Anda di halaman 1dari 3

Jujur saja, pada saat itu saya tidak suka membaca.

Di tahun itu juga, saya berusaha


untuk menjadi relawan sebuah TBM di Bekasi untuk menggaungkan gerak literasi.
Padahal, saya nggak suka baca, loh. Untuk arti kata literasi itu sendiri pun saya tidak
tahu. Lantas apa yang saya tahu? Ya, saya cuma tahu hore-horenya aja.

Saya sempat sok-sokan memotret buku lalu mengunggah di media sosial sambil
menulis caption “salam literasi”. Logikanya gimana coba? Nggak suka baca tapi
mengajak orang untuk suka baca. Apakah buku itu benar-benar saya baca
sepenuhnya? Tentu saja tidak. Eh, saya baca, deh. Bagian sampul
belakangnya doang, sih. Hehehee.

Lain hari dalam kegiatan di TBM itu, ada beberapa teman yang mengobrol tentang
Mojok. Saya nimbrung, tapi hanya menyimak. Apa yang saya dapatkan tentang
Mojok? Ada bermacam-macam penilaian. Teman yang satu bilang Mojok adalah
media satire. Teman yang satunya lagi bilang Mojok itu media sarkas, dan teman
yang lainnya sampai bilang kalau Mojok itu media kafir. OMG, media kafir, Bosque~

Ada yang bilang Mojok juga media yang tidak berimbang dan lebih memihak kepada
salah satu kubu politik. Penilaian terhadap Mojok ini seolah sudah sistematis,
terstruktur, dan massif. Lalu dengan mudah dan klise hal itu disampaikan kepada
khalayak. Lantas apakah saya langsung percaya? Tentu saja tidak.

Kemudian, saya mencoba tabayun sebelum ikut serta untuk menghakimi —yang
kata teman-teman saya— media satier, media sarkas, sampai media kafir ini.
Saya searching di Mbah Google. Keluarlah banyak tulisan yang ada di Mojok. Saya
pilih asal saja. Random. Lalu saya membaca-baca beberapa tulisan. Saya ingat
betul tulisan pertama yang saya baca adalah tulisannya Rusdi Mathari dalam serial
Cak Dlahom.

Sialnya, saya malah ketagihan. Alih-alih mendapat sesuatu untuk dighibahkan


bersama teman-teman, saya malah dapat sesuatu yang menyenangkan untuk
dibaca. Selanjutnya saya semakin tekun membaca serial Cak Dlahom. Meskipun
tidak secara runut dan lengkap. Di lain waktu, teman saya —seorang perempuan—
memberi pinjaman sebuah buku yang berjudul Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh.

“Kamu coba baca buku ini, deh!” Katanya, sambil menyodorkan buku Drama Itu
Berkisah Terlalu Jauh.

“Puthut EA?”

“Dia itu kepala sukunya Mojok. Coba aja baca, deh.”

Oke. Saya mengiyakan. Lalu mencicipi barang satu sampai tiga halaman. Lagi-lagi,
saya ketagihan. Saya begitu menikmati serangkaian kisah pada setiap cerpen-
cerpen yang tersaji dalam buku ini. Dari buku ini saya mulai stalking Puthut EA di
Facebook. Lanjut baca-baca tulisannya di Mojok.

Baca Juga: Papua Oh Papua


Setelah bukunya Puthut EA, saya dapat pinjam lagi sebuah buku yang
berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Setelah membaca buku karya Rusdi
Mathari, nyaris saja saya jatuh hati dengan media —yang katanya— satier, media
sarkas, sampai media kafir ini.

Wah, kalau begini, semakin lengkap saja saya membaca serial Cak Dlahom.
Padahal, awalnya secara tak sengaja saya temukan dari hasil pencarian dengan niat
untuk ghibah bersama. Perlahan niatan itu luntur berkat serangkaian kisah sufi dari
Madura itu. Saya malah semakin tersesat dan mencari jalan keluar dalam sebuah
pertanyaan: Mojok ini media apa, sih?

Rasanya teman-teman di dalam sebuah TBM itu tidak cocok untuk tempat berbagi
cerita mengenai Mojok. Sebab saya punya penilaian yang berbeda dari mereka.
Kemudian, saya mengajak teman yang meminjamkan bukunya pada saya untuk
berbincang tentang Mojok.

Banyak hal kami bahas. Mulai dari tulisan di Mojok hingga tulisan –di luar Mojok—
yang ditulis oleh penulis di Mojok. Mulai dari Kepala Suku, Armand Dhani, Edward S
Kennedy, Arlian Buana, Iqbal Aji Daryono, Prima Sulistya, Agus Mulyadi, Kalis
Mardiasih, Aditia Purnomo, dan lainnya.

Perbincangan tentang Mojok ini rutin menjadi menu obrolan kami setiap hari lewat
WA. Seiring waktu kami berdua menemukan satu rubrik favorit, yakni rubrik Curhat.
Pasalnya apa yang ada tersaji di rubrik itu tak pernah gagal untuk menghibur hati
kami yang sedang kesepian. Maklumlah kami berdua ini jomblo, Mz, Mb~

Semakin ke sini, saya semakin akrab dengan berbagai tulisannya Mojok. Semakin
akrab pula saya dengan teman perempuan itu. Dan tanpa disadarl ada perasaan
yang tidak saya mengerti. Perasaan yang sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata.
Jujur, saya jatuh hati dengan teman perempuan itu Mojok. Lalu, apakah saya berani
mengungkap perasaan suka saya itu? Oh, tentu saja, tidak.

Entah sejak kapan, saya juga nggak tahu, saya biarkan perasaan suka itu masuk ke
hati yang terdalam. Semua berjalan begitu adanya. Hari demi hari terlewati,
perbincangan demi perbincangan tentang diri kami masing-masing Mojok terus
terjadi.

Semakin sering saya mengunjungi Mojok –pagi, siang, bahkan malam sebelum
tidur– semakin sering pula saya chat teman perempuan saya itu saya membaca
Mojok. Kemudian menyalin tempel tautan tulisan pada kolom chat, dan mengirimnya
ke teman perempuan itu. Tak lupa juga bilang, “Selamat tidur. Selamat istirahat.”

Lama-kelamaan, saya tidak sanggup lagi menyembunyikan perasaan ini. Saya


ungkapkan ke dia bahwa sesungguhnya saya suka banget sama dia Mojok.
Paling top, deh, tulisannya Gus Mul. Sudah jenaka, lucu, dan juga menghibur. Kalau
tulisannya Mas Puthut EA, selalu ada hikmah dalam setiap fenomena yang terjadi.
Hampir selalu memberi pencerahan yang ringan dan mudah untuk dipahami.
Sejak itu. Saya jadi tahu kalau ternyata dia juga suka dengan saya Mojok. Wah,
cocok ini. Semakin hari semakin saya niatkan untuk fokus ke dia Mojok. Dari yang
awalnya cuma searching, penasaran dengan sosmednya dia Mojok, saya malah
jadi pacarnya dia pemirsa setia Mojok. Tidak hanya sampai di situ. Saya malah
timbul niatan untuk menjadi pendamping hidupnya kontributor Mojok. Caranya? Ya
kirim tulisan ke Mojok.