Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS DETERMINAN KESEHATAN

HEALTH CARE SERVICES

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Kepaniteraan Klinik


Di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Pada Program Pendidikan Dokter Tahap Profesi
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

Disusun Oleh:
Rosalia Septaviana Risdiarta (42170200)

Dosen Pembimbing:
dr. Mitra Andini S, MPH

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2019
ANALISIS DETERMINAN KESEHATAN
HEALTH CARE SERVICES

Layanan Kesehatan di Puskesmas Sanden terbagi menjadi:

Kesehatan Ibu
Kesehatan Anak
Status Gizi Masyarakat
Imunisasi
PELAYANAN KESEHATAN
Kesehatan Pra Usila dan Usila
Keluarga Berencana
Pembinaan Pengobatan Tradisional (Batra)
Kejadian Luar Biasa
PHBS
PROMOSI KESEHATAN
Strata Posyandu
Rumah Sehat
Penyediaan Air Bersih
Jamban Sehat
SPAL
KESEHATAN LINGKUNGAN
Tempat – tempat Umum
Tempat Pengolahan Makanan
Peredaran Pestisida
Pemberantasan Sarang Nyamuk
Keterangan: warna biru merupakan program unggulan Puskesmas Sanden.

A. PELAYANAN KESEHATAN
a. Kesehatan Ibu
Pelayanan kesehatan ibu meliputi pemeriksaan ibu hamil K1, K4, persalinan ditolong
tenaga kesehatan, pemberian tablet Fe 1 dan Fe 3 untuk ibu hamil, masa nifas (KN
lengkap), deteksi faktor resiko serta penanganan komplikasi obstetri. Untuk
pemeriksaan ibu hamil K1 di wilayah Puskesmas Sanden telah memenuhi target
100%. Sedangkan pemeriksaan ibu hamil K4 dan persalinan ditolong oleh tenaga
kesehatan walaupun mengalami kenaikan dan juga penurunan sejak tahun 2012-2018
namun masih tetap mencapai target diatas 95%, yang berarti ibu hamil telah memiliki
kesadaran untuk aktif memeriksakan kehamilannya. Secara keseluruhan cakupan
pelayanan masa nifas, deteksi faktor resiko dan penanganan komplikasi serta
pembagian tablet Fe 1 dan Fe 3 telah memenuhi target.

b. Kesehatan Anak
Semua program pelayanan kesehatan anaka yaitu kunjungan neonatal, kunjungan
bayi, kunjungan balita, penanganan komplikasi neonatal serta MTBS (Manajemen
Terpadu Balita Sehat) telah memenuhi target yaitu diatas 90% dan 80% secara
berturut-turut.
c. Status Gizi Masyarakat
Penilaian status gizi masyarakat dilihat dari cakupan pemberian ASI eksklusif.
Pemberian ASI eksklusif di wilayah Sanden mengalami kenaikan dan penurunan
setiap tahunnya, namun tahun 2018 (78%) terhitung lebih tinggi dibandingkan tahun
2011 (33,6%). Hal ini berarti kesadaran ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada
buah hatinya terus mengalami peningkatan.

d. Imunisasi
Indikator kinerja dilihat dari target Desa UCI (Universal Child Immunization) yang
telahe mencapai target 100% dari 4 desa, dan pemberian imunisasi dasar lengkap,
imunisasi dasara booster Pentabio dan Pentabio 1 pada bayi yang telah mencapai
target diatas 95% yaitu 98%. Kesulitan yang dihadapi adalah karena stigma yang
masih beredar di masyarakat mengenai halal dan haram vaksin yang akan diberikan.

e. Kesehatan Pra Usila dan Usila


Tujuan umum dari pelayanan kesehatan pra usila dan usila ini adalah untuk
meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan usia lanjut untuk mencapai masa
tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai
dengan keberadaannya. Sedangkan tujuan khususnya yaitu:
 Meningkatkan kemudahan bagi usia lanjut dalam mendapatkan pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan
 Meningkatkan kesadaran usia lanjut untuk mengatasi kesehatannya sendiri
 Meningkatkan kemampuan, peran serta keluarga dan masyarakat dalam
mengatasi masalah kesehatan lansia
 Meningkatkan jenis, jangkauan dan mutu layanan kesehatan lansia
Ruang lingkup kegiatan antara lain pelatian kader, pendampingan, pembinaan,
posyandu, rakor, PHN dan konsultasi dinas. Kelompok pra usila dan usila dilaporkan
baru sebesar 97,87 % sudah dilayani kesehatannya dalam program kesehatan usila di
Kecamatan Sanden. Pada tahun 2016, 2017, 2018 pemantauan kesehatan pada anggota
kelompok usia lanjut yang dibina sesuai standar sebanyak 3.588 lansia dengan jumlah
kelompok posyandu lansia sebanyak 54 posyandu di seluruh wilayah kerja Puskesmas
Sanden.

f. Keluarga Berencana
Pelayanan Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu UKP dan UKM yang
wajib dilaksanakan oleh Puskesmas berdasarkan Permenkes no 75 tahun 2014 dan
wajib diberikan kepada peserta JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Program KB
bertujuan untuk pencegahan kematian dan kesakitan ibu-anak serta menurunkan angka
Unmeet need. Indikator cakupan peserta KB yaitu Contraceptive Prevalence Rate
(CPR) merupakan salah satu indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas
Sanden yang telah memiliki pencapaian optimal yaitu sebesar 80.40% pada tahun
2018.
Klinik keluarga Berencana Puskesmas Sanden merupakan klinik KB yang terintegrasi
dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas Sanden. Pelayanan
kontrasepsi yang diberikan meliputi metode sederhana (kondom), pil KB, suntik KB,
IUD, implant, rujukan ke rumah sakit untuk MOW dan MOP dan upaya
penanggulangan efek samping dan komplikasi ringan. Ketersediaan alat kontrasepsi
menjadi tanggung jawab BKK sesuai dengan permintaan puskemas. Penanggung
jawab klinik KB adalah seorang programmer KB yang berada di bawah koordinasi
Unit Pelayanan Kesehatan Puskesmas Sanden dan keberadaannya di bawah Unit
Peningkatan Kesehatan Ibu dan Keluarga. KKB Puskesmas Sanden berada dalam
Susunan Organisasi Tata Kerja (SOTK) Puskesmas Sanden.
 Tenaga Pelayanan KB
Puskesmas Sanden memiliki 13 orang bidan (9 PNS, 4 PTT) yang dapat
memberikan pelayanan KB dan sudah mendapat pelatihan pemasangan alat
kontrasepsi.
 Ruang Pelayanan KB
Ruang Pelayanan KB terdiri dari ruang tunggu KIA dan KB, ruang periksa dan
ruang tindakan serta ruang konseling. Di dalam ruang tunggu terdapat berbagai
leaflet, poster dan banner berisikan informasi mengenai KB dan kesehatan
reproduksi yang bebas diakses oleh pasien. Konseling KB menggunakan
ABPK (Alat Bantu Pengambil Keputusan) untuk memudahkan pasien memilih
jenis alat kontrasepsi yang sesuai.
 Peralatan dan Alat Kontrasepsi
Klinik KB menyediakan berbagai alat kontrasepsi seperti mini pil, kondom, pil
KB, suntik KB 3 bulanan, implan dan IUD.
 Kegiatan Pelayanan KB
Pelayanan KB dilaksanakan di puskesmas induk/rawat jalan dan rawat inap
serta di Puskesmas Pembantu dan Posyandu. Pelayanan KB di rawat jalan
(Puskesmas Induk) dan Puskesmas Pembantu dilaksanakan setiap Senin-Sabtu
sedangkan di rawat inap dilaksanakan setiap hari selama 24 jam. Selain itu
terdapat pula kegiatan lain seperti penyuluhan KB yang dilakukan di
Puskesmas (pemeriksaan caten, ANC, kelas ibu hamil) dan di luar Puskesmas
sepeerti saat di posyandu, dasawisma maupun Ibu PKK. Penyuluhan mengenai
Kesehatan Reproduksi Remaja juga rutin diberikan sejak tahun 2016 dan
merupakan inovasi dari Puskesmas Sanden. Penyuluhan diberikan ke siswa
sejak SD, SMP dan SMA maupun ke forum non formal seperti Karang Taruna
dengan materi Napza, IMS, HIV/AIDS, KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan)
dan Bahaya Merokok.
 Pelayanan KB MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang)

g. Pembinaan Pengobatan Tradisional (Batra)


Pada tahun 2018 Puskesmas Sanden telah melakukan pembinaan, pendataan dan
pembuatan surat (perijinan) rekomendasi bagi pengobat tradisional. Berikut data
berbagai jenis pengobat tradisional di wilayah Sanden:
Jumlah
No Jenis Batra
2014 2015 2016 2017 2018
1 Pijat Refleksi 4 0 0 57 57
2 Pijat Urat 23 58 57 0 0
3 Dukun Bayi 6 0 0 0 0
4 Sunat 1 0 0 0 0
5 Jamu 5 6 6 9 9
6 Batra Kebatinan 6 2 2 2 2
7 Jamu Gendong 10 3 3 4 3
8 Batra Prana 1 0 0 0 0
9 Pijat Tuna Netra 1 0 0 0 0
10 Batra Patah Tulang 2 0 0 0 0
11 Tukang Gigi 1 0 0 0 0
12 Bekam 1 0 0 0 0
13 Pendekatan Agama 1 0 0 0 0
14 Tenaga Dalam 2 0 0 0 0
15 Salon 0 1 1 1 1
JUMLAH 64 70 69 73 72
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa di wilayah kerja Puskesmas Sanden terdapat 72
pengobat tradisional pada tahun , dengan jumlah pengobat tradisional terbanyak
adalah pijat refleksi dan jamu gendong.
Cakupan Pembinaan BATRA
BATRA %BATRA
TAHUN JUMLAH BATRA DIBINA DIBINA
BATRA
2016 69 50 72,46%
2017 73 50 68,5%
2018 73 50 69,4%
Dari tabel di atas, sebanyak 50 pengobatan tradisional dari total 73 pengobatan
tradisional (69,4%) pada tahun 2018 telah mendapat pembinaan. Peran progammer
Batra kepada Pelayanan Kesehatan Tradisional yaitu:
 Pendataan/pemetaan Batra dan Yankestrad lainnya
 Bina kelompok Pemanfaatan TOGA
 Binwas Batra: KIE/Sarasehan, kunjungan laporan minimal 1 tahun sekali
 Memberikan surat pengantar kepada Batra untuk pengurusan STPT/SIPT
Hal-hal yang dilakukan pada pembinaan yaitu:
 Menganjurkan Batra untuk mendaftarkan diri ke Dinkes Kabupaten/Kota
 Memberikan pengantar permohonan STPT bagi Batra ke Dinkes
Kabupaten/Kota
 Penyuluhan tentang tata cara perizinan dan peraturan terkait lainnya
 Kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan tradisional
 Penyelenggaraan sarasehan/KIE/bimbingan/penyuluhan kepada Batra
Selain itu para pelayan kesehatan tradisional juga dibina dan dibimbing dalam
menggunakan fasilitas dan alat/bahan/teknologi:
 Pembinaan keamanan penggunaan alat, bahan dan teknologi yang digunakan
sesuai dengan peraturan yang berlaku
 Pembinaan kebersihan fasilitas, sarana dan prasarana sesuai dengan prinsip
hygiene dan sanitasi
 Penyuluhan tentang tata cara registrasi/perizinan dan peraturan terkait lainnya
 Pembinaan teknis yankestrad dapat bekerjasama dengan organisasi profesi
kesehatan atau asosiasi batra

h. Kejadian Luar Biasa


Pada tahun 2014 dilaporkan ada 1 (satu) kasus kejadian luar biasa, tanggal 8 Mei 2014
yaitu kejadian Keracunan Makanan di Dusun Mayungan, Kecamatan Sanden,
Kabupaten Bantul. Namun, pada tahun 2016 sampai dengan 2018 tidak ditemukan
kejadian luar biasa / KLB di wilayah kerja Puskesmas Sanden.

B. PROMOSI KESEHATAN
a. PHBS
 PHBS Rumah Tangga
Indikator PHBS Rumah tangga meliputi:
- Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
- ASI eksklusif
- Menimbang bayi dan balita
- Ketersediaan air bersih
- Cuci tangan pakai sabun
- Penggunaan jamban sehat
- Pemberantasan jentik
- Makan buah dan sayur tiap hari
- Aktivitas fisik setiap hari
- Tidak merokok di dalam rumah
Pada tahun 2018 dilakukan pemantauan terhadap 7.640 rumah tangga yang ada
di wilayah Puskesmas Sanden dan hasilnya 3.616 rumah atau 47,49% keluarga
telah melakukan PHBS. Sedangkan 52,51% lainnya masih belum berPHBS
seutuhnya atau belum memenuhi seluruh indikator PHBS dalam rumah tangga
yang ada.

 PHBS Pelayanan Kesehatan


Indikator PHBS dalam Institusi Kesehatan meliputi:
1. Tidak merokok di wilayah kerja
2. Membeli dan mengkonsumsi makanan di tempat kerja
3. Melakukan olahraga secara teratur
4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
5. Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja
6. Menggunakan jamban
7. Membuang sampah pada tempatnya
8. Menggunakan APD sesuai jenis pekerjaannya
 PHBS Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan yang dimaksud adalah lingkup TK, SD, SMP, SMA,
Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren. Indikator kerjanya antara lain:
1. Mencuci tangan dengan air bersih dan menggunakan sabun
2. Jajanan sehat di kantin sekolah
3. Menggunakan jamban bersih dan sehat
4. Olahraga teratur dan terukur
5. Memberantas jentik nyamuk
6. Tidak merokok di sekolah
7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
8. Membuang sampah pada tempatnya
Dari 18 institusi pendidikan yang ada di wilayah Sanden (dari TK hingga
SMA/sederajat) terdapat 8 institusi (44.4%) yang telah melaksanakan seluruh
indikator PHBS di lingkungan pendidikan. Seluruh institusi telah
melaksakanan olahraga teratur dan terukur (100%). Indikator PHBS yang
paling jarang dilakukan adalah penimbangan berat badan dan pengukuran
tinggi badan tiap 6 bulan (12 sekolah dari 18 sekolah, 66.67%).
 PHBS Tempat Kerja
Indikator PHBS di tempat kerja sama dengan indikator PHBS di pelayanan
kesehatan.Berikut data PHBS Tempat Kerja di wilayah kerja:
 PHBS Tempat Umum
Indikator PHBS Tempat Umum antara lain:
1. Menggunakan air bersih
2. Menggunakan jamban
3. Membuang sampah pada tempatnya
4. Tidak merokok di tempat umum
5. Tidak meludah sembarangan
6. Memberantas jentik nyamuk
Data yang didapatkan dari desa Srigading yaitu terdapat 14 dari total 18
tempat umum (masjid) di desa ini yang telah melaksanakan PHBS. Sedangkan
data di desa Murtigading dan Gadingharjo masing-masing menunjukkan 5 dari
6 tempat umum (masjid) telah melaksanakan PHBS.
b. Strata Posyandu
Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Sanden hingga tahun 2018 tercatat sebanyak
115 posyandu yang terdiri dari 62 posyandu balita dan 53 posyandu lansia. Posyandu
balita terbagi lagi menjadi 1 posyandu pratama (1,61%), 11 posyandu madya
(17,74%), 30 posyandu purnama (48,39%) dan 20 posyandu mandiri (32,26%) dengan
jumlah kader terlatih sebanyak 414 kader (100%).
Sedangkan dari 53 posyandu lansia, terdapat 47 posyandu pratama (88.68%), 1
posyandu madya (1.89%) dan 4 posyandu purnama (9.43%).

C. KESEHATAN LINGKUNGAN
Faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia yaitu faktor keturunan,
sarana kesehatan, perilaku dan lingkungan. Diantara faktor faktor tersebut, faktor
lingkungan dan perilaku memiliki peranan yang cukup besar. Oleh karena itu, perlu
dilakukan upaya kesehatan lingkungan dalam rangka perbaikan mutu lingkungan
hidupyang dapat menjamin kesehatan. Melalui kegiatan peningkatan sanitasi dasar serta
pencegahan dan penanggulangan kondisi fisik biologis yang tidak baik.
Tujuan dilaksanakan program kesehatan lingkungan yaitu:
1. Terkendalinya semua unsur fisik dan lingkungan yang terdapat di masyarakat, yang
dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan masyarakat.
2. Meningkatkan cakupan sarana sanitasi dasar.
3. Meningkatkan kesadaran dan perilaku masyarakat dan sektor yang berkaitan serta
bertanggungjawab atas dasar kesehatan lingkungan.
Sasaran pada program kesehatan lingkungan ini yaitu seluruh masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Sanden Kabupaten Bantul. Program yang dilakukan pada upaya kesehatan
lingkungan yaitu:
a. Rumah Sehat
Jumlah rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas Sanden terus mengalami peningkatan
dari tahun 2015 hingga 2018 seiring dengan bertambahnya jumlah rumah. Tahun 2015
sebesar 85,56%, tahun 2016 sebesar 85,81%, tahun 2017 sebesar 87,5% dan tahun
2018 sebesar 87,75%.
b. Penyediaan Air Bersih
Masyarakat sekitar puskesmas Sanden biasanya mendapatkan sumber air bersih dari
sumur gali (99,85%) dan sisanya menggunakan PAM/ledeng, sumur pompa dan
penampungan air bersih.
c. Jamban Sehat
Jumlah keseluruhan penggunaan jamban di wilayah Sanden selalu mengalami
peningkatan setiap tahunnya, dan dari 100% jamban yang telah diperiksa terdapat
86.05% jamban sehat pada tahun 2014, 86.41% jamban sehat pada tahun 2015,
sempat menurun sedikit menjadi 85.65% jamban sehat pada tahun 2016, kemudian
naik lagi menjadi 87.5% jamban sehat pada tahun 2017 dan meningkat lagi di tahun
2018 sebanyak 87,75% jamban sehat.

d. SPAL
Sistem pembuangan air limbah (SPAL) keluarga di wilayah Sanden terus mengalami
peningkatan yang diikuti pula dengan peningkatan jumlah SPAL yang sehat. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat di wilayah Puskesmas
Sanden semakin meningkat.
e. Tempat – tempat Umum
Tempat – tempat umum (TTU) di ke empat desa di wilayah Sanden terus mengalami
peningkatan dari tahun 2014 sebanyak 86.21%, tahun 2015 sebanyak 96.58% dan
100% sejak tahun 2016 hingga 2018. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran
masyarkat tentang kebersihan TTU semakin meningkat.
f. Tempat Pengolahan Makanan

Jumlah tempat pengolahan makanan di wilayah Sanden pada tahun 2012 – 2014
berjumlah 29 lokasi di 4 desa. Jumlah ini mengalami peningkatan menjadi 39 lokasi di
tahun 2015 dan 2016 kemudian mengalami penurunan menjadi 38 lokasi pada tahun
2017. Kemudian mengalami peningkatan menjadi 39 kembali di tahun 2018. Tempat
pengolahan makanan tersebut antara lain berupa warung makan, katering dan kantin.
g. Peredaran Pestisida
Peredaran pestisida di wilayah Sanden cenderung mengalami kenaikan dari tahun
2012 sebanyak 13 menjadi 18 di tahun 2013 dan 2014. Akan tetapi jumlah ini
mengalami penurunan menjadi 12 pada tahun berikutnya yaitu 2015 dan 2016, bahkan
menjadi 11 di tahun 2017 meskipun kembali meningkat menjadi 12 di tahun 2018.
h. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Kegiatan PSN yang biasa dilakukan pada hari Jumat setelah pelaksanaan senam sehat
ini merupakan upaya pencegahan penyakit yang dibawa oleh nyamuk. PSN
merupakan kegiatan bersama lintas sektor. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa
pada tahun 2014 dari 7.4% rumah/bangunan yang diperiksa sebanyak 85% telah bebas
jentik nyamuk. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 1.58% menjadi 86.58%
pada tahun 2015. Pada tahun 2016, ABJ (Angka Bebas Jentik) di wilayah Puskesmas
Sanden mencapai angka 90%, lebih besar 3.42% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kemudian pada tahun 2017 mengalami peningkatan lagi sebesar 3.55% menjadi
93.55%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat wilayah Sanden telah memiliki
kesadaran untuk hidup bersih dan senantiasa memberantas sarang nyamuk.
Akan tetapi, ABJ pada tahun 2018 justru mengalami penurunan menjadi 88%. Hal ini
perlu menjadi evaluasi bagi Puskesmas Sanden.