Al-Ikhlas.

-Hartinah, Siti.2006. Konseling Agama. Tegal: Universitas Pancasakti.

-Juntika, Nurihsan. Achmad.2006.Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan.


Bandung: Refika Aditama.